Damn Tabung !!!

by widikrisna

Terinspirasi dari penelitianku yang menggunakan tekanan tinggi. hmm semoga cerita ini tetap menjadi cerita fiksi semata. Dan semoga penelitianku lancar (amin).

Aku membawa tabung berdiameter 30 centi ini ke dalam laboratorarium. Ini adalah tabung yang sangat penting untuk kegiatan penelitian. Aku membawa dengan sangat hati-hati. Jangan disangka tabung ini kosong. Tabung ini berisi gas bertekanan tinggi. Bahan dari tabung ini saja terbuat dari stainless steel. Ketebalan tabung ini juga jangan ditanya. Yang jelas tabung ini suah dirancang untuk tahan sampai tekanan yang cukup tinggi, mungkin 200 kali lipat dari tekanan atmosfir. Well aku jadi membawa tabung ini dengan amat sangat hati-hati.

Aku melirik arlojiku, sudah pukul 4 sore. Mungkin aku baru menggunakan tabung ini besok hari saja. Aktivitas di lab sudah harus selesai pukul 5 sore, kalau tidak berarti harus mengurus surat izin yang sangat beribet. Labku terletak di lantai satu, cukup terpisah dari lab yang lain. Aku membuka pintu lab. Ada partner penelitianku disana, sedang menungguku membawa tabung ini.

“Kayaknya ngelabnya besok lagi deh dilanjutinnya. Udah jam 4,” kata Randi.
“Iya, gw juga mikir gitu,” kataku.

Aku dan Randi adalah partner penelitian yang cocok. Kami memiliki pemikiran yang sama. Jadi kami tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam penelitianku. Penelitian ini merupakan salah satu syarat bagiku untuk lulus. Aku meletakkan tabung gas bertekanan itu ke lantai dengan sangat hati-hati. Tabung ini harganya cukup mahal. Di tambah lagi yang terpenting harus pelan-pelan karena urusan safety, hal yang diagung-agungkan di jurusanku. Aku juga tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Data hari ini udah dicatet semua kan ?” tanyaku
“Udah semua Dik,” jawab Randi sambil membalik-balikkan buku yang berisi data hari ini.
“Yaudah beres-beres yuk. Besok mau jam berapa mulai lagi ?”
“Jam 9 aja. Kita jam 8 ada kuliah kan satu jam,” Randi mulai berdiri dari kursinya dan membereskan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini.

Aku ikut membereskan alat yang kami gunakan. Hmm, aktivitas lab memang menguras fisik. Nampaknya malam ini aku akan tidur kelewat nyenyak karena capai.

“Kalau tuh tabung kerannya gw copot gimana ya ?” tanyaku pada Randi sambil melihat tabung gas bertekanan tinggi yang baru aku bawa tadi.
“Paling tuh tabung mental ke langit. Mau coba ?”
“Ngawur. Tuh tabung mahal.”
“Ntar kan kalau udah kelar penelitian kita jual lagi tabungnya ke supliernya.” Kata Randi sembari menilik tabung itu.

Aku menyapu lantai di dekat tabung itu. Sssssh. Aku mendengar suara desisian dari keran (atau valve) di tabung itu. Aku berlutut di dekat tabung yang hanya setinggi pahaku itu. Aku mendengarkan apakah suara desisian itu berasal dari tabung. Bahaya kalau misalnya kerannya bocor.

“Kenapa Dik ?” tanya Randi.
“Kok valve (keran)nya bocor ya. Coba deh lo denger ? Ada suara ssssh dari valvenya ?”

Randi datang ke arahku dan mendekatkan kupingnya ke dekat valve tabung itu. Untungnya gas dalam tabung ini tidak beracun, hanya bertekanan tinggi.

“Iya nih kayak ada suaranya ya. Gimana nih ?”
“Mmm, sekarang jam berapa sih. Telepon supliernya aja apa, takutnya valvenya nggak kuat lagi,” usulku pada Randi.
Randi melihat jam tangannya.
“Yaudah telepon sekarang aja. Minta tuker lagi aja sama yang baru.”

Aku menelpon perusahaan suplier tempat aku memesan gas ini. Sudah pukul 16.15, seharusny masih buka. Perusahaan itu tutup jam 17.00. Teleponnya tidak diangkat-angkat walaupun sudah 3 kali mencoba.

“Nggak diangkat-angkat nih. Gimana ya ? Apa dibawa keluar aja. Minta tolong Pak Andi buat perbaiki atau apa gitu. Dia kan teknisi, jadi pasti lebih ngerti.”
“Yaudah bantuin bawa keluar dong,” kata Randi sudah mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tabung itu.

