The House (PART II)

by widikrisna

Aku bangun pagi-pagi dan langsung keluar rumah. Udara pagi sedang segar-segarnya. Aku tak terlalu memperdulikan insiden aneh yang aku lalui semalam. Sudah biasa, aku bergumam dalam hati

“Mau kemana kamu Ndra ?” tanya Bunda.
“Main ma. Mau cari temen baru.”
“Oh yasudah. Hati-hati ya.”

Aku langsung menuju lapangan yang diceritakan Nindi. Katanya kemarin ada anak-anak seumuranku yang bermain sepak bola. Minatku pada olahraga ini sedang naik berkat bapak, aku jadi ingin main. Benar saja, ada anak-anak seumuranku yang sedang menikmati waktu lbundar sekolah dengan bermain sepak bola.

“Kamu anak baru ya ? Ayuk main bola.”

Aku langsung nimbrung. Wah anak-anak yang ramah. Ternyata anak-anak disin pada jago main bola. Setelah puas main kami duduk-duduk dibawah pohon sembari menunggu waktu siang.

“Kamu pindahan dari mana ? Pindah dari rumah nomor berapa ?”
“Saya pindahan dari Ciledug. Pindah ke rumah nomor 13.”
“Ih kamu nggak takut ? Rumah itu kan ada hantunya.”
“Nggak kok. Aku nggak takut sama yang begituan,” kataku.
“Emang kamu udah ngelihat ada penampakan di rumah kamu ?”
“Mmmm,” bohong tidak ya, aku jadi bingung.
“Aku tidak melihat apa-apa kok,” akhirnya aku memutuskan bohong.
“Kan udah banyak yang pindah dari rumah itu karena rumah itu angker.”

Sepertinya berita kehororan rumahku sudah melegenda di kompleks ini. Oke, aku menyerap semua cerita horor yang dikatakan oleh teman-temanku.  Aku masih bingung dengan penampakan di rumahku. Menurutku itu bukanlah makhluk halus seperti yang diceritakan teman-temanku. Apakah kemampuan indera keenamku sudah mulai menghilang ?

“Eh main ke rumahku yuk sampai makan siang. Aku punya game PS baru loh,” kata salah seorang anak kecil.
“Yuk-yuk,” jawab anak-anak itu.

Akhirnya waktu sosialisasiku berjalan lancar. Sepertinya anak-anak yang lebih akur dibandingkan dengan para orang tua. Aku melirik ke rumah-rumah dikompleks ini. Semuanya memang rumah yang megah. Aku masuk ke rumah temanku. Waw main PS rame-rame memang menyenangkan. Niatnya mau main sampai makan siang, eh kebablasan sampai hampir magrib. Pasti pulang bakal dimarahin bunda nih.

Aku pulang ketika senja sudah hampir tenggelam. Aku melihat ke sebuah rumah. Rumah yang bertolak belakang dengan rumahku. Tembok bagian belakang rumahku menempel dengan rumah ini. Rumah nomor 26 Waw rumah yang besar dan megah. Oh ternyata rumah nomor 26 dan 27 itu pemiliknya satu, terlihat dari tak adanya sekat antara rumah nomor 26 dan 27, pasti pemilik rumah ini tajir sekali.

“Ni rumah digabung Ndra. Dua rumah satu pemilik.”
“Emang satu rumah kurang ?”
“Nggak tahu. Yang aku tahu yang tinggal dirumah ini ada 8 orang, cowok semua. Baru dua tahun dua rumah ini mereka beli.”
“Oh. Pasti eksekutif tajir deh.”
“Iya mereka bilang mereka bisnismen.”

*

Benar saja, malam ini aku kenyang dimarahi bunda karena pergi main sampai sore tidak bilang-bilang. Bunda tadi sempat kelabakan mencari aku. Oke badai amarah sudah selesai. Aku sudah diperbolehkan berakititas seperti biasa. Ya aku tak heran juga bunda marah seperti itu, memang aku yang salah sih.

Malam sudah tiba, Nindi masih takut dan merengek tidur bersama orang tua. Malam ini aku memutuskan untuk berada dibalkon pada jam sosok itu keluar. Dia pikir aku takut dengan permainan seperti itu. Aku naik kelantai dua namun tidak ke kamarku. Malam sangat dingin, bintang hanya terlihat setitik dua titik, kalah dengan cahaya kota.

Aku berdiri dipegangan pintu balkon, menunggu sosok itu keluar. Dua hari kemarin ia rutin mendatangiku pada jam segini. Hanya angin malam yang datang, membuat dingin kulitku. Makhluk itu tidak terlihat batang hidungnya. Aku menyerah karena malam yang semakin dingin, nanti malah masuk angin. Aku masuk ke dalam rumah saat aku melihat pemandangan yang mencengangkan. Ada sebuah tulisan di tembok dekat kamarku. Tulisan itu diukir dengan darah.

“PERGI KALIAN MANUSIA ATAU NYAWA KALIAN TARUHANNYA.”

Aku langsung turun untuk memanggil kedua orang tuaku. Aku harus memberitahukan ini kepada mereka. Aku mengetuk pintu kamar mereka.

“Ada apa Indra.”
“Bunda coba lihat ini deh.”

Bunda terlihat bingung dan naik ke lantai dua bersama bapak. Nindi sudah tertidur. Mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat di tembok itu.

“Jangan sampai Nindi melihat ini,” kata Bapak.
“Lalu bagaimana pak.”
“Mungkin ini hanya pekerjaan orang iseng,” kata bapak
“Orang iseng bagaimana. Rumah sudah aku kunci daritadi. Hanya hantu yang bisa menembus tembok untuk masuk ke rumah kita.”
“Sudah besok aku akan izin kerja dan mengecat ini. Yang penting Nindi jangan sampai tahu ini.”
“AAAA.”

Terdengar suara Nindi berteriak di lantai satu. Kami langsung berlari ke kamar utama. Nindi keluar dari kamar dengan menangis. Nindi langsung memeluk bunda. Ia terlihat sangat takut.


“Bunda Nindi takut. Nindi tadi mau ditangkap oleh makhluk itu.”
Bunda dan bapak saling lepas pandang. Yang terpenting sekarang adalah membuat suasana tenang. Bunda langsung meyakinkan Nindi kalau tidak ada apa-apa, namun aku yakin sekali ada yang tidak beres dengan rumah ini.

*

Pagi telah terbit. Aku sudah mulai melihat kepanikan melanda keluargaku. Yang paling sulit pagi ini adalah membuat Nindi tidak naik ke lantai dua. Akhirnya aku dan bunda membawa Nindi jalan-jalan pagi ke taman yang letaknya cukup jauh dari rumah, membuat bapak bisa leluasa mengecat rumah.

“Bunda, kok rumah kita ada hantunya ?” kata Nindi.
“Nggak ada hantu Nindi, percaya sama Bunda.”

