Blinddate (PART II)

by widikrisna

berharap semua pada suka endingnya. Coz lagi kena writerblock nih

“Kamu mau duduk dimana ?”

      “Disitu aja deh, nggak apa-apa kan ?”

      “Nggak apa-apa. Enak kok duduk disitu.”

      Aku melihat ke belakang ke arah Udjo yang mengantri dibelakangku. Ia akan memesan kursi yang berada di belakangku. Aku pastikan udjo bisa mengintip kedipan kursi tempatku duduk agar ia bisa memesan ditempat yang ia mau.

      “Eh mumpung masih satu jam lagi. Kita makan yuk.”

      “Boleh. Makan dimana nih kita ?”

      Aku berjalan ke luar bioskop. Aroma susu kental menghilang saat aku melewati batas pintu. Sayup suara dingdong yang sedikit menggema menghilang saat aku menjauhi bioskop. Udjo berjalan di belakangku. Rasanya tidak nyaman juga diikuti seperti ini.

      Aduh risih juga ni kalau begini. Walau ditraktir dan jalan dengan cowok keren. Nggak enak juga kalau diintilin seperti ini. Tita berjalan di belakangku. Aku mengamati pria pendek hitam yang sepertinya mengikutiku dari tadi.

      “Lo ngerasa kita lagi diikutin nggak ?”

      Aku melirik ke belakang. Kalau Udjo memang pasti merasa, kalau wanita di sebelah Udjo aku tak kenal. Wanita pendek hitam dan keriting. Daritadi di bioskop juga ia mengikuti.

      “Cewek itu ngikutin ya ?”

      Kalau Tita memang pasti ngikutin. Aduh gawat kalau Cuteguys12 mulai ngerasa diikutin sama Tita. Bisa-bisa dia curiga lagi. Aku pikir Tita belum mempersiapkan skenario jika aku hanyalah orang yang mengaku sebagai Curlygirl

      “Bukan yang itu tapi cowok disebelahnya.”

      Wah gawat kalau Udjo sampai ketahuan mengikuti. Bisa berabe nih. Udjo belum mempersiapkan apa-apa jika penyamaranku ketahuan. Pasti ia langsung digampar oleh Curlygirl. Kisah cinta berakhir tragis lagi.

      “Ah perasaan kamu doang kali. Eh makan disitu aja yuk.”

      Aku menunjuk kesebuah restoran. Restoran anak muda, penuh dengan muda mudi yang sedang menikmati malam sabtu. Kami masuk ke restoran itu dan memesan makanan. Aku melihat Udjo duduk di membelakangi Curlygirl. Darisitu pasti terdengar apa yang kami perbincangkan.

      “Lo nanti pulang naik apa ?”

      “Gw naik taksi paling.”

      ”Gw anterin deh. Gw bawa motor kok. Udah malem rawan lagi takutnya.”

      Ponselku bergetar. SMS masuk ke ponselku. Aku buka pesan itu. Dari Tita. Tanyain dong, tipe cewek dia kayak gimana ?”

      “SMS dari siapa ?”

      “Oh dari temen, nggak penting. Eh bener kan nih kita jalan bedua nggak ada yang marah ?”

      “Siapa yang marah. I’m single.”

      “Emang tipe cewek kamu kayak gimana sih ?”

      Aduh bilang apa nih. Tipe cewek Udjo kayak gimana ya ? Oh ya aku ingat. Ia kan pernah curhat dulu ke aku ketika ditolak dan ketika itu ia bilang sebenarnya ia ingin cewek yang seperti apa. Oke aku bilang persis seperti waktu itu saja.

      ”Tipe cewek gw sih nggak udah repot-repot. Yang mau menerima gw apa adanya aja. Nggak banyak nuntut. Gw juga nggak terlalu peduli fisik. Kalau kamu ?”

      Nampaknya Tita akan senang nih kalau begini. Jarang-jarang ada cowok ganteng tapi standarnya nggak tinggi. Tipe cowok yang disukain Tita kayak apa ya ? Ah aku tahu persis, ia sudah banyak cerita kepadaku.

      “Sama gw nggak peduli fisik, yang jelas baik, setia dan bertanggungjawab.”

