Mata-Mata (PART II)

by widikrisna

semoga aku membuat ending yang memuaskan

Dua jam telah berlalu semenjak aku menaruh informasi tersebut di dalam laci meja di sebuah ruangan di kampus. Aku kembali masuk ke ruangan untuk mengambil jawaban atas informasiku. Aku merogoh laci tersebut dan mengambil sebuah amplop. Aku tidak boleh membuka di ruangan itu, aku harus kembali ke kos dan membukanya disana.

Aku pulang ke kos dengan menggunakan kendaraan umum. Hari sudah senja, jadwal setor informasi memang seringnya sore hari. Kira-kira apa yang harus aku perbuat ya atas gerakan ini. Kalau disuruh menggagalkan, nampaknya aku tak punya kuasa. Aku harus berargumen apa untuk melawan hasil pengkajian yang memang benar. Namun masa sih harus digagalkan ? Aku pikir negara akan mendukung aksi ini karena memang aksi ini beralasan.

“Hei lagi mikirin apa sih ?” aku bertemu dengan teman sejurusanku di angkutan umum.
“Mikirin tugas matkul SAP,” aku berkilah.
“Waelah tugas masih minggu depan udah dipikirin. Habis ngapain ? Bukannya hari ini Cuma ujian doang ya pagi-pagi ?”
“Lo sendiri ngapain ?”
“Gw habis unit kesenian Jepang. Lo habis ?”
“Gw habis ketemu temen.”
“Eh gw denger desas desus kita mau demo besar ya bulan depan ?”
“Tahu dari mana lo ?”
“Ya dari gosip. Lo kan wakil ketua BEM pastinya tahu lebih dong.”
“Iya, kita mau demo rencananya. Tapi baru rencana, mau teknisnya kayak apa, kita juga masih belum tahu. Kalau udah fix nanti bakal ada sosialisasinya kok.”
“Oke deh.”

Aku sampai di kosan dan langsung membuka amplop yang berisi perintah negara.
“Kode berikutnya : c4280u3n8c02u. Laci meja ketiga dari bawah ruang X Audiotorium. 28 Februari. Jam 18.30. Gagalkan gerakannya, kau dibayar untuk itu.”

Bingung, bagaimana cara menggagalkan gerakan ini. Aku tak bisa menyerang mereka hanya dengan sebuah argumen. Sial, mereka sudah menuntut. Jadwal setor informasi masih tiga hari lagi. Apa yang bisa aku lakukan dalam tiga hari ya ? Daripada bingung lebih baik tidur saja deh, nanti pasti ada jalan.

*

Oke. Aku sudah mempunyai rencana untuk mengagalkan gerakan ini sebelum perencanaan berjalan lebih jauh. Kurasa 3 hari bukan waktu yang lama untuk melaksanakan rencana ini. Kalau dipikir-pikir, kenapa harus digagalkan sih ? Apakah kampus ini takut mempertanggungjawabkan kebijakannya? Menurutku tak masalah sih jika mau mengadakan demo, hitung-hitung kontrol kepada rektorat. Toh tuntutan mahasiswa itu juga beralasan. Mahasiswa hanya ingin kejelasan akan sistem keuangan kampus. Mereka juga ingin membela mereka yang kurang mampu jika uang kuliah dinaikkan. Aku yakin dengan ketemu antara perwakilan mahasiswa dengan pemerintah nanti pasti akan menghentikan demo. Aku pribadi pro dengan gerakan ini. Mengapa negara terkesan takut sekali ? Apakah negara ini takut berita bobroknya kampus ini tercium media ? Aku pikir negara akan mendukung aksi ini.

Andai aku bisa menolak permintaan yang tertulis di kertas itu. Apa lebih baik aku berkhinat pada atasanku ? Oh opsi itu sama saja membunuh ibu, bapak dan kakakku. Bagaimanapun aku sudah menjual kebebasanku pada pemerintah, tidak menjalankan apa yang diperintahkannya sama saja dengan bunuh diri. Namun setidaknya aku ingin tahu kenapa negara tidak setuju dengan aksi beralasan ini ?

