Guru dan Murid

by widikrisna

Tiba-tiba teringat akan guru SD yang XXX (Sensor) –> Bahkan aku sendiri tak tahu XXXnya itu apa. Ampun pak…, namun dibalik itu aku mengucapkan terima kasih Pak Guru. Cerita ini kudedikasikan untuk guruku. Dibalik ketegasannya, aku tahu ia sayang kepada kami semua

       Aku memandang dengan kesal anak kecil yang berdiri di depanku. Emosiku sedikit menaik dengan dia yang hanya terdiam. Aku menarik nafas mencoba menurunkan amarah yang mulai meninggi. Anak kecil itu hanya menunduk tanpa bisa membela diri.

      “Riki, kenapa kamu nggak ngerjain tugas, coba jawab pertanyaan ibu ?”

      Anak itu tetap diam membisu. Ia tak berani menatapku yang sudah mengggunakan nada tinggi. Sebenarnya aku tidak tega juga memarahi anak kecil, namun ini demi kebaikan dia juga. Aku tak mau murid-muridku tumbuh menjadi murid yang manja. Anak kecil itu tetap tidak menjawab, aku tetap menatapnya dengan wajah sangar. Murid yang lain hanya bisa menonton.

      “Kamu denger ibu nggak, ayo jawab.”

      “Maaf bu,” akhirnya Riki angkat bicara.

      “Saya tidak sempat mengerjakan tugas ini.”

      “Kenapa tidak sempat ? Teman-teman kamu yang lain sempat. Ini bukan kali pertama kamu tidak mengerjakan PR< ditambah lagi ini tugas besar akhir semester yang bobotnya besar. Kamu mau tinggal kelas ?”

      “Tidak bu.”

      “Lalu kenapa kamu tidak mengerjakan ?”

      “Maaf bu, saya…,”

      Hening, Riki tidak bisa menjawab pertanyaanku. Kurasa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak ini, pasti ada suatu masalah. Ia tidak seperti ini dulu. Riki adalah anak yang pintar, ia meraih peringkat 3 semester kemarin. Aku tak percaya anak pintar seperti dia tidak bisa mengerjakan tugas yang aku berikan

      “Baiklah kamu ibu beri kesempatan sampai besok untuk mengerjakan tugas ini. Dan Ibu mau orang tua kamu besok datang menghadap ibu.”

      “Tapi bu.”

      “Jangan membantah Riki. Sudah sana kamu duduk.”

      Riki pergi dari hadapanku. Aku harus berbicara dengan orantuanya tentang masalah ini. Kurasa orang tuanya mengerti apa yang ingin aku korek. Aku kembali fokus ke pelajaran.

*

      Bel berbunyi, menandakan waktunya pulang. Aku menyudahi pelajaranku. Aku keluar kelas dan menuju ke ruang guru. Anak-anak langsung keluar kelas dengan senang. Lalu lalang anak-anak mulai dari yang kecil dan yan bersar mewarnai koridor sekolah. Aku adalah seorang guru SD, usiaku 37 tahun. Aku memiliki seorang anak perempuan dan anak laki-laki mereka semua masih SMP. Aku menjadi seorang guru SD karena memang aku senang dengan anak-anak. Aku senang mengajari hal baru ke anak-anak. Sudah menjadi panggilan hati untukku untuk berprofesi sebagai guru. Untunglah suamiku bekerja sebagai pengusaha, sehingga mampu menopang semua keperluan keluarga

      Aku masuk ke ruang guru, meltakkan dua buku di mejaku. Aku berpikir sejenak tentang Riki. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ia adalah anak yang pintar, mengapa ia tiba-tiba berubah menjadi malas. Besok aku akan tanyakan ke orang tuanya.

