Hah HAMIL ??? (PART II)

by widikrisna

Aku tidak bisa tenang malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Jam malam masih satu jam lagi, namun aku sudah khawatir. Aku terduduk di kursi ruang keluarga. Apakah Lala benar-benar sedang menonton ya ? Kalau diSMS sih bilangnya menonton. Ah ibu macam apa aku yang tidak bisa mempercayai anak sendiri.

“Kamu lagi nonton film apa sih ?”

“Oh mas. Ini lagi nonton film komedi.”

“Komedi apa, jelas-jelas ini acara dialog. Kamu kok khawatir amat sih ?”

“Gimana ya mas. Aku khawatir sama Lala. Aku takut dia terjerumus ke pergaulan bebas.”

“Udah kamu percaya aja sama Lala. Emang ada apa sih ? Kayaknya sebelum ini kamu nggak pernah khawatir kayak gini ?”

“Itu soalnya…,”

Ups, jangan sampai keceplosan. Bisa perang dunia tiga nih kalau sampai keceplosan. Aku tak bisa membayangkan betapa murkanya suamiku jika tahu fakta ini. Aku mengunci mulutku. Suamiku menaikan sebelah alisnya, menungguku menyelesaikan kalimatku.

“Aku takut aja dia kan masih remaja, masih masa mencari jati diri. Aku takut dia salah bergaul.”

“Yaudah kamu kan sama-sama wanita. Seharusnya kamu bisa dong punya peran lebih sebagai temannya biar kamu bisa mengarahakn dia. Aku udah terlanjur menjadi figur ayah yang keras buat dia. Tidur yuk, kamu jangan tidur malam-malam nggak bagus kalau kamu kurang tidur.”

“Aku mau nungguin Lala pulang dulu mas.”

Waktu sudah bergulir pukul setengah sebelas. Suara mobil menderu di depan rumahku. Aku khawatir jika Lala terlalu capek dan akan membahayakan dirinya dan kandungannya. Oya berarti sebentar lagi aku akan menjadi nenek dong. Tapi apa yang bisa diharapkan jika nenek ini tak punya menantu.  Lala masuk ke dalam rumah. Ia masih tetap cantik dengan make upnya yang sama sekali tidak luntur.

“Mama belum tidur ?” tanya Lala.

“Belum. Gimana filmnya bagus ?”

“Bagus ma,” kata Lala duduk di sampingku, menyelonjorkan tubuhnya ke sofa. Suamiku sudah tidur di kamar.

“Kamu mau dibuatin teh atau mie kuah ?”

“Nggak usah deh ma. Lala mau tidur aja habis ini. Capek ni.”

“Kamu jangan kecapekan ya. Emang capek ngapain ?”

“Tadi kan sebelum nonton, main DDR dulu.”

“Apa tuh DDR ?” aku mulai curiga.

“Ah mama kuno. DDR yang udah mau basi aja nggak tahu. Itu loh mainan ngedance di timezone Pokoknya itu seru deh. Udah ah Lala mau tidur ? Oya mama tuh yang jangan kecapekan. Udah ibu-ibu kok belum tidur jam segini.”

*

“La, kemarin mama nemuin hasil tes kehamilan di tong sampah depan kamar kamu. Kamu jawab mama dengan jujur. Apa kamu lagi hamil ?”

 

Aku bekata sendiri di depan kaca kamar mandi. Aku sedang berlatih untuk bertanya pada Lala. Ah tetap saja aneh. Namun aku harus segera mengklarifikasi sebelum terlambat.  Aku keluar dari kamar mandi. Hari masih pagi, namun langit sangat tidak bersahabat. Air bah seakan mau tumpah dari langit. Awan hitam memenuhi langit, membuat suasana pagi terlihat seperti senja yang kelam. Aku berdiri di teras depan rumah.

“Ma,” Lala menyapaku dari belakang.

“Ya La.”

