2 Wanita (PART II)

by widikrisna

WANITA 1 DAN 2

Lift bergerak turun dengan kecepatan yang konstan. Suara derung yang halus memecah keheningan di dalam lift. Kedua wanita itu berbicara dalam kebisuan bertanya satu sama lain. Tiba-tiba ritme deru lift pecah oleh suara aneh dari atas lift. Lampu yang menerangi  lift kedip-kedip, menandakan sesuatu yang sedang tidak beres sedang terjadi. Lift melambat dan berhenti disertai lampu yang kehilangan cahayanya. Mereka berdua terjebak di dalam lift yang sedang mati lampu.

 “Aduh bagaimana ini ?” kata Suci sambil menekan tombol open, namun tentunya pintu tidak akan terbuka.

“Kayaknya mati lampu nih,” Tias juga menekan tombol lift, namun tidak terjadi apa-apa.

 Pemandangan menjadi gelap. Tak ada lampu penerangan yang bisa memperjelas apa yang mereka lihat.  Suci panik, ia belum pernah berada di posisi ini sekarang, begitu juga dengan Tias.

 “Itu ada tombol emergencynya bisa dihubungin nggak ya ?” kata Suci.

“Nggak bisa nih. Listriknya mati kayaknya alat ini juga mati,” Tias menekan tombol bantuan di lift, namun nihil.

“Satu-satunya cara ya kita harus menunggu disini sampai lampu nyala atau sampai ada yang nolongin kita keluar. Kamu jangan panik begitu nanti oksigen kita jadi makin cepat habis,” kata Tias sambil melihat ke lubang udara yang berhenti mensirkulasikan udara.

“Aku panik soalnya,” kata Suci mencoba menenangkan nafasnya.

“Aku juga panik. Namun jangan makin memperburuk suasana. Kita harus tenang. Aku telepon tunanganku dulu deh. Kamu minum dulu nih.”

 Tias mengeluarkan ponsel dan air minum dari dalam tasnya. Suci meminum tiga tegukan air yang diberikan Tias. Suci memejamkan mata, mencoba meredam api cemburu yang membuatnya makin panik dalam situasi seperti ini.

 “Akh, aku nggak dapat sinyal. Providernya payah nih. Kamu ada keluarga di gedung ini yang bisa menolong kita. Coba kamu telepon.”

“Nggak ada,” kata Suci tegas, mengabaikan fakta kalau suaminya ada di dalam gedung ini.

“Loh memangnya kamu kesini ngapain kalau nggak ada yang dikenal disini ?”

“Itu urusanku,” kata Suci ketus.

“Kamu sedang ada masalah ? Aku sedang serius. Ayo cepat telepon siapapun yang kamu kenal untuk memberitahukan kalau kita terjebak di dalam sini.”

 Suci mengeluarkan ponselnya. Namun hatinya sudah tertutup untuk mengetikan nama suaminya di keyboard ponselnya. Lebih baik ia mati kehabisan udara disini daripada ia harus menelpon suami yang akan segera menjadi mantan suami itu.

 “Dapat sinyal tidak ?” tanya Tias.

“Dapat. Ini gunakan ponselku untuk menelpon tunanganmu.”

 Tias agak bingung dengan tingkah laku Suci yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Daripada mati kehabisan nafas ya lebih baik menelpon dari ponsel lain. Tias langsung menelpon Joni, tunangannya. Sambungan masuk, namun ponsel tidak aktif. Oh ya, tadi Joni bilang baterai ponselnya habis. Ah gawat, disaat genting seperti ini malah tidak bisa dihubungi.

 “Kayaknya baterai HP tunangan aku lagi habis. Nggak bisa. Pilihannya ada dua menunggu sampai lampu menyala yang tak tahu kapan atau menunggu kita segera diselamatkan dengan memberitahu siapapun yang kamu kenal disini,” kata Tias.

“Aku pilih pilihan pertama,” kata Suci tegas.

“Sebenarnya kamu sedang ada masalah apa ?”

