breakups

Galau Putus

Sekedar menuangkan pikiran iseng ke  sebuah tulisan

Dari sudut pandang pria

“Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah…, yaudah…, YAUDAH.”

Aku terbangun bukan karena alarm melainkan karena ngiangan kata yang gue ucapkan dua hari lalu. ‘Yaudah,’ sebuah kata yang mengakhiri hubunganku dengan dia. Aku bangun dan duduk di pinggir kasur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum aku harus memulai rutinitas pagi ini.

Aku memijit pelan kepalaku, dunia terasa berputar. Dua hari belakangan ini hidupku tak teratur, entah berapa lama aku tidur nyenyak tanpa mimpi yang menyesakkan dada. Aku sudah pernah merasakan luka akibat jatuh dari motor, tinju dalam perkelahian dan semacamnya, namun luka kali ini adalah yang paling perih. Aneh, padahal luka ini tak terlihat, tak berbekas, namun begitu membuatku sekarat.

Aku mencoba tak menangis, mencoba mengabaikan perasaanku. Semua akan baik-baik saja, waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Yang sekarang aku butuhkan hanyalah pelarian dari pikiran yang terus menguasai diriku. Kuyakin rutinitas akan membuat kenangan ini tenggelam dengan sendirinya.

Aku bangun dan memasukkan beberapa buku ke tasku. Aku fokus ke sebuah buku, dasar termodinamika. Mungkin mengerjakan tugas bisa membuatku teralih. Masih ada 1 jam sebelum waktu siap-siap.

Sebuah siklus refrigerasi memiliki beban….Biasanya hanya butuh 30 menit untuk mengerjakan soal mudah ini namun kertas kerjaku haanya berisi sebuah hambar hati. Di dalam gambar hati itu aku menuliskan sebuah nama tanpa kusadari. Aarrgh, aku meremas kertas HVS ku dan membuangnya tidak mood untuk mengerjakan tugas, masa bodoh ah tidak mengumpulkan. Lebih baik aku mandi dan mulai beraktifitas.

Dari sudut pandang Wanita

“Hiks…, hiks….”

“Udah Del…, lo udah 2 hari 2 malam nangis melulu sampe tidur jadwal tidur aja nggak jelas.”

“Habis gimana Rin. Gue nggak bisa diginiin. Harga diri gue sebagai cewek diinjek-injek. Tolong tisu dong.”

“Berarti jahat banget ya si A’al.”

“Ih kok lo panggil-panggil dia A’al sih, itukan panggilan sayang yang boleh gue doang yang panggil.”

“Iye…, iye…, maksud gue jahat banget si Ali.”

“Iya…, hati gue perih banget, sakitnya tuh di sini….” Srooot, aku mengeluarkan ingus dari hidungku.

“Tapi sejak 2 hari gue jadi teman curhat lo, gue masih kepo kenapa sih lo berdua putus. Kenapa ?”

“Udah gue bilang Rin. Dia melakukan suatu hal yang membuat gue sakit hati. Terlalu sakit untuk gue omongin. Huaaa…., huaaaa.”

“Iya…, udah-udah. Sorry gue nggak akan nanyain itu lagi deh. Terus sekarang gimana ? Udah jam 5 pagi. Lo mau kuliah nggak ?”

Aku tak menyangka dua hari telah berlalu sejak kata terakhirku kepadanya aku ucapkan, ‘Kita putus’. Selama 2 hari itu rasanya semua adalah neraka yang membuat hatiku perih. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menangis dan meluapkan seluruh kegundahan hati ini.

“Kuliah.”

“Lo yakin, ntar ketemu si Ali lho. Kalian kan satu jurusan.” Continue reading

biang kerok

Biang Kerok

Akhirnya setelah sekian lama bisa ngupdate blog lagi. (Baca : Sok sibuk). Habis begimana, ada 61 perusahaan migas yang harus dipantau produksi dan liftingnya dengan permasalahan yang bermacam-macam. Bangun pagi, olahraga, kerja sampe malam, tidur sampe nggak kerasa udah tahun 2016, yang berarti bentar lagi gue 25 tahun. Time runs so fast, but who cares as long as i tried to enjoy it. Anyway, enjoy this story.

