Kompreception (PART II)

“Ya ampun. Kamu ngapain diatas situ ayo turun.”

      Teriakan teman-temanku terdengar samar di ketinggian ini. Aku melihat mereka yang seperti titik berderet di bawah. Angin terasa sangat menerpa dari ketinggian ini. Kakiku sudah berada di ujung. Selangkah aku maju maka nyawaku sudah pasti akan melayang, dimakan ketinggian yang ingin menarikku kebawah.

      “Lo jangan nekat, ayo turun.”

      Teman-teman menyemangatiku. Namun lebih baik aku bunuh diri daripada harus di DO. Mama, papa, lebih baik aku mati daripada melihat wajah sedih mereka. Aku melihat ke bawah di kejauhan ada beberapa orang yang seang berjalan di arah tempat aku ingin melompat, mereka membawa kain. Pasti kain itu digunakan untuk menopangku jatuh.

      “Ayo turun. DO bukan segalanya. Gagal ujian komprehensif emang menyakitkan namun mati dengan cara ini pasti jauh lebih mematikan.”

      “Ayo turun, kita semua nggak mau kehilangan lo.”

      “Jangan gila. Pasti ada kompre susulan.”

      Semua semangat itu sudah tidak mempan. Ini memang gedung tertinggi di kampusku. Dan sudah dipastikan aku akan luka berat jika jatuh dari sini. Aku harus cepat mengambil keputusan, DO atau mati ? Karena teman-temanku yang membawa kain untuk menopangku hampir sampai. DO atau mati ? Yah lebih baik mati saja deh.

      Aku melangkahkan kaki ke depan, ke udara yang tidak bisa menopangku. Terpaan angin terasa menghambat lajuku yang cepat ke bawah. Tinggal beberapa meter lagi sebelum ajalku tiba. Tanah sudah terasa sangat dekat sedangkan kecepatanku jatuh semakin cepat. 5,4,3,2,1…

      Kenapa ini ? aku membentur tanah, namun tidak sakit sama sekali. Yang terasa hanyalah pusing sedikit. Tak ada nyeri pada sendi dan tulang yang ada hanya sedikit nyeri pada dengkul. Padahalkan seluruh tubuhku membentur tanah kenapa hanya dengkul yang sakit ? Aku masih bisa membuka mata. Ini pasti sebuah keajaiban. Tak terasa sakit padahal jatuh dari ketinggian lebih dari 15 meter. Apakah aku terlahir dengan tulang besi ?

      Aku membuka mataku secara perlahan, tak ada gerombolan teman-teman yang berdiri didepanku. Aku sedang berada di gang dekat kosanku. Aku berdiri. Sebuah lubang menyandung kakiku. Dengkulku terasa sangat perih. Ya ampun ternyata aku hanya jatuh dan bermimpi dalam pingsanku. Sungguh terasa sangat nyata mimpi yang baru aku alami.

      Aku melihat ke langit, ini cahaya matahari pagi. Aku melihat ke arloji, masih pukul delapan tepat. Ternyata aku pingsan hanya 2 menit, namun kenapa terasa lama sekali. Aku abaikan perih di dengkulku dan berlari menuju kampus. Baru selangkah ketika memasuki jalan besar….

      “Ojek dek.”

      “Boleh bang ke kampus nggak pake lama ya.”

      Untunglah ada tukang ojek yang kebetulan lewat. Masa bodoh walaupun dekat yang penting cepat sampai. Ini antara hidup dan mati. Lebih baik aku mati jika ujian komprehensif kali ini gagal. Aku sampai di depan gerbang kampus, langsung menyerahkan uang 5 ribu tanpa prosesi tawar menawar.

      Aku berlari menuju gedung jurusanku. Sudah pukul 8 lewat 5 menit. Aku melihat penjaga pintu ujian. Ia melihatku dengan senyum. Dari raut senyumnya aku bisa mengetahui kalau aku tepat waktu.

      “Ujiannya udah mulai pak ?”

      “Belum, mulainya setengah sembilan. Ayo cepat masuk, untung dosennya belum datang.”

      Yeeeeees, aku berhasil tepat waktu. Aku langsung duduk di antara teman-teman atau tepatnya adik angakatanku. Aku termasuk veteran disini. Aku menarik nafas lega, mengigat perjuanganku pagi ini. Dengkulku berdarah, ah nanti saja dibersihkan ketika istirahat pertama. Ujian akan dibagi menjadi beberapa sesi, bisa mabok kalau tidak ada istirahat.