      Wah jarang-jarang nih cewek cantik standarnya nggak selangit. Pasti Udjo bakal senang. Selama ini wanita yang ia taksir selalu memiliki standar yang tinggi. Pelayan datang membawakan senampan makanan yang kami pesan. Aku langsung memulai makan.

 

      Aku memasuki bioskop, dengan menggandeng tangan curlygirl. Aduh, kesempatan memang tidak datang dua kali. Dia tidak menolak aku gandeng tangannya. Namun aku tidak bisa berkata-kata mesra pada dia, aku harus menjaga perasaan Udjo. Bagaimanapun aku hanya aktor disini. Ok, aku tak mau persahabatanku dengan Udjo rusak hanya karena wanita.

      Gila, cuteguys12 menggandeng tanganku. Aku memang tak menolak karena aku memang mau digandeng olehnya. Namun aku harus menjaga jarak nih. Aku tak mau Tita kecewa padaku, bagaimanapun aku hanyalah aktor disini. Cuteguys12 adalah pria yang dikenal Tita, bukan jatahku. Aku tak ingin persahatanku dengan Tita rusak karena masalah cinta.

      Aku masuk kep intu bioskop, wangi susu langsung menyerbu hidung. Aku melihat mesin pembuat popcorn yang sedang bekerja memeletupkan potongan jagung yang berbenuk seperti amuba.

      ”Kamu mau popcorn ?”

      “Boleh aja, tapi kali ini aku yang traktir. Kan tadi kamu udah traktir aku makan, gantian dong. Sekarang kan jamannya emansipasi.”

      “Haha, oke. Yuk ngantri beli.”

      Aku mengantri. Udjo duduk di kursi tunggu di belakangku, memandangiku dengan curlygirl dengan penuh pengharapan, berharap aku dengannya bisa berturkar tempat, namun tidak betukar fisik. Aku menilik jenis popcorn yang mau aku beli. Rasanya gengsi juga ditraktir wanita, namun ia bersikeras untuk gantian mentraktir, yasudah mau bagaimana lagi. Aku menuju ke depan studio. Udjo tidak ada, mungkin untuk mencegah curlygirl curiga jika ia mengikuti terus.

      “Eh tadi kamu bilang kalau fisik bukan segalanya ya ?”

      “Iya, kenapa ?” kataku sambil menyomot satu popcornku.

      “Kalau misalnya aku tiba-tiba berubah jadi cowok jelek genduk item gimana ?”

      Aku agak bingung dengan pertanyaan ini. Aku melihat ke sekeliling, Tita tidak ada. Mungkin ia menyingkir untuk mencegah cuteguys12 curiga. Apa kira-kira jawaban Tita ya ? Kalau aku sih sebenarnya apa-apa, aku kan juga punya standar.

      “Maksud kamu apa sih ?”

      “Nanya aja. Kamu gimana ?”

      “Kalau aku sih fine-fine aja, asal sifatnya bener. Kayak yang aku bilang. Fisik bukan segalanya. Kalau kamu gimana ? Kalau misalnya aku berubah jadi cewek gendut, keriting, pendek gimana ?

      Aduh, Udjo kalau ditanya ini jawabnya apa ya. Kalau aku sih apa-apa, standarku kan beda dengan standar Ujdo.

      “Ya jawabannya kurang lebih sama kayak kamu,” kataku pada curlygirl, aku yakin Udjo tidak terlalu melihat wanita dari fisik.

      “Aku mau ketoilet dulu deh sebelum pintu dibuka.”

      “Aku juga deh.”

      Aku berjalan bersama cuteguys12 menuju toilet. Sudah pasti aku lebih lama berada ditoilet dibandingkan dia. Setelah kurang lebih 5 menit di toilet untuk buang air dan dandan aku keluar toilet. Cuteguys12 sudah menunggu didepan toilet. Ia menggandeng tanganku, ah mumpung Tita tidak ada, tak apa deh.

      Aku langsung melepas gandengan tanganku dengan cuteguys12 saat melihat Tita dikejauhan. Ia sedang memandangi kami berdua. Ia sedang berdiri sambil melipat kedua tangan di dadanya saat sebuah insiden terjadi.

