Lima Lembar Sepuluh Ribu (PART II)

by widirisna

Bingung endingnya mau kayak gimana, yasudah biarkan tangan menari sendiri aja diatas laptop. hehe. BTW sekarang uang didompet tinggal satu lembar lima puluh ribu, uang terakhir dan di ATM Sudah habis. Yasudah lah,  bodo amat

      Siang yang terik. Matahari sedang mengamuk, membuat keringat mengalir deras dari pelipisku. Aku berjalan di trotoar di samping jalan besar. Sudah banyak perusahaan yang aku ajukan. Namun benar kata penjual koran tadi, semua butuh waktu. Aku tak tahu apakah aku bisa dipanggil atau tidak. Aku hanya bisa menunggu sekarang, namun aku tak bisa hanya menunggu. Persediaan uangku sudah hampir habis.

      Aku memegang perutku, lapar setengah mati. Sudah saatnya aku mengisi perut. Akumencari warteg kecil yang menyajikan makanan murah. Aku memasuki sebuah warteg. Berbagai makanan di jajakan dibalik meja kaca. Semuanya nampak enak, ayam, ikan, rendang, aku tahan nafsu makanku. Aku harus menghemat uang.

      “Makan sini pak ?” kata penjual warteg.

      “Iya. Pake nasi tahu sama tempe goreng ya.”

      Penjual warteg itu mengambilkan sesuai pesananku. Sepiring nasi, satu buah tahu dan tempe goreng sudah siap aku makan. Aku kembali bercermin ke masa lalu. Biasanya aku makan makanan yang enak-enak, dan tak selalu aku habiskan. Aku terkadang juga suka mengeluh jika ada yang tak sempurna dengan makananku. Kalau sudah begini, aku memang harus bisa lebih menghargai rezeki yang diberikan Allah kepadaku.

      Aku menyantap makanan itu. Betapa enak dan lezat. Aku tak pernah menyangka tahu dan tempe goreng bisa negitu enak, mungkin karena aku lapar setengah mati, jadi apappun yang masuk ke perutku terasa lezat. Aku mengunyah dengan penuh perasaan, menikmati rezeki ini.

      Aku selesai makan, membalikkan sendok dan garpu yang aku gunakan. Saat itu kulihat seorang bapak-bapak masuk ke warteg kecil ini. Ia duduk di sebelahku. Bajunya lusuh, penampilannya tidak terawat. Ia membawa anak kecil, yang mungkin merupakan anaknya. Anaknya juga lusuh dan dekil. Mungkin mereka gelandang atau pengemis. Aku mendengarkan percakapan mereka.

      “Bapak, aku mau makan ayam,” kata anak kecil itu.

      “Jangan ayam, telur saja ya nak. Uang bapak tidak cukup.”

      “Tapi kan ini hari ulang tahun aku. Aku mau ayam.”

      “Bambang, kalau kamu nakal kita nggak jadi ni makannya.”

      Anak kecil itu hanya cemberut.

      “Mbak, nasi sama telur, sama sop ayam, dan tempe ya,” kata bapak sang anak.

      Hatiku tergerak melihat kejadian ini. Aku melihat dompetku. Tinggal tiga lembar sepuluh ribu dan satu lembar dua ribu rupiah dan satu lembar seribu rupiah. Aku sedikit menjauh dari bapak dan anak tadi.

      “Berapa mbak ?”

      “Tadi nasi tahu tempe, jadi tiga ribu.”

      “Sekalian sama makanan orang itu ya,” kataku menujunjuk dengan mataku.

      “Oh jadi delapan ribu rupiah,” kata penjual warteg.

      Aku menyerahkan uangku. Sekarang yang tersisa di dompetku hanya dua lembar sapuluh ribu dan satu lembar lima ribu. Mungkin aku sudah gila, menyerahkan kembali seperenam nyawaku pada orang lain. Aku tak peduli, sekarang yang aku lakukan hanya mengikuti hati kecilku berkata.

*

      Hari ini nihil. Aku memang sudah memasukkan Cvku ke beberapa perusahaan, namun semua butuh waktu. Mungkin bari tiga minggu sampai aku dipanggil, itupun kalau dipanggil. Aku mulai memikirkan pekerjaan lain yang bisa aku lakukan. Mungkin penjual koran kemarin benar, menjadi pekerja serabutan dan kasar untuk mendapat uang secara langsung. Mungkin aku bisa lakukan itu sembari menunggu panggilan.

