I Just Wanna Go Home (PART II)

by widikrisna

Akhirnya aku sampai juga di tanah air. Hawa dingin bersuhu minus tergantikan oleh aroma ibu kota. Sudah lama aku tidak berkumpul dengan orang-orang satu ras sebanyak ini. Kondisi hiruk pikuk tidak displin kembali aku rasakan. Para supir taksi berlomba untuk mencari mangsa yang baru saja keluar pintu. Walaupun riweh, justru ini yang menjadi ciri khas yang membuat rindu.

Hari sudah gelap gulita. Sudah pukul 11 malam, namun bandara tetap saja ramai. Dengung pesawat menjadi lagu yang tak pernah berhenti di bandara. Wah apakah ada kereta yang langsung membawaku ke desaku ya malam-malam begini. Jarak Jakarta ke desaku cukup jauh. Kalau naik kereta butuh waktu 8 jam, belum lagi jalur bus yang cukup berliku dan jauh. Aku sudah mengecek internet, kereta yang paling cepat adalah jam 9 pagi.

“Udah jam 11 malem. Kamu mau nginep dirumah aku dulu.”

Hah…, nginep di rumah cewek. Wah aku bisa dikira pacar atau apanya nih sama keluarganya. Namun kalau tidak menginap di rumahnya berarti aku harus luntang lantang mencari tempat penginapan. Kalau tidak dapat berarti menginap di bandara lagi.

“Udah nggak usah malu-malu. Nggak apa-apa kok.”
“Ntar aku ngerepotin.”
“Nggak kok. Yuk ke rumah aku. Besok pagi aku anterin ke stasiun, daripada malam-malam begini ke terminal. Rawan loh. Tenang aja, kamu nggak akan diapa-apain di rumahku.”
“Diapa-apapin maksudnya apa ?”
“Udah nggak usah banyak tanya. Supir yang negjemput aku udah datang.”
“Yaudah deh. Makasih ya.”

Aku menerima ajakan wanita itu untuk menginap di rumahnya. Cukup beruntung juga diriku. Aku sampai melupakan ke kahwatiranku pada keluargaku berkat wanita ini. Ah tenang saja, aku yakin mereka semua selamat. Hanya itu yang bisa aku camkan di otakku. Aku diantar menaiki mobil jenis BMW. Mobil mewah. Pasti ia anak orang kaya.

“Mobil kamu bagus ya.”

Ia hanya membalas dengan sebuah senyuman. Aku jarang memasuki perkotaan di Ibu kota. Tak kusangka suasana Jakarta sudah semaju ini tak kalah juga dengan Inggris. Aku sampai di depan sebuah rumah yang kelewat besar. Sungguh jauh berbeda dengan rumahku yang berada di kampung. Rumah gedongan dengan pilar besar dan halaman yang luas. Ini benar-benar mewah.  Kapan ya aku bisa beli rumah sebesar ini.

“Kita udah sampai.”
“Waw rumah kamu kayak istana ya.”
“Udah deh, dari tadi kamu kerjaaanya kagum terus sama barang-barang aku. Masuk yuk. Aku udah telepon ke pembantu buat nyiapin kamar buat kamu.”

Aku sebenarnya cukup segan juga untuk masuk. Secara aku baru kenal dengan wanita ini tak lebih dari 48 jam dan aku sudah menginap dirumahnya. Ah aku tak mau menghalangi orang yang mau berbuat baik padaku, disamping aku memang butuh tempat berteduh malam ini. Aku memasuki ruamh ini. Waw megah…, seperti yang ada di televisi-televisi. Perabot impor, lantai keramik, lampu kristal indah, benar-benar rumah mewah.

Aku melihat ke sebuah foto. Pasti ini foto keluarganya. Semua terlihat senang difoto itu. Enak sekali sih keluarga ini, uang banyak, keluarga harmonis pula.

“Mama papa sama adik kamu kemana ?” tanyaku.

Aku bingung karena tak satupun keluarga yang meyambut. Katanya tadi ia sangat dekat dengan keluarganya. Kupikir semalam apapun, kalau baru datang dari perjalanan jauh pasti disambut.

