Love is an Energy (PART II)

by widikrisna

Awalnya ceritanya tak mau kulanjutkan soalnya aku bingung bagaimana harus mengakhirinya, toh part 1nya pun aku asal menulis. Bingung sendiri kenapa bisa jadi seperti itu tulisannya. But i must finished what i start. Lalu cara menyelesaikan tulisannya ? Yah niat saja dan biarkan tangan mengetik sendiri. Aduh ni otak semakin eror aja.

    Aku masuk ke rumah sakit. Aku berlari masuk di koridor. Aku hanya ingin melihat keluargaku sekarang dan yang terpenting aku ingin melihat mereka dalam keadaan hidup. Aku sampai di meja resepsionis.

      “Suster, dimana kamar kecelakaan mobil yang dirawat di rumah sakit ini ?”

      Suster itu menatapku dengan iba. Ia memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku mengekor dibelakang suster itu. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, berharap yang terbaik untuk mereka. Aku sedih, andaikan hari Senin mereka menjemputku mungkin tidak begini kejadiannya. Seorang pria berbaju putih berada didepanku. Sudah pasti ia dokter yang menangani keluargaku.

      “Anda dengan saudara Abie ?” tanya dokter itu.

      “Iya pak, bagaimana keadaan keluarga saya ?”

      “Adik harus tabah ya, semua ini pasti ada maksudnya.”

      “Maksud dokter apa ?”

      “Keluarga adik tewas dalam kecelakaan ini.”

      Aku tak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu di telingaku. Aku langsung masuk ke ruangan yang berada dibalik dokter itu. Aku melihat tiga tubuh terbaring di kasurku. Mereka tak lain dan tak bukan adalah keluargaku sendiri, mama, papa, kak Nia, mereka telah terbujur kaku. Aku melihat mata mereka yang menutup. Tanganku gemetar, ini pasti hanyalah mimpi buruk semata. Kemudian aku akan terbangun dan mendapati mereka bertiga sedang menyapaku, memberiku senyum hangat mereka.

      Namun hati ini sakit, seperti tersayat pisau ketika melihat mereka tertidur tanpa nafas. Sakit ini pasti bukanlah mimpi semata. Ini pasti kenyataan dan aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Seharusnya ini menjadi sebuah malam yang indah karena keluarga bisa berkumpul kembali. Mama, papa, Kak Nia dan aku, sebuah keluarga kecil yang penuh kehangatan.

      Aku langsung memeluk tubuh mama, wanita yang paling aku cintai dalam hidupku, wanita yang selalu menjagaku setiap saat, wanita yang selalu ada disaat suka dan duka, wanita yang selalu mendukungku saat tak seorangpun berada di sisiku. Air mataku menetes, tak sanggup lagi aku tahan. Aku memeluk tubuh mama. Aku goyangkan tubuh mama, tak bergerak. Aku terus menggoyang-goyangkan tubuh mama, berharap ia bangun. Namun sia-sia, mama tetap tertidur tanpa ada udara yang masuk ke paru-parunya.

      “Mama bangun mama, mama bangun.”

      Aku menuju ke tempat papa tertidur. Papa sampai menahan urusan pekerjaannya hanya untuk membuat keluargaku berkumpul kembali. Papa orang yang selalu bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginanku. Siang malam ia memutar otak banting tulang hanya untuk membuatku senang dengan materi yang akan ia berikan padaku.  Sekarang tubuh itu hanya terbujur kaku tanpa ada ruh yang hinggap di dalam kalbunya.

      Kak Nia, kakak yang menjadi teman sepermainanku dulu. Kakak yang selalu menjagaku dan menyayangiku layaknya ibu menyayangiku. Kakak yang terkadang menyebalkan namun tetap menyayangiku. Kumohon jangan pergi dulu kak, aku mau kakak menjadi pendamping wisudaku nanti, menjadi pendamping pernikahanku dan masih banyak lagi. Masih banyak kebahagiaan yang aku ingin bagi dengan kakak.

      Aku melihat ketiga keluargaku. Air mata terus mengalir saat melihat mereka tanpa nyawa. Aku ingin bersama mereka. Terlalu banyak waktu yang aku buang untuk bersama mereka. Kesempatan yang aku punya untuk bersama mereka selama ini sering aku abaikan dan sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi. Mereka telah tiada.

