Sukses ?

by widikrisna

which one do you choose ? blue or red ?

Aku menikmati pemandangan tanah kelahiranku dari dalam taksi yang membawaku ke ibu kota. Namaku Prima, 35 tahun. Aku menjadi warga negara Amerika setelah 10 tahun berkarir disana. Aku membangun rumah tangga bersama isteri dan kedua anakku disana.

Jetlag masih terasa karena aku baru saja mendarat. Ditambah lagi besok aku sudah harus kembali ke Amerika. Bekerja sebagai manager oil and gas company di Amerika cukup membuatku sibuk. Namun Reuni kampus hari ini jauh lebih penting dari semua rapat di Amerika. Reuni ini adalah agenda yang dipesan sejak 15 tahun lalu. Reuni ini juga menjadi semacam pembuktian akan keberhasilan dan kesuksesanku.

Aku ambil ponselku dan melihat foto kuliah dulu. Wajah-wajah muda ini pasti sudah tua termakan waktu. Pria ini…, Rafka, sahabat karibku. Aku dan dia punya banyak kesamaan : hobi, kepintaran, bahkan selera wanita. Ia adalah teman sekaligus saingan abadiku. Sebentar lagi aku akan membuktikan kesuksesanku padanya.

Jam 9 pagi, masih 1 jam sebelum reuni mulai. Aku menyenderkan kepala dan memejamkan mata, mengingat pertemuan pertamaku dengan Rafka.

Aku masuk ke ruang kuliah. Deretan kursi masih kosong, masih 45 menit sebelum kelas masuk. Aku langsung duduk di kursi yang paling dekat dengan dosen. Ini hari pertamaku sebagai mahasiswa Teknik Kimia, jurusan yang memliki banyak prospek kerja strategis. Aku yakin jurusan ini akan membawaku ke kesuksesan.

Setengah jam berlalu. Wajah-wajah dari berbagai suku dan ras berdatangan. Aku berkenalan dengan mereka sembari menunggu dosen datang.

“Hei, gw Rafka.”

Seorang pria mengulurkan tangannya padaku. Aku membalas jabatan tangan itu.

“Gw Prima dari Jakarta. Lo dari daerah mana ?”

“Gw dari Bengkulu. Nanti kita belajar bareng ya, kayaknya lo pinter deh.”

Prima membalas dengan anggukan. Aku menilik penampilan Prima. Kemeja,celana bahan, rambut rapi, namun wajah tidak terlalu ramah untuk penampilannya yang rapi.Aku yakin Prima adalah orang pandai,namun agak oportunis.

Namaku Rafka,perantau dari Bengkulu. Aku anak petani dan buruh pabrik, hanya rakyat kecil. Aku masuk universitas ini berkat beasiswa, mana mungkin aku bisa bayar uang pangkal. Dosen datang. Kelas langsung hening. Dosen berdiri dan menatap mahasiswa baru yang siap menunjukkan kalau dia adalah yang terhebat. Aku tidak suka dengan pembuktian diri menjadi yang terhebat. Prinsipku adalah berusaha yang terbaik bukan menjadi yang terbaik.

 

Pikiranku kembali ke masa kini. Itulah pertama kalinya aku bertemu Rafka. Dibandingkan denganku, anak pengusaha sukses, kehidupan Rafka jauh lebih melarat. Dimana Rafka sekarang ? Aku sudah lost contact dengannya. Orang pintar seperti dia tidak mungkin tidak menjadi seseorang namun aku yakin aku lebih menjadi seseorang dibanding dia. Rafka tidak bercita-cita menjadi petinggi atau semacamnya. Aku menatap langit dari jendela taksi dan mengingat masa lalu

Aku mengikuti Prima yang dengan PDnya keluar ruang ujian. Aku yakin Prima bisa mengerjakan ujian tadi, seperti yang sudah-sudah. Aku dan Prima sudah menjadi teman akrab. Walau karakternya agak sombong, aku menyukainya sebagai sahabat. Prima, ia begitu pintar dan ambisius. Andai ia tidak oportunis.

“Semester ini udah mau kelar. Resolusi lo semester depan apa Prim? Gw mau ikut Indonesia mengajar nih liburan semester. Lo mau ikut ?”

 “Libur semester ini gw mau internship. Bokap gw ada link ke perusahaan asing. Mending lo internship, ilmu lo lebih kepake.”

“Nggak mau, udah panggilan hati nih. Habis lulus gw mau ikut setahun.”

