Tanda Tanya dalam Tuntutan

by widikrisna

hanya sebuah pemikiran yang mengalir dalam sebuah kesendirian

Tak kusangka akhrirnya aku merasakan ini juga, sebuah realita yang takut untuk aku hadapi. Tak kusangka perasaan yang aku kira tak akan muncul akhirnya aku rasakan. Entah kecewa entah menyesal entah sebal. Sebuah tuntutan yang ingin aku jalankan namun tak bisa kulakukan karena orang yang menuntutku. Antara komitmen dengan tuntutan. Siapa yang menuntut dan siapa yang dituntut ? Apakah ketika sebuah tuntutan muncul, orang yang menuntut sadar pada akhirnya mereka akan dituntut untuk tuntutan mereka sendiri. Apakah makna dari sebuah tuntutan telah hilang saat semua tak sadar kalau sebenarnya mereka semua sedang menginjak tubuh mereka sendiri ketika mereka mengajukan sebuah tuntutan.

Cermin nampaknya sudah retak, tak bisa lagi memantulkan kebenaran nyata yang sebenarnya tersembunyi dibalik pemikiran yang lebih mendalam. Apakah semua tidak bisa bercermin sendiri ? Kalian ingin aku membersihkan rumah ini dari lumpur yang mengotori setiap inci lantai, namun bagaimana aku bisa lakukan jika kalian terus berjalan dengan kaki berlumuran lumpur. Aku sedih jika tak ada satupun orang yang menyadari akan arti sebuat tuntutan, termasuk diriku. Mungkin aku hanya sedang mengeluh diantara detik yang tak bisa aku hentikan. Waktu akan terus berjalan tanpa menghapus semua kabut yang menyembunyikan arti dari semua tuntutan.

Ketika semua kepentingan bercampur menjadi satu dan semua bertarung untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan, mungkin ada pihak yang menjadi korban atas idealisme tameng baja tak terkalahkan. Aku tak punya pedang untuk menghunus tamengmu, aku tak punya tombak untuk menembus perisamu. Sungguh yang aku lakukan hanyalah menjalankan sebuah tuntutan atas kata-kata yang dulu aku ucapkan atas perintahmu. Aku tak bermaksud memasukan kepentinganku ke dalam pertarungan kepentingan itu. Aku hanyalah budak yang tak mempunyai idealisme tinggi seperti kalian semua. Aku tak punya pemikiran ajaib yang bisa membuat semua orang terpukau atas apa yang aku ucapkan. Aku hanyalah seorang pelayan yang mencoba memberikan apa yang terbaik, tak bermaksud untuk merepotkan atau membuat dunia seakan neraka.

Aku tak masalah jika aku yang kau hunus dengan tamengmu dan segala senjataku, namun tolong jangan tampar dia, orang yang berada dibawahku. Aku tak mau dia merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang, cukup hanya aku yang menjadi korban idealismemu. Aku lebih merasa sedih jika ada orang lain yang akhirnya ikut berarung dalam gelombang kepentingan.

Melalui kalimat ini aku hanya ingin berkata beberapa patah kata yang bodoh, bukanlah sebuah idealisme tinggi yang patut didahulukan. Namun aku hanya ingin telingamu untuk mendengar sesuatu yang ingin aku berikan pada dunia. Kurasa banyak yang merasakan apa yang kurasakan, terhempas angin diketinggian dimana mereka sendiri yang ingin aku naik ke ketinggian ini. Aku hanya ingin kalian membuka pemikiran, tak perlu sampai melepas tameng kebesaran yang kalian kenakan. Aku hanya ingin kalian berpikir untuk bercermin sebelum kalian mengajukan sebuah tuntutan karena nantinya akan ada orang yang terhempas tameng atas sebuah kata yang menjadi sebuah tuntutan akan kewajiban tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s