Aku tahu Bunda hanya tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan yang sebenarnya. Apa aku jujur saja ya ke bunda kalau aku punya indera keenam ? Selama ini aku selalu menyembunyikan hal ini. Ah tak perlu pamer kekuatan. Aku sampai dirumah menjelang makan siang, kami sekalian membeli makan siang untuk dimakan dirumah. Aku naik ke lantai dua, fuih, tembok sudah bersih dari tulisan itu namun…., bapak. Ia terbujur pingsan di lantai. Bunda dan Nindi berada di lantai satu. Aku mengguncang-guncangkan tubuh bapak.

“Bapak, pak, bangun pak.”

Bapak perlahan siuman. Wajahnya terlihat pucat, seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Nafasnya sedikit terengah-engah. Apakah karena bau cat yang masih agak tercium yang membuatnya pingsan.

“Pak kenapa pingsan ?” tanyaku.

Bapak hanya terdiam tak mampu berkata.

“Tidak ada apa-apa Ndra.”

Bapak langsung bangun dan turun. Aku tahu pasti apa yang terjadi dengan bapak. Sebenarnya ada apa dengan rumah ini, makin membuatku penasaran. Kami turun ke lantai satu, ibu tercengang melihat bapak yang pucat pasi. Ia langsung membuatkan bapak teh hangat untuk menangkan diri.

Kami makan siang dengan lauk yang kami beli di jalan. Suasana yang hening di meja makan tanpa ada percakapan yang terdengar, hanya suara denting sendok yang membentur piring yang terdengar.

“Kita akan pindah,” kata bapak singkat.
“Maksud bapak ?”
“Tidak usah ditanya, kita pindah rumah. Desi, kamu tolong jualkan kembali rumah ini. Saya akan mencari rumah atau kontrakan untuk kita sementara tinggal.”
“Bapak yakin ? Memangnya kenapa pak ?”
“Saya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga kita. Kita harus segera pindah. Weekend ini kita pindah. Aku akan segera cari kontrakkan sementara menunggu rumah baru.”
“Bapak kenapa sih ? Kok Indra nggak ngerti ?” tanyaku.
“Indra apa kamu tidak mengalami apa yang bapak, ibu atau Nindi alami ?”
“Mmm, tidak.”

Aku berbohong. Aku yakin sekali kalau sosok yang selama ini dilihat keluargaku bukanlah makhluk halus yang mereka maksud. Tapi aku juga tak mau keluargaku menjadi gila karena hal ini, kalau mereka memang mau memutuskan pindah yasudah aku turuti saja. Namun setidaknya aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.

*

Esok telah terbit. Malam kemarin kami semua tidur di satu kamar, semua sudah mulai ketakutan yang berlebihan. Hanya aku yang tidak merasa takut. Aku keluar rumah untuk bermain sepak bola di taman. Yah baru kenalan dengan teman baru masa mau pindah lagi. Padahal aku sudah mulai asyik dengan teman-teman bermainku disini.

“Hah kamu mau pindah ?”
“Iya.”
“Kenapa ?”
“Keluargaku udah pada ketakutan.”
“Lagian emang rumah itu angker. Kok kamu tampangnya nggak ketakutan gitu. Emang kamu nggak ngelihat ?”
“Aku nggak takut sama begituan.”
“Emang hantunya kayak apa sih ?” teman-temanku mulai penasaran.
“Ya kayak yang di TV-TV gitu. Cewek, pake baju putih, mukanya rusak.”
“Hah beneran tuh, kamu nggak takut ?”
“Nggak. Biasa aja. Kamu tahu nggak sih sejarah rumahku bisa gitu kenapa ?”
“Wah aku nggak tahu. Tanya satpam disini lah yang udah puluhan tahun kerja menjaga komplek ini. Eh mau main PS kerumahku.”

Yak realita seperti hari kemarin dulu. Nampaknya akan bermain PS sampai sore lagi. Aku berjalan menuju rumah temanku. Oke intinya pagi ini sampai sore aku puas bermain PS dengan teman-teman baruku yang akau segera aku tinggalkan.

Selepas sore aku pamit bermain PS dan menuju ke rumah. Di perjalanan pulang aku bertemu satpam kompleks. Aku tanyakan saja ke dia sebenarnya sejak kapan rumahku berhantu seperti itu.

“Pak.”
“Ya.”
“Saya mau tanya pak. Itu rumah nomor 13 sejak kapan berhantu kayak gitu ?”
“Oh saya sudah dengar kalau rumah adik mau dijual lagi kata Bu Desi banyak penampakan. Rumah itu jadi angker belum lama kok dik, baru 2 tahun lalu.”
“Apa terjadi pembunuhan disitu ?”
“Nggak ada, tiba-tiba aja rumahnya berhantu.”
“Kok aneh ya. Dua tahun…?”
“Iya.”
“Rumah itu juga baru dua tahun dibeli ?”

Aku menunjuk ke rumah yang berada tepat dibelakang rumahku. Dua rumah besar yang dibeli oleh 8 orang pria.
“Iya.”
“Yang tinggal disitu siapa pak ?”
“Bisnismen, laki-laki berdelapan.”
“Oh makasih pak.”
Aku mulai mendapat titik terang.

*

Pertama aku harus singkirkan kalau sosok yang muncul itu adalah hantu. Aku sama sekali tidak merasakan aura yang berbeda pada sosok itu. So aku yakin sosok itu orang. Kedua apa motivasi orang itu menakut-nakuti rumah itu ? Mudah, ia ingin mendapatkan rumah itu dengan harga yang murah. Walaupun sudah berkali-kali ganti, mungkin harga jual rumah itu masih mahal, jadi ‘hantu’ itu akan terus menakut-nakuti sampai harga rumah itu benar-benar jatuh. Motivasi : ada yang menginginkan rumah itu. Ketiga, aku yakin rumah nomor 26 dan 27 ada hubungannya dengan kejadian ini, pertanyaannya untuk apa mereka menginginkan rumahku, toh mereka sudah punya dua rumah super besar itu. Itu pertanyaan yang belum bisa aku jawab.

Keluargaku sudah mulai panik. Iklan penjualan rumah ini sudah diurus. Kontrakkan sudah mulai dicari dan sebentar lagi juga dapat. Aku masih penasaran dengan misteri di rumah ini. At least jika jadi pindah setidaknya aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dirumah ini.

*

Sudah 5 hari kami menempati rumah ini. Hampir setiap malam kami mendapat gangguan dari makhluk halus itu. Ia sangat senang jika kami sedang sendiri. Sial, hanya Nindi, bapak dan ibu yang sering diganggu sedangkan aku tidak. Ingin aku tonjok hantu gadungan itu. Lusa aku sekeluarga pindah, semua sudah tak tahan dengan aktivitas mistis yang mereka rasakan.
Hari sudah beranjak senja. Semua sudah mulai ketakutan jika sudah mendengar adzan magrib. Malam berarti atmosfir horor mulai terasa. Aku sudah menyelidiki rumah ini namun tidak ada yang aneh. Aku tidak menemukan emas atau harta karun di rumah ini, jadi untuk apa ?

