kupu-kupu

Kupu-kupu Malam (PART II)

Dewi malam telah terbit dari awan yang gelap, menandakan malam baru telah tiba. Simfoni malam yang abadi selalu hadir di setiap malam pertamaku. Semua malam  adalah malam pertama bagiku.  Deru angin, tarian ranting pepohonan, dan kemilau lampu , mereka memang elemen pelengkap kelambuku. Malam akan terus seperti ini, terbit bagaikan tiupan sang sangkakala.

Aku melangkahkan kaki ke sebuah rumah. Ini rumah yang sudah tidak asing lagi. Sudah 3 kali aku kesini.  Sang induk memintaku untuk datang kesini lagi. Sepertinya sang bos ingin mencicipiku lagi. Apa dia sudah ketagihan dengan nektar yang aku alirkan padanya ? Mengapa harus aku yang ia inginkan ? Masih banyak kupu-kupu lain yang lebih putih daripada aku.

 Rumah yang begitu besar. Seperti istana yang ada di negeri dongeng. Hanya saja tak ada pangeran yang tinggal, yang ada hanyalah naga yang haus akan darah. Rumah yang berpilar besar, dengan taman yang dipenuhi pepohonan. Mobil-mobil berjejer di pekarangan, sudah seperti pohon metal yang tak bernilai.

 Dua orang pria berjaga di depan pintu rumah. Mereka melihatku, menyisir setiap lekuk tubuhku. Aku tahu mereka tak berani macam-macam denganku. Mencolekku sama saja dengan menghunus pedang ke leher mereka sendiri. Aku kesini bukan untuk memuaskan mereka, namun untuk menghadiri undangan bos mereka.

Aku bagaikan kupu-kupu yang memasuki kandang elang yang lapar

Aku bagaikan terjerat disebuah jaring jerami yang begitu kuat

Aku terjebak dalam sebuah labririn tak pintu, penuh liku dan dusta

Aku berlari di dalam sebuah lingkaran yang tak berujung

 

Aku ini hanya seekor kupu-kupu malam yang tak sengaja hinggap disebuah dahan

Dahan itu begitu berduri dan bersisik, namun aku terpaksa hinggap disini

Indukku memerintahkanku untuk mengambil nektar dari pohon ini

Dan sekarang aku akan terjebak selamanya oleh sulur yang mengikat kakiku

 

“Anda sudah ditunggu,” seorang pria menyambutku di depan pintu depan.

Aku digiring menuju ke dalam rumah. Ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di tangga ini. Apakah sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di rumah ini ? Mungkin itu adalah mimpi buruk bagiku. Tinggal dirumah besar dengan fasilitas super memang enak, namun aku tak mau itu.

 Selama ini aku memang dibutakan oleh uang. Aku mencari harta sebanyak-banyaknya untuk kemakmuranku dan keluargaku. Memang itu sudah menjadi tugasku sebagai anak pertama dalam keluarga. Dan sekarang, aku bertemu dengan pelanggan yang sepertinya ingin memiliki tubuhku sepenuhnya. Aku akan menjadi salah satu dari nyonya besarnya. Namun ada satuhal yang tidak bisa beli dengan uang, cinta. Ia bisa membeli tubuhku, namun tidak hatiku.

 Aku sama sekali tidak menyukai pria yang akan meniduriku malam ini. Dia hanyalah makhluk rakus yang datang dari neraka, memangsa setiap wanita yang ingin dicicipinya. Sudah banyak wanita yang terjerat olehnya. Mereka terkurung di rumah ini menjadi budak nafsunya. Tak pernah ada cinta pada setiap selirnya, yang ada hanya nafsu belaka.

Namun aku tak punya pilihan. Melayani nafsunya atau aku akan mati. Mati ??? Serisiko itukah pekerjaanku. Ini bukan masalah pekerjaan, namun ini mengenai siapa yang menyewaku. Ia adalah orang yang sangat berpengaruh. Ia mempunyai anak buah dan kaki tangan yang rela mati untuknya. Bahkan polisi takut untuk datang ke singgasana ini. Nyawa bukanlah hal yang mahal untuknya. Untuk melangkahkan kaki ke rumah ini saja aku takut.