“Mereka udah pada tidur. Kamu mau ketemu mereka ?”
“Nggak usah besok aja deh.”
“Besok kamu mau ke stasiun jam berapa ?”
“Jam 9 aja, aku ngejar kereta yang jam 10.”
“Oke. Besok aku nganterin kamu. Kita berangkat jam 9 ya, takut macet.”
“Oke. Makasih banyak ya. Kamu baik banget walaupun kita baru kenal.”
“Ah udah jadi kewajiban untuk saling membantu. Yuk aku antar ke kamar kamu. Kamu mending istirahat dulu.”

Aku naik ke lantai dua. Sebuah kamar, katanya sih kamar tamu tapi fasilitasnya kelewat mewah untuk mejadi kamar tamu. Kasur besar, kamar mandi didalam, pendingin ruangan yang sejuk, televisi 29 inch layar datar…, gila enak banget ini kamar. Wah bisa betah aku kalau tinggal terus disini. Ups.., apa sih yang aku pikirkan. Aku seharusnya memikirkan keadaan keluaragku yang belum tentu juga selamat dari banjir bandang.

*

Fajar sudah menyingsing. Aku melihat arlojiku. Hahhh, sudah jam setengah Sembilan. Setengah jam lagi aku sudah harus berangkat. Ah kamar ini kelewat enak jadi aku terlalu nyenyak tidurnya. Kamar ini memang jauh lebih mewah dari kamarku di desa. Sembari siap-siap aku melihat ke televisi yang berada di dalam kamar, mencari berita  tentang banjir bandang di daerahku. Tak ada update berita di televisi. Aku mencari diinternet selama beberapa menit, banjir sudah surut namun warga masih mengungsi.

Setelah siap aku turun ke lantai satu.. Pasti suasana makan keluarga ini sangat hangat, mengingat keharmonisan keluarga ini yang aku dengar dari celotehannya dipesawat. Satu ibu, satu ayah, satu adik, keluarga kecil yang bahagia. Penasaran juga… Ah pasti jadi rindu dengan keluarga dirumah nantinya. Oke sebentar lagi aku akan bertemu dengan mereka. Aku harus banyak berdoa dan berpikir optimis. Keluargaku pasti akan menyambutku ketika pulang nanti.

Aku melihat ke jam dinding yang tinggi di ruang keluarga yang kelewat mewah. Aduh aku kampungan sekali sih, jarang melihat barang-barang bagus. Sedikit-sedikit pasti kagum. Sudah jam Sembilan kurang dua puluh.

“Kamu udah siap ? Makan dulu yuk, udah disiapin.”

Aku langsung menuju ke meja makan. Meja makan dari batu marmer dan disangga oleh kayu jati. Kelima kursi mengelilingi meja makan oval itu, namun empat kursi itu kosong. Loh hanya ada aku dengannya, mana keluarganya ? Aku pikir mereka sudah berkumpul untuk makan bersama. Aku melihat ke meja makan. Lauk yang mewah, ayam bakar, nasi putih, sayur kangkung, tahu tempe, lengkap ada roti jika tak ingin nasi. Namun semua makanan mewah ini terasa hambar jika makan Cuma berdua.

“Keluarga kamu mana ?”
“Mereka ada di taman belakang.”
“Mereka udah makan ?”
“Belum. Kita makan di taman belakang aja sama keluargaku. Suasana taman belakang lebih enak daripada disini. Berasa piknik di taman bunga loh kalau makan disana. Kamu mau ?”
“Boleh,” aku sih iya-iya saja secara aku hanya tamu disini.
“Yaudah biar aku suruh pembantu untuk mindahin makananya ke taman belakang. Yuk…, keluarga aku pasti udah nggak sabar ketemu kamu.”
“Oke.”

Aku menuju ke taman belakang. Gila ya rumah ini besar sekali. Aku takjub dengan kemegahan rumah ini. Sama sekali tak ada perabot yang tidak istimewa disini.Waw kolam renang yang cukup besar, air nya jernih pula. Kalau di kampong aku harus ke kali kalau mau berenang. Jadi iri nih dengan harta segini banyak.

