Daughter

by widikrisna

inspirasi bisa datang darimana saja termasuk sinetron yang full MSG

Palu diketuk. Suara gema dari kayu yang bersentuhan menggema diseluruh penjuru ruang sidang. Gema suara itu merambat masuk ke telingaku, mengoyak hatiku dengan frekuensinya. Aku menatap ke sebelah kiri. Pria itu sekarang hanyalah mantan suamiku. Kami saling melepas pandang. Segala memori selama dua setengah tahun aku menikah dengannya terbayang melalui sorot mata itu.

Jujur dari lubuk hati yang terdalam aku masih mencintainya. Ia adalah suami terbaik untukku. Ia tampan, tanggung jawab, baik hati, perhatian, sama sekali tak ada cacat bagiku. Namun tadir mengatakan kami harus berpisah walaupun berat, namun aku harus menerima takdir ini.

Satu hal lagi yang membuat dadaku sesak adalah aku harus berpisah dengan buah hatiku. Ia masih berusia satu tahun. Ia bayi yang cantik dan mungil. Pipinya sangat tembem dan merah. Ia sedang lucu-lucunya. Sepertinya aku akan sangat merindukan tangisannya ketika malam. Aku akan rindu untuk menggantikan popoknya, memandikannya, memberinya ASI.

Aku tersenyum dalam hati. Sudahlah. Makin diingat malah makin sakit. Lebih baik aku menatap kedepan karena aku masih punya tanggung jawab yang terbentang jauh. Masih banyak cita-cita yang belum aku wujudkan. Biarlah ini menjadi masa lalu pahit yang akan selalu kukenang.

*

20 tahun kemudian

*

“Yak kumpulkan kertas kalian. Kuis sudah selesai.”

Aku melihat arloji yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Terlihat para mahasiswa langsung buru-buru menulis apa yang bisa membuat nilai mereka tambah baik. Beberapa mahasiswa dengan PD langsung maju dan menyerahkan kertas jawaban mereka. Aku menunggu sampai beberapa menit sampai semua mengumpulkan.

Aku adalah seorang dosen di salah satu universitas di kota Medan. Sudah menjadi panggilan hati bagiku untuk menjadi seorang dosen. Setelah perceraianku, aku langsung hijrah ke kota medan, meninggalkan gemerlapnya kota Jakarta untuk meraih mimpiku. Aku buka lembaran baruku disini.

Medan, kota pelarianku dari kenangan buruk 20 tahun lalu. Dan sekarang ketika aku melihat wajah mahasiswi itu, seakan membuka kenanganku dulu. Kenapa ya Tuhan ? Kenapa Engkau harus membuatku kembali membuka lembaran lamaku yang sudah aku tutup ?

Semua mahasiswa telah pergi dari ruang kelas. Aku menilik satu persatu kertas jawaban. Ini dia. Kertas bertuliskan nama Rina Maharani Alfian. Ini nama yang persis dengan nama buah hatiku bersama mantan suamiku. Rina adalah singakatan namaku dengan nama suamiku, Rizal dan Dina. Maharani adalah nama belakangku sedangkan Alfian adalah nama belakang mantan suamiku.

Aku pejamkan mataku. Kuingat kembali sorot mata dan wajah mahassiswi itu. Aku ingat  wajah buat hatiku dulu. Matanya sangat mirip, mewarisi mata mantan suamiku. Tak salah lagi, ia memang anakku. Setelah 20 tahun berpisah, akhirnya aku bertemu lagi dengannya. Kenapa Tuhan ? Dari berbagai kota dan universitas, kenapa ia kuliah disini ? Apakah ini takdir lagi ? Aku bingung, entah harus senang atau sedih.

*

Minggu awal kuliah yang mengejutkan bagiku. Aku tak bisa konsentrasi jika aku mengajarnya dikelas. Ingin aku katakan padanya kalau aku adalah ibu kandungnya. Aku penasaran, aku juga ingin bertanya kepadanya. Dimana mantan suamiku sekarang ? Ia kerja apa sekarang ? Bagaimana dengan kehidupan rumah tangganya sekarang ? Aku sama sekali loss contact semenjak perceraian.

Orang-orang sering bertanya kepadaku. Mengapa kamu tidak menikah Din ? Aku selalu bilang aku tidak percaya pernikahan. Itu hanyalah kebohonganku semata. Alasan sebenarnya aku tidak menikah karena aku masih mencintai mantan suamiku. Aku tak mau menduakan cintaku padanya. Dua tahun bersamanya adalah bukti kalau cinta bukanlah hal yang mudah.

