Kupu-kupu Malam (PART III)

by widikrisna

hope you like the ending

Rumah ini lagi…, rumah terkutuk dengan naga rakus sebagai raja penghuni singgasana ini. Aku tak bisa menolak untuk pergi kesini, walaupun sebenarnya muak untuk masuk ke tempat ini. Namun aku masih mau hidup. Aku masih menjadi tulang punggung untuk keluargaku di desa. Entah akan diperlakukan seperti apa diriku oleh bos mafia itu.

Bulan sabit yang terbalik seakan seperti bentuk mulut yang mencibirku. Arah angin yang berhembus seakan menghalauku untuk menaiki tangga menuju pintu istana ini. Walaupun simfoni malam seperti menyuruhku pergi, aku tetap menuju ke rumah ini. Simfoni yang sungguh berbeda dari malam kemarin. Aku memasuki pintu rumah dan merasakan atmosfir suram ini lagi.

 Seperti apa rasanya menjadi nyonya disini ? Apakah aku akan menjadi ratu yang berkuasa ataukan hanya menjadi budak yang disuruh-suruh ? Aku berharap bisa keluar dari rumah ini. Aku diantar menuju kesebuah ruangan yang biasa menjadi ruang peraduanku dengan bos mafia itu. Ia sudah menunggu di dalam, penuh dengan hasrat di dalam dadanya dan malam pun dimulai.

Simfoni bernyanyi seperti biasa, memainkan melodi penuh dosa dan nafsu.

Aku tenggelam dalam denting harpa yang mengalun penuh getaran dusta

Air mata mengalir dihati, ingin keluar dari neraka yang memperlakukankn semena-mena

Seketika terdengar suara yang memecah simfoni penuh dosa ini

Suara alunan biola nan merdu yang terdengar di kejauhan…

Siapakah maestro yang memainkan biola itu ?

 

Suara nyaring terdengar di kamar peraduan ini. Suara apakah itu ? Seperti suara sirine yang berdengung. Bos mafia itu langsung mendorong tubuhku, membuatku terhempas ke sisi kiri kasur. Permainan terhenti, namun bukan karena birahi yang telah terpuaskan. Ia langsung berdiri dan mengenakan pakaiannya. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Ada apa ?”

Ia tak menjawab. Apakah tempat ini sedang digerebek polisi ? Pertanyaannya, apakah poilisi berani masuk ke rumah ini ? Kelompok mafia ini adalah kelompok legendaris yang sudah cukup tenar akan kemampuannya. Walaupun polisi tahu dimana markasnya, ada seribu rencana dan pertimbangan yang harus dibuat jika ingin menangkap. Tak mungkin ucuk-ucuk datang dan langsung menggerebek.

Bos mafia itu mengeluarkan pistol dari laci mejanya. Ini bukan sesuatu yang baik. Aku langsung keluar dari dalam selimut dan mengenakan pakaianku. Jantungku berdebar…. Aku belum pernah berada diposisi seperti ini, posisi dimana jiwaku terancam. Keringat mengalir di balik pelipisku.

“Ada apa ?” tanyaku pada bos mafia itu.

Ia tak menjawab, hanya suara gerakan mempersiapkan pistol yang terdengar. Apa yang harus aku lakukan dalam posisi seperti ini ? Apakah aku harus sembunyi, keluar kamar atau bagaimana ? Bos mafia itu sekaan tidak mempedulikanku.

“Sebenarnya ada apa ? Tolong jawab aku.”

DUAR. Bos mafia itu mengarahkan pistolnya kepadaku dan menggunakan salah satu pelornya. Peluru itu nyaris mengenaiku, hanya berjarak 5 centi dari pipiku. Peluru itu menembus jam dinding di sebelahku. Aku rasa hal itu sengaja ia lakukan untuk membungkam mulutku. Ia menatapku dengan penuh tatapan hina, seakan aku hanya kecoa pengganggu saja.

“Kau diam saja wanita,” katanya tetap sambil mengacungkan pistol ke mukaku.

Aku makin takut. Air mata keluar dari wajahku,  bagai sebuah jelmaan akan rindingan pada kulitku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Aku hanya bisa diam terpaku di tempatku berdiri. Bos mafia itu melihat ke arah layar komputer yang berada di mejanya. Pasti ia memonitor CCTV yang dipasang di setiap sudut rumahnya. Jantungku makin berdebar, membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi padaku.