      Aku mengambil dompetku, tinggal dua lembar sepuluh ribu dan satu lembar dua ribu. Makan ? Aku memang lapar sekali seharian keliling kota. Kalau aku makan malam, besok uangku bisa tidak cukup. Lebih baik aku tahan saja laparku. Biarlah aku pendam rasa lapar ini dalam tidurku. Ya Allah maafkan aku selama ini aku kurang bersyukur atas rezekimu.

      “Tok tok tok.”

      Aku bangun dari kasurku dan membukakan pintu. Seorang wanita muda sudah berdiri di depan pintu.

      “Selamat malam, maaf mengganggu. Ini ada nasi kuning. Hari ini ibu saya ulang tahun jadi kami membagi-bagikan makanan pada warga sekitar.”

      Aku melihat ke piring yang ditutup tisue. Piring itu menyebarkan aroma yang sangat mengggugah selera. Aku langsung mengambil piring itu dan berkata terima kasih pada wanita yang mengantarkan rezeki malam itu. Aku langsung bersyukur. Terima kasih ya Allah, engkau memberiku makan malam ini.

*

      Aku kembali memulai hari ini, kali ini dengan baju kaus, bukan kemeja rapi. Aku berjalan ke gang depan. Aku bertemu dengan penjual koran yang kemarin berbicara padaku.

      “Udah dapet kerjaan bos ?” tanya penjual itu.

      “Belum nih.”

      “Terus hari ini mau ngapain ?”

      “Wah saya juga bingung. Kira-kira kerja dimana ya yang bisa langsung hasilin duit. Saya lagi butuh cepet nih.”

      “Kan udah saya bilang begitu. Mending mas dateng aja ke orang ini diterminal. Mas kan masih belum tua, pasti tenaga mas bisa kepake.”

      Aku menerima sebuah kartu bertuliskan nama, alamat dan nomor HP. Nampaknya tak ada pilihan lain selain bekerja sebagai tukang atau sebagainya. Hidup adalah roda yang berputar, suatu saat aku akan berada diatas atau dibawah. Mungkin sekarang aku sedang berada di titik terbawah dalam kehidupanku. Apapun yang terjadi aku harus bisa bersyukur karena aku menyadari selama ini aku kurang bersyukur.

*

      Aku meneguk air putihku. Aku seorang kuli panggul mulai siang ini, sambil menunggu Ikhsan membawa kabar gembira untukku. Jikalau kabar gembira itu tidak datang, mungkin selamanya akan seperti ini. Ah apa yang aku pikirkan, aku tidak boleh pesimis. Aku harus optimis. Aku pasti bisa meraih kesuksesanku kembali.

      Siang yang terik. Kerja fisik seperti ini memuat perutku lapar. Uang yang tersisa di dompetku hanya tinggal duapuluh ribu rupiah. Aku menuju ke sebuah warteg bersama tukang lain yang baru saja aku kenal. Dibandingkan mereka, kerjaku tak ada apa-apanya. Aku memang tidak pernah kerja fisik seperti ini, jadi maklum saja aku yang paling loyo. Sepeti kemarin aku memesan nasi tahu dan tempe untuk menghemat.

      “Kok makan kau irit sekali ?”

      “Yah lagi seret uang nih.”

      Teman-teman yang baru aku kenal memang berasal dari status sosial yang rendah, dan aku sekarang bagian dari itu. Aku mulai harus menerima diriku yang sekarang bukanlah siapa-siapa. Aku mulai menyadari betapa beruntungnya diriku dulu. Andai waktu bisa kuputar kembali.

      Sore telah terbit, matahari mulai tenggelam dibalik garis horizon. Bulan mulai terlihat menggantikan sang raja siang. Aku menengok isi dompetku tinggal 15 ribu rupiah. Sepertinya aku harus mengucapkan selamat tinggal pada arlojiku. Sepertinya ini harus aku jual. Aku tak tahu laku berapa jam seperti ini, yang aku ingat dulu aku membeli jam ini seharga tigaratus ribu rupiah, seharusnya tidak berbeda jauh dari nominal itu.

      Terminal tempatku bekerja sekarang berdekatan dengan pasar. Dipasar itu ada toko jam yang menerima jual beli arloji. Aku berjalan menuju toko itu. Aku membersihkan segala debu dan pasir yang menempel di tubuhku untuk menyamarkan kalau aku adalah kuli di terminal.

