Konspirasi PART II : Kembar dan Larutan X

Serasa ingin menangis, ritual keseharian yang begitu indah selama dua bulan terakhir nampaknya harus berakhir. Saatnya kembali ke realita. Aku akan segera memasuki semester ke 5. Aku sudai di bandung. Dua minggu lagi aku akan masuk ke semester awal perkuliahan dan sekarang aku harus menjadi panitia acara ospek jurusan.

Aku memasuki areal kampus yang cukup sepi, maklum masih masa liburan. Wah teman-teman pasti membuli-buli aku nih karena dietku gagal total. Waktu itu sudah terlalu sesumbar sih dengan program diet yang aku canangkan. Alhasil sekarang aku menekan ludah sendiri. Ah paling si Widi juga akan dibuli-buli karena dietnya gagal.

Aku menuju ke gedung jurusanku. Sudah 10 menut semenjak jam untuk berkumpul. Ah pasti ngaret, itu sudah menjadi kebiasaan teman-teman juga. Aku bergegas menuju ke tempat berkumpul saat seseorang yang aku lihat membuatku sangat sangat sangat tercengang.

“Hah Widi ?” kataku yang takjub dengan tubuh barunya yang…, kurus.

Ia jauh berbeda dengan Widi yang terakhir kali aku lihat. Pipinya yang tembem sudah menirus. Gumpalan lemak diperutnya telah menghilang bagai ditelan bumi. Gelambir lemak dilengah telah lenyap. Ia yang biasanya terlihat seperti angka nol sekarang terlihat seperti angka 1. Tubuhnya sekarang proporsional. Penampilannyapun berbeda, tak ada lagi celana jeans gombrong atau baju ukuran XL. Skinny jeans, tapi tidak terlalu skinny dengan atasan kaus dengan ukuran M.  Aku pangling, seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

“Hei, masih gemuk aja lo,” kata Widi dengan nada mengejek.

“Gimana mungkin lo bisa…,” aku masih tak percaya.

“Ya gw diet lah. Lo kok kayaknya malah makin gemuk ? Pasti diet lo hanya menjadi sebuah wancana ?”

“Tapi gimana bisa ? Lo turun berapa kilo ?”

“20 kilo. Masih mau turun lagi nih. Targetnya 3 bulan bisa turun 25 kilo.”

Aku menelan ludah. Hebat, benar-benar hebat. Aku masih tak percaya orang yang ada didepanku ini adalah Widi. Physicly, dia bukan lagi Widi. Aku harus mengakui kalau aku kalah dalam pertempuran ini. Wah berarti aku harus mentraktir dong. Hiks, 100 ribuku akan hilang deh.

“Cara diet lo gimana ?” tanyaku masih penasaran.

“Olahraga pagi, kurangi gorengan dan makanan berlemak, nggak makan nasi, ngemilnya buah, minum teh hijau.”

“Kalau nggak makan nasi terus makannya apa ?”

“Kalau pagi makan telur rebus sama pisang, kalau siang makan sayur-sayuran sama buah, kalau malam makan pisang aja. Ngemilnya buah-buah aja. Kadang-ladang makan daging juga kok. Yang jelas pagi wajib olahraga. Aku olahraganya lari kurang lebih 6 kilometer. Lo kenapa bisa gagal dietnya ?”

“Au ah,” kataku sedikit BT dan banyak iri pada Widi.

“Kapan nihtraktiran hanamasanya ?”

“Terserah lo deh.”

“Loh kok lo BT gitu. Kan gw jadi nggak enak.  Jadi nggak taruhannya ?”

“Ya jadilah. Secara gw udah janji. Ya tinggal bilang aja ke gw lo maunya kapan.”

Aku masih tak percaya dengan Widi. Apa dia mampu melakukan kebiasaan yang superekstrem seperti itu. Tidak makan nasi ? Orang Indonesia kalau belum makan nasi berarti belum makan. Apa dia kuat ? Olahraga 6 kilo meter yang berarti 15 putaran Saraga. Memangnya dia bisa mampu ? Orang dulu lari satu keliling saja tidak kuat. Mana mungkin ia bisa ? 20 kilo dalam dua bulan yang berarti 10 kilo sebulan yang bearti 2 kilo seminggu. What ???

Teman-temanpun demikian. Semua membicarakan Widi hari ini, seakan tak percaya dengan apa yang telah dicapainya. Ada yang langsung ingin mengikuti langkahnya, muali dari cowok gemuk, wanita kalem sampai wanita pentolan berjilbab. Widi bak selebritis mendadak yang mendapat banyak wawancara tentang metode berdietnya.

