The House (PART I)

by widikrisna

Sekali-sekali buat cerita horor boleh juga

“Ayo kita pergi dari rumah ini. Cepat bawa semua barang-barang kita yang sudah berada di dalam koper, ayah akan siapkan mobil.”

Aku belum pernah melihat ayahku sepanik itu. Mukanya pucat pasi, menahan takut yang menggerayangi kesadarannya. Keringat mengalir di pelipisnya. Aku melihat bunda yang sedang memasukakn baju ke dalam koper dengan ekstra cepat. Baju-baju menjadi banyak yang kusut. Aku tahu bunda, ia orang yang rapi dan teliti, namun kali ini ketakutanya membuat bunda kehilangan ketelitiannya. Bunda sama paniknya dengan ayah.

“Waaaa.”

Suara tangis terdengar dari ruang keluarga. Adikku sedang duduk di kursi. Ia menjadi sering menangis seminggu belakangan ini. Adikku memang masih kecil. Dia baru berusia 5 tahun, sedangkan aku berusia 8 tahun.

“Nindi, kamu tenang dulu ya nak,” kata bunda sambil memasukan baju ke dalam koper.

Adikku yang berada di ruang keluarga tentunya menghiraukan perkataan bunda.

“Indra, tolong kamu tenangkan Nindi.”

Aku menuju ruang keluarga, duduk di sebelah Nindi. Aku berusaha menenangkan Nindi. Kalau aku jadi dia, aku juga akan menangis karena mengalami hal-hal aneh belakangan ini. Hal-hal yang tidak bisa diterima secara nalar.

Suara mobil terdengar di garasi. Sudah saatnya berangkat meninggalkan rumah ini. Koperku dan Nindi sudah dipersiapkan bunda terlebih dahulu. Hari semakin senja. Keluargaku sudah tidak mau berlama-lama disini, apalagi melewatkan satu malam lagi disini. Kami sudah siap. Barang-barang dimasukkan ke dalam mobil.

Derung mobil yang kencang mengantar kepergianku dari rumah itu. Terlihat wajah semua anggota keluargaku yang panik. Nindi masih sedikit terisak. Aku menengok ke belakang, ke rumah yang aku tempati selama seminggu belakangan ini. Rumah besar yang megah, tingkat dua dengan pilar besar. Cat putihnya masih bagus, belum terkeropos. Halaman yang cukup besar dengan pohon palem yang indah. Garasi yang cukup besar untuk menampung dua buah mobil. Sekilas rumah itu tak ada bedanya dengan rumah lain di komplek ini.

Memang janggal, aku dan keluargaku mengalami sendiri berbagai macam kejanggalan yang membuat bulu kuduk merinding. Hal-hal itu sama sekali tak bisa diterima secara nalar. Semua kejadian dan penampakan yang dialami sepertinya makin membuat wajah mereka pucat pasi dan memutuskan untuk pergi dari rumah yang baru di beli seminggu lalu itu. Aku mengerti mengapa mereka panik, namun hanya aku yang mengerti arti kejadian yang kami alami selama seminggu. Biarlah hanya aku yang tahu.

1 MINGGU LALU

“Wah rumahnya besar ya bunda,” kataku pada bunda.

“Iya. Alhamdulillah bisnis bapakmu lancar, kita jadi bisa beli rumah ini.”

Hari itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah itu. Rumah yang lebih besar dari rumahku yang dulu. Aku melihat ke perabot yang lebih mewah dari perabot di rumahku dulu. Sebagian perabot dirumahku dulu juga ada disini. Senang juga nih tinggal di rumah gedongan seperti ini. Aku langsung duduk di sofa yang empuk.  Ah enaknya…, Nindi, adikku, langsung mengikuti duduk di sebelahku. Terlihat raut senang dari wajah Nindi.

Bunda masuk ke dalam rumah. Ada empat koper berisi baju-baju yang siap dibongkar dan dimasukkan ke lemari. Ketika membeli rumah ini, kami sudah mendapat sebagian perabot dan perabot dari rumahku yang lama juga sudah dipindahkan dengan mobil pickup kemarin. Jadi hari ini rumah baruku sudah siap huni.