      “Saya mau jual arloji ini mas.”

      Aku menyerahkan arloji itu pada penjual. Sang penjual menilik arloji itu, menyipitkan mata melihat detail dari jam tanganku. Tak lama kemudian ia mengajukan penawaran untukku.

      “Ini asli tidak pak ?”

      “Asli pak, saya beli ini tiga tahun lalu.”

      “Yah kalau saya lihat memang asli. seratusribu lah.”

      “Hah Cuma seratus ribu. Tambah lagi lah. Saya dulu beli ini tigaratus ribu.”

      Penawaran yang alot. Baru kali ini aku berjuang untuk memperebutkan uang walau hanya sepuluh ribu. Selama ini aku selalu masa bodoh dengan nominal uang karena dulu bagiku uang bisa aku kejar dengan mudah. Nampaknya aku mulai harus bisa menhargai uang dan rezeki karena semua itu hanyalah titipan dari-Nya. Akhirnya aku menjual arloji itu seharga seratuslimapuluh ribu.

      Aku beranjak pulang ke kosku. Aku berjalan menuju lampu merah, menunggu bis yang membawaku pulang. Aku melihat seorang anak jalanan yang sedang mengamen di lampu merah. Hanya berbekal kecrekan dan suara yang seadanya ia menentang dinginnya malam dengan baju yang lusuh itu. Aku ingat dulu ketika aku sedang berada di dalam mobil yang sejuk dan melihat pengamen jalanan yang berharap belas kasihanku. Aku jarang sekali beramal walau hanya seribu rupiah. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan anak jalanan itu.

      Lampu berubah kuning. Sebuah motor melaju kencang, lampu beum hijau saat motor itu berjalan melewati lampu merah. Anak jalanan itu hendak ke trotoar namun ia tak melihat motor itu melaju ke arahnya. Tabrakanpun terjadi. Anak jalanan itu terpental ke pinggir jalan. Aku yang berjarak sangat dekat dengan kecelakaan itu langsung berjalan menuju ke anak jalanan itu.

      Lampu hijau. Hanya beberapa orang yang peduli kalau ada kecelakaan yang terjadi. Pengendara motor yang menabrak langsung melaju kencang, seakan tak peduli kalau ia baru saja menabrak seorang anak kecil. Aku dan beberapa orang yang peduli, kebanyakan pengamen dan pedagang asongan, langsung menggendong anak kecil itu. Ia pingsan, pelipisnya berdarah.

      Beberapa pedagang berusaha mengejar pelaku, namun sia-sia. Tanpa pikir panjang aku langsung memberhentikan taksi. Lagi-lagi aku hanya tergerak oleh hati kecilku. Kalau mau aku bisa saja meninggalkan masalah ini. Melanjutkan kehidupanku yang sedang sekarat juga. Namun entah mengapa aku tergerak untuk menolong.

      “Ke puskesmas terdekat pak.”

      Taksi itu melaju kencang. Aku sendiri dalam taksi ini. Supir taksi itu terlihat khawatir melihatku membawa anak kecil yang terluka. Darah terus mengucur dari pelipis anak itu. Deg-degan, anak laki-laki ini mengingatkanku pada Hafis ketika kecil dulu. Hafis, Annisa aku kangen pada kalian.

      “Bisa lebih cepat lagi pak,” aku meminta pada supir taksi.

      Kami sampai di puskesmas. Untunglah supir taksi itu membebaskanku dari biaya argo. Ia mengerti situasi yang terjadi. Anak kecil itu langsung mendapat pertolongan medik. Untunglah ia tak apa-apa hanya kepalanya saja yang terbentur trotoar jalan, tidak sampai gegar otak. Aku menuju meja administrasi. Aku melihat tagihan biaya yang harus dibayar. Semua seratus enam puluh ribu.

      “Mbak dia ini korban tabrak lari. Apa nggak bisa digratiskan saja ?”

      “Wah nggak bisa pak. Andai anak itu punya kartu miskin, mungkin bisa, namun anak itu pasti tidak punya.”

      Aku mengambil dompetku. Hanya ada tiga lembar lima puluh ribu, hasil menjual arloji, dua lembar sepuluh ribu dan satu lembar lima ribu. Uang hasil kerja kuliku baru akan dibayar akhir minggu. Aku menarik nafas, mengikhlaskan uang hasil penjualan arlojiku untuk anak jalanan itu. Kapan lagi aku bisa menolong orang yang benar-benar sedang membutuhkan.