“Kamu suka makan disini ?”

“Suka lah Jo. Tempatnya fancy banget, suasanya elegan, makanannya enak, musicnya jazz lembut which is aku banget.”

“Hani…, tahu nggak kenapa aku ngebawa kamu fine dining gini ?”

Formal-Dining-Restaurant-POS-System

“Buat makan malam kan ?”

“Ya memang, tapi aku ada alasan lain ?”

“Alasan lain ? Apaan Jo ?”

“Han…, nggak kerasa ya kita udah deket selama 6 bulan ini. Selama kita deket, aku ngerasa sesuatu loh. Sesuatu yang membuat hati aku selalu berdebar ketika dekat dengan kamu. Sesuatu yang membuat aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu. Sesuatu yang membuat aku galau ketika berpikir kamu akan pergi dari hidupku.” *Sambil pegangan tangan.

“Maksud kamu ?”

“Aku sayang sama kamu Hani. Kamu mau nggak jadi cewek aku.”

“Emm…, itu…, aku….”

“Han…, plis. Aku akan bahagiakan kamu. Kamu nggak akan menyesal jika memilihku menjadi pendampingmu nantinya.”

“Itu…, aku…, ma…”

“OOH JADI BEGINI YA KELAKUAN KAMU.”

Tiba-tiba muncul suara ketiga yang memecah suasana di meja gue. Continue reading

the corrs

Bring on The Night

Well, hari ini nggak mau nulis cerpen atau cerita apa-apa sih. Cuma pingin ngiklan dan nginfo aja. Kemarin pas lagi browsing-browsing youtube nemu lagu baru dari salah satu band favorit gue, The Corrs. Hmm…, terakhir ini band ngeluarin album itu tahun 2005 (Home), pas gue masih SMA (what, gue udah tua ya). Wuih langsung excited dong pas liat ni video. Buat para 90’ers pasti nggak asing dengan band ini.

Kok tiba-tiba ngeluarin single baru ? Emang mau ngeluarin album ? Info terakhir yang gue tahu band ini vakum karena masing-masing personilnya sibuk sama rumah tangga masing-masing. Setahun, dua tahun, dan akhirnya hilang selama 10 tahun. Ya gue dah pesimis sih ni band bakal balik lagi secara personilnya juga udah tua-tua. Setelah googling-googling eh ternyata This Irish Band is Back…, yeah.

Continue reading

dead and alive

Dead or Alive

Kayaknya udah lama nggak nulis yang mellow-mellow.

Aku mengemudi dengan cepat di jalanan berliku di atas bukit yang tinggi. Titik-titik cahaya rumah dikejauhan itu bagaikan bintang yang berjatuhan dan membuatku mengemudi lebih tinggi dari awan. Disampingku ada isteriku dan di belakang ada kedua anakku.

“Pelan-pelan sayang,” dia berkata pelan kepadaku. Dia memang khawatiran, kedua anakku saja biasa-biasa saja.

Pikiran mereka jelas berbeda jauh denganku. Mood mereka berada dalam bahagia dan pemikiran akan liburan yang menyenangkan namun itu berbeda 180 derajat denganku. Hanya lisanku saja yang berkata akan menghabiskan waktu bersama di tempat wisata namun niat sebenarnya adalah untuk membuatku sekeluarga pergi selamanya bersama.

Kehidupan ini harus diakhiri. Aku tak bisa meninggalkan tanggung jawabku pada mereka, orang-orang yang aku cintai mereka harus ikut bersamaku. Tanganku gemetaran. Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku dari isteriku yang sepertinya sudah mulai curiga dengan gelagatku semenjak kemarin.

“Papa, nanti kita main kembang api bersama ya.”

“Tentu sayang.”

Anak perempuanku memang sangat sayang padaku. Dia lebih pantas disebut anak papa dibandingkan anak mama.