Aku memandang Rina dari meja dosenku. Naluriku sebagai seorang ibu ingin sekali memeluknya dengan penuh kehangatan. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika ia masih balita. Sekarang ia telah tumbuh menjadi anak gadis yang cantik.

“Oh ya anak-anak.”

Aku memeceah keheningan saat anak-anak sedang mencatat pelajaran yang aku berikan.

“Ibu mau kalian kumpulkan biodata yang ibu minta sekarang.”

Aku ingin mendapat informasi sebanyak-banyaknya tentang Rina. Jadi aku suruh semua mahasiswaku mengumpulkan biodata yang sebenarnya aku hanya ingin mendapat biodata Rina.

Kelas bubar, aku langsung menuju ruanganku. Aku melihat biodata Rina, mengabaikan segala tugas yang belum aku periksa. Sudah pasti, nama suaminya pun sama. Aku melihat nama ibu yang ia tuliskan. Ini nama wanita yang dinikahi Rizal sekarang dan ini bukan namaku. Betapa sedih jika melihat anakmu sendiri tak mengenali siapa orang tuanya.

Aku bingung. Sekarang aku punya data tentang Rina, alamat, nomor telepon, email, foto. Apa lebih baik aku beberkan saja semuanya ke dia ? Ah terlalu bodoh jika aku melakukan itu. Ia sama sekali tidak akan percaya denganku. Apa yang aku pikirkan ? Apa aku mau membuka kembali lembaran lama yang sudah aku tutup ? Mungkin ini hanyalah angin masa lalu yang secara tidak sengaja berhembus ke masa kini. Pasti angin ini akan berlalu dan tidak akan selamanya berhembus kearahku. Apa lebih baik aku hiraukan saja ? Ya Tuhan beri aku petunjuk.

Hari demi hari berlalu. Aku masih mengunci mulutku dari fakta yang sebenarnya kepada Rina. Hubunganku dengannya tak lebih dari seorang dosen dan mahasiswa. Hanya semester ini aku mengajarnya. Jadi kesempatanku jika memang ingin membuka tabir ini hanya semester ini. Namun aku masih bungkam. Jauh dilubuk hatiku, aku ingin Rina tahu siapa ibu kandungnya.

Sampai akhirnya ia lulus matakuliahku, aku masih terdiam. Yasudah aku ikhlaskan saja Rina bahagia dengan keluarga barunya. Selama ini jika aku perhatikan Rina juga sudah bahagia dengan, selalu tertawa bersama teman-temannya. Biarlah aku menyembunyikan fakta yang sebenarnya.

*

Sudah tiga tahun Rina kuliah disini. Sudah memasuki tahun terakhir. Aku masih sering memperhatikan Rina di kampus. Walaupun aku hanya dua kali menjadi dosennya, aku tetap puas bisa melihat senyumnya setiap hari. Yang bisa aku berikan hanyalah doa sebagai seorang ibu untuk kebahagiaannya.

*

Aku melihat deretan tabel di komputerku. Rina menjadi mahasiswa yang harus aku bimbing dalam tugas skripsi. Entah harus senang entah harus sedih. Aku memang bisa bertemu sering dengan Rina, namun aku juga sedih karena pertemuanku adalah pertemuan antara dosen dengan mahsiswa bukan antara ibu dan anak.

Aku menunggu satu minggu, dua minggu, kenapa Rina tidak menghubungiku untuk konsultasi skripsinya. Jurusan mengharuskan mahasiswa untuk berkonsultasi pada minggu pertama setelah pembagian dosen pembimbing skripsi. Dua mahasiswa lain yang jadi mahasiswa pembimbingku sudah bertemu denganku. Apa sesuatu terjadi pada Rina ? Ataukah ia sudah tahu dan gugup untuk bertemu denganku ? Ah, bodoh jika Rizal sampai memberitahu. Toh Rizal juga tidak tahu kalau aku menjadi dosen Rina.

Ok. Aku SMS saja Rina. Tak masalah jika dosen yang lebih inisiatif untuk mencari mahasiswanya.

“Rina, ini Bu Dina. Kapan kamu mau bertemu saya untuk konsultasi skripsi ?”

Tak lama kemudian SMSku dibalas.

“Maaf bu, minggu kemarin saya baru kena musibah. Ibu bisanya hari apa. Saya akan luangkan waktu untuk bertemu dengan ibu.”

*

Senin pagi yang mendung. Rina duduk didepanku. Tanganku sedikit gemetar. Ingin aku muntahkan fakta kepadanya. Ingin aku memeluknya dan mengatakan kalau aku ini ibunya. Aku harus profesional. Aku hanyalah dosen baginya.

