(Refleksiku) Dibalik Pintu Sidang Paripurna

Share pengalaman memasuki sidang parlemen DPD RI dan melakukan diskusi dengan Sekjen DPD. (Kalau ada tanda kurung berarti, aku hanya mencoba menghubungkan kenyataan dengan asumsi yang berkembang)

Tak kusangka aku yang hanya seorang mahasiswa biasa bisa mendapatkan kesempatan ini. Ada 1600 yang mencoab peruntungan ini namun hanya ada 40 orang di Indonesia yang berhak mendapatkan kesempatan ini. Setelah melalui tahap seleksi yang cukup ketat akhirnya tulisanku yang bertajuk “3 Langkah Jika Aku menjadi Anggota DPD” bisa membuatku benar-benar bisa menginjakkan kaki di gedung DPD RI.

Semua berawal pada bulan November ketika diwaktu luangku yang sangat sedikit kugunakan untuk membuat aspirasi kepada anggota DPD lewat lomba “Seandainya Aku Menjadi Anggota DPD”. Tujuanku mengikuti lomba itu adalah untuk memberikan aspirasi langsung ke anggota DPD, karena bagaimanapun tulisanku akan masuk proses penjurian dan dibaca. Tak kusangka aku bisa masuk 20 besar. Bagiku itu sudah cukup karena parameter keberhasilanku memang tulisanku dibaca oleh staf DPD RI. So, perjalanan #visitdpd ini hanyalah bonus saja.

*

Kamis 16 Desember 2012. Aku memasuki Hotel Sultan Jakarta. Lantai keramik dengan lampu kristal yang gemerlap. Kolam renang yang cukup besar dikelilingi taman yang hijau. Hanya suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai membuat simfoni yang stabil. Orang-orang dari berbagai etnis lalu lalang dengan berbagai bahasa yang aku tak mengerti. Cermin yang dipasang di lorong membuatku harus berkaca apakah penampilanku sudah pas untuk memasuki tempat ini. “Memang ini hotel yang mewah. Ya iyalah inikan hotel bintang lima,” gumanku dalam hati.

Aku langsung check in dan naik ke lantai 8. Kamar 869. Masih kosong, teman sekamarku belum datang. Aku duduk dan melihat rundown acara. Makan siang lalu berkunjung ke DPD untuk menghadiri sidang paripurna. Kira-kira ngapain ya sidang paripurna itu ? Ah nanti juga tahu. Oke, masih ada satu jam sebelum makan siang, aku menghabiskan waktu dengan menikmati suasana kamar hotel. “Jarang-jarang nih hotel bintang lima gratis.”

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30, aku belum pernah sedekat ini dengan gedung parlemen. Gedung simbol demokrasi yang diagung-agungkan oleh negara ini. Simbol dimana nilai luhur pancasila (seharusnya) mengakar disetiap individu yang bekerja disini. Gedung tempat dimana Undang-Undang di rumuskan dan (lagi-lagi seharusnya) menjadi tempat pertama UU tersebut diterapkan. Tempat dimana (kata) orang-orang didalamnya semua bebas korupsi. Tempat dimana semua orang yang berhasil masuk kesini (seharusnya bisa) merealisasikan janjinya, karena janji adalah hutan yang (mestinya) dibayar.

Gedung hijau yang biasanya aku lihat di TV sekarang sudah ada tepat didepanku. Suasana berbeda sekali dengan tahun 1998, ketika gedung ini penuh dengan mahasiswa sampai ke atap-atapnya. Kolam dengan air mancur menghiasi halaman depan gedung MPR DPR. Rumput dan pohon menghijaukan halaman ‘istana’. Beginilah suasana gedung pemerintahan, adem ayem dan mewah, berbeda dengan kondisi negara yang… you know lah. But ini baru dariluar, aku tak boleh menilai buku hanya dari sampulnya. Aku tak boleh termakan asumsi atau isu negatif yang berkembang. Siapa tahu memang orang di dalamnya sangat care dengan negara. Aku sih oke-oke saja kalau fasilitas disini mewah asalkan kerjaan beres.