Kami membawa tabung itu keluar. Entah perasaanku saja atau tidak, desisan dari valve tabung itu terasa semakin terdengar. Wah gawat. Jangan-jangan valvenya tidak bisa bertahan lama. Kami meletakkan tabung itu dengan amat hati-hati di depan lab. Suasana sangat sepi, mungkin karena sekarang baru awal semester, belum banyak aktivitas lab atau akademik yangmembuat harus berlama-lama di kampus.

“Udah taro sini dulu aja. Panggil Pak Andi sana,” aku menyuruh Randi.

Seseorang menepuk pundakku dengan tiba-tiba, membuatku terlonjak kaget. Aku melepaskan peganganku dari tabung itu. Sepertinya tadi dibelakangku tidak ada orang, kenapa tiba-tiba ada yang menepuk. Aku sering mendengar cerita mistis di gedung kampusku dan hal itulah yang terpikir pertama kali ketika pundakku ditepuk.

Gawat. Tabungnya tidak seimbang dan jatuh. Hal yang tidak diinginkanpun terjadi. Nampaknya Valvenya sudah tidak bisa bertahan. Benturan itu pastimenjadi pemicu yang sempurna untuk merusak valve. Tabung tersebut meluncur tepat keatas dengan sudut terbang kurang lebih 60 derajat disertai suara desisan yang cukup besar. Bagaikan roket yang meluncur ke angkasa, tabung itu terbang menuju langit dengan kecepatan yang cukp tinggi. Bagaimana tidak, tabung itu kan berisi gas bertekanan 200 bar (200 kali tekanan atmosfir).  Suasana yang cukup hebat untuk peluncuran roket, yang kurang hanyalah backsound lagu perjuangan tahun 45 saja, namun ini adalah marapetaka jika yang diluncurkan adalah tabung.


Aku menganga, tak percaya dengan apa yang aku lihat. Pemandangan sekali seumur hidup. Sekarang tabung itu sudah hampir tidak bisa aku lihat lagi, sudah meluncur bebas di langit yang biru. Aku panik dan melihat kesekeliling. Untunglah tidak ada yang melihat insiden ini, gedung jurusanku cukup terpencil. Yang melihat hanya aku, Randi, dan biang kerok yang membuatku kaget dengan tepukannya pada bahuk. Siapa sih ? Aku menengok ke belakang.

“Lo ngapain sih nepuk-nepuk bikin gw kaget aja ?”

Ternyata itu Ragil, temanku. Ragil masih terpaku dengan pemandangan luar biasa yang baru saja terjadi. Ia melihatku, keringat mengalir dari dahinya. Akupun demikian. Ini bukan perkara yang sepele.

“Gw tadi mau manggil lo doang.”
“Tapi panggil nggak perlu nepuk juga dong.”
“Lo aja si  yang kagetan, orang Cuma gw tepok doang,” Ragil mengelak.
“Udah-udah,” Randi mencairkan suasana.
“Tu tabung bakal jatuh dimana ya ? Kalau nimpa orang bisa mati tuh, tabung segede itu,” kata Randi. Aku bisa melihat tangannya gemetar karena takut.

Gawat, gawat, gawat. Aku juga jadi ikut gemetaran. Bisa saja tabung itu jauh ke atas rumah warga dan menimpa mereka yang sedang beraktivitas. Aku bisa saja dipenjara karena teledor. Bagaimana ini ?

“Udah. Mending kalian besok pagi beli lagi aja tabungnya, buat alibi. Berdoa aja tuh tabung jatuh di kali. Besok gw bantuin beli deh,” kata Ragil.
“Jadi kita mau menganggap hal ini tidak pernah terjadi ?” tanya Randi.
“Yaudah gitu aja. Nggak ada yang ngelihat ini selain kita bertiga. Besok tinggal beli lagi tabungnya. Berapa sih itu ?”
“2 juta.” Kata Randi.
“Udah gw bisa minta bonyok duit segitu. Mending besok pagi buta kalian telepon supliernya. Sebelum kuliah jam 8 kita beli biar kita punya alibi kalau tabungnya ditemuin itu bukan punya kalian,” kata Ragil.
“Kalau misalnya tuh tabung ditemuin udah nimpa orang gimana ? Kita mau alibi juga atau ngaku ?” tanyaku.
“Kan gw bilang sekarang berdoa aja tuh tabung nyebur ke kali bukan ke orang,” kata Ragil.
“Yaudah sementara gitu dulu aja,” kata Randi.

