I Want To Go Home (PART I)

by widikrisna

Mungkin cerpen ini mewakili betapa rindunya aku pada rumah

Aku menunggu di bandara yang ramai. Orang-orang berbeda ras lalu lalang di depanku. Mereka juga memiliki ekspresi yang sama denganku. Aku menarik nafas sembari mengusap kedua tanganku. Udara cukup dingin, baju hangat yang aku kenakan seakan tidak mempan melawan dinginnya udara, padahal pemanas ruangan telah dinyalakan untuk mencegah orang disini terkena hipotermia.

Aku melihat ke arah jam dinding besar yang berada dekat dengan pintu keluar. Seharusnya penerbanganku sudah berangkat semenjak 6 jam lalu namun badai salju sial. Aku melihat kearah jendela sembari mengumpat di dalam hati. Tak ada tanda-tanda badai salju ini akan segera reda. Titik putih es yang jatuh dari langit seakan tidak memiliki jumlah yang bisa dihitung. Sudah hampir seminggu badai salju menyelimuti negara kecil ini.

Aku berdiri dari ruang tunggu ini. Sudah lelah bokongku duduk, rasanya semua darah sudah berkumpul di suatu titik. Aku menuju ke sebuah kafetaria yang terletak di dekatr ruang tunggu. Nampaknya secangkir kopi hangat bisa sangat merilekskan tubuh. Aku masuk ke kafe dan memesan cappucino hangat.

Aku duduk sembario menunggu pesananku datang. Aku buka komputer tabletku. Tak kusangka secangkir kopi hangat sudah tersaji di meja. Aroma kayu manis makin menggugsah seleraku. Aku menyeruput kopi hangatku, sensasi rileks langsung menggerayangi tubuhku. Aku menaruh cangkirku dan fokus ke komputer tabletku.

Aku berkaca pada bayanganku yang terpantul di layar tablet. Inilah aku, seorang mahasiswa yang sedang menimbal ilmu di negeri orang. Negara inggris menjadi pilihanku untuk mencari ilmu. Aku sudah semester 3, masih setengah jalan sebelum aku mendapat gelarku. Aku kuliah disini karena berhasil mendapat beasiswa yang aku aplly secara iseng-iseng. Mungkin karena faktor hoki aku bisa menerima beasiswa itu.

Awalnya aku tak mau mengambil beasiswa itu karena aku belum pernah pergi sejauh ini dari rumah. Namun kedua orang tuaku meyakinkanku untuk mengambil kesempatan langka ini. Jurusan bisnis managemen, wawa jurusan yang memang aku ingin geluti, sesuai dengan cita-citaku. Apalagi diterima di perguruan tinggi luar negeri, walaupun tidak terlalu terkenal, pasti orang sudah berekspektasi tinggi dengan lulusan luar negeri.  Akhirnya aku menerima beasiswa itu. Toh ternyata hidup disini menyenangkan juga.

Sudah satu setengah tahun aku merantau dari kampung halaman. Aku jarang bertukar kabar dengan keluargaku disana. Keluargaku masih tinggal di desa yang sangat tradisional. Boro-boro internet, jaringan telepon saja belum masuk. Satu-satunya cara untuk menghubungi keluargaku adalah melalui surat atau telepon yang berada 3 kilometer dari desa. Terkahir kali aku berhubungan dengan keluargaku adalah dua bulan lalu ketika aku bertukar surat dengan Adikku. Aku berkata pada adik akan pulang ketika libur natal ini.

Rasanya rindu untuk bisa berkumpul kembali dengan keluarga, bercanda gurau dengan mereka, menikmati suasana desa yang asri dan yang terpenting makan makanan tradisional yang menggugah selera. Andai tak ada hujan salju sudah 2 hari lalu aku pulang. Sial, penerbangan selalu ditunda karena salju tak kurun reda.

Satu hal yang ingin aku lakukan ketika pulang adalah memperkenalkan teknologi informasi kepada keluargaku sehingga setidaknya aku bisa menghubungi mereka kapan saja aku mau. Sepi rasanya sendiri merantau disini. Walaupun aku sudah memiliki banyak teman baru, namun tetap saja tak ada yang bisa menggantikan manisnya kampung halaman. Itu hanya satu alasan, ada satu lagi alasan aku harus pulang secepat mungkin, mmmn nanti aku beritahu.

Aku juga sudah mencari kegiatan untuk mengalihkan rindu akan kampung halaman. Kerja parttime sudah aku lakukan untuk mengisi waktu dan sebagai tambahan biaya hidup disini. Oya aku juga mendapat beasiswa uang saku. Berbagai teknologi baru akan aku bawa ke desa untuk mempermudahku mengobati rindu disini.