Aku berjalan menuju ke kelas untuk suatu mata kuliah. Kelas sudah hampir penuh. Aku duduk di barisan depan, menjadi frontseater adalah kebiasaanku. Dengan duduk di depan, sedikit mendengar namun ilmu yang masuk banyak.

“Dah ngerjain tugas belom ?” Seseorang langsung mendatangiku sedetik setelah aku duduk.
“Udah, mau lihat ?”
“Tentu.”

Aku menyerahkan PR yang aku kerjakan pada temanku. Giliran demo saja semangat, namun mengerjakan PR malas. Seharusnyakan sebelum menuntut orang lain harus bisa menuntu diri sendiri untuk sebuah perbaikan. Begininih mahasiswa Indonesia.

Kelas sudah selesai, setelah ini aku kosong selama dua jam. Saatnya menjalankan rencanaku untuk menggagalkan gerakan ini. Didepan teman-teman aku harus tetap mendukung gerakan demo itu, tapi demi negara aku harus bertindak sebaliknya. Cukup sulit juga. Aku harus bisa masuk ke ruang rektor universitasku, namun tentunya tidak dengan cara yang seharusnya.

Gedung rektorat berada di dekat pintu keluar, cukup jauh juga. Maklum universitasku memang kelewat luas. Aku kembali memikirkan rencanaku matang-matang. Kalau rencanaku ketahuan gimana ya ? Bisa mati aku.

“Mau kemana lo ? Makan yuk ?” seseorang menepuk pundakku, membuatku sedikit lompat karena kaget.
“Ih lo bikin gw kaget aja,” kataku.
“Serius amat. Mikirin apa sih ?”
“Nggak ada. Ntar ah, masih kenyang.”
“Lo mau kemana sekarang ?”
“Mau pulang ke kos.”
“Dua jam lagi kan kuliah, nanggung amat pulangnya.”
“Ya suka-suka gw kan.”
“Oke deh. Gw mau ke kantin dulu.”

*

Aku sudah didepan gedung rektorat. Gedung dengan tingkat tiga yang cukup megah. Catnya masih baru. Gedung ini memang baru direnovasi untuk menunjang kenyamanan. Rektor pastilah sangat sibuk. Untuk ketua BEM dapat bertemu dengan rektor saja membutuhkan birokrasi yang ribet dan cukup lama. Oke harus menggunakan cara ‘kekerasan’. Yang penting aku sudah memastikan kalau saat ini rektor beada di dalam.

Aku berjalan menuju mengelilingi gedung rektorat. Ada empat tempat sampah yang mengelilingi gedung rektorat. Aku membuang sebuah bungkusan ke dalam masing-masing tempat sampah. Aku menunggu sembari mendengarkan musik dari headsetku. Kesunyian di gedung rektorat terusik dengan suara ledakan yang cukup besar dari tempat sampah.

Orang-orang yang berada dekat dengan kejadian langsung menutup kuping mendengar ledakan yang cukup besar. Aku melepas headsetku karena ledakan sudah berakhir. Lumayan juga headset ini dapat mengurangi efek ledakan di telinga. Asap putih keluar dari tempat sampah. Sesuai dengan harapanku, satpam yang menjaga gedung rektoran keluar.

Aku langsung berlari kepintu. Tak ada yang memperhatikanku karena semua sibuk dengan tempat sampah itu. Aku membuka pintu dan langsung menuju ke meja satpam. Di meja satpam yang cukup besar ini ada 2 komputer yang terhubung dengan CCTV gedung ini. Aku colok flashdiskku yang berisi dan mengimplan virus untuk mematikan seluruh sistem CCTV. Aku harus lakukan ini dalam waktu kurang dari 1 menit karena ledakan tadi pasti akan menarik perhatian penghuni gedung ini.

