Mata-Mata (PART I)

by widikrisna

Just a fiction story

Kalau dilihat dari luar aku memang terlihat seperti mahasiswa biasa. Kegiatanku juga tak jauh beda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya, pergi kuliah, nge-BEM,  pulang kuliah ke kos, semua tak ada yang berbeda. Penampilanku juga sama seperti mahasiswa lainnya, kaus, celana jeans, sepatu kets, tak ada yang berbeda.

Kalau kata pepatah, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja. Sekilas kalau dari luar aku memang sama seperti mahasiswa lainnya, namun aku memiliki sebuah rahasia yang tak diketahui oleh semua orang. Aku menutup rapat rahasia ini kepada yang lain, bahkan kedua orang tuaku tak tahu sama sekali tentang rahasia ini. Aku akan bocorkan pada kaliah semua rahasia terbesarku. What is that ? Aku adalah seorang mata-mata.

Mata-mata ? Apa yang terpikir di benak kalian ? FBI, CIA, atau spy kids ? Mungkin pekerjaanku tak jauh beda dari itu, namun keberadaanku benar-benar top secret dan tak diketahui seperti mereka. Aku telah disumpah untuk tidak berbicara tentang rahasia ini pada siapapun atau nyawaku dan keluargaku jadi taruhannya.

Sebenarnya untuk apa keberadaanku ? Tentunya untuk memata-matai kalian semua. Jangan pikir keberadaan kalian tidak diintai oleh negara, buktinya ada aku yang selalu mengintai keadaan masyarakat sekitar dan sasaranku adalah mahasiswa. Aku mengumpulkan data dengan pengamatan langsung. Sepertinya tidak ada metode yang lebih baik untuk mendapatkan data masyarakat selain terjun langsung ke dalamnya. Jika ada indikasi akan adanya gerakan atau boikot, aku akan tahu dan memberitahukannya pada negara. Aku juga menghimpun database mahasiswa dan memberikan catatan kecil di database itu. Catatan itu berisi tentang karakter, perilaku, watak, riwayat hidup, pokoknya semua informasi yang berguna bagi negara.

Sebenarnya untuk apa data yang aku berikan kenegara ? Aku juga tidak tahu. Aku hanya menerima pesan untuk melakukian tugas itu dan bagaimana mekanismenya untuk menyerahkan kepada negara. Mungkin negara takut terjadi gerakan-gerakan tersembunyi di kalangan mahasiswa yang dapat mengancam stabilitas. Mungkin juga negara ingin merekrut orang-orang yang memang berbakat dibidang politik. Aku juga tidak tahu untuk apa data tersebut. Aku pernah bertanya kepada atasanku, sebenarnya untuk apa data itu. Lalu jawaban yang aku terima hanyalah “Kau tak boleh tahu agar jika identitasmu terungkap kau tidak bisa bercerita apa-apa.”

Keberadaanku memang sangatlah rahasia. Aku bahkan tidak tahu apa nama organisasi mata-mataku ini. Mungkin memang tidak dinamai agar tidak pernah terdengar gaung apa-apa tentang mata-mata ini. Aku yakin aku tidak sendiri di kampusku ini. Ada juga mata-mata sepertiku, namun aku tak pernah diberitahu siapa mereka. Semua untuk mencegah terjalinnya komunikasi di anatar kami dan semua untuk menjaga kerahasiaan gerakanku. Aku memang diarahkan untuk bekerja sendiri.

Aku adalah wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusku. Aku diwajibkan untuk mengambil posisi ini oleh atasanku. Mungkin beberapa posisi penting di kampusku diisi oleh mata-mata sepertiku. Memang dengan mengambil posisi penting membuatku bisa mengetahui informasi lebih banyak dan lebih cepat. Mungkin saja ketua BEMnya juga merupakan mata-mata sepertiku, mmm, aku malas berasumsi.

Oya mengenai atasanku…, hanya dia orang yang aku hubungi. Tapi jangan berpikir aku pernah temu fisik dengannya, aku bahkan tak tahu rupanya seperti apa, namanya saja aku tak tahu. Caraku menghubunginya memang unik, kalian akan tahu nanti. Aku direkrut oleh atasanku dengan cara dikirim surat. Aku tak tahu kenapa atasanku memilihku. Yang jelas aku tahu kalau atasanku itu nyata dan dia bekerja untuk negara ini.

*

Hari itu aku sedang beraktifitas seperti biasa. Senin yang cerah, hari ini aku akan menghadapi ujian mata kuliah yang paling aku benci, ah walaupun aku benci mata kuliahnya aku yakin bisa mengerjakannya. IQ-ku memang tergolong tinggi, aku bisa menyerap pelajaran dengan cepat. Mungkin itu kriteria menjadi mata-mata.

