Kupu-kupu Malam (PART I)

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Kini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

*Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Oh apa yang terjadi.. terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Oh apa yang terjadi.. terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

(kupu-kupu malam – titiek puspa)

Wednesday –> bernafas sejenak setelah aktivitas. Pasang tweet tentang titanic 3D dan mendapat sebuah inspirasi untuk sebuah cerpen.  i’m already 21, bolehlah membuat cerpen yang ada hubungannya sama …, u know lah. Semoga aku bisa mengemas sisi kevulgaran dengan lebih lembut.  Maaf kalau bahasa atau diksinya aneh dan memaksa. Krisan ya.

Aku berada di dalam taksi yang membelah gemerlap kota Hongkong. Malam terasa semakin gelap, menelan segala gemerlap bintang dengan cahaya hitamnya. Pemandangan silih berganti dari jendela mobil, membuat kota Hongkong seakan berjalan dan aku yang diam di dalam mobil. Kota ini adalah kota tempat tujuan perantauanku. Disini aku hanyalah seorang warga Indonesia yang ingin mengadu nasib, mencoba mencari kehidupan yang lebih baik. Sepertinya tanah air tak bisa menjamin kecukupan uang untuk kebutuhan aku dan keluargaku untuk bisa hidup.

Kedua pasang mata itu sedang melihat kerahku. Aku membalas tatapan pengemudi taksi yang memandangku dari kaca depan. Seketika ia memalingkan matanya dari tubuhku. Aku tahu ia sedang menikmati lekuk tubuhku dengan matanya. Kenapa ? Apa dia tak pernah melihat wanita secantikku melakukan ini ?

Aku memang bercahaya, namun cahayaku hanyalah seperti berlian yang telah dicat hitam, memancarkan gemerlap yang membutakan mata.

Aku memang indah, namun keindahanku hanyalah seperti lukisan tak berpigura, akan segera meluntur saat embun menerpa.

Aku memang cantik, namun kecantikanku hanyalah seperti bunga sedap malam, akan lebur dan layu saat fajar menunjukan rupanya.

Aku memang harum, namun keharumanku hanyalah seperti lidah api yang menjilat, dan memakan apapun sampai tak bersisa.

 

Aku adalah kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayap disebuah taman bunga

Aku sedang menghisap setiap nektar yang begitu manis dari setiap putik yang kujejak

Aku mengubah manis itu menjadi telur-telur yang akan kutebar di taman ini

Aku membiarkan anak-anakku memakan semua hijau yang ada di ranting-rantingmu

 

Dan ketika sang surya mulai terbangun dari tidurnya, tak akan ada lagi taman bunga

Dan ketika itu aku akan kehilangan kuasa untuk terbang untuk menebar telurku

Dan ketika dewi malam bersenandung, aku akan terbangun dan berpindah ke taman lainnya

Dan ketika itu semua akan bunga akan kembali aku hitamkan dengan racunku

Demi dewi malam yang menjadi ibu pertiwi untukku, inilah aku penunggu setiamu,

Dewi gulita yang selalu menjadi cahaya hidupku, inilah aku sang kupu-kupu malam.

 

Aku turun dari taksi disertai bantingan pintuku ke mobil. Mungkin kata bantingan terlalu keras, namun inilah hidup, begitu keras. Angin dingin berhembus menerpa kulitku. Aku merapatkan jaketku, mencegah angin untuk meniupkan hawa dingin kearahku. Uap tipis keluar dari nafas yang kuhembuskan.

 Gedung yang tinggi. Ini hotel yang cukup terkenal dan berbintang. Sepertinya siapapun yang menginap disini bukanlah sembarang orang. Dia bilang ada seorang turis yang ingin “mencicipi” sedikit rasa negara Asia Tenggara. Turis itu bilang kepada dia, kalau malam ini sang turis ingin meraskan rasa yang agak berbeda. Turis tak ingin wanita Hongkong yang menjadi mangsanya. Jadi dia memerintahkanku untuk pergi kesini malam ini.