 Suci menilik kembali apa yang baru dilaluinya. Air matanya menetes. Masalahnya adalah ia harus cerai, meninggalkan ritme hidup yang sudah teratur untuk memulai kembali hidup yang baru sebagai seorang janda, mengorbankan waktu dan yang terpenting mengorbankan anak. Anaknya baru berusia 4 tahun, ia masih butuh sosok kedua orang tuanya.`

 “Kamu bisa bercerita kepadaku. Kita sama-sama wanita. Aku bisa mengerti apa permasalahanmu.” Tias meyakinkan Suci.

“Oh apa itu yang berada di tanganmu ?” Suci mengalihkan pembiacaraan, menghapus air mata di pipinya.

“Oh ini. Ini kertas undangan pernikahanku.  Sayang sekarang gelap, jadi kamu tidak bisa melihat.”

“Kamu akan menikah ?”

“Iya rencananya aku dengan tunanganku akan menikah bulan depan.”

“Kamu yakin tunanganmu mencintaimu ?” tanya Suci.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu ?” Tias tersinggung.

“Dulu suamiku juga berkata seribu cinta padaku sebelum menikah. Toh pada akhirnya ia mengkhianatiku. Kamu yakin dia mencintaimu ?”

“Ah aku mengerti apa masalahmu. Kamu habis putus cinta ya ?” Goda Suci.

“Masalahku jauh lebih serius dari perkiraanmu. Aku ini mau cerai,” akhirnya muntahan kata itu keluar dari mulut suci. Tias langsung menghilangkan mimik senangnya karena ia tahu suasana hati Suci sedang tidak enak.

“Kenapa kamu mau cerai ?”

“Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, kamu harus jawab dulu pertanyaanku. Kamu yakin tunanganmu mencintaimu ? Apa buktinya ?”

“Ia membuktikan dari perkataan dan perbuatannya tentunya. Ia selalu bilang ia cinta padaku. Ia juga selalu ada untukku. Ia baik, perhatian dan mau mendengarkan perkataanku. Kalau kata orang men don’t listen, tapi ia mau mendengarkan aku. Kami sering pergi bersama, nonton atau, jalan-jalan.  Kami sudah pacaran selama satu setengah tahun.”

“Baru setengah tahun ? Aku sudah 6 tahun berpacaran sebelum menikah. Ia lebih menjadi sekedar soulmateku ketika kami pacaran dulu. Segala perbuatan dan perkataannya memang menunjukkan cinta. Aku dengan suamiku sudah sehidup semati. Namun semua itu bukanlah jaminan kalau cinta tidak bisa dirobohkan. Kamu yakin dengan waktu 1 setengah tahun mu itu kalau dia adalah jodohmu yang sebenarnya ?”

“Ya aku yakin sekali,” kata Tias.

“Bagaimana kamu dengannya bertemu ? Sudah berapa lama kalian saling kenal ?” tanya Suci

“Aku sebenarnya diperkenalkan oleh kedua orang tua kami. Mereka awalnya tidak berniat menjodohkan, namun ya berawal dari dikenalkan itu kami berdua saling mencari tahu satu sama lain. Aku kenal dengannya 2 tahun lalu.”

“Hanya 2 tahun ? Aku dengan suamiku sudah saling kenal semenjak kami SD. Aku sudah kenal semua sifatnya. Aku mengerti apa kekurangan dan kelebihannya. Tanpa perlu mencari tahu, keadaan sepertinya membuat kami saling mengetahui satu sama lain. Sudah hampir 20 tahun kami saling mengenal dan itu bukanlah bukti.”

 Tias hanya mengangguk kecil. Ia mulai terpengaruh oleh perkataan Suci. Memang ia dengan Joni belumlah sedekat sebagaimana seorang suami isteri harus saling mengenal. Namun Tias tetap berprinsip kalau Joni adalah pasangan hidupnya

 “Dalam waktu 2 tahun itu. Apa pengalaman terbaikmu bersama tunanganmu ?” tanya Suci.

“Kenangan terindah ya ? Ketika aku dengannya berlibur ke bali berdua. Saat itu ia aku dengannya baru saja bertunangan. Banyak hal menyenangkan yang kami lalui bersama. Namun satu hal yang tidak pernah aku lupakan dari liburan itu adalah ketika kami melihat sunset di pantai kuta. Ia memberiku kecupan cinta padaku saat itu.”