“Kamu nggak tidur Ndra ?”
“Ntar aja bunda, mau nonton televisi dulu.”

Aku duduk di sofa empuk sembari menonton televisi. Film bagus, namun iklannya bejibun tak terkira. Tak kusangka aku tertidur di sofa keluarga. Iklan sial, mengapa acara bagus iklannya lama, aku jad ketiduran. Aku membuka mata, kebelet buang air kecil. Jam 1 pagi. Aku mematikan televisi dan menuju kamar untuk tidur.

Setelah ketoilet, aku masuk ke kamarku. Kok malah jadi tidak ngantuk ya. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku komik saja. Masih ada tiga buku yang belum aku baca, sedangkan 3 hari lagi sudah masuk sekolah. Aku mulai membaca lembar demi lembar.

Jam 2.30 pagi. Aku sedang di dapur untuk mengambil minum saat aku mendengar sebuah suara dari arah meja makan. Aku langsung bersembunyi di balik pintu sembari mengintip. Hah…, ternyata ubin dibawah meja makan bisa dilepas dan dari ubin itu muncul…, orang yang tidak aku kenal. Siapa dia apa dia maling ? Seorang laki-laki berusia kurang lebih 30 tahun.

Pria itu berjalan ke arah pintu tempat aku berdiri. Bahaya, kalau dia bawa pisau bagaimana, bisa-bisa aku ditusuk. Aku tak tahu siapa dia. Aku langsung berlari ke ruang tamu dengan hati-hati, menunggu pria itu berjalan ke tempat yang dituju, semoga bukan ruang tamu.    Pria itu menuju ke lantai dua, mungkin ia akan mengecat lagi karena ia membawa seperti kaleng dan kuas. Aku menuju ke ruang makan. Aku membuka ubin yang tadi digunakan pria itu untuk masuk ke rumahku. Sebuah jalur. Karena sudah terlanjur penasaran, alhasil aku masuki jalur itu. Lorong itu berukuran dua kali tiga meter dengan lantai keramik dan nyala neon. Lorong ini bercabang, dan aku bingung kemana jalur yang tepat.

Berbekal asal pilih jalan, akhirnya aku sampai ke sebuah tempat. Sudah kuduga ini rumah nomor 26 dan 27. Oh jadi lorong ini menghubungkan rumahku dengan rumah di belakang. Ternyata memang rumah ini ada hubungannya. Aku masuk ke sebuah ruangan. Aku super pelan-pelan karena ada seseorang di ruangan itu. Ia sedang tertidur atau tepatnya ketiduran karena pastinya ia ditugaskan mengintai rumahku.

Mengintai ? Aku kaget dengan semua persiapan di ruangan ini. Ruangan yang cukup besar. Ada 8 buah televisi di ruangan ini dan semua televisi menayangkan setiap sudut rumahku. Ternyata kami selalu diintai selama ini. Pasti ada kamera tersembunyi dipasang dirumahku. Aku melihat ke sebuah televisi. Sang pria sedang melukis tembok rumahku dengan cat merah. Ah nanti juga tahu apa yang dilukisnya,  yang aku tidak tahu adalah apa motivasinya ?

Aku berjalan ke pintu ruangan ini, meninggalkan penjaga ruangan yang tertidur pulas. Tepat di depan pintu aku mendengar suara ketukan pintu. Aku langsung mencari tempat untuk sembunyi karena pasti akan ada interaksi manusia di dalam ruangan ini. Yang terpikir pertama kali olehku adalah dibawah meja bertaplak. Aku langsung sembunyi disitu.

“Djo bukain pintunya.”

Penjaga yang tadi ketiduran itu langsung bangun dan membukakakn pintu yang ia kunci. Aku mendengarkan percakapan kedua pria itu.

“Kamu ketiduran ya ?”
“Enggak kok.”
“Udah nggak usah bohong lain kali jangan ketiduran. Kalau sampai Agi ketawan bisa bahaya. Kerja yang bener, mau duit nggak ?”
“Iya bos.”

Aku mengintip pekerjaan kedua pria itu. Mereka sedang mengintai rumahku dari televisi pengintai itu.

“Apa perlu rencana C bos ?”
“Tak perlu, lusa mereka sudah pindah. Aku yakin mereka akan menjual dengan harga supermurah. Berita keangkeran rumah sudah tersebar kemana-mana, setelah ini kita baru beli. Tunggu, Kemana anak laki-lakinya ?”
Gawat, mereka pasti mencariku.
“Tadi ada di ruang keluarga. Dia ketiduran.”
“Itu tadi sebelum kamu ketiduran, sekarang kita nggak tahu kan dia dimana ? Siapa tahu dia lagi lapor polisi karena ngelihat Si Agi. Makanya kamu kerja yang bener.”
Terlihat salah satu pria yang posisinya lebih tinggi memarahi bawahannya. Apa yang harus aku perbuat nih ?
“Lalu bagaimana bos ?”
“Kita biarkan saja dulu. Mereka tidak punya bukti apa-apa. Lagipula tak akan ada dengan perkataan anak kecil.”

Aku menunggu disini, tak bisa keluar ruangan atau kembali ke rumah melalui lorong itu. Bisa-bisa aku terjebak disini. Firasatku mengatakan aku harus kembali ke rumahku. Ini bisa membahayakan keluargaku dan diriku sendiri. Aku melihat pintu keluar ruangan yang tak jauh dari meja tempat aku bersembunyi. Pintu itu setengah terbuka.

Kedua pria itu sedang sibuk mengintai pekerjaan temannya, memastikan kalau keluargaku tidak bangun. Dengan perlahan aku berjalan menuju pintu. Untunglah posisi mereka membelakangiku. Aku berhasi keluar ruangan. Aku menilik isi rumah, tak ada yang mencurigakan, sekilas rumah ini sama saja dengan rumah yang lain. Aku menjadi makin bingung dengan motivasi. Ah nanti dulu saja deh, saatnya pulang dulu.

Aku berjalan menuju pintu keluar. Tunggu, kalau aku keluar dari pintu keluar pasti akan ketahuan kalau ada yang keluar dari pintu dan orang yang keluar itu bukan penghuni rumah ini dan mereka mungkin bisa curiga kalau aku yang keluar karena aku tidak ada di dalam rumah. Oke, satu-satunya jalan yang paling aman adalah lorong itu.

Aku kembali ke ruangan dengan mengendap-endap. Aku masuk ke dalam ruangan yang setengah terbuka dan kembali bersembunyi di meja. Untung tubuhku kecil jadi tidak ketahuan. Aku menunggu saat yang tepat untuk keluar ruangan. Sial, aku tidak bisa menjangkau pintu lorong itu. Dan gawatnya lagi di lorong itu juga dipasang kamera, kalau aku lewat situ bisa ketahuan. Ah aku benar-benar terjebak.

