2 Wanita (PART I)

by widikrisna

It takes no time to fall in love but it takes you years to know what the love is. (Jason Mraz – LIfe Is Wonderfull)

Wanita 1 : Tias

 

Aku berajalan di lorong yang panjang ini. Gedung kantor yang cukup dingin, pendingin ruangan sepertinya disetel dengan suhu yang berlebihan. Aku menatap kembali lembaran karton yang aku bawa. Ini adalah lembaran yang sangat berarti padaku. Lembaran ini hanya berukuran 40 kali 20 centimeter dan dicetak biasa. Namun apa yang tertulis di dalam lembaran inilah yang membuatku tak sabar menanti.

Aku berjalan melewati sebuah pintu kaca. Nama perusahaan tertera jelas di lobi resepsionis. Resepsionis yang menaga lobi langsung menyapaku dan langsung sok sibuk. Aku membalas sapaan resepsionis dengan sebuah senyuman. Aku memang dihormati di kantor ini, maklum anak pemilik perusahaan ini adalah calon suamiku. Ya, aku akan segera menikah…

Suasana kantor sepertinya sedang sibuk-sibuknya. Semua terlihat sedang konsentrasi dengan komputernya. Hiruk pikuk para karyawan yang sedang menjalankan perusahaan menjadi pemandangan yang tidak bisa dihindarkan kemanapun aku menoleh. Aku mengetuk sebuah pintu yang terbuat dari kayu.

“Masuk,” jawab seorang di dalam.

 

Aku membuka pintu itu. Lelaki itu sedang duduk di meja, membaca sebuah kertas di dalam sebuah map besar. Di dalam map itu terdapat puluhan atau bahkan ratusan kertas. Apa sih sebenarnya yang tertulis di kertas itu, Aku sama sekali tidak mengerti. Lelaki itu menatapku dan langsung menghilangkan konsentrainya pada pekerjaannya. Ia menyapaku dengan sebuah senyum manis penuh cinta.

Namanya adalah Joni. Ia adalah calon suamiku. Bagiku ia adalah pria yang selama ini aku tunggu-tunggu. Aku mencintainya begitu pula dengan dia.  Tanggal pernikahan sudah ditentukan dan semua sekarang sedang tahap persiapan. Dengan melihat lembaran yang aku bawa ini, aku makin tidak sabar untuk resmi menjadi isterinya

 

“Eh kamu. Ada apa say ?” kata Joni.

“Kamu lagi sibuk ya ? Aku ganggu nggak ? Kalau misalnya ganggu, ya entar aja juga nggak apa-apa mas.”

“Nggak kok. Kamu udah jauh-jauh datang. Kok tidak mengabari terlebih dahulu ? Ada apa ? ”

“Aku dah SMS kamu kok setengah jam yang lalu. Ini aku mau nanya pendapat kamu tentang beberapa hal yang berhubungan dengan pernikahan kita.”

“Oh ya Hpku baterenya lowbatt. Aku lupa bawa charger. Oh mau nanya pendapat apa ?”

“Menurut kamu undangan pernikahannya udah bagus atau masih ada yang harus diubah. Kalau udah bagus mau dicetak. Terus…,” aku menyodorkan surat undangan yang daritadi aku bawa. Joni menilik surat undangan itu, melihat seluruh sisinya

“Bagus say. Tapi aku agak kurang srek sama sisi ini. Warnanya kurang berani, mending kasih sedikit unsur merah,” kata Joni menunjuk salah satu spot undangan.

“Aku kurang setuju. Lebih baik warna kalem kayak gini. Kalau warna berani nanti jadinya norak.”

“Oh terserah kamu aja deh say. Seorang Tias  tahu pasti yang terbaik.”

 

Setengah jam aku berdiskusi dengan Joni mengenai rencana-rencana pernikahan kami. Joni memang lebih mempercayakan soal perancangan pernikahan padaku. Aku menjadi semacam ketua EO untuk pernikahanku. Maklum Joni sibuk yah aku toleransi juga. Aku dengan Joni memang sudah sehati, sebelum ini aku dengannya telah menjalin kasih selama 1,5 tahun sampai akhirnya prosesi lamaran.  

Aku mengakhiri perbincanganku dengan Joni dengan mencium tangannya. Aku keluar kantornya dengan segala perencanaan akan pernikahan yang sempurna. Setelah ini aku akan ke tempat wedding organizer yang mengurus pernikahanku untuk ‘menjadi mandor’. Aku menekan tombol lift. Kantor ini terletak di lantai 30. Jakarta terlihat seperti maket jika dilihat dari jendela kantor. Suara denting menyertai pintu lift yang terbuka. Aku masuk ke dalam lift.