      Aku memberseskan barang-barangku untuk pulang. Sekolah di SD ini berakhir pukul 13.30, membuatku harus pulang dengan ditemani matahari yang menyengat di langit. Aku menuju mobilku. Mobil ? Ya aku orang yang cukup berpunya dan murid-murid di sekolahku juga kebanyakan orang yang berpunya. SDku bukanlah SD kumuh yang bangunannya mau rubuh, namun SD megah yang cukup elit. Di samping SD ada SMP yang bernama sama. Kalau kata orang SMP itu adalah kelas 7-9nya SDku.

      Aku menaiki mobilku dan langsung mengemudi menuju rumah. Aku senang mengemudi sendiri, belum mau menggaji supir. Aku melihat ke bungkusan yang terdapat di bangku depan. Oh ya aku harus ke kantor pos terlebih dahulu, mengirimkan paket untuk orang tuaku dikampung. Aku langsung menuju ke kantor pos yang berada di terminal yang berada dekat sekolah.

      Aku sampai di depan kantor pos. Aku membawa paketku ke dalam kantor pos dan mengirimkannya. Matahari sungguh menyengat, tak tahan aku dengan teriknya yang menusuk kulit. Keringat keluar dari dahiku saat aku berjalan dari kanotr pos menuju mobil. Aku melihat sosok yang kukenal jauh beberapa puluh meter dari tempatku berdiri. Itu Riki, apa yang ia lakukan. Bukankah seharusnya ia mengerjakan tugas yang aku berikan.

      Aku menatap Riki di kejauhan. Ia berada di terminal, tempat bis-bis kota berhenti. Ia begitu kucel. Aku memperhatikan apa yang ia kerjakan. Ia mengangkat barang-barang bawaan orang yang turun dari bus. Aku menyipitkan mataku. Riki kan setahuku anak orang yang cukup berpunya kenapa ia melakukan tugas demikian.

      Aku masuk kedalam mobil saat aku mulai tak tahan dengan terik matahari yang menusuk kulitku. Aku jadi bingung. Aku ingat sekali dulu ketika pengambilan rapot. Dari penampilan, ibu Riki adalah orang yang berpunya, dengan perhiasan dan mobil yang ia bawa, sudah cukup membuktikan asumsiku. Aku punya sebuah ide. Aku kembali ke sekolah yang tak jauh dari terminal. Aku turun dari mobil dan berjalan menuju ruang guru.

      “Loh Ibu ngapain balik lagi ?” tanya penjaga sekolah.

      “Ada yang tertinggal,” aku mengarang alasan.

      Aku masuk ke ruang guru dan melihat database anak-anak. Alamat rumah Riki…, aku mencari di komputer sekolah. Ada. Aku langsung mencatat dan langsung menuju ke alamat itu. Aku penasaran, buat apa Riki melakukan hal itu jika ia adalah orang yang berpunya. Aku langsung meluncur menuju alamat di database tadi.

      Komplek rumah orang berpunya. Itulah kesanku ketika aku memasuki komplek ini. Aku berhenti disebuah rumah, rumah yang cukup besar, bertingkat dan terawat dengan rapi. Aku turun dari mobil dan memencet bel. Seorang wanita seumuranku keluar dari pintu. Ia menatapku dengan bingung, mendapati orang asing berada di depan rumahnya.

      “Cari siapa ya ?”

      “Saya mencari Bu Rina.”

      “Oh ibu Rina sudah pindah semenjak 2 bulan lalu.”

      “Pindah ? Pindah kemana ya bu ?”

      “Sebentar ya, saya cari dulu sebentar.”

      Aku menunggu diluar. Panas. Matahari nampaknay sedang tidak ingin melihatku teduh. 5 menit aku menunggu. Bagaimana Riki tadi ya, di udara sepanas ini ia harus mengangkat barang berat. Ibu-ibu tadi keluar rumah dan menyerahkan secarik kertas kepadaku.

      “Ini alamat barunya. Saya sempat mengirimkan beberapa surat ke alamat ini.”

      Aku mengambil secarik kertas itu. Aku tahu daerah ini, dareha yang cukup padat penduduk. Bukan daerah yang mewah atau bonafit. Apa sih yang terjadi ? Apakah kedua orang tua Riki bangkrut ? Daripada berasumsi lebih baik aku langsung menuju ke alamat rumah itu.