    “Sedang apa anak kecil ?”
Aku mendengar suara pria. Sumber suara itu dekat sekali denganku. Aku melihat ke samping. Seorang pria sudah berdiri melihatku dengan tatapan sangar. Pria itu menarik kerah bajuku, aku terseret keluar. Kedua pria yang sedang mengintai mendatangi pria lain yang menyeretku. Habis sudah nyawaku, pikirku dalam hati.

    “Hei anak kecil. Kamu sudah tahu rupanya.”
“Aku baru tahu malam ini,” kataku dengan nada takut.
“Kenapa kamu sama sekali tidak takut dengan hantu ?”
“Aku…, punya indera keenam. Aku bisa mendeteksi mana yang asli mana yang bohong.”
“Oh jago juga rupanya kamu. Sebentar lagi kamu tidak akan bisa merasakan kelima indramu. Kamu mau mulai dari yang mana ?”

    Terlihat pria itu mengeluarkan pisau.  Dan menyodorkan kearahlu. Takut. Aku mulai mengeluarkan air mataku. Sepertinya rumah nomor 26-27 ini ingin dijadikan markas rahasia untuk kegiatan yang negatif.

    “Lepaskan saya pak. Saya janji tidak akan berbicara apa-apa pada keluarga saya. Saya akan pindah lusa dan tidak akan pernah menginap lagi di rumah ini. Setelah itu bapak bisa mendapatkan rumah saya dengan harga yang murah. Tolong jangan bunuh saya.”
“Bahkan jika kau sudah pindah aku akan tetap mencarimu karena kamu sudah mengetahui lokasi ini. Ini top secret. Aku bisa dengan mudah mencari keberadaanmu nanti.”
Lorong terbuka. Pria yang tadi masuk kerumahku datang dari lorong itu. Ia kaget melihatku yang berada di rumah ini.
“Kok dia bisa ada disini ?”
“Sepertinya ia tadi melihatmu datang dari lorong.”
“Yasudah bunuh saja,” kata pria itu santai.
Nyawaku sudah berada di ujung tanduk sekarang. Aku harus bisa keluar dari sini. Masa bodoh dengan motivasi yang penting aku ingin hidup.
“Saya janji pak saya akan tutup mulut tapi tolong jangan bunuh saya,” kataku sambil menangis.
“Tidak bisa, siapapun yang tahu akan lorong itu selain kami harus mati.”

    Pria itu memegang erat tubuhku. Aku sudah tidak bisa melawan. Nampaknya inilah akhir hayatku. Aku memejamkan mata, pasrah dengan pisau yang akan segera menyayat nadiku. Sepertinya dewi fortuna masih ada padaku. Tiba-tiba terjadimati listrik. Ruangan gelap seketika. Tanpa pikir panjang aku gigit tangan yang menggenggamku. Pria itu berteriak kesakitan dan melepas peganganku.

Aku berlari menuju pintu keluar. Lebih baik aku keluar dari pintu gerbang. Aku takut kalau lorong tempat tadi terkunci, toh aku juga sudah ketahuan. Aku menabrak banyak barang karena tak bisa melihat di kegelapan. Aku hanya mengandalkan feeling dan firasatku yang cukup kuat untuk menemukan arah keluar. Oke aku menemukan pintu keluar, untungnya kunci pintu nyantol di gagang.

Aku berhasil keluar dengan selamat, meninggalkan pria-pria yang berada diruangan itu. Aku  berlari sekuat tenaga menuju rumahku. Aku harus pindah sekarang. Mereka pasti mengincarku. Itu akan membahayakan kondisi keluargaku. Aku sampai di depan rumah.

    “BUNDAAAA,” aku berteriak dari luar pagar.
Bunda kaget melihatku yang sudah ada diluar rumah dini hari seperti ini.
“Indera, kamu ngapain di luar rumah ?”
“Udah nggak usah banyak tanya. Ayo kita segera pindah.”

    Bunda membukakan pintu depan. Aku masuk ke rumah. Bunda menenangkanku yang menangis dengan nafas tidak teratur.

    “Bunda ayo kita segera pergi darisini.”
“Tidak bisa Indera. Koper baru akan dikemas hari ini.”
“Pokoknya kita harus segera pergi.”
“Ada apa ini ?”
Bapak dan Nindi sudah ada di depanku. Mereka kaget melihatku yang berkeringat dan menangis. Nindi terlihat takut.
“Ayo kita pergi darisini.”
“Kita akan pergi lusa Indera. Rumah kontrakkan baru bisa ditempati lusa.”
“Paling tidak kita bisa menginap dihotel dulu kan. Yang penting kita harus pergi dari sini.”

Tak ada yang mengacuhkanku namun setidaknya kepergian dipercepat. Aku akan pergi siang ini dan tidak jadi besok. Pagi-pagi sekali koper-koper sudah mulai diisi dengan baju. Aku meyakinkan keluargaku untuk segera pergi dari sini secepat mungkin.

Aku memang masih penasaran apa sebenarnya yang disembunyikan rumah ini dan cabang-cabang di lorong itu. Pasti cabang-cabang itu menuju ke sebuah ruangan bawah tanah yang cukup besar. Aku yakin di bawah rumah ini tersimpan sesuatu yang sangat berharga oleh karena itu mereka menginginkan rumahku agar ruang bawah tanah itu bisa aman. Namun apa yang tersimpan di ruang bawah tanah itu ? Ah masa bodoh, yang penting aku dan keluargaku mau selamat.

Hari sudah siang. Tak ada tanda-tanda kalau komplotan itu akan datang dan menghunuskan pisau kepadaku. Aku berjanji tidak akan menceritakan kesiapa-siapa. Why ? Aku hanya anak kecil, tak akan ada yang percaya kepadaku. Lagipula aku takut komplotan itu akan mencariku. Aku punya alasan jika suatu saat mereka menemukanku, aku bisa bilang kalau aku belum bercerita. Lebih baik aku dan keluargaku segera pergi dari sini demi keselamatan kami semua.

Mobil yangmembawaku pergi dari rumah sudah melesat. Semua diliuti ketakutan. Hanya aku yang mengerti lebih tentang yang terjadi sebenarnya. Di pos satpam aku melihat pria yang mengancamku dengan pisau. Ia sedang duduk bersama satpam. Bapak menghentikan mobil untuk titip pesan ke satpam. Aduh ngapain sih pake berhenti segala.

“Pak tolong titip rumah itu. Saya sudah berikan kuasa pada broker untuk menjualkan rumah itu. Sementara titip dulu sampai saya datang.”

Pria yang kemarin mengancamku dengan pisau menatap keluargaku dengan tatapan ramah. Senyum pria itu menyembunyikan maksud jahat yang akan semakin terwujud jika ia mendapatkan rumahku. Ah masa bodoh, aku hanya mau hidup. Aku berharap apapun rencana jahat yang ia buat akan gagal. Aku hanya berharap apapun yang tersembunyi dibawah rumahku tidak bisa membahayakan orang lain

Aku tahu ini salah, membiarkan persitiwa kriminal tetap menjadi misteri, namun aku sayang keluargaku, aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi dengan mereka jika aku menceritakan keadaan yang sebenarnya. So, mungkin yang bisa aku lakukan hanya berdoa untuk keselamatan semua orang.