“Hanya itu ?”

 Tias mengangguk. Baginya itu adalah kenangan terindah yang penah diberikan oleh Joni, calon suaminya. Suci tersenyum kecil, seakan mengolok apa yang baru saja diucapkan Tias.

 “Apakah calon suamimu orang kaya ?” tanya Suci

“Ya bisa dibilang begitu. Aku dengannya berasal dari keluarga yang berkecukupan, namun ia lebih berpunya daripada aku”

 Suci menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia memejamkan mata, memandang kegelapan di balik imajinasinya. Ia mengucapkan apa yang menjadi pemikirannya.

 “Suamiku dan aku memang berasal dari keluarga yang berkecukupan, namun tidak sekaya orang-orang jenset diluar sana. Namun ia pernah memberiku sebuah perjalanan istimewa ke Australia. Ia dapat uang dari mana ? Dari menjual tanah keluarganya. Semua ia lakukan hanya untuk membuktikan cintanya dan tentunya membuat aku senang. Padahal aku sama sekali tidak pernah meminta hadiah apa-apa darinya. Ia lakukan itu dengan ikhlas untukku. Itu untuk membuktikan cintanya padaku. Namun itu bukanlah jaminan. Kau berasal dari keluarga berpunya dan hanya Bali ?  Bukannya aku mau meremehkan, namun jika kamu yakin kalau itu kenangan yang kamu agung-agungkan, sepertinya kamu harus berpikir ulang. Pernikahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hambatan yang tidak pernah kamu pikirkan akan kamu lalui.”

“Aku tetap yakin dengan pernikahnku dengan tunanganku sekarang.”

“Apakah kamu pernah mengalami pertengkaran dalam hubunganmu ?” tanya Suci

“Pernah.”

“Ceritakan padaku hal terkecil yang menyebabkan kalian berselisih.”

“Hal terkecil penyebab berselisih ? Kurasa kalau hal terkecil yang pernah menyebabkan kami berselisih  adalah ketika kami tidak bisa menentukan mau nonton film apa ketika kencan. Aku ingin film A sedangkan tunanganku ingin film B. Yah tidak sampai marahan sih, namun sempat berselisih paham saja.”

“Memangnya kesukaan kalian berbeda ?”

“Harus aku akui hobiku dengan tunanganku berbeda. Ia senang sekali dengan sepak bola sedangkan aku sama sekali tidak senang.”

 Suci tersenyum kecil sembari menekan-nekan tombol lift. Lampu masih padam, tak ada gunanya menekan tombol-tombol tak bercahaya itu. Mereka masih terjebak dalam kegelapan dan kestatisan. Udara semakin pengap, waktu mereka tak lama lagi sebelum udara tak layak hirup.

 “Aku dengan suamiku mempunyai hobi yang sama, kami senang sekali travelling. Salah satu penyebab kami klop mungkin karena kesamaan hobi ini. Hanya karena film kalian bisa berselisih. Aku dengan suamiku beda agama. Tentunya banyak hal yang bisa menjadi penyulut pertengkaran di rumah tangga kami. Namun selama ini kami selalu bisa toleransi atas kebebasan beragama satu sama lain. Kami jarang berselisih selama 4 tahun awal pernikahan kami. Kamu yakin pernikahanmu akan langgeng jikalau hal kecil itu membuat kalian bisa berselisih ? Apakah kamu bisa memasak ?”

“Sedikit-sedikit. Aku masih belajar,” kata Tias.

“Lebih baik kamu percepat belajarmu. Lelaki suka jika makanan yang masuk ke mulutnya adalah masakan isterinya. Kalian akan tinggal di rumah baru kan nantinya setelah menikah ?

 Tias hanya membalas dengan anggukan. Suci melanjutkan kata-katanya.

 “Jangan sampai pembantu yang memasak untuk suamimu. Kamu akan menjadi ibu rumah tangga bukan ? Jangan sampai dia menilai kamu hanya malas-malasan dan hanya bisa menghabiskan uangnya. Ketika awal pernikahanku dulu, aku berikan masakan terbaikku, pelayanan terbaikku dan waktuku hanya untuknya. Aku berhenti kerja untuknya. Semua untuk memberikan kesan pertama pernikahan yang terbaik.”

