Go To Hell Tawuran

by widikrisna

Teringat masa SMA, jadi dapat inspirasi deh

Kriiiing. Bel pulang menggema diseluruh penjuru sekolah, menandakan beakhirnya pelajaran hari ini. Aku mempercepat gerakan tanganku dalam menyalin kata di papan tulis. Aku menutup buku pelajaranku dan memasukannya ke tas. Jam 11 siang. Hari ini hari Jumat jadi pulang cepat.

“Adi gw fotokopi catetan dong.”
“Oh Angga, boleh. Sekalian turun aja yuk.”
“Ok, tadi udah ada 5 orang juga yang nitip sama gw,” kata Angga.

Minggu depan sudah pekan ujian harian. Kalau begini pasti catatanku laku diburu teman-teman sekelasku. Kenapa begitu ? Ok, aku akan ceritakan sedikit tentang diriku. Namaki Adi, aku kelas 3 SMA. Aku adalah murid yang pandai, maklum aku adalah juara kelas tapi bukan juara umum. Yah masih ada yang lebih dewa daripada aku namun semua teman-teman sekelasku kagum atas kepintaranku. Aku sering mengajari teman-temanku sebelum ujian karena mereka sulit mencerna pelajaran dari guru.

Aku turun ke lantai satu, menuju tempat fotokopi yang berada di koperasi sekolah. Angga berjalan disebelahku. Semoga fotokopi sedang tidak ramai karena aku harus mengejar solat Jumat.

“Senin jadwal ujiannya apa sih ?”
“Senin Fisika sama PKN,” kataku.
“Ah lo pasti nyantai deh. Fisika lo jago. PKN tinggal baca LKS.”
“Ya enggak lah. Practice makes perfect. Gw tetep belajar.”

Dalam hati aku memang sudah yakin bisa mengerjakan soal Fisika yang kata teman-teman sangat susah sekali. Mungkin sudah bakatku bisa mengerti cepat ilmu-ilmu eksak seperti fisika, kimia dan matematika, sehingga aku tidak punya kesulitan yang berarti dalam mengerjakan soal yang kata teman-teman sulit.

Untunglah tempat fotokopi sedang tidak ramai. Angga langsung memfotokopi catatan fisikaku. Tak butuh waktu lama sampai catatanku selesai difotokopi. Suasana Jumat siang memang selalu ramai, apalagi mau pekan ujian harian. Banyak siswa yang sibuk mencari kisi-kisi ujian, mencari catatan, bahkan mencari jawaban ujian. Aduh, aku paling anti dengan hal-hal terlarang seperti mencari contekan. Orang tuaku selalu mengajariku tentang kejujuran dan integritas.

Aku langsung menuju masjid. Lalu lalang siswa melukis lorong sekolah yang menghadap ke lapangan yang biasanya digunakan untuk bermain bola. Masjid sekolahku bertingkat dua, baru saja selesai direnovasi. Aku melepas sepatuku ketika pengajian anak-anak Rohis sudah dimulai.

*

Aku menghadapkan mukaku ke kanan dan kekiri, menandakan selesainya solatku. Suara ramai terdengar dari depan sekolah. Aku tidak bisa konsentrasi karena suara tersebut. Aku mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi di depan sekolah. Hanya sirine polisi yang belum berbunyi, membenarkan asumiku.

Pasti terjadi tawuran sekarang. Sekolahku memang sedang ada konflik dengan sekolah sebelah. Sekolahku dengan sekolah sebelah hanya berjarak 50 meter. Sialnya konflik tersebut dimulai sejak 15 tahun lalu. Aku juga tak tahu awal konflik dengan SMA sebelah. Namun aku tahu awal konflik tawuran kali ini, singgung menyinggung kata di dunia maya beberapa waktu lalu. Aku tak mengerti cara berpikir mereka. Memangnya masalah ringan seperti itu tidak bisa diselesaikan secara baik-baik alih-laih bersinggungan fisik di dunia nyata.

Tawuran, suatu kata yang menunjukkan kontak fisik dua kubu karena suatu masalah tertentu. Sudah banyak temanku yang menjadi korban tawuran. Entah kena bacok, entah kena pukulan benda tumpul, entah terkena sabetan gesper. Sebenarnya apa yang dicari ketika tawuran ? Kalah menang sama-sama bonyok.