“Sudah lebih baik kamu tidur saja. Mungkin masih 1 jam lagi kita sampai. Besok kita mulai liburannya.”

Kata isteriku pada anak perempuanku. Anak laki-lakiku yang lebih besar sudah pulas dari setengah jam yang lalu. Aku memastikan anak perempuanku tidur terlebih dahulu. Kuingin dia pergi tanpa merasarakan apa-apa, tiba-tiba sudah terbangun di alam yang berbeda tanpa sakit sedikitpun. Butuh 15 menit agar aku yakin dia sudah terlelap.

“Kamu tidur juga saja,” kataku pada isteriku. Kulihat daritadi dia juga sudah menguap beberapa kali. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Aku juga ingin isteriku tidur sehingga dia tak merasakan apa-apa ketika nafasnya berhenti. Tikungan maut sudah dekat, tikungan yang banyak memakan korban kecelakaan. Lebih baik menyamarkan ini semua menjadi kecelakaaan alih-alih bunuh diri. Lebih baik kabur dengan cara yang orang lain lihat lebih masuk akal daripada terlihat seperti pengecut

“Mas…, kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, bicarakan lah,” kata isteriku pelan.

“Bicarakan apa ?” jantungku mulai berdebar kencang. Dia memang tahu keseharianku dan semua permasalahan yang kuhadapi. Aku juga berdebar karena tikungan maut kurang dari 1 km lagi.

“Tak  apa-apa. Anak-anak sudah tidur. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.”

“Taka da yang kusembunyikan sayang.”

“Aku tahu sedang ada masalah besar….”

“Sssst, anak-anak sudah tidur.”

Isteriku terdiam. Aku terdiam sejenak. Aku mengumpulkan keberanian untuk memantapkan niatku. Ya…, mengakhiri segalanya adalah pilihan yang paling tepat. Yang kulakukan ini adalah benar. Setetes keringan mengalir dari pelipisku, tak peduli AC dan udara luar yang dingin. Itu dia…, tikungan maut sudah terlihat, kurang dari 200 meter lagi.

“Satu-satunya hal yang ingin aku ucapkan adalah….,” aku berkata, isteriku menyimak. Continue reading

stop kawan kawin

Stop Bertanya Kapan Kawin Saat Lebaran !!!

Alhamdulillah, besok insyaallah sudah lebaran. So Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Maafin ya atas segala kesalahan yang telah kuperbuat. Kalau lebaran sudah pasti ada tradisi kumpul-kumpul keluarga. Bagi muda mudi yang berusia 20tahunan ke atas pasti deh udah mulai ditanyain pertanyaan pamungkas dari om tante yang bikin mules. Yup, kapan kawin atau mana calonnya. Huh pasti banyak kan yang merasakan sama seperti yang gue rasakan. Terus lo mau ngapain ? Pura-pura pingsan atau pura-pura ketelen bumi ? I choose to stay cool and keep calm, gue tahu siapa gue dan gue nggak terlalu memusingkan pertanyaan orang-orang yang nggak sesuai sama prinsip gue. So…, enjoy your Lebaran.

“Huaaah,” gue ngulet untuk melepas penat. Pekerjaan ini rasanya tidak ada habisnya ditambah gue sedang berpuasa, badan lemes dan bawaannya pingin tidur aja. Tapi berita baiknya adalah ini hari terakhir masuk sebelum besok cuti bersama. Yeey bentar lagi lebaran. Berita baik lainnya adalah gue kayaknya bakal dapat lebaran, nggak ‘dapet’ kayak tahun lalu dan dua tahun lalu. Eeeh BTnya pas mau berangkat sola tied eh terus malah ‘dapet’.

Tapi tetap saja kalau bulan puasa kayak gini tuh atmosfirnya berbeda. Ada rasa yang membuat gue rindu untuk tetap berada di bulan ini walau pas kerja ngantuk-ngantukan dan lemes. Ditambah kalau bulan puasa orang-orang bawaannya pulang cepet biar buka puasa bareng keluarga padahal kenyataannya nggak nyampe karena jalanan macet.