Bapak masuk sambil menenteng kunci mobil. Ia duduk di sebelahku, mengambil remote televisi dan menyalakannya. Suara televisi memecah keheningan di rumah ini. Bapak menilik setiap sudut rumah.

“Gimana Indra, kamu suka akan rumah baru kita ?” kata bapak.

“Suka pa.”

“Bapak bisa bantuin beres-beres. Kita belum punya pembantu disini,” kata bunda yang terlihat panik melihat koper yang masih menangkring.

Siang ini dilalui dengan berberes-beres. Maklum rumah baru. Besok rencananya bunda akan memasak nasi kuning dan membagikan kepada tetangga. Ya itu tradisi untuk mengeratkan sesama tetangga. Aku tak tahu budaya dilingkungan elit seperti itu apakah sama dengan dulu. Tak apalah, nasi kuning buatan bunda kan super enak.

Tak ada kejanggalan yang terjadi sampai malam tiba. Aku mulai merasakan hal-hal aneh terjadi. Tunggu, perlu di garis bawahi. Kita sedang berbicara tentang hal supranatural dan misitis. Aku tidak takut dengan hal-hal itu. Why ? Mungkin aku dianugerahi kelebihan dibandingkan keluargaku yang lain. Aku memiliki indera keenam.

Aku tahu aku berbeda semenjak kecil. Aku memiliki firasat yang cukup kuat. Aku bisa mendeteksi jika ada makhluk halus yang berinteraksi secara dekat dengan aku atau keluargaku. Aku juga bisa tahu jika ada makhluk halus yang berniat tidak baik pada keluargaku. Terkadang aku juga bisa berkomunikasi dengan mereka. Yah aku anggap itu kelebihan yang tak perlu diceritakan kepada kedua orang tuaku.

Sekilas, aku sama sekali tidak melihat adanya aktivitas makhluk halus di rumah ini yang perlu dikhawatirkan. Aku yakin sekali karena aku sudah melatih kemampuan indera keenamku ini semenjak aku menyadarinya. Mungkin jika besar nanti aku bisa jadi cenayang. Hehe. Namun tetap saja hal-hal yang akan aku lalui malam ini janggal.

“Nindi, ayo sayurnya dihabiskan.”

Nindi terlihat tidak menghabiskan sayur kangkungnya, ia memang tidak suka sayuran. Namun tentunya bunda punya siasat jitu. Dalam daging rolade yang ia buat, ia masukkan bayam cincang untuk suplai sayuran. Hmm bunda yang pintar.

Makan malam usai. Aku langsung nonton televisi. Minggu ini aku libur sekolah, aku baru saja naik kelas 4 dan sekarang masih masa libur kenaikan kelas. Nindi juga sedang libur di TK. Kami memang merencanakan pindahan ketika libur sekolah. BUnda mengantar Nindi naik ke kamarnya. Untuk seumuran dia, Nindi termasuk anak yang mandiri. Ia sudah memiliki kamar sendiri dan ia tidak takut untuk tidur sendiri.

“Kamu belum ngantuk ?” tanya bapak.

“Belum pak. Besok kan libur.”

Aku menonton sepak bola, mengikuti apa yang bapak tonton. Minatku pada olahraga ini sedang naik. Aku sedang mencari kenikmatan menonton pertandingan sepak bola. Bapak sangat senang dengan sepak bola. Ia bahkan rela-rela begadang menonton sepak bola.

Aku sudah setenag tidur didepan televisi ketika mendengar suara teriakan dari lantai dua, dari kamar Nindi. Aku langsung terbangun lagi. Bapak yang sedang asyik menyaksikan injury time babak dua langsung berlari ke lantai dua. Aku mengikuti bapak. Yah walaupun sepak bola adalah favoritnya, anak tetap nomor 1. Bapak membuka kamar Nindi.

`    “Nindi, kamu kenapa ?” tanya bapak.