      Esok hari adalah hari terberat dalam hidupku saat aku harus mengantar orang yang paling aku cintai ke peristirahatan terakhir mereka. Teman-teman dan semua sanak keluarga datang sebagai tanda penghormatan terakhir mereka pada keluargaku. Tak ada yang lebih sedih dibandingkan aku. Paman dan bibiku banyak yang menyemangatiku, namun semangat itu tidak ada yang mempan. Aku ingin mendapatkan momen terakhir dengan keluargaku dan nampaknya sampai kapanpun momen itu tidak bisa aku dapatkan.

*

      “Kamar untuk kamu sudah Tante siapkan. Nanti nggak usah sungkan-sungkan kalau dirumah.”

      Aku hanya memandang tanteku dengan tatapan kosong. Baru kemarin ketiga keluargaku dikubur. Aku masih diselimuti kesedihan yang melanda. Penyesalan menghinggapi hatiku. Andai mereka menjemputku lebih awal, mungkin tidak terjadi kecelakaan seperti ini. Aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi pada keluargaku.

      “Nanti anggap saja dirumah sendiri. Kalau mau makan apa tinggal ambil di kulkas, kalau mau apa tinggal bilang sama om dan tante, “ kata Om Beni, adik papaku.

      Aku tak bisa menahan setetes air mata yang jatuh dari kelopak mataku. Perjalanan ke Yogyakarta ini adalah perjalanan terberat yang pernah aku rasakan. Walaupun aku sering bepergian sendiri, baru kali ini aku merakan pergi dengan sebuah perasan hampa, mungkin karena tak ada lagi cinta dan doa dari mama yang selalu menyertaiku.

      Om dan Tante Beni hanya bisa melihatku dengan iba dari kaca mobil. Mereka masih mengerti akan kondisiku yang masih labil saat ini. Aku akan diasuh oleh mereka sekarang dan seterusnya. Om dan Tante Beni tidak mempunyai anak, aku sendiri kurang tahu kenapa mereka belum dikaruniani anak, mungkin belum rezeki. Di perjalanan aku hanya bisa memikirkan keluargaku. Aku memohon pada Tuhan agar mengizinkanku untuk berkumpul dengan mereka sekali lagi.

      Aku sampai di Jogjakarta, kota baru yang akan segera menjadi kota tempat tinggalku. Aku terpana dengan rumah yang besar ini, dengan dua pilar besar menyangga beranda rumah. Heran. Rumah sebesar ini hanya ditempati oleh Om dan Tante Beni, juga dua orang pembantu dan seorang tukang kebun. Aku menginjakkan kaki pertama kali di rumah ini. Ini mengingatkanku dengan rumahku di Jakarta yang akan segera dijual. Rumahku juga kurang lebih sebesar ini. Oh betapa aku menyia-nyiakan waktu yang diberikan untuk berkumpul bersama mereka. Setelah teman-teman SMAku pergi, sekarang keluargaku juga pergi. Aku kembali tenggelam dalam kesedihan, entah mengapa sulit untuk mengatur moodku. Selalu saja ada ritme yang bisa menggores hatiku, membuatku ingin menangis atas takdir ini.

      Aku mengikuti Tante Benny menuju lantai dua ke kamarku. Kamar yang bagus dan besar, lebih besar dan lebih berperabot daripada kamarku di Jakarta. Namun tetap saja kamar besar bukanlah obat yang tepat untukku sekarang. Yang aku inginkan sekarang adalah keluarga dan teman-temanku dulu. Aku kembali dalam kesedihan.

*

      Sudah satu minggu aku tinggal disini. Om dan Tante Benny memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku tidak terlalu dekat dengan mereka, jadi butuh waktu adaptasi yang mungkin agak lama. Perhatian yang mereka berikan sangatlah intens, aku sampai kesal sendiri. Aku mengerti jika mereka punya kasih sayang yang selama ini ingin mereka berikan pada seorang anak. Aku hanya bisa mangut ketika mereka memperlakukanku seperti anak kecil. Makin mereka memberikan kasih sayangnya padaku, aku makin teringat dengan keluargaku.

      Aku masih tenggelam dalam kesedihan, mungkin butuh waktu lama untuk menghilangkan penyesalan dalam diriku. Aku ingin sekali saja bertemu dengan keluargaku kembali, makan bersama dan bercanda bersama mereka kembali. Aku rindu dengan mereka.