“ Sebenarnya apa sih yang terjadi antara kau dengan suamimu ?” kata Suci.

“Baik aku akan ceritakan padamu. Aku dengannya sudah 5 tahun menikah. Kami sudah dikaruniai seorang anak, ia masih beusia 4 tahun. Selama 6 bulan teakhir ini suamiku menunjukkan perubahan yang cukup berbeda. Aku mengendus adanya bau perselingkuhan disini. Aku mulai menyelidiki dan menemukan beberapa bukti. Pertama aku menemukan banyak pesan singkat berbau mesra di ponselnya. Kedua aku menemukan foto-fotonya bersama wanita lain. Ketiga aku mendengar cerita kemesraan dia bersama wanita lain. Dan keempat aku tadi memergokinya bersama wanita itu. Aku tidak suka dikhianati. Aku ingin cerai darinya.”

“Kamu yakin kalau mereka benar-benar selingkuh ?”

“Ya.”

“Apa kamu sudah mendengar penejelasan darinya ?”

“Tidak perlu aku mendengar apa-apa darinya.”

“Kurasa kamu perlu mendengar cerita menurut versinya. Terlalu banyak yang kalian pertaruhkan jika kalian bercerai.”

“Kamu tidak mengerti perasaanku. Sakit rasanya hati ini setelah semua mahligai rumah tangga dicoreng dengan cara seperti ini.”

“Aku mengerti perasaanmu. Namun apakah kamu tidak memikirkan anakmu ?”

“Aku malah takut kalau aku lanjutkan pernikahan ini akan membawa dampak buruk baginya. Hampir setiap malam sekarang aku selalu bertengkar dengan suamiku. Aku tak mau anakku punya persepsi buruk tentang pernikahan.”

“Ia masih 4 tahun, masih butuh kasih sayang kedua orang tua.”

“Aku dan suamiku tentu masih akan berhubungan. Kami tidak akan seberpisah itu. Aku ingin bertanya satu hal lagi. Ini pertanyaan terpenting.”

“Apa itu ?”

“Bagaimana perannya dalam mempersiapkan pernikahan kalian berdua ?”

“Kalau kali ini harus aku akui, 95 persen aku yang mempersiapkan. Ia hanya aku beritahu perkembangannya saja. Memangnya kenapa ? Aku maklum kok, ia sibuk sekali.”

“Dulu suamiku sering cuti untuk membantuku mempersiapkan pernikahan. Pernikahan adalah perisiwa sakral yang seharusnya terjadi sekali seumur hidup. Sudah seharusnya kalian sama-sama terlibat dalam mengurusnya. Masa hanya karena pekerjaan kantor, tunanganmu menyerahkan semua urusan pernikahan padamu. Memangnya apa makna pernikahan untuknya ? Kusarankan padamu untuk memintanya membantumu mengurus pernikahan kalian. Jika ia menolak dan memberikan jatah tugasnya padamu lebih baik kamu pertimbangkan kembali pernikahanmu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.”

Tias mulai mempertimbangkan perkataan Suci yang sepertinya sudah lebih berpengalaman. Apakah selama ini ada cinta pada hubungannya dengan Joni ? Apakah selama ini cinta yang ia anggap tak lebih dari sebuah asumsi semata ? Ia menjadi ragu dengan pernikahannya. Tias menunduk, memikirkan sebuah pertanyaan.

“Aku boleh bertanya sebuah pertanyaan yang agak sensitif boleh ?

“Memangnya kamu mau bertanya apa ?”

“Sebutkan satu buah alasan yang bisa membuat kamu dengan suamimu bisa rujuk ?”

 Suci menunduk. Perceraian…, hanya itu jalan keluar yang terpikirkan oleh Suci. Ia sama sekali tidak memikirkan opsi lain yang membuatnya harus kembali ke suaminya yang telah mengkhianatinya. Tias menjadi tak enak dengan pertanyaannya. Sebelum ia berkata untuk membatalkan pertanyaannya Suci sudah keburu menjawab.

 “Perceraian adalah harga mati untukku.”

