Love is an Energy (PART I)

By widikrisna

Menulis tanpa sebuah perencanaan, hanya bermodalkan keinginan dan membiarkan tangan mengetik. Maaf jika ceritanya tak masuk akal, karena memang pemikiranku terkadang tak masuk akal

Aku memandang jalanan yang berlalu dengan cepat. Mobil ini melaju dengan kencang di jalanan yang kosong. Aku hanya bisa menatap kosong pemandangan melalui jendela mobil tanpa bisa mengungkapkan apapun. Mulutku terkunci oleh pemikiranku sendiri. Aku bersama dua orang lain di mobil ini namun aku merasakan ada tembok yang menghalangi aku dengan kedua orang ini. Tembok apa ? Yang pasti usia dan yang lain aku juga tak mengerti. Mereka adalah keluarga yang bahagia dan aku sebentar lagi akan bergabung dengan semua peraturan dan kebiasaan mereka.

Aku memandang kembali masa lalu berat yang baru saja aku alami. Selama satu minggu aku berada di sebuah perputaran hidup yang sungguh menyakitkan. Aku memejamkan mataku. Air mataku kembali mengalir. Keluargaku…, merekalah yang selalu aku anggap keluarga dan mereka semua telah pergi dari hidupku. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena aku tak ada bersama mereka semua yang sekarang berada dalam sebuah ketiadaan.

Satu Minggu Lalu

      “Halo mama,” aku berkata di balik gagang ponselku.

      “Ya halo Kabar kamu gimana Bie ? Kamu baik-baik saja kan nak ?” Mama berkata, membalas ucapanku.

      “Iya ma, Abie baik-baik aja disini.”

Hening sejenak. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan ke mama, namun aku menunggu untuk mama menanyakannya terlebih dahulu.

      “Gimana tes masuk universitas kamu ?”

      “Abie lolos ma, Abie akan kuliah di Jogjakarta. Terimakasih ma atas doanya.”

      “Bener itu Abie. Syukur. Mama seneng banget. Mama bangga sama kamu. Kamu Kapan pulang ke Jakarta, mama, papa, mbak Nia udah kangen sama kamu.”

      “Yah sebentar lagi deh ma. Abie masih mau disini dulu.”

      “Yasudah, kamu hati-hati disana. Kamu lagi ngapain sekarang ? Kamu udah nggak ada sekolah lagi kan ?”

      “Abie lagi sama teman-teman ma. Abie lagi menunggu wisudaan SMA ma, Sabtu ini mau diadain.”

      “Oh yaudah, nikmati masa terakhir kamu sama teman-teman kamu dulu.”

Aku menutup ponselku. Aku melihat kesebelah, teman-temanku duduk sembari bercanda gurau. Aku sedang berada di sekolahku. Aku sekolah di kota Semarang, tempat yang cukup jauh dengan tempat keluargaku berada. Aku memang ingin mandiri, ketika kau SMA aku lebih memilih sekolah di kota yang berbeda dengan keluargaku. Akhirnya aku memilih SMA di Semarang, di sekolah sekaligus asrama. Orangtuaku mengizinkan aku tinggal dikota lain, walaupun sebenarnya mereka menginginkan aku tetap sekolah di Jakarta. Toh ada kakakku yang berkuliah di Jakarta jadi orangtuaku setidaknya tidak sendirian.

Aku kembali fokus dengan teman-temanku. Sebentar lagi aku lulus SMA, masa-masa terindah dalam hidupku. Rasanya sedih berpisah dengan teman-teman seperjuanganku, melewati masa sulit bersama, tinggal di asrama bersama, semua itu hanyalah menjadi sebuah memori manis yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku kedepannya. Sabtu ini adalah malam wisuda SMA, malam terakhir aku menjadi murid disini. Mungkin minggu depan aku sudah harus angkat kaki dari sekolah ini agar kamar asrama bisa ditempati murid baru yang akan segera masuk.

Aku kembali melihat kesekelilingku. Aku sedang berada di kafetaria sekolah. Sekolah yang akan segera aku tinggalkan. Aku menilik ke setiap inci tembok. Ingin rasanya aku memutar waktu dan kembali ke masa aku masih kelas satu, dimana semua tembok dan kelas disini terasa sangat asing.

      “Hei Abie kalau udah kuliah di Jogja jangan lupa ama kita-kita. Grup FB kita akan selalu aktif, awas lo kalo nggak komen-komen.”

      “Iya tenang aja. Eh main futsal yuk, ngebunuh waktu.”

      “Boleh-boleh,” sorak teman-temanku.

*

      “Halo iya ma.”

      “Abie, kamu udah tidur ?”

      “Belum ma, kenapa ?”

      “Mama udah ngomong sama Tante kamu. Nanti kamu di Jogja tinggal disana ya.”

      Aku menyipitkan mataku. Tante? Oh ya aku sampai lupa kalau bapak punya adik yang tinggal di Jogja. Aku dengan Tanteku jarang sekali bertemu mungkin setahun hanya 2 kali. Yah karena jarak tidak memungkinkan keluargaku dengan keluarga tante bertemu sering-sering, mau bagaimana lagi.