Suara sirine polisi berbunyi, bagaikan magnet yang membuat semua orang melihat ke arah gerbang yang berbarak beberapa puluh meter dari masjid. Positif, terjadi tawuran. Jelas-jelas sekarang waktunya solat Jumat, sempat-sempatnya tawuran. Terlihat beberapa anak langsung berdiri dari tempatnya dan menuju gerbang sekolah.

Aku menlanjutkan doaku. Setelah 5 menit aku langsung memakai sepatuku. Suasana terlihat sangat ramai di depan gerbang. Aku jadi penasaran, seberapa parah  tawuran kali ini ?

“Eh Di jangan kedepan nanti kena bacok,” kata temanku.
“Apa sih. Nyantai aja kali. Gw nggak ikut-ikutan.”

Aku berjalan bersama beberapa orang temanku ke gerbang sekolah. Aku berdiri 10 meter dari gerbang dan menyaksikan teman-temanku di pinggir jalan. Mereka sedang diorasi oleh beberapa orang polisi. Bagian seru telah usai. Suara sirine mobil polisi sudah berhenti berdengung, menandakan tawuran telah ditangani yang berwenang. Suasana ramai di gerbang depan mulai buyar.

“Tawurannya sama siapa sih ?” tanyaku pada temanku yang berdiri di atas bangku..
“Biasalah.”

Satu jam aku menunggu disekolah sampai susana cair. Ini yang paling aku takutkan kalau ada tawuran. Pulang naik bus. Hal tersebut menjadi momok bagi siswa yang tidak tawuran, terutama laki-laki. Kalau habis tawuran terkadang ada beberapa siswa SMA sebelah yang bergerombol naik dan menanyakan kepada semua siswa SMA laki-laki ‘sekolah dimana lo ?’. Kalau aku sampai mengakui dari SMA musuhnya, bisa habis aku. Untunglah sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan mereka kalau habis tawuran.

Kesal. Kalau begini semua terancam keselamatannya, bahkan siswa yang tak ingin ikut-ikutan sepertiku. Sebenarnya di SMAku menjadi anak berandal tukang tawuran adalah pilihan. Kalau memang mau ikut, ada semacam ospek untuk mereka. Aku datang ke sekolah niatnya memang untuk belajar bukan untuk itu.

Aku keluar sekolah, menunggu bus datang. Rumahku cukup jauh jadi harus menyambung tiga bus untuk sampai. Sial, tak ada teman yang bisa aku ajak pulang bareng. Kendaraan berwarna jingga biru datang dengan derung yang kencang. Aku masuk, ada seorang anak SMAku naik bus yang sama. Aku duduk di deretan depan, tidak jauh dari supir.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa agar tak ada anak SMA sebelah yang mencegatku. Hawa Jakarta panas, sengat matahari terbawa angin berdebu yang berhembus dari jendela. Sudah setengah perjalanan saat hal yang kutakutkan terjadi. Tiga orang anak masuk dari pintu depan. Aku tahu itu anak SMA sebelah, tampang mereka sangar-sangar.

Jantungku berdebar takut. Aku sudah mempersiapkan berbagai argumen jika ditanya darimana asal sekolahku. Mereka berjalan kebelakang, melewatiku tanpa bertanya apa-apa. Aku menarik nafas lega. Aku setengah menengok kebelakang. Ketiga orang itu sedang berbicara dengan anak SMA yang tadi naik bareng denganku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan namun dari bahasa tubuh aku tahu inti pembicaraan mereka.

Aku melihat temanku dibawa turun oleh ketiga anak itu. Ia pasti mengaku dari SMAku. Gawat. Walaupun aku tidak kenal dia, namun ia teman satu sekolahku. Aku tahu ia adalah anak baik-baik, tak pernah ikut tawuran. Kalau sampai sesuatu terjadi dengannya bagaimana ?

Mereka turun. Akupun ikut turun. Mereka langsung membawa temanku masuk kegang yang berada dipinggir jalan besar. Aku berjalan di belakang mereka dengan diam-diam. Aduh, apa yang harus aku lakukan ? Aku tak bisa berkelahi dan tak mau berkelahi. Sudah menjadi sifatku untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan kepala dingin.

Mereka memasuki sebuah gang kecil yang sepi. Aku mengintip dari mulut gang. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Aku melihat wajah temanku. Ia ketakutan. Apa aku kabur saja dan tak ikut campur ? Tunggu, jika aku yang berada diposisi dia, aku yakin siapapun yang berdiri di mulut gang tidak hanya akan mengintip namun juga akan membantuku keluar dari masalah.