Mustahil. Aku pikir sehebat apapun orang berdiet, tak akan bisa sampai seekstrem itu. Kecurigaan mulai menghinggapiku. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku harus temukan apa yang dia sembunyikan itu. Aku akan bongkar kebohongannya.

*

Hari ini hanya dihabiskan dengan rapat koordinasi setelah libur untuk acara ospek jurusan. Aku sama sekali tidak konsentrasi rapat karena memikirkan akal bulus yang widi mainkan untuk memnangkan taruhan ini. Bagaimana caranya ya ? Sedot lemak kah ? Iya, dia pasti sedot lemak. Aku yakin itu, ataukah…, apa ya…, aku jadi bingung sendiri. Pertanyaanya adalah bagaimana aku bisa tahu akal bulusnya ? Aku tak mungkin langsung bertanya kepadanya.

Hari sudah sore. Matahari telah terbenam di ufuk barat, meninggalkan awan jingga yang menguap dilangit yang kelabu. Rapat yang panjang telah usai.  Ah malas pulang ke kos, tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakoni.

“Eh teman-teman makan enak yuk,” kata seseorang teman.

“Mau ikuuut, dimana ? Di Ciwalk, PVJ, IP ?”

Beberapa dari kami memutuskan untuk makan di ciwalk. Haha geng yang tidak ada pekerjaan di kos, ya paling enak kongko bareng. Kami semua berangkat ber tujuh dalam sebuah mobil. Widi duduk di barisan tengah di dalam mobil sedangkan aku duduk di tengah. Melihatnya membuatku sangat iri, ingin aku mentransfer lemakku ke dalam dirinya sehingga aku yang memiliki tubuh kurus itu.

Suara lagu we found love dari Rihanna yang terdengar pelan di sela-sela obrolan kami mengantar kami menembus macetnya kota Bandung. Senja makin mengufuk, menciptakan degradadi warna biru yang begitu indah, bagaikan lukisan di atas kanvas yang selembut sutera.  Perbincangan terjadi diantara kami berdelapan. Aku cenderung menjadi pendengar pasif.

“Jadi wid, lo selama dua bulan ini nggak makan nasi ?”

“Nggak. Karbohidratnya Cuma dari pisang aja.”

“Emang nggak laper ?”

“Nggak kok. Yang penting ada motivasi yang kuat, pasti bisa kok.”

“Terus motivasi lo apa wid ?”

“Ada deh. Sekarang belum satnya gw kasih tahu. Belum pada tahu kan…,”

“Apa sih, buat gw kepo aja deh.”

“Besok lo olahraga berarti ?”

“Iya dong. Kalau di Bandung kan enak. Kos gw deket Saraga. Kalau di Jakarta gw jogging di deket rumah. Ikut yuk besok.”

“OK. Gw ikut,” kataku menyambar.

“Cie peserta yang satu ini nggak mau kalah ni,” kata salah satu temanku mengejek.

“Kalah taruhan nih ye,” ejek temanku yang lain.

Sial. Aku merasa menjadi pecundang. Lihat saja sampai aku bongkar kedokmu Widi. Aku yakin ada sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang telah kamu lakukan pada tubuhmu. Sesuatu yang membuatmu bisa kehilangan 20 kilogram badanmu dalam waktu 2 bulan. Aku akan jadi orang pertama yang membongkar rahasiamu.

Mall sedang tidak ramai, kebanyakan di dominasi oleh remaja yang tidak ada kerjaan. Berhubung perut sudah keroncongan, kami segerombol langsung menuju pizza hut untuk makan disana. Wah enaknya…, niat untuk melanjutkan diet langsung menghilang. Ah masa bodoh deh malam ini aku babat saja. Kami semua memesan makanan yang kami inginkan.

“Lo Cuma makan salad aja wid ?”

“Iya.”

“Emang nggak laper ?”

“Nggak kok. Harusnya kalau malem aku Cuma makan pisang aja. Ini makan malem yang termasuk banyak.”

“Udah deh nggak usah kecentilan. Makan yang banyak aja,” kataku.

“Nggak. Salad udah cukup.”

