Hah HAMIL ??? (PART I)

by widikrisna

hanya mencoba mengisi waktu dengan sebuah cerpen ringain

Aku melihat ke sebuah lembaran berbentuk persegi panjang. Lemabaran tersebut kecil, hanya berukuran 8 kali 2 centimeter. Tanganku langsung gemetar ketika mengerti apa yang dimaksud oleh lembaran itu. Aku menutup mulut dengan tangan kananku seakan menahan teriak yang ingin keluar dari keronkonganku. Teriak itu menjelma menjadi air mata yang segera mengalir dari pelupuk mataku. Nafasku terisak secara tiba-tiba, merusak ritme detak jantungku. Aku terduduk di tempatku berdiri, kakiku tidak kuat lagi menahan berati tubuhku.

“Anakku hamil.”

Kata itu menjadi kesimpulan atas semua keterkejutanku sore ini. Aku serasa ditinju di bagian perutku, membuat diriku mual namun tak ada cairan yang bisa keluar. Hanya kekecewaan yang mengalir deras dari tubuhku. Aku memejamkan mataku, seraya menghujani pipiku dengan air mata yang berlinang. Lala…., mengapa kamu tega membalas ini pada keluargamu…,

Lala, ia anak pertamaku. Sebenarnya Lala hanyalah nama panggilannya. Nama aslinya adalah Ardila. Ia sedang beranjak dewasa, umurnya baru menginjak 18 tahun dua bulan lalu. Sekarang ia masih duduk di kelas 3 SMA. Pergaulannya memang  luas, aku tidak tahu seperti apa teman-teman Lala.  Sebagai ibu, aku memang mencoba dekat dengan putriku satu-satunya, namun tetap saja aku merasa ada tembok antara aku dengan Lala. Aku belum bisa memposisikan diriku sebagai teman alih-alih sebagai ibu.

Dan sekarang semua telah terjadi. Aku menilik kembali alat tes kehamilan itu. Positif…. Aku memang sudah menduga ada yang tidak beres semenjak beberapa hari lalu. Aku terduduk sambil mengusap air mataku.

 

(DUA HARI LALU)

Aku sedang menyendok makan malamku saat Lala mulai menunjukkan gerak gerik aneh. Kami sekeluarga memang membudayakan untuk selalu malam malam bersama. Suamiku cukup freak tentang peraturan di rumah ini, maklum ia adalah seorang jenderal. Dalam mendidik kedua anakku saja, ia sangat tegas sekali.

Aku juga memiliki seorang putera. Ia masih duduk di kelas 3 SMP. Puteraku ini bernama Yudha. Dibandingkan dengan Lala, Yudha jauh lebih kalem dan pendiam. Ia orang yang cenderung simpel dan gampang ditebak. Kata berandal jauh dari karakternya. Otaknya pun encer. Aku sudah bisa melihat masa depan yang cerah dari sorot matanya.

Lala menghentikan ritme makannya. Ekspresi aneh tergambar dari wajahnya. Saat itu aku tidak menyangka sesuatu yang aneh sedang terjadi dengannya. Lala memegang perutnya seraya menahan rasa sakit pada lambungnya

“Kamu kenapa La ?”

“Perut lala tiba-tiba mual ma.”

“Kamu masuk angin ?” tanya bapak.

“Nggak tahu nih pa. Uwek.”

Lala langsung pergi dari meja makan, meinggalkan piring makanannya yang masih setengah penuh. Aku mengikuti Lala menuju kamar mandi, khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bisa saja ia pingsan atau apa. Untunglah ia hanya mual dan muntah saja.

*

Itu bukan pertama kali ia mual dan muntah. Sudah beberapa kali ia menunjukkan gejala itu didepanku. Aku mulai curiga saat ketiga kali ia menunjukkan gejala yang sama. Aku mulai berpikir penyakit-penyakit yang aneh sedang mengidap dirinya.  Aku sama sekali tidak berpikir kalau ia sedang hamil.

Aku menuju kamar mandi, mengusap wajahku dengan air dingin. Aku harus berpikir jernih. Aku harus mengklarifikasi ke Lala sendiri. Aku harus bicara empat mata dengannya, berbicara antara wanita dengan wanita bukan antara ibu dengan anak. Aku harus tahu siapa yang bertanggung jawab atas bayi dalam kandungannya.