“Mama lagi pingin apa ?”

“Maksud kamu pingin apa ?”

“Mama lagi pingin makan apa pagi-pagi dingin begini ? Biar Lala bikinin.”

Aku menyipitkan mataku. Kenapa tiba-tiba Lala menanyakan hal itu padaku seakan ingin berbuat baik padaku. Aku kenal anak ini, kalau sudah berbuat baik pasti ada sesuatu atau ada yang diinginkannya.

“Mama pingin makan soto.”

“Yaudah mau Lala beliin ? Di samping jembatan kan ada soto yang enak. Lumayan buat sarapan.”

“Kamu kenapa sih kok tiba-tiba baik begitu. Biasanya ada maunya nih.”

“Enggak kok. Yaudah Lala berangkat dulu ya pakai mobil. Udah yang penting keinginan mama terpenuhi.”

Suasana pagi yang dingin. Untunglah soto ini bisa menghangatkan tubuh. Aku makan dengan lahap, begitu juga bapak dan Yudha.

“Wuih ni soto enak banget. Pas buat dingin-dingin,” kata Yudha.

“iya ini pesenan mama,” jawab Lala.

“Oh begitu. Oya nanti siang makan diluar aja yuk,” kata bapak.

“Iya boleh-boleh. Mama mau makan dimana ?” kata Lala.

Semua melihat kearahku. Loh kenapa aku yang menentukan. Biasanya anak-anak yang lebih tahu tempat makan yang enak.

“Terserah kalian aja lah makan dimana.”

“Nggak kali ini mama yang nentuin tempatnya. Bosen ah kalau aku atau Yuhda terus yang nentuin.”

“Oh yaudah mama mau makan di restoran padang sederhana aja.”

“Ok pesanan diterima.”

Makan pagi selesai. Semua berkumpul di ruang keluarga. Aduh aku tak mungkin mengorek-ngorek tentang Lala jika ada suamiku dan Yudha. Aku butuh waktu empat mata yang pas untuk berbicara antara wanita. Aku mengerutkan dahiku, berpikir bagaimana menemukan timing yang pas. Tiba-tiba Yudha memijit pundakku.

“Mikirin apa sih ma ? Kayaknya serius amat.”

“Nggak mikirin apa-apa kok. Kamu kenapa tiba-tiba mijit, ada maunya ya ?”

“Nggak kok. Habis kayaknya mama capek banget sih.”

Ah kebetulan. Pijitan Yudha memang enak. Aku menikmati saja pijitan ini. Jarang-jarang nih anak laki-lakiku berbuat baik seperti ini. Oke pagi ini walau udara berhembus sangat dingin, aku merasakan diriku hangat oleh keharmonisan keluargaku. Andai tak ada fakta yang disembunyikan Lala mengenai kehamilannya. Semoga fakta itu tak menghancurkan keharmonisan ini.

*

“Yudha ayo berangkat. Mama udah kelaperan nih, jangan sampai mama menunggu,” kata Lala.

“Iya-iya.”

“Mama belum laper banget kok La.”

“Ih mama udah deh. Pokoknya mama jangan sampai kelaperan bahaya.”

Aku menyipitkan mataku. Hari ini keluargaku bertindak agak aneh. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja ya. Aku naik ke mobil untuk makan siang diluar. Restoran padang terletak tidak jauh dari rumah, hanya butuh kurang lebih 15 menit untuk sampai. Untung jalanan tidak macet padahal ini hari minggu.

 Kami semua masuk ke dalam restoran. Wah ramai. Memang minggu siang adalah saat yang peling tepat untuk makan diluar dan restoran cepat saji seperti ini adalah sasaran empuk. Untunglah kami dapat tempat duduk. Dengan cekatan berpiring-piring masakan sudah terhidang di depan mata sebelum kami sempat berkata apa-apa.

“Kok tumben ma mau makan padang ?” tanya Yudha.