      Betapa nyata mimpi tadi. Ah benar-benar mimpi buruk, representasi dari mimpi kenyataan buruk yang tidak ingin aku lalui. Untung saja tidak kejadian. Aku melihat dosen memasuki ruang ujian, saatnya berperang dengan semua ilmu yang telah aku pelajari. Aku mengingat kembali apa yang bisa aku ingat dari otakku. Ah pasti bisa,

      Kertas ujian dibagikan, aku mengisiskan data diriku. Soal ujian dibagikan, namun masih belum boleh dibaca, harus tepat pukul setengah sembilan.

      “Yak ujiannya dimulai.”

      Aku membuka soal ujian. Mataku terbelalak. Soal-soal ini sama sekali belum pernah aku pelajari. Mati aku.

*

      Aku keluar ruang ujian dengan lesu. Sangat lesu sekali. Dari 4 sesi, aku paling hanya bisa mengerjakan di satu sesi, sesi yang lain aku sama sekali tidak yakin. Aduh bagaimana ini ? Padahal aku sudah belajar sungguh-sungguh namun soal yang diujikan benar-benar berbeda dari apa yang selama ini aku pelajari.

      Aku duduk di kursi, melamun. Kalau aku tidak lulus apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku ? Apakah lebih baik aku mati saja seperti dalam mimpiku ? Terlihat wajah senang teman-temanku yang bisa mengerjakan ujian dan terlihat wajah suram sepertiku bagi yang tidak bisa mengerjakan. Namun setidaknya tidak ada yang berada di ujung tanduk sepertiku.

      Ah bagaimana ini ? Lebih baik aku berdoa saja semalaman, berharap keajaiban datang kepadaku. Kalau tidak lulus mungkin aku akan mempertimbangkan masak-masak bunuh diri seperti dalam mimpiku. Besok adalah hari penentuannya.

*

      Aku sudah dijejerkan bersama adik-adik angkatanku. Aku melihat ke deretan mahasiswa yang bagaikan tahanan yang sedang dibacakan hukuman. Aku berdoa dalam hati berharap keajaiban terjadi. Aku melihat ke hari kemarin, suatu mukjizat jika aku lulus. Namun aku percaya mukjizat akan terjadi.

      Sudah pukul 4 sore. Sudah saatnya penentuan dimulai. Berhubung namaku di abjad-abjad tengah aku berdiri di tengah. Malu juga rasanya berdiri di antara adik angakatan. Dan akan lebih memalukan lagi jika aku tidak lulus dan berarti aku akan di DO. Aaarh, ya Tuhan tolong berikan keajaiban untukku.

      Kelulusan sudah mulai dibacakan. Aku memejamkan mata dan berdoa. Dimulai dari abjad A. Waktu yang berdentang bagaikan simfoni kematian yang mengiringi pemikiran pesimisku. Mengapa sulit sekali optimis ? Namaku sudah hampir sampai. 90 % dari nama yang dibacakan lulus. Sarjana-sarjana baru akan segera lahir, apakah aku termasuk di dalamnya ?

      Deg-degan bukan main bagiku ini penentuan antara hidup dan mati. Nama sebelumku sudah dibacakan dan dia lulus. Saatnya penentuan hidup matiku. Namaku sudah disebut. Sekarang tinggal lulus dan tidak lulus. Pasti tidak lulus, aku kan tidak bisa sama sekali ? Ah pergi kau pikiran pesimis. Aku ingin lulus dan keluar dari neraka ini. Dan keputusannya adalah….

      “Kriiiiiiing.”

      Aku membuka mata saat suara nyaring itu mengusik tidurku. Aku membuka mata dengan cepat. Aku langsung terduduk di kasurku. Jantungku masih berdetak cepat. Keringat mengalir di pelipisku. Apa itu barusan ? Jadi itu hanya mimpi ? Apakah tadi aku lulus atau tidak ? Ah sudah pasti jika hal dalam mimpi itu terjadi aku pasti tidak lulus.

      Aku mematikan jam weker yang masih menyala kencang dan mengusap mataku. Kepalaku pusing. Apa yang terjadi denganku ? Seperti insepsi yang mengganggu tidurku. Aku mencubit tanganku, terasa sakit. Aku pastikan kalau sekarang aku sedang tidak bermimpi. Aku dalam alam nyata sekarang.

      Jam 6 pagi. Ujian komprehensif masih dua jam lagi dan aku tidak terlambat. Aku langsung bangun dari kasurku. Aku membasuh tubuhku dengan air. Aku masih jetlag antara dunia nyata dengan dunia mimpi yang terasa tidak memiliki batas. Aku berangkat ke kampus untuk ujian kelulusanku. Aku masih mencubiti tanganku, memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi.