      Aku berada di meja makan. Malam ini lauk makan malamnya cukup mewah, setiap hari kurasa lauknya mewah. Bi Eha memang jago memasak.  Bi Eha adalah pembantu pertama dirumah ini, ia berusia 50 tahunan. Pembantu kedua masih muda, namanya Bi Sari, bisa dibilang seperti ibu dan anak. Tante Benny menyendokan secentong nasi ke piringku dan mengambilkan sepotong ayam bakar ke piringku. Hei, aku bisa mengambil makananku sendiri, tak perlu sebegitunya.

      “Sudah tante, nasinya jangan banyak-banyak.”

      “Kok kamu makannya sedikit, kamu harus makan banyak biar gemuk.”

      Aku tetap menolak. Aku masih saja teringat dengan keluargaku. Aku hanya ingin bisa makan bersama mereka kembali. Aku menangis, setetes air mata keluar. Aku langsung mengusapnya, mencegah siapapun tahu.

      “Kamu nangis ?” tanya Om Beni

      “Nggak, ini sambelnya pedas jadi keluar air mata,” aku mengelak.

      Aku selesai makan malam. Aku langsung menuju ke balkon lantai dua. Sudah satu minggu, namun aku tidak terlalu menyukai kehidupan ini. Aku ingin kehidupan seperti dulu dimana keluargaku selalu memberikan cintanya padaku. Aku ingin kehidupanku yang dulu, Tuhan kenapa Engkau mengambil teman-teman dan keluargaku ?

      Angin malam berhembus, membuat pori-pori kulitku merapat. Langit gelap, dipenuhi awan yang menghalangi cahaya bintang untuk menemaniku. Tak ada bulan, yang ada hanyalah kilat yang menyambar di balik awan, menciptakan cahaya putih selama sepersekian detik. Sudah seminggu ini kerjaanku hanya melihat langit di malam hari, sembari mengingat masa laluku. Mama, papa, kak Nia, apakah kalian sudah bahagia disana ? Tanyaku sambil menatap angkasa yang hitam.

      “Mau dibuatin kopi den ?”

      Bi Eha datang dari belakang, membuyarkan lamunanku.

      “Mmm, boleh deh bik.”

      Bi Eha langsung pergi dari hadapanku. Aku langsung duduk di kursi di balkon, kembali merenungi keluargaku. Aku langsung sedih ketika memori yang pernah aku lalui bersama mereka aku putar dalam otakku. Bi Eha datang dan meletakkan secangkir kopi untukku. Akumengambl cangkir itu dan meneguk kopi hangat dari dalam cangkir. Enak, membuat tubuhku hangat.

       Bi Eha duduk di kursi di sebelahku. Ia melakukan hal yang sama denganku, memandang kosong langit malam yang hitam. Tak kusangka Bi Eha menangis. Apa yang terjadi dengannya ?

      “Bi, kenapa menangis ?”

      “Bibi teringat dengan anak bibi.”

      “Memangnya anak bibi ada dimana ?”

      “Kedua anak bibi udah meninggal karena sakit.”

      Aku ikut termenung.

      “Kapan emang bi meninggalnya ?”

      “Sudah sekitar 10 tahun lalu. Bibi sedih sekali saat itu. Suami Bibi juga sudah meninggal terlebih dahulu. Bibi serasa lebih baik bibi meninggal saja, ikut bersama mereka. Bibi tidak mau tinggal sebatang kara. Mungkin den Abie berpikir yang sama sekarang. Bibi mengerti bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga yang den Abie sayangi.”

      “Iya Bi. Saya sangat sayang dengan keluarga saya. Selama ini saya merasa saya sangat menyia-nyiakan waktu yang bisa saya luangkan bersama mereka.”

      “Sama. Bibi bekerja disini juga sudah 20tahun lebih, meninggalkan kedua anak bibi yang berada di kampung, bertemu paling ketika lebaran. Bibi hanya mendapat kabar dari telepon kalau anak bibi sudah meninggal.”

      “Ini seperti sebuah ketidakadilan. Saya tidak mengerti apa maksud Tuhan mengambil keluarga saya terlebih dahulu tanpa mengambil saya juga.”

      “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga,” Bi Eha menyanyikan lagu keluarga Cemara.

      “Ya saya suka film itu dulu, tentang bagaimana keluarga seharusnya,” aku berkomentar.

      “Bagi bibi, memang tidak ada yang lebih berarti selain keluarga Bibi, Anak-anak bibi, suami bibi. Bibi juga sempat merasakan perasaan yang kamu rasakan. Ketika itu bibi berteriak sebuah ketidakadilan pada Tuhan. Namun kamu harus camkan sesuatu, Tuhan Maha Adil.”

