I Love Your Predictable

Thanks to Jason Mraz dengan lagu i won’t give upnya yang memberi gw sebuah inspirasi untuk sebuah lovestory

“Kamu yakin nih say makan di tempat ini ? Kayaknya makanan disini mahal-mahal deh.”

Aku melihat pacarku menilik setiap sudut restoran. Tentu saja semua makanan di restoran ini mahal. Ini kan restoran perancis yang cukup terkenal.  Untuk makan disini saja, pengunjungnya harus memakai jas. Lampu kristal yang menyala berkilau dengan meja bundar yang dilapisi taplak bermerek bagaikan bintang yang menyala terang diatas benakku. Di atas meja semua piring, sendok dan garpu sudah tersusun sesuai dengan standar restoran. Bunga mawar merah yang harum dan backsound musik jazz sudah mengiringi acara makan malamku.

“Tenang saja say, uang ada kok. Sekali-sekali nggak apa-apa.”

Tentu saja ini sekali seumur hidup. Makan di restoran ini sama dengan satu bulan gajiku dibagi dua. Namun semua itu tak masalah karena malam ini akan terjadi peristiwa penting dalam hidupku. Semoga peristiwa ini hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupku. Malam ini aku akan melamar pacarku.

Pacarku bernama Beby, terkadang orang-orang suka keliru ketika menyebutkan namanya. Jadi terdengar seperti baby atau sayang, sedikit merasa cemburu. Aku dengan Beby sudah 5 tahun menjalin kasih. Usiaku sudah 29 tahun, sudah usia yang lampu kuning untuk menikah. Aku juga sudah memiliki pekerjaan tetap jadi tak ada halangan untukku melamar Beby.

Aku tahu Beby suka pria yang romantis. Walaupun aku tergolong pria yang predictable dan kaku, malam ini aku akan coba menjadi romantis untuk Beby. Oleh karena itu aku membawa ia ke restoran seperti ini. Aku yakin wanita mellow seperti Beby pasti akan terpukau.

“Kamu mau pesen apa ?”

Tanyaku pada Beby sambil membuka buku menu. Glek. Aku tak mengerti dengan nama-nama yang tertera di buku menu. Makanan asing. Ah pasti enak, kan harganya mahal gila. Masa rasa disini kalah sama rasa kaki lima, super tidak mungkin. Awas saja kalau makanannya tidak enak.

“Aku nggak ngerti nih. Nama makanannya aneh semua. Yang enak disini apa sih ?” kata Beby
“Apa ya.”

Setelah 30 menit memilih makanan dengan nama yang kamipun tidak bisa mengejanya akhirnya kami memesan. Buku menu diangkat dari meja. Aku langsung melihat ke pemandangan diluar jendela. Begitu indah kota Bandung dilihat dari ketinggian ini. Kami bagaikan melayang diangkasa dengan bintang, yang merupakan cahaya lampu, berkilau di bawah.

“Kamu suka restoran ini ?”
“Gimana ya ?”

Beby menunjukkan wajah agak kurang srek. Waduh apakah aku membawa dia ke tempat yang salah. Kuharap tidak, karena akan ada peristiwa bersejarah disini. Beby langsung mengubah mimiknya 180 derajat dan tersenyum padaku.

“Aku suka banget kok. Tempat ini indah. Tumben. Aku kira kamu mau bawa aku ke restoran biasa, tapi kok aku disuruh pakai baju rapi kayak gini, makanya aku bingung. Pantes aja, aku mau dibawa ke restoran berkelas kayak gini.”

Perlahan tapi pasti aku menggenggam tangan Beby. Ah biar suasana makin romantis. Setelah makan aku akan berikan cincin untuk melamarnya. Aduh kok biasa banget ya kalau dipikir-pikir rencananya. Oke mungkin Beby mulai berpikiran demikian. But, dari tempatnya aja Beby udah kagum, pasti apapun yang akan dilalui nanti ia akan kagum. Beby tidak menolak pegangan tanganku. Mana mungkin ia menolak. Kami sudah 5 tahun bersama, ketika nonton di bioskop, terkadang malah dia yang memegang tanganku duluan. Selama 10 detik aku memegang pergelangan tangannya.

“Eh aku mau ngerayu kamu dong,” kataku.
“Ngerayu kok bilang-bilang. Sok aja.”
“Kamu pasti tadi habis bikin kue ?”
“Nggak tuh,” kata Beby santai

Aku langsung memasang tampang sedikit ketus namun memohon.

“Iyaa, kok tahu,” kata Beby menggoda.
“Soalnya wajah kamu manis, pasti gulanya tadi nempel.”
“Ih kamu gombal ah,” kata Beby tersenyum kecil.
“Kamu tadi habis bikin kopi ya ?”
“Hah, iya kok tahu,” Beby penasaran dengan lanjutkan rayuanku.
“Soalnya kafeinnya nempel di wajah kamu, bikin mata aku nggak ada ngantuknya kalau ngelihat kamu.”