      Udjo bodoh. Karena sibuk memperhatikan aku berdua dari kejauhan, tak sengaja Udjo menumpahkan minuman yang ia bawa ke baju seorang wanita. Itu wanita yang tadi aku kira mengikutiku. Minuman yang Udjo bawa membasahi baju wanita itu. Warna putih baju wanita itu ternodai oleh warna coklet muda dari minuman yang ditumpahkan Udjo. Terlihat para pengunjung melihat ke arah insiden itu. Wah bisa kena semprot nih si Udjo. Ngelamunin kami berdua terus sih dia.

      Aku sudah kenal Tita sejak lama. Hal seperti itu tidak akan membuatnya marah. Itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Pasti tidak akan ada adegan damprat mendamprat. Terlihat Tita mengibas-ngibas bajunya dengan tangannya. Aku ingin maju untuk membantu Tita, namun aku tak ingin cuteguys12 curiga. Aku dan cuteguys12 berjalan beberapa langkah untuk melihat insiden itu.

      ”Aduh maaf-maaf. Saya nggak sengaja,” kata Udjo sambil memberikan sapu tanganya pada wanita itu.

      “Iya nggak apa-apa mas,”  jawab Tita. Ia memang wanita yang sabar

      Aduh aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka setelah itu. Tapi sepertinya tidak ada adegan damprat mendamprat. Oke pintu bioskop sudah dibuka, saatnya nonton film.

      Bingung. Kok Udjo tidak ada dikursi belakang. Ia seharusnya duduk disitu. Tadi ia meng-SMSku katanya ia akan duduk dikursi dibelakangku. Sedang dimana dia ya ? Apakah ia sedang perang dengan wanita yang ia tumpahkan minumnya tadi ? Ah kesempatan, aku bisa bebas dengan curlygirl. Tunggu, bagaimanapun aku hanya aktor. Aku harus tahan, jangan kelepasan.

      Kenapa tanganku nggak dipegang, padahal aku udah ngasih sinyal nih. Eits apa yang aku pikirkan, aku hanya aktor yang sedang berperan. Tapi mumpung Tita nggak ada, jadi nunggu apa lagi sih. Btw, Tita kemana ya ? Dia kan kursinya harusnya ada dibelakang aku, kenapa sekarang malah nggak ada ? Ah masa bodoh deh. Aku kembali fokus dengan film.

*

      “Hah serius dia ngomong kayak gitu ?” Udjo bertanya padaku.

      “Iya djo, dia bilang pokoknya fisik nggak masalah. Tadi gw tanya kalau misalnya gw berubah wujud jadi kayak lo gimana. Terus dia bilang dia fine-fine aja.”

      “Wah berarti gw nggak punya masalah dong kalau misalnya gw menampakkan diri sebagai Tita ? Tapi nanti dia ngerasa dibohongin nggak nih ?”

      “Nah itu dia. Kalau gw jadi dia sih walaupun gw terima gw bakal ngerasa dibohongin. Coba lo posisikan sebagai dia. Menurut lo dia bakal marah nggak ?”

      “Kalau jadi dia sih gw marah juga walaupun gw nerima. Gimana dong nih ?”

      “Makanya dari awalkan gw bilang kalau bohong itu nggak baik.”

      “Udah terlanjur bohong. Marah nggak marah harus gw terima. Nggak mungkin juga lo terus yang berperan sebagai gw. Gw juga mau beduaan sama cowok keren yang standarnya nggak tinggi.”

      “Nah gitu dong. Btw tadi lo kmana ? Kok nggak nonton ?”

      “Nah itu dia. Lo mesti tahu, tadi kan gw ngelihatin lo bedua sambil bawa minuman. Karena gw terlalu fokus ngelihatin lo, eh gw nabrak cewek. Minuman yang gw bawa tumpah ke baju cewek itu. Nah gw udah takut aja tuh dia ngedamprat gw, biasanyakan cewek jaman sekarang kayak gitu.”

      “Oh ya gw lihat tuh tadi,” kataku.

      “Yah lo tahulah. Gw kan cewek ramah, kalau emang dia nggak sengaja ya gw nggak marah. Kesel sih, tapi nggak sampe ngelabrak tuh cowok. Basah deh tuh baju gw sama minuman dia. Mana gw pake baju putih lagi. Dia langsung ngasih gw sapu tangan dia buat ngebersihin baju gw.”