Aku bangun pagi-pagi dan langsung keluar rumah.
“Mau kemana kamu Ndra ?” tanya Bunda.
“Main ma. Mau cari temen baru.”
“Oh yasudah. Hati-hati ya.”
Aku langsung menuju lapangan yang diceritakan Nindi. Katanya kemarin ada anak-anak seumuranku yang bermain sepak bola. Minatku pada olahraga ini sedang naik berkat bapak, aku jadi ingin main. Benar saja, ada anak-anak seumuranku yang sedang menikmati waktu lbundar sekolah dengan bermain sepak bola.
“Kamu anak baru ya ? Ayuk main bola.”
Aku langsung nimbrung. Wah anak-anak yang ramah. Ternyata anak-anak disin pada jago main bola. Setelah puas main kami duduk-duduk dibawah pohon sembari menunggu waktu siang.
“Kamu pindahan dari mana ? Pindah dari rumah nomor berapa ?”
“Saya pindahan dari Ciledug. Pindah ke rumah nomor 13.”
“Ih kamu nggak takut ? Rumah itu kan ada hantunya.”
“Nggak kok. Aku nggak takut sama yang begituan,” kataku.
“Emang kamu udah ngelihat ada penampakan di rumah kamu ?”
“Mmmm,” bohong tidak ya, aku jadi bingung.
“Aku tidak melihat apa-apa kok,” akhirnya aku memutuskan bohong.
“Kan udah banyak yang pindah dari rumah itu karena rumah itu angker.”

Sepertinya berita kehororan rumahku sudah melegenda di kompleks ini. Oke, aku menyerap semua cerita horor yang dikatakan oleh teman-temanku.  Aku masih bingung dengan penampakan di rumahku. Menurutku itu bukanlah makhluk halus seperti yang diceritakan teman-temanku. Apakah kemampuan indera keenamku sudah mulai menghilang ?

“Eh main ke rumahku yuk sampai makan siang. Aku punya game PS baru loh,” kata salah seorang anak kecil.
“Yuk-yuk,” jawab anak-anak itu.

Akhirnya waktu sosialisasiku berjalan lancar. Sepertinya anak-anak yang lebih akur dibandingkan dengan para orang tua. Aku melirik ke rumah-rumah dikompleks ini. Semuanya memang rumah yang megah. Aku masuk ke rumah temanku. Waw main PS rame-rame memang menyenangkan. Niatnya mau main sampai makan siang, eh kebablasan sampai hampir magrib. Pasti pulang bakal dimarahin bunda nih.

Aku pulang ketika senja sudah hampir tenggelam. Aku melihat ke sebuah rumah. Rumah yang bertolak belakang dengan rumahku. Tembok bagian belakang rumahku menempel dengan rumah ini. Rumah nomor 26 Waw rumah yang besar dan megah. Oh ternyata rumah nomor 26 dan 27 itu pemiliknya satu, terlihat dari tak adanya sekat antara rumah nomor 26 dan 27, pasti pemilik rumah ini tajir sekali.

“Ni rumah digabung Ndra. Dua rumah satu pemilik.”
“Emang satu rumah kurang ?”
“Nggak tahu. Yang aku tahu yang tinggal dirumah ini ada 8 orang, cowok semua. Baru dua tahun dua rumah ini mereka beli.”
“Oh. Pasti eksekutif tajir deh.”
“Iya mereka bilang mereka bisnismen.”

*

Benar saja, malam ini aku kenyang dimarahi bunda karena pergi main sampai sore tidak bilang-bilang. Bunda tadi sempat kelabakan mencari aku. Oke badai amarah sudah selesai. Aku sudah diperbolehkan berakititas seperti biasa. Ya aku tak heran juga bunda marah seperti itu, memang aku yang salah sih.

Malam sudah tiba, Nindi masih takut dan merengek tidur bersama orang tua. Malam ini aku memutuskan untuk berada dibalkon pada jam sosok itu keluar. Dia pikir aku takut dengan permainan seperti itu. Aku naik kelantai dua namun tidak ke kamarku. Malam sangat dingin, bintang hanya terlihat setitik dua titik, kalah dengan cahaya kota.

Aku berdiri dipegangan pintu balkon, menunggu sosok itu keluar. Dua hari kemarin ia rutin mendatangiku pada jam segini. Hanya angin malam yang datang, membuat dingin kulitku. Makhluk itu tidak terlihat batang hidungnya. Aku menyerah karena malam yang semakin dingin, nanti malah masuk angin. Aku masuk ke dalam rumah saat aku melihat pemandangan yang mencengangkan. Ada sebuah tulisan di tembok dekat kamarku. Tulisan itu diukir dengan darah.

“PERGI KALIAN MANUSIA ATAU NYAWA KALIAN TARUHANNYA.”

Aku langsung turun untuk memanggil kedua orang tuaku. Aku harus memberitahukan ini kepada mereka. Aku mengetuk pintu kamar mereka.
“Ada apa Indra.”
“Bunda coba lihat ini deh.”
Bunda terlihat bingung dan naik ke lantai dua bersama bapak. Nindi sudah tertidur. Mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat di tembok itu.
“Jangan sampai Nindi melihat ini,” kata Bapak.
“Lalu bagaimana pak.”
“Mungkin ini hanya pekerjaan orang iseng,” kata bapak
“Orang iseng bagaimana. Rumah sudah aku kunci daritadi. Hanya hantu yang bisa menembus tembok untuk masuk ke rumah kita.”
“Sudah besok aku akan izin kerja dan mengecat ini. Yang penting Nindi jangan sampai tahu ini.”
“AAAA.”
Terdengar suara Nindi berteriak di lantai satu. Kami langsung berlari ke kamar utama. Nindi keluar dari kamar dengan menangis. Nindi langsung memeluk bunda. Ia terlihat sangat takut.
“Bunda Nindi takut. Nindi tadi mau ditangkap oleh makhluk itu.”
Bunda dan bapak saling lepas pandang. Yang terpenting sekarang adalah membuat suasana tenang. Bunda langsung meyakinkan Nindi kalau tidak ada apa-apa, namun aku yakin sekali ada yang tidak beres dengan rumah ini.

*

Pagi telah terbit. Aku sudah mulai melihat kepanikan melanda keluargaku. Yang paling sulit pagi ini adalah membuat Nindi tidak naik ke lantai dua. Akhirnya aku dan bunda membawa Nindi jalan-jalan pagi ke taman yang letaknya cukup jauh dari rumah, membuat bapak bisa leluasa mengecat rumah.
“Bunda, kok rumah kita ada hantunya ?” kata Nindi.
“Nggak ada hantu Nindi, percaya sama Bunda.”

