Safety First

by widikrisna

Terima kasih pada Pak YWB yang mengadakan Safety Induction kemarin di kampus, memberiku sedikit inspirasi untuk sebuah cerita yang hanya bermodalkan naluri semata

Aku sedang berada di surga, rasanya semua begitu tenang. Hening, suara air sayup-sayup meninabobokan diriku. Aku makin terbuai dengan surga ini. Kepala ini rasanya ringan. Tubuhku seperti berbaring di kasur nanempuk yang terbuat dari bulu angsa yang lembut. Semua beban mental serasa menguap, membuatku terus tenggelam kedalam perasaan rileks ini. Harmoni suara yang makin membuatku tertidur dengan nyenyaknya. Aku sedang menyebrang ke sebuah dunia yang hanya miliki seorang, membawa semua kenyamanan yang menghampiri diriku secara berbarengan. Namun tiba-tiba semua harmoni itu hilang saat ada interferensi suara yang berbeda.

Aku membuka mataku. Surga yang barusaja terbentang dibenakku menghilang dengan sekejab. Aku sedang duduk di sebuah kursi didepanku ada sebuah papan tulis besar. Di sekelilingku ada teman-temanku yang sedang duduk dan mereka memandangku. Mengapa mereka memandangiku ? Aku mengumpulkan semua fokusku yang tadi terbawa oleh bidadari yang meninabobokanku. Aku sedang berada di kelas dan seseorang yang berada di meja paling depan menatapku dengan pandangan menyeramkan. Gawat.

Aku langsung fokus, adrenalin sedikit terpacu, membuat keringatku menetes dipelipisku. Sang profesor melihatku sambil tersenyum licik. Satu hal yang membuatku lebih takut adalah ia menjulurkan spidol kearahku dengan tangan kanannya. Profesor itu mengangguk padaku sedangkan kau hanya bisa mati duduk di tempatku. Teman disebelahku langsung memberi isyarat padaku untuk maju dengan kepalanya. Aku menelan ludah dan langsung berdiri dari bangkuku. Kelas terasa sepi dan hening, profesor itu bagaikan penyihir yang membuat semua murid membisu.

Aku langsung maju kedepan. Aku melihat papan tulis. Berbagai lambang romawi kuno lengkap dengan kaligrafi-kaligrafi abstrak terlukis di papan tulis. Dimana aku ini ? Apakah aku terlempar ke masa perang di Yunani. Alpha, Beta, Gamma, ah aku tidak mengerti bahasa yang tertulis di papan tulis. Aku mau menulis apa coba, tidak mungkin aku tidak bisa, profesor ini terkenal akan kegalakannya. Mati aku ? Aku sampai di depan sang profesor. Ia menyodorkan spidol itu ke tanganku. Deg-deg, jantungku berdebar kencang.

Aku maju ke papan tulis. Mau menulis apa nih ? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku sama sekali tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan sang profesor. Akan diapakan aku jika aku tidak bisa ? Aku membuka tutup spidol, tanganku sedikit gemetaran. Aku mulai menilik soal yang tertulis di papan tulis. Aduh apa sih yang dimaksudkan soal ini, aku sama sekali tidak ngerti. Plis Tuhan tolong aku. Ok, apapun yang terjadi tulis dulu diketahui dan ditanya. Aku menorehkan spidol itu ke papan tulis. Tidak bisa, tinta spidolnya habis. Yeees, aku selamat. Aku sedikit menarik nafas lega. Aku melihat ke sang profesor.

“Tintanya habis pak.”

“Memang saya menyuruh kamu untuk mengganti spidol itu di Tata Usaha, kenapa kamu malah maju dan mau mengerjakan soal ? Sudah sana kamu pergi ke TU minta spidol yang baru. ” kata Sang profesor dengan sedikit penekanan.