Siapakah Dia ? Seorang wanita induk yang tak menyadari usia

Dialah yang memberikan cat hitam pada mahkotaku.

Dialah yang menebarku di taman-taman bunga pilihannya.

Dialah tempatku bertengger saat surya membungkam sayapku.

Dialah orang yang menngambil nektar dari dalam kulitku.

Aku bertanya dalam hati, Siapakah benang sari yang akan aku hisap madunya malam ini ? Apakah ia sedang bosan dengan perjalanannya ? Apakah benang sari itu hanya ingin merasakan hitamnya mahkotaku kemudian menelan tubanya ?  Apakah segala harta yang ia punya tak bisa medatangkan kupu-kupu putih yang tulus mencintainya ?

 Aku menarik nafas, menikmati simfoni alam yang menyertai langkahku. Pepohonan yang menari menjadi pelengkap personil tarian hitam ini. Suara desus angin menjadi alunan bioa tak berdawai yang begitu kelam. Kemilau lampu teras menjadi cahaya yang menyorotku, menciptakan bayangan yang menyembunyikan segala tabirku. Tangga yang kunaiku menjadi gerbang menuju panggung utama yang begitu gelap.

Aku melangkah dengan pasti menuju lambung gedung itu. Berbekal tiga angka yang diberikan oleh sang wanita induk aku sampai di depan sebuah kamar. Seribu pengharapan sudah melayang di otakku. Sepertinya ini akan menjadi malam yang berbeda dari malam biasanya. Sang induk bilang ini adalah turis istimewa. Aku beruntung dikirim kesini untuk menikmati benang sari yang berbeda.

Biasanya semua benang sari sama, tak rupawan, tak berjiwa, tak bermata. Mereka semua menjebakku dengan lengketnya nektar yang mereka keluarkan. Serbuk sari akan terhempas dari kepala sari dan akan menempel di sayapku, memberikan perih yang tak bisa hilang. Setelah itu aku akan dipaksa untuk menghisap nektar itu agar aku bisa melanjutkan malamku. Aku harap kali ini sang benang sari memiliki fisik yang sempurna. Aku harap malam ini serbuk sari tak bisa menimbulkan rasa perih.

301. Nomor yang sama dengan nomor yang aku tuju dairtadi. Aku mengetuk pintu, tak ada jawaban. Pintu sudah sedikit terbuka. Apakah aku masuk saja ? Aku ketuk pintu itu kembali. Kali ini ada suara yang menggema dari dalam kamar.

“Masuk.” (anggap saja bahasa hongkong)

Aku membuka pintu dan memasuki kamar mewah itu. Seorang pria berdiri membelakangiku. Ia sedang menikmati pemandangan malam kota Hongkong dari jendela kamarnya. Beribu bintang bersinar dipermukaan, mengalahkan bintang di angkasa, membuat sang dewi malam sendiri dalam gulita.  Dari ketinggian seperti ini pastilah pemandangan kota Hongkong begitu indah,

Aku berjalan pelan mendekati pria itu. Samar-samar aku melihat bayangan wajahnya di kaca jendela yang tertutup. Siluet yang sudah tak asing bagiku. Aku sudah berdiri di belakang pria itu. Bayangan wajahku yang cantik terpantul di kaca jendela. Pria itu menatapku melalui pantulan bayanganku di kaca. Pandangan mata itu, wajah itu, siluet itu, tak salah lagi.

Bagaimana mungkin ia bisa berada di hadapanku ? Menemukanku di penjuru kota besar ini bagaikan mencari jarum dalam jerami ? Bagaimana mungkin ia bisa mempunyai uang untuk bisa ke negara ini, menginap di hotel mewah ini, mengenakan jas dan kemeja bermerek seperti itu ?

Seribu tanya terbesit di wajahku. Pria itu menatapku tajam tanpa sebuah kedipan. Aku mengerti arti sorot mata yang ia berikan padaku itu. Apalagi bahasa Indonesianya yang sangat fasih ketika ia mengucapkan sebuah kalimat pembuka membuatku yakin kalau ia adalah pria yang sama dengan pria yang kukenal dulu.