“Jadi lebih baik mulai dengan tinjauan pustaka dulu ya bu ?” tanya Rina

“Iya. Yang penting kamu sudah mengerti tujuan skripsi kamu.”

“Oh, iya bu. Oya maaf ya bu. Kemarin jadi ibu yang inisiatif terlebih dahulu untuk meng-SMS saya.”

“Oh tidak apa-apa. Memang kamu kena musibah apa kalau ibu boleh tahu ?”

“Bapak saya sakit keras bu.”

Rizal sakit keras. Aku bertanya dalam hati sakit apa, namun aku tidak mau mencampuri urusan Rina lebih jauh lagi. Aku ini hanya dosen baginya.

*

“Bagaimana keadaan bapak kamu ? Sudah sehat ?”

Sudah dua minggu semenjak pertemuan terakhir empat mata dengan Rina. Hari ini Rina konsultasi skripsinya denganku. Aku jadi punya kesempatan untuk mengetahui keadaan Rizal. Ia memang mantan suamiku, namun aku masih mencintainya.

“Masih sakit bu. Bapak saya kena serangan jantung.”

“Oh ibu turun sedih mendengar. Sekarang dirawat dimana ?

“Di RS Jantung Medan bu. Sudah 3 minggu dirawat.”

“Ibu doakan semoga cepat sembuh. Kalau ada yang bisa ibu bantu kamu bilang saja.”

“Terima kasih bu.”

Rina keluar dari ruanganku. Rizal kena serangan jantung ? Oya Orangtua Rizal memang pernah kena juga. Rizal memang ada bakat keturunan penyakit jantung. Apa lebih baik aku menampakkan diri ke Rizal ? Apakah ia masih mencintaiku seperti aku masih mencintainya ? Apakah cintanya sudah luntur termakan cinta yang baru itu ?

*

Aku berjalan menuju lobi rumah sakit itu. Mungkin kedatanganku bisa membawa angin segar untuk Rizal. Aku akan bilang kalau aku temannya pada isteri Rizal walau aku yakin Rizal belum pernah menceritakan tentangku pada siapapun.

“Suster kamar Rizal Alfian dimana ?”

“Oh pak Rizal sudah dirawat inap di rumah.”

“Oh berarti dia sudah sehat ?”

“Kalau boleh tahu ibu siapanya ya ?”

“Saya saudara jauhnya.”

“Beliau belum sehat bu. Sepertinya ada kesulitan dana sehingga dia di rawat inap di rumah.”

Aku khawatir. Rizal, apakah separah itu penyakitmu ? Aku ingin bertemu dengamu. Bukan kesalahanmu atas perceraian kita dulu. Keadaanlah yang memaksa kita berpisah. Aku tahu engkau masih mencintaiku ketika dulu kita bercerai.

*

“Bu, tolong jujur pada Rina. Siapa ibu sebenarnya ?”

Apa-apaan ini. Apakah ini mimpi atau kenyataan. Apakah aku tidak salah dengan Rina mengatakan ini. Perkataan yang bagaikan petir yang membuka kesempatanku untuk mengakui kenyataannya. Aku kira ia bertemu denganku untuk menanyakan skripsi.

“Maksud kamu apa Rina ?”

“Bapak sedang kritis sekarang. Bapak menyuruh saya untuk mencari sebuah nama. Rina pikir akan sangat sulit mencari sebuah nama di negara berpenduduk 200 juta ini. Namun nama itu adalah nama ibu. Sebenarnya apa maksudnya bu ?”

“Bolehkah ibu menjenguk bapakmu ?”

“Baiklah. Sekarang kita berangkat.”

Jantungku berdebar. Apakah hari ini semua fakta akan kubongkar didepan anakku. Fakta terbesar mengenai dirinya, hubunganku dengan bapaknya, semua kenyataan yang aku sembunyikan dari Rina. Kami berdua berangkat menuju  rumah Rina.

“Bu, apa maksud bapak memanggil ibu ? Tolong bu. Setelah kepergian ibu saya, saya tidak mau kehilangan bapak ?”

“Ibu kamu sudah meninggal ?”

“Iya. Ibu saya meninggal ketika saya beranjak kuliah karena kecelakaan. Oleh karena itu saya pindah ke kota ini.”

Aku sampai didepan rumah Rina. Diperjalanan Rina tak henti-hentinya bertanya apa maksudnya. Namun aku tetap mengunci mulutku. Aku harus bertemu dengan Rizal terlebih dahulu. Aku masuk ke dalam rumah, menuju ke sebuah kamar.

Rizal sedang tertidur di kasur. Fisiknya jauh lebih kurus dari dulu terakhir aku bertemu dengannya. Ia sudah sangat mengenaskan. Ia menengok kearahku. Air matanya mengalir ke pipinya. Aku tak peduli dengan fisiknya, aku masih mencintainya apapun kondisinya.

