Lima Lembar Sepuluh Ribu (PART I)

by widikrisna

Melihat dompet dan hanya tersisa lima lembar sepuluh ribu dan uang di atm sudah sangat menipis, langsung mendapat isnpirasi untuk menulis sebuah cerpen. Maaf kalau cerpennya aneh, buatnya ngebut soalnya, dikejar deadline tugas.

“Ibu, tolong titip Annisa sama Hafidz dulu ya. Maaf bu, kondisi saya sekarang tidak memungkinkan merawat Annisa dan Hafidz dengan layak. Bukan maksud saya untuk melempar tanggung jawab,namun saya sangat sayang dengan Annisa dan Hafidz, jadi menurut saya inilah jalan terbaik untuk mereka. Saya akan segera menjemput mereka. Doakan saya saja bu.”

      Aku berkata pada mertuaku. Aku memandang Annisa dan Hafis, mereka balas memandangku. Annisa dan Hafidz, isteri dan anakku, mereka adalah semangat dalam hidupku. Tak ada yang lebih kusayangi selain mereka berdua. Annisa, isteri yang selalu mendampingiku, menemaniku dalam keadaan susah dan senang. Hafidz, anak laki-lakiku yang masih berusia 12 tahun, ia anak yang pintar dan berbakat. Sekarang aku harus meninggalkan mereka berdua dirumah orang tua Annisa.

      Aku telah bangkrut. Semua harta bendaku sudah lenyap ditelan kegagalanku. Aku kembali menilik masa lalu seblan lalu. Saat itu keadaanku sangat makmur. Rumah besar, dua buah mobil, harta yang melimpah. Semua tak pernah absen dalam kehidupanku. Keseharianku bisa dikatakan hidup dalam berkecukupan. Aku tak pernah berpikir sulit jika ingin belanja ini itu. Namun sekarang aku telah bangkrut.

      Penipu itu berhasil mengambil semua uangku. Aku mempertaruhkan semua harta bendaku di proyek yang menjanjikan ini. Namun rekanku menipuku, membuatku harus membayar hutang yang melenyapkan semua harta benda yang selama ini aku kumpulkan. Aku marah, geram, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

      Aku hidup susah sekarang. Hari ini rumahku sudah disita oleh bank, mobilku sudah dijual dan harta bendaku sudah digadaikan. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. Aku tak mau anak isteriku hidup melarat seperti sekarang. Aku tak tega orang yang aku sayangi merasakan susah karena kegagalanku.

      “Saya mengerti keadaan kamu sekarang. Saya malah senang Annisa dan Hafidz tinggal disini dulu,” kata bapak mertuaku.

      Aku bersyukur. Setidaknya hidup Annisa dan Hafidz terjamin untuk sementara aku membangun kembali diriku. Annisa terlihat sedih karena harus berpisah denganku. Annisa selalu berada di sampingku selama ini. Aku ingat dulu ketika aku mengalami masalah dalam bisnisku, ia menemaniku begadang untuk menemukan solusi dari permasalahanku.

      “Mas juga akan tinggal disini kan ?” tanya Annisa padaku.

      “Aku akan kembali ke Jakarta Sa.”

      “Memangnya mas mau tinggal dimana ?”

      “Tenanglah Annisa. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengontrak rumah dulu. Aku masih punya persediaan uang yang cukup untuk mengontrak rumah kecil selama beberapa bulan.”

      Akhirnya dengan berat hati Annisa mengizinkanku. Aku hendak beranjak pulang ke Jakarta. Perjalanan Semarang Jakarta butuh waktu 10 jam lebih dengan menggunakan bus. Didepan pintu rumah Aku berbicara dengan Annisa.

      “Mas, mas mau ngontrak dimana ? Kalau aku mau menjenguk mas aku harus kemana ? Mas udah nggak punya HP lagi, bagaimana aku bisa mengontak mas,” kata Annisa kahwatir.

      “Aku akan telepon kesini nanti setelah aku membeli HP di Jakarta. Kamu disini saja, tak perlu menengokku atau menyusulku ke Jakarta. Aku yang nanti akan menjemputmu pulang ke Jakarta.”

      “Mas memang mau melakukan apa setelah pulang nanti ?”

      “Aku masih mempunyai dua tangan dan dua kaki, masih banyak hal yang bisa aku lakukan. Aku berjanji, aku yang akan menjemputmu dan Hafidz. Kamu hanya perlu menunggu disini.”

      “Kita ini suami isteri mas. Aku rela bersusah-susah sama kamu. Aku menikahi mas bukan karena harta. Aku menikahi mas memang karena aku mencintai mas. Kita sudah berikrar untuk selalu bersama dalam suka dan duka.”