“Kenapa ?” kata itu yang pertama keluar dari mulutnya. Aku tetap terdiam, lalu dia melanjutkan kata-katanya.

“Aku menjelajah ke seluruh penjuru Hongkong bukan untuk mencari seorang pelac*r.”

“Bagaimana bisa kamu menemukanku disini ?”

“Sudah aku bilang aku telah menjelajah ke seluruh penjuru Hongkong. Walaupun kamu bersembunyi di gang tersempit, aku akan menemukanmu. Itu hanya masalah waktu. Kenapa ?” Pria itu menggunakan nada itu lagi untuk menanyaiku.

“Kurasa kamu lebih tahu apa jawabannya.”

“Jadi dengan ini kamu membiayai sekolah adik-adikmu, biaya hidup keluargamu dan biaya pengobatan ayahmu ?”

Aku mengiyakan pertanyaannya dari sorot mataku. Air mata mengalir dari matanya. Sebuah benang saripun dapat mengeluarkan serbuk emas dari kepalanya ? Apakah serbuk emas itu adalah emas ataukah hanya debu pasir yang akan membuyarkan pandanganku ?

 

“Jika kamu berada diposisiku maka kamu akan mengerti,” kataku.

“Akulah pria yang paling mengertimu. Kita sudah lama saling mengenal. Sudah banyak waktu yang kita lalui bersama. Aku mengenalmu lebih dari pria lain. Kita pernah berjanji untuk selalu bersama. Apa kamu lupa dengan janji itu ? Apakah gemerlap kota Hongkong telah membuatmu lupa siapa dirimu ?”

“Kau pria yang paling mengerti aku ? Kalau begitu mungkin kamu bisa menjelaskan suatu hal kepadaku. Kita memang banyak menghabiskan waktu di kampung bersama. Kita memang sepasang kekasih ketika di kampung dulu. Aku perjelas kembali padamu kalau itu DULU,” aku meninggikan kalimat berbicaraku lalu menlajutkan perkataanku.

“Sampai suatu hati kamu pergi meninggalkanku. Aku benar-benar membutuhkanmu saat itu. Sawah sedang terkena hama, membuat keluargaku gagal panen. Ketiga adik-adikku butuh makan dan uang untuk sekolah mereka. Penyakit TBC bapak semakin parah, alhasil ibu yang menggantikan bapak ke sawah. Aku butuh uang untuk pengobatan bapak. Kau tak ada saat itu, aku tak punya tempat untuk berbagi beban hidup. Diusiaku yang baru 17 tahun, akupun pergi dari desa untuk mencari peruntungan di negara ini. Banyak teman-temanku yang memberiku cerita tentang kesuksesan mereka di sini. Aku tak menyangka aku dibohongi. Aku tak dijadikan pembantu disini, melainkan aku dijadikan wanita pemuas birahi semalam saja. Namun aku lakukan ini untuk keluargaku. Aku lakukan ini untuk ibu, bapak dan adik-adikku. Pekerjaan ini memang haram, namun aku tak punya pilihan lain.”

“Aku pergi untuk menjadi pria yang lebih baik. Aku mengerti akan kesulitan hidupmu. Dengan kondisiku yang seperti dulu itu, aku tak akan bisa membahagiakanmu. Aku pergi dari desa untuk mencari nasib yang lebih baik. Dan sekarang aku telah hadir kembali ke hidupmu untuk membawamu keluar dari sini. Katakan padaku, sudah berapa lama kamu menekuni profesi hina ini ?”

“Sudah 8 tahun. Malam pertamaku disini adalah malam dimana aku berprofesi seperti ini.”

“Sudah berapa banyak pria yang kau tiduri ?”

Aku tak bisa menjawab. Sudah terlalu banyak pria yang aku tiduri. Aku sendiri tak tahu jumlahnya. Aku hanya membalas dengan tatapan mata kepadanya melalui pantulan diriku jendela hotel. Bulan sabit memandang kebisuan kami berdua.