Ia berbeda dari Widi yang aku kenal. Ia begitu berpendirian teguh dan juga irit makan. Widi yang aku kenal adalah tempat sampah dalam hal makanan. Kecurigaan semakin bertambah. Pasti ada sesuatu yang membuatnya bisa berubah seperti itu. Apakah terapi hipnotis untuk diet, membuatnya tersugesti kalau ia itu pembenci makanan.

Malam ini aku memperhatikan gerak-gerik Widi. Benar-benar berbeda. Porsi salad yang ia ambil juga tidak menggunung dan itupun dimintain oleh teman-teman. Sangat sedikit sekali makanan yang ia makan. Minumpun Cuma air putih, menolak minuman berasa lainnya. Gesture juga agak berbeda. Ini Widi bukan sih ?

*

Alarm mengusik dunia bawah sadarku. Aku membuka mata, antara tidur dan kantuk. Aku melihat ke ponselku. Masih pukul 6 pagi. Aku masih ngantuk nih, namun aku sudah sesumbar untuk ikut lari pagi bersama Widi. Masa sih dia sanggup lari pagi di pagi sengantuk ini. Biasanya ia malas untuk melakukan ini. Apalagi tadi kami baru pulang jam 10 malam. Oke daripada penasaran aku memaksa diriku untuk bangun dan lari pagi ke Saraga. Diawali dengan menguap, aku menuju ke Saraga dengan berjalan kaki.

Matahari masih tertidur dibalik awan yang kelam. Sang purnama masih sayup-sayup terlihat di ujung Barat. Aku bergumam dalam hati. Kalau Widi yang biasanya pasti malas laripagi seperti ini. Apalagi ia bilang bisa lari 15 keliling saraga. Aku akan menangkap basah dirinya berbohong. Seribu pemikiran licik terbenak diotakku. Aku sampai di Saraga dan langsung menerima sebuah sapaan.

“Hei, ayo lari.”

Widi sudah menjadi penguasa track Saraga. Ia berlari dengan penuh semangat menerjang pagi. Sial, ternyata ia memang tidak main-main dengan kata-katanya yang berhubungan dengan lari pagi. Aku mengikuti ritme lari Widi. Benar-benar ritme lari yang berbeda. Ia benar-benar kuat dan tangguh. 17 kali putaran dan paling hanya jalan 2 putaran saja. Aku sama sekali kalah telah dengan staminanya sekarang.

Ini Widi bukan sih ? Widi yang aku kenal itu lemah dan tidak bisa olahraga, apalagi lari. Aku menyudahi lari pagiku. Hanya sanggup 3 putaran dan aku keok. Aku duduk dipinggir, kemudian Widi menghampiriku. Nafasnya stabil dan tidak terengah-engah, padahal ia sudah belasan putaran. Ia bukan terlihat seperti Widi lagi.

“Masih belum percaya dengan metode yang gw lakukan ?” Widi bertanya padaku.

“Percaya kok. Kok lo nanyainnya kayak gitu ?”

“Habis kalau gw lihat dari kemarin kayaknya Cuma lo yang nggak percaya kalau ini gw.”

“Emang. Gw emang nggak percaya kalau lo itu Widi.”

“Mau tahu alasan yang sebenarnya gw bisa begini ?”

“Apa ?”

“Alasannya biar sehat dan penghematan aja.”

“Bohong ah,” kataku tidak percaya dengan alasan yang ia ajukan.

“Hehe, emang becanda. Mau tahu alasan yang sebenarnya ?”

“Iya,” Aku mengangguk.

“Ada deh mau tahu aja. Belum tahu kan ?”

Sial. Ia mengejekku dengan kalimat keponya. Baik jika ia tidak mau memberitahu, aku yang akan caritahu sendiri.

*

Nampaknya pencarianku untuk misteri ini mulai menerima titik terang. Aku menjadi semacam detektif yang bekerja mengitai Widi. Setelah lima hari aku mengintai aku menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Sore itu, kami semua selesai latihan untuk acara ospek jurusanku.

“Lo mau kemana Wid ?” tanyaku.

“Pulang ke Jakarta. Gw ngejar travel yang udah gw pesen nih 30 menit lagi. I’m in hurry. Kenapa sih, kok kayaknya belakangan ini kerjaanku nanyain gw mulu ?”

“Perasaan lo doang ah. Hah lo pulang ke Jakarta ?”

“Iya. Kan sekarang Jumat. Acara osjur juga mulainya senin. Kenapa mau ikut ?”