Detik demi detik berlalu dalam sebuah ketidakpastian. Bos itu hanya memandang layar komputernya seakan menjadi sutradara atas kejadian di rumahnya. Terdengar suara gemuruh di luar, seperti suara peluru yang menggesek selongsong pistol. Sepertinya sedang terjadi pertempuran darah diluar. Aku tahu ruangan ini adalah ruangan teraman di rumah ini karena sang bos berada disini.

Setengah jam berlalu. Aku bagaikan patung batu yang menempel di kakiku. Aku melihat raut wajah bos itu, menunjukkan raut yang masam. Hanya menebak, itu yang bisa aku lakukan ketika membaca raut wajahnya. Entah aku harus senang entah harus bahagia. Bos itu berjalan kearahku, menggenggam pergelangan tanganku, memelukku dari belakang, mengalungkan tangan kirinya di leherku dan menyodorkan pistol ke wajahku. Apa ini ? Aku dijadikan sandera ?

“Kamu diam atau mati,” bisiknya di telingaku.

“Kenapa kamu tega melakukan ini ? Menjadikanku sebagai sandera. Aku ini calon isteriku.”

“Hahaha. Bagiku kamu hanyalah budak nafsuku saja. Aku tak pernah punya isteri. Isteriku adalah semua istana, harta dan kekuasaanku. Aku hanya menggunakan nyawamu yang tidak berguna sebagai tameng situasi ini. Kamu harus bersiap untuk mati hari ini.”

Aku makin gugup. Aku menangis, namun tak mengeluarkan kata-kata. Ya Tuhan…, jika nyawaku harus berakhir hari ini. Izinkan aku bertemu dengannya sekali lagi. Hanya untuk mengatakan betapa cintanya aku dengannya.´Aku berdoa dalam hati. Entah apakah Tuhan akan mengabulkan doa seekor kupu-kupu malam penuh dosa sepertiku. Apakah Tuhan akan mengabulkan wanita yang sedang dalam keadaan kotor sepertiku ? 1 jam lalu aku sedang menyerahkan ragaku pada pria yang tak ada hubungannya denganku dan sekarang aku berdoa memohon pada-Nya ?

Pintu kamar terbuka. Dua orang masuk ke dalam kamar. Dari seragamnya, mereka adalah polisi. Semudah itukah pertahanan bos mafia legendari ini ditembus ? Kalau begitu kenapa tidak dari dulu saja. Polisi itu mengacungkan pistol kearahku dan bos mafia itu.

“Silakan tembak saya,” kata Bos mafia itu dengan licik. Jika polisi menembak pasti aku yang kena dahulu.

Tampak polisi itu hanya bisa terdiam sambil tetap mengacungkan pistol. Mereka tak berani menembak. Bos mafia itu memberikan kode untuk menurunkan pistol yang mereka pegang. Polisi itu menurut karena tak mau mengambil risiko jikalau aku terluka. Polisi itu menendang pistol yang telah diturunkan ke arah bos mafia. Pistol itu meluncur pelan dilantai, menjauhi mereka berdua,  DUAR-DUAR. Dua polisi itu langsung terbujur kaku tanpa nafas di tempatnya berdiri.

Aku berteriak namun tanpa suara. Baru kali ini aku melihat peristiwa berdarah langsung di depan kepalaku. Nyawa menghilang seketika…, Darah mengucur dari lubang di kepala dua polisi itu. Mata mereka terbuka namun tak bisa melihat lagi. Aku menangis namun tak berani berdoa. Kau adalah kupu-kupu malam yang hina, untuk apa kamu mengharapkan matahari akan menyelamatkanmu ?

Tak sampai satu menit. Seseorang muncul di depan pintu. Seorang pria…, pria yang sudah tidak asing diwajahku. Untuk apa dia datang kemari ? Apakah ia dibalik semua ini ? Apa semua ia lakukan hanya untuk menyelamatkanku selamanya ? Bodoh…, tindakan bodoh.  Ia bisa mati terkena tembakan.

Pria itu berhenti dan menatap pemandangan aku yang sedang disandera. Ia membawa pistol di tangan kanannya. Sejak kapan ? Sejak kapan ia bisa memainkan pistol ? Ia yang kukenal bukanlah tipe pria yang senang kekerasan ? Apakah semua ini adalah rencananya untuk menyelamatkanku selamanya.