Kami langsung meninggalkan TKP. Sungguh sore yang membuat shock. Aku berjalan keluar kampus. Ragil keluar dari gerbang yang berbeda. Besok Ragil dan Randi akan mengurus pembelian tabung yang baru. Ok, malam ini aku kaan berdoa semalaman penuh agar tabung itu tidak menimpa orang.

*

Pagi tiba. Aku tidak bisa tidur semalam. Setelah berdoa semalaman aku selalu terbayang tentang tabung itu. Bagaimana jika tabung itu menimpa orang ? apakah lebih baik mengaku atau tidak ? Masa depanku dipertaruhkan disini. Apa yang aku pikirkan diki, ayo optimis.

Aku bangun dan bersiap-siap. Oke aku mulai langkahku keluar kosan dengan optimis. Ragil dan Randi akan membeli tabung baru untuk alibi, dan tabung (semoga) nyebur ke sungai. Aku sampai ke kampus pukul 7.50 untuk kuliah jam 8. Teman-teman sudah ada beberapa yang datang. Randi dan Ragil belum datang. Aku duduk dan mendengarkan perbincangan teman-temanku.

“Eh lo tahu ga. Kemaren di daerah Jembatan ada tabung jatuh loh.”
“Tabung apa ?”
“Kayaknya tabung gas bertekanan tinggi gitu. Katanya disinyalir dari kampus kita.”

Aku langsung keluar kelas. Ah aku pasti tadi hanya berhalusinasi dan salah dengar. Aku masuk ke toilet dan cuci muka. Halusinasi-halusinasi-haliusinasi, aku meyakinkan diriku kalau cerita temanku tadi hanya halusinasi. Seseorang menepuk pundakku.

“Bukan gw,” aku berkata dengan refleks.

Aku melihat ke seseorang yang menepuk pundakku. Ternyata Ragil. Ah dia memang senang membuat orang lain kaget. Oh dia sudah sampai.

“Udah beli ?”
“Udah ada di lab lagi. Untung labnya buka jam delapan.”

Aku dan Ragil masuk ke kelas, sudah ada dosen berdiri di depan kelas. Dosen wanita yang berumur kurang lebih 40 tahunan. Aku langsung duduk dan mendengarkan apa yang akan dosen ajarkan. Deg-degan, entah aku sulit berkonsentrasi sebelum tahu bagaimana nasib tabungku kemarin.

“Yak sebelum kita mulai pelajaran. Ada yang ingin ibu beritahu ke kalian. Kemarin sekitar pukul 4an ada insiden di sekitar Jembatan.”

Aku mulai gemetar. Keringat mengalir dari dahiku. Ah pasti bukan tentang tabung, tadikan aku Cuma halusinasi saja. Aku berkata dalam hati, mencoba optimis diantara kegugupan yang amat sangat.

“Ada tabung gas bertekanan yang tiba-tiba jatuh dari langit. Kemungkinan tabung itu berasal dari kampus kita, namun masih belum tahu dari jurusan mana. Tabung itu jatuh ke atap rumah dan ambruk menimpa anak kecil yang lagi tidur siang. Karena tabung cukup berat dan materialnya keras, anak tersebut meninggal. Sebelumnya anak itu udah di larikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak bisa tertolong. Anak itu meninggal karena gegar otak akibat benturan dengan tabung itu.”

Aku langsung melepas pandang dengan Randi dan Ragil. Aku menelan ludah. Gawat. Ini sudah benar-benar gawat. Bagaimana ini ? Kami sudah membunuh seorang anak kecil karena keteledoran kami. Aku kembali mendengarkan dosen itu.

“Sekarang kasus ini udah sampai di tangan yang berwajib. Kemungkinan kita juga akan diperiksa karena kita juga ada banyak penelitian yang memakai tabung bertekanan itu. Yah ibu tidak menuduh kalian semua, hanya saja sudah menjadi prosedur yang berwajib jika kalian nanti di interogasi.”

Jantungku sudah berdetak sangat kencang, bukan karena dekat dengan wanita cantik, namun karena dekat dengan penjara. Kalau ketahuan sudah pasti kami akan di penjara dan di DO. Ini bukan perkara ringan. Aduh mati aku.

*

“Eh gimana nih ?” aku membuka perbincangan super serius di tempat sepi antara aku, Randi dan Ragil.
“Mau ngaku aja ?” tanya Randi.

Aku juga bingung, Mengakupun tidak akan menyelesaikan masalah. Anak kecil itu sudah meninggal. Paling aku hanya akan mendapat vonis lebih cepat.