Aku tahu Bunda hanya tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan yang sebenarnya. Apa aku jujur saja ya ke bunda kalau aku punya indera keenam ? Selama ini aku selalu menyembunyikan hal ini. Ah tak perlu pamer kekuatan.
Aku sampai dirumah menjelang makan siang, kami sekalian membeli makan siang untuk dimakan dirumah. Aku naik ke lantai dua, fuih, tembok sudah bersih dari tulisan itu namun…., bapak. Ia terbujur pingsan di lantai. Bunda dan Nindi berada di lantai satu. Aku mengguncang-guncangkan tubuh bapak.

“Bapak, pak, bangun pak.”
Bapak perlahan siuman. Wajahnya terlihat pucat, seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Nafasnya sedikit terengah-engah. Apakah karena bau cat yang masih agak tercium yang membuatnya pingsan.
“Pak kenapa pingsan ?” tanyaku.
Bapak hanya terdiam tak mampu berkata.
“Tidak ada apa-apa Ndra.”

Bapak langsung bangun dan turun. Aku tahu pasti apa yang terjadi dengan bapak. Sebenarnya ada apa dengan rumah ini, makin membuatku penasaran. Kami turun ke lantai satu, ibu tercengang melihat bapak yang pucat pasi. Ia langsung membuatkan bapak teh hangat untuk menangkan diri. Kami makan siang dengan lauk yang kami beli di jalan. Suasana yang hening di meja makan tanpa ada percakapan yang terdengar, hanya suara denting sendok yang membentur piring yang terdengar.

“Kita akan pindah,” kata bapak singkat.
“Maksud bapak ?”
“Tidak usah ditanya, kita pindah rumah. Desi, kamu tolong jualkan kembali rumah ini. Saya akan mencari rumah atau kontrakan untuk kita sementara tinggal.”
“Bapak yakin ? Memangnya kenapa pak ?”
“Saya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga kita. Kita harus segera pindah. Weekend ini kita pindah. Aku akan segera cari kontrakkan sementara menunggu rumah baru.”
“Bapak kenapa sih ? Kok Indra nggak ngerti ?” tanyaku.
“Indra apa kamu tidak mengalami apa yang bapak, ibu atau Nindi alami ?”
“Mmm, tidak.”

Aku berbohong. Aku yakin sekali kalau sosok yang selama ini dilihat keluargaku bukanlah makhluk halus yang mereka maksud. Tapi aku juga tak mau keluargaku menjadi gila karena hal ini, kalau mereka memang mau memutuskan pindah yasudah aku turuti saja. Namun setidaknya aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.

*

Esok telah terbit. Malam kemarin kami semua tidur di satu kamar, semua sudah mulai ketakutan yang berlebihan. Hanya aku yang tidak merasa takut. Aku keluar rumah untuk bermain sepak bola di taman. Yah baru kenalan dengan teman baru masa mau pindah lagi. Padahal aku sudah mulai asyik dengan teman-teman bermainku disini.

“Hah kamu mau pindah ?”
“Iya.”
“Kenapa ?”
“Keluargaku udah pada ketakutan.”
“Lagian emang rumah itu angker. Kok kamu tampangnya nggak ketakutan gitu. Emang kamu nggak ngelihat ?”
“Aku nggak takut sama begituan.”
“Emang hantunya kayak apa sih ?” teman-temanku mulai penasaran.
“Ya kayak yang di TV-TV gitu. Cewek, pake baju putih, mukanya rusak.”
“Hah beneran tuh, kamu nggak takut ?”
“Nggak. Biasa aja. Kamu tahu nggak sih sejarah rumahku bisa gitu kenapa ?”
“Wah aku nggak tahu. Tanya satpam disini lah yang udah puluhan tahun kerja menjaga komplek ini. Eh mau main PS kerumahku.”
Yak realita seperti hari kemarin dulu. Nampaknya akan bermain PS sampai sore lagi. Aku berjalan menuju rumah temanku. Oke intinya pagi ini sampai sore aku puas bermain PS dengan teman-teman baruku yang akau segera aku tinggalkan.

Selepas sore aku pamit bermain PS dan menuju ke rumah. Di perjalanan pulang aku bertemu satpam kompleks. Aku tanyakan saja ke dia sebenarnya sejak kapan rumahku berhantu seperti itu.

“Pak.”
“Ya.”
“Saya mau tanya pak. Itu rumah nomor 13 sejak kapan berhantu kayak gitu ?”
“Oh saya sudah dengar kalau rumah adik mau dijual lagi kata Bu Desi banyak penampakan. Rumah itu jadi angker belum lama kok dik, baru 2 tahun lalu.”
“Apa terjadi pembunuhan disitu ?”
“Nggak ada, tiba-tiba aja rumahnya berhantu.”
“Kok aneh ya. Dua tahun…?”
“Iya.”
“Rumah itu juga baru dua tahun dibeli ?”
Aku menunjuk ke rumah yang berada tepat dibelakang rumahku. Dua rumah besar yang dibeli oleh 8 orang pria.
“Iya.”
“Yang tinggal disitu siapa pak ?”
“Bisnismen, laki-laki berdelapan.”
“Oh makasih pak.”
Aku mulai mendapat titik terang.

*

Pertama aku harus singkirkan kalau sosok yang muncul itu adalah hantu. Aku sama sekali tidak merasakan aura yang berbeda pada sosok itu. So aku yakin sosok itu orang. Kedua apa motivasi orang itu menakut-nakuti rumah itu ? Mudah, ia ingin mendapatkan rumah itu dengan harga yang murah. Walaupun sudah berkali-kali ganti, mungkin harga jual rumah itu masih mahal, jadi ‘hantu’ itu akan terus menakut-nakuti sampai harga rumah itu benar-benar jatuh. Motivasi : ada yang menginginkan rumah itu. Ketiga, aku yakin rumah nomor 26 dan 27 ada hubungannya dengan kejadian ini, pertanyaannya untuk apa mereka menginginkan rumahku, toh mereka sudah punya dua rumah super besar itu. Itu pertanyaan yang belum bisa aku jawab.

Keluargaku sudah mulai panik. Iklan penjualan rumah ini sudah diurus. Kontrakkan sudah mulai dicari dan sebentar lagi juga dapat. Aku masih penasaran dengan misteri di rumah ini. At least jika jadi pindah setidaknya aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dirumah ini.

*

Sudah 5 hari kami menempati rumah ini. Hampir setiap malam kami mendapat gangguan dari makhluk halus itu. Ia sangat senang jika kami sedang sendiri. Sial, hanya Nindi, bapak dan ibu yang sering diganggu sedangkan aku tidak. Ingin aku tonjok hantu gadungan itu. Lusa aku sekeluarga pindah, semua sudah tak tahan dengan aktivitas mistis yang mereka rasakan.
Hari sudah beranjak senja. Semua sudah mulai ketakutan jika sudah mendengar adzan magrib. Malam berarti atmosfir horor mulai terasa. Aku sudah menyelidiki rumah ini namun tidak ada yang aneh. Aku tidak menemukan emas atau harta karun di rumah ini, jadi untuk apa ?
“Kamu nggak tidur Ndra ?”
“Ntar aja bunda, mau nonton televisi dulu.”
Aku duduk di sofa empuk sembari menonton televisi. Film bagus, namun iklannya bejibun tak terkira. Tak kusangka aku tertidur di sofa keluarga. Iklan sial, mengapa acara bagus iklannya lama, aku jad ketiduran. Aku membuka mata, kebelet buang air kecil. Jam 1 pagi. Aku mematikan televisi dan menuju kamar untuk tidur.