      “Terima kasih Annisa. Kali ini izinkan aku melanggar ikrar itu. Aku akan menjemputmu segera. Tugasmu, tolong jaga Hafidz. Ini ada sekedar uang untukmu.”

      Aku menyodorkan amplop putih itu pada Annisa. Ini adalah uang terakhir yang aku punya. Aku tak ingin terlalu membebani mertuaku.

      “Aku tak mau mengambilnya. Sudah cukup mas meninggalkan Annisa. Annisa mau mas menyimpan uang ini,” kata Annisa sambil mengelakkan tanganku. Akhirnya aku simpan kembali uang itu dalam tasku.

      “Aku pergi dulu Annisa.”

      “Pa, Hafidz mau mengantar papa sampai gang,” kata Hafidz.

      Aku mengangguk. Aku berjalan keluar, berpamitan dengan mertua dan Annisa. Hafidz berjalan di sampingku. Sedih rasanya harus berpisah dengan Hafidz. Namun perpisahan ini tidak akan lama.

      “Pa, kenapa kita berpisah sih ?” tanya Hafidz.

      “Kata siapa kita berpisah. Kita tetap bersama hanya tidak saling beredekatan. Oya Hafidz, papa lupa. Tolong kamu berikan amplop ini pada mamamu ya,” aku menyerahkan amplop uang yang tadi ingin aku berikan pada Annisa ke Hafidz.

      Hafidz menerima uang itu. Setidaknya aku ingin menjadi suami yang sedikit menunjukkan tanggung jawabnya. Aku sudah sampai di ujung gang. Saatnya aku naik kendaraan umum dan berpisah dengan Hafidz.

      “Hafdz, jaga mamamu ya. Kamu jangan nakal disini. Sekolah yang bener. Kamu akan ketemu teman-teman baru disini, yang akrab sama teman-teman baru kamu.”

      Hafidz mencium tanganku dan akupun naik angkot dan pergi meninggalkan keluargaku. Terminal cukup ramai, aku mengeluarkan dompertku dan membayar uang untuk tiket. Aku berjanji pada diriku sendiri akan kembali ke kota ini dengan sebuah kemenangan. Aku berjanji akan kembali ke kota ini, menjemput Annisa dan Hafidz dengan senyum keberhasilanku.

      Disepanjang perjalanan menuju Jakarta aku berpikir akan langkah yang akan aku lakukan. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Uang didompetku hanya tersisa 5 lembar sepuluhribu dan beberapa recehan. Hanya itu yang tersisa plus baju-baju yang berada di tasku sekarang. Tak ada lagi uang di ATM ataupun di bank. Harta yang aku punya benar-benar tinggal yang aku bawa dalam perjalananku.

      Aku berpikir sejenak. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Aku bertanya pada langit malam yang memandangiku melalui jendela. Bus Smarang Jakarta ini melaju kencang, membelah gelap malam jalan pantura. Bulan bersembunyi dibalik awan gelap yang menyaru dengan gelapnya angkasa.

      Aku berpikir keras malam ini, namun aku selalu mencapai jalan buntu. Aku memulai kembali bertanya pada diriku sendiri. Setelah ini aku akan tinggal dimana ? Apakah ada kos-kosan yang menerima pengangguran sepertiku dan yang terpenting apakah ada yang mau kos-kosan yang mau dibayar di akhir ? Jika dapat apa yang akan aku lakukan untuk menyambung hidupku ?

      Ah bingung, bahkan aku bingung kemana harus meletakkan mukaku sekarang. Apakah aku pulang ke rumah orang tuaku saja ? Bagaimana bisa, kedua orang tuaku tinggal di Aceh, aku tak punya uang untuk pulang. Tunggu, pengecut sekali sih aku, aku memang gagal, namun aku tak mau pulang ke rumah orang tua dan mengakui kekalahanku. Aku teringat akan Annisa dan Hafidz, aku sudah berjanji pada mereka akan membawa mereka pulang kembali ke Jakarta, aku tidak boleh menyerah. Aku yakin Allah tidak akan memberikan cobaan lebih berat dari kemampuan umatnya. Aku akan temukan jalannya, aku yakin itu. Aku memang gagal, namun aku akan bangkit lagi setelah ini dengan kesuksesan baru yang akan segera aku dapatkan.