Aku keluar ruangan ujian dengan raut wajah senang. Soal-soal yang mudah, pikirku dalam hati. Aku melihat ke sekumpulan mahasiswa yang sedang sibuk melihat soal dan membandingkan jawaban yang mereka tulis. Aku tahu, mereka semua memiliki karakter study oriented dan oportunis. Akademik adalah hal nomor satu yang mereka kedepankan. Aku melihat ke gerombolan mahasiswa lain, mereka sedang merokok sembari nongkrong. Karakter mereka adalah masa bodoh, namun tetap baik hati, hanya saja rasa malas cepat menguasai mereka. Ok, aku sudah cukup handal mengenal karakter orang.

“Mau kemana lo ?” sapa seorang temanku.
“Gw ada rapat BEM habis ini.”
“Oh sibuk banget sih. Yaudah semangat deh. Jangan lupa cari cewek, kalau nggak fans-fans lo gw ambil nih.”
“Silakan aja .”

Aku memang cukup populer di kampus. Dengan wajah yang cukup tampan, ditambah posisiku di BEM membuatku punya banyak fans. Haha senangnya. Namun aku takut menjalin hubungan dengan wanita karena pekerjaanku ini. Menerima pekerjaan ini berarti menggadaikan keselamatan keluargaku. Jika aku identitasku ketahuan maka dapat dipastikan nyawaku dan keluargaku akan langsung lenyap. Oke lebih baik jangan berhubungan serius dulu dengan wanita.

Aku memasuki ruang BEM, sudah ada beberapa anggota BEM lain, rapat akan dimulai 10 menit lagi. Hari ini akan ada rapat penting, hanya petinggi BEM yang diundang untuk hadir. Nampaknya akan banyak informasi yang akan mengalir hari ini. Aku suka heran dengan mahasiswa sekarang yang senang sekali mengadakan banyak aksi namun tak beresensi. Sudah banyak rencana kegiatan mahasiswa yang aku gagalkan karena mengancam image negara, kebanyakan demo atau aksi protes.

Rapat sudah mau dimulai, semua petinggi BEM sudah hadir. Aku duduk di samping ketua BEM. Aku sudah mendengar desas-desus tentang sebuah gerakan yang akan segera diinisiasi oleh BEM. Gerakan positif atau negatif ? Nampaknya hari ini rapat BEM akan membahas tentang gerakan itu.

“Yak berhubung semua sudah hadir, mari kita buka rapatnya dengan berdoa menurut agama dan kepercayaannta masing-masing,” kata ketua BEM.

Aku berdoa beserta semua anggota lain. Aku penasaran siapakan mata-mata lain selain aku diruangan ini. Rapatpun dimulai. 2 jam rapat berjalan dan banyak hal yang harus aku laporkan ke negara.

*

Bagaimana caraku memberikan informasi ini kepada atasaku ? Cukup unik. Aku tak berkomunikasi dengan SMS, Email atau media elektronik lain. Aku juga tak berkomunikasi dengan temu muka. Lalu bagaimana ? Oke yang pertama aku akan menuliskan semua informasi yang aku dapat di sebuah kertas A4 yang diberikan khusus oleh atasanku. Aku hanya boleh menulis disini, tak boleh di kertas lain. Aku juga tak boleh membuat copy atas apa yang aku tulis. Aku memang belum pernah mencoba mengcopy tulisanku dan aku tidak berani untuk melakukannya.

Setelah ditulis aku akan menuju suatu tempat dimana atasanku menyuruhku. Tempatnya dapat berupa tempat sampah, kotak pos, meja, kamar mandi, apapun bisa. Ditempat itu aku akan meletakkan tulisanku yang sudah diamplop kemudian pergi. Tepat dua jam setelah itu aku harus kembali untuk mengambil amplop baru yang berisi kertas khusus untuk menulis informasi selanjutnya, langkah yang harus aku ambil, jadwal dan tempat aku harus menyetor informasi selanjutnya. Jika sudah akhir bulan ada amplop tambahan yang berisi uang tunai sebagai gajiku.

Begitulah aku berkomunikasi dengan atasanku. Aku terkadang bingung. Jadwal yang diberikan selalu tepat setelah rapat BEM, atau setelah event besar, pokoknya selalu ada sesuatu yang bisa aku laporkan. Itu makin membuatku yakin kalau ada mata-mata lain yang juga petinggi di BEM atau di kampus.

Aku selalu penasaran siapa yang mengambil amplop yang aku berikan,  namun aku diarahkan untuk pergi dan kembali 2 jam setelah itu. Aku pernah mencoba stay dan mengintip untuk melihat siapa yang mengambil. Hasilnya ? 10 menit setelah aku menaruh informasi dan mengintip, ibuku diserempet motor secara sengaja. Semenjak itu aku tak berani main-main dengan peraturan yang diberikan kepadaku.

