Titipan paling berharga

by widikrisna

post pertama di tahun 2012. Satu harapanku pada-Mu. Berikan yang terbaik untuk keluargaku, harta yang paling berharga yang pernah Engkau berikan titipkan kepadaku. Terima kasih


“Selamat ulang tahun kami ucapkan. Selamat ulang tahun ya nak.”

Aku sedang berada di meja makan rumahku yang sederhana. Rumah ? Mungkin bisa lebih tepat disebut gubuk. Ini bukan majas litotes, namun memang rumahku sederhana. Aku hanyalah rakyat kecil di negeri yang kaya. Aku adalah seorang nelayan, setiap hari pekerjaanku menangkap ikan di laut.

Rumahku berada di pinggir laut untuk memudahkanku menangkap ikan. Jika angin sedang bagus, aku selalu pergi ke laut untuk mencari sesuap nasi dengan perlengkapan seadanya. Jika sudah dapat ikan, aku jual ikan tersebut ke pasar dan mendapatkan uang.

Aku melihat ke arah anak laki-lakiku yang genap berusia 8 tahun. Ia bernama Rizki. Disebelah anakku ada seorang anak perempuan. Ia anak keduaku bernama Saskia, ia baru berusia 5 tahun. Isteriku duduk di sebelahku. Ia adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Keluargaku adalah keluarga yang bahagia, tak peduli kami hidup dalam kesederhanaan.

Rizki hari ini ulang tahun. Aku melihat ke meja makan. Tak ada kue tart atau nasi kuning. Yang ada hanya ikan bakar. Tak ada raut sedih di mata Rizki. Bagi kami, kami harus bisa mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan. Aku selalu mengajarkan itu pada kedua anakku.

“Rizki apa harapanmu di usia yang ke 8 ?” Tanyaku.

“Rizki berharap kita bisa selalu bersama.”

Aku memang berharap ia berkata itu, bukan mengharapkan barang atau apapun. Namun bagaimanapun aku sudah membelikan hadia ulang tahun untuk Rizki.

“Kamu yakin tidak mau ini ?”

Aku mengambil kotak yang telah di bungkus kertas kado yang kusembunyikan di bawah meja. Rizki terlihat senang dengan apa yang aku pegang. Saskia terlihat sedikit iri aku memberi Rizki hadiah. Aku sudah mengantisipasi ini dengan membeli hadiah juga untuk Saskia.

“Wah ayah tidak perlu repot-repot.”

“Tak apa nak kamu pantas menerima hadiah,” kata isteriku sambil mengelus kepala Rizki.

“Tapi aku juga ingin Saskia dapat hadiah,” kata Rizki.

Tepat, aku berharap ia berkata seperti itu. Rizki memang anak yang baik.

“Saskia kan ulang tahunnya masih enam bulan lagi. Ayo sekarang buka hadiahmu.”

Rizki membuka bungkus kado yang aku berikan. Isinya sepatu baru yang sudah lama diinginkan oleh Rizki. Di bawah sepatu itu ada boneka barbie. Aku sengaja memasukkan boneka itu di bawah sepatu.

“Ayah kenapa engkau memberiku boneka ?” tanya Rizki bingung.

“Tak apa kan. Ayah hanya iseng, siapa tahu kamu ingin memberikannya ke seseorang. Yang jelas itu hadiahmu berarti itu milikmu.”

Rizki melihat boneka itu dan menyipitkan matanya. Ia lalu memberikan boneka itu ke Saskia.

“Saskia ini abang berikan kepadamu.”

Saskia terlihat senang dan mengambir boneka itu. Kami lalu makan pagi dengan ikan bakar yang telah dimasak isteriku. Betapa bahagia keluargaku. Aku senang Allah menganugerahiku keluarga yang begitu harmonis. Bagiku harta tak penting jika aku tidak memiliki keluarga seperti ini.

Aku sedang menyendok nasi di piringku ketika aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Aku melihat air bergejolak di dalam gelas. Kakiku terasa tidak seimbang ketika menapak tanah. Rumah terasa bergoyang karena getaran yang hebat. Perabot berjatuhan ke tanah. Gempa bumi.

“Ada gempa. Ayo anak-anak semua keluar.”

Aku langsung menggendong Saskia, sedangkan isteriku menuntu Rizki untuk keluar. Keseimbangan benar-benar tidak bagus karena tanah terasa bagaikan air yang bergelombang. Kami keluar rumah. Gempa benar-benar besar. Aku belum pernah merasakan gempa sebesar ini. Terlihat keluarga yang lain juga melakukan hal yang sama. Berlindung di luar.

