Akibat Sembarangan Berdoa Sebelum Ujian Kelulusan (Aargh Kompre) (PART I)

by widikrisna

Aaagh sebentar lagi ujian kelulusan –> masih 0 % preparation. Jadi berharap macam-macam dan alhasil malah mendapat inspirasi untuk sebuah cerita pendek.  Aku sedikit berimajinasi tentang kehidupan di masa depan.

Negara nan Jauh, Tahun 2500 Masehi

“Mesin sudah siap untuk dioperasikan pak.”

“Apakah kamu sudah yakin? Kamu sudah dobel cek ?”

“Sudah pak.”

Pria itu berdiri didepan membelakangi sebuah kaca besar. Dibalik kaca besar itu ada sebuah mesin besar yang menderu halus. Mesin itu berwarna keperakan dengan material super carbon amstrongtube. Material ini 1000 kali lebih kuat daripada intan. Ini sebuah keajaiban di dunia mterial dimana manusia bisa mensintesis material yang diklaim terkuat di jagad raya. Sebuah cahaya biru terang menyala diatas mesin itu menandakan asupan daya untuk alat sudah terpenuhi. Butuh 2 sendok energi dari antimateri untuk membangkitkan mesin super ini. Ini sama saja dengan energi untuk menyalakan listrik dunia selama setengah hari.

 Pria itu hanya berdiri tertegun melihat mesin yang ia ciptakan. Ia menilik kembali setiap inci mesin itu. Jika dilihat oleh orang awam, pasti semua berpikir ini adalah sebuah gerbang metal dengan dua mesin aneh yang berada di sisi kiri dan kanannya. Tak lupa ada hiasan kristal di atas gerbang itu. Namun siapapun yang mengerti, pasti akan langsung takjub dengan fungsi alat ini. Pria itu memegang dagunya, berpikir dua kali untuk menggoalkan proyek ini yang tinggal menekan tombol

 “Anda terlihat tidak yakin Pak Robert ?” Akhirnya tangan kanan Robert, sang pencipta alat, berdiri di samping dan menanyakan makna mimik Robert yang terlihat gugup.

“Ini sangat berisiko Yukito.”

“Apakah anda yakin mau melanjutkan ini ?”

Robert hanya terdiam. Ia menarik nafas, namun tak ada keputusan mantap yang bisa ia ambil. Yukito memegang pundak Robert sembari tersenyum kecil padanya. Yukito mengikuti Robert yang memandang alat yang sudah ready untuk digunakan itu.

 “Gagal atau berhasil aku yakin kakekmu akan bangga padamu. Kakekmu hanyalah inisiator dari proyek mesin waktu ini namun ia gagal merealisasikannya. Bapakmupun mengalami kegagalan. Hanya kamu yang bisa sejauh ini. Mereka berdua gagal, namun mereka gagal ketika mencoba bukan gagal untuk mencoba.”

“Kamu tidak mengerti. Aku takut. Apapaun bisa muncul jika kita mengaktifkan lubang cacing ini. Aku memang berhasil membuat alat yang dapat menghubungkan dua dimensi waktu yang berjauhan. Mesin waktu ini adalah sebuah keajaiban teknologi abad ini jika aku berhasil, namun jika gagal maka semua sumber daya, tenaga dan waktu hanyalah terbuang sia-sia,” kata Robert memandang alat itu melalui kaca yang sebenarnya itu adalah lapisan tipis super carbon amstrongtube.

“Aku mengerti apa risiko proyek ini. Kita tak bisa mengontrol destinasi dari lubang cacing yang akan kita buka. Ini memang uji coba pertama. Bisa saja lubang cacing ini membuka kita ke masa Hitler dulu, bisa juga lubang cacing ini membuka ke masa dinosaurus. Kita memang tidak tahu ujung dari lubang cacing yang akan terbuka. Bisa saja mesin langsung meledak karena energi super besar yang harus dibangkitkan untuk mempertahankan lubang cacing yang terbentuk. Namun kita tak akan bisa belajar sesuatu jika tidak mencoba. Semua sumber daya, tenaga dan waktu akan menjadi sia-sia jika kita tak mencoba. Aku lebih memilih semua yang kita pertaruhkan menjadi sia-sia karena gagal dalam mencoba.”

 Yukito melihat Robert yang masih terlihat tidak yakin untuk melanjutkan. Bagaimanapun, Robert adalah pemimpin dari proyek ini. Ia adalah pengambil keputusan tertinggi disini. Yukito menghormati Robert, jika memang Robert tidak yakin ya lebih baik di tunda.

 “Apa kamu mau menunda Pak Robert ?”