“Baiklah jika memang kamu sudah mantap dengan keputusanmu. Ngomong-ngomong sampai kapan kita terjebak disini ?”

“Entahlah. Kurasa sampai listriknya menyala.”

 Sudah hampir 20 menit mereka terperangkap di lift yang gelap. Persediaan oksigen semakin menipis. Tiba-tiba Tias memegang dadanya, seakan menahan sesak yang amat sangat. Kakinya tak mampu menahan bebannya. Ia terduduk di tempatnya berdiri.

 “Kamu kenapa ?” Tanya Suci.

“Asmaku kambuh. Sepertinya karena udara disini semakin miskin oksigen.”

“Obatmu ada dimana ? Biar aku ambilkan,” Suci mengambil tas Tias.

“Aku menaruh obatku di mobil. Aku lupa memasukkannya ke dalam tas. Sungguh aku harus segera keluar dari sini,” kata Tias dengan nafas terengah. Keringat mengalir deras dari pori-pori kulitnya. Tias melanjutkan kata-katanya disertai batuk yang mengganjal nafasnya.

“Aku yakin tunanganku akan datang menyelamatkanku. Aku yakin ia menyadari kalau aku terjebak di lift. Kita tak tahu sampai kapan mati lampu akan terjadi. Ia pasti memutuskan untuk segera mengeluarkanku tanpa menunggu lampu menyala. Sebentar lagi ia akan datang dari atas lift dengan teknisi. Jika ia memiliki rasa cinta, ia akan rela melakukan itu.”

 Suci mengeluarkan ponselnya. Suaminya, hanya suaminya yang ia kenal di gedung ini. Hanya dia yang bisa menyelamatkan dirinya dan Tias yang terjebak disini. Batuk Tias semakin sering, seakan semua udara yang ia hirup adalah debu yang mengotori tenggorokannya. Suci melihat layar ponselnya. Sinyal ada, namun tak ada telepon atau SMS. Suci berbicara dalam hati sembari menatap ponselnya.

 “Kenapa, kenapa kamu tidak menelpon Alex ? Kamu pasti bisa mengira kalau aku akan terjebak disini. Kamu mengejarku tadi Alex, kenapa kamu tidak segera menelponku ?” Ponsel itu tidak menjawab, hanya membisu tanpa sebuah dering atau getaran.

“Uhuk-uhuk,” Tias semakin lemah.

 Tias akhirnya terbaring pingsan. Gawat. Suci menggoyang badan Tias, memanggil namanya. Nihil, Tias sudah tak sadarkan diri. Ia harus segera keluar dari sini atau nyawa Suci menjadi tawarannya. Suci mencari nomor Alex diponselnya. Hanya tinggal menekan satu tombol maka ia akan terhubung dengan Alex.

 “Alex, kenapa kamu tidak menelponku terlebih dahulu ? Itu berarti kamu memang sudah tidak mempedulikanku.”

 Penglihatan Suci mulai kabur. Oksigen sudah sangat sedikit. Ia juga hanya punya sedikit waktu sampai kesadarannya juga menghilang. Kepala Suci mulai pusing, kurang asupan udara segar. Akhirnya suci menekan tombol hijau untuk menelpon Alex. Telepon nyambung namun tidak diangkat. Sudah dua kali dicoba, namun telepon tidak diangkat.

 “Kenapa Alex ? Kenapa tidak kamu angkat ? Sekarang aku membutuhkanmu lebih dari apapun.”

 Kepala suci makin berputar. Rotasi ilusi mulai memakan kesadarannya. Ia melihat Tias yang terbujur di depannya. Apakah ia masih hidup ? Loh kenapa Tias menjadi dua ? Ah ternyata pandangan Suci mulai buyar. Nampaknya Suci sudah mencapai batas kekuatannya. Ponsel yang dipegang Suci terjatuh bersamaan dengan tubuh Suci yang juga terjatuh. Lemas…, baru kali ini ia merasakan sensasi kehabisan oksigen.