Satu menit gempa berlangsung. Terlihat rumahku sudah rubuh. Aku tak peduli. Yang pentung keluargaku selamat. Aku berdiri saat tanah sudah tidak lagi bergejolak. Aku melihat ke arah laut. Aku menyipitkan mata dan berjalan ke arah laut. Mataku terbelalak. Aku melihat air laut surut, ikan-ikan menggelepak di pantai yang biasanya tergenang air laut.

“Ayo kita segera lari. Akan terjadi Tsunami,” kataku pada keluargaku.

“Bapak tahu darimana ?” kata isteriku.

“Sudah ayo kita pergi ke tempat yang lebih tinggi.”

Saat ini akal sehatku hanya berpikir bagaimana melindungi keluargaku. Tak peduli apakah ada tsunami atau tidak yang penting ke tempat yang lebih tinggi dulu. Aku belum jauh dari pantai saat aku melihat ombak besar sedang menggulung di kejauhan. Mataku melotot, jantungku berdebar. Jumat pagi yang cerah, berubah seketika menjadi malapetaka. Keluargaku. Aku hanya berpikir keluargaku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka.

“Ayo cepat kita lari. Mirna, tolong kami gandeng Rizki. Aku akan gendong Saskia. Jangan sampai kita terpisah,” aku berkata pada isteriku yang juga sudah menyadari akan bencana dahsyat yang akan terjadi.

Terlihat kepanikan melanda kami semua dan nelayan yang lain. Kami semua berlari secepat mungkin menuju tempat yang lebih tinggi. 15 menit aku berlari. Aku tidak bisa berlari cepat karena Mirna, Isteriku, dan Rizki tidak bisa berlari secepat diriku.

 Tidak mungkin keburu. Ombak pasti akan menyapu kami kalau begini. Apakah lebih baik kami menyerah saja ? Tidak, aku tidak mau menghancurkan cita-cita anakku, kehidupan anakku yang masih panjang. Aku melihat ke belakang. Ombak sudah semakin dekat. Baru kali ini aku melihat ombak sebesar itu. Aku merasakan sangat dekat dengan ajal.

Aku melihat ke sebuah pohon besar yang kokoh. Tak mungkin berlari terus. Pasti kami akan mati terlebih dahulu sebelum kami sampai ke kota. Andai aku punya mobil atau motor yang bisa dipakai untuk melarikan diri.

“Ayo semua panjat pohon ini. Rizki kamu duluan setelah itu bantu ibumu.”

Singkat kata, kami semua berhasil naik ke pohon besar itu. Ombak sudah sangat dekat, mungkin hanya 50 meter dari tempat kami berlindung. Terlihat sepi di bawah, keluarga nelayan yang lain pasti berpikir lari terus. Aku berdoa pada Allah agar kami semua diberi keselamatan. Aku melihat ke Saskia yang menangis.

“Anak-anak ayo semua berdoa, kita semua pasti akan baik-baik saja.”

Ombak sudah sangat dekat. Ia setinggi pohon ini. Ia menerjang apapun yang dilaluinya. Aku memegang tangan isteriku. Aku hanya berdoa ini bukan terakhir kalinya aku melihat mereka. Ombakpun menerjang. Hal terakhir yang aku ingat adalah pegangan tanganku kepada isteriku lepas.

*

      Aku membuka mataku. Apakah aku mati atau hidup ? Aku melihat ke sekeliling. Orang-orang terbaring di sampingku. Beberapa orang yang terlihat lebih sehat lalu lalang. Aku memikit kepalaku. Rupanya aku selamat.

      “Syukurlah anda sudah sadar,” kata seorang wanita. Ia mengenakan baju yang tidak kotor dan basah.

      “Siapa anda, saya dimana ?”

      “Nama saya Febri. Anda berada di pos kesehatan.”

      Aku melihat tenda yang mengatapiku. Tenda yang super besar, beralaskan terpal yang melindungiku dari tanah. Aku sedang berbarinng di atas matras. Kepalaku masih sedikit pusing. Keluargaku. Dimana mereka ?

      “Mirna, Saskia, Rizki. Dimana keluargaku ?”

      “Bapak tenang dulu.”

      “Dimana mereka ?” aku mulai panik saat tidak mendapati mereka disekelilingku.

      Aku langsung berdiri dari tempatku tertidur. Aku abaikan rasa nyeri yang menusuk di persendianku. Yang kupikirkan hanyalah menemukan kelaurgaku. Febri mengikutiku dari belakang.

      “Dimana saya ditemukan ? apakah keluarga saya berada di sekeliling saya ketika saya ditemukan ?” tanyaku pada Febri sambil terus mencari.

      “Anda ditemukan di pohon besar pak. Hanya ada Anda di pohon itu.”