Setelah ketoilet, aku masuk ke kamarku. Kok malah jadi tidak ngantuk ya. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku komik saja. Masih ada tiga buku yang belum aku baca, sedangkan 3 hari lagi sudah masuk sekolah. Aku mulai membaca lembar demi lembar.

Jam 2.30 pagi. Aku sedang di dapur untuk mengambil minum saat aku mendengar sebuah suara dari arah meja makan. Aku langsung bersembunyi di balik pintu sembari mengintip. Hah…, ternyata ubin dibawah meja makan bisa dilepas dan dari ubin itu muncul…, orang yang tidak aku kenal. Siapa dia apa dia maling ? Seorang laki-laki berusia kurang lebih 30 tahun.

Pria itu berjalan ke arah pintu tempat aku berdiri. Bahaya, kalau dia bawa pisau bagaimana, bisa-bisa aku ditusuk. Aku tak tahu siapa dia. Aku langsung berlari ke ruang tamu dengan hati-hati, menunggu pria itu berjalan ke tempat yang dituju, semoga bukan ruang tamu.

Pria itu menuju ke lantai dua, mungkin ia akan mengecat lagi karena ia membawa seperti kaleng dan kuas. Aku menuju ke ruang makan. Aku membuka ubin yang tadi digunakan pria itu untuk masuk ke rumahku. Sebuah jalur. Karena sudah terlanjur penasaran, alhasil aku masuki jalur itu. Lorong itu berukuran dua kali tiga meter dengan lantai keramik dan nyala neon. Lorong ini bercabang, dan aku bingung kemana jalur yang tepat.

Berbekal asal pilih jalan, akhirnya aku sampai ke sebuah tempat. Sudah kuduga ini rumah nomor 26 dan 27. Oh jadi lorong ini menghubungkan rumahku dengan rumah di belakang. Ternyata memang rumah ini ada hubungannya. Aku masuk ke sebuah ruangan. Aku super pelan-pelan karena ada seseorang di ruangan itu. Ia sedang tertidur atau tepatnya ketiduran karena pastinya ia ditugaskan mengintai rumahku.

Mengintai ? Aku kaget dengan semua persiapan di ruangan ini. Ruangan yang cukup besar. Ada 8 buah televisi di ruangan ini dan semua televisi menayangkan setiap sudut rumahku. Ternyata kami selalu diintai selama ini. Pasti ada kamera tersembunyi dipasang dirumahku. Aku melihat ke sebuah televisi. Sang pria sedang melukis tembok rumahku dengan cat merah. Ah nanti juga tahu apa yang dilukisnya,  yang aku tidak tahu adalah apa motivasinya ?

Aku berjalan ke pintu ruangan ini, meninggalkan penjaga ruangan yang tertidur pulas. Tepat di depan pintu aku mendengar suara ketukan pintu. Aku langsung mencari tempat untuk sembunyi karena pasti akan ada interaksi manusia di dalam ruangan ini. Yang terpikir pertama kali olehku adalah dibawah meja bertaplak. Aku langsung sembunyi disitu.

“Djo bukain pintunya.”

Penjaga yang tadi ketiduran itu langsung bangun dan membukakakn pintu yang ia kunci. Aku mendengarkan percakapan kedua pria itu.

“Kamu ketiduran ya ?”
“Enggak kok.”
“Udah nggak usah bohong lain kali jangan ketiduran. Kalau sampai Agi ketawan bisa bahaya. Kerja yang bener, mau duit nggak ?”
“Iya bos.”

Aku mengintip pekerjaan kedua pria itu. Mereka sedang mengintai rumahku dari televisi pengintai itu.

“Apa perlu rencana C bos ?”
“Tak perlu, lusa mereka sudah pindah. Aku yakin mereka akan menjual dengan harga supermurah. Berita keangkeran rumah sudah tersebar kemana-mana, setelah ini kita baru beli. Tunggu, Kemana anak laki-lakinya ?”
Gawat, mereka pasti mencariku.
“Tadi ada di ruang keluarga. Dia ketiduran.”
“Itu tadi sebelum kamu ketiduran, sekarang kita nggak tahu kan dia dimana ? Siapa tahu dia lagi lapor polisi karena ngelihat Si Agi. Makanya kamu kerja yang bener.”
Terlihat salah satu pria yang posisinya lebih tinggi memarahi bawahannya. Apa yang harus aku perbuat nih ?
“Lalu bagaimana bos ?”
“Kita biarkan saja dulu. Mereka tidak punya bukti apa-apa. Lagipula tak akan ada dengan perkataan anak kecil.”

Aku menunggu disini, tak bisa keluar ruangan atau kembali ke rumah melalui lorong itu. Bisa-bisa aku terjebak disini. Firasatku mengatakan aku harus kembali ke rumahku. Ini bisa membahayakan keluargaku dan diriku sendiri. Aku melihat pintu keluar ruangan yang tak jauh dari meja tempat aku bersembunyi. Pintu itu setengah terbuka.

Kedua pria itu sedang sibuk mengintai pekerjaan temannya, memastikan kalau keluargaku tidak bangun. Dengan perlahan aku berjalan menuju pintu. Untunglah posisi mereka membelakangiku. Aku berhasi keluar ruangan. Aku menilik isi rumah, tak ada yang mencurigakan, sekilas rumah ini sama saja dengan rumah yang lain. Aku menjadi makin bingung dengan motivasi. Ah nanti dulu saja deh, saatnya pulang dulu.

Aku berjalan menuju pintu keluar. Tunggu, kalau aku keluar dari pintu keluar pasti akan ketahuan kalau ada yang keluar dari pintu dan orang yang keluar itu bukan penghuni rumah ini dan mereka mungkin bisa curiga kalau aku yang keluar karena aku tidak ada di dalam rumah. Oke, satu-satunya jalan yang paling aman adalah lorong itu.

Aku kembali ke ruangan dengan mengendap-endap. Aku masuk ke dalam ruangan yang setengah terbuka dan kembali bersembunyi di meja. Untung tubuhku kecil jadi tidak ketahuan. Aku menunggu saat yang tepat untuk keluar ruangan. Sial, aku tidak bisa menjangkau pintu lorong itu. Dan gawatnya lagi di lorong itu juga dipasang kamera, kalau aku lewat situ bisa ketahuan. Ah aku benar-benar terjebak.

“Sedang apa anak kecil ?”

Aku mendengar suara pria. Sumber suara itu dekat sekali denganku. Aku melihat ke samping. Seorang pria sudah berdiri melihatku dengan tatapan sangar. Pria itu menarik kerah bajuku, aku terseret keluar. Kedua pria yang sedang mengintai mendatangi pria lain yang menyeretku. Habis sudah nyawaku, pikirku dalam hati.