“Udah kelar kerjaan lo Chi,” kata Arman. Dia adalah teman satu bagian yang duduk di sebelah gue.

“Emang ada kata selesai untuk kerjaan kita ?”

“Ya iya sih. Mudik nggak lo Man ?”

“Mudik lah ke Semarang.”

“Berangkat kapan ?”

“Lebaran hari pertama. Lo kapan ke Bandung ?”

“Nanti baru lebaran hari kedua. Lebaran hari pertama di Jakarta dulu. Biasa digilir, kalau lebaran hari pertama sama keluarga besar bokap kalau lebaran hari kedua”

“Terus nanti gimana ?”

“Gimana apanya ?”

“Pasti ditanya kapan nikah kan ?”

Bagai mendengar petir yang menghisap semua euforia karena besok mulai cuti, menikmati opor ayam, dan belanja menghabiskan THR. Iya…, itu benar. Inilah gue, seorang gadis yang tahun depan berkepala 3 dan belum membawa calon ketika kumpul keluarga. Ini gara-gara gue terlalu sibuk dengan kerjaan gue sampe-sampe lupa nyari pacar.

“Chi, Chi-chi.”

“Eh ya. Aaah, nyantai aja Man.”

“Gue inget banget tahun lalu lo juga bilang gini dengan ekspresi was-was kayak gitu.”

Gue inget banget tahun lalu pas kumpul keluarga semuanya nanyain kapan nikah. Stress gue. Bayangin aja, bokap gue punya 3 adik dan 2 kakak sedangkan nyokap gue punya 3 kakak dan 1 adik. Ke 9 tante dan om tersebut nanyainnya sama pas ngelihat muka gue, ya itu nanya kapan nikah. Udah eneg sama bonyok sendiri ditanyain gitu nah sekarang ditambah sama krooni-kroninya.

Udah 4 tahun mereka intens nanyain itu ke gue. Gue udah menggunakan segala cara ngeles buat jawab itu, dari A-Z udah gue pake. Kira-kira tahun ini gue harus jawab apa pas ditanya kapan nikah. Nggak ada buku panduan ngelesnya sih.

“Pasti lagi mikir gimana cara jawab pas ditanya kapan nikah. Iya kan ?”

“Apaan sih lo Man ?”

“Ya iyalah. Lo dah 29 tahun dan masih jomblo. Udah pasti pas kumpul keluarga yang ditanya itu. Gue dulu juga sama pas belum nikah.”

“Ya iya sih.”

“So udah punya cara ngeles buat besok ?”

“Belum,” kata gue singkat.

“Emang cara apa yang udah lo pake tahun lalu ?”

Gue memutar memori gue ke lebaran tahun lalu. Lebaran hari pertama di rumah Pak De Anto, kakak tertua dari keluarga Bokap.

“Eh apa kabar…, gimana kerjaannya Chi ?”

“Alhamdulillah lancar Pak De.”

Setelah 5 menit pembicaraan nggak penting akhirnya sampai juga ke pertanyaan itu.

“Jadi kapan nyebar undangan ? Seharusnya sudah giliran Chi-chi lho.” Continue reading

piala golf

Ngumpetin

its glad to be back. Rasanya dah lama nggak nulis cerpen…. Why ? You know lah. Sibuk banget kerjaan. Alasan klise. Syarat utama buat nulis itu ya emang selain ada tools, ide cerita, dan energi, ya juga harus ada mood diwaktu yang tepat. Enjoy

“Heh kamu, ke ruangan saya sekarang.”

Nada-nada gini nih kayak nada-nada mau dikasih kerjaan segunung. Bos emang gitu sih orangnya, tegas dan kadang tegaan. Tapi ya mau bagaimana lagi, nggak mungkin kan gue nolak karena malas. Namanya senin pagi, pikiran juga Cuma 50 % di depan computer, sisanya masih ada di kenangan akhir pekan kemarin.