Aku memberanikan diri masuk ke gang itu. Salah satu anak melihatku dan berjalan kearahku. Aku memutar otak, memikirkan apa yang ingin aku ucapkan.

“Siapa lo ?”
“Bentar-bentar. Santai bro. Gw nggak mau ngajak ribut. Maaf sebelumnya. Itu temen gw jangan diapa-apain lah. Dia nggak pernah ikut-ikutan.”
“Lo satu SMA juga sama dia ? Woi kita dapet mangsa baru nih,” kata anak itu pada kedua temannya.
“Udah habisin aja cuy,” teriak salah satu dari mereka.
Takut. Keringatku mengalir dari pelipisku. Jantungku berdegub kencang. Tenang, aku menarik nafas panjang.
“Sabar bro. Gw mau kita damai. Nggak perlu sampai ada pertumpahan darah atau apa. Kita bisa kan temenan aja.”
“Banyak bacot lo.”

Bogem mentah mendarat di pipiku. Aku terpelanting ke belakang. Anak itu hendak melanjutkan serangannya. Aku langsung berdiri. Ia melancarkan tendangannya tepat ke arah perutku. Tubuhku terasa bonyok. Aku melihat kearah temanku yang satunya. Tinggal tunggu waktu sampai dua orang itu melakukan hal yang sama kepada dia.

Aku kembali fokus pada anak yang menyerangku. Ia mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya. Aduh, mati aku. Ini sudah tindak kriminal tingkat tinggi. Moral mereka sudah bobrok. Aku sempat berpikir kabur namun bagaimana dengan temanku ?
Anak itu berlari kearahku, hendak menusukku dengan pisau itu. Aku lakukan hal yang pertama terlintas diotakku. Aku melepas tasku yang berat karena terisi buku pelajaran. Aku ayunkan tasku dengan kencang dan tepat terkena tangan anak itu sebelum tangan berpisau itu yang mengenai kakiku terlebih dahulu. Pisau itu terlempar ke pinggir gang.

Entah dapat kekuatan dari mana. Aku tendang kepala anak itu. Ia terhuyung ke belakang. Aku ambil pisau yang terjatuh dan berlari keluar gang. Berkurang senjata pasti lebih baik. Di ujung gang, aku buang pisau itu ke tempat sampah. Aku tidak akan bisa melawan mereka. Aku harus panggil warga untuk membantuku. Aku melihat beberapa tukang ojek di pinggir jalan raya.

“Pak di gang itu ada anak lagi dikeroyok pak. Tolong dibantu untuk melerai.”

Beberapa tukang ojek langsung berjalan bersamaku ke gang tadi. Ketiga anak itu sudah tidak ada, hanya ada temanku yang terbaring di ujung gang. Mereka pasti sudah mengira apa yang akan aku lakukan. Aku tak peduli, aku hanya peduli dengan temanku yang tidak ada ikut campurnya dengan konflik antar dua sekolah ini.

Ia terbaring pingsan, tubuhnya memar-memar karena luka. Untunglah tidak ada kucuran darah atau luka bacokan ditubuhnya. Aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat dibantu beberapa tukang ojek.   Kesal, geram, marah. Hanya itu yang aku rasakan sekarang. Sudah saatnya perselishan ini diakhiri. Aku tak mau ada orang yang tak ada hubungannya terkena batunya seperti ini lagi.

*

Jarkom Angakatan. Teman-teman besok Sabtu jam 9 Kumpul angkatan di Taman Kotak. Ada banyak hal yang harus dibicarakan terkait kejadian kemarin

Biasanya aku selalu acuh dengan jarkom seperti ini. Aku tahu yang akan dibicarakan bukanlah tentang perdamaian namun tentang bagaimana melanjutkan konflik. Kali ini berbeda. Aku akan datang.  Bukan untuk mendukung apa yang mereka lakukan, melainkan untuk menyadarkan kesalahan yang mereka perjuangkan selama ini.

*

Sabtu pagi yang cerah, bersama dengan matahari yang memandikan Jakarta, mengusir embun yang bersemayam di helai daun yang merunduk. Pukul 9.30 pagi. Aku berjalan menuju kumpul angkatan. Teman-teman kaget karena kedatanganku. Aku memang tidak pernah ikut kumpul seperti ini.