Terlihat Nindi ketakutan. Wajahnya pucat. Ia mengenakan selimut sampai ke lehernya.  Bunda sudah berdiri di belakangku.

“Nindi tadi lihat bayangan di jendela,” kata Nindi melihat ke jendela.

Bapak mendatangi jendela dan membuka gorden. Tidak ada apa-apa.

“Tidak ada apa-apa. Bayangan apa Nindi ?”

“Bayangan,” kata Nindi.

Bunda langsung duduk di kasur Nindi.

“Nindi, mungkin kamu hanya berhalusinasi. Sekarang kamu tidur lagi ya, jangan lupa kamu baca doa dulu sebelum tidur.”

“Tidak, Nindi tidak berhalusinasi. Tadi Nindi benar-benar melihat bayangan di jendela.”

“Nindi mau bunda buatkan susu agar lebih nyaman tidurnya ?”

“Tidak. Bunda tidur sini saja.”

Bunda melihat ke bapak.

“Nindi, tidak ada apa-apa di jendela…,”

“Tidak Nindi benar-benar melihat bayangan tadi.”

“Yasudah malam ini bunda tidur disini saja,” kata Bunda.

Insiden berakhir. Aku memutuskan untuk tidur. Kamarku berada di lantai dua, dekat dengan kamar Nindi. Aku merebahkan tubuhku dikasur. Aku membuka buku, membaca komik terbaru yang belum sempat aku baca. Ya aku suka komik, dan sebagai hadiah kenaikan kelas aku dibelikan komik cukup banyak sebagai bacaan libur.

Sudah setengah buku aku baca ketika aku mendengar suara dari jendela. Aku meletakkan bukuku. Aku pertajam indera pendengaranku, seperti ada suara di balkon. Jendela kamarku dan kamar Nindi menghadap ke balkon rumah. Apakah Nindi tadi jujur ? Jangan-jangan dirumah ini memang ada penunggunya. Namun aku sama sekali tidak merasakan firasat akan adanya makhluk halus.

“tuk-tuk.”

Seperti ada yang mengetuk jendela kamarku.Aku bangun dari kasurku, menuju ke jendela. Gorden kuning menutup pemandangan mapam yang gelap. Masa sih ada orang di balkon rumah malam-malam begini. Aku pegang gorden kamarku dan kusibak gorden itu.

Aku tercengang dengan apa yang aku lihat. Begitu menyeramkan sosok yang muncul dibalik gorden itu. Sosok itu menatapku dengan tatapan ketidaksukaan. Ternyata Nindi tidak berhalusinasi tadi. Kalau orang awam yang melihat pasti ia akan langsung teriak atau apa. Aku sama sekali tidak takut, ini bukan pertama kali aku menghadapi situasi ini.

Aku terus menatap sosok itu di jendela. Selama tiga puluh detik aku memandang sosok itu dengan tajam sampai akhirnya aku menutup gorden jendelaku. Aku kembali ke kasur seakan tidak terjadi apa-apa. Sungguh ini janggal sekali, bahkan untuk aku yang memiliki indera keenam.

*

Pagi telah terbit, menghapus semua hitam dilangit. Aku membuka mataku, sosok itu telah hilang dari gorden. Aku turun ke lantai satu. Sudah pukul setengah delapan. Sudah ada semangkuk bubur ayam di meja makan.

“Indra kamu makan dulu itu bubur ayam kamu.”

Bunda datang dan menyuruhkan makan. Perutku memang lapar, aku langsung babat bubur ayam itu. Ah kenyang…. Bunda sedang memasak nasi kuning di dapur. Porsi yang cukup banyak, maklum untuk para tetangga baru.

“Semalem ada kejadian aneh bunda ?” tanyaku pada bunda yang sedang menggoreng ayam.

“Ada…, eh nggak ada. Kejadian apa maksud kamu ?” tanya bunda yang terlihat sedikit gugup.

“Yang dilihat Nindi beneran ada ?”

“Nggak ada apa-apa kok. Nindi hanya berhalusinasi aja.”

“Nindi dimana ?”

“Lagi jalan-jalan sama bapak.”