“Berhenti anak muda. Sepertinya kamu yang berada dibalik semua ini.”

“Lepaskan dia,” kata Pria itu.

“Turunkan dulu senjatamu.”

“Jangan…, dia akan segera menembakmu.” kataku saat ia mau menurunkan senjatanya.

“Diam kau wanita,” bos itu makin erat mencengkram leherku, membuatku sulit bernafas.

“Jangan sakiti dia.”

“Kenapa ? Apakah wanita murahan ini berarti sesuatu untukmu ?”

Ia tak menjawab. Aku makin sulit bernafas karena tangannya makin erat mencengkram leherku, membuatku sedikit terbatuk kecil. Aku melihat ia meletakkan senjatanya ke lantai. Ia kemudian menendang pistolnya kearahku dan bos itu. Tidak…, pasti setelah ini. DUAR. Peluru itu menembus tepat ke jantungnya. Tidak-tidak-tidak…. Aku pasti bermimpi, pasti ini hanyalah halusinasi. Ia terjatuh berlutut di tempatnya berdiri kemudian terlentang di lantai. Ia telah mati, sama seperti dua polisi tadi.

 Aku menangis, bukan karena takut akan situasi, namun karena kehilangan. Ini adalah sakit yang paling sakit, saat melihat orang yang kucintai meninggal di depan mataku sendiri dan terlebih ia meninggal karena diriku. Aku bahkan belum mengatakan padanya kalau aku sangatlah mencintainya. Tuhan izinkan aku menukar nyawaku dengannya. Izinkan aku yang berbaring distu menggantikan dirinya.

“Kau ada hubungan apa dengan pria itu ? Sampai-sampai dia nekat menyerbu istanaku ?” Bos mafia itu makin menekan ujung pistol ke keningku, memberikan ancaman yang makin menjadi.

“Dia adalah orang yang aku cintai.”

“Apakah kamu ingin mati juga seperti dia ?”

Aku kembali melihat pria itu yang sudah terbujur di lantai. Ia tertidur terlentang dengan wajah menghadap ke lantai. Air mata mengalir saat melihat pemandangan menyesakkan dada ini.

Apakah aku lebih baik mati bersamanya ? Aku tak mau menanggung beban mental karena telah membuatnya terbunuh. Apakah lebih baik aku segera menyusulnya. Ya menyusulnya. Aku akan mengatakan padanya kalau aku sangatlah mencintainya. Semua bisa aku lakukan jika aku sudah menyusulnya.

 Apakah…, apakah ia mau aku menyusulnya ataukah ia ingin aku tetap disini ? Tadi aku sendiri yang meminta untuk berpisah dengannya ? Sekarang keinginanku sudah terkabul. Jadi Tuhan masih mendengar doaku dan mau mengabulkannya walaupun aku hanya seekor kupu-kupu yang hina ? Tuhan kenapa engkau mengabulkan permintaanku ? Apakah aku masih diberi permintaan lagi ? Jika iya aku ingin meminta bisa bersamanya. Jauh di dalam hatiku aku mencintainya.

 

“Kau boleh bunuh aku, namun izinkan aku untuk memeluknya untuk terakhir kali, kumohon”

Bos itu melepasku dari dekapannya. Aku langsung berlari kearah pria itu.  Jantungku berdebar kencang. Sebentar lagi aku akan menyusulnya…. Masa bodoh dengan nyawaku, yang aku inginkan hanyalah mengucapkan cintaku padanya. Aku akan lakukan itu walau bukan di dunia nyata. Aku menangis saat berlutut di tubuhnya yang sudah tidak bernyawa.

Aku memegang punggungnya, seraya ingin membalikkan badannya. Tak kusangka sesuatu yang ajaib terjadi. Pria itu bergerak.  Ia tidak bergerak dengan lemah, namun luews dan kuat. Seperti tidak ada peluru yang bersarang di jantungnya. Pria itu setengah bangung dari tidur telungkupnya. Secepat kilat ia  mengeluarkan pistol kecil yang ia sembunyikan. DUAR.

Peluru itu tepat menembus jantung bos mafia itu. Bos mafia itu terjatuh seakan terkena dahsyatnya momentum dari peluru itu. Pistol yang ia genggam terjatuh dari tangannya. Ia tertidur menghadap langit-langit. Oh jadi itu yang ia tunggu-tunggu ? Ia ingin aku terlepas dari sander sang bos dan menembaknya ketika aku sudah tidak berisiko terkena tembakan.