Beby langsung tersenyum dan mencolek pipiku. Ia tersenyum geli mendengar banyolanku. Makanan datang. Sepertinya lezat. Aku dan Beby langsung makan sambil membalas rayuan-rayuan gombal. Sungguh indah malam ini.  Aku selesai makan. Enak sekali, ya iyalah makanan mahal, pasti enak. Aku memandang Beby dengan hangat. Beby langsung menghentikan makannya ketika aku melihatnya tanpa kedip.

“Kenapa ? Ada yang salah dengan aku ?” tanya Beby.
“Ya.”
“Apa yang salah ?”
“Kesalahan kamu itu adalah kamu terlalu cantik, membuat aku terpanah akan kecantikanmu.”
“Gombal ah.”

Kami sudah selesai dengan makanan penutup. Perut sudah kenyang. Makanannya enak, memang rasa bintang lima berbeda. Saatnya mengutarakan apa yang ingin aku ucapkan dari awal. Sebuah kata lamaran.

“Eh say, aku mau ketoilet dulu ya,” kata Beby.

Aku mengangguk. Beby melenggang pergi dari meja. Oke saatnya latihan terakhir. Aku bercuap-cuap sendiri, mengucapkan kata-kata yang sudah aku rangkai sebelumnya. Beberapa pengunjung lain melihatku dengan bingung. Kalau dilihat aku seperti orang gila yang sedang bicara sendiri. Oke aku sudah siap.

Aku merogoh saku jasku. Tak ada. Hah…, mana kotak cincin yang akan aku berikan kepada Beby, kok tidak ada. Perasaan tadi aku sudah membawanya. Ya ampun kantung jasku bolong. Aku memang jarang memakai jas, jadi aku tak tahu kalau kantungnya bolong. Aduh jatuh kemana itu kotak cincin.

Aku langsung melihat ke lantai. Bisa saja tidak jatuh disini, bisa saja jatuh di rumah atau di…, jalan. Kalau sudah jatuh dijalan berarti sudah goodbye deh cincin. Aku masih terus mencari kelantai. Panik. Masa sih tidak jadi melamar.

“Nyari apaan ?”
“Ini nyari…, eh Beby udah dari toiletnya ?”

Aku melihat Beby sudah berdiri di depanku. Ia menatapku dengan bingung. Aduh bagaimana ini. Ini sudah saatnya aku melamar, kok jadi fail begini. Beby langsung duduk di kursi. Ia menatap pemandangan luar. Wah pasti ia menunggu aku nih berbicara sesuatu. Seharusnya aku mulai melamar Beby sekarang. Keringat mulai mengalir dari dahiku.

“Say, aku ke toilet dulu yah.”
“Oh iya.”

Aku langsung menuju toilet. Wah harus mengatur strategi selanjutnya. Aku sama sekali tidak menyiapkan plan B. Aku masuk ke toilet dan berkaca. Apa aku beli dulu cincin sekarang ? Atau setidaknya bunga ? Aku merogoh sakuku. Loh mana dompetku ? Kok tidak ada ? Jangan-jangan…, o iya ada di meja, aku lupa mengambilnya tadi. Aaaaaaah celaka 12.
Aduh bagaimana ini. Bagaimana aku bisa membayar makanan di restoran super mahal ini tanpa kartu kreditku. Masa sih aku bilang ke Beby dompetku ketinggalan dan cincinnya jatuh. Bisa digampar Beby nih. Oh ya, aku kan masih punya ponsel yang lumayan bisa kupakai untuk membayar disini. Dan kali ini ponselku ada. Aku keluar toilet dan berjalan menuju kasir.

“Bu begini…,”aku berkata pada pelayan wanita.
“Ada apa ?”
“Saya kan tadi berniat mentraktir pacar saya, namun dompet saya tertinggal di rumah.”

Terlihat ekspresi kesal dari pelayan itu.

“Tunggu dulu bu. Saya punya ponsel sebagai jaminan. Nanti saya akan kembali untuk membayar dan mengambil ponsel saya.”

Aku mengeluarkan ponselku. Pelayan itu menilik ponselku. Ponselku harganya 2 jutaan, tak mungkin makan sampai dua juta.

“Baiklah. Saya bisa minta nomor lain yang bisa saya hubungi ?”

Aku menyerahkan nomor rumahku. Sial…, kenapa jadi kacau seperti ini. Aku langsung menuju ke meja. Beby sudah menunggu.

“Mau pulang ?” tanya Beby padaku.

Lanjut ngelamar tidak ya ? Masa sih Cuma makan dan nggak jadi ngelamar. Sial banget sih aku malam ini, udah cincin hilang, dompet ketinggalan, HP lagi digadaiin. Sepertinya malam ini memang bukan malam keberuntunganku.

“Yaudah yuk. Udah aku bayar kok tadi.”