Hah ternyata aku terlalu banyak prasangka. Lega setengah mati. Aku sama sekali tidak tahu harus menulis apa tadi. Aku langsung keluar kelas. Hawa segar. Udara kebebasan memang menyejukkan. Tubuhku terasa ringan kembali, beban mental tadi langsung menguap. Kelasku dengan TU hanya berjarak satu lantai. Aku langsung menuju ke lantai dua, tempa TU berada.

“Bapak, mau ganti spidol.”

Bapak penjaga TU langsung menggantikan spidol yang habis dengan yang sudah diisi. Hanya butuh satu menit untuk melakukan ini, ah andaikan waktu mengganti spidol ini bisa diperpanjang. Masih ada 1 jam lagi sebelum jam kuliah usai. Aku langsung naik kembali ke lantai tiga. Aku berjaslan di koridor, kelasku berada di ujung koridor. Baru saja aku ingin memasuki koridor, aku melihat kejadian aneh di koridor di belakangku.

Seorang berbaju putih keluar, ia berlumuran darah di tangannya. Ia berjalan dengan sedikit pincang. Kalau dilihat ia mirip sekali dengan mbak kun, seorang wanita memakai rok dengan rambut panjang. Bulu kudukku merinding, aku sudah pernah mendengar cerita-cerita horor di gedung ini. Koridor tempat wanita itu berjalan sedang sepi. Ah masa sih hantu keluarnya siang-siang begini. Aku berbalik dan mendekati wanita itu. Aku tahu siapa dia. Dia kakak kelasku. Aku langsung bergegas menuju ke arahnya.

“Kak, kakak kenapa ?”

“Tolong bantu gw dong. Tadi alat penelitian di lab gw meledak. Gw lagi ngerun sendirian, partner gw lagi makan siang dulu. Sakit banget nih.”

Aku melihat darah ditangannya terus bercucuran. Aku takut, ini pertama kalinya aku melihat kondisi seperti ini. Darah kakak kelasku sedikit mengenai celana jeansku, untukng celanaku hitam jadi tidak terlalu terlihat. Aku langsung memapah wanita itu. Seorang petugas kebersihan lewat didepanku dan langsung membantuku. Kami membawa kakak kelasku ke lantai dua. Ia langsung ditangani oleh beberapa teman seangkatannya. Temannya langsung memanggul ambulans.

“Ya ampun, lo kenapa bisa sampe kayak gini ?” tanya salah satu temannya sambil mengelap darah yang masih bercucuran.

“Gara-gara safety nih, gw nggak menghiraukan. Sial, coba dulu pas pelajaran safety gw ngedengerin pasti kagak kayak gini jadinya.”

Aku langsung tersentak. Sekarang aku sedang pelajaran safety dan aku sama sekali tidak pernah mendengar. Aku tidak mau berakhir seperti kakak kelasku, terkena kecelakaan karena ketidak mengertian yang aku sebabkan sendiri. Aku langsung naik ke lantai tiga saat kakak kelakusudah ditangani oleh teman-temannya. Ok, setelah ini aku akan mendengarkan apa yang dikatakan dosen. Tidak ada kata terlambat, aku harus belajar. Seram, aku tidak mau terluka seperti tadi. Untung taddi masih selamat, bisa saja kecelakaan terjadi lebih parah dan tidak memberiku kesepmatan untuk hidup.

Aku langsung kembali kekelas dengan semangat baru. Aku menyerahkan spidol kepada sang profesor dan kembali ke tempat dudukku dengan niat baru. Namun…,

“Mau kemana kamu ? Kerjakan soal di papan tulis ini.”

Gawat. Walau niat baru, otak masih otak lama. Aku berbalik, melihat sang prfesor tersenyum licik padaku. Aku langsung berjalan kedepan, jantung berdetak kencang, tak tahu harus menulis apa. Alpha beta gamma, apakah tidak bisa menggunakan abjad Indonesia saja. Keringat mengucur dari pelipisku. Ini lebih seram dari kecelakaan tadi. Habis aku bakal dimarahi profesor galak ini.

Advertisements

2 comments on “Safety First

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s