      “Oh ya gw lihat tuh tadi.”

      “Untung deh dia nggak marah. Aku kira bakal di tampar. Ternyata cewek itu baik banget, ramah dan nggak emosian. Terus aku nanya ke dia. Kamu mau nonton yang jam sekarang ? Terus dia jawab iya. Aku tanya lagi terus gimana kalau begini ? Aku ngerasa nggak enak kan sama cewek itu.”

      “Ih cowok itu baik banget. Dia nggak enak kan sama aku. Gara-gara dia numpahin minuman ke aku, aku jadi nggak bisa nonton yang jam sekarang. Terus dia nemenin aku deh ngabisin waktu yang seharusnya dipake buat nonton sembari nunggu baju aku kering. Aku nggak bawa baju lagi soalnya.”

      “Emang lo makan dimana ?” tanyaku

      “Gw makan di restoran somay yang deket bioskop sih sama dia. Nggak enak sumpah gw ama tuh cewek, gara-gara gw dia jadi nggak bisa nonton deh. Untung tapi dia mau nerima permintaan maaf gw dengan gw temenin makan. Gara-gara ngelihatin lo nih.”

      “Ih kok gw sih yang disalahin. Lo tuh yang nggak tengok kiri kanan sampe nabrak deh,” aku mengelak

      “Dia bener-bener ngerasa nggak enak sama gw. Masa dia sampe nraktir. Orang kenal aja nggak. Gw si fine-fine aja secara dia nggak sengaja.”

      “Cie, terpesone ya sama tuh cowok. Btw siapa namanya ?”

      “Dia namanya Tita. Fisiknya emang jauh dibawah rata-rata sih. Tapi inner beautynya boleh juga tuh cewek.”

      “Cie, naksir nih ya. Terus curlygirl mau diapain nih. Gw jadi bingung ama lo. Buat gw aja ya ?” kataku berharap namun dengan nada bercanda.

      “Udjo kalau dibandingin sama cuteguys12 mah jauh beda. Cuteguys nilai fisiknya 100 tapi kalau Udjo nilai fisiknya paling 20 lah. Jangan buat lo dong si cuteguys, dia masih gw incer.”

      “Iya tenang aja Tita,” kataku yang sebenarnya kecewa.

*

Curlygirl : eh ketemuan lagi yuk

Cuteguys12 : kapan ? Mau dong. Kangen nih sama kamu.

Curlygirl : Weekend ini aja. Aku mau kasih kamu kejutan nih

Cuteguys12 : Kejutan apa ?

Curlygirl : Tunggu aja weekend ini. Kita ketemuan di PIM ya jam 19 hari sabtu.

Cuteguys12 : #penasaran

*

      “Hah, lo mau ngaku Tita weekend ini ?” kataku bingung sambil mengaduk mie ayamku.

      “Iya, habis nggak enak kan kalo ngaku sebagai lo terus,” kata Tita yang kemudian menyendok semangkuk mie ayamnya.

      “Wah terus gimana tuh teknisnya ? Lo ketemu terus langsung bilang kalau lo adalah curlygirl ke dia ?”

      “Nggak lah. Seenggaknya kasih skenario dikit. Nah lo masih jadi aktris dalam skenario gw. Bantuin gw ya pliiiis,” kata Tita dengan nada super memohon.

      “Iya-iya, ini untuk terakhir kali juga kan.”

*

      Hari sabtu sore, aku sempat bingung juga saat Udjo menyuruhku bertemu dengan curlygirl. Katanya curlygirl akan memberikan kejutan. Aku juga jadi penasaran apa kejutannya. Kalau misalnya dia nembak bagaimana ? Aku sudah bersikeras agar Udjo mengaku saja, namun Udjo masih belum mau mengaku. Kesal juga nih lama-lama kalau begini.

      Aku menunggu di sebuah koridor tempat curlygirl mengajukan tempat. Aku melirik arlojiku sudah 5 menit terlewat sejak jam janjian. Aku mengambil banyak asumsi dalam pikiranku. Apa kejutannya ? Sial, aku serasa menjadi bonekanya Udjo. Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

      “Eh kamu. Katanya mau kasih kejutan. Kejutan apa sih ?”