“Aduh gw takut dipenjara,” jawab Ragil.
“Tapi Cuma masalah waktu sampai ini ketahuan. Cepat atau lambat pasti polisi akan menemukan banyak bukti dan pasti bukti itu mengarah ke kita. Pasti di tabung itu ada disidk jari kita. Kalau diselidik ke tokonya juga pasti ketahuan. Kita ngebeli dua tabung dalam dua hari, buat apa coba kalau bukan buat alibi,” kataku.
“Terus menurut lo sendiri gimana dik ?” Tanya Rangga padaku.
“Mmmm, menurut gw ngaku aja lah. Lo gimana Ran ?” jawabku dengan ragu.

Sebenarnya apapun pilihannya aku tetap ragu. Mau diam juga ada perasaaan bersalah dan berdosa, mau mengaku juga takut di penjara. Aku melihat ke Randi yang berpikir dengan keras. Aku belum pernah melihat Randi sepanik itu.

“Menurut gw kita ngaku tapi ke keluarga anak itu secara langsung, jangan ke prodi atau polisi. Kita minta maaf, siapa tahu mereka mau menyelesaikan secara kekeluargaan. Kalau mereka memang mau terusin jalur hukum, yaudah kita terima aja”
“Perlu bilang pembimbing kalian nggak ?” tanya Ragil padaku dan Randi.
“Dia kan susah gila buat diketemukan. Nunggu dia kelamaan ah. Langsung aja sekarang kesana,” kata Randi.
“Yaudah. Siapin mental aja deh kita betiga,” kata Ragil.

Aku bertiga langsung pergi ke daerah jembatan, menuju alamat duka tempat tabung itu jatuh. Ini seperti mengantar nyawa saja. Baru kali ini aku merasakan berjalan seberat ini, seakan diujung jalan aku mau dipenggal oleh algojo. Aku hanya bisa berdoa, semoga keluarga itu menerima maafku.

Kami berjalan di gang yang cukup sempit mencari alamat rumah yang dimaksud. Menurut berita anak yang menjadi korban sudah dikebumikan kemarin. Menurut berita ? Ya berita insiden ini sudah menyebar ke seantero negeri. Media sudah mengeksplor kejadian ini. Aaargh, makin memperkeruh suasana.

Kami sudah sampai di depan rumah. Oh my Godb, bakal diapakan aku sama orang tua anak itu. Kalau tidak dimaafkan ya pasti dicacimaki lalu di gampar dan dimasukin penjara. Rumah masih cukup ramai, sepertinya sanak saudara masih banyak yang berkunjung.  Bendera kuning ini apakah bisa kuganti dengan bendera putih agar tidak terjadi pertempuran ?

“Ayo kita masuk. Ran, udah siapkan mau ngomong apa ?”
“Iya.”

Nanti Randi yang akan menjadi juru bicara. Diantara kami bettiga ia yang paling pandai berbicara, ngeles dan ngelobi. Kami menarik nafas panjang dan masuk ke rumah itu. Seorang ibu dan bapak menghampiri kami. Beberapa orang lain yang merupakan sanak saudara ada di dalam rumah.

“Adik-adik ini cari siapa ?” tanya sang bapak.
“Kami mencari Pak Ismail.”
“Ya saya sendiri. Ada perlu apa ?”
“Begini pak, bagaimana ya mulainya,” kata Randi.
“Mari duduk dulu dik.”

Aku langsung masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Si ibu duduk di sebelah sang bapak. Terlihat mata sang ibu sembab karena terlalu banyak menangis. Sungguh itu malah makin membuatku takut dan bersalah. Deg-degan, keringat mulai mengalir deras dari dahiku.

“Jadi ada apa ?” tanya sang bapak. Sang ibu hanya melihatkami bertiga tanpa sepatah kata. Sebentar lagi pasti makian yang keluar dari mulut ibu itu.
“Begini pak. Sebelumnya izinkan kamimemperkenalkan diri dulu. Saya Randi, ini Ragil dan Diki. Saya dengar kemarin anak bapak meninggal karena ada tabung yang jatuh dari atap dan menimpa anak bapak. Sebelumnya kami bertiga mengucapkan turut berduka cita atas kepergian almarhum anak bapak,” kata Randi.
“Ya terima kasih dik.”
“Mengenai tabung itu, kami punya sedikit informasi pak.”
“Adik tahu itu tabung milik siapa ?” sang ibu langsung memotong perkataan Randi.
“Nah itu yang ingin kami beritahu ke ibu. Ibu dan bapak mohon tenang dulu. Jadi kemarin kami…,”
“Apa kalian yang memiliki tabung itu ?” sang ibu langsung menembak dengan pertanyaan to the point.

Randi melihat kearahku dan Ragil. Aku hanya mengangguk kecil pada Randi.