 *

Wanita 2 : Suci

 

Aku berjalan di lorong yang panjang. Ujuang dari lorong seakan semakin panjang saat aku memikirkan muntahan kata yang ingin aku keluarkan setelah ini. Langkahku seakan meninggalkan jejak api yang membakar setiap serat karpet yang baru aku jajaki. Hatiku terbakar oleh perasaan cinta yang telah berubah menjadi sakit hati. Panas…, walaupun pendingin ruangan ini disetelah dengan suhu dibawah suhu ruang, aku tetap merasakan api di urat darahku.

Aku memasuki sebuah ruangan. Aku tak kenal dengan gedung kantor ini, namun yang aku tahu suamiku berada di dalam gedung ini. Aku membaca plang perusahaan yang tertera di lobi.  Nama yang sama sekali tidak aku kenal. Resepsionis  yang menjaga lobi langsung menyapaku.

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu bu ?”

“Mana suami saya ?”

“Maksud ibu ?”

“Ibu, ibu, Memangnya saya ibu kamu ?” Aku menyemprot resepsionis itu dengan amarahku. Nampaknya akal pikiranku sudah dikuasai oleh api cemburu.

“Iya maafkan saya. Anda mau bertemu dengan siapa ?”

“Mana ruangannya wanita yang bernama Hesti ?”

“Ada perlu apa ya ? Apa sudah membuat janji ? Ibu Hesti sedang ada meeting diruangannya. Dia tidak bisa diganggu..”

“Kamu banyak oceh aja sih. Biar saya cari sendiri.”

 

Aku langsung masuk ke ruangan kantor itu, mengabaikan ancaman resepsionis yang akan memanggil satpam jika aku bertindak nekat. Ah masa bodoh, bagiku yang terpentin sekarang adalah membuktikan perselingkuhan yang dilakukan suamiku. Aku mendapat kabar bahwa suamiku sedang berada di kantor ini dengan wanita bernama Hesti. Mereka sedang menjalin kasih dengan kedok hubungan kerja.

Jadi ini penyebab perubahan sikapnya selama 6 bulan belakangan ini ? Suamiku Bernama Alex. Alex yang kukenal adalah Alex yang perhatian, setia, dan bertanggung jawab. Namun 6 bulan belakangan ini sikapnya seakan menunjukkan kalau dia bukanlah Alex. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah.

 Aku harus memergokinya, menangkap basah dirinya yang sedang berduaan. Setelah ini aku akan punya alasan untuk mengajukan cerai. Berpisah dengannya mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar atas ketidakharmonisan keluargaku selama 6 bulan belakangan ini. Sudah banyak cekcok mulut yang terjadi, mungkin hampir setiap malam. Aku tak mau anakku tumbuh dalam lingkungan yang tidak harmonis, lebih baik aku dengannya berpisah saja.

Aku menuju ke sebuah ruangan yang sepertinya menjanjikan. Ruangan berpintu bagus dengan tirai tertutup. Para karyawan di gedung ini menatapku bingung. Aku memang baru pertama kali kesini, dan sepertinya wajah jutekku menarik perhatian mereka. Mereka pasti  bertanya siapa diriku dalam hati. Aku hanya membalas pandangan mereka dengan tatapan jutek.

Aku sampai di depan pintu itu. Tanpa langsung mengetuk pintu aku langsung menarik gagang pintu dan melihat siapa yang berada di dalam ruangan itu. Sudah kuduga, ada Alex dengan seorang wanita. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu. Hesti sedang duduk di kursi sedangakn Alex berdiri di sampingnya. Mereka sedang menatap layar komputer. Tangan Alex memegang tangan Hesti yang sedang memegang mouse. Wajah mereka sangat dekat. Hatiku tersayat saat melihat pemandangan ini.

Mereka langsung kaget melihat aku yang sudah berada di hadapan mereka. Alex langsung menjauh dari Hesti, menjaga jarak seakan itu akan memperbaiki suasana.

 

“Oh jadi ini yang namanya bisnis ?” kataku langsung menghakimi mereka.

“Suci, kamu ini apa-apaan sih. Aku sama Hesti lagi menentukan langkah strategis perusahaan ini.”

“Langkah perusahaan atau langkah hubungan kalian berdua ?”

“Tolong kamu dewasa sedikit,” kata Alex.

“Iya Bu, saya sedang rapat dengan Pak Alex.”

“Kalian pikir saya bisa dibodohi. Ini hanya salah satu bukti. Masih banyak bukti lain yang menyatakan kalau perkataan kalian itu kebohongan. Sudahlah, saya tidak mau mengganggu hubungan kalian. Alex, saya minta cerai.”

