Doa Seorang Anak

by widikrisna

hope for my father

Tatkala aku sedang berjalan kaki di taman yang hijau. Pepohonan yang rindang berdiri kokoh, menghalangi sinar sang surya yang ingin menghujani rerumputan hijau yang merunduk. Angin sepoi yang hangat berhembus, membuat rerumputan bergoyang mengikuti irama angin yang menyanyi dipagi hari.

Sesuatu menarik perhatianku. Aku berjalan ke sebuah pohon yang cukup tinggi. Dedaunan kering itu menyembunyikan sesuatu insiden yang menarik mataku. Aku melangkahkan kakiku ke sebuah gundukan putih yang tergulai di tanah. Aku berjongkok dibawah gundukan putih itu. Itu ternyata seeokr burung merpati putih.

Aku mengamati burung putih itu. Mengapa ia tidak terbang bebas dilangit yang biru. Aku melihat keangkasa, kehamparan biru laut yang dihiasi awan putih yang bagaikan kapas yang halus. Tak ada rona hitam atau kilatan cahaya yang membuatnya takut.

Aku lalu melihat ke sayap burung itu. Ada sebuah luka yang membuat burung itu tak dapat meraih angakasa. Luka itu menganga, pasti merpati ini sangatlah kesakitan. Luka sebesar ini pasti disebabkan oleh pemburu atau semacamnya.

Aku iba dengan merpati ini. Ia sangat murung dan tidak mau melakukan apa-apa, seperti tinggal menuju ajal. Apa lebih baik aku tingalkan saja merpati ini dan membiarkannya mati ? Mungkin saja hari ini memang sudah menjadi ajalnya ? Ah tidak punya hati sekali aku kalau meninggalkan merpati ini disini. Akhirnya aku bawa merpati itu ke dokter hewan.

 

Setelah beberapa hari merpati itu sembuh, well tidak sembuh 100 % dan tidak akan bisa sembuh 100 %. Luka di sayapnya sudah permanen dan sayapnya sudah tidak bisa digunakan lagi untuk terbang. Dokter hewan sudah mengatakan mustahil untuk merpati ini bisa sembuh.

 Aku melihat sang merpati yang sedang bertengger di dalam sangkar yang aku beli untuknya. Seharusnya ia sekarang berada di langit, terbang menyaru dengan awan, merasakan deru angin yang berhembus kencang di ketinggian. Aku melihat mata burung merpati itu. Ia sangat sedih. Ini sama saja rasanya denganku jika aku kehilangan kedua kakiku atau kedua tanganku.

Andai aku tidak datang ke taman minggu lalu mungkin merpati ini sudah mati. Apakah kematian memang menjadi hal terbaik untuknya saat lalu ? Aku menjadi bimbang. Apakah pertolonganku salah terhadapnya ?

Aku membuka sangkar merpati itu. Namun sang merpati tidak terbang. Bodoh sekali aku, mana bisa burung itu terbang. Sayapnya sudah luka permanen. Jika aku biarkan terus, ia hanya akan berakhir di sangkar itu tanpa bisa melakukan apa-apa. Mungkin memang seharusnya aku tidak menolongnya dan membiarkannya pergi kala itu.

Akulah yang menolongnya kala itu, maka aku jugalah yang harus mengakhirinya kali ini. Aku bawa burung itu ke taman tempat aku dulu menemukannya. Sebenarnya aku tidak tega untuk mengakhiri nyawa makhluk Tuhan namun aku tak tega dengan merpati yang murung ini. Akhirnya aku bunuh merpati itu.

Bertahun berlalu semenjak kejadian itu. Musibah melanda keluargaku. Ayahku terserang penyakit struk. Sudah 5 tahun ia mengidap penyakit ini. Dokter berkata harapan untuk bisa sembuh sudah sangat kecil. Segala pengobatan sudah dicoba mulai dari medis samapi alternatif namun hasilnya nihil. Ayah sudah tidak bisa apa-apa, kemana-mana ia hanya bisa dipapah dengan kursi roda, berbicara pun ia kesulitan, makan juga sulit. Aku merasakan ayah sangat tersiksa.

Sebagai anak aku ingin ayahku sembuh dan bisa kembali seperti sedia kala. Aku ingin bisa kembali berlari bersama ayah. Aku suka sedih ketika melhat sorot mata ayah ketika aku menatapnya. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan ? Apakah ia ingin berkata ambil saja nyawaku ataukah ia ingin berkata kembalikan kesehatanku ?

Kesehatan ayah semakin memburuk. Tabung oksigen dipasang di sampin kasurnya, untuk membantuknya bernafas. Terkadang nafas ayah sangat sesak, kalau tidak ada oksigen bantuan ia mungkin akan semakin tersiksa. Aku sedih melihat penderitaan ayah yang semakin larut.

Aku teringat kembali dengan kejadian merpati bertahun-tahun lalu. Ketika itu aku menyelematakan merpati yang seharusnya mati hari itu. Aku melihat merpati itu murung dan sedih selalu karena tidak bisa terbang kembali. Lalu aku putuskan untuk membunuh merpati itu. Aku yakin merpati itu sekarang sudah terbang tinggi di surga.

Aku melihat ayahku yang terbaring disamping kasur. Apakah lebih baik aku lepaskan saja selang yang menghubungkan tubuh ayah dengan tabung oksigen ini agar ayah bisa pergi dengan bebas.

Siapa aku ini ? Aku bukanlah sang pemegang kuasa disini. Tuhanlah yang punya hak untuk mengambil nyawa ayahku. Tidak seperti ketika merpati itu dulu. Kali ini aku berbicara mengenai manusia, mengenai ayahku. Hanya Tuhan yang berkehendak atas ajal ayahku. Aku menengadahkan tanganku dan berdoa pada Tuhan yang sedang menatapku

Ya Tuhan Jika engkau sayang kepada ayahku, tolong berilah kesembuhan total untuk ayahku. Bebaskan ia dari segala ketergantungan terhadap obat dan terapi jika engkau memang memberikan kesembuhan. Jika engkau memang mau mengambilnya, ambilah. Aku sudah ikhlas. Aku tidak tega melihat ayahku seperti ini. Engkau yang memiliki kuasa disini, aku hanyalah makhluk kecil di hadapanmu. Aku ingin ayahku bisa bebas seperti merpati itu dulu, entah bebas di dunia nyata atau di alam sana. Engkau tahu yang terbaik untuk ayahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s