“Kemasi barang-barangmu. Besok kita akan kembali ke kampung setelah itu kamu akan tinggal denganku.”

“Kamu pikir kamu siapa seenaknya saja membawaku pergi dari sini.”

“Aku bukanlah pria yang kamukenal seperti dulu. 8 tahun aku merantau di ibukota. Aku bekerja sana-sisi sampai akhirnya Tuhan mengangkat derajatku 3 tahun lalu. Aku sudah sukses sekarang. Kamu tak perlu mengkhawatirkan segala biaya untuk adikmu dan biaya pengobatan ayahmu. Aku akan penuhi segalanya. Kamu harus ikut bersamaku.”

“Tidak bisa,” kataku pelan, tenggelam dalam keputus asaan.

Pria itu berbalik menghadapku. Akhirnya aku dengannya berbalas pandang secara langsung. Sorot mata itu…, sama seperti dulu. Ia masih sama dengan yang aku kenal seperti dulu, hanya saja ia sudah lebih mapan dari sebelumnya.

“Kenapa ?” tanyanya

“Ini bukan tentang uang. Hanya saja aku tak bisa,” kataku.

“Aku sudah 6 bulan menetap di Hongkong untuk mencarimu. Aku telah menelusuri setiap jalanan di kota Hongkong untuk mencari namanu. Tatapanmu…, masih sama seperti dulu. Kamu pasti mengerti maksudku. Apa alasan kamu tak mau kembali padaku ? Kita akan menjalani hidup bersama setelah ini, seperti yang dulu kita cita-citakan. Aku dan kamu melawan dunia.”

Aku hanya terdiam, tak bisa membalas perkataannya. Air di matanya bergeming, namun tertahan untuk jatuh. Ia begitu kuat, berbeda denganku yang sangat rapuh. Mulutku terkunci untuk alasan ini.  Pergi darinya adalah langkah terbaik karena aku masih mencintainya. Aku berbalik badan dan melangkah menjauhinya. Baru tiga langkah aku meninggalkannya saat kakiku terhenti. Aku memejamkan mata.

Inilah saatnya, saat ketika pangeran berkuda datang kepadaku untuk menjemputku

Inilah saatnya, saat ketika aku aku sampai ke air terjun yang akan menghapus hitam di mahkotaku

Inilah saatnya, saat sanga surya kembali terbit di pagi hari dan mengusir demi malam di siang hari

Inilah saatnya, namun sebuah batu menjadi alasan untuk mengatakan kalau ini saatnya

 

Aku berbalik dan berjalan menuju arahnya. Postur tubuhnya cukup tinggi, namun tidak terlalu jangkung, membuat tanganku dapat meraih wajahnya. Aku dekatkan wajahku ke wajahnya. Kekecup bibirnya. Hanya 3 detik aku merasakan kembali cinta yang sudah lama aku rindukan. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat membasuh pipiku.

“Pergilah, ini demi kebaikanmu. Aku tak bisa menjelaskan alasan yang kau tunggu,” kataku pelan didepan wajahnya.

“Kau memang akan bisa berlari, namun aku akan selalu ada di garis finishmu.”

Aku berjalan membelakanginya, meninggalkan hotel itu. Sungguh malam yang benar-benar tidak terduga. Bertemu kembali dengan kekasihku ketika dulu aku masih hidup di sebuah kampung kecil di ibu pertiwi. Ia telah sukses dengan cara yang halal. Ia telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu putih yang begitu indah, sedangkan aku hanya seekor kupu-kupu malam yang hina. Andai aku bisa terbang bersamanya.

bersambung

Advertisements

2 comments on “Kupu-kupu Malam (PART I)

  1. My, my… komentar singkat, padat, dan jelas aja wid… Pilihan kata-kata yang bagus! Ga nyangka dari seorang Widi bisa keluar kata-kata seperti itu, hehe. Keep it up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s