“Dina, itu kamu ?”

“Iya mas ini aku.” Rina berdiri di sebelahku.

“Kalian saling mengenal ?” tanya Rina.

“Ceritakan semuanya Dina. Rina berhak tahu tentang siapa dirinya. Sebelum aku pergi aku ingin Rina tahu semuanya.”

“Bapak bicara apa sih. Bapak akan sehat setelah ini. Bapak tidak akan pergi,” Rina meyakinkan Rizal.

“Ceritakan Dina. Saya sudah tidak kuat untuk bercerita.”

“Baiklah saya akan ceritakan semua. Rina ibu mohon kamu bersiap.”

Aku duduk di pinggir kasur Rizal. Aku memegang tangan Rizal. Begitu dingin. Seperti nyawa sudah menghilang dari tangannya.

“Rina. Ibu dan bapakmu adalah mantan suami isteri. Kamu adalah anak ibu Rina.”

“Bohong,” kata Rina refleks.

“Dulu ibu dan bapakmu adalah sepasang kekasih. Kami saling mencintai. Namun hubungan ibu dengan bapakmu ditentang oleh orang tua bapakmu. Bapakmu sudah dijodohkan semenjak lama oleh wanita yang kamu sebut ibu. Aku tak mau berpisah dengan Rizal. Akhirnya aku melakukan hubungan terlarang dengan Rizal sampai aku hamil. Aku pikir bayi ini bisa mengikat hubunganku dengan Rizal. Namun aku disuruh menggugurkan kandungan ini oleh orang tua Rizal. Aku tak mau, lebih baik aku mati saja daripada harus menggugurkan kandungan ini. Akhirnya untuk menutup malu aku dan Rizal menikah. Aku kira hubunganku dengan Rizal sudah aman, kami sudah menikah, mengikat hubungan dengan ikrar sehidup semati. Namun semua tak semulus yang aku kira. Satu tahun setelah kamu lahir, Orang tua Rizal memaksaku untuk bercerai dengan Rizal. Aku perjuangan mati-matian pernikahanku dengan Rizal. Namun apalah dayaku. Akhirnya aku dengan Rizal bercerai. Rizal meminta kamu untuk ia asuh. Walau orang tua Rizal tak menginginkan kamu diasuh Rizal, bagi Rizal kamu adalah segalanya. Kamu adalah harta yang paling berharga, harta yang mengingatkan masa lalu manis yang pernah kami alami.”

“Apa sebenarnya alasan nenek menjodohkan bapak ?” tanya Rina dengan air mata yang membendung.

“Ibu hanyalah anak orang miskin yang tidak jelas asal usulnya. Hanya perbedaan status sosial yang menyebabkan hal itu.”

“Bukan Dina,” Rizal berkata.

“Aku akan beritahu kamu alasan sebenarnya mereka menjodohkanku. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Aku mempunyai tanggung jawab besar pada keluargaku. Perjodohanku bukanlah berbicara tentang menyatukan dua keluarga, namun juga menyatukan dua perusahaan besar antara mertua dengan bapakku. Keluargaku menjual masa depanku untuk bisnis yang lebih baik. Maafkan aku Dina, kamu yang menjadi korbannya. Walaupun begitu, aku masih mencintaimu.”

Hening. Semua terhenyak dengan fakta yang terkuak. Rizal kembali melanjutkan kata-katanya.

“Rina, tugas bapak sudah selesai. Setelah ini tinggalahdengan Ibu kandungmu. Hanya dia yang bisa merawatmu sebaik bapak merawatmu. Hanya Dina yang bisa mencintaimu seperti bapak mencintaimu. Dina setelah ini saya titip Rina kepadamu. Sekarang giliranmu untuk merawat Rina. Aku mencintaimu Dina.”

*

Ia telah pergi. Rizal telah istirahat dan tidak akan pernah terbangun kembali. Mulai hari ini Rina tinggal bersamaku. Aku tak pernah menyangka aku akan membuka lembaran baru bersama anakku. Selama ini aku sudah menutup lembaran lama itu. Cinta memang kuat, selama kamu percaya dengan cinta itu, takdir akan selalu menuntunmu untuk kembali merasakan cinta yang itu. Hidup adalah algoritma yang panjang, tak akan ada yang tahu apa misteri yang berada di balik pilihan yang kau ambil. Suatu hal yang pasti adalah yakinlah dengan pilihanmu, maka apapun pilihannya, kamu pasti akan merasakan kebahagiaan.

Advertisements

4 comments on “Daughter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s