      Aku turun dari mobil saat aku harus berjalan menelusiri gang-gang kecil yang tidak bisa dilalui mobil lagi. Masa sih Riki tinggal disini sekarang ? In lingkungan yang cukup kampung menurutku. Aku langsung berjalan menelusuri gang-gang kecil untuk menemukan alamat yang tadi diberikan.

      Aku sampai disebuah rumah. Rumah yang sangat kecil, berada di antara rumah-rumah keci lainnya. Jalan bertanah tanpa aspal membuat sepatuku sedikit kotor. Aku langsung mengetuk pintu rumah. Aku menunggu sejenak. Seorang ibu keluar dari pintu. Itu ibu Riki, aku masih ingat ketika semester kemarin ia mengambil rapot untuk Riki.

      “Selamat siang. Ibu Rina bukan ?”

      “Iya. Anda gurunya Riki ?”

      “Iya.”

      “Oh masuk-masuk bu.”

      Ibu Rina membukakan pintu untukku. Penampilan ibu Rina jauh berbeda dengan terakhir kali aku bertemu. Ia sudah tak dandan seperti dulu, jauh lebih kucel dari kebanyakan ibu-ibu. Melihat kondisi rumahnya sekarang, makin memperkuat asumsiku.

      “Ada apa ya Bu ?” kata Bu Rina sambil berjalan menuju pintu depan.

      “Ada yang ingin saya bicarakan mengenai Riki.”

      “Mari masuk bu, maaf rumahnya kecil.”

      Aku masuk ke rumah itu. Sungguh rumah yang sederhana. Aku duduk di ruang tamu rumah itu. Ibu Rina pergi sejenak untuk membuatkan minum. Aku menilik ke sekeliling, tak ada perabot mewah atau semacamnya. Aku makin yakin dengan pendapatku. Aku jadi tidak enak dengan Riki. Ibu Rina datang membawa secangkir teh dan menyajikannya untukku.

      “Ada apa ya Bu ?” kata Bu Rina duduk di depanku.

      “Ini mengenai Riki. Belakangan ini ia mengapa jarang sekali mengerjakan tugas yang saya berikan ya ?”

      “Tugas ? Tugas apa ya? Saya tidak mengerti.”

      “Tugas sekolah.”

      “Riki kan sudah tidak bersekolah lagi.”

      Aku bingung sendiri jadinya. Kalau Riki tidak sekolah terus yang dari kemarin datang siapa ? Hantu ? Tidak mungkin.

      “Riki masih datang ke sekolah. Kenapa Anda berkata seperti itu ?”

      Ibu Rina juga menatapku dengan bingung.

      “Loh saya pikir kedatangan ibu kesini untuk menanyakan mengapa Riki sudah tidak datang ke sekolah lagi. Saya memang menyuruh Riki tak perlu bilang apa-apa kesekolah. Oh ya ngomog-ngomong ibu tahu alamat ini darimana ?”

      “Jadi begini. Riki masih bersekolah sampai sekarang hanya saja saya bingung mengapa ia sekarang sering sekali tidak mengerjakan PR. Olehkarena itu saya ingin datang ke rumah Riki untuk membicarakan ini dengan Anda. Ketika saya datangi rumah Anda, ternyata Anda sudah pindah kesini. Memangnya setiap pagi ibu tidak tahu kalau Riki masih sekolah ?”

      “Tidak. Ia memang selalu pergi pagi-pagi sekali. Namun ia bilang itu untuk bekerja membantu ekonomi keluarga.”

      “Maaf , sebenarnya ini bu agak pribadi namun…,”

      “Saya mengerti,” kata Bu Rina.

      Aku diam, mendengarkan Bu Rina yang memandang kosong ke arah lantai. Matanya mulai berkaca-kaca.