Yah berarti weekend ini aku tak bisa mengintainya dong. Memang selama lima hari ini pengintaian hanya berakhir dengan tangan kosong. Yasuah aku pulang juga saja ke Jakarta weekend ini. Aku langsung pulang untuk bersiap-siap. Dapat travel tidak ya ? Biasanya ramainya tidak terkira kalau Jumat sore. Ah optimis lah.

Aku menuju ke pull travel langgananku. Sesampainya aku langsung melihat monitor yang menampilkan ketersediaan tiket. Sial sudah penuh, nasib menjadi waiting list deh. Digangtung antara pulang atau tidak. Aku menunggu di ruang tunggu sambil melamun. Keberangkatan terdekat untuk jurusanku masih 15 menit lagi dan aku harus menunggu apakah namaku dipanggil atau tidak.

Ah lapar. Sepertinya 5 menit ditinggal tak masalah. Aku keluar ruang tunggu untuk membeli sepotong roti bakar di pinggir jalan. Deru mobil yang kencang menebar angin berbedu kearahku, membuatku harus membersihkan kacamatku yang kotor terkena debu. Jalanan sedang ramai. Dominasi jalanan di depan pull travel mulai dipenuhi mobil berplat B.

Dua orang turun dari sebuah angkot. Itu Widi. Oh ya tadi dia bilang akan pulang juga. Dan orang satunya lagi…, dia juga Widi. Widi yang satu adalah widi versi kurus sedangkan widi yang satunya bertubuh gemuk, sama seperti widi yang dulu aku kenal. Hah mereka kembar ? dan selama ini mereka sedang bertukar peran. Widi kembar ? Aku baru tahu.

Mataku tak lepas dari pemandangan yang mencengangkan itu. Widi tak melihatku, karena memang gerobak roti kukus itu letaknya tidak dekat dengan angkot tempat Widi turun. Aku membayar makananku dan langsung menuju ke pull.  Aku mencari kemana Widi tanpa boleh ketahuan.

Aku akan bongkar kebohongannya. Sudah kuduga sesuatu pasti dilakukannya. Dan semua itu sekarang sudah terbongkar. Aku akan menangkap basah dirinya sekarang, Dia kembar ? Dan selama seminggu ini yang berinteraksi dengan kita semua adalah kembarannya. Betapa licik dirinya. Memangnya mau sampai kapan dia bertukat peran ?

Kemana sih dia ? Kok tidak kelihatan lagi batang hidungnya. 5 menit aku mencari di sekeliling pull. Dia kan tujuan pulangnya ke arah Bintaro dan keberangkatan terdekat adalah tepat 5 menit lalu. Oya tadi dia bilang akan mengejar travel yang sudah ia pesan, jadi sepertinya ia datang memang mepet. Sepertinya ia sudah berangkat semenit setelah sampai di pull tadi. Ah abang roti kukusnya kelamaan sih, aku jadi telat deh. Ah tak masalah, aku sudah dapat misteri dibalik tubuh kurusnya. Ia kembar

*

Hari Senin yang cerah. Aku menuju ke kampus saat matahari masih tertidur di balik awan hitam. Ini adalah hari pertama ospek jurusanku. Sebagai panitia, kami seangkatan harus datang saat pagi buta. Aku menguap karena menahan kantuk yang masih bersarang di otakku. Kampus masih sepi, memang karena belum jadwal masuk kuliah.

Aku langsung menuju ke tempat panitia osjur berkumpul. Baru setengah angkata yang datang, masih jam 6 kurang 10. Aku langsung membeli nasi kuning yang dijual divisi dana usaha. Lapar…, jam segini memang paling enak sarapan bersama. Aku langsung menyantap nasi kuningku. Widi duduk di sebelahku. Ia hanya sarapan roti gandung dan sebutir apel.

“Lo sarapan itu doang ?”

“Iya.”

“Enggak laper ?”

“Enggak tuh.”

“Lo itu punya kakak atau adek nggak sih ?” tanyaku

“Ada kakak satu.”

“Cewek atau cowok ?”

“Cewek. Kenapa nanya-nanya ?”

“Kalau saudara sekandung yang sebaya punya nggak ?”

“Hah maksud lo ?”

“Yang umurnya sama.”

“Nggak lah. Mana mungkin nyokap gw melahirkan dua anak di tahun yang sama.”

“Bukan itu maksud gw.”

“Terus ?” Widi bertanya bingung sembari mengunyah apelnya.

“Saudara kembar.”

“Hah saudara kembar ?”

“Iya. Lo bukan Widi kan ?”

“Hah, apa sih maksud lo ?”