 Diantara pingsan dan sadar, Suci mendengar sebuah suara terdengar dari atas lift. Seperti ada seseorang yang sedang berdiri diatas lift. Pintu darurat yang berada di atas lift perlahan terbuka. Suci sudah tak kuat lagi untuk menyadari apapun. Sayup-sayup ia melihat wajah yang tak asing lagi dimatanya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

*

 Wanita 2 : Suci

 Aku membuka mataku saat udara segar sudah bisa aku hirup kembali. Oksigen nampaknya bukan suatu hal yang langka sekarang. Aku bisa merasakan aku hidup kembali.  Nampaknya tadi ada yang membuka pintu darurat lift dan menyelamatkanku. Aku membuka mataku perlahan, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk kemata. Aku tak bisa melihat pemandangan apa-apa kecuali wajah seorang pria yang sangat dekat denganku. Ia memegang bibirku, ingin menempelkan bibirnya ke bibirku.

Apa ini ? Apakah aku sedang berada di adegan puncak sebuah drama putri tidur ? Apakah aku masih pingsan dan sedang bermimpi. NO, aku masih hidup dan aku bisa merasakan seluruh tubuhku dan menggerakannya seperti keadaan normal. Loh siapa pria ini mau menciumku segala ? Hah mencium. Aku langsung melotot.

“Aaargh.”

Aku berteriak. Pria itu langsung menjauhkan wajahnya dari wajahku. Aku langsung terduduk di tempatku. Aku sedang berada di sebuah tandu. Ada tiga orang yang mengelilingku, sepertinya mereka petugas gedung.. Aku mengumpulkkan segala kesadaranku. Pria itu tersenyum padaku. Tadi pria itu yang kulihat membuka pintu darurat lift dan menyelamatkanku.

“Mas Alex…, kenapa kamu menyelamatkanku ?”

“Karena aku ingin kau berhutang budi padaku.”

“Apa yang bisa membuatku membalas hutang budi ini ? Sebentar lagi kita akan bercerai dan aku tak mau punya hutang nyawa padamu,” kataku tegas.

“Aku hanya ingin kamu mendengar penjelasanku.”

Suci menarik nasaf dalam-dalam. Hanya mendengar saja ? Nyawaku hanya dibalas dengan sebuah alasan ? Memangnya alasan apa yang akan ia ucapkan ? Aku tak percaya jika ia berkata tak ada hubungan apa-apa dengan Hesti. Oke, jika ia maunya begitu.

“Baik apa penjelasanmu ?”

“Maaf Suci aku selingkuh. Dugaanmu benar. Aku ada hubungan dengan Hesti.”

“Aku tidak kaget Lex.”

“Namun aku lakukan itu untuk sebuah alasan.”

“Apa alasannya ?”

“Ini untuk keluarga kita. Perusahaan sedang menghadapi masa sulit. Hesti adalah wanita yang bisa menyelamatkan perusahaan. Untuk itu aku harus bisa memenangkan Hesti agar ia mau menolong perusahaanku. Hesi ternyata menyukaiku dan aku memanfaatkan perasaannya. Maafkan aku Suci, aku harus menggadaikan cintaku untuk menyelamatkan keluarga kita dari kemiskinan. Aku tak ingin kamu dan anak kita hidup susah.”

Aku menutup mata. Alex memang selingkuh, namun selama ini aku tak tahu mengapa ia bisa selingkuh. Jadi alasannya adalah ini. Ia hanya ingin menunjukkan rasa tanggungjawabnya padaku dan juga pada anakku sebagai pencari nafkah.

“Alex, kenapa kamu tidak cerita kepadaku tentang masalah diperusahaanmu ? Kita sudah lama saling mengenal. Kamu sudah kenal aku dan sebaliknya. Kamu tahu kan aku tidak akan keberatan jika harus hidup susah.”

“Aku hanya tak ingin…,”

“Sudah kamu tak perlu menlanjutkannya. Sekarang semua ada padamu. Jika kamu memang ingin meneruskan hubunganmu dengan Hesti aku akan melanjutkan perceraian kita, namun aku akan mengurungkan niatku untuk menceraikanmu jika kamu kembali seperti dulu. Aku sama sekali tidak keberatan untuk hidup miskin. Aku akan bantu kamu untuk memulai kembali dari nol.”