      “Sebenarnya saya yang menyuruh ia untuk berhenti sekolah. Kami sudah tidak sanggup lagi membayar uang sekolah. Suami saya bangkrut dan sekarang ia terkena struk. Semua harta benda sudah kami jual yang tersisa hanya sedikit dan hanya mampu membeli rumah ini. Saya harap ibu mengerti jika untuk kedepannya Riki tidak datang ke sekolah lagi. Riki adalah anak laki-laki satu-satunya, ia mempunyai kewajiban lebih untuk dua orang adiknya.”

      Oh jadi ini alasan perubahan Riki selama bulan terakhir. Aku jadi merasa sangat bersalah kepada Riki yang tadi telah memarahinya. Aku tak mau Riki putus sekolah. Riki adalah anak yang berbakat, aku tak akan membiarkan anak pintar seperti dia kehilangan harapan.

      “Tapi  kalau boleh saya bicara. Anda tidak khawatir dengan masa depan Riki ? Jaman sekarang, kalau tidak sekolah mau jadi apa ? Apakah ibu tidak ingin Riki sukses nanti di masa depan ?”

      “Habis mau bagaimana lagi. Keluarga kami sudah tidak bisa bertahan lagi kalau harus mengeluarkan biaya sekolah untuk Riki. Jangankan untuk sekolah untuk makan saja sekarang susah. Keluarga kami sudah bangkrut. Saya mohon ibu bisa mengerti.”

      “Baiklah, namun saya mohon kepada ibu agar mengizinkan Riki besok kesekolah untuk terakhir kalinya. Tolong jangan beritahu kalau saya datang hari ini anggap saja saya tidak pernah datang hari ini. Setelah itu terserah Anda.”

      Bu Rina mengangguk. Aku keluar dari rumah itu. Diperjalanan aku menangis. Seorang anak berbakat harus meninggalkan harapannya. Riki, maafkan ibu tadi memarahimu. Ia memang anak rajin, membantu ekonomi keluarga sekarang, berpanans-panas untuk sepeser uang. Sungguh pekerjaan yang mulia, bahkan lebih mulia dari pekerjaanku.

*

      “Selamat pagi anak-anak.”

      “Pagi bu.”

      “Sebelum kita memasuki jam pelajaran. Ibu mau kalian mengeluarkan secarik kertas.”

      Terlihat anak-anak langsung mengeluarkan kertas. Aku memastikan semua anak-anak siap, termasuk Riki. Aku akan lakukan sesuatu untuk membantu Riki. Itulah tugas seorang guru sebenarnya.

      “Sekarang kalian buat di kertas kalian. Apa cita-cita yang ingin kalian capai jika sudah besar nanti. Kalau bisa kalian berikan gambar atau apa selain tulisan. Gunakan kreatifitas kalian. Kalian boleh menggunakan bahasa yang santai dan tidak terlalu formal namun tetap sopan. Ibu beri waktu satu jam dari sekarang.”

      Terlihat anak-anak bingung. Jelas ini jam matematika, namun kenapa jadi berlajar filosofi begini. Ah biar, ini untuk Riki. Terlihat anak-anak bingung dengan cita-cita mereka. Aku melihat ke arah Riki, ia sudah mulai menulis. Sudah satu jam, aku mengumpulkan tulisan anak-anak kemudian aku lanjutkan dengan pelajaran matematika sampai jam 9.

      Jam 9 adalah pelajaran olahraga. Aku keluar kelas menuju ke ruang guru. Pelajaran olahraga bukan aku yang mengajar. Aku langsung mencari kertas yang tadi ditulis Riki dan membacanya.

Cita-citaku

 

      Kalau disuruh menulis mengenai cita-cita, saya sudah mempunyai satu tujuan yang pasti. DOKTER. Kehidupan selama dua bilan ini telah membuat sadar kalau manusia yang berguna adalah manusia yang bisa berbuat untuk orang lain. Rasanya enak jika saya bisa berguna untuk orang lain.

