Blinddate (PART I)

by widikrisna

 

Aku menunggu sambil mengetuk jari tanganku ke atas meja. Aku melirik ke semua arah mencari orang yang aku tunggu semenjak setengah jam lalu. Muka orang yang aku tunggu seperti apa saja aku tak tahu. Kok bisa begitu ? Ya iyalah aku sedang blind date dengan seorang pria yang didapat dari internet. Kami tidak saling kenal satu sama lain, kami tidak mengenal nama masing-masing, tidak tahu nomor telepon, tidak tahu foto.Semua disembunyikan untuk membuat kejutan ketika pertemuan pertama.

Aku melirik arloji, sudah 15 menit semenjak jam pertemuan lewat. Kemana ya pemilik akun bernama “Cuteguys12” ? Aku kembali membayangkan seperti apa fisik pemilik nama akun itu ? Semoga ia tampan, aku sudah sengaja dandan cantik agar ia tertarik denganku pada pandangan pertama. Kalau ciri fisik aku sudah tahu. Ia bilang ciri fisiknya tinggi, putih, badan ideal. Aku mulai membayangkan rupa pria sempurna di benakku. Apakah mirip Mike Lewis, atau Christian Sugiyono ataukah mirip Dion Wiyoko ? Aku sudah tidak sabar. Kalau ia tampan, apa bisa ia menjadi pacarku ? Aku sudah hampir satu tahun menjomblo. Sudah kangen nih untuk kangen-kangenan.

Aku mulai melirik lagi kesekeliling mencari pria sempurna yang mengenakan jaket biru tua. Cuteguys12 bilang ia akan menggunakan jaket hitam. Mataku tertuju pada seorang pria yang nampaknya juga sedang mencari seseorang. Ia mengenakan jaket biru tua dan ciri fisiknya sudah seperti yang aku duga.

Aku mencari kesekeliling restoran ini. Aku tak tahu wajah wanita yang aku cari seperti apa, jangankan wajah, nama, nomor telepon dan segala tetek bengeknya aku juga tidak tahu. Namanya juga blinddate, jadi wajar aku tak tahu. Yang aku tahu hanya nickname dan sedikit ciri fisiknya. Girlycurly, nama aku yang cukup unik, ia bilang ciri fisiknya putih, ramping, berambut panjang dan mengenakan baju berwarna merah muda.

Aku mulai membayangkan rianti cartwright atau marshanda atau asmirandah yang akan aku temui beberapa saat lagi. Restoran ini cukup mewah, sebagai laki-laki nampaknya aku harus merogoh kocek dalam-dalam hari ini. Tak ada aku sudah hampir setengah tahun menjomblo, kangen juga rasanya ketika menraktir pujaan hati. Kalau misalnya yang aku temui lebih cantik dari artis-artis tadi apa ia bisa jatuh hati padaku ya ? Aku sudah sengaja dandan habis-habisan untuk hari ini.

Aku mencari didepan restoran. Seorang wanita yang mirip dengan ciri fisik yang aku duga sudah menunggu di sebuah meja. Ia mengenakan baju berwana merah muda. Aku berjalan pelan ke arah wanita itu. Ia sepertinya mengerti aku jalan kearahnya. Kalau begitu ini benar Curlygirl dong. Wah lumayan juga, walau tidak sampai secantik artis yang aku bayang-bayangkan. Aku sudah sampai didepan wanita itu duduk.

“Selamat siang.”

”Iya. Eee,” aku agak bingung bagaimana harus memastikannya.

“Kamu Curlygirl ya ?”

“Iya. Kamu Cuteguys12 ?”

Pria itu mengangguk. Sempurna. Itulah kesan pertamaku pada pria ini. Memang tak sesuai ekspektasiku yang mengharapkan artis yang aku bayangkan datang, namun untuk ukuran pria, ia diatas rata-rata. Pria itu duduk di depanku, menilik setiap inci tubuhku, membuat penilaian pertamanya padaku.

Cantik, putih dan feminim. Ini tipeku banget. Senyumnya sangat menggodaku, membuatku ingin mencubit pipinya yang chubby. Tak salah aku memilih blinddate dengan akun Curlygirl. Ia juga sepertinya suka dengan penampilanku. Sekarang aku harus bisa tahu kepribadiannya bagaimana.