“Kamu sudah mengenalku semenjak lama Suci. Kurasa kamu tahu apa jawabanku,” kata Alex sambil tersenyum.

*

Wanita 1 : Tias

 

Aku membuka mata. Kasur yang cukup empuk, udara yang cukup dingin, aroma yang tidak biasa. Dimana aku ? Apakah aku sudah meninggal ? Namun ini terlalu nyata untuk sebuah alam baka. Aku bisa merasakan tubuhku dan menggerakkannya sesuai keinginanku. Kurasa ini lebih mirip kamar rumah sakit daripada alam kematian.

Oh ternyata aku di rumah sakit ya. Seseorang pasti menyelamatkanku. Aku sendiri di ruangan ini…, ooh aku tahu. Ini rumah sakit yang dekat dengan kantor Joni dan ini pasti ruangan VIP. Dulu aku pernah menjenguk teman di rumah sakit ini, jadi aku kenal ruangan seperti ini. Aku mencoba mengingat bagaimana aku bisa disini. Hal yang terakhir aku ingat adalah aku sedang bertukar pikiran dengan Suci kemudian aku mulai tak sadarkan diri karena asmaku.

Aku memijat kepalaku yang sedikit pening. Sebuah tombol untuk memanggil suster kunyalakan. Dimana Joni ? Aku yakin ia yang membawaku kesini. Tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang wanita masuk. Suster itu tersenyum ramah padaku.

“Suster, siapa tadi yang membawa saya kesini ?”

“Tadi dua orang pria yang membawa anda. Mereka petugas kantor Gedung Herritage kavling 24.”

“Loh suster yakin ? Suster yakin bukan pria yang bernama Joni yang membawaku ?”

“Bukan bu. Saya yakin.”

Aku langsung terduduk di kasurku. Kenapa Joni tidak kesini ? Aku langsung mengambil ponselku dan menelpon Joni. Masih tidak aktif. Kalau tadi aku terjebak di lift, namun sekarang aku terjebak di rumah sakit. Pihak rumah sakit belum memperbolehkanku pulang sebelum aku istirahat 8 jam. Kondisiku masih agak lemah.

Senja sudah mengufuk di sisi barat, menciptakan gradasi warna antara senja dan gulita. Aku menikmati pemandangan indah itu dari kasurku di rumah sakit. Perkataan Suci terngiang di otakku. Baik aku akan tes Joni. Aku akan minta ia mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan kami. Kalau ia mau ya berarti memang tidak ada masalah, kalau tidak mau berarti…, ah lihat nanti saja lah. Tapi aku penasaran, kenapa bukan dia yang membawaku kesini.

Suara kutakan pintu menyadarkanku dari lamunanku. Aku mempersilakan orang itu masuk. Pintu terbuka dan Joni masuk ke dalam kamar rawatku.

“Say, kenapa kamu baru datang ?”

“Maaf say, tadi ada rapat sore-sore.”

“Memangnya tadi mati lampu berapa lama ?”

“Sekitar setengah jam say. Tadi aku panik karena file presentasi rapatku belum aku save dan lisrik tiba-tiba mati. File presentasi itu adalah nyawaku hari ini. Aku harus mengerjakan ulang presentasi itu ketika lampu menyala. Maaf say aku baru bisa menjengukmu. Kamu tadi terjebak di dalam lift ya ?”

Hah kenapa dia berkata seakan tidak terjadi apa-apa ? Jadi ia lebih mementingkan file presentasi itu daripada nyawaku. Aku tadi sudah pingsan dan hampir menyebrang ke alam baka namun ia malah sibuk memikirkan rapatnya. Jika ia calon suami yang baik, seharusnya nyawaku lebih dipentingkan daripada rapatnya. Nampaknya tak perlu mengetesnya dengan memberinya tugas untuk mengurus pernikahan karena aku sudah tahu jawabannya.

Advertisements

4 comments on “2 Wanita (PART II)

  1. “Suamiku dan aku memang berasal dari keluarga yang berkecukupan, namun tidak sekaya orang-orang jenset diluar sana. Namun ia pernah memberiku sebuah perjalanan istimewa ke Australia. Ia dapat uang dari mana ?…
    kok “jenset” wid? “jetset” mungkin. hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s