*

      Aku turun dari bus. Aku sudah sampai di Jakarta. Aku sekarang sendiri di kota yang keras ini. Tunggu, ragaku memang sendiri namun Annisa dan Hafidz selalu ada dalam hatiku. Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 9 pagi. Hawa panas sudah mulai menyengat, menggantikan embun dingin yang mencoba menembus pori-pori kulit. Aku melihat ke sekeliling, tak tahu kemana kaki ini harus melangkah.

      Aku akan mulai mencari kerja besok. Aku adalah sarjana, tak sulit seharusnya bagiku untuk mencari kerja. Sebelum itu aku harus mencari tempat tinggal. Aku harus mencari tempat tinggal yang bisa aku bayar setelah aku bekerja. Tak mungkin aku tidur dijalanan terus. Namun dimana ? Pasti ada. Aku naik ke bis dan memulai petualanganku mencari tempat tinggal.

*

      Sudah hampir sore, namun aku belum menemukan tempat tinggal yang bisa aku tempati. Semua meminta pembayaran dimuka, padahal aku sudah mencari di tempat yang dulu aku bilang kumuh. Sudah 5 tempat aku datangi, namun semua tak berhasil. Perutku sudah lapar, meronta minta diisi. Namun aku harus menghemat uang untuk kugunakan nanti Uang recehku sudah habis untuk ongkos yang tersisa hanya limalembar sepuluh ribu.

      Di pinggir jalan aku melihat seorang pengemis yang sedang meminta uang. Apa aku menjadi pengemis saja ? Tidak, aku masih punya harga diri. Aku tidak mau menjual harga diriku untuk menjadi seorang pengemis. Aku adalah orang terpelajar, aku bisa mendapatkan uang tanpa harus berbuat seperti itu.

      Sebuah intuisi masuk ke hatiku. Mungkin semua kegagalan ini adalah tamparan bagiku. Aku kembali bercermin ke masa lalu. Aku tak mungkin menyalahkan Allah atas semua takdir yang sekarang aku terima. Aku memang salah. Selama ini aku memang hidup dalam keadaan berkecukupan, namun aku tahu aku kurang bisa berbuat banyak pada orang lain. Untuk beramal pada seorang pengemispun aku jarang melakukan.

      Aku mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan selembar 10.000. Mungkin aku sudah gila, menyerahkan seperlima nyawaku, namun hati ini tergerak untuk melakukan ini. Aku ikhlaskan sepuluh ribu itu aku berikan pada pengemis tua renta itu. Sekarang aku hanya mempunyai 40.000 di dompetku.

      Aku berjalan di trotoar tanpa arah, namun hati ini sedikit plong saat aku beramal pada pengemis tadi. Ternyata berbuat hal sosial pada orang lain memang bisa membuatku lebih tenang, tak peduli kondisi hati sedang bingung. Aku naik ke sebuah bus, hanya insting yang membawa langkahku pergi. Aku duduk di sebuah kursi, memandang aktivitas sore yang bergulir disampingku.

      “Hei Aji, kamu lagi ngapain ?”

      Seseorang memanggilku daribelakang. Ternyata itu Ikhsan teman kuliahku dulu. Ia baru masuk dari pintu belakang kemudian duduk disampingku.

      “Gimana kabar lo Ji ?”

      “Baik San. Lo habis darimana ? Sekarang kerja dimana lo ?”

      “Gw habis dari terminal, nganter adik gw barusan. Gw sekarang jadi pegawai negeri. Mau kemana loe Ji ?”

      “Gw lagi nyari kos atau tempat kontrak yang murah. Lo tahu dimana ?”

      Ikhsan memandangku heran. Mungkin Aji yang ia tahu adalah Aji yang orang kaya. Tak heran ia melayangkan pandangan mengejek seperti itu.

      “Nggak usah banyak tanya deh San. Singkat kata gw bangkrut sekarang. Gw bukan lagi orang kayak yang lo kenal dulu. Tahu nggak dimana ?” aku sudah memutuskan urat maluku, berkata tanpa filter.

      “Santai Ji. Mau didaerah mana ?”

      “Hah beneran San. Dimana aja boleh. Asalkan bisa bayar bulan depan.”

      “Oke, gw anterin deh.”

      “Hah beneran. Lo nggak lagi bercanda kan ? Ada gitu yang mau dibayar bulan depan.”

      “Udah percaya sama gw aja.”

      Alhamdulillah. Aku bersyukur pada Allah. Ikhsan membawaku ke sebuah rumah kontrakkan kecil yang berada di daerah yang cukup padat penduduk. Aku memasuki kamar kecil, berukuran 4 kali 5 meter. Takapalah asalkan bisa untuk berteduh.

      “Induk semangnya mana San. Asalkan bisa bayar bulan depan aku ambil.”