      Dokter, profesi yang sangat mulia, membatu orang sembuh lelaui tangan saya. Saya baru menentukan pilihan hidup ini sebulan lalu. Motivasi saya sangat kuat. Saya yakin saya bisa menjadi seorang dokter yang akanmenyembuhkan banyak orang. Oleh karena itu saya akan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa meraih cita-cita ini.

      Memangnya kamu mau ngobatin siapa ? kalau ditanya soal itu aku juga sudah mempunyai satu jawaban. Mungkin inilah motivasti terbesar saya untuk menjadi seorang dokter. Orang pertama yang ingin saya obati adalah ayah saya. Sudah dua bulan ini ayah saya terkena suatu penyakit. Saya ingin sekali menjadi dokter yang bisa mengobati penyakit ayah. Ayah adalah orang yang sangat menyayangi saya, akan sangat mulia bagi saya jika saya bisa mengobati ayah saya. Tentunya biaya pengobatan untuk ayah akan aku gratiskan, tidak seperti sekarang yang mahal.

      Semoga saya bisa mewujudkan cita-cita ini. Saya berharap bisa menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan negara, dan tentunya saya juga ingin menjadi orang yang berbakti pada keluarga saya yang selalu menjaga saya. Aku cinta keluargaku.

 

*

 

      “Riki mana orang tua kamu ?” aku menanyakan pada Riki ketika bel pulang berbunyi.

      “Orang tua saya tidak bisa datang bu. Mereka sedang diluar kota.”

      “Kamu berbohong ?”

      “Tidak bu saya berkata dengan sungguh-sungguh.”

      “Ibu tidak percaya. Ibu akan antar kamu pulang ke rumahku sekarang.”

      “Tapi bu…,”

      “Kamu tidak boleh membantah. Jika kamu jujur kenapa kamu musti takut.”

      “Baiklah,” kata Riki dengan takut.

      Aku langsung mengantar Riki pulang ke rumahnya. Riki kaget saat aku sudah hafal dengan jalan menuju rumahnya.

      “Bu rumah saya belok sana.”

      “Kamu jangan bohong Riki. Ibu sama sekali tidak pernah mengajari kamu untuk berbohong.”

     Akhirnya kami sampai di gang rumah Riki. Riki berjalan dibelakangku. Ia terlihat sangat takut. Tubuhnya sedikit gemetar membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Aku mengetuk pintu depan rumah Riki. Ibu Riki membukakan pintu.

      “Ibu datang lagi.”

      Ibu Rina menyuruhku masuk. Riki terlihat bingung karena aku sudah mengetahuo rumah ini.  Raut wajahnya berubah, penuh tanda tanya. Aku memasuki rumah Riki. Ibu Rina memperlsilakanku duduk.

      “Ada apa ya ?”

      “Silakan baca ini.”

      Aku menyodorkan esai yang tadi dibuat oleh Riki kepada Bu Rina. Riki hanya bisa terdiam duduk saat semua kebohongan yang ia buat ternyata telah terbongkar. Aku melihat tangannya sedikir gemetar. Ibu Rina selesai membaca.

      “Riki, apa maksud kamu selama ini masih saja bersekolah ?” tanya Bu Rina.

      “Tunggu dulu,” aku menyelak perkataan Ibu Rina, tidak membiarkan Riki berbicara terlebih dahulu.

      “Tidakkah Anda mengerti. Semua kebohongan yang Riki buat hanya untuk membantu keluarga Anda. Anda tega membuat cita-cita anak ibu sendiri pupus ? Ibu macam apa anda ini.”

      “Saya mengerti. Saya jelas mengerti melalui tulisan Riki ini.”

      “Lalu mengapa Anda tetap membiarkan Riki putus sekolah. Ia mempunyai niat yang mulia pada suami anda dan pada lingkungan.”

      “Anda tidak mengerti.”

      “Saya mengerti.”

      “Mama, Bu Guru,” Riki angkat bicara.