Gue berjalan ke ruangan bos, sebernarnya dia ini bosnya bos. Bos di langit kedua lah. Ruangannya lumayan besar. Di depan ruangan ada meja dan empat sofa untuk tamu. Masuk dikit ada meja bundar juga dengan empat kursi dan berbagai jenis kue kiloan dalam toples (dah kayak jualan). Ada juga TV flat 24 inci, bisa buat nonton atau presentasi.

Yang paling menarik perhatian itu meja di samping ruangan. Isinya piala semua. Kalau ngelihat pialanya sih jelas banget nih orang jago main golf. Soalnya sepertiga piala bentuknya miniature orang yang lagi mau mengayunkan tongkat golf. Kayaknya sengaja dipasang biar semua tamu yang datang sadar sama hal itu sih.

“Ya bos.”

Gue duduk dan memperhatikan bos yang sedang membaca sebuah surat.

“Gini…., mmmm,” kata bos sambil memijat kepalanya. Mata gue tertuju ke sebuah piala yang sepertinya piala baru. Berbentuk bola golf yang sedang di letakkan di atas tee yang tertancap di tanah. Bolanya seperti bola Kristal yang memantulkan cahaya sehingga terlihat seperti berlian mahal.

“Halo…, kamu dengerin nggak.”

“Oh ya maaf Pak. Gimana ?”

“Kamu lihat apa sih ? Oooh, piala itu ya.”

“Iya Pak, bagus banget.”

Kalau misalnya ngelakuin kesalahan cara paling aman untuk lolos dari omelan bos ini adalah dengan mengalihkannya ke golf, bakal langsung jinak dia. Continue reading

cricret 1

Smartphone di Kulit Anda

Kali ini nulis bukan buat promosi…, hanya saja menurut gue ini inovasi teknologi baru yang berpotensi untuk mengubah trend smartphone saat ini.

Beberapa hari lalu ada yang mengirim sebuah video ke grup dimana gue anggotanya. Hmm pas gue lihat videonya sih gue cukup takjub dengan teknologi yang satu ini. Mungkin apabila teknologi ini sudah dikomersialkan, bisa menggantikan teknologi smartphone yang selama ini kita gunakan. Ya trend ponsel kan sekarang makin cenderung ke layar besar, jadi kayak udah bawa talenan. Nah, kalau yang pakai ini, talenannya bisa pindah ke lengan. Hah ? Maksudnya ?

The name of this product is Cricet Bracelet. (Bukannya mau promosi produk ya). Bentuknya sih kayak gelang biasa. Mungkin produk ini terinspirasi dari trend wearable device sekarang ini kali ya. Namun ini bukan gelang biasa (jadinya BGB dong). Keistimewaan gelang ini adalah dia memiliki satu mini proyektor dan 8 sensor proximity. Fungsinya buat ini nih.

cricret 3 cricret 4 Continue reading

gado-gado

Hidup itu Seperti Gado-Gado

Hanya ingin meluapkan sebuah renungan untuk diri sendiri yang lebih baik dishare juga ke orang lain. Hari ini, Senin 9 Februari 2015, Jakarta diguyur hujan dari pagi sampai sore. Ada sebuah benang merah yang aku dapat dari pergi ke kantor, berselancar di dunia maya, dan selentingan meja sebelah ketika makan siang tadi.

“Huuh hujan terus dari pagi.”

Apa yang salah dengan hujan ? Kenapa harus dieluhkan ? Bukankah hujan itu berkah ?

Apa karena hujan membuatmu basah ? Kalau begitu kenapa kamu mandi.

Apa karena hujan membuatmu tidak bisa jalan diluar ? Kalau begitu untuk apa ada payung dan jas hujan.

Apa karena hujan membuat Jakarta banjir ? Kalau begitu kenapa kamu, aku dan ribuan orang lain menginginkan hunian di Jakarta sehingga membuat kontraktor itu menyulap lahan hijau menjadi beton kokoh untuk bernaung

Apa karena hujan membuat jalanan macet ? Kalau begitu kenapa kamu tak pergi dari kota ini saja dan berkarir dikota yang sepi. Takut tak dapat cukup uang ? Rezeki sudah ada yang ngatur, dekati saja yang mengaturnya.