“Udah lama nunggunya ?”

“Lumayan udah setengah jam.”

“Maaf ya, tadi macet banget di daerah Sudirman.”

“Ah nggak apa-apa.”

“Belum makan kan ? Pesen yuk, sebagai permintaan maaf aku yang traktir makan siangnya.”

“Makasih banyak ya. Kamu baik banget, padahal baru pertama ketemu.”

Wah baik sekali pria ini. Belum apa-apa sudah mentraktir. Padahal aku tidak keberatan bayar sendiri-sendiri. Aku dan pria itu menilik buku menu dan memesan kepelayan.

“Kamu cerita dong tentang diri kamu ?”

“Aku kuliah di Universitas Singapore. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Rumahku di daerah Kemang. Kalau kata orang-orang aku itu orangnya ngegemesin, lucu, cantik, dan pengertian. Kalau nama, tetep aja panggil Curlygirl. Sekarang giliran kamu.”

Aku melipat tanganku di meja.

“Aku kuliah di Universitas Mulia. Aku anak tunggal. Rumahku di daerah Pondok Indah, nggak terlallu jauh dari PIM. Aku orangnya baik, supel, setia, humoris dan ganteng. Nama sama panggil aja Cuteguys12.”

Siang itu aku habiskan dua jam bersama dengan Curlygirl. Ia gadis yang cantik dalam dan luarnya, sangat tipeku. Aku banyak mengenal tentang kehidupan dan kepribadiannya. Ia enak diajak bicara, pendengar sejati, dan yang terpenting senyumnya sungguh menggemaskan. Namun sayang….,

Cuteguys12, namanya memang cocok untuk wajahnya yang cute. Dibalik itu ia juga humoris, bisa membuatku tertawa. Ia juga loyal. Siang ini saja setelah makan direstoran aku ditraktir makan eskrim dan membeli kue. Ia sepertinya juga keturunan anak orang kaya, rumahnya saja di pondok indah. Semua begitu sempurna, namun sayang….,

      Namun sayang aku hanyalah orang suruhan

*

      “Bohong tuh nggak baik Jo.”

      “Habis gw nggak frustasi. Selama ini gw nggak pernah dapet pacar gara-gara fisik gw yang nggak sesempurna lo. Giman ceritain dong tentang curlygirl.”

      Aku sedang berada di rumah Ujdo, sahabat karibku. Cuteguys12 sebenarnya adalah Ujdo temanku. Memang kalau dilihat secara fisik, aku dengannya bagaikan air dan api. Aku adalah pria yang tampan, tinggi, putih dan atletis, sedangkan Udjo hitam, pendek dan agak gendut. Namun bagaimanapun ia adalah sahabatku.

      Aku kasihan dengan perjalanan cinta Udjo. Sudah berkali-kali ia ditolak wanita dengan alasan bermacam-macam padahal alasan sebenarnya karena fisiknya yang tidak menarik. Oleh karena itu aku mau membantunya berbohong kali ini.

      “Terus-terus ceritain dong tadi ngapain aja.”

      Aku menceritakan pada Ujdo siang yang aku alami dengan Curlygirl. Betapa senang siang yang aku alami bersama dia. Sepertinya Udjo iri akan momen yang baru aku lewatkan bersama teman yang ia kenal dari internet itu.

      “Wah enak dong tadi,” kata Udjo sambil memukulku dengan gulingnya.

      “Emang lo sebenernya suka nggak sih sama cewek ini dari pembicaraan lo di Chatting ?” tanyaku.

      “Gw suka. Kalau dari kepribadian dia tipe gw.”

      “Terus kelanjutannya begimana nih ? Nggak mungkin kan gw terus yang ketemu sama dia ?”

      “Nah itu gw juga masih mikirin. Tapi lo  nggak ngasih nama asli gw, nomor telepon, dan lain-lain kan ?”

      “Nggak tenang aja Djo.”

      ”Kapan lo mau bohong terus Ta ?” aku menyindir Tita yang sedang berbaring tengkurap dikasur.