 Robert tetap diam sambil memegang dagunya. Ia memikirkan semua risiko yang akan terjadi jika ia mengaktifkan mesin waktu ini. Apapun bisa terjadi jika sudah bermain dengan dimensi ruang dan waktu. Tiba-tiba ia teringat pesan ayahanya. Sebenarnya ini adalah proyek lanjutkan dari ayah dan kakeknya. Jika ayah atau kakeknya yang berdiri disini, pasti ereka akan memilih maju dan mengambil semua risikonya.

 “Jalankan alatnya.”

“Kamu yakin ?” tanya Yukito.

“Aku yakin. Aku akan ambil semua risikonya.”

 Robert berbalik. Ia menghadap ke panel-panel yang berdiri tegak dibelakangnya. Dibelakang panel itu ada orang-orang yang mengemudikan tombol layar sentuh di panel. Ada pula robot-robot yang berjalan hilir mudik untuk mensupport pekerjaan manusia.

 “Jalankan mesinnya. Kita akan membuat sejarah kawan-kawan.”

 Sepuluh menit berlalu. Gerbang itu mulai berpendar. Sebuah distorsi mulai terbentuk, membentuk sebuah cermin air yang menghubungkan dua dunia. Walaupun ruangan ini sejuk, ia tetap bisa merasakan keringat di balik pelipisnya. Perlahan cermin di gerbang itu menghalus, lampu kristal di atas gerbang menyala hijau. Energi superbesar sedang disuplai untuk mempertahankan lubang cacing yang terbentuk. Semua tak ada yang tahu ujung dari lubang cacing itu berakhir dimana dan ke jaman apa. Namun satu hal yang yang pasti adalah mereka berhasil membentuk lubang cacing unuk pertama kalinya. Robert tersenyum, ia sebentar lagi akan membuat sejarah baru bagi umat manusia.

*

Indonesia, Tahun 2012 Masehi

 

Kantuk…. diantara sadar dan tak sadar sebuah kata merasuki otakku. Dan kata itu adalah petir yang membangunkanku dari lelapku. Petir itu menggelegar sangat kencang di otakku, membuatku langsung bangun dari tempatku tertidur. Petir itu meneriakan satu kata yang merupakan momok bagiku selama 2 bulan terakhir. Dan kata itu adalah “UJIAN KOMPRE.”

 Aku langsung membuka mataku secara cepat. Ya ampun, aku tertidur di meja belajarku di kos. Aku sedikit memijat kepalaku yang berputar karena sensasi petir yang baru saja aku terima. Aku mengumplkan fokus di mataku, menghapus kunang-kunang di mata. Lembaran-lembaran kertas bertuliskan angka romawi dan alfabet bagaikan kitab sansekerta yang berserakan, menunggu untuk tersusun rapi agar bisa dimengerti.

 Oke, kesadaranku kembali. Sudah sampai mana aku ? Hah aku masih belajar Kinetika dan Katalisis, dimana ini adalah mata kuliah semester 3. Masih ada 5 semester yang belum aku pelajari. Beranikah aku melihat ke arah jam dinding ? Aku menengok ke arah jam dinding. HUAAAA, sudah jam 2 pagi. Ujian kompre tinggal 6 jam lagi dan masih ada setumpuk mata kuliah yang belum aku pelajari. Panik, panik, panik…..

 Mengapa sih kayaknya aku terlihat takut sekali ? Ya iyalah, ini adalah ujian komprehensif, ujian penentu kelulusan di jurusanku. Jurusanku memang freak, untuk dapat lulus sesuai dengan jalur yang semestinya ada 4 tugas akhir yang harus diselesaikan yaitu kerja praktik, merancang pabrik, penelitian dan yang terakhir setelah ketika tugas itu selesai adalah ujian komprehensif.

Ujian ini bukanlah main-main. Kuliah 8 semester akan dirangkum dan disajikan dalam waktu beberapa jam dalam pertanyaan-pertanyaan yang menjebak. Tak bisa dibayangkan berapa buku, diktat dan slide yang harus dipelajari agar dapat mengalahkan yang namanya ujian komprehensif. Senjata yang diberikan hanyalah alat tulis dan kalkulator jaman batu. Ah ibarat kata mau perang dunia tiga namun hanya diberi senjata bambu runcing. That’s why, ini menjadi suatu momok bagiku. Aku sendiri suka bingung kenapa dulu aku memiliki jurusan teknik kimia ya ? (ini pertanyaan yang belum bisa aku jawab sampai sekarang)

Dan sekarang…, aku masih sangat jauh dari kata siap. Kalau misalnya aku mahasiswa yang sangat ‘teknik’ pasti ujian ini bukanlah menjadi momok yang amat sangat mengerikan. Namun berhubung aku tipe mahasiswa yang cengar cengir ya ini sama saja dengan melewati jembatan sirotol mustaqin. Tipe mahasiswa cengar cengir ? Itu loh kalau dikelas tidak ngerti, ngerjain tugas deket deadline, kalau kuliah terkadang malas, tipe mahasiswa masa depan belum pasti cerah. Beda dengan mahasiswa IP dewa yang sudah diincar berbagai perusahaan.