Jika sekali merasakan guyuran hujan seharian lalu mengeluh, kenapa tak pergi ke Gurun Sahara saja.

Jika sekali merasakan sengatan matahari seharian lalu mengeluh, kenapa tak pergi ke Antartika saja.

Jika sekali merasakan debu yang diterbangkan angin lalu mengeluh, kenapa tak membuat bangunan ditengah samudra saja.

Aku mencoba bercermin. Jika dengan semua berkah ini aku masih mengeluh, kenapa tak kugali kuburan untukku saja, lumayan untuk mengurangi jumlah penduduk dunia yang semakin sesak.

Ya bisa saja kan, hidup itu pilihan dan aku bisa memilih itu.

Jika aku bertanya padamu. Apa yang paling kamu suka dari makanan gado-gado ? Continue reading

Happy-Wedding-Wishes

Balada Pengantin Baru

Akhir-akhir ini termenung dengan undangan-undangan kawinan temen-temen yang berdatangan. Hmm, semuanya sudah mulai bersiap, mengambil satu langkah penting dalam sebuah kehidupan. Perlahan tapi pasti semua temen-temen juga bakal ngasih undangan satu persatu. Dan gue ? Gue belum berpikir sama sekali nggk berpikir kesana. Well semua orang punya hidupnya masing-masing kan ? Jadi menanyakan pertanyaan kapan nikah itu sama aja kayak menyebut Lord Voldemort di kisah Harry Potter. Kalau habis nikah pasti bakal jadi pengantin baru doong, nah gue cuma mau bermain-main imajinasi dikit dengan kisah fiksi pasangan yang baru nikah. Enjoy…

Dari sudut pandang laki-laki

Nit-nit-nit. Hadooh, plis deh ini hari libur, masa sih dibangunin sama alarm. Seinget gue, gue nggak nyalain alarm. Kalau begitu siapa ? Gue langsung membuka mata. Ada sosok lain di sebelah gue. Jangan teriak, memang selama 6 hari ini sudah ada sosok ini yang menemani gue tidur. Huuh, dia yang nyalain alarm, malah dia kagak bangun duluan.

Dia adalah Dian, wanita yang membuat gue berjanji untuk membahagiakannya seumur hidup gue. Kita menikah 6 hari lalu. Walau masa pacaran kita singkat, Cuma 6 bulan, gue merasa cocok dan…, pokoknya nggak bisa dijelaskan. Ada sesuatu yang membuat gue berpikir dan merasa kalau she’s the one. Mungkin ini yang disebutkan kalau jodoh tidak kemana.

“Eh udah jam berapa nih ?”

Akhirnya Dian bangun. Jam 10 pagi. Dia kemudian mematikan alarm dan mengulet. Jarang memang gue bangun sesiang ini. Ya memang karena kami tidur cukup malam juga. Dian terduduk dan tersenyum manis kea rah gue. Seketika gejolak dan asmara terbakar di hati. Belum lagi cinta yang menjadi bara api antara gue dengannya. Dia kembali berbaring dan berbisik di sebelah gue.

“Kamu lapar ?”

“Tentu sayang. Aku menghabiskan banyak tenaga tadi malam.”

“Aku akan siapkan makan,” katanya lalu kemudian mencium bibir gue selama sedetik.

Aaah, I love her very much. Kalau kata orang sih cintanya cowok itu gede di awalnya aja, makin lama akan berkurang. Well…, gue akan buktikan kalau itu salah.

Dari sudut pandang perempuan

 Aaah, indahnya pernikahan. Aku merasa lebih stabil dan terlindungi. Dia adalah Andi, pria yang aku pilih untuk menjadi orang yang akan bertanggung jawab kepadaku. Well, kalau dia akan melakukan tanggung jawabnya ya aku juga harus melakukan kewajibanku. Aku bangun, mengenakan pakaian dan langsung kedapur.

