Kompreception (PART I)

by widikrisna

semester depan akan ada ujian komprehensif, ujian kellusanku dari Teknik Kimia, jurusan yang cukup freak.  Sebelum kompre masih ada RP dan penelitian yang menanti. aaaarh. But at least ini memberi gw sebuah inspirasi untuk cerpen fiksi

Hari ini adalah hari terpentiingku dalam 6 tahun terakhir. Aku berjalan diantara tumpukan kertas dan buku yang menggelepar di kamar kosku. Saatnya bergumul dengan kasur, bantal dan guling, bersiap untuk hari ini, HARI INI ???. Aku melirik arlojiku, sudah pukul setengah dua pagi. Sudah bukan besok lagi tapi hari ini. Hari ini aku akan melaksanakan ujian komprehensif kelulusanku. Ujian komprehensif adalah ujian tertulis yang menguji seluruh materi dari tahun pertamaku kuliah sampai tahun terakhir. Tidak terbayang berapa banyak buku yang harus dilahap agar bisa mengerjakan soal-soal itu. Aaargh, kenapa dulu aku memilih untuk kuliah di jurusan ini ?

Hmm ini bukan kali pertama, sudah tiga kali aku melaksanakan ujian ini namun semua berakhir dengan kegagalan. Kesempatan keempat ini adalah kesemptaan terakhirku. Jika kali ini gagal, maka aku akan langsung di Drop Out dari kampusku. Kali ini aku yakin aku bisa mengerjakan semua soal yang akan aku hadapi. Tidak seperti sebelumnya, aku sudah belajar mati-matian kali ini, tak mungkin nasibku berakhir dengan kata TIDAK LULUS.

By the way, pengumuman kelulusan ujian komprehensif di kampusku bagaikan menunggu putusan sidang, apakah kau hidup atau mati. Semua mahasiswa yang mengikuti ujian dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Kemudian mahasiswa dijejerkan. Lalu dibacakan dari A sampai Z apakah dia lulus atau tidak. Ketika pertama kali aku mengikuti ujian komprehensif dan dinyatakan tidak lulus aku tidak shock. Memang aku kurang persiapan. Kali kedua aku dinyatakan tidak lulus, yah tidak shock namun sudah harap-harap cemas. Ketika ketiga kali diberitahu kalau aku tidak lulus, aku panik. Berarti aku hanya punya satu kali kesempatan lagi atau DO.

Kali ini kata TIDAK LULUS hanya akan menjadi masa lalu. Aku sudah belajar mati-matian dengan angkatan yang dulu aku lantik dan plonco. Aku tak kenal mereka, namun karena aku orangnya easy going, jadi aku asal nimbrung saja ketika angkatan mereka sedang belajar bareng. Alhasil aku jadi merasa bodoh sekali ketika dulu tidak bisa mengerjakan soal-soal yang sebenarnya gampang untuk dimengerti jika belajar.

Aku mematikan lampu dan menaikkan selimutku. Saatnya tertidur. Aku memejamkan mata, menuju alam bawah sadarku. Lihat saja besok aku akan menangkan ujian itu dan aku akan lulus. Aku tak bisa membayangkan bagaimana murkanya kedua orangtuaku jika aku keluar kampus melalui sebuah surat bukan melalui toga. Ah, aku tidak mau yang macam-macam. Aku harus optimis dan yang terpenting aku harus tidur sekarang.

 

*

      Aku membuka mataku. Sinar matahari yang menembus gorden membangunkan alam bawah sadarku. Loh kok bukan jam weker yang membangunkanku ? Sinar matahati ? Hah jam berapa ini ? Ujian komprehensif dimulai jam 8 dan tidak boleh ada kata terlambat. Aku membuka mataku dan melihat ke arah jam wekerku. Sudah jam 8 tepat.

      Aku langsung lompat dari kasurku. Siaaaaal, aku kesiangan. Pasti alam bawah sadarku yang mematikan jam weker tadi pagi. Aku terlalu lelah belajar. Aku tak berpikir untuk mandi atau apa, yang terpikir hanyalah langsung menenteng tasku dan berlari ke kampus. Semua alat tulis dan kartu ujian sudah berada di dalam tas.

      Aku keluar kos dan langsung berlari di gang. Jarak kosku ke kampus hanya 5 menit dengan angkot. Aku berlari sekuat tenaga. Mentari pagi menyindirku yang bangun kesiangan dengan sengatnya yang kelewat terang untuk waktu yang masih pagi. Semua orang melihat kepanikanku yang berlari di gang.