“Rugi waktu loh Raf, mending kerja atau S2. Gw habis lulus mau S2 keluar negeri. Gw mau ke MTI, udah mulai searching dari sekarang. Habis itu kerja di oil and gas di luar negeri. Itu jauh lebih berprospek buat masa depan Raf.”

“Prim, kapan lagi gw bisa membalas kebaikan Negara yang udah memberi gw beasiswa. Berbagi keberuntunganlah pada rakyat. Kita kuliah disini disubsidi negara, jangan kayak kacang lupa kulitnya.”

“Santai Raf. Trus nanti lo mau kerja dimana? Nggak mungkinkan selamanya di Indonesia Mengajar.”

 “Belum tahu nih. Gw pingin jadi peneliti di bidang teknologi. Menurut gw alasan ketertinggalaan Indonesia di mata asing adalah karena teknologi kita yang tertinggal, padahal SDA kita melimpah. Udah jadi tugas kita untuk nemuin teknologi untuk menikmati SDA itu sendiri bukan orang asing yang meminkamti. “

“Sok idealis lo,” kataku menoyol kepala Rafka.

Aku tersenyum ketika membuka kembali kenangan itu. Rafka ingin menjadi peneliti. Dengan IPK seperti itu ia pasti bisa menjadi seorang peneliti, namun ia juga bisa dengan mudah bekerja di perusahaan manapun. Aku tidak mengerti dengan idealisme Rafka. Well, nanti semua akan terjawab apakah Rafka berhasil memperoleh mimpinya. Aku kembali memejamkan mata.

Saatnya kelulusan. Aku lulus cumlaude tapi aku tidak terlalu mengejar IPK, yang aku kejar adalah ilmu.

“Cie, Prima lulusan IPK tertinggi. Kalau udah sukses jangan lupakan gw ya.”

“Lo yang jangan lupain gw kalau udah sukses,” aku merendah.

“Hei, Gw habis ini ikut Indonesia Mengajar selama setahun, pending kerja. Lo yang udah bakat sukses. Udah keterima S2 di MTI pula.”

“Yaudah kita buktiin aja siapa yang akan lebih sukses pas reunian 15 tahun lagi. Siapapun yang lebih sukses harus…, nyanyi dangdut pas reunian. Gimana ?”

“Boleh, siapa takut. Siap-siap nyayi Prim.”

Bagiku membangun negeri ini terlebih dahulu adalah kesuksesanku yang sebenarnya, tak peduli jika harus menunda kemakmuran diri.

Gedung kampus tempat reuni sudah ramai, aku percepat langkahku. Rindu terobati ketika aku bercengkrama dengan teman-teman kuliahku kembali. Aku sedikit besar kepala ketika mereka kagum dengan pencapaianku. Kapan lagi bisa menyombong ke orang lain. Aku tak melihat gerangan Rafka, kemana dia ? Apa ia tidak datang ?

Sebenarnya aku agak malu datang ke sini. Aku pernah taruhan dengan Prima tentang kesuksesan dan aku yakin ia lebih sukses dibanding aku. Ia pasti sekarang sudah menjadi direktur atau semacamnya, sedangkan aku….

Aku masuk ke gedung pertemuan tempat reuni. Rindu terobati ketika melihat kampus ini. dan bertemu dengan teman-temanku lagi. Mereka bertambah tua, demikian pula denganku. Seseorang menepuk pundakku. Kemeja rapi, celana bahan, rambut klimis. Ia masih sama seperti dulu.

“Prima ? Kemana aja lo?” kataku sambil berjabat tangan dengannya.

“Gw tinggal di Amerika sekarang Raf.”

“Wow, USA. Kerja apa sekarang? I bet lo pasti lebih sukses dari gw.”

“Gw manager oil and gas company di Amerika.”

Terlihat wajah kagum dari Rafka.

“Tuh kan lo lebih sukses dari gw. Sesuai janji, lo dangdutan.”

“Masih inget aja lagi. Emang lo kerja apa Raf ?”

“Gw scientist doang, nggak sehebat lo.”

Dari awal sudah aku duga kalau aku yang akan menang taruhan 15 tahun ini. Yes,Aku lebih baik dari Rafka dan ia mengakuinya. Berarti aku harus menanyi nanti. Tak apalah untuk menyemarakkan suasana.

Saatnya acara diskusi panel. Rafka duduk di kursi pembicara di panggung. Cukup kaget. Kenapa tidak aku saja yang jadi pembicara ? Akukan sudah jauh-jauh datang dari Amerika. Moderator membacakan CV Rafka.