Aku kembali ke ruang keluarga. Rumah ini masih agak kotor, belum terjamah kemampuan bersih-bersih bunda. Tak sampai lima menit aku nonton terdengar suara teriakan dari arah dapur. Itu teriakan bunda. Aku langsung berlari ke arah dapur.

“Ada apa bunda ?”

“Nggak, tadi tangan bunda kena minyak.”

Bohong. Terlihat wajah pucat dari muka bunda. Percikan minyak yang tenang,sepertinya lebay jika harus sampai berteriak segitu kencang.

“Bunda nggak bohong kan ?”

“Nggak kok. Udah kamu sana lanjutin nonton TV.”

Bapak dan Nindi pulang dari jalan-jalan keliling komplek. Oke pagi hari ini dihabiskan dengan mendengar cerita jalan-jalan Nindi kepadaku. Oh aku baru tahu ada taman yang cukup bagus dekat kompleks. Aku harus kesana nih, ah tapi sudah siang, udara sedang panas, jadi malas.

Sudah jam makan siang, 10 piring nasi kuning lengkap dengan ayam, kering tempe, perkedel, telur dadar, dan abon sudah siap untuk dibagikan ke tetangga dan masih ada lima piring lagi menyusul. Nasi kuning buatan bunda memang juara, aku saja nambah ketika makan siang, pasti tetangga banyak yang suka.

“Indra, Nindi, kamu bantuin bunda ya buat bagi-bagiin ini ketetangga.”

“Oke bunda,” jawabku dan Nindi kompak.

Aku dan Nindi sedang makan siang sedangkan bapak dan bunda sedang mempersiapkan nasi kuning yang ingin dibagikan ke tetangga.

“Oya kak, semalem kakak nggak ngelihat yang macem-macem ?” tanya Nindi.

“Mmmm, enggak. Emang semalem kamu lihat apa sih ?”

“Aku lihat cewek, mukanya rusak kak, pake baju putih, rambutnya berantakan nggak karuan. Serem banget kak.”

“Ah kamu hanya halusinasi aja. Makanya kalau mau tidur baca doa.”

“Yuk bantuin anter ke tetangga,” bunda datang dari arah dapur.

Siang hari yang cukup terik. Aku, Nindi, dan Bunda mengantar piring-piring nasi kuning itu ke tetangga. Ternyata mereka cukup ramah, namun mungkin sudah menjadi karakter warga disini yang kurang bersosialisasi. Satu hal yang membuatku bingung adalah mereka selalu kaget ketika tahu kami tinggal di rumah itu.

“Siang, perkenalkan kami tetangga baru yang tinggal di rumah nomor 13. Ini ada nasi kuning dari kami,” kata Bunda.

“Oh terima kasih,” ibu itu menghampiri kami.

“Mau masuk dulu bu ?”

“Mmmm, boleh,” kata Bunda, berhubung itu nasi kuning yang terakhir jadi tugas antar mengantar telah selesai.

Aku masuk ke rumah itu dan duduk di ruang tamu. Tak sampai lima menit, teh dingin sudah tersaji. Ah aku memang sudah haus. Aku langsung meneguk teh dingin itu untuk menghilangkan dahaga.

“Oya perkenalkan saya Bu Ulfa.”

“Oh ya saya Bu Desi, ini anak saya Indra dan Nindi,” sesi perkenalan dimulai.

“Bunda sudah lama tinggal disini ?” tanya Bunda.

“Sudah 5 tahun bu. Mulai dari anak saya kuliah sampe sekarang mereka udah pada kerja saya udah tinggal disini. Oh jadi ibu yang menempati rumah nomor 13 itu ?”

“Iya, memangnya kenapa bu ?” tanya Bunda.

“Mmmm,” terlihat ibu itu bingung untuk menjelaskannya. Ia memberi isyarat pada Bunda kalau ini bukan pembicaraan yang patut didengar anak-anak.

“Tidak apa-apa. Oh ya ini pada kelas berapa saja ?”