      “Abie mau ngekos aja ma di Jogjanya,” sudah menjadi prinsipku untuk hidup mandiri.

      “Abie, rumah Tante kamukan deket sama universitas kamu nanti kuliah. Tante kamu juga udah mau kok. Dia malah seneng kamu bisa tinggal disana. Mereka berduakan nggak punya anak, pasti mereka senang.”

      Aku berpikir sejenak. Tak enak menolak keinginan mama. Aku sangat sayang mama, ia selalu memberikan apapun yang aku inginkan. Aku tidak enak jika sekalipun aku menolak keinginannya.

      “Yasudah ma. Abie mau.”

      “Oh ya Abie, hari Senin, mama mau kesana. Mama mau jemput kamu. Kamu udah harus pulang kan ?”

      Aku berpikir sejenak. Oh ya minggu depan aku sudah harus angkat kaki dari sini. Namun batas terakhir masih hari jumat.

      “Kok buru-buru amat ma, hari Jumat aja. Abie masih mau disini dulu sama teman-teman.”

      “Kamu nggak inget. Hari Rabu kan bapak kamu pergi keluar negeri dua minggu. Kita mau makan malem satu keluarga bareng sebelum bapak pergi.”

      “Bapak keluar negeri lagi ?”

      “Iya, bapak kamu harus ke Perancis selama dua minggu. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan sama bapak.”

]     “Kan aku masih lama juga sebelum masuk kuliah. Mungkin nanti sebulan Abie bakal di Jakarta.”

      “Itu keinginan bapak kamu nak. Tapi kalau kamu emang mau disitu sampai Jumat nanti mama bilangin ke bapak deh.”

      “Ok, mama baik deh.”

*

      Aku sudah melepas status pelajarku. Sebentar lagi aku akan mendapat status mahasiswa. Selama satu minggu pekerjaanku hanya bermain dengan teman satu angkatanku saja. Aku berharap hari jumat jangan datang terlebih dahulu agar aku bisa menikmati waktu bersama teman-temanku lebih lama.

       Satu persatu temanku pergi, dijemput orangtua mereka. Aku mulai merasakan kehilangan. Memang persahabatan akan selalu dibawa sampai mati. Sedih rasanya pada malam terakhir aku harus menginap di kamar asrama ini. Namun waktu terus berjalan dan aku tidak akan bisa menghentikannya. Ponselku berdering, aku kaget setengah mati. Aku langsung mengangkatnya. Dari mama.

      “Halo ma, ada apa ?”

      “Abie, papa kamu jadi berangkat ke Perancisnya hari Senin. Jadi nanti malem papa juga ikut jemput kamu. Kita naik mobil dari sininya Magrib, mungkin nyampenya  besok siang. Kamu kemasin barang-barang kamu ya.”

      “Iya ma.”

      Jumat pun tiba. Hanya tinggal sedikit temanku yang ada disini. Sebagian besar sudah kembali ke daerah asal. Sudah siang, aku menunggu mobil yang menjemputku untuk datang. Keluargaku sebentar lagi sampai. Aku terduduk di ruang rekreasi, menilik ruangan yang sebentar lagi aku tinggalkan. Banyak kenangan yang hidup disini. Aku mesti ingat, mungkin jarak sudah memisahkanku dengan teman-temanku, namun jarak bukanlah alasan agar cinta dan persahabatan untuk pudar.

      “Mama sudah sampai di Tegal.”

      Aku membaca pesan singkat dari mama. Pesan singkat itu sudah mampir keponselku 4 jam yang lalu. Kenapa lama sekali sih. Sembari menunggu waktu aku menonton televisi di ruang rekreasi. Entah mengapa perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati. Sebuah firasat buruk. Aku abaikan firasat itu. Ponselku berdering. Pasti dari mama yang mengatakan sudah sampai. Dari nomor tak dikenal.

      “Halo.”

      “Halo selamat siang dengan Saudara Abie ?” Seorang pria bersuara berat terdengar dari balik telepon.

      “Iya benar, ini dengan siapa ?”

      “Ini dari kepolisian.”

      Aku kaget dan langsung mendengar apa yang ingin dikatakan sang polisi. Air mataku mengalir saat sang poliss mengatakan satu kata yang menyayat hatiku.

      “Mobil keluarga saya kecelakaan pak ?” aku mengulang apa yang aku dengar dari sang polisi.

      “Iya, anda berada dimana sekarang ?”

      “Lalu bagaimana keadaan keluarga saya pak ?”

      “Lebih baik anda datang ke TKP. Posisi anda berada dimana ? Mobil kami akan menjmput anda.”

      Aku hanya bisa berdoa sesuatu tidak terjadi pada keluargaku. Setelah teman-temanku pergi, aku tak mau keluargaku juga pergi. Ah aku terlalu khawatir, mereka pasti selamat. Aku berpikir optimis, namun sang polisi itu seperti memberi isyarat agar aku tabah, apakah mereka sekarang telah tiada ? Ternyata firasat buruk ini memang bukan sesuatu yang benar.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s