      “Lo sedang melihat induk semangnya.”

      “Loh bukannya lo pegawai negeri ?”

      “Emangnya nggak boleh pegawai negeri bisnis kos-kosan.”

      “Hah oh ok ok.” Aku bersyukur karena aku mendapat tempat kos yang bisa kubayar nanti.

      “Ok, thanks banget nih. Aku tertolong banget.”

      “Oh ya ngomong-ngomong ceritanya gimana sampai lo bisa sampai kayak begini ?”

      Aku duduk di kasur kecil yang belum diberi seprai. Ikhsan duduk di sebelahku. Aku meregangkan badanku, melepas penat yang sudah menumpuk. Lelah rasanya hari ini, namun hati ini rasanya lebih lelah jika mengingat penyebab masalah ini.

      “Yah intinya gw ditipu san sama rekan kerja. Dia bawa lari uang perusahaan. Harta benda aku udah aku jual untuk menutupi utang perusahaan yang harusnya dibayar pakai uang yang udah dibawa lari.”

      “Oh itu beneran toh. Aku kira kamu lagi berantem sama isteri terus kamu minggat. Maaf kalau jadi menyinggung perasaan kamu.”

      “Santai aja San.”

      “Yaudah, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat dulu. Rumahku sekitar 500 meter dari sini. Kalau ada apa-apa telepon aja. Nomor Hpmu berapa ?”

      “Gwnggak punya HP San. Udah gw aku jual. Oh ya San, besok  gw mulai cari kerja. Gwboleh numpang nomor telepon lo sebagai nomor telepon gw ?”

      Ikhsan hanya mengangguk kecil, heran dengan kegagalanku. Ikhsan keluar dari kamar kecilku. Aku memandang kamar ini, sungguh berbeda dengan kamarku dulu. Dulu kamarku besar, mewah, dengan AC yang sejuk, TV yang jernih, kasur besar yang empuk. Sekarang ? Kamar kecil yang panas dan kasur seadanya. Bersyukur, selama ini aku jarang bersyukur dan selalu berpikir untuk memperkaya diri. Ini adalah tamparan yang harus aku terima.

*

      Matahari terbit di ufuk Timur, menghapus malam yang sunyi. Aku membuka mataku. Kepalaku pusing, mungkin karena semenjak kemarin aku belum makan. Aku melihat ke dompetku, hanya ada  empat lembar sepuluh ribu. Lebih baik aku makan siang-siang saja, satu kali sehari. Lapar ini akan aku tahan.

      Hari ini aku harus cari kerja. Aku adalah sarjana, aku punya ijazah yang membedakanku dengan orang-orang dilingkungan ini. Aku keluar kos dan memandang aktifitas pagi yang cerah. Anak-anak pergi berangkat ke sekolah, ibu-ibu membersihkan halaman, benar-benar suasana yang berbeda dengan kehidupanku dulu. Gang yang sempit dan becek ini ternyata menyimpan banyak aktivitas.

       Aku langsung siap-siap, mandi dan mengenakan kemejaku. Aku sudah bersiap untuk pergi mencari kerja. Tunggu, aku mau cari kerja dimana ? Aku butuh koran atau job list untuk memberiku gambaran tempat yang bisa aku minta pekerjaan. Aku berjalan kedepan gang, ke tempat penjaja koran. Aku mengambil dompet, membeli koran dengan satu lembar sepuluh ribuku.

      “Mas orang baru ya disini ?” kata penjual koran sambil menyerahkan uang kembalian sebesar tujuh ribu kepadaku.

      “Iya.”

      “Saya jarang lihat soalnya. Mas mau cari kerja nih ?”

      “Iya.”

      Aku langsung melihat lowongan kerja yang bisa aku lamar. Penjual koran itu masih tetap melihatku yang sibuk menerawang setiap baris di kolom lowongan kerja.

      “Mas pasti butuh kerja cepet kan soalnya harus bayar kos cepet-cepet ?” kata penjual koran itu.

      “Iya. Kira-kira dimana ya mas ?”

      “Kalau butuh kerja cepet mah jangan dikantoran dulu. Kayak gitu belum tentu dua bulan dapet. Mending mas cari kerja serabutan atau kerja kasar yang langsung dapet duit.”

      “Tapi saya sarjana. Masa saya kerja kayak gitu.”

      “Sarjana sekarang udah banyak mas.”

      Aku berjalan ke jalan besar. Aku sudah mempunyai bayangan harus mencari kerja kemana. Uangnku hanya tersisa 37 ribu rupiah. Aku menaiki sebuah bus dan memulai petualangan hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s