      Tita adalah sahabatku. Dia adalah Curlygirl yang sebenarnya, aku hanyalah orang suruhannya yang disuruh menemui Cuteguys12 hari ini. Tita, aku dengannya memang bagaikan langit dan bumi. Aku cantik, ramping, putih sedangkan Tita hitam, gemuk dan keriting.

      Terkadang aku menangis melihat kisah cinta Tita yang tragis. Tak ada pria yang oke yang mendekatinya karena fisiknya. Padahal dia memiliki inner beauty, tetap saja outer beautynya masih terlalu bersinar dibandingkan inner beautynya.

      “Ntar dulu ah. Jadi tadi lo ditraktir sama dia ?”

      “Iya. Dia baik banget loh Ta. Sesuai dengan apa yang lo bilang.”

      “Makanya dai chattingnya aja gw suka sama dia. Apalagi habis tahu fisik dia oke, gw makin tambah suka nih.”

      “Terus plan lo setelah ini bagaimana ? Gw nggak mungkin terus jadi lo ketika bertemu dia kan ? Cepat atau lambat lo juga pasti harus mengakui kalau curlygirl itu lo dan bukan gw. Nah gimana tuh Ta ?”

      “Ntar dulu ah. Lo masih mau bantuin gw kan ?”

      “Tentu aja Ta. Gw ini sahabat lo. Gw bantuin lah.”

      “Thanks, lo emang sahabat yang paling oke.”

*

Curlygirl : Hei Guteguys12

Cuteguys12 : Hei, pakabar lagi ngapain nih malem-malem masih OL ?

Curlygirl : Lagi nungguin kamu OL

Cuteguys12 : Lagi sibuk ngapain ? Kuliah kamu gimana ?

Curlygirl : Ya begitulah, sedang menyusun skripsi nih.

Cuteguys12 : Eh jalan yuk.

Curlygirl : Eh kalau kita jalan nanti ada yang marah nggak ?

Cuteguys12 : Siapa yang marah ? Yang ada siapa yang cemburu karena bisa jalan sama cewek oke kayak kamu

Curlygirl : Ah bisa aja ngegombalnya. Yuk jalan. Jumat malem gimana ? Kita nonton bareng di GI.

Cuteguys12 : Ok deal. Aku tunggu di food courtnya jam setengah tujuh ya.

Curlygirl : Sip, salam cupcup

Cuteguys12 : Salam cupcup juga.

*

      “Hah Sabtu ini lo mau nonton sama dia ?” aku kaget.

      Aku dan Udjo pergi ke kampus yang sama.

      “Iya lo nggak ada acarakan, gantiin gw lagi dong.”

      Aku melihat ke sekeliling kampus. Suasana jam makan siang yang sangat ramai. Kantin kampus terasa sangat sesak walaupun banyak kursi yang tersedia. Aku dan Udjo kuliah di kampus yang sama.

      “Ok, gw bantuin deh.”

      Aku memandang Udjo, antara kasihan dengan bingung. Bagaimana menyelesaikan konflik ini, cepat atau lambat pasti ketahuan. Ah tapi kapan lagi bisa ditraktir dan mentraktir dalam satu waktu, ditemani cewek cantik lagi.

      “Tapi nanti gw ikut. Gw ngintilin lo di belakang. Gw penasaran sama Curlygirl kayak gimana ?” Kata Udjo. Aku menyipitkan mata kearahnya.

      “Lah nanti lo gimana disana kalau lo ikut ?” aku bertanya pada Tita.

      “Gw ngintilin lo dari belakang aja. Gw penasaran Cuteguys12 kayak gimana. Nanti pas nonton gw beli kursi yang dibelakang kalian.”

      “Ya ampun Tita sampe segitunya banget sih.”

      “Tapi lo mau kan ?”

      “Iya tenang aja, gw temen lo jadi pasti gw bantu. Gw juga nggak ada acara kok Jumat malem ini.”

      Aku bingung antara kasihan dan bingung. Bagaimanapun juga aku akan membantu temanku. Lagipula kapan lagi nonton dan makan dibayarin. Si Cuteguys12 kan loyal. Dan juga kapan lagi gw bisa jalan bedua sama cowok ganteng. duh dilema nih

*

Advertisements

2 comments on “Blinddate (PART I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s