      “Nanti lah. Kejutan kan terakhir-terakhir bukan diawal.”

      “Sekarang kita kemana ?”

      “Makan dulu yuk. Udah makan belum ?”

      “Belum. Mau makan dimana ?”

      “Di foodcourt aja deh. Yuk.”

      Aku berjalan menuju ke foodcourt penuh dengan rasa tanya. Apa sih kejutannya ? Apakah ia akan menembakku ? Udjo bilang suruh terima saja kalau ia menembak, namun aku jadi bingung kalau aku bilang ya sebenarnya yang jadian aku atau Udjo.   Udjo mengiktiku hari ini, seperti minggu lalu.

      Aku selesaikan makanku. Namun ganjalan akan kejutan ini seperti memenuhi isi perutku membuatku tidak bisa menghabiskan makananku. Apakah ia akan memberiku hadiah ? Kejutankan bisa berarti hadiah. Kalaua hadiah sih tak masalah, bisa diterima kalau sampai kejutannya hal macam-macam bagaimana ?

      “Apa sih kejutannya aku penasaran ?” kataku ketika piring kosong di meja foodcourt dibawa oleh pelayan

      “Yakin sekarang ?”

      “Iya.”

      “Yaudah yuk pergi.”

      “Pergi kemana ?”

      “Kan kejutan. Kalau dikasih tahu bukan kejutan dong namanya.”

      Yasudah aku turuti saja kemauan curlygirl, habis aku sudah penasaran bukan main. Aku dan curlygirl berjalan keluar foodcourt. Kami berjalan di koridor mall. Suasana mall ramai, dipenuhi muda mudi yang sedang bercanda gurau melepeas kegalauan. Mau dibawa kemana aku ? Aku melihat ke belakang, Udjo terlihat di belakang, sekitar 10 meter dari tempatku berdiri.

      “Lo mau kemana ?” SMS dari Ujdo menyita penasaranku, aku langsung membalas SMS itu

      “Nggak tahu nih mau dibawa kemana.”

      Aku berjalan menuju ke pintu keluar. Loh kok kearah luar mall. Aku makin bertanya-tanya dalam hati.

      “Mau kemana sih ?”

      “Kalau nanya lagi kejutannya nggak jadi nih.”

      “Ok ok.”

      Aku berjalan keluar mall menuju ke tempat parkir. Tempat parkir terlewati dan sekarang menuju ke pinggit jalan raya.

      “Aku bawa motor, kalau emang kejutannya nggak disini kita naik motorku aja.”

      “Jangan naik motor, jalan kaki aja.”

      Aku berpikir sejenak. Seharusnya Udjo yang berada di posisiku sekarang. Apapun yang curlygirl siapkan, ini ditujukan ke Ujdo. Apakah kejutan ini akan menyenangkan atau mengagetkan, seharusnya Udjo yang berada langsung untuk merasakan kejutan ini dan bukan mendengar dari ceritaku.

      “Tunggu dulu deh,” kataku menghentikan langkahku dipinggir jalan. Suara derung mobil membuyarkan perkataanku.

      “Ada apa ?”

      “Dulu kamu pernah bilang kan, kamu nggak peduli sama fisik. Kalau misalnya aku berubah menjadi pria yang berfisik 180 derajat berbeda kamu nggak masalah.”

      “Iya,” kataku bingung dengan perkataan cuteguys12 yang sepertinya mau menunjukkan suatu fakta padaku.

      “Kalau begitu kamu tutup mata ya. Aku juga punya kejutan buat kamu.”

      Aku menyipitkan mata. Kan aku yang mau membuat kajutan untuknya kenapa aku yang malah mau dikejutkan. Cuteguys12 menyakinkanku untuk menutup mata. Aduh malu, ini dipinggir jalan yang cukup ramai, dilihat bermacam-macam orang kalau aku berdiri dan menutup mata. Namun yasudah aku percaya saja dengan dia.

      Curlygirl menutup matanya. Aku melihat Udjo yang berdiri di kejauhan. Aku mengambil ponselku, menelpon Udjo.