      Jam 8. Aku sudah berada di dalam ruangan, bertanya-tanya tentang materi yang akan diujikan ke peserta ujian lain. Saatnya berperang. Kertas ujian dibagian dan aku membalik kertas soal yang diberikan dosen. Berdoa agar soalnya tidak sesulit di mimpiku.

      Wah soalnya sulit, namun masih bisa dikatakan wajar. Aku masih bisa mengerjakan soal-soal ini. Ujian sudah berakhir, aku keluar ujian dengan kepala yang berputar-putar. Baru kali ini aku menggunakan otak sekeras ini. Memang aku jarang belajar sih. Aku yakin aku akan lulus dan segera keluar dari kampus ini. Lihat saja, tak perlu bunuh diri atau perasaan berdebar ketika hasil dibacakan nanti. Aku yakin aku akan lulus ujian ini.

      Aku terduduk, mencubit kembali tanganku, memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi. Kenapa mimpi malam tadi terasa sangat nyata ya ? Mungkin aku terlalu terbawa pikiran dan akhirnya menjadi kembang tidur. Ah yang penting aku tidak telat dan bisa mengerjakan ujian kompreku.

*

      Aku langsung masuk ke ruangan dengan percaya diri. Ujian kompre sudah aku lalui kemarin dengan lancar. Tak ada telat, tak ada jatuh, tad ada pingsan, tak ada bunuh diri.  Soal yang bisa aku kerjakan kemarin sudah lebih banyak daripada yang tidak bisa. Aku yakin aku akan lulus dari sini. Aku optimis. Saatnya penetuan dilakukan. Semua sudah berjejer satu persatu di ruangan dan sudah saatnya hasil dibacakan.

      Nama sebelahku sudah dibacakan. Semua peserta sebelumku lulus. Aku yakin soal kemarin tidak akan menyandung mereka-mereka yang berotak emas. Saatnya hasilku dibacakan. Aku menarik nafas panjang, aku sudah yakin 100% aku akan lulus. Tak ada debar jantung atau keringat yang mengalir. Aku yakin akan lulus. Namaku sudah disebutkan. Dan keputusannya adalah….

      “….Tidak lulus.”

      Aku kaget setengah mati, seperti tersengat lisrik yang langsung menuju jantung. Kata itu bagaikan obat yang mengambil semua kesadaranku. Jantung ini serasa berhenti berdetak. Pemandangan terasa menghitam. Kakiku sudah tak mampu menopang tubuhku. Aku ambruk di tempatku berdiri. Shocking terapi ini sangat hebat, membuatku pingsan seketika. Aaargh. Lebih baik aku mati sekalian saja.

      Aku membuka mata saat kesadaran mulai kembai ke benakku. Ah…., aku tak berani membuka mata dan melihat kenyataan kalau aku tidak lulus. Aku akan di DO dan pasti orang tuaku akan terkena serangan jantung jika tahu. Aku membuka mata dan mendapati diriku sedang tertidur di depan laptopku.

      Aku bingung. Aku dimana dan sedang apa ? Aku berada di kamar kosku. Sekarang masih 3 bulanan lagi menuju ujian komprehensif. Hah jadi semua itu hanyalah mimpi ? Apakah ini mimpi atau tidak ? Aku mencubit tanganku, terasa sakit. Namun tadi dalam mimpipun juga terasa sakit. Argh, nampaknya hecticnya kuliah sudah memakan kesadaranku.

       Tapi untunglah semua itu hanyalah mimpi. Aku bersyukur itu hanya menjadi mimpi buruk. Kalau semua itu kenyataan aku sekarang sedang menangis atau mencoba bunuh diri. Aku tersenyum. Mungkin jika semua mimpi tadi kenyataan aku akan meminta pada Tuhan untuk membalikkan waktu dan memberiku kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Dan sepertinya Tuhan mengabulkan. Masih 3 bulan sebelum ujian komprehensif kesempatan terakhirku. Aku masih punya waktu untuk belajar. Tak peduli apakah mimpi tadi adalah kenyataan atau tidak yang jelas. Lihat saja Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhirku.

H-5 bulan dari  ujian komprehensif

 

Finished

Advertisements

2 comments on “Kompreception (PART II)

  1. Nightmare pisan lah… hahaha. jangan sekali2 menanamkan ide bernama “tidak lulus”. niscaya level mimpi ke bawah2nya bisa parah. kalo udah ky gitu harus dikasih “kick”, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s