Aku sampai di depan sebuah ruangan. Aku dipersilakan masuk ke ruangan itu. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruangan ini. Entah beruntung atau entah sial aku bisa masuk ke kamar ini. Pria tua itu melihatku, memandangku dengan penuh birahi. Ini sudah menjadi profesiku yang aku geluti selama bertahun-tahun.

Tanpa komando, aku mengerti apa yang dia maksudkan. Sang simfoni malam sudah berdendang, memulai apa yang harus aku perbuat padanya. Satu persatu selimut tubuhku melayang bagaikan daun yang lepas dari ranting. Senyum palsu menjadi intro yang selalu aku nyanyikan padanya. Malampun dimulai.

Diantara gerakan sang naga hitam dalam menerkamku, ia sempat bernafas ke telingaku

Nafas itu begitu panas dan membuat tubuhku semakin melemah

Seperti ada lidah api yang menjulur dari hidungnya membuatku makin tak berdaya

Nafas itu membisikkan sebuah kalimat ke telingaku

“Kau akan selalu berada dalam terkamanku.”

 

Aku langsung berbaring membelakanginya saat ia sudah selesai dengan semua permainannya. Aku menutupi tubuhku dengan selimut, sembari menangis tanpa suara. Pria bangsat itu sudah tertidur lelap disampingku seakan tidak terjadi sesuatu. Aku akan dijadikan isteri ke sekiannya…, aku tak tahu apakah ia main-main atau tidak ketika berkata itu. Apakah ketika ia mengatakan itu ia sedang berada dalam pengaruh nafsu ?

Aku tak mau…, jauh di dalam lubuk hatiku aku masih mencintai pria itu, pria yang kemarin menemuiku. Ia yang sudah mencariku ke seluruh penjuru Hongkong dan akhirnya menemuiku. Tuhan…, apakah Engkau masih mau menolongku ?

*

Mentari sudah menunjukan cercahnya. Aku masih mengenakan bajuku yang semalam saat aku menapai jalanan kota Hongkong. Hari masih sangat pagi saat aku keluar dari istana neraka itu. Udara cukup dingin, aku bisa melihat uap air keluar dari nafas yang aku hembuskan. Suhu dikota Hongkong sedang berada pada titik rendahnya, namun bukanlah titik terendah. Pepohonan yang rindang makin membuat titik air mengembun, menghempas segala panas dari lingkungan.

 Mengapa harus aku yang berada diposisi ini ? Apakah ini hukuman-Mu atas segala dosaku ?

Aku mengancingkan retseleting jaketku saat udara dingin mulai merembes ke dalam pori-pori kulitku. Rumah yang cukup besar namun agak terpencil. Kawasan ini yang cukup sepi, taksi agak jarang membuatku harus terus berjalan sampai ke perempatan ramai terdekat.

Sebuah mobil berhenti tepat di sampingku. Mobil yang cukup bagus, tak ada goresan ataupun penyok. Seorang pria yang sudah tak asing lagi berada dibalik kemudi. Sejak kapan ia mempunyai mobil ? Dulu ia selalu bermimpi memboncengku dengan motor keliling desa. Namun itu hanyalah gurauan kecil baginya. Hidup berputar dan sekarang mobil bukanlah barang mewah baginya. Pria itu meminta untuk naik ke mobilnya.

“Jangan. Disini berbahaya. Lebih baik kamu pergi,” kataku dari pinggir jalan.

Mobil itu tetap berjalan lambat dipinggir jalan, mengikuti langkahku di trotoar. Ini bukanlah area yang aman untuknya. Bagaimanpun daerah ini masih merupakan daerah kekuasan bos di singgasana neraka itu. Apalagi aku akan segera dijadikan isterinya. Bahaya jika aku terlihat di mobil bersama pria lain.  Seketika mobil itu berhenti, pria itu keluar dari mobil dan memegang pergelangan tanganku. Sepertinya ia tidak akan menyerah dalam merebut waktuku.

“Aku serius. Aku ingin membawamu pulang.”