“Hei anak kecil. Kamu sudah tahu rupanya.”
“Aku baru tahu malam ini,” kataku dengan nada takut.
“Kenapa kamu sama sekali tidak takut dengan hantu ?”
“Aku…, punya indera keenam. Aku bisa mendeteksi mana yang asli mana yang bohong.”
“Oh jago juga rupanya kamu. Sebentar lagi kamu tidak akan bisa merasakan kelima indramu. Kamu mau mulai dari yang mana ?”

Terlihat pria itu mengeluarkan pisau.  Dan menyodorkan kearahlu. Takut. Aku mulai mengeluarkan air mataku. Sepertinya rumah nomor 26-27 ini ingin dijadikan markas rahasia untuk kegiatan yang negatif.

“Lepaskan saya pak. Saya janji tidak akan berbicara apa-apa pada keluarga saya. Saya akan pindah lusa dan tidak akan pernah menginap lagi di rumah ini. Setelah itu bapak bisa mendapatkan rumah saya dengan harga yang murah. Tolong jangan bunuh saya.”
“Bahkan jika kau sudah pindah aku akan tetap mencarimu karena kamu sudah mengetahui lokasi ini. Ini top secret. Aku bisa dengan mudah mencari keberadaanmu nanti.”
Lorong terbuka. Pria yang tadi masuk kerumahku datang dari lorong itu. Ia kaget melihatku yang berada di rumah ini.
“Kok dia bisa ada disini ?”
“Sepertinya ia tadi melihatmu datang dari lorong.”
“Yasudah bunuh saja,” kata pria itu santai.

Nyawaku sudah berada di ujung tanduk sekarang. Aku harus bisa keluar dari sini. Masa bodoh dengan motivasi yang penting aku ingin hidup.

“Saya janji pak saya akan tutup mulut tapi tolong jangan bunuh saya,” kataku sambil menangis.
“Tidak bisa, siapapun yang tahu akan lorong itu selain kami harus mati.”

Pria itu memegang erat tubuhku. Aku sudah tidak bisa melawan. Nampaknya inilah akhir hayatku. Aku memejamkan mata, pasrah dengan pisau yang akan segera menyayat nadiku. Sepertinya dewi fortuna masih ada padaku. Tiba-tiba terjadimati listrik. Ruangan gelap seketika. Tanpa pikir panjang aku gigit tangan yang menggenggamku. Pria itu berteriak kesakitan dan melepas peganganku.

Aku berlari menuju pintu keluar. Lebih baik aku keluar dari pintu gerbang. Aku takut kalau lorong tempat tadi terkunci, toh aku juga sudah ketahuan. Aku menabrak banyak barang karena tak bisa melihat di kegelapan. Aku hanya mengandalkan feeling dan firasatku yang cukup kuat untuk menemukan arah keluar. Oke aku menemukan pintu keluar, untungnya kunci pintu nyantol di gagang.

Aku berhasil keluar dengan selamat, meninggalkan pria-pria yang berada diruangan itu. Aku  berlari sekuat tenaga menuju rumahku. Aku harus pindah sekarang. Mereka pasti mengincarku. Itu akan membahayakan kondisi keluargaku. Aku sampai di depan rumah.

“BUNDAAAA,” aku berteriak dari luar pagar.

Bunda kaget melihatku yang sudah ada diluar rumah dini hari seperti ini.

“Indera, kamu ngapain di luar rumah ?”
“Udah nggak usah banyak tanya. Ayo kita segera pindah.”
Bunda membukakan pintu depan. Aku masuk ke rumah. Bunda menenangkanku yang menangis dengan nafas tidak teratur.
“Bunda ayo kita segera pergi darisini.”
“Tidak bisa Indera. Koper baru akan dikemas hari ini.”
“Pokoknya kita harus segera pergi.”
“Ada apa ini ?”
Bapak dan Nindi sudah ada di depanku. Mereka kaget melihatku yang berkeringat dan menangis. Nindi terlihat takut.
“Ayo kita pergi darisini.”
“Kita akan pergi lusa Indera. Rumah kontrakkan baru bisa ditempati lusa.”
“Paling tidak kita bisa menginap dihotel dulu kan. Yang penting kita harus pergi dari sini.”

Tak ada yang mengacuhkanku namun setidaknya kepergian dipercepat. Aku akan pergi siang ini dan tidak jadi besok. Pagi-pagi sekali koper-koper sudah mulai diisi dengan baju. Aku meyakinkan keluargaku untuk segera pergi dari sini secepat mungkin.

Aku memang masih penasaran apa sebenarnya yang disembunyikan rumah ini dan cabang-cabang di lorong itu. Pasti cabang-cabang itu menuju ke sebuah ruangan bawah tanah yang cukup besar. Aku yakin di bawah rumah ini tersimpan sesuatu yang sangat berharga oleh karena itu mereka menginginkan rumahku agar ruang bawah tanah itu bisa aman. Namun apa yang tersimpan di ruang bawah tanah itu ? Ah masa bodoh, yang penting aku dan keluargaku mau selamat.

Hari sudah siang. Tak ada tanda-tanda kalau komplotan itu akan datang dan menghunuskan pisau kepadaku. Aku berjanji tidak akan menceritakan kesiapa-siapa. Why ? Aku hanya anak kecil, tak akan ada yang percaya kepadaku. Lagipula aku takut komplotan itu akan mencariku. Aku punya alasan jika suatu saat mereka menemukanku, aku bisa bilang kalau aku belum bercerita. Lebih baik aku dan keluargaku segera pergi dari sini demi keselamatan kami semua.

Mobil yangmembawaku pergi dari rumah sudah melesat. Semua diliuti ketakutan. Hanya aku yang mengerti lebih tentang yang terjadi sebenarnya. Di pos satpam aku melihat pria yang mengancamku dengan pisau. Ia sedang duduk bersama satpam. Bapak menghentikan mobil untuk titip pesan ke satpam. Aduh ngapain sih pake berhenti segala.

“Pak tolong titip rumah itu. Saya sudah berikan kuasa pada broker untuk menjualkan rumah itu. Sementara titip dulu sampai saya datang.”

Pria yang kemarin mengancamku dengan pisau menatap keluargaku dengan tatapan ramah. Senyum pria itu menyembunyikan maksud jahat yang akan semakin terwujud jika ia mendapatkan rumahku. Ah masa bodoh, aku hanya mau hidup. Aku berharap apapun rencana jahat yang ia buat akan gagal. Aku hanya berharap apapun yang tersembunyi dibawah rumahku tidak bisa membahayakan orang lain

Aku tahu ini salah, membiarkan persitiwa kriminal tetap menjadi misteri, namun aku sayang keluargaku, aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi dengan mereka jika aku menceritakan keadaan yang sebenarnya. So, mungkin yang bisa aku lakukan hanya berdoa untuk keselamatan semua orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s