 

Suamiku tidak berkata apa-apa. Ia sepertinya shock mendengar perkataanku barusan. Aku langsung berbalik meninggalkan mereka. Alex memanggilku dari belakang.

 

“Suci tunggu dulu. Ini benar-benar bukan seperti yang terlihat.”

 

Aku mempercepat langkahku, mengabaikan perkataan itu. Ini hanyalah pembuktian. Aku mempunyai segudang bukti untuk mendukung keputusanku untuk bercerai.  Aku setengah berlari sembari menahan tangis. Rumah tangga yang sudah aku bina selama 5 tahun akhirnya harus hancur juga. Biarlah serpihan cinta ini hancur dan terbakar menjadi abu.

Aku sampai di depan lift dan langsung masuk ke dalamnya. Sayup-sayup aku mendengar suara Alex yang memanggilku dari belakang, ingin mengejarku. Aku menutup intu lift sebelum Alex datang. Seorang wanita berada dalam lift. Mataku yang basah karena air mata sepertinya memberikan rasa tanya pada dirinya. Aku melihat wanita itu yang sepertinya sangat berseri-seri, seakan ingin memakan satu loyang besar tiramisu super enak tanpa khawatir naik berat badan.

 *

WANITA 1 DAN 2

Lift bergerak turun dengan kecepatan yang konstan. Suara derung yang halus memecah keheningan di dalam lift. Kedua wanita itu berbicara dalam kebisuan bertanya satu sama lain. Tiba-tiba ritme deru lift pecah oleh suara aneh dari atas lift. Lampu yang menerangi  lift kedip-kedip, menandakan sesuatu yang sedang tidak beres sedang terjadi. Lift melambat dan berhenti disertai lampu yang kehilangan cahayanya. Mereka berdua terjebak di dalam lift yang sedang mati lampu.

“Aduh bagaimana ini ?” kata Suci sambil menekan tombol open, namun tentunya pintu tidak akan terbuka.

“Kayaknya mati lampu nih,” Tias juga menekan tombol lift, namun tidak terjadi apa-apa.

Pemandangan menjadi gelap. Tak ada lampu penerangan yang bisa memperjelas apa yang mereka lihat.  Suci panik, ia belum pernah berada di posisi ini sekarang, begitu juga dengan Tias.

“Itu ada tombol emergencynya bisa dihubungin nggak ya ?” kata Suci.

“Nggak bisa nih. Listriknya mati kayaknya alat ini juga mati,” Tias menekan tombol bantuan di lift, namun nihil.

“Satu-satunya cara ya kita harus menunggu disini sampai lampu nyala atau sampai ada yang nolongin kita keluar. Kamu jangan panik begitu nanti oksigen kita jadi makin cepat habis,” kata Tias sambil melihat ke lubang udara yang berhenti mensirkulasikan udara.

“Aku panik soalnya,” kata Suci mencoba menenangkan nafasnya.

“Aku juga panik. Namun jangan makin memperburuk suasana. Kita harus tenang. Aku telepon tunanganku dulu deh. Kamu minum dulu nih.”

Tias mengeluarkan ponsel dan air minum dari dalam tasnya. Suci meminum tiga tegukan air yang diberikan Tias. Suci memejamkan mata, mencoba meredam api cemburu yang membuatnya makin panik dalam situasi seperti ini.

“Akh, aku nggak dapat sinyal. Providrnya payah nih. Kamu ada keluarga di gedung ini yang bisa menolong kita. Coba kamu telepon.”

“Nggak ada,” kata Suci tegas, mengabaikan fakta kalau suaminya ada di dalam gedung ini.

“Loh memangnya kamu kesini ngapain kalau nggak ada yang dikenal disini ?”

“Itu urusanku,” kata Suci ketus.

“Kamu sedang ada masalah ? Aku sedang serius. Ayo cepat telepon siapapun yang kamu kenal untuk memberitahukan kalau kita terjebak di dalam sini.”

Suci mengeluarkan ponselnya. Namun hatinya sudah tertutup untuk mengetikan nama suaminya di keyboard ponselnya. Lebih baik ia mati kehabisan udara disini daripada ia harus menelpon suami yang akan segera menjadi mantan suami itu.

“Dapat sinyal tidak ?” tanya Tias.

“Dapat. Ini gunakan ponselku untuk menelpon tunanganmu.”

Tias agak bingung dengan tingkah laku Suci yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Daripada mati kehabisan nafas ya lebih baik menelpon dari ponsel lain. Tias langsung menelpon Joni, tunangannya. Sambungan masuk, namun ponsel tidak aktif. Oh ya, tadi Joni bilang baterai ponselnya habis. Ah gawat, disaat genting seperti ini malah tidak bisa dihubungi.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s