Aku kembali melihat lembaran-lembaran yang harus aku pelajari. Ah tidak akan keburu. Aku terlalu banyak membuang waktu satu bulan lalu. Disaat teman-temanku sudah mulai menyicil ujian ini, aku masih santai dan memikirkan tugas akhir yang lain. Oke sekarang aku kena getahnya. Selama ini aku selalu diselamatkan oleh dewi fortuna. Aku selalu lulus mata kuliah walaupun aku tidak mengerti inti dari mata kuliah itu. Mungkin ada faktor hoki ketika aku mengerjakan UAS. Apakah dewi fortuna akan datang juga padaku kali ini ?

Apa sih yang aku pikirkan, ayo belajar. Aku kembali fokus pada kitab sansekerta yang berserakan dimejaku. Kalau ujian ini lulus, berarti aku akan segera keluar dari neraka ini. Tidak akan ada lagi sengatan api yang akan membuatku pusing dan mual. Aku harus bisa bertahan selama 6 jam terakhir ini dengan semua bahasa alien yang harus aku jejal ke otakku.

Sudah jam 5 pagi. Suara ayam berkokok mulai terdengar di kupingku. Tidaaak, kumohon jangan bernyanyi dulu ayam-ayam. Matahari kumohon tertidurlah lebih lama agar aku punya waktu lebih untuk mengerti semua ini dalam waktu kurang lebih dari dua jam. Jam kumohon berputarlah terbalik agar waktuku untuk menggila bertambah alih-alih berkurang.

“AAARGh,” aku setengah berteriak karena stress. Aku sama sekali tidak yakin jika harus menghadapi ujian pelepas status mahasiswa ini sekarang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana suasana pengumuman ujian nanti, dijejer di sebuah ruangan kemudian semua mahasiswa akan dibacakan nama lalu satu kata penentu “LULUS” atau “TIDAK LULUS.” Sepertinya aku akan tidak lulus kecuali ada tangan dewi fortuna yang ikut campur.

“Oh Tuhan kumohon beri aku waktu lebih lama untuk bisa mempelajari semua ini. Aku mohon pada-MU kali ini, izinkan waktu berputar kebelakang atau setidaknya izinkan waktu berhenti berdentang agar aku punya waktu lebih lama. Aku menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang kau berikan. Ayolah Tuhan, kabulkan permintaanku. Oh atau aku minta dimasukkan ke dunia yang tidak memerlukan ujian komprehensif untuk bisa lulus. Atau aku minta dunia yang seperti surga, tinggal malas-malasan maka aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. TUHAAAN, BUAT DUNIA INI SEPERTI SURGA…. TAK ADA UJIAN, TAK ADA KEMISKINAN, TAK ADA KELAPARAN, TAK ADA TANTANGAN,” kataku.

Aku merasakan ada angin dingin yang berhembus dibelakangku. Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Aku melihat ke belakang, tidak ada apa-apa. Selama 4 tahun aku ngekos disini tak pernah ada makhluk halus atau kejadian mistis yang terjadi. Aku berdiri dari kursiku karena angin dingin ini terus berhembus. Aku melangkah menuju sumber angin dingin ini.

Aku berdiri di depan kasurku. Kuraba udara yang berada di depanku. Aneh…, seperti ada angin dingin yang keluar dari titik ini. Angin berhembus makin kencang. Aku menyipitkan mataku, mencari semua kemungkinan yang bisa menjelaskan ini. Tak ada satupun penjelasan logis atas fenomena ini. Apa ini ulah hantu ?

Tiba-tiba cahaya biru keluar dari titik yang menyemburkan udara dingin itu. Aku melangkah mundur sembari memegang dadaku karena kaget. Cahaya biru itu langsung membesar membentuk sebuah pintu berukuran 2 kali 1 meter. Angin berhembus makin kencang dari pintu itu, menghamburkan seluruh kertas yang berada di kamarku. Pintu itu seperti cermin air yang bergeming, namun tak bisa memantulkan rupaku.