*

      Aku memandang langit-langit kamar dengan perut lapar. Uang di dompetku hanya tersisa sepuluh ribu rupiah. Uang baru akan datang seminggu lagi. Bagaimana aku bisa bertahan selama seminggu ini. Aku melihat ke lemari, mungkin aku punya beberapa stel pakaian yang bisa aku jual untuk menyambung hidupku. Namun bajuku tinggal sedikit, beberapa juga sudah aku jual untuk biaya Annisa dan Hafis ke Semarang. Aku menarik nafas dan tertidur dalam kebingungan dan kelaparan.

      Pagi terbit. Aku bersiap-siap untuk kerja kembali di terminal. Perutku lapar setengah mati. Kepalaku pusing, butuh karbohidrat untuk dibakar dalam tubuh. Aku sampai di ujung gang, bertemu kembali dengan penjual koran.

      “Bagaimana pak, udah dapet kerjaan ?”

      “Udah, makasih ya atas pertolongannya.”

      “Kok bapak pucet begitu mukanya ? Makan dulu lah pak, kan mau kerja fisik.”

      “Aku tak punya uang nih.”

      “Nih.”

      Penjual koran itu menyodorkan sepotong roti padaku. Jadi aku pengemis sekarang ? Tak punya uang lalu menerima pemberian orang lain karena dia kasihan padaku.

      “Sudah terima saja. Anggap sesaji perkenalan.”

      Aku mengambil roti itu dan langsung memakannya. Betapa nikmat, walau hanya sepotong roti. Tetap saja aku masih lapar, namun yasudahlah. Diperjalanan aku berpikir. Uang terakhir ini akan aku gunakan untuk apa ya ? Apakah untuk makan siang hari ini ? Ataukah ada kejadian lain yang menggerakkan hatiku.untuk menggunakan uang ini untuk orang lain ? Ah masa bodoh deh.

      Hari ini hari Jumat. Sebagai muslim aku mempunyai kewajiban solat Jumat. Setelah setengah hari kerja sambil menahan lapar, aku memasuki halaman masjid. Aku mengambil wudhu dan masuk ke masjid.

       Aku berpikir sejenak. Uang sepuluh ribu ini aku pakai untuk apa ya ? Apakah untuk makan saja ? Namun untuk makan apa ? Nasi pakai tempe tahu seharga empat ribu, sisa enam ribu. Dua ribu untuk ongkos jadi tersisa dua ribu. Lalu besok bagaimana ? Kalau makannya besok saja bagaimana ? Apa aku kuat ya ?

      Aku melihat kedepan, khatib sudah mulai ceramah. Apa yang aku pikirkan ? Selama ini ketika aku sedang solat aku sering tidak konsen karena hal-hal duniawi seperti rapat, pekerjaan dan seminar, kenapa sekarang aku juga demikian. Maafkan aku ya Allah. Aku ingin kali ini aku benar-benar bebas dari hal duniawi.

      Aku melihat kotak amal yang dioper kearahku. Tanpa pikir panjang aku memasukkan sepuluh ribu itu ke dalam kotak itu. Aku tak peduli jika setelah ini aku akan mati kelaparan, yang penting aku bisa berkonsentrasi penuh pada pertemuanku dengan-Nya. Lega, aku benar-benar terlepas dari hal duniawi.

      Sore sudah tiba. Aku pulang dengan meminjam uang pada temanku. Perutku sudah sangat lapar sekali. Di dompetku sudah tidak ada uang sama sekali. Namun lega rasanya, aku jadi tidak bingung harus belanja apa, toh aku tak punya uang untuk aku belanjakan. Aku sampai di kosan dan berbaring di kasur.

      Tubuhku pegal dan sakit karena bekerja fisik, perutku lapar. Aku berdoa pada Allah malam ini agar memberiku jalan besok. Annisa, Hafis, mereka semua masih ada. Aku sudah berjanji kepada mereka akan kembali dan menjemput mereka. Aku akan pegang terus janji itu. Aku tidak akan menyerah pada nasibku. Lebih baik sekarang aku tidur untuk mendapat tenaga besok.