“Udah deh nggak usah di sembunyi-sembunyiin sama gw. Gw udah tahu kok.”

“Tahu apa sih ? Lo kenapa sih, udah gila ya ?”

“Gw udah lihat lo. Jadi siapa nama lo ? Biasanya kan nama saudara kembar berdekatan. Apakah nama lo itu Wibi ? Atau Wiki ? Atau Wili ?”

“Nama gw Wini,” kata Widi sembari pergi dariku.

Bagaimana caranya ya membongkar rahasia ini. Aku harus memergokinya berdua dengan kembarannya. Atau setidaknya mendapat foto mereka berdua dan menyebarnya. Apakah Widi yang asli sedang ada di kosnya ? Ah aku ada akal.

*

“Gila capek banget ya hari ini,” kata Widi membuka pembicaraan.

“Iya capek banget. Makan malam dulu yuk,” ajakku,

“Nggak ah. Gw malem makan buah doang. Btw lo mau traktir gw kapan ? Hanamasa loh.”

“Iya-iya. Ya terserah lo aja.”

Kami berdua berjalan menyusuri jalan besar yang menuju ke kosan Widi. Hari sudah senja. Pergi saat matahari belum terbangun dan pulang ketika matahari hendak tertidur. Kok rasanya sudah seperti orang kantoran saja. Selama seminggu belakangan ini aku harus bergelut dengan kebiasaan ini.

“Eh bener lo punya lanjutan avatar episode terbaru ?” tanya Widi padaku.

“Iya ni. Ada di harddisk. Makanya sekarang gw mau ke kos lo buat ngopiin yang udah ngebet mau nonton. Baik kan gw.”

“Iya thanks yo. Gw nggak bawa laptop sih. Gw udah penasaran nih sama lanjutan ceritanya. “

Aku tahu kalau Widi suka sekali serail Nick Avatar the last airbender. Dan kebetulan aku juga suka dan sudak mendownload kelanjutan serialnya. Oke aku jadi punya alasan untuk datang ke kosannya. Ia sama sekali tidak gugup atau apa ya ? Apa jangan-jangan Widi yang asli tidak ikut ke Bandung ? Ah setidaknya aku harus mencari bukti akan ia memiliki kembaran di kosannya.

“Eh Wid. Berarti baju-baju lo sekarang ukurannya apa ?”

“M atau S dari ukuran XL.”

“Lo beli baju semua dong.”

“Nggak. Dikecilin aja. Ada juga lungsuran.”

“Lungsuran ? Lungsuran dari sapa ?”

“Ya lungsuran baju masa dulu aja yang muat kembali.”

“Yakin ? Bukan dari saudara kembar lo ?”

“Lo kenapa sih dari tadi siang ngomonginnya saudara kembar aja ? Gw ini Widi.”

“Iya,iya,” kataku menyembunyikan perasaan tidak percayaku.

Kami sampai di kosan Widi. Kosan yang cukup rapi, namun tidak terlalu rapi. Kamarnya berukuran sedang, namun cukup murah bila dibandingkan dengan harganya. Widi langsung menyalakan laptopnya. Aku menilik seluruh isi kamarnya, mencoba mencari bukti apapun yang menyatakan kalau ia itu kembar.

“Heh liat apa ? Mana harddisknya ?”

“Kalau mau ngopi film lain, ngopi aja. Ada banyak tuh film disitu.”

Aku langsung menuju tasku dan memberikan harddiksu pada Widi. Sementara Widi sibuk mengopi film-film di harddiskku aku tetap mengamati seluruh kamarnya. Satu jaket, satu celana pendek, satu kaus yang menggantung di belakang pintunya. Satu piring, satu gelas, satu sendok, satu garpu, tak ada bukti apa-apa.

“Kenapa nyari bukti kalau gw kembar ?”

Sepertinya Widi memergokiku. Aku hanya tersenyum kecil sementara Widi kembali ayik dengan file-file di harddiskku. Bagaimana aku membuktikan ucapanku pada yang lainnya ? Mana aku percaya Widi yang tukang makan bisa menerapkan diet super ketat itu dan saudara kembar adalah penjelasan yang paling tepat.

“Cuma sampe chapter segini ya avatarnya ?” Tanya Widi.

“Ada tiga chapter lagi belum gw download. Ntar malem mau gw donwload.”

“Oke, besok gw ngopi lagi ya. Inet gw sangat lemot disini untuk mendonwload ratusan