Aku menuju ke taman belakang. Ada gazebo di taman itu. Aku menuju ke gazebo itu. Harus aku akui, tamannya terawatt, penuh dengan bunga yang bermekaran. Pohon rindang menghalangi panas matahari yang mencoba menyeruak masuk ke area taman. Terlihat sekali kalau taman ini dirawat dengan baik.

“Itu keluarga aku,” wanita itu menunjuk ke sebuah arah.

Ya ampun. Ternyata…, keluarganya sudah meniggal. Taman ini adalah taman makan yang ditujukkan untuk makam keluarganya. Ada tiga gundukkan tanah disitu. GUndukan itu dipenuhi bunga berwarna diatasnya. Rumputnya tertata rapi, tak ada tanaman liar yang merambat. Aku kaget dengan hal ini.

“Jadi keluarga kamu udah meninggal ?”
“Hanya fisik mereka yang ada disitu namun jiwa mereka masih ada kok di sini. Mereka selalu hidup di hati aku.”
“Tapi tadi kamu bilang kalau keluarga kamu…,”
“Mereka meninggal karena kecelakaan,” ia menyelak perkataanku.

Wanita itu berjalan menuju ke makam. Aku mengikutinya dari belakang. Ia berjongkok di makan yang terletak ditengah. NAma seorang wanita terukit di nisan. Aku menebak kalau ini adalah makam ibunya. Wanita itu mengelus-elus batu nisan putih itu.

“Mereka semua meninggal ketika sedang pergi. Kala itu aku tidak bias ikut pergi karena sedang ada urusan lain. Waktu itu aku masih SMA. Aku saying mereka. Kemanapun aku pergi, kami selalu berempat. Namun kala itu aku sedang tidak bias ikut pergi bersama mereka. Mengapa Tuhan mengambil mereka tanpa mengambil aku juga ? Mengapa Tuhan memberikan musibah kecelakaan itu ketika aku tidak sedang bersama mereka ? Kalau bias memilih aku memilih ikut dalam kecelakaan itu bersama mereka. Well, itulah takdir yang harus aku terima. Semenjak saat itu aku jadi lebih bias menghargai keluargaku. Walau mereka sudah tidak ada, aku harus tetap sering menengok mereka. Aku sengaja mengubur mereka disini agar aku bisa bertemu mereka setiap hari dan kemudian berdoa untuk mereka disini. Aku tak peduli dengan uang tiket perjalanan yang mahal asalakan aku bisa menengok mereka disini. Toh uang yang aku punya banyak dan akan terus bertambah. Andai uang bisa membeli kembali nyawa mereka dari TUhan, aku rela menggadaikan semua harta ini agar bisa berkumpul kembali dengan mereka.”

Aku seperti tertampar. Selama ini aku jarang berkomunikasi dengan kelargaku. Aku juga tidak mau menyisihkan uang dari hasil kerjaku untuk membeli tiket pulang pergi. Aku masih punya kesempatan untuk bertemu keluargaku namun tak semua kesempatan itu aku gunakan. Ah betapa berdosa sekali aku. Jikalau mereka ternyata tidak selamat dari musibah banjir bandang, aku akan sangat menyesal dan marah pada diriku sendiri.

“Well, fisik mereka memang sudah menjadi tanah, namun memori tentang mereka akan selali hidup di pikiranku. Perasaan cinta mereka kepadaku masih aku simpan baik-baik. Satu hal yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa pada Tuhan agar mereka bisa diterima disisi-Nya. Satu hal yang ingin aku ucapkan ke mereka adalah aku mencintai mereka. Kata itu belum aku ucapkan sebelum mereka pergi dan kata itu menjadi sesuatu yang selalu aku ucapkan dalam doaku.”

Suasana hening. Aku melihat ketiga makam itu. Ia begitu tegar dengan ini. Kehilangan orang yang dicintai itu sangat menyakitkan, dan itu merupakan suatu ujian yang sangat berat. Namun wanita ini berhasil dengan sukses menempuh cobaan yang Tuhan berikan kepadanya.