“Eh tumben lo dateng Di. Dalam rangka apa ?” sapa temanku.
“Ada yang mau gw sampaiin nanti.”

Aku menunggu sampai kumpul angkatan dimulai. Semua mulai bertanya-tanya apa yang ingin aku ucapkan. Kumpul angkatan dihadiri kurang lebih 50 orang dan kebanyakan pentolan angkatan yang berandal-berandal. Kumpul angkatan dimulai dengan pembukaan dari ketua angkatan, orang yang paling tangkas dari semua pria di angkatanku.

“Teman-teman makasih udah dateng. Jadi hari ini kita mau ngeflorin kejadian hari Jumat kemarin. Mungkin ada yang belum tahu kenapa. Jadi begini, Rabu kemarin tuh ada anak kelas 1 yang lewat SMA sebelah. Terus pas lewat dia dicegat terus ditanyain. Siapatuh yang ngejelek-jelekin SMA dia di facebook sama blog. Nadanya agak keras gitu sih. Nah pas itu ada anak kelas 3 SMA kita yang ngelihat dan langsung ngebantuin anak kelas satu. Nah anak SMA sebelah salah sangka. Terus….”

Aku mendengarkan dengan seksama kronologi yang mendasari kejadian hari Jumat. Nampaknya akan sulit ketika aku ingin menanamkan apa yang aku maksud pada mereka. Paradigma mereka sudah sangat berbeda denganku.

“…, nah begitu kronologisnya. Ada yang mau kasih tanggepan.”

Aku langsung mengangkat tanganku. Semua melihat kearahku. Ketua angkatan mempersilakanku bicara.

“Maaf teman-teman. Mungkin kalian semua kaget kenapa gw datang kesini. Gw tidak pernah ikut tawuran atau semacamnya. Gw tidak mengalami ospek seperti kalian. Semua itu memang pilihan gw. Namun gw teman kalian bukan ? Kita pergi di satu sekolah yang sama, di kelas bersama. Terlepas dari perbedaan komitmen dan paradigma, kita semua berteman. Kemarin selepas solat Jumat terjadi tawuran. Sebenarnya gw nggak kaget tawuran terjadi karena penyebab tawuran emang udah kedengeran semenjak kemarin. Lalu seperti tawuran-tawuran yang sedia kala, gw hanya diam dan menyaksikan dari belakang gerbang sekolah. Mungkin menurut kalian gw terlalu pengecut, lemah dan penakut untuk bergabung dengan kalian. Itu emang benar. Gw emang nggak punya nyali untuk berperang membela apa yang kalian perjuangkan. Lalu setelah tawuran reda, gw pulang naik bus. Jujur, suasana setelah tawuran adalah suasana yang paling membuat gw takut. Kenapa ? Karena gw takut dicegat oleh SMA sebelah dan gw nggak bisa ngelawan. Alhamdulillah selama ini gw nggak pernah dicegat. Mungkin nggak semua beruntung seperti gw. Jumat kemarin gw satu bus sama Damar, anak 3 Alam 3, kalian tahu kan ? Di tengah jalan naik beberapa anak SMA sebelah dan langsung menghampiri Damar yang duduk di belakang. Gw dan Damar duduk berjauhan. Gw mengamati Damar yang diinterogasi oleh mereka. Tak lama kemudian Damar dibawa turun. Gw nggak kenal Damar, namun gw tahu ia sama seperti gw, tak memilih untuk ikut dalam konflik tawuran itu. Gw yang pengecut dan penakut ini ikut turun dan mengikuti dari belakang. Gw takut sesuatu terjadi pada Damar. Bagaimanapun satu almamater dengan gw berarti ia teman gw. Di gang yang kecil terjadi perkelahian. Gw maju untuk menolong Damar. Singkat kata setelah perkelahian gw dengan salah satu anak, gw akhirnya mundur dan memanggil tukang ojek di pinggir jalan untuk menolong Damar karena gw Cuma anak ingusan yang nggak bisa berkelahi. Terus kalian tahu sekarang Damar ada dimana ?”

Tak ada yang menjawab.