Setiap langkahku terasa bagaikan dentuman palu besar yang menghancurkan setiap harapan hidupku terhadap Lala. “Mama kalau besar aku mau jadi pramugari.” Aku masih ingat Lala selalu menyebutkan hal tersebut. Pramugari adalah tujuan hidupnya. Ia belajar berbagai bahasa untuk mengisis ambisis cita-citanya.  Aku tak bisa membayangkan ia menjadi ibu muda sembari mengejar cita-citanya.

 Kulitku merinding, membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkn terjadi yaitu bapakknya tidak mau mengakui anak dalam rahim Lala. Jika hal tersebut terjadi, apa yang akan dikatakan para tetangga disini. Lala akan menjadi cemooh masyarakat. Aku menggeleng kepala, menghapus bayangaan kelam itu.

*

Makan malam yang tenang. Ada aku, suamiku, Lala, dan Yudha. Hari ini aku memasak ayam bakar dengan sayur asem dengan pelengkap tahu tempe. Kalau urusan memasak, aku tak mau menyerahkan kepada pembantu. Toh aku dirumah juga tidak ada kerjaan, jadi memasak merupakan salah satu profesiku.

Aku melihat Lala. Sekilas tidak ada yang berbeda dengannya. Ia masih sama dengan Lala beberapa bulan lalu. Sudah berapa lama ya umur kandungannya ? Aku tak bisa langsung menanyakannya disini. Semua harus menunggu saat yang tepat.

“Ma, Pa…,” Lala memeceah keheningan. Keluargaku senang membicarakan suatu topik ketika makan. Menurut kami saat makan adalah kondisi yang paling harmonis karena saat itu kamu sedang memanjakan perut.

“Ya La.”

“Sekarang kan Jumat malem. Kalau besok malam Lala nonton sama temen-temen boleh nggak ?”

“Jam berapa nontonnya ?” jawab bapak.

“Malem pa, jam 8.”

“Nggak bisa yang siang aja ? Emang mau nonton dimana ?”

“Di Blitz GI. Sekalian makan malem bareng teman-teman.”

Aku mulai berpikir yang aneh-aneh. Apakah selama ini jika Lala izin pergi nonton, ia benar-benar nonton ataukah …. Ups aku terlalu berpikir negatif pada anakkku. Lala sering menghabiskan malam minggunya bersama teman-temannya entah untuk nonton atau untuk makan malam atau untuk sekedar jalan-jalan.

“Emang, nggak bisa siang aja nontonnya ?” tanyaku.

“Temen-temen pada bisanya malam ma.”

“Kalau papa sih mengizinkan asalkan kamu pulang sebelum jam 11 malam.”

Dirumah ini ada peraturan jam malam. Untuk hari selain Sabtu jam malam adalah jam 9 malam, untuk sabtu diberi leluasa sampai jam 11 malam. Itu bukan satu-satunya peraturan dalam keluargaku, masih banyak peraturan lain yang bertujuan untuk mendisiplinkan diri. Yah aku pikir selama peraturan masih ada dasar dan esensinya, aku setuju-setuju saja dengan paeraturan yang dibuat langsung oleh Sang Jenderal.

“Daripada kamu nonton sama teman-teman, gimana kalau kita semua nonton sekeluarga,” aku mengusulkan sebuah ide.

Lala dan Yudha langsung melayangkan pandangan heran.

“Males banget ah. Masa mama sama papa mau nonton film anak muda, mana ngerti.” Kata Yudha.

“Ih sekali-kali kan,” kata Mama.

“Mending kalau pergi bareng jangan nonton. Cukup makan aja,” kata Yudha.

“Iya. Masa mama mau nonton film Breaking Down. Ngerti nggak tuh film,” timpal Lala.

Memang sepertinya ideku bukanlah ide yang bagus. Oke akhirnya aku mengizinkan Lala pergi dengan teman-temannya besok. Aku masih belum bisa menemukan cara yang tepat untuk berbicara empat mata. Aku harus lakukan secepatnya, demi kebaikannya juga.

*

Hari pun berganti. Aku masih menutup rapat berita ini dari suami dan puteraku. Aku keliar dari kamarku saat mentari memaksaku untuk membuka mata. Suamiku masih tertidur. Kalau Sabtu ia pasti bangun agak siang untuk membalas kurang tidurnya karena kesibukannya. Aku langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Pembantu sudah membeli semua kebutuhan yang aku catat di kertas malam sebelumnya.

Makanan sudah tersaji. Aku menuju ruang keluarga dan mendapati Lala sedang nonton televisi. Aku langsung duduk disebelahnya. Sofa ruang keluarga memang kelewat empuk. Semua anggota keluarga pernah menjadi korban keempukannya dan tertidur disana. Saatnya mengorek apa yang harus aku ketahui, tapi bagaimana caranya ya.