Aku membaca kembali informasi yang aku berikan kepada negara. Secarik kertas berukuran A4, dengan warna cokelat. Di ujung kertas itu ada stempel negara ini. Aku tak boleh salah memberikan informasi pada negara.

“Kode : 34y83127hduw3u823

Saya berjanji apapun yang saya tulis disini tak saya copy dan tak saya berikan kepada siapapun. Hari ini ada rapat BEM tertutup untuk para petinggi BEM. Yang ingin saya informasikan adalah akan segera diinisiasi sebuah gerakan demontrasi atas kebijakan kenaikan uang kuliah yang tidak beralasan. Saya beritahu juga kalau rektor akan menaikkan uang kuliah sebesar 50 persen tanpa ada transparansi penggunaan uang kampus untuk apa. Berbagai kajian telah dilaksanakan untuk gerakan ini. Sehingga gerakan ini akan memiliki dasar yang kuat dan sulit terbantahkan. Jalan damai memang sudah pernah ditempuh pihak BEM namun tidak ada jalan yang memuaskan kedua pihak.

Gerakan ini akan berkolaborasi dengan semua jurusan di kampus ini. Gerakan ini akan menjadi gerakan yang cukup besar dan akan menjadi sorotan media. Gerakan ini rencananya akan dilaksanakan tanggal 1 Mei 2011 di depan gedung rektorat. Mahasiswa sepakat kegiatan belajar mengajar akan dikosongkan sebagaibentuk dukungan atas gerakan ini.

Gerakan ini akan dilaksanakan hingga ada jawaban atas tuntutan para mahasiswa. Mereka berjanji tak akan pergi dari depan gedung bahkan jika harus menginap. Mereka menuntut agar uang kuliah tidak dinaikkan setidaknya harus ada transparansi keuangan yang jelas akan perginya uang tersebut. Pertemuan secara baik-baik dituntut mahasiswa sampai mereka bisa menemukan win-win solution atas masalah ini.

*

Dua jam telah berlalu semenjak aku menaruh informasi tersebut di dalam laci meja di sebuah ruangan di kampus. Aku kembali masuk ke ruangan untuk mengambil jawaban atas informasiku. Aku merogoh laci tersebut dan mengambil sebuah amplop. Aku tidak boleh membuka di ruangan itu, aku harus kembali ke kos dan membukanya disana.

Aku pulang ke kos dengan menggunakan kendaraan umum. Hari sudah senja, jadwal setor informasi memang seringnya sore hari. Kira-kira apa yang harus aku perbuat ya atas gerakan ini. Kalau disuruh menggagalkan, nampaknya aku tak punya kuasa. Aku harus berargumen apa untuk melawan hasil pengkajian yang memang benar. Namun masa sih harus digagalkan ? Aku pikir negara akan mendukung aksi ini karena memang aksi ini beralasan.

“Hei lagi mikirin apa sih ?” aku bertemu dengan teman sejurusanku di angkutan umum.
“Mikirin tugas matkul SAP,” aku berkilah.
“Waelah tugas masih minggu depan udah dipikirin. Habis ngapain ? Bukannya hari ini Cuma ujian doang ya pagi-pagi ?”
“Lo sendiri ngapain ?”
“Gw habis unit kesenian Jepang. Lo habis ?”
“Gw habis ketemu temen.”
“Eh gw denger desas desus kita mau demo besar ya bulan depan ?”
“Tahu dari mana lo ?”
“Ya dari gosip. Lo kan wakil ketua BEM pastinya tahu lebih dong.”
“Iya, kita mau demo rencananya. Tapi baru rencana, mau teknisnya kayak apa, kita juga masih belum tahu. Kalau udah fix nanti bakal ada sosialisasinya kok.”
“Oke deh.”

Aku sampai di kosan dan langsung membuka amplop yang berisi perintah negara.
“Kode berikutnya : c4280u3n8c02u. Laci meja ketiga dari bawah ruang X Audiotorium. 28 Februari. Jam 18.30. Gagalkan gerakannya, kau dibayar untuk itu.”

Bingung, bagaimana cara menggagalkan gerakan ini. Aku tak bisa menyerang mereka hanya dengan sebuah argumen. Sial, mereka sudah menuntut. Jadwal setor informasi masih tiga hari lagi. Apa yang bisa aku lakukan dalam tiga hari ya ? Daripada bingung lebih baik tidur saja deh, nanti pasti ada jalan.

Bersambung

Advertisements

2 comments on “Mata-Mata (PART I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s