Hanya butuh waktu 30 detik untuk mematikan seluruh sistem CCTV gedung ini. Aku mencabut flashdiskku dan menciumnya sembari tersenyum licik. Aku menekan tombol alarm gedung yang terletak dekat dengan meja satpam untuk membuat semua penghuni turun keluar. Suara kring yang menggema diseluruh gedung bagaikan sihir yang membuat semua orang panik. Biasanya sirine itu dibunyikan jika terjadi kebakaran.

Aku menunggu di lorong. Kegaduhan segera terjadi. Sudah ada bunyi ledakan, ada suara sirine pula. Semua penghuni berlari keluar. Pasti rektor berada di antara gerombolan orang yang ingin keluar ini. Setelah 5 menit kegaduhan aku langsung naik ke lantai dua melalui tangga. Suasana dilantai satu masih ramai, mungkin aku punya waktu sekitar 30 menit.

Aku harus menuju ke ruang rektor untuk mendapatkan data keuangan. Menurutku salah satu cara untuk mencegah demo adalah dengan mendapatkan laporan keuangan kampus dan menyebarkannya ke mahasiswa. Pasti mahasiswa berpikir kalau rektor korupsi, namun belum tentu juga kan. Keuangan kampus kan ada laporannya dan akan terlihat jelas kemana uang mahasiswa pergi dan sebenarnya kurang berapa sehingga harus menaikkan uang kuliah. Kalau misalnya rektor korupsi, itu jadi lain soal. Aku pikir itu solusi yang cukup adil.

Suara sirine masih berbunyi ketika aku memasuki ruang rektor yang tidak dikunci. Wah mudah sekali masuk ke ruang rektor tanpa harus diketahui. Ruangan yang besar dengan meja kayu besar. Rak berisi mapmap tersusun rapi. Pendingin ruangan yang menyemburkan angin dingin, bahkan kelewat dingin. Komputer flat yang menyala tanpa perlindungan. Oke aku harus segera menuju komputernya dan mengimplan semua datanya ke dalam hardiskku. Tak mungkin aku mencari datanya sekarang, pasti akan butuh waktu lama.

Aku menuju ke komputer yang menyala, ditinggalkan begitu saja oleh rektor. Aku langsung mencolok hardiskku ke port komputer. Aku menggunakan software yang sudah aku install di harddisk, software untuk mengimplan data dengan cepat. Sekarang hanya tinggal menungguk kurang lebih 2 menit untuk mendapatkan semua data di komputer rektor.

Aku pernah mendapat tugas mencari software-software aneh ketika perekrutanku menjadi anggota mata-mata. Oya jangan dipikir kalau mata-mata sepertiku tidak memiliki senjata, namun aku tak seperti james bond yang mempunyai senjata canggih seperti pistol atau kacamata SPY. Senata yang aku punya adalah software-software komputer ajaib yang bisa mempermudahku melakukan tugasku. Kalau senjata membela diri tak ada, hanya kemampuan karate yang diatas rata-rata.

Aku melihat ke meja rektor. Aku tercengang dengan sebuah amplop yang tak asing di mataku. Itu amplop khusus yang biasa digunakan untuk memberikan pesan kepadaku. Aku mengambil amplop itu dan tertera namaku disitu. Hah ???? Loh kenapa ada namaku di amplop itu. Apakah pak rektor selama ini yang menjadi atasanku ?Belum tentu juga. Aku menjadi super penasaran dengan amplop ini.

Suara sirine berhenti berdering. Waktuku untuk tetap diruangan ini semakin sempit. Aku sudah selesai mengkloning laptop pak rektor. Bingung, Ambil tidak ya amplop ini ? Dalam tugasku salah mengambil langkah saja berbuntut nyawa apalagi mengambil amplop rahasia. Namun kan di amplop ini ada namaku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil amplop itu.

Aku langsung keluar ruangan rektor. Dengan hati-hati agar tidak diketahui siapapun aku menuju ke lantai satu. Suasana masih heboh, orang-orang masih belum berani masuk ke dalam gedung. Aku memasang wajah yang sama dengan wajah yang lain, ekspresi takut campur bingung. Oke aku sukses masuk ke ruang rektor tanpa diketahui dan dicurigai siapapun.