“Makanan udah siap, kamu mau makan ?”

“Entar aja ma, bareng sama yang lain.”

“Oya, senin mama mau belanja bulanan kamu mau nitip apa ?”

“Nitip apa ya…., yang biasanya aja ma.”

“Pembersih muka kamu yang diatas masih banyak ? Kalau tinggal sedikit mama beli dua. Pembalut kamu juga tinggal berapa ?”

“Pembersih masih banyak beli satu aja buat bulan ini juga cukup. Pembalut juga masih banyak, aku belum dapet bulan ini.”

“Loh bukannya kamu siklusnya harusnya udah dari seminggu lalu ya ?”

“Nggak tahu nih. Kayaknya aku telat datang bulan ma.”

“Oh oke mama belinya jadi jangan banyak-banyak. Oya La, ngomong-ngomong pacar kamu kayak apa ? Ganteng nggak ?”

“Ih mama apaan sih. Lala belum punya pacar. Ada sih cowok yang Lala suka, tapi masih tahap PDKT.”

“Ah kamu nggak usah malu sama mama. Mana foto pacar kamu, biar mama nilai.”

“Ih mama centil.”

“Loh kok centil ? Ini namanya pengetesan awal.”

“Ntar aja kalau misalnya udah jadian baru Lala kasih tahu.”

Apakahia jujur ? Apakah ia belum memiliki pasangan ? Kalau iya berarti anak yang berada dalam kandungannya terancam tidak punya bapak. Mungkin Lala melakukannya dengan seseorang yang sedang tidak terikat dengannya. Aku menelan ludah seraya keringat mengalir dari pelipisku,

“Mama kenapa sih ? Kok tiba-tiba takut kayak gitu.”

“Nggak kok. Mama Cuma laper.”

“Yaudah makan yuk, tuh Yudah udah bangun. Kalau Sabtu pagi papa kan kayak kebo, bangunnya siang banget.”

*

“Kamu dandan cantik banget La. Emang mau berberapa nontonnya ?”

Aku memandang sosok Lala yang sedang bersiap-siap untuk pergi nonton malam minggu ini. Ia sedang bergaya di depan kaca, menilai penampilannya sendirii. Lala memang cantik, tubuhnya ramping dan rambutnya panjang. Kulitnya juga putih dan orang bilang ia manis. Dengan segala baju dan aksesoris yang ia kenakan, makin membuat dirinya terlihat cantik.

“Berenam ma. Iya dong. Lala harus dandan cantik biar nggak kelihatan jomplang kalau dibandingin sama temen-temen Lala lainnya.”

Ingin aku langsung menanyakan hal yang menjadi kegelisahanku, namun aku tahan diriku. Aku tidak boleh langsung nyerocos. Semua ada prosesnya. Aku membenarkan posisi dudukki di kasur Lala yang empuk. Lala masih saja bercermin, kali ini fokus pada rambut panjangnya yang tergerai indah. Bando pink kalem bertengger di kepalanya, membuat rambut itu tidak berantakan.

“Emang temen-temen kamu itu cantik-cantik semua ? Mereka anak orang berpunya juga ?”

“Ya bisa dibilang begitu ma.”

“Mereka bukan cewek yang nggek bener kan La ?” aku mulai menjuruksan pertanyaanku.

“Maksud mama ?”

“Ya maksud mama kamu harus selalu hati-hati dalam pergaulan. Jangan melihat orang dari luarnya aja. Bisa aja temen kamu itu luarnya bagus tapi dalemnya…,”

“Iya baginda ratu. Pokoknya mama tenang aja. Lala selektif kok dalam memilih temen. Lala juga tahu batasan dalam pergaulan. Kalau misalnya temen Lala mulai mengajak Lala untuk hal yang Lala nggak suka, ya bakal Lala tolak.”

“Habis mama takut aja. Kayaknya pergaulan anak jaman sekarang kelewat bebas.”

“Mama tenang aja. Lala say no kok to pergaulan bebas.”

“Nah bagus itu. Mama suka ngelihat di TV kalau anak muda zaman sekarang udah pernah nyobain hal-hal berbahaya,” kataku sambil memberikan tanda kutip ketika mengatakan kata “berbahaya”.

“Ih mama apaan sih. Emang dikira Lala cewek murahan. Pertanyaan mama aneh banget sih.”

Wajah Lala tidak menunjukkan raut bohong. Namun bukti sudah berkata lain. Aku masih bertanya dalam hati. Apakah ia jujur atau tidak ?

to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s