“Kok jadi mellow gini. Yuk sarapan, nanti telat loh keretanya.”

*

Tak ada satu halpun yang ingin aku lakukan selain bertemu dengan keluargaku sekarang. Aku sudah berada di stasiun. Tiket sudah aku beli dan aku siap berangkat.

“Dah, hati-hati ya di jalan. Aku yakin keluarga kamu pasti selamat dari banjir bandang.”
“Iya. TErima kasih ya udah mau nampung aku selama semalam. Nanti kita kontak-kontak lagi ya via FB dan twitter. Sering-sering jalan ya di Inggris nanti.”
“Oke deh.”

Aku berpisah dengan wanita itu dan langsung berlari menuju ke peron. Aku menaiki tangga dan sampai di peron. Suara dengung kereta bergetar merambat melalui jalan yang aku tapak. Rel-rel besi melintang diatas bebatuan yang sengaja diletakkan disitu. Aku berlari menuju ke gerbong kereta yang harus aku naiki.

“Brukk.”

Aku menabrak seseorang Karena saking menggebu-gebunya. Memang kejadian pagi ini seperti menyadarkanku kalau aku terlalu memnbuang waktu kebersamaan yang sebenarnya bisa aku dapatkan bersama dengan keluargaku. Sesampainya dirumah aku akan memluk keluargaku dan mengatakan kalau aku saying dengan mereka. Namun itupun kalau mereka selamat dan aku yakin mereka pasti selamat.

“Maaf-maaf saya terburu-buru,” kataku pada orang yang aku tabrak.
“Nak, kamu ngapain disini ?”

Hah itu bapakku sendiri. ORang  yang aku tabrak adalah bapak.  Aku melihat ke wanita disebelah bapak. Ada ibu…,adik juga ada. Loh kenapa mereka bisa ada disini ? Mereka selamat….
“Ibu bapak adik, ngapain ada disini ?”
“Kamu yang ngapain ada disini ?” Tanya ibu
“Aku ngelihat berita mengenai banjir bandang. Aku khawatir bu makanya aku pulang. Ibu sendiri ?”
“Ibu melihat berita mengenai badai salju di kotamu ketika ibu pergi ke kota dan melihat Koran. Ibu khawatir, perasaan ibu mengatakan kalau ibu harus menengok kamu disana. Ibu sudah berada di Jakarta semenjak tiga hari lalu, untunglah kami semua tidak berada di sana ketika banjir dating. Sepertinya rumah kita tersapu arus,” kata ibu.

Aku tak peduli dengan rumah. Yang penting ada mereka disini dan mereka selamat. Aku terharu karena mereka ingin menengokku. PAdahal aku tahu sekali kalau mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana membeli tiket peswat, transit, bahasa inggris, bagaimana jadinya kalau mereka sudah sampai di Inggris nanti ? Ah sudahlah yang penting aku masih bisa bertemu dengan mereka.

“Ibu nekat yak e Inggris. Memang sudah beli tiket pesawat ? Memang ibu ngerti kalau disana sedang musim dingin yang suhunya sampai minus 10 derajat Celsius.”
“Mana ibu ngerti. Yang jelas ibu hanya pingin nengokin kamu. Apakah kamu disana baik-baik aja atau enggak.”
“Bu, Aku sayang ibu, ayah dan adik,” kataku. Itu adalah janji ucapan yang aku buat jika aku menemui mereka.

Terima kasih ya Tuhan, engkau menganugerahi keluarga yang mencintaiku.

Advertisements

2 comments on “I Just Wanna Go Home (PART II)

  1. Aaaa….. mengharukan banget Wiiid…… mata gw ampe berkaca-kaca ngeliat endingnya :’) Bagian favorit gw itu pas diajakin makan di taman & pas ketemu keluarganya di stasiun.

    Hmm… Keliatannya gw tau apa yang menginspirasi lu buat bikin cerpen ini. Ato mungkin gw kelewat sotoy ya? haha. But anyway… Wid, be strong ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s