“Baiklah, ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu,” kataku melihat ke sekeliling, memastikan kalau situasi aman.

Aku masuk ke dalam mobilnya. Deru mobil mengiringi kepergianku. Suasana pagi kota Hongkong diwarnai dengan hiruk pikuk pekerja dan pelajar yang ingin memulai aktifitasnya. Para warga berjalan ditrotoar dengan baju hangat, mencegah hipotermia menyerang. Aku memandang pria yang membawaku di dalam mobilnya.

Mengapa ia datang di saat seperti ini ? Sungguh ini merupakan cobaan hidup yang membuatku bingung. Aku memang masih mencintainya, namun aku tak mau membuatnya berada dalam bahaya karena aku mencintainya.

“Lebih baik kamu pulang ke Indonesia. Aku tak akan bisa menikahimu,” kataku.

“Apa hanya karena kamu akan dijadikan isteri seorang bos mafia ?”

“Iya dan kamu harus menghilangkan kata hanya dalam kalimatmu barusan. Ini bukan perkara mudah. Ia menginginkanku, appaun yang menghalanginya pasti akan disingkirkan. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

“Bos mafia itu sama sekali tidak mencintaimu. Isterinya saja sekarang sudah 4, kau akan jadi isteri ke 5nya. Kamu hanya akan menjadi budak pelampias nafsunya saja. Apa karena ia lebih kaya daripada aku ?”

“Ini bukan tentang uang. Uang tak bisa membeli cinta. Aku memang tidak mencintainya namun aku tak punya pilihan . Menolak keinginannya sama saja dengan mati. Aku tak  mau bermain-main dengan nyawa,”

“Kamu masih punya pilihan. Pergilah bersamaku, kita akan lalui risikonya bersama.”

“Jangan itu hanya akan membahayakan nyawamu,” kataku.

“Aku tahu siapa yang sedang aku hadapi. Pria yang tinggal diistana itu adalah seorang bos mafia kelas kakap. Aku tahu hobinya adalah membunuh. Aku tahu polisi saja takut dengannya. Aku sudah mengikutimu selama dua hari belakangan ini dan aku tahu apa yang menjadi kegelisahanmu, namun aku tak peduli,” ia berkata dengan mantap.

Aku menatap mata pria ini. Tulus…, aku hanya bisa melihat ketulusan dari sorot matanya. Mengapa ? Apa yang membuatnya masih tertarik pada makhluk berlumur dosa sepertiku ? Apakah karena kecantikanku ? Ataukah karena memori masa lalu ? Apa alasan ia mencintaiku ?

“Aku mempunyai sebuah pertanyaan kepadamu,” kataku.

“Apa itu ?”

“Kenapa ? Kenapa kamu masih mau denganku ? Aku sudah tidak sama dengan wanita yang dulu kamu kenal. Aku sudah ditiduri oleh puluhan pria yang tidak kukenal. Aku hanyalah kupu-kupu malam yang hina. Kamu adalah pria yang hebat, mapan, tampan dan sempurna. Mengapa kamu masih mau denganku ?”

“Karena aku masih mencintaimu.”

“Lalu apa yang membuatmu masih mencintaiku ?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Aku tak menerima jawaban itu.”

“Jika kamu mencintai seseorang karena raganya, itu bukan cinta namun nafsu. Jika kamu mencintai seseorang karena kebaikannya, itu bukan cinta namun balas budi. Jika kamu mencintai seseorang karena hartanya, itu bukan cinta namun matre. Jika kamu mencintai seseorang namun kamu tidak tahu alasannya, itu baru namanya cinta.”

“Masih banyak wanita yang lebih pantas dan lebih baik untukmu. Aku hanyalah pelac*r . wanita yang telah kehilangan kehormatannya. Aku yakin kamu bisa mendapat pengganti yang lebih baik dariku.”

“Tak ada yang bisa menggantikanmu. Aku masih mencintaimu sama seperti dulu. Apakah…, Apakah kamu masih mencintaiku seperti dulu ?”