Aku tak mungkin mengandalkan mereka untuk berkembang sendiri. Toh kebanyakan kultur orang desaku itu tertutup. Bagi mereka asal bisa makan cukup, ya sudah cukup. Perekonomian desaku begitu-begitu saja, sebagian besar dari mereka adalah petani, peternak, penambak dan pengurus kebun. Sungguh kultur yang berbeda dengan disini dimana semua adalah karyawan yang bekerja di gedung-gedung.

Aku kembali fokus pada komputer tabletku. Aku menekan timbol kalender. Masih ada dua minggu sebelum libur natal usai, aku sudah kehilangan satu minggu yang sangat berharga karena badai slaju sial ini. Oke kembali optimis aku akan pulang sebentar lagi. Sinyal wi fi oke, aku langsung berseluncur di dunia maya.

Aku mencari perkembangan terkini tentang desaku. Aku membuka kembali berita yang telah aku save di komputer tabletku. Berita yang membuatku cukup tercengang ketika dua hari yang lalu aku membacanya. Ini berita tentang negaraku dan tepatnya tentang daerahku. Sebuah banjir bandang melanda daerahku tinggal dua hari lalu. Banjir datang tiba-tiba karena curah hujan yang sangat besar belakangan ini. Aku melihat foto kejadian, sungguh menyedihkan. Banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan diri karena banjir terjadi malam hari. Aku merinding membaca berita ini. Koran internasional saja sampai memberitakan ini, pasti kondisi disana juga sudah gawat. Keluargaku…

Pertanyaanya apakah banjir itu melanda desaku juga ? Kalau misalnya iya, bagaimana dengan kondisi keluargaku ? Ah sial aku sama sekali tidak bisa menelpon mereka. Perasaaan sekarang tak lebih dari sebuah kekhawatiran. Tak perlu melepas rindu, yang aku inginkan adalah melihat mereka semua selamat Aku menutup komputer tabletku. Jantungku berdetak kencang karena khawatir. Aku menghabiskan kopiku untuk menengkan diri.

Aku keluar dari kafe, namun langkahku terhenti ketika melhat tanda delayed tertera di monitor keberangkatan. Aku melihat ke jendela, badai salju masih mengamuk. Ah ayolah berhenti, aku ingin sekali pulang ke rumah. Aku ingin memastiakn kondisi keluargaku. Bisa saja mereka sudah meniggal sekarang. Ups apa yang aku pikirkan ? Aku tidak boleh berpikiran negaif, aku yakin mereka semua selamat.

Aku hanya bisa berdoa sekarang, menunggu hujan salju reda. Suhu diluar pastilah sangat dingin, mungkin mencapai minus 10 derajat celcius. Ini merupakan hujan salju terburuk dalam empat tahun terakhir. Sudah banyak warga yang terkena hipotermia. Ah kekhawatiranku pada keluargaku mengalahkan sekedar dingin salju.

Aku kembali duduk di ruang tunggu. Sudah semalam aku menghabiskan malam di bandara, nampakanya akan menjadi dua malam. Baju yang aku kenakan masih sama dengan yang kemarin. Malas mandi rasanya di udara sedingin ini. Aku kembali menyalakan komputer tabletku, melihat perkiraan cuaca. Tak ada satupun kabar bagus yang bisa membuatku bernafas lega.

Aku memejamkan mata ditempat aku duduk. Tak pernah rasanya aku menginginkan pulang sebesar sekarang ini. Tak pernah rasanya aku menginginkan bertemu ibuku teramat sangat seperti sekarang ini. Tak pernah rasanya aku mendapatkan panggilan pulang dari hati semenggebu-gebu ini. Pulang…, rumah…, kampung halaman….,
Aku membuka mata. Sudah satu jam lewat tengah malam. Dua malam aku menghabiskan waktu disini. Aku melihat ke luar. Badai salju masih menjadi-jadi namun sudah tidak separah kemarin. Mungkin hari ini aku akan bisa pulang karena ada penerbangan. Aku mencoba berpikir positif.

Fajar seharusnya sudah terbit kalau aku berada dinegara dua musim. Langit masih tertutup awan putih yang terus mengguyur salju. Aku terus menunggu, berharap monitor keberangkatan memberikanku kabar bahagia. Seseorang menepuk pundakku.