Apa sih ini ? Apa yang berada di balik pintu ini ? Apakah ini hanya halusinasiku karena belum tidur cukup selama 3 hari belakangan ? Ini terlalu jelas untuk menjadi halusinasi. Penasaran…, apakah permintaanku mengenai waktu yang berputar menjadi kenyataan ? Apakah jika aku melewati pintu ini maka aku akan kembali ke masa satu bulan yang lalu ? Ah mana mungkin Tuhan mengabulkan permintaan mustahil seperti itu.

Angin tetap berhembus dari lubang itu. Masuk tidak ya ke pintu ini ? Siapa tahu keluar-keluar aku bisa sampai ke saat wisudaanku ? Aku memasukan tanganku ke dalam pintu itu. Sudah menjadi sifatku yang selalu kepo terhadap benda asing. Sial, aku tak bisa menarik kembali tanganku. Aku tak tahu apa dan bagaimana yang pasti aku terhisap masuk ke dalam pintu air itu. Apakah doaku yang barusan menjadi kenyataan ?

Aku tak bisa menjelaskan sensasi yang kurasakan, seperti menaiki roller coaster dengan kecepatan super cepat. Pandanganku berputar, tak bisa melihat sekeliling karena saking cepatnya tubuhku melayang. Aku berteriak namun aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Bahkan aku tak bisa mendengar apa-apa selain suara ‘wushes’ yang menderu kencang ditelingaku.

*

Negara nan Jauh, Tahun 2500 Masehi

Aku seperti terjatuh dari ketinggian 1000 kaki, namun tak merasakan benturan yang kencang. Semua sensasi aneh yang baru aku rasakan sudah menghilang. Aku mendarat di sebuah lantai berwarna keperakan dengan posisi tertidur. Ini udara dingin yang sama dengan yang keluar tadi. Aku menatap langit-langit tempat aku tertidur. Tak ada lampu, yang ada hanya langit-langitnya mengeluarkan cahaya putih.

Aku bangun dan aku yakin sekali ini bukan dikamarku. Ruangan serba putih yang sangat terang. Sebuah gerbang berwarna perak super besar berada di hadapanku. Seperti ada cermin air yang bergeming di gerbang ini, sama seperti yang ada di kamarku barusan. Aku mundur, tak mau lagi main-main dengan cermin air itu. Sebuah kristal yang berada di atas gerbang itu berubah warna, dari hijau menjadi merah. Seketika cermin air itu lenyap dari gerbang. Apa sih ini ? Aku dimana sih ?

Aku menghadap ke belakang. Ada dua orang pria yang menatapku. Siapa mereka ? Kalau dilihat dari wajahnya mereka bukanlah orang Indonesia, yang satu bule Inggris dan yang satu berwajah Jepang. Siapa mereka ? Pakaian mereka terlihat seperti…, pakaian superhero dalam film fantastic four. Ah siapapun mereka, sepertinya mereka yang bertanggung jawab atas semua ini.

UJIAN KOMPREEEE. Intuisi itu kembali masuk ke otakku. Oh my god aku harus belajar. 2 jam lagi ujian kompre dimulai dan aku tak tahu berada dimana. Kepanikanku kembali melanda. PANIIIK, nampaknya aku sudah mulai gila, Aku kembali berjalan menuju gerbang itu dan memasukkan tanganku ke gerbang itu, namun tak ada yang terjadi. Aku masih tetap berada disini. Aku berbalik badan dan menatap kedua pria itu.

“Siapa kalian, dimana aku, kembalikan aku ke kosku.”

Mereka tetap berdiri sambil bergumam sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Aku berjalan menuju mereka. DUK…, hah ada kaca toh rupanya. Nih kaca dibersihin pakai apa, kok mengkilap sekali sampai tidak terlihat. Aku mengepalkan tanganku di balik kaca itu, meninjunya lemah sembari meronta minta dikembalikan ke tempat asalku.

Aku tak tahu bagaimana namun dalam waktu kurang dari 1 detik aku sudah berpindah tempat ke sebelah pria-pria itu. Aku masih berpose meninju kaca saat aku menyadari aku sudah di dalam. Hah, aku kaget setengah mati. Wow pemandangan di dalam sangat menakjubkan…, ini benar-benar teknologi mutakhir. Ada panel-panel yang menampilkan monitor dengan menggunakan udara sebagai medium perambatan layar. Jadi terlihat seperti proyektor 10 inci yang mengapung di udara. Ada robot metal yang lalu lalang dan ada manusia juga yang berdiri dibelakan panel. Semua melihatku bingung.

Bersambung

Advertisements

4 comments on “Akibat Sembarangan Berdoa Sebelum Ujian Kelulusan (Aargh Kompre) (PART I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s