      “Maksud bibi apa ? Setelah kejadian itu apa yang masih membuat bibi berpikir kalau Tuhan Maha Adil.”

      “Cinta adalah bentuk energi, ia tak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Bibi rasa den Abie lebih mengerti hukum kekekalan energi daripada bibi. Cinta adalah energi, ia hanya akan berubah bentuk, merambat dari suatu waktu ke waktu setelahnya, berubah bentuk dari cinta yang lama menjadi cinta yang baru. Bibi tahu tak ada gunanya hanya bersedih. Apa yang bibi lakukan saat itu ? Bibi melepas kepergian anak bibi. Bibi ikhlaskan kematiannya. Bibi lepas semua cinta dan kasih bibi, tak bibi pendam dalam hati. Lepaskan energi cinta itu ke alam. Bibi tahu kamu masih memendam cinta yang sangat mendalam  ke keluargamu, lepaskan cinta itu, ikhlaskan. Tak ada gunanya kamu menyimpannya. Bibi tahu itu hal yang sulit, namun hanya itu yang bisa bibi lakukan. Seperti yang bibi bilang, cinta adalah bentuk energi. Ketika cinta itu bibi lepas, maka cinta itu bertransformasi menjadi bentuk cinta baru yang muncul ke kehidupan bibi, berusaha menyeimbangkan neraca energi dari energi cinta. Ketika bibi sudah bisa melepasnya, muncul Bi Sari di kehidupan Bibi. Bi Sari berusia sama seperti anak Bibi ketika ia bekerja disini. Ibu menganggap Bi Sari sudah seperti anak bibi sendiri. Bibi tahu Bi Sari adalah wujud cinta baru yang telah bertransformasi dari cinta lama. Sekarang Bi Sari juga sudah menganggap Bibi seperti ibu kandung sendiri. Tuhan Maha Adil jika kamu mau membuka pikiranmu.”

      Bi Eha terdiam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya lagi.

      “Bibi belum pernah melihat Pak dan Bu Benny sebahagia ini. Kedatanganmu ke rumah ini membawa angin segar untuk mereka. Sudah lama mereka menginginkan seorang anak. Tidakkah kamu rasakan cinta dari Pak dan Bu Benny sama besarnya dengan cinta yang diberikan keluargamu ? Kamu pasti tidak merasakannya karena kamu masih belum mau mengikhlaskan keluargamu. Sekarang lepaskan cinta lamamu, biarkan ia bertransformasi menjadi cinta yang baru yaitu cinta yang berada di rumah ini. Bibi yakin keluargamu sudah tenang disana, kamu jangan mengikat mereka dengan cintamu. Lepaskan cinta itu, rasakan cinta baru yang lebih segar. Kamu akan merasakan energi baru yang akan segera memasuki hatimu. Pak dan Bu Benny menganggapmu anak sendiri. Sebentar lagi kamu juga akan kuliah dan bertemu teman baru. Ingat cinta adalah bentuk energi, jika kamu bisa melepas cinta lamamu maka ia akan bertransformasi menjadi cinta yang baru. Keluarga baru, teman baru, semua adalah bentuk energi baru yang berasal dari masa lalumu. Sekarang hapus air matamu, mulailah ikhlaskan keluargamu. Mereka pasti sedih jika melihatmu murung terus seperti ini. Mulailah lembaran barumu besok.”

      Aku merenungi setiap kata Bi Eha. Kata-kata bijak yang keluar dari seorang yang tidak berpendidikan, namun itu kata-kata yang sangat bijak, sangat pas untukku. Aku memang terlalu mengekang cinta ini, aku memang belum bisa melepaskan cinta ini dan memang satu hal yang hanya bisa aku lakukan hanyalah mengikhlaskan keluargaku dan memandang hari esok. Baiklah aku akan mengikhlaskan keluargaku agar cinta baru yang akan segera aku dapatkan setulus dan seindah cinta lama di masa lampau. Pak dan Bu Benny memang menganggapku sebagai anak sekarang, tak beda dengan mama dan papa dulu. Terima kasih Bi Eha.

*

Hidup bagaikan siklus rankine tertutup. Suatu saat kau pun akan pergi selamanya, berubah dari wujud massa menjadi wujud energi. Energimu akan lepas ke semesta dan bertransformasi menjadi nafas baru dari sebuah insan yang baru. Tak akan ada energi yang hilang keluar dari semesta karena tak ada dimensi ruang lain selain semesta ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s