“Aku memang masih masih mencintaimu, namun aku tak mau cinta ini membuatmu berada dalam bahaya. Oleh karena itu jauhilah aku. Ini kulakukan bukan karena aku membencimu, namun karena aku mencintaimu.”

“Aku lebih baik mati daripada harus berpisah denganmu.”

“Mengertilah…, aku hanya tak mau kehilanganmu untuk selamanya. Aku ingin melihatmu hidup bahagia dengan segala jerih payah yang telah kamu hasilkan. Aku tak mau membuat hidupmu berakhir.”

“Kamu terlalu khawatir. Bos mafia itu tidak akan sampai membunuhku. Aku yakin dia malas membuang pelurunya hanya untuk menembak kepalaku. Dia pasti bisa menemukan wanita penggantinya dalam waktu 5 menit.”

“Ia memang tak akan membuang pelurunya, namun anak buahnya yang akan melakukannya. Aku tak mau mengambil risiko. Nyawamu hanya satu dan aku tak mau kamu membuangnya hanya demi aku. Pergilah, lupakan aku, aku yakin kamu akan bisa menemukan pengganti yang tepat.”

“Apakah kamu sama sekali tidak ingin memperjuangakn hubungan kita ? Aku membayangkan hidup bersamamu di Indonesia. Kamu akan menjadi nyonya besarku, menyambutku ketika aku pulang kerja, memasak untukku dan melayaniku. Kemudian kamu akan melahirkan anak-anakku, mendidik mereka, dan melihatnya tumbuh. Lalu ketika kita tua, di saat anak-anak kita sukses, kita akan kembali ke desa untuk menghabiskan masa tua kita disana.”

“Jangan terlalu berharap.”

“KENAPA KAMU PESIMIS SEKALI ?” katanya meninggikan nada bicaranya.

“Karena aku takut kehilanganmu.”

Mobil berhenti di depan apartemenku. Hening. Pembicaraan antara aku dengannya berhenti. Kami kehabisan kata-kata. Selama satu menit kami berada dalam kebisuan. Ingin aku berteriak kalau aku ingin menerima permintaannya untuk pulang bersamanya. Namun disisi lain aku juga tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bos mafia itu bukanlah orang sembarangan. Bagi orang psiko seperti itu, membunuh bukanlah hal yang sulit.

“Kapan bos itu akan menikahimu ?”

“Aku tak tahu. Mungkin minggu depan. Ia bilang akan segera membuatku menjadi salah satu budak nafsunya.”

“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam.”

Aku menyipitkan mataku. Nanti malam ? Memangnya aku tidak kerja nanti malam ? Aku tidak membalas ucapan selamat tinggalnya dan keluar dari mobilnya. Aku menangis disepanjang lorong apartemenku. Cinta memang buta, tak terkikis oleh waktu dan perubahan. Dan sekarang cinta telah menjebakku dan dia ke dalam sebuah ujian hidup.

*

“Mengapa kamu datang kesini ?”

Aku bertanya kepada pria yang sedang duduk di kasur. Tak kusangka ia yang menyewaku malam ini. Memang tadi pagi ia berkata “Sampai jumpa nanti malam”. Oh jadi itu maksudnya datang ke rumah bordir ini. Namun untuk apa ? Hanya untuk meyakinkanku agar mau menerima ajakannya. Ia menatapku dari kasur tempatnya duduk.

“Aku hanya ingin menghabiskan malam bersamamu,” jawabnya.

“Lebih baik kamu segera pergi dari hidupku selamanya. Aku tak mau membuat ini semakin sulit. Aku terlalu mencintaimu dan sulit untuk melepasmu.”

“Kalau begitu anggap saja aku pelanggan yang biasa menyewamu.”

“Maksudmu ?”

Ia berdiri dan mendekatiku. Ia menyentuh wajahku yang halus sembari tersenyum padaku. Tangannya begitu hangat walaupun udara Hongkong begitu dingin. Mulutnya berbisik kecil ke telingaku.

“Lakukan saja profesimu seperti biasa malam ini.”

“Kau ingin mencicipiku ?”

“Ya,” bisiknya pelan di telingaku.

“Kupikir kau pria yang berbeda. Kupikir s*x bukanlah hal yang kau kedepankan.”