      Pagi menyambutku. Matahari mengintip dari jendela kamarku. Aku membuka mataku, memastikan aku masih hidup, tidak mati kelaparan. Tubuhku sangat lemas. Aku tak kuat lagi harus bekerja fisik jika tak makan pagi ini. Aku pakasa diriku untuk bangun. Kepalaku sempoyongan. Ah aku ini laki-laki kenapa lemah sekali.

      Aku mandi dan bersiap-siap. Aku membuka lemari pakaian, mencari baju yang hendak aku pakai. Aku mengambil satu stel jas kantorku. Cukup bagus. Sepertinya baju ini bisa aku jual untuk mendapatkan uang. Aku merogoh ke saku jas itu dan menemukan sebuah amplop. Amplop apa ini ? Aku mulai bertanya dalam hati. Aku buka amplop itu. Secarik kertas berada di tanganku.

      “Mas saya tahu bagaimanapun caranya mas akan memberikan uang terakhir mas untuk saya dan Hafidz. Saya tidak tahu nominal yang akan mas beri ke saya nanti di rumah Ibu, semoga nominal ini sama dengan yang mas berikan kepada saya nanti. Saya sayang mas. Annisa.”

      Ada lima lembar liampuluh ribu di amplop itu. Tanganku sedikit gemetar. Annisa pasti merencanakan ini sebelum kami semua pergi ke rumah mertua kala itu. Ia yang membereskan baju-bajuku. Sepertinya ia sudah bisa mengira aku akan menberikan semua uangku padanya untuk keperluan dia dan Hafidz. Annisa, terima kasih ya Allah engkau memebriku jodoh wanita seperti Annisa. Tunggu, aku tidak akan lupa untuk bersedekah atas uang ini. Insyaallah akan dengan sedekah akan membawa berkah yang lebih untukku.

*

      Sudah satu bulan semenjak aku kehidupanku berubah 180 derajat. Aku mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan minggu lalu. Aku sudah melakukan psikotest dan tes lisan. Aku bersyukur aku bisa diterima bekerja disitu, meninggalkan pekerjaan fisik yang selama satu bulan ini aku geluti.

      Aku bangun di pagi hari dengan sebuah semangat baru. Hari ini aku memulai pekerjaan baru dikantor yang baru. Aku bersyukur karena selama satu bulan ini Allah selalu memberiku jalan atas segala kesulitan yang aku hadapi. Kuncinya hanya satu, berbuatlah pada orang lain maka kebaikan yang berkali lipat akan datang. Namun aku selalu ikhlas, tak mengharapkan imbalan untuk setiap amal yang aku lakukan.

      Setiap pagi aku selalu beramal pada pengemis yang mangkal di ujung komplek kosan. Aku juga selalu memberikan uangku pada pengamen yang mengais uang di bus. Aku juga selalu beramar ketika solat dimasjid. Pelajaran hidup yang aku dapat selalu menggerakan hatiku untuk berbuat pada orang lain walaupun itu hanya perbuatan kecil.

      Dan mulai hari ini, hari yang baru ini, aku akan berusaha keras. Semua aku lakukan demi Annisa dan Hafis. Aku akan segera menjemput mereka setelah aku bisa pindah dari kos-kosan ini. Aku yakin mereka masih menungguku di Semarang sekarang.

*

      Sudah enam bulan aku bekerja di perusahaan itu. Aku masih ngekos di tempat yang sama. Tabunganku masih jauh dari cukup untuk membeli sebuah rumah. Aku bersiap untuk pergi ke kantor. Rutinitas sudah stabil. Bangun pagi, pulang sore, tidur, semua teratur. Aku keluar kamar kosku dan menatap matahari yang tersenyum ke arahku.

      Annisa dan Hafis, aku selalu memikirkan mereka. Mereka adalah semangat dalam setiap langkahku. Setiap malam aku berdoa untuk keselamatan mereka. Aku berjanji pada mereka akan menjemput suatu saat nanti. Aku yakin saat tersebut akan tiba. Walaupun aku kangen, aku harus bersabar. Yang aku lakukan hanya untuk membuat mereka hidup layak.

      Aku berjalan ke ujung gang. Penjual koran yang sudah menjadi teman akrabku melambaikan tangannya padaku. Ia terkadang memberiku koran gratis untuk aku baca di bus.

      “Ada yang nyariin nih bos,” kata penjual koran itu.

      “Siapa ?”

      “Tuh lagi di tukang bubur di depan.”