Aku keluar gedung dan langsung menuju ke kosan. Peraturan melarang membuka amplop seperti ini di tempat ramai. Seribu tanya sudah terbayang di otakku. Apakah rektor juga mata-mata ? Untuk apa aku memata-matai mata-mata. Yang membuatku tambah bingung adalah ada namaku di amplop itu.

Aku masuk kekosan dan langsung membuka amplop itu. Secarik kertas dengan tulisan tangan yang tak asing dimataku. Itu tulisan atasanku. Kali ini tulisan yang ia tulis jauh lebih panjang dari yang sebelumnya. Aku baca tulisan itu.

“ Aku tercengang dengan metodemu untuk menyelesaikan tugasmu. Aku sudah memikirkan kalau kamu akan melakukan ini. Oleh karena itu aku masuk ke ruang rektor sebelum kamu masuk dan meletakkan surat ini. Sebenarnya aku hanya mengetesmu. Aku menyuruhmu untuk menggagalkan demonstrasi itu. Jika kau pintar maka ini adalah salah satu metode untuk menyelesaikan masalahmu.  Jika kau bodoh maka kau akan berdiri di sisi lain dari petinggi BEM dan menyatakan kontra.

Yang terpenting adalah jangan lupa kau bekerja untuk negara. Demosntrasi itu adalah gerakan yang memiliki dasar dan bisa sebagai salah satu fungsi kontrol terhadap negara. Jangan karena aku yang menyuruh, kamu menggadaikan kebenaran. Jangan sampai kamu takut untuk menyampaikan kebenaran walaupun nyawamu taruhannya. Kamu dibayar untuk itu bukan untuk memuaskan permintaanku. Sekali lagi Kamu bekerja untuk negara bukan untukku. Jadi apapun langkah yang kamu lakukan pastikan itu baik untuk negara. Jadi lanjutkan usahamu. Kode dan jadwal sama dengan sebelumnya.

Nb : Hati-hati dengan file dihardiskmu. Aku telah mengimplan virus di laptop rektor sebelum kamu masuk. Kamu hanya bisa membuka sebuah file dimana file itulah yang kamu cari.
Jika kamu penasaran siapa aku sebenarnya …, sampai kapanpun kamu tidak akan aku beritahu.
Akan ada banyak lembaran di gajimu bulan depan

finished

Advertisements

3 comments on “Mata-Mata (PART II)

  1. Nice, nice, nice. Carilah kebenaran, bukan pembenaran. Bicaralah dengan berdasarkan bukti dan data yang valid. Talk less, do more… and do it right. Sepertinya hal-hal itu yang mau lu sampaikan ya?

    Dari segi cerita… keliatannya agak sedikit terlalu ideal kalo ngeliat pekerjaan si X ini berjalan mulus2 aja (kecuali yang waktu ibunya diserempet motor). Menurut gw biar lebih “menggigit” (ky kata pak AZA, hahaha), konfliknya perlu ditambah deh. Biar ada sport jantungnya juga, hahaha. Tadinya gw mikirnya si rektor justru masih ada di ruangannya lho. Jadi pas si X mengekstrak file2nya, tau2 ada bunyi langkah kaki… ternyata itu sang rektor, musuh utama dalam pekerjaan tersebut. Hahaha, maaf ini pasti gara2 gw kebanyakan nonton film, anime, sm maen game :p

    Bikin sekuelnya dong! Pengen aja tau apa reaksi yang terjadi (terutama dari temen2 di BEMnya) setelah aksi rahasia yang dia lakukan itu

    Good job, Wid!

    • oh gitu ya. Thanks untuk masukkannya Ri.
      Wah kalau sequel tak akan dibuat. Gw emang sengaja membuat pembaca berpikir sendiri kira-kira bagaimana kelanjutan dari aksi demo tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s