      Aku berlari sangat cepat sampai-sampai aku tidak melihat ada lubang yang menganga di depanku. Aku terjatuh. Kepalaku terbentur. Semua berubah menjadi gelap. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku sudah pasti tidak akan telat ujian komprehensif.

*

      Aku membuka mata. Dimana aku ? Ujiannya gimana ? Aku meraba kepalaku yang terasa sakit. Dunia serasa berputar. Aku menunggu semenit untuk menunggu rotasi bumi yang sangat terasa di kepalaku. Aku memusatkan fokusku. Aku berada di sebuah kamar, wanita berbaju putih berjalan di depanku, apakah aku berada di surga ? Ah, aku ternyata dipuskesmas. Seorang wanita berdiri didepanku. Ia adalah ibu-ibu penjaga warung tempat langgananku membeli makan.

      “Kamu nggak apa-apa, tadi kamu terjatuh dan pingsan di depan warung ?”

      “Saya pingsan ?” aku masih belum bisa berpikir rasional.

      “Kamu kenapa tadi lari-lari kayak gitu ?”

      “Saya mengejar waktu untuk….,”

      UJIAN KOMPREHENSIF. Aku langsung melihat arlojiku. Sudah pukul 10 pagi. Hah sudah berapa lama aku pingsan ? Hampir dua jam. Ujian komprehensi sudah berlangsung setengah jalan. Apakah ada susulan ? Aku tidakpernahmendengar ada ujian komprehnsif susulan. Aku langsung bangun dari kasurku.

      “Mau kemana nak ?” tanya ibu penjaga warung yang membawaku.

      “Saya mau ujian bu. Tolong ibu urus administrasinya. Nanti akan saya ganti.”

      Tanpa pikir panjang aku langsung menuju kampus. Ah puskesmas ini agak jauh dari kampus. Aku melihat tukang ojek di depan puskesmas. Aku langsung naik dan mengatakan tujuan tanpa ada prosesi tawar menawar.

      “Pak cepetan pak say audah telat.”

      “Saya takut kena polisi dek.”

      “Nggak ada polisi pak.”

      Aku meyakinkan tukang ojek untuk cepat-cepat dengan iming-iming uang. Akhirnya aku sampai di kampus. Sudah pukul 10.20. Aku berlari menuju gedung program studiku. Nafas ngos-ngosan, semoga semua hafalan dan ilmu tidak menguap bersama dengan nafas ini. Akhirnya aku sampai, namun sepertinya semua sia-sia.

*

      “Ya ampun. Kamu ngapain diatas situ ayo turun.”

      Teriakan teman-temanku terdengar samar di ketinggian ini. Aku melihat mereka yang seperti titik berderet di bawah. Angin terasa sangat menerpa dari ketinggian ini. Kakiku sudah berada di ujung. Selangkah aku maju maka nyawaku sudah pasti akan melayang, dimakan ketinggian yang ingin menarikku kebawah.

      “Lo jangan nekat, ayo turun.”

      Teman-teman menyemangatiku. Namun lebih baik aku bunuh diri daripada harus di DO. Mama, papa, lebih baik aku mati daripada melihat wajah sedih mereka. Aku melihat ke bawah di kejauhan ada beberapa orang yang seang berjalan di arah tempat aku ingin melompat, mereka membawa kain. Pasti kain itu digunakan untuk menopangku jatuh.

      “Ayo turun. DO bukan segalanya. Gagal ujian komprehensif emang menyakitkan namun mati dengan cara ini pasti jauh lebih mematikan.”

      “Ayo turun, kita semua nggak mau kehilangan lo.”

      “Jangan gila. Pasti ada kompre susulan.”

      Semua semangat itu sudah tidak mempan. Ini memang gedung tertinggi di kampusku. Dan sudah dipastikan aku akan luka berat jika jatuh dari sini. Aku harus cepat mengambil keputusan, DO atau mati ? Karena teman-temanku yang membawa kain untuk menopangku hampir sampai, aku harus ambil keputusan sekarang. DO atau mati ? Yah lebih baik mati saja deh.

      Aku melangkahkan kaki ke depan, ke udara yang tidak bisa menopangku. Terpaan angin terasa menghambat lajuku yang cepat ke bawah. Tinggal beberapa meter lagi sebelum ajalku tiba. Tanah sudah terasa sangat dekat sedangkan kecepatanku jatuh semakin cepat. 5,4,3,2,1…

bersambung ke part 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s