Oke pembicaraan santai khas ibu-ibu. Setelah 20 menit bertamu akhirnya kami pulang. Apa sih yang mau dibicarakan Bu Ulfa tadi ? Ok tak perlu penasaran, pasti setelah ini bunda akan bertamu kembali ke sana dan pasti bunda akan menceritakan ke bapak. Nah ketika itu aku harus nguping.

*

Malam sudah tiba. Kami menghabiskan nasi kuning yang Bunda buat. Sungguh enak, rasanya tak apa jika menu makan malam besok nasi kuning buatan bunda lagi. Pasti malam ini bunda akan cerita ke bapak apa yang baru ia dapat dari Bu Ulfa. Oke saatnya menguping.

“Bunda, nanti bunda tidur sama Nindi lagi ya ? Nindi masih takut.”

“Nindi, tidak ada apa-apa. Kamu harus bisa mengatur halusinasi kamu jangan kamu yang diatur oleh halusinasi kamu.”

Nindi cemberut. Setelah Nindi diantar tidur, bunda masuk ke kamar utama. Aku masih di ruang keluarga untuk menonton box office yang sudah aku tunggu. Berhubung masih libur semester, Bunda masih membebaskanku dari jam malam. Aku mengecilkan volume suara dan berjalan menuju ke pintu kamar untuk menguping.

“Pak, tadi aku kerumah Bu Ulfa yang ada diujung jalan.”

“Terus,” kata bapak.

“Katanya rumah ini ada penunggunya loh pak.”

“Ah kamu terlalu termakan omongan orang.”

“Nggak pak, begini kata Bu Ulfa. Jadi rumah ini sudah sering ganti penghuni. Penghuni yang tinggal disini paling lama hanya bertahan 2 bulan. Menurut penuturan penghuni yang dulu-dulu rumah ini ada penunggunya.  Mereka semua tidak tahan dengan penampakan dan gangguan yang mereka alami. Mungkin karena itu Pak Anang mau melepas rumah ini dengan harga yang cukup murah.”

“Ah, kamu jangan percaya yang begituan.”

“Tapi tadi pagi aku mengalami sendiri loh pak. Aku melihat apa yang Nindi lihat kemarin malam. Nindi tidak berhalusinasi pak.”

“Ah yang bener ?”

“Iya pak. Tadi pagi pas bapak jalan-jalan, pas aku lagi goreng ayam. Aku lihat penampakan wanita, serem banget pak. Terus dari kemarin aku juga sering denger suara aneh dari rumah ini ketika sedang sendiri.”

“Kamu ngada-ngada aja. Udah yuk tidur dari pada ngelantur.”

“AAAAAA,”

Terdengar suara teriakan di lantai dua. Nindi…, aku yakin seratus persen alasan Nindi teriak sama dengan yang kemarin. Aku langsung menjauh dari pintu dan berlari ke lantai dua, disertai kedua orang tuaku dibelakang. Nindi sedang menangis.

“Nindi kamu kenapa sayang ?”

“Nindi takut ma, ada seseorang di balkon.”

“Yasudah kamu tidur dibawah saja yuk sama bunda dan bapak,” kata Bunda.

“Tapi…,” kata bapak.

Bunda langsung mendelik pada bapak sembari menggandeng Nindi. Sepertinya Bunda sudah mulai ketakutan juga dengan kejanggalan di rumah ini. Namun sungguh, aku juga merasa janggal. Kejanggalanku bukan karena melihat penampakan namun karena aura yang berbeda dari sosok yang mengganggu itu. Pasti ada yang tidak beres.

Malam itu aku juga mengalami hal yang sama seperti kemarin. Aku melihat sosok menyeramkan itu dibalik jendelaku. Aku yakin 100% ini bukan makhluk halus seperti biasa. Aku tatap sosok itu ketika ia menatapku dengan dengki dibalik jendela. cAku penasaran. Aku tutup gordenku dan berjalan menuju balkon rumah. Aku akan tanyakan maksudnya mengganggu keluargaku jika benar ia punya maksud mengganggu. Aku membuka pintu balkon dan mendapati sosok itu telah hilang.

*

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s