      Aku menuju ke tukang bubur yang berjarak lima meter dari tukang koran. Siapa yang mencariku ? Aku melihat dari kejauhan, sosok yang tak asing bagiku. Sosok itu melihatku dan langsung berlari ke arahku. Ia memelukku dengan erat.

      “Annisa kenapa kamu kesini ? Mana Hafis ?”

      “Hafis masih di Semarang. Aku khawatir sama mas. Mas tidak memberi kabar sama sekali pada Annisa. Annisa susul saja mas ke sini.”

      “Kamu tahu darimana mas ada disini ?”

      “Annisa nekat datang ke Jakarta tanpa mengabari mas. Di terminal Annisa bertemu penjual koran itu dan bertanya apakah ia mengenal orang di foto ini,” Annisa menunjukkan fotoku kemudia melanjutkan ucapannya.

      “Annisa tak menyangka. Orang pertama yang Annisa tanya langsung tahu dimana mas berada. Kenapa mas menghilang tanpa kabar ? Sekarang mas bekerja dimana ? Annisa khawatir.

      “Mas belum sukses, jadi mas belum mau menampakan batang hidung mas ke kamu. Mas malu sama kamu dan Hafidz. Namun sekarang mas sudah mulai bangkit. Mas mohon kamu bersabar Annisa.”

      “Apa gunanya Annisa sebagai isteri jika tidak bisa mendampingi suami yang sedang berjuang. Annisa mau bersama mas. Annisa tak peduli jika harus bersusah-susah bersama. Annisa juga akan berusaha membantu mas.”

      “Tidak perlu Annisa. Kamu menunggu saja di Semarang.”

      “Bagi Annisa mas adalah orang yang sukses. Apapun kondisi mas, mas adalah orang yang sukses. Kesuksesan tidak dilihat dari harta mas, namun dari niat tulus dan tanggung jawab. Mas sudah sukses dalam kedua hal itu. Niat dan tanggung jawab mas sudah membuat mas bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Bagi Annisa mas sudah sukses. Tak perlu rumah besar ataupun mobil mewah baru bisa dikatakan sukses. Jika ingin membangun semua dari nol, kita bangun bersama sebagai suami isteri. ”

      “Tapi…,”

      Annisa tersenyum padaku. Senyum manis yang bisa meneduhkan hatiku. Aku menarik nafas, tersenyum kepadanya.

      “Baiklah Annisa. Ini kunci kos mas. Tanyakan pada penjual koran itu mana kos-kosan mas. Mas berangkat kerja dulu.”

      Annisa mencium tanganku. Kondisi yang sama seperti dulu. Namun kali ini dengan kondisi yang berbeda. Annisa ia memang mencintaiku apa adanya, tak peduli aku miskin atau kaya, tak peduli aku tampan atau jelek. Terima kasih ya Allah, akan kujaga amanah yang kau berikan padaku

      Semenjak saat itu aku dan Annisa tinggal bersama, membangun semua dari nol kembali. Annisa membantuku bekerja. Ia menjadi seorang tukang jahit di komplek kosku. Penghasilannya memang tidak seberapa, namun cukup membantu ekonomi kami. Hafidz tetap bersekolah di Semarang. Aku ingin menunggu dia sampai lulus SMP dulu baru membawanya tinggal bersamaku lagi. Sementara itu aku dan Annisa akn terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

      Aku tak pernah lupa satu minggu dimana kehidupanku berada di roda yang paling bawah. Disaat aku tak punya apa-apa untuk aku makan. Disaat perutku lapar karena tak punya uang untuk aku belanjakan. Jika mengingat masa itu lagi, aku semakin menghargai segala nikmat yang Allah berikan kepadaku. Jika disuruh menyebutkan nikmat yang Allah berikan kepadaku, mungkin sampai tua aku tidak akan selesai.

      Harta hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Jika Allah mengambil titipan itu, hanya butuh satu hari agak semua hartamu lenyap. Berbuatlah untuk orang lain maka hartamu akan lebih bermakda dan bernilai. Tak perlu menjadi orang kaya untuk bisa beramal kepada orang lain. Tak perlu uang banyak untuk bisa berbuat banyak pada orang lain. Yang diperlukan hanyalah niat tulus untuk membantu tanpa pamrih. Disaat engkau ikhlas memberi apa yang kamu punya, saat itulah pertolongan akan datang padamu disaat engkau membutuhkan. Semua ini hanyalah permainan neraca keseimbangan yang dimainkan oleh-Nya.

 *

Finish

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s