Sambil memasak sarapan, aku berpikir sejenak. Kami baru menikah selama 7 hari dengan waktu pacaran baru 6 bulan. Waktu yang sangat singkat untuk masa pacaran. Aku juga masih tergolong muda, aku 24 sedangkan dia 25 tahun. Kalau boleh jujur, ketika dia melamarku aku juga masih belum yakin 100 %. Tapia da sesuatu yang membuat gue bertindak harus menerima lamaran itu. Mungkin ini yang disebut dengan kalau jodoh nggak kemana.

Seketika ada tangan yang memelukku dari belakang dan menghembuskan nafas di leherku. Bulu kudukku langsung merindih, namun gairah ini menenangkanku, membuatku melepaskan hormone yang membuatku ikhlas untuk diperlakukan seperti ini.

“Masak apa ?” bisiknya.

“Nasih goreng.”

“Aku sudah lapar.”

“Tak lebih lama dari 15 menit lagi.”

“Kurasa akan lebih lama dari itu…, sayang…,” dia berbisik pelan di telingaku.

  Continue reading

happy new year 2015

There’s Something About Alan (PART II)

 Well…, enjoy part 2 ya. Just wanna say…, mimpi adalah angan-angan sedangkan realita adalah kenyataan. Batas antara mimpi dengan realita hanyalah sebuah zona abu-abu yang dibatasi oleh sebuah garis yang disebut niat, kemauan, dan usaha.

Sebenarnya aku bingung mau kemana tapi yasudah aku ikuti saja teman-temanku ini. Yang penting cuacanya cerahrahrah. Habis ini aku akan membius Dhea dan membawanya ke planetku. Setelah itu misi selesai dan aku akan dapat penghargaan atas jasaku.

“Kita dah sampai.”

Kami sampai di depan sebuah gapura. Kami berfoto-foto dulu di depan gapura lalu berjalan beberapa ratus meter. Suara yang membuatku merinding mulai terdengar. Sebuah sungai dengan aliran deras terpampang di depan mataku.

“Wuhuu, rafting. Yuk ah pake lifevestnya terus siap basah-basahan.”

Mati aku.

“Gimana ini ?” kataku.

“Gimana apanya ?”

“Rafting tuh pasti basah ya ?”

“Yaiyalah Lan. Kok pertanyaan lo aneh banget sih.”

“Gue nggak bisa berenang,” kata gue menggunakan alasan yang ditemukan didatabase.

“Bohong banget deh. Jelas-jelas renang lo jago. Lagian kan kita pake lifevest.”

Kami sudah sampai di pinggir sungai. Bunyi air yang kencang menandakan derasanya arus. Aku gemetaran dan panik.

“Lo kenapa Lan ?” tanya Dhea.

“Aku takut.”

“Tenang, kan ada kita-kita disini. Kita nggak akan ngebiarin lo celaka.”

“Eh ganti baju dulu ah gue. Mau ganti celana pendek.”

Yang lain ganti celana pendek dan kaus aku malah menambahkan sarung tangan dan kupluk. Bodo amat, aku masih belum mau mati.Hanya wajahku saja yang terpapar udara luar. Namun bagaimanapun apabila air terkena wajah maka akan langsung lumer permanen dan apabila tertelan maka aku akan langsung mati dalam waktu 60 menit.

“Kok lo malah pake baju gitu sih Lan ?”

“Emang nggak boleh ?”

“Ya tapi aneh aja. Mending pake kaus sama celana pendek,” kata Dhea.

“Bilang aja lo mau lihat body Alan yang sexy kan Dhe,” goda Beno.

“Tahu aja lo. Yoweslah terserah Alan. Yuk.”

Aku mendengarkan safety briefing dengan cermat. Ini perjuangan hidup mati untukku. Aku naik ke atas perahu karet dengan melompat, tak membiarkan air mengenai kakiku. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

“Lo takut amat sih Lan. Nyantai aja keles.” Continue reading