Bus yang membawaku berhenti di sebuah gedung, aku bersama teman-teman baruku masuk ke gedung itu. Oh jadi ini gedung DPD RI. Terletak tak jauh dari gedung MPR DPR. Tunggu, sebelum aku bercerita lebih lanjut, aku ingin bertanya dulu kepada kalian, apa itu DPD RI ? Oke biar lebih jelas aku akan beri penjabaran singkat. Kalau di luar negeri, DPD itu Senat. Jadi DPD bertugas menghubungkan antara suatu daerah dengan pemerintah pusat. Ia punya tiga fungsi legislatif, pertimbangan dan pengawasan  DPD bisa mengajukan RUU dan ikut membahasnya, mengawasi jalannya RUU, Memberikan pertimbangan kepada DPR, Menerima hasil pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan BPK. Buka aja dpd.go.id untuk lebih lanjut. Intinya dalam bahsa orang awam, DPD ada untuk mengembalikan fungsi daerah dalam jalannya pemerintahan.

Oke, lanjut. Aku memasuki sebuah ruangan. Aku berkenalan dengan teman-teman baru yang duduk disekelilingku sembari menunggu acara dimulai. Oke, relasi itu penting dan sekarang kesempatan tepat untuk menambah koneksi. Pak Syiaruddin, Kepala Pusat Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPD, menyambut kami semua dengan gaya khasnya yang kocak. Tipe tua-tua keladi makin tua makin menjadi, pikirku dalam hati. Tapi bolehlah bergaya gokil, secara rata-rata peserta yang ikut masih berusia muda.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba, memasuki ruang sidang parlemen. Kami semua berjalan mengikuti panitia menuju ruang sidang. Aku tak tahu sidang paripurna itu agendanya apa, maklum aku tahu DPD juga hanya sekelebar. Sebenarnya sidang sudah dimulai sejak pagi, kami semua hanya akan hadir di sesi-sesi akhir. Ruang besar yang tertutup untuk umum itu akhirnya terbuka. Aku sudah penasaran dengan apa yang berada di balik pintu itu.

Kalau biasa aku lihat di Televisi, ruang sidang selalu banyak kursi kosong, peserta sidang tidak fokus, banyak yang main gadget atau bahkan tertidur, dan kalau sudah selesai semua akan bersorak merdeka. Oke, apakah semua yang aku lihat itu benar ? Akan segera aku buktikan. Aku memasuki ruang sidang dan duduk di sebuah kursi, langsung celingak-celinguk ke seluruh sudut ruangan.

Ruang rapat yang megah. Berukuran super besar, mungkin lebih besar dari studio di bioskop. Di depan ruangan ada dua layar besar untuk menampilkan slide presentasi. Dua meja besar bertuliskan ketua DPD dan wakil ketua DPD berjejer di depan. Disebelah meja itu ada mimbar untuk pidato.  Meja kursi yang tersusun berundak-undak bagaikan terasering di gunung. Lampu kuning menyala terang di atap yang tinggi. Hawa dingin menyembur dari lubang-lubang AC untuk mengusir panasnya Jakarta. Di setiap meja ada mic dan speaker sebagai mulut dan telinga dalam rapat, tak lupa ada air putih untuk menghilangkan dahaga setelah berbicara panjang. Aku kagum dengan fasilitas yang sangat menunjang untuk kenyamanan rapat.

Suasana ruang sidang

Suasana ruang sidang

Sebagai orang biasa, aku senang suasana rapat yang seperti ini, sejuk, nyaman, dan tenang. Aku yakin rapat akan kondusif jika suasananya seperti ini. Kalau biasa aku rapat di himpunan kampus juga duduk di lantai beralaskan spanduk, ukuran layar seadanya, tak ada konsumsi, mic suka mati nyala, ACnya AC alami. Tapi dengan keterbatasan itu rapat bisa berjalan sesuai agenda. Apalagi kalau suasananya seperti di Gedung DPD ini, aku optimis kalau segala RUU, Amandemen dan lain-lain akan selesai dalam masa kepengurusan.

But, why ? Kenapa banyak kursi kosong disini ? Mungkin dalam satu baris rata-rata hanya ada 8 orang. Ini seperti yang aku lihat di televisi. Apakah memang tidak diundang semua atau bagaimana ? Aku juga tidak tahu. Berbagai asumsi terbayang dibenakku. Aku langsung singkirkan dulu asumsi negatif, aku (berusaha) yakin kalau para petinggi disini adalah orang yang amanah. Oke aku tak mau berasumsi negatif dulu. Besok kan ada sesi diskusi, mungkin akan ada klarifikasi disana mengenai kehardiran.