Terlihat Beby kaget dengan keputusanku untuk pulang. Ia sepertinya sudah bisa menebak kalau aku seharusnya melakukan sesuatu malam ini. Kami berdiri dan pulang. Aku kesini naik mobil dan ini mobil boleh pinjam. Kami sudah sampai di depan mobil. Malam begitu indah, andai tidak jadi epic fail seperti ini.  Apakah cincinya ada di mobil ? Aku sedikit melihat ke bawah.

“Nyari apa sih ?”
“Oh nggak.”

Aku mengantar Beby pulang. Sungguh malam yang fail.

*

Malam masih terus bergulir. Setelah mengantar Beby pulang. Aku masih harus kembali kerumah dan ke restoran untuk mengambil ponselku satu-satunya. Masih jam 20.30 malam dan restoran tutup jam 22.00. Masih keburu.
Aku sampai kembali ke restoran. Dompetku sudah berada ditangan, namun cincin sudah raib, jatuh entah kemana. Aku langsung menebus ponselku dan menuju rumah. Sebelum masuk  kemobil seorang satpam menghampiriku.

“Nah ini dia orangnya. Mas tadi ngejatuhin ini. Untung mas balik lagi.”

Satpam itumenyerahkan kotak merah kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan cincin. Nah ini dia cincin lamaran yang aku cari daritadi. Aku mengambil kotak itu.

“Tadi mas langsung pergi buru-buru sih sebelum saya balikin.”

Nasi sudahmenjadi bubur. Sepertinya aku harus mencari rencana lain untuk lamaran. Aku baru menyalakan mobil ketika SMS masuk ke ponselku. Dari Beby.

“Say, kalau misalnya kamu emang nggak serius sama aku aku rela kok mundur.”

Kaget. Kenapa tidak ada angin tidak ada hujan ia tiba-tiba mengatakan seperti ini. Sebelum ini kami tidak berselisih. Apa ia marah karena aku tidak melamar-lamarnya. Situasi tadi sudah sangat cocok untuk lamaran. Aku langsung menelpon Beby, menanyakan maksud SMSnya.

“Halo Beb,”
“Iya halo,” terdengar suara Beby.
“Maksud kamu apa Beb ?”
“Aku pikir kamu ngerti apa maksudku.”

Aku mendegra suara Beby yang agak terisak.  Beby menangis ? Ya ampun. Memang seharusnya malam ini menjadi malam yang indah untuknya. Tapi aku sayang Beby, aku tak mau putus dengannya.

“Beby, aku mohon maaf Beb. Kamu mau aku jujur ?”
“Iya.”
“Sebenarnya malam ini aku mau ngelamar kamu untuk jadi isteri aku. Tapi jas aku bolong dan cincinya jatuh jadinya aku nggak jadi ngelamar kamu. Eh ternyata cincinya jatuh di parkiran restoran. Aku balik lagi nih, soalnya tadi dompetku ketinggalan dan aku pakai HP buat ngegadaiin. Tapi jujur Beb, malam ini aku mau ngelamar kamu. Aku serius sama kamu.”
“….,” Beby hanya terdiam
“Beb…,”
“Kamu ngomong apa sih ?”
“Loh bukannya kamu nge-SMS tadi karena kamu kira harusnya malem ini aku ngelamar kamu ?”
“Nggak kok. Tadi aku telepon kamu. Tapi kok yang ngangkat cewek, dan aku yakin itu bukan ibu kamu. Karena sinyalnya jelek jadi dimatiin telepon kamu.  Aku penasaran siapa cewek itu, aku kira selingkuhan atau apa. Oh jadi itu pelayan restoran yah ? Aku kira orang lain ?”

Waduh. Miskom nih. Hening. Aku sudah terlalu blak-blakan.

“Pernyataan yang tadi beneran kan ?” tanya Beby
“iya.”
“Aku emang udah tahu kamu pasti mau ngelamar aku. Aku malah bingung kok sore ini kamu unpredictable banget; nggak jadi ngelamar, ngebawa ke restoran mewah dengan mobil, suruh aku pakai baju bagus, terus telepon kamu yang ngangkat cewek. Kamu nggak perlu melakukan hal macam-macam untuk mendapatkan hati aku, jadi diri kamu sendiri aja aku udah seneng. Aku seneng sama kamu yang predictable.”
“….,” aku hanya terdiam.
“Aku akan jawab ya atau tidak malam ini juga namun tidak ditelepon. Kamu tunggu aku ya.”

Telepon diputus. Jawab malam ini ? Tidak ditelepon ? Aku berpikir sejenak. Ah aku mengerti. Aku kan predictable. Kemanapun aku pergi untuk menunggu jawaban Beby pasti ia bisa menebak.  I am predictable but it is me.

Just be your self. Pasangan sejati pasti menerima apapun kekurangan pasangannya karena kekurangan itulah yang membuatmu unik dimatanya

Advertisements

2 comments on “I Love Your Predictable

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s