“… Beliau adalah peneliti yang sudah mematenkan 50 paten teknologi dan seorang pengajar tetap di Indonesia mengajar. Sebelum masuk ke topic diskusi panel. Mungkin bisa di­-share apa motivasi Anda melakukan banyak tindakan yang dalam tanda kutip tidak menghasilkan banyak uang untuk Anda ?”

“Eits jangan salah. Royalti paten yang saya buat cukup untuk menghidupi anak isteri saya tujuh turunan. Ok back to poin. Saya sudah mengalami realita kerasnya hidup di daerah selama saya ikut Indonesia Mengajar. Semua karena teknologi kita yang tertinggal padahal banyak potensi di daerah yang belum digali. Saya kuliah diberi beasiswa sepenuhnya oleh Negara. Apakah pantas bagi saya untuk S2 dan bekerja di luar negeri ? Saya punyai utang budi kepada Indonesia. Ini hanya hadiah kecil yang bisa saya persembahkan. Saya tidak mengejar uang, yang saya kejar adalah kemajuan Indonesia terutama di bidang teknologi.”

“Apakah ini sudah menjadi cita-cita Anda semenjak dulu ?”

“Ini bukan cita-cita,namun kewajiban. Dulu ketika lulus saya mendapat surat penawaran beasiswa kuliah S2 di Inggris plus kontrak kerja dinas selama 3 tahun. Saya bimbang. Ini kesempatan langka namun sudah menjadi keinginan saya untuk ikut Indonesia Mengajar setelah lulus. Akhirnya saya abaikan surat panggilan itu. Bagi saya, membangun Indonesia adalah mimpi yang lebih tinggi daripada sekedar kuliah dan bekerja di luar negeri. Ketika kuliah dulu, saya mempunyai seorang sahabat bernama Prima…,” kataku melihat kearah Prima.

Semua mata langsung tertuju padaku ketika Rafka menyebutkan namaku. Tiba-tiba jadi berdebar karena merasakan panasnya pandangan.

“Kami sama-sama pintar, kritis dan intelek. Satu hal yang membedakan kami adalah idealisme tentang kesuksesan. Sebelum kami lulus, kami sempat taruhan siapa yang lebih sukses maka dia harus menyanyi di acara reuni 15 tahunan. Jadi nanti tolong suruh Prima menyanyi ya…,”

Terlihat hadirin tertawa kecil termasuk aku.

“Saya tahu Prima jauh lebih sukses daripada saya. Seharusnya dia yang menjadi pembicara disini. Ia manager Oil and Gas company di Amerika. Dibandingkan dia, saya hanya peneliti yang bisanya menghasilkan paten. Saya dan Prima selalu berkompetisi dan sekarang saya mengakui kehebatan Prima. Saya terima kekalahan saya karena memang inilah kesuksesan menurut saya. Mimpi saya memang seperti ini, berbeda dengan kebanyakan orang, berkutat dengan permasalahan bangsa dan mencoba mencari solusinya. Bagi saya menjadi scientist di negeri ini bagaikan memancing di air bening. Tak perlu keluar negeri untuk mencari karir, masih banyak ikan yang belum dipancing disini. Saya berpesan pada adik-adik mahasiswa panitia reuni 15 tahunan. Bangunlah negeri ini, jangan biarkan penjajag mengambil ikan di air bening ini. Janganlah terbuai dengan rumput tetangga yang lebih hijau. Buatlah rumput negeri ini lebih hijau daripada rumput tetangga. Masih banyak potensi alam Indonesia yang menunggu untuk kalian eksplor adik-adik mahasiswa.”

Aku menyadari satu hal yang selama ini salah.

Acara malam bergulir. Saatnya alumni menggila. Semua kenangan masa lalu diputar untuk membangkitkan nostalgia. Aku berjanji pada Rafka untuk bernyanyi karena menang taruhan. Aku sudah siap dan maju ke panggung.

“Sebelum saya tampil ada sepatah kata yang ingin saya ucapkan ke teman-teman dan adik-adik mahasiswa sebagai panitia. Semua sudah tahu apa pencapaian saya, tadi saya sedikit pamer tentang pekerjaan saya. Hari ini saya sadar persepsi akan keberhasilan saya selama ini kurang tepat. Saya gagal membalas budi dan membawa negara ini lebih maju. Ketika masa muda dulu saya hanya berpikir untuk diri saya sendiri padahal saya besar di negeri ini. Selama ini yang saya bangun adalah negeri penjajah. Oleh karena itu, Rafka sekarang kamu yang naik ke panggung dan bernyanyi disini.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s