Aku kembali menyaksikan sidang paripurna. Oh jadi format sidang tuh kayak begini. Kalau dihimpunanku sidang paripurna itu seperti audiensi acara. Setiap kelompok menyebutkan laporan progress yang telah didapat dan dilakukan. Kelompok diwakili satu orang yang berbicara di mimbar dan orang lain mendengarkan.

Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh pembicara. Hello, aku hanya mahasiswa yang ucuk-ucuk masuk ke ruang sidang tanpa tahu apa agendanya. Oke, aku jadi lebih fokus ke suasana sidang. Aku melirik ke para hadirin sidang, kok ada yang ngobrol dan tidak mendengarkan ya ? Mulai muncul asumsi di benakku. Oke akhirnya aku mengambil asumsi kalau mereka mengobrol mengenai topik yang sedang dirapatkan. Tapi itu hanyalah asumsi, dan aku (mencoba) mengambil asumsi positif.

Sudah 30 menit, dan sidang berakhir. Aku memang hanya mengikuti sidang di sesi akhir. Banyak pembuktian yang aku alami di ruang sidang ini. Pembuktian yang menimbulkan banyak asumsi. Optimis saja dulu deh atas semua asumsi yang diambil. Why ? Karena hanya kepada mereka aku bisa menaruh harapan dan harapan haruslah selalu indah.

Acara dilanjutkan malam hari dengan ramah tamah dan dihadiri oleh para petinggi DPD salah satunya Ibu Siti Nurbaya, Sekertaris Jenderal DPD Ri. Acara makan malam berlangsung cukup fancy dengan dress code baju batik. Acara berlangsung formal sampai tiba sesi nyanyi. Tak disangka para anggota DPD pintar nyanyi juga, terbukti dengan sumbangan lagu yang mereka berikan pada kami.

Satu kalimat yang paling membuatku lega pada acara makan malam ini adalah kata-kata dari Bu Sekjen yang kurang lebih berbunyi “Tenang saja, acara dan semua hadiah yang nanti diberikan tidak diambil dari RAPBN, namun dana berasal dari para anggota DPD sendiri.” Alhamdulillah, berarti perjalanan ini bukanlah sebuah kesenangan diatas penderitaan rakyat. Salut untuk anggota DPD yang mau bersusah-susah mengadakan ini untuk menjaring aspirasi dari rakyat.

*
Jumat 17 Februari 2012. Aku sudah duduk di ruang komite satu untuk diskusi sputar parlemen. Aku membuka kota snack yang dibagikan. Selalu sama polanya, satu kantung kacang, dua kue, satu buah dan air putih. Mungkin jika kalian berkunjung ke DPD kalian akan disuguhkan kue dengan pola seperti itu.

Aku melirik ruang diskusi. Lagi-lagi fasilitasnya wah. LCD yang terhubung ke Layar, Televisi

Suasana ruang diskusi sebelum dimulai

Suasana ruang diskusi sebelum dimulai

yang memantau seluruh layar, AC yang dingin, kursi yang empuk dan speaker disetiap meja agar suara bisa terdengar ke seluruh ruangan. Wah asoy nih ruangan kalau dibandingkan dengan kelasku, tidak ada TV, AC, speaker, dan kursi empuk. Tapi memang sudah seharusnya seperti ini. Masyarakat jangan sewot ya dengan fasilitas disini. Aku pribadi ikhlas ruangannya seperti ini, toh fasilitas ini kan untuk menunjuang pekerjaan yang memang akan dikembalikan hasilnya ke masyarakat. Masih banyak ruangan lain yang lebih mewah dari ini di gedung kantor yang tak ada hubungannya dengan kepentingan khalayak ramai diluar sana.

Diskusi dihadiri oleh Ibu Sekjen. Aku mendengarkan dan mencatat poin-poin diskusi. Oh jadi seperti itu…, aku banyak berkata seperti itu di dalam pikiranku ketika mendengar penjelasan narasumber. Ternyata kapasitas gedung DPD itu ada 700 sedangkan anggota DPD ada 132 dan kuota rapat paripurna 50%+1 atau 67 orang. Aku rasa kalau 67 orang kemarin sampai. Oh ternyata anggota DPD itu kerja 2 bulan di daerah dan 1 bulan di Jakarta, pas di daerah harus ketemu sama konstituen selama 10-12 hari. Oh kerja DPD itu ada yang On Public Function yang lebih ke masyarakat dan on floor public function yang lebih ke rapat-rapat.  Oh DPD ada sebagai reinkarnasi dari sumpah pemuda dimana ingin menunmbuhkan semangat lama dimana daerah-daerah juga penggerak negara.