      Tak mungkin. Aku tak mau memikirkan kemungkinana lain. Namun keluargaku tidak ada dimana-mana. Apakah mereka sudah meninggal ? Aku melihat ke luar tenda. Pesisir yang tenang sekaranf telah tiada. Yang ada hanyalah puing-puing dan rongsokan yang berserakan. Semua bangunan sudah rata dengan tanah. Kayu-kayu serta besi-besi sisa bangunan berserakan dimana-mana. Terlihat para relawan sedang mengangkat rerunAllah di kejauhan, mencari jasad-jasad yang bisa dikebumikan.

      Dimana ini ? Ini tanah kelahiranku ? Ya Allah apa yang Engkau lakukan terhadap bumi ini ? Mengapa Engkau hancurkan tanah subur ini ? Aku terus mencari kemana-mana. Tak ada wajah yang aku kenal. Mirna, Rizki, Saskia dimana kalian ?

*

      Relawan dan bantuan datang dari segala penjuru negara bahkan dari negara lain. Bantuan makanan, pakaian dan obat mengalir. Pos-pos darurat didirikan dimana-mana. Aku salut dengan solidaritas orang-orang diluar sana. Ternyata mereka masih peduli dengan keadaan kota kecilku.

      Aku mencari dan terus mencari. Sudah tiga hari aku mencari namun mereka tidak diketemukan. Selama tiga hari itu aku tidak makan dan hanya seikit minum. Yang aku pikirkan hanyalah menenukan keluargaku. Aku terus berdoa. Allah, Engkau boleh mengambil semua harta bendaku namun jangan ambil keluargaku dariku. Aku sudah kehilangan semangat hidupku.

      “Pak, bapak ayo makan. Jangan sampai kesehatan bapak memburuk.”

      Para relawan menyemangatiku. Para korban lain yang selamat juga menyemangatiku, memberikanku semangat. Aku tidak butuh semangat yang aku butuhkan hanyalah keluargaku. Pekerjaanku tak lebih dari mencari di puing-puing, apakah anak isteriku ada disana.

      Siang yang terik. Aku masih terus saja mencari. Aku tidak mau melepas keluargaku. Aku yakin mereka masih hidup. Aku sedang berjalan di puing-puing saat pandangan mataku mulai gelap. Perutku lapar, rasanya semua makanan di pos terasa memuakkan saat aku menyadari kalau aku masih sendiri. Kesadaranku terasa menguap, langkahku tidak seimbang. Aku terjatuh pingsan.

      Aku membuka mataku. Seorang relawan sedang mengobatiku, relawan itu Febri. Keluargaku. Itulah hal pertama yang teringat ketika aku siuman. Aku berniat bangun saat Febri melarangku.

      “Pak, bapak makan dulu.  Bapak pingsan karena sudah lama tidak makan. Ayo bapak makan dulu. Ini sudah Febri siapkan.”

      Aku melhat Febri membawakan sepiring nasi dengan lauk sayur dan telur. Aku tidak nafsu makan. Yang aku pikirkan hanya keluargaku.

      “Ayo pak makan dulu setelah itu mencari keluarga bapak ya. Bapak butuh tenaga untuk berjalan,” kata Febri sambil menyodorkan makanan itu padaku.

      Aku mengambil piring itu. Tak ada nafsu makan. Lebih baik aku mati daripada tidak bertemu dengan keluargaku. Febri pergi dari hadapanku. Aku meletakkan piring itu kemudian pergi mencari keluargaku lagi. Aku tidak akan makan sebelum bisa menemukan keluargaku. Aku keluar tenda dan berdiri sembari menilik ke sekeliling. Aku mendengar percakapan dua relawan di sebelahku.

      “Lagi ada pemakaman masal di blok sana,” kata salah satu relawan sambil menunjuk ke sebuah penjuru

      “Aku mau lihat deh. Penasaran kayak apa.”

      Aku mengikuti kedua relawan itu menuju pemakaman masal. Jasad keluargaku belum diketemukan jadi aku bukan datang sebagai pelayat, lagipula aku yakin keluargaku masih hidup. Aku melihat ke kerumuman. Pemakaman masal sedang dilakukan. Terlihat haru dari korban yang selamat ketika keluarganya dimakamkan.

      Aku melihat Febri sisi seberang. Ia menangis. Air mata mengalir deras darimatanya. Wah berperasaan sekali dia. Relawan yang lain saja tidak sampai seperti itu. Aku mengikuti prosesi pemakaman masal sampai selesai, menghormati masyarakatku. Prosesi berakhir

      “Pak, bapak sudah makan ?” Febri sudah berdiri di sampingku.

      “Sudah,” aku berbohong.

      “Kamu kenapa nangisnya begitu amat ? Emang ada keluarga kamu disini ?” tanyaku.

      “Saya memang orang sini pak.”

      “Loh saya pikir kamu relawan.”