Namun bagaimana ia masih bisa hidup ? Apa dia belajar ilmu kebal yang membuatnya tak tembus peluru ? Ia langsung memegang bahuku, membelakangi sang bos mafia yang sudah tergolek di belakang jendela.

“Kamu tidak apa-apakan ?” dia bertanya padaku.

“Aku baik-baik saja. Kamu masih hidup ?”

“Aku mengenakan jaket anti peluru.”

Jaket anti peluru ? Oh ya tadi bos mafia itu juga mengenakan rompi anti peluru dibalik kemejanya jadi seharusnya ia belum mati. Aku melihat ke arah bos mafia itu. Ia sudah tidak dalam posisi tertidur. Ia sudah memegang pistol, mengarahkannya kearah kami. Ia bersiap untuk mengeluarkan peluru-peluru penghabis nyawa. Sebuah senyum licik menghiasi wajahnya.

“Awas.”

Aku mendorong tubuh pria pujaanku ke samping kiri. Ia sama sekali tidak melihat sang bos sudah bersiap untuk membunuhnya karena posisinya membelakangi sang bos. Ia terhuyung ke samping kiri karena doronganku. Bunyi ledakan kecil terdengar, sedetik kemudian aku merasakan sesuatu menyusup ke jantungku.

 Aku tak bisa merasakan udara masuk ke paru-paruku. Yang kurasakan hanya sesak oleh sebuah dorongan yang menyakitkan. Perih yang amat sangat terasa di dadaku. Seperti ada air yang merembes masuk ke paru-paruku. Inikah kematian ? Dimanakan malaikat yang akan menjemputku ? Apakah malaikat…, ataukah iblis yang akan membawaku ?

 Aku merasakan air berasa asin di mulutku. Air itu berwarna merah. Apakah ini penyiksaan yang Tuhan berikan padaku ? Sakit sekali…, namun aku belum melihat malaikat atau iblis yang akan menjemputku. Sampai kapan Tuhan akan membiarkanku sekarat seperti ini. Aku masih bisa melihat dan mendengar dengan panca inderaku.

“DUAR-DUAR.”

Aku mendengar suara ledakan kembali. Siapa yang tertembak ? Siapa yang mati ? Kalau dia sampai mati…, berarti ia akan menyusulku. Namun jika hal itu terjadi berarti pengorbananku sia-sia. Aku mengarahkan kepalaku untuk melihat adegan di depanku, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sendiku. Sang bos mafia melihat kearahku, namun dengan pandangan kosong. Dua lubang menganga di kepalanya. Nampaknya ia yang kalah dalam pertempuran ini.

 Aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Panca indera penglihatanku masih bisa berfungsi. Tetes-tetes air mengalir di wajahnya.  Ia berusaha menucapkan sesuatu kepadaku. Nampaknya indera pendengaranku telah diambil oleh-Nya, membuat dunia seakan membisu. Terima kasih Tuhan, Engkau menukar posisi siapa yang seharusnya meninggal. Nyawaku memang tidak lebih berharga dari nyawanya.

Aku hanyalah seekor kupu-kupu malam yang hina. Sebentar lagi aku akan kehilangan sayapku untuk selamanya. Sebentar lagi aku akan sampai di taman bunga yang terakhir. Taman dimana dewi malam akan selalu ada, namun tak ada nektar untuk kuhisap. Disana aku akan abadi selamanya.

Sepertinya rasa sakit ini mulai menghilang secara perlahan bersamaan dengan kepekaan akan organ tubuhku. Tubuh bagian bawahku sudah mati rasa, aku sudah tidak bisa meraskaan apa-apa. Satu hal yang bisa aku lakukan adalah tersenyum untuknya. Ya sebuah senyum terakhir yang bisa aku berikan untuk melambangkan perasaanku padanya.

Aapa yang dia lakukan ? Di detik terakhirku masih bisa bernafas aku melihatnya kalah dalam pertempuran ini. Ia mengarahkan pistol ke keningnya sendiri seakan menjadikan raga bernyawanya sebagai musuh. Apa yang ia lakukan ? Apakah ia ingin menyusulku ?

Finished

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s