“Damar sekarang di rumah sakit. Ia memang tidak terkena bacok atau tusuk namun ia memar berat dan patah tulang. Kalian bayangkan pada dia apa yang bisa terjadi pada dia jika tidak ada yang menolong dia ? Mungkin dia udah mati sekarang.”
“Siapa Di yang nyegat si Damar ? Emosi gw,” kata salah seorang anak.
“Buat apa kalian tahu ? Untuk menciptakan Damar-Damar lainnya ? Disini kedatangan gw bukan untuk menyulut emosi kalian atau memberikan kalian bola panas untuk kalian tendang ke SMA sebelah. Bukan. Disini gw Cuma mau berkata pada kalian. Butuh berapa Damar untuk menghentikan mata rantai ini ? Apakah kita harus menunggu sampai ada yang meninggal baru kalian sadar atas akibat yang kalian perbuat ? Buka mata kalian teman. Apa yang kalian selama ini perjuangkan hanyalah mata rantai yang dibubut kepada kalian dari kakak kelas kalian ? Sekarang gw tanya ke kalian semua. Apa sebenarnya akar masalah dari perselihan kita dengan mereka ? Akar masalah yang benar-benar akar masalah.”

Hening. Aku kembali melanjutkan.

“Jadi selama ini apa yang kalian perjuangkan ? Kalah menang sama-sama bonyok. Kalian hanya memperjuangkan ego dan gengsi. Masih banyak cara lain untuk menunjukkan kehebatan, turnamen olahraga mungkin. Jika kalian bertanya kepada gw, apakah kita bisa mengakhiri perselisihan ini ? Tentu bisa. Hanya perlu menurunkan ego dan gengsi untuk memulai kata maaf yang akan memotong mata rantai itu. Mungkin bagi beberapa kalian itu adalah perkataan yang menjijikan. Namun sekarang kalian pikirkan Damar yang sedang terbaring di rumah sakit. Kita semua tentu tidak menginginkan hal itu terjadi bukan ? Namun secara tidak langsung ego dan gengsi kita menyebabkan hal yang tidak kita inginkan tersebut terjadi. Selesaikan masalah dengan kepala dingin bukan dengan fisik. Kita bukan berada di zaman bar-bar. Kuncinya mudah, turunkan ego dan gengsi untuk memulai sebuah kata maaf. Gw sangat mengharapkan keberanian kalian untuk memulai hal ini. Gw nggak mau ada Damar lain sebagai korban dari ego dan gengsi ini.”

Terlihat yang lain diam atas apa yang aku ucapkan. Aku tahu tak mungkin mengubah paradigma dalam waktu instan. Persepsi benar dan salah antar aku dengan mereka sangat berbeda. Walau aku tahu usahaku tidak akan mengubah paradigma mereka, setidaknya aku sudah melakukan suatu usaha nyata untuk memotong mata rantai ini. Sebuah mata rantai yang akan selalu diestafet dari tahun ketahun. Mata rantai yang membuat perselisihan dan korban yang berjatuhan.

Setelah kejadian itu, tawuran memang masih terjadi. Aku memang gagal menyadarkan mereka, namun keberanianku menentang paradigma yang salah tersebar satu sekolah. Aku tahu masih banyak siswa lain yang sadar akan kesalahan paradigma itu, namun mereka hanya diam.  Mungkin setelah ini akan muncul kembali aku yang berikutnya yang berani bertindak lebih untuk memotong mata rantai itu.

Jadi bagi siapaun yang menganggap sebuah paradigma itu salah, jangan diam. Lakukan sesuatu yang nyata untuk mengubahnya. Paling tidak mari berdiri dan katakan kebenaran menurutmu. Mayortitas belum tentu benar. Jangan pernah takut melawan arus dan kehilangan teman karena kau dibenci ketika mengatakan kebenaran menurutmu.

Advertisements

2 comments on “Go To Hell Tawuran

  1. Hmm… inspiratif. Lu di situ jadi siapa Wid? hehe…

    Anyway, despite lu sebagai sudut pandang orang pertama ato orang ketiga, gw suka ama cerpen lu ini. Memang betul, kita butuh orang-orang seperti Adi di situ. Nilai yang dia tanamkan itu benar, tapi ga semua orang sependapat dengan dia. mending ga sependapat, bahkan di kenyataannya pun banyak orang yang malah sama sekali ga dengerin si Adi itu saat dia berkomentar.

    Yang penting, seperti kata Soe Hok Gie, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah dalam kemunafikan”

    • Kalau sudut pandang disini gw orang pertama Ri. Gw jarang make sudut pandang selain orang pertama.
      Ini terinspirasi dari kisah nyata loh pas SMA,tapi nggak semuanya nyata. Ada part-part yang beneran realita loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s