      “Sebelumnya Riki minta maaf kepada mama. Riki sudah membohongi mama. Selama sebulan ini Riki tetap sekolah. Riki tidak mengikuti apa yang mama katakan. Maafkan Riki. Riki ingin ma menjadi seorang dokter dan bisa mengobati ayah. Pengobatan di Indonesia sudah terlalu mahal, Riki ingin menjadi seorang dokter yang bertangan dingin, dokter yang tidak memikirkan biaya untuk perutnya sendiri. Jujur Riki ingin sekali menjadi seorang yang berguna untuk orang lain. Namun jika mama memang tidak mengizinkan, Riki akan berhenti sekolah ma. Tagihan biaya SPP sebentar lagi akan datang. Darimana Riki bisa memenuhi biaya sebegitu banyak ? Jika dulu ketika kita masih punya banyak uang, mungkin uang segitu bukanlah masalah. Namun sekarang kita sudah seperti ini. Riki mengerti ma atas keinginan mama untuk membantu perekonomian keluarga.”

      “Riki, kamu tidak perlu berhenti sekolah,” aku berkata.

      “Tapi bu, uang sekolah terlalu mahal. Mungkin memang lebih baik Riki bekerja untuk makan Riki dan kedua adik Riki yang masih kecil,” kata Riki.

      “Ibu sudah bicara ke dewan sekolah tadi. Kamu akan diberikan beasiswa di SD dan SMP kita. Kamu tak perlu khawatir masalah uang selama itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah belajar sungguh-sungguh. Ketika kamu lulus SMP, kamu harus bisa mencari beasiswa lain lagi. Kamu tidak boleh menyerah Riki. Jika kamu gagal mendapat beasiswa kamu boleh datang ke ibu, ibu akan bantu semampu ibu. Ibu juga akan bantu biaya untuk pengobatan ayah kamu. Ibu hanya tak ingin kamu melepas cita-cita mulia kamu. Kamu anak yang pintar dan berbakat, ibu tak mau kamu menjadi orang tak berpendidikan. Namun semua itu tetap tergantung oleh Anda.”

      Aku menatap Ibu Rina. Aku memang merencanakan semua ini, namun tetap saja semua butuh persetujuan orang tua Riki. Ibu Rina terdiam sejenak, berpikir akan sebuah pilihan. Aku memandang Ibu Rina dengan penuh pengharapan. Ibu Rina angkat bicara.

      “Yang  saya inginkan hanyalah melihat keluarga ini bahagia seperti dulu. Saya tidak peduli dengan harta. Walaupun saya sekarang sudah miskin, bagi saya, saya adalah orang kaya jika saya dikelilingi oleh keluarga yang bahagia. Dan kekayaan itu tidak akan bisa tercapai jika salah satu anggota keluarga ada yang tidak bahagia. Mimpi yang kamu punya adalah harta yang tidak ternilai Riki. Mama mengizinkanmu untuk sekolah. Mohon kamu belajar yang sungguh-sungguh agar kamu bisa menjadi dokter. Mama ingin kamu bisa berguna untuk orang lain. Bagi mama tidak ada yang bisa membahagiakan mama selain kebahagiaan anak-anak mama. Kejarlah mimpimu Riki, mama tidak akan mengikatmu.”

      Aku menarik nafas lega saat ibu Rina mengatakan hal yang ingin aku dengar. Akhirnya aku melakukan sesuatu yang tidak ada dikurikulum, menjadi seorang guru yang sebenarnya yang mengayomi muridnya, mengerti permasalahan muridnya. Aku tak peduli jika aku harus menguras gajiku untuk membantu Riki asalkan aku tak mau melihat muridku pergi melepas cita-citanya karena aku adalah seorang guru.

Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Orang tua kedua yang mengajariku banyak hal. Ketika aku sudah sukses nanti, engkaulah salah satu orang yang berada dibalik kesuksesanku. Terima kasih atas segala ilmu yang engkau ajarkan padaku.

Advertisements

One comment on “Guru dan Murid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s