“Aku hanya ingin menghabiskan malam bersamamu. Dan jika s*x adalah hal yang bisa membuatmu bertahan semalaman disini, aku akan lakukan itu.”

“Aku tak mau,” kataku sambil berbalik badan, melepas sentuhan halusnya di wajahku.

“Kenapa ? Kenapa kalau dengan pria lain kamu mau namun kalau dengan aku tidak mau.”

“Kau terlalu sempurna untukku.”

Ia terdiam. Hening. Dering malam terdengar di kamar ini. Suara deru mobil di luar sana memecah keheningan antara aku dengannya. Aku berbalik. Ia masih menatapku dengan penuh pengharapan. Aku berjalan pelan kearahnya, berdiri tepat di depannya. Cinta mengikat kami, membuatku tak bisa melepas pandangan kearahnya.

Simfoni malam bermain dengan sangat indah. Bagaikan lagu klasik yang dimainkan oleh seorang maestro. Tak ada sangkakala yang bertiup, yang ada hanya petikan dawai bersenar emas yang begitu indah. Baru kali ini aku menikmati simfoni yang dimainkan malam untuk memulai malamku. Pelukanku ke tubuhnya memulai cinta malam ini.

Malam ini berbeda dari permainan yang sudah pernah aku lakukan sebelumnya

Malam ini aku merasakan apa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya

Malam ini aku ikhlas menyerahkan mahkotaku di tangan kupu-kupu putih ini

Malam ini cinta menjadi pondasi permainanku dengannya

 

Tak ada paksaan untukku melekat di benang sari ini

Tak ada rasa sakit sat serbuk sari ini melekat di sayapku

Tak ada sulur yang mengekang sayapku disini

Andai malam ini bisa kulalui selamanya

 

Senja sudah menyeruak dibalik tirai kamar, memaksaku untuk membuka mata, meninggalkan mimpi indah yang bersemayam dalam tidurku.  Berada dalam pelukkannya, seperti tertidur dengan penuh impian yang indah. Ia sudah terbangun, pandangannya kosong menatap langit. Seketika ia menatapku dan tersenyum di balik wajahnya yang indah.

“Berapa yang aku harus bayar kepadamu ?” Katanya sambil berbaring di sampingku.

“Aku tak ingin uangmu,” kataku. Baru kali ini aku rela melakukan ini tanpa uang.

Selama ini aku selalu tidur dengan pria untuk alasan uang, namun kali ini tidak. Aku sama sekali rela tanpa mengharap sepeser pun. Love…, mungkin kata itu yang menjadi alasan aku tak menginginkan bayaran hari ini.

“Lalu apa yang harus aku berikan untuk membayarmu ?”

“Pergilah. Cari wanita lain yang lebih baik dan terhormat dariku.”

“Memang. Ini adalah malam terakhirku di Hongkong.  Besok aku akan kembali ke tanah air.”

Entah senang entah kecewa karena mendengar hal tersebut. Namun aku harus mencoba senang. Pergi dariku adalah pilihan yang terbaik. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya karenaku, itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Walaupun rasanya berat untuk meninggalkan dia.

“Apakah kamu akan ke desa kita belakangan ini ?”

“Sepertinya tidak. Ada banyak yang harus aku kerjakan di Jakarta. Memangnya kenapa ?”

“Oh kalau ke desa, sampaikan salamku pada ibu. Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat.”

“Kurasa kau akan pulang dalam waktu dekat.”

“Kenapa kamu berpikir seperti itu.”

“Hanya feeling saja. Baiklah aku harus pergi.”

Ia bangun dan mengenakan pakaiannya. Apakah ini perpisahanku dengannya ? Apakah setelah ini aku tak akan bertemu kembali dengannya ? Walaupun sakit, namun itulah pilihan yang aku pilih. Inilah jalan yang terbaik untuknya. Aku terduduk di kasur sambil menatapnya yang sudah siap pergi. Ia berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku.

“Ini bukan perpisahan,” katanya sambil memberikan sebuah kecupan ia berikan kekeningku.

bersambung

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s