“Ya lagi pingin aja. Kok kalian aneh banget deh hari ini.”

“Aneh gimana ?” tanya Lala.

“Aneh aja. Beda dari biasanya.”

“Perasaan mama doang kali,” kata Yudha.

“Kamu makan yang banyak ya La. Kamu kan hobinya makan ngirit biar nggak gendut. Banyakin sayur jangan lauk semua kayak gitu.” kataku.

“Porsi Lala emang segitu ma. Tumben mama ngomentarin porsi makanku ? Aku nggak terlalu suka sayur. Kan mama tahu itu.”

“Itu kan biasanya. Sekarang kamu nggak boleh gitu. Kamu harus makan yang bergizi dan banyak, kan kamu lagi hamil.”

UPS KECEPLOSAN. Semua langsung berhenti mengunyah. Lala langsung tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Aduh mati aku keceplosan. Bagaimana ini ??? Suamiku langsung menyiputkan mata memasang wajah heran. Yudha langsung diam tanpa bisa berkata apa-apa. Tak kusangka kata pertama dari Lala yang kudengar malah membuatku lebih kaget.

“Loh bukannya mama yang lagi hamil ?” kata Lala.

“Hah maksud kamu apa sih ?” tanyaku.

“Bukannya mama yang sekarang lagi hamil. Kemarin Lala nemuin kertas hasil tes kehamilan dan hasilnya positif. Pasti itu mama kan ?”

“Enggak, mama yang nemuin kertas itu ditempat sampah deket kamar kamu. Ya mama pikir kamu yang hamil.”

“Itu bukan punya Lala. Lala juga nemuin kertas itu. Lala pikir itu punya mama. Terus Lala kasih tahu aja yang lain kalau mama hamil lagi.”

“Ooooh, jadi kalian pikir mama yang hamil. Itu bukan punya mama.”

*

“Bu, saya mau mengaku kalau kertas uji kehamilan itu punya saya.”

Kalimat itu keluar dari mulut pembantu rumah tanggaku. Ia adalah Bi Darmi. Usianya sekarang 32 tahun. Suami Bi Darmi adalah tukang kebun dan satpam rumahku. Ini adalah kehamilan kedua Bi Darmi setelah kehamilan pertama mengalami keguguran. Bi Darmi duduk di lantai sedangkan kami semua duduk di sofa. Akhirnya terjawab semua teka teki yang menjadi kebingunganku belakangan ini.

“Udah berapa lama ? Kenapa kamu nggak langsung cerita ke ibu ?” kataku.

“Udah dua bulan bu. Saya takut saya kalau saya dipecat karena saya tidak bisa mengerjakan kewajiban saya. Maaf sebelumnya bu saya membuang alat tes kehamilan itu sembarangan dan menyebabkan prasangka di keluarga ini.”

“Tenang aja lah bi. Bibi kan udah ikut keluarga ini semenjak Lala kecil. Ya bibi nggak akan saya pecat kok. Saya malah seneng ada suara bayi lagi dirumah ini.

Legaaanya. Semua kekhawatiran langsung lenyap seketika. Namun aku dapat pelajaran penting dari insiden ini kalau komunikasi antar keluarga sangatlah penting. Aku tak dapat membayangkan kalau Lalal benar-benar hamil di usianya yang masih SMA. Aku harus bisa menjaga anak-anakku dan komunikasi adalah caranya. Ah coba tadi tidak kecplosan, pasti aku akan diperlakukan terus bak ratu oleh mereke karena mereka mengira aku sedang hamil.

*

Advertisements

6 comments on “Hah HAMIL ??? (PART II)

    • Thanks Ri. Nggak nyangka cerpen yang baru dipikirkan endingnya pas nulis ada yang suka. Pesan di cerpen ini –> komunikasi dalam keluarga itu penting.
      Senangnya kalau ada yang komen jadi semangat nulis. Tapi nanti ya nulis laginya habis ujian hari selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s