“Apa kalian yang punya, ayo jawab ?” nada bicara ibu itu semakin sangar.
“Sebelumnya kami minta maaf dulu bu. Kami sama sekali tidak bermaksud. Ini sebuah kecelakaan yang terjadi di lab kami bu.”
“Nggak usah bertele-tele. Itu tabung kalian bukan ?”
“Iya bu,” jawab Randi singkat.

XXX –>  Sensor. Adegan selanjutnya lebih baik tidak ditulis karena akn banyak sekali makian dan cacian serta air mata. Tak baik menceritakan orang yang melimpahkan segala amarahnya karena tak bisa membendung kesabaran. Tak ada kekerasan fisik yang terjadi hanya ada kekerasan verbal yang terjadi pada Randi, Ragil dan Diki.

*

Aku berada di kantor polisi. Keluarga itu memutuskan melanjutkan kasus ini ke jalur hukum alih-alih secara kekeluargaan. Keluarga kami betiga akan segera datang ke kantor polisi setelah kami menghubungi mereka. Walau aku hanya bisa mengelak ini kecelakaan, aku masih punya hak untuk membela diri dan menyewa pengacara.

“Jadi kalian. Kenapa kalian tidak mengaku kemarin ?” Polisi itu memandang kami dari kacamatanya dengan tajam.
“Yah kami pikir tabungnya tidak akan sampai jauh dan jatuh menimpa orang pak,” jawabku.
“Kalian ini orang terdidik, masa kalian tidak bisa memperkirakan tabung itu bisa meluncur jauh.”
“Yah maafkan kami deh pak. Ini murni kecelakaan. Kami tak punya maksud sama sekali untuk mencelakakan,” kata Ragil.
“Lagipula ketika kami beli tabung itu juga sudah sedikit bocor pak. Jadi…,”
“Hei, kalian jangan anggap remeh urusan ini. Kalian bisa dipenjara 2 tahun atas kelalaian kalian.”

Hah 2 tahun dipenjara ? Oh my god. Aku langsung melihat masa depanku yang cerah terbang dengan sayap malaikat, menjauh dariku. Goodbye masa depan cerah, selamat datang madesu. Aku merasakan kaki lemas, mungkin kalau aku berdiri aku sudah pingsan sekarang.

“Ok sekarang salah satu dari kalian ceritakan kronologisnya.”

Kami saling lepas pandang. Akhirnya aku yang bicara.

“Jadi begini pak, kemarin saya membeli tabung bertekanan tinggi di toko XXX (no merek). Tabungnya warna hijau muda, biasanya warnanya biru muda. Katanya sih itu sama aja, ya saya percaya aja pak.”
“Hijau muda ?” tanya sang polisi.
“Iya hijau muda. Habis itu…,”
“Tabung yang kita bicarakan warnanya merah.”
“HAH,” kami bertiga kaget bukan main.

*

Hari ini aku terlepas dari pisau yang akan memenggalku. Ternyata itu bukan tabung milikku, entah milik program studi mana. Aku mendapat pelajaran yang tidak bisa aku lupakan hari ini sepulang dari kantor polisi. Jangan pernah bermain-main dengan apa yang sedang aku lakukan walau itu hanya sekedar mengangkat tabung. Kejadian besar bisa terjadi hanya karena kejadian kecil yang saling berinteraksi untuk melakukan efek domino. Api yang besar pun bisa berawal dari lilin kecil yang sudah mau habis. Tak akan ada hal besar jika tidak ada hal kecil. Aku masih bertanya dalam hati, lalu tabungku jatuh kemana ?

Advertisements

2 comments on “Damn Tabung !!!

  1. Setelah melihat beberapa tulisan lu, gw somehow mulai bisa menebak endingnya bakal ky gimana, hahaha. Haduh, tapi naudzubillah Wid. Jangan ampe itu kejadian beneran lah. Safety DOES matter…

    btw, mau mengutip:
    “Perlu bilang pembimbing kalian nggak ?” tanya Ragil padaku dan Randi.
    “Dia kan susah gila buat diketemukan. Nunggu dia kelamaan ah. Langsung aja sekarang kesana,” kata Randi.

    hahaha, setuju banget lah

    • Setuju banget, safety does matter. MOga2 semua tabung yang gw pake selalu anteng di tempatnya.
      Ni terinspirasi juga dari pembimbing di dunia nyata. hehe
      Haha, coba aja tebak endingnya. Bahkan gw yang nulis belum tahu ending setiap cerpen yang gw tulis. hehe. Let it flow aja dan biarkan inspirasi tumpah ke tulisan.
      Big thanks for visitting Ri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s