      “Djo kesini cepet,” kataku pada Udjo yang berdiri dikejauhan memandangi aku berdua.

      “Ngapain.”

      “Udah cepet kesini.”

      Udjo berlari kearahku berdua. Cirlygirl masih menutup mata. Aku masa bodoh dengan malu karena dilihat bermaca-macam orang yang lewat di pinggir jalan.

      “Ngapain gw,” kata Udjo pelan agar tidak terdengar curlygirl.

      “Dulu kamu pernah bilang kalau fisik bukan segalanya buat kamu. Sekarang kamu akan lihat fisik sebenarnya dari cuteguys12. Buka mata kamu,”

      Aku berdiri dibelakang Udjo saat curlygirl membuka matanya. Ia menilik Udjo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan seribu tanya. Walau ramai, aku merasakan keheningan diantara mereka berdua.

      “Djo bilang yang sebenarnya,” aku memecah keheningan diantara mereka berdua.

      “Ok. Aku berbohong. Aku ini cuteguys12,” kata Udjo.

      Curlygirl hanya mangap tak percaya dengan apa yang ia lihat.

      Hah, apa maksudnya semua ini. Jadi…., selama ini cowok keren yang jalan denganku hanya boneka dari pria ini. Jadi dia adalah aktor, sama sepertiku yang hanya menjadi boneka Tita ? Shock bukan main. Kalau tidak salah cowok ini kan cowok yang mengikutiku jalan minggu lalu. Jadi selama ini hanya permainan kebohongan. Pasti Tita akan shock juga. Ah toh sama-sama bohong seharusnya impas dan tidak boleh saling marah.

      “Ok. Aku emang pernah bilang fisik bukan masalah. Nah kamu juga pernah bilang begitu kan ? Kalau misalnya aku berubah fisiknya jadi cewek dibawah rata-rata kamu bilang kamu juga nggak masalah kan ?”

      “Iya,” kata cuteguys12 yang sebenarnya.

      “Ok.”

      Aku melihat sebuah taksi. Taksi itu berhenti tepat di sebelahku. Di dalam taksi itu ada Tita. Seharusnya aku merangkai kata mutiara nan bijak untuk meyakinkan cuteguys12 dengan kata-kata “fisik bukan segalanya” yang pernah ia ucapkan dulu. Namun sepertinya hal itu tidak perlu.

      “Masuklah kedalam taksi itu. Kejutannya berada di dalam taksi itu.”

      Udjo hanya menatap bingung ke arah curlygirl. Aku juga penasaran apa sebenarnya kejutan yang telah dipersiapkan. Namun kejutan itu adalah hak Udjo bukan hakku. Aku hanyalah aktor sampingan. Aku harus mempersilahkan Udjo, sang aktor utama, untuk berperan sekarang. Udjo masuk ke dalam taksi itu, meninggalkan curlygirl diluar. Aku jadi tambah bingung. Aku menatap curlygirl dan berjalan kearahnya berdiri, hendak menanyakan semua tanyaku. Rasanya ada fakta yang belum aku ketahui.

30 Menit kemudian setelah semua muntahan fakta diketahui

      “HAHAHA, Jadi Ujdo dan Tita saling bohong-bohongan.” Kataku dengan penuh rasa heran atas kejadian ini.

      “Ah pasti mereka bisa menerima kok. Mereka udah pernah makan bedua juga kan ? Tita itu cewek yang ditumpahin minum sama Udjo minggu lalukan ?”

      “Iya. Tunggu, jadi kamu bukan cuteguys12. Jadi nama kamu siapa ? Boleh kenalan dong ?”

      “Aku emang bukan cuteguys12 dan kamu juga bukan curlygirl kan.”

      Aku mengulurkan tanganku ke arah wanita ini, kami berjalan tangan.

      Perkenalkan nama aku….

Finish

(btw ending scene terinspirasi film hello stranger. hehe)

Advertisements

8 comments on “Blinddate (PART II)

    • Kalau gw sih mikirin konfliknya dulu aja. Tentang tokoh, latar, ending, semua menyesuaikan konfliknya kayak gimana. Nggak usdah mikir dari A sampe Z kalau mau nulis, tumpahkan aja semua yang ada diotak ntar juga bakal ketemu sendiri alurnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s