      “Oh bukan. Saya bukan relawan. Saya penduduk sini juga. Memangnya saya terlihat seperti relawan ?” kata Febri sambil tersenyum.

      “Jadi tadi pemakaman keluargamu ?”

      “Iya. Kedua orang tua dan kedua adikku tewas. Hanya saya yang selamat dalam bencana ini.”

      “Kenapa, kenapa kamu…, terlihat begitu kuat ? Kamu sebatang kara sekarang. Saya bahkan tidak menyangka kamu orang sini karena tidak ada raut sedih di wajah kamu.”

      Febri tersenyum kecil.

      “Keluarga memang harta yang tidak ternilai pak. Namun bapak jangan pernah lupa. Harta hanyalah titipan dari-Nya. Kita hanya diberi amanah untuk menjaganya. Jika suatu saat Allah menginginkan hartanya kembali padanya, apa daya kita ? Ibarat kata kita diberikan pinjaman buku. Seberapa sayangpun kita terhadap buku itu, seberapa sering kita mengelap, membaca, merawat buku itu, jika yang punya menginginkan buku itu kembali masa kita tidak melarang. Saya mengerti perasaan bapak yang tidak bisa menemukan keluarga bapak. Saya mengerti kesedihan bapak akan takut kehilangan. Namun jika saya analogikan dengan buku tadi. Jika saya meminjamkan bapak buku yang sedang bapak butuhkan lalu setelah beberapa lama saya meminta buku itu kembali, lalu bapak mengembalikannya. Apa yang bapak katakan kepada saya ketika bapak mengembalikannya ?”

      “Mmm, terima kasih karena telah meminjakan saya buku.”

      “Tepat. Berterima kasihlah pada Allah karena telah memberikan harta terbaiknya untuk dititipkan kepada bapak. Saya rasa Allah akan senang jika ketika bapak mengembalikan harta itu sambil berkata terima kasih. Semoga setelah ini bapak diberikan titipan yang lebih berharga lagi agar bapak bisa belajar berkata terima kasih yang lebih tulus ketika bapak mengembalikannya.”

      Aku tersadarkan. Air mata akhirnya mengalir dari mataku. Ya Mirna, Rizki, Saskia, mereka semua hanya titipan yang Allah berikan kepadaku. Saat Allah menginginkan harta itu kembali, aku tidak bisa melarangnya. Aku menuju ke masjid darurat bertaubat sepenuh hati kepadanya.

      “Ya Allah terima kasih Engkau telah menitipkan harta itu kepadaku. Jika Engaku ingin mengambilnya maka ambilah. . Maafkan aku yang tidak menyadari akan kesalahanku selama ini. Aku sudah mengikhlaskan mereka ya Allah.”

      Lega rasanya. Terima kasih adalah hal yang mudah dilakukan namun sangat dalam makna yang terkandung di dalamnya. Aku kembali melanjutkan hidupku. Akhirnya aku makan setelah empat hari tidak makan. Aku merasakan energiku kembali. Saatnya memulai lembaran baru.

      Seminggu berlalu dari bencana ini. Nampaknya memang keluargaku telah tewas, aku membantu para relawan untuk menemukan jasad-jasad dan memberikan semangat serta apapun yang bisa ku lakukan untuk mengembalikan suasana seperti dulu di tanah kelahiranku. Aku telah mengikhlaskan jika Allah mengambil harta yang paling berharga untukku. Aku sedang membereskan puing-puing bangunan saat seseorang memanggilku dari belakang.

      “Bapak.”

      Aku melihat ke sumber suara itu. Itu Mirna. Aku langsung berlari ke arah Mirna. Apakah ini mimpi atau halusinasi ? Namun ini begitu nyata untuk halusinasi. Aku sudah berdiri di depan Mirna. Ini benar-benar Mirna, isteriku. Aku langsung memeluk Mirna. Air mata bahagia mengalir dari mataku dan Mirna. Aku bertemu dengan salah satu keluargaku kembali.

      “Dimana Saskia dan Rizki ?” tanyaku.

      “Mereka tidak selamat Pak. Mereka ada di kuburan masal di blok sana.”

      Aku sudah ikhlas. Aku berterima kasih pada Allah karena telah memberiku kesempatan untuk merawat Saskia dan Rizki. Aku juga berterima kasih karena Allah masih mempercayai Mirna padaku.

      “Tak apa Mirna. Ikhlaskan kepergian anak kita. Setelah ini kita mulai kembali dari nol.”

      Saatnya membuka lembaran baru. Aku dan Mirna masih muda. Aku masih bisa mempunyai anak lagi setelah ini. Semoga Allah memberikan titipan yang lebih berharga dari sebelumnya agar aku bisa belajar mengucapkan terima kasih saat Dia mengambilnya.

Advertisements

2 comments on “Titipan paling berharga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s