“Hei, orang Indonesia juga ya,” seorang wanita menyapaku. Jelas dia orang Indonesia, terlihat dari wajah dan bahasa indonesianya yang lancar.
“Iya, kamu juga ya,” kataku

Aku pun berkenalan dengan wanita itu. Ia seumuran denganku. Ia juga seorang mahasiswa disini, hanya saja aku dengan dia berbeda universitas. Keluarganya berasal dari Jakarta. Kalau dilihat wanita ini cukup manis, dengan rambut panjang tergerai, tubuh ramping dan pipi yang agak chubby.

“Kamu lagi libur musim dingin ya jadinya mau pulang,” tanya wanita itu padaku.
“Iya sih,” kataku.
“Kok pake sih ?”
“Soalnya alasan utama aku pulang bukan karena itu.”
“Terus karena apa ?”
“Kemarin aku baca dari CNN kalau daerahku kena banjir bandang besar, sekitar dua hari lalu. Aku ingin memastikan kalau keluargaku baik-baik saja.”
“I’m sorry to hear that.”
“Nggak apa-apa kok. Makanya aku bener-bener berharap ada pesawat yang akan terbang hari ini. Kamu sendiri lagi libur musim dingin ?”
“ya aku lagi libur seminggu, ya aku sempetin pulang aja.”
“Cuma seminggu doang ? Ngapain ngoyo-ngoyo pulang ?”
“Asalkan ada waktu aku sih maunya nyempetin pulang,” jawabnya santai.
“Nggak boros duit ?” kataku
“Duit bisa dicari. Kebersamaan tak selalu bisa didapat kalau tidak ada pengorbanan.”
“Emang keluarga kamu lagi mau ada hajatan ? Atau ada yang sakit ?”
“Nggak ada. Semua baik-baik aja. Aku memang mau pulang buat bertemu mereka. Kok kamu kayak kaget gitu. Emang kamu nggak pernah pulang selama kuliah disini ?”
“Jarang sih. Aku baru pulang sekali sama yang ini jadi kedua kali. Emang kamu selama 3 tahun kuliah udah pulang berapa kali ?”
“Berapa ya…, mungkin dua puluhan kali.”
“Ih sering banget pulangnya. Emang nggak ada telepon atau apa gitu yang bisa membuat kamu ketemu keluarga kamu.”
“Tapi itu kan nggak ketemu namanya. Selama ada waktu kenapa nggak pulang aja. Nah kamu masa pulang kalau lagi ada bencana aja.”
“Habis aku kan ngehemat. Biaya perjalanan sini Indonesia kan mahal.”
“Inget sekali lagi duit bisa dicari. Waktu kebersamaan yang tidak akan bisa dicari jika kamu menyianyiakannya.”
“Oke deh bu.”

Kesan pertamaku pada wanita ini adalah ia seorang yang ceria. Ia selalu membalas pertanyaanku disertai senyum. Aku heran, ia hobinya pulang pergi Inggris Indonesia.  Mungkin beli tiket sudah seperti beli kacang yang tiada artinya. Setidaknya kehadiran wanita ini bisa sedikit mengalihkan perhatianku atas kekhawatiranku sampai akhirnya ada penerbangan siang ini….

Aku senang bukan main karena aku bisa pulang siang ini. Kekhawatiranku semakin memuncak, namun celotehan wanita yang baru aku kenal 6 jam ini sekaan menyihirku untuk melupakan kekhawatiranku.  Aku sepertinya bisa cepat akrab dengannya. Ia duduk disebelahku ketika dipeswat. Aku banyak bertukar pikiran dengan wanita itu.

Aku memang optimis kalau keluargaku selamat. Akhirnya aku meninggalkan Inggris dengan pesawat pertama yang menuju ke Singapura. Setelah di Singapura aku transit dan langsung ke Indonesia. Aku sudah berada di ketinggian setara dengan awan. Awan putih banyak menghiasai langit, beberapa turbulensi terjadi ketika pesawat memasuki area tertentu.

“Iya aku inget banget waktu masih kecil aku pernah diajak mamaku ke Paris. Itu pertama kalinya aku naik peswat. Pas pesawat mau terbang aku sempet nangis. Pas peswat turbulensi kayak tadi aku langsung nangis juga, padahal itu malem-malem dan banyak penumpang lain.”
“Aku pertama kali naik pesawat juga takut. Kamu kayaknya deket banget ya sama keluarga kamu,” kataku memberi tanggapan.
“Emang kamu nggak ?”
“Ya nggak sedeket kamu.”

Ia hanya tersenyum kecil sembari menyembunyikan sesuatu dari raut wajah senangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s