Ternyata DPD juga ingin lebih mendekat ke masyarakat melalui media sosial. Media sosial yang lebih open akan memudahkan DPD menjaring aspirasi dari daerahnya. Melalui media sosial diharapkan DPD bisa mengembalikan persepsi bahwa negara ini adalah milik semua bukan milik segelintir orang saja, negara Indonesia adalah dari sabang sampai merauke bukan hanya yang berada di kursi pemerintahan saja. Impactnya memang anggota DPD harus berani dikritik. Oke media sosial memang identik dengan anak muda dan aku yakin yang membaca tulisan ini juga teman-temanku yang masih muda. So wahai kalian anak muda ayo dukung apa yang ingin DPD lakukan karena kebijakan menggunakan media sosial ini memang lebih ditujukan kepada kalian.

But, be carefull. Prinsip IT adalah open, jadi berhati-hatilah bagi DPD dan bagi kalian sendiri yang memberikan aspirasi. Aku suka geli jika melihat mahasiswa zaman sekarang. Aku yakin jika nanti misalnya DPD sudah membuka akun twitter lalu kalian boleh tweet aspirasi banyak yang akan memberikan aspirasi berbau menyerang. Sebagai contoh, akan ada kenaikan harga BBM, lalu terjadi demo mahasiswa dimana-mana. Kita semua menuntut agar harga BBM tidak naik, tapi kita sendiri tidak mau menggunakan angkutan umum untuk bepergian. Contoh lain kita juga menuntut pemerintah agar tidak korupsi, namun disisi lain kita terkadang copas jawaban, tertidur di kelas, cabut dari kelas, bermalas-malasan dan hal lain yang sebenarnya bibit dari korupsi. Intinya jika memberikan aspirasi nantinya, tuntu diri sendiri dulu baru tuntut orang lain.

Banyak hal yang bisa aku dapat ketika diskusi ini. Kata-kata bijaksana banyak terlontar di ruangan ini. “Tidak ada jaminan kalau pemilu akan menghasilkan kader yang berkualitas,”. “Mungkin Einstein akan menjadi bodoh kalau ia menjadi anggota dewan.” Namun yang paling menusuk menurutku adalah kalimat ini, “Jangan sampai generasi muda nanti sibuk dengan kekuasaannya dan melupakan negara.” Setelah disuksi acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba dan pada malam hari ada acara makan malam di ancol.

Dua hari perjalanan ini adalah pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Ada banyak pelajaran yang bisa aku dapat dari perjalanan ini. Aku sadar selama ini aku terlalu sering menuntut perbaikan namun aku sendiri tidak mau memperbaiki mulai dari diri sendiri. Selama ini aku selalu menginginkan yang terbaik tanpa berusaha menjadi yang terbaik. Aku sering bilang, “ Kenapa sih banyak korupsi di pemerintahan,” padahal aku terkadang nyontek PR. Aku juga sering  mencibir ketidakseriusan para anggota Dewan sedangkan aku sendiri sering tidak fokus dan malaas-malasan untuk kuliah. Hal-hal kecil seperti itu membuatku takut ketika aku sudah menjadi generasi tua yang akan memegang negara. Aku takut kalau harus menelan ludah sendiri. Aku menuntut dan pada akhirnya tuntutan yang aku minta itu akan kembali ke diriku sendiri. Tapi disitulah tantangannya agar aku menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Itulah sepenggal kisah yang bisa aku bagikan kepada kalian dariperjalananku menembus pintu ruang sidang paripurna. Aku hanya mahasiswa biasa, mungkin saja tulisanku diatas banyak mengandung kalimat yang tidak tepat karena kalian sudah lebih jauh mengkaji topik yang aku tulis. Monggo komentar jika ada yang tidak setuju. Oh ya kata terakhir dari saya, DPD ada untuk kepentingan kita semua. Kenali apa itu DPD RI, paling tidak nama perwakilan daerahmu [klik dpd.go.id untuk mengetahui]. Berikan aspirasi membangunmu untuk mereka, caranya dengan reply di komentar atau mention ke @Lombadpd walau itu bukan akun resminya tapi adminnya orang DPD RI kok karena aspirasimu sangat mereka harapkan untuk kemajuan daerahmu.

Sekian

foto bareng perseta bersama Bu Sekjer DPD dan Ketua DPD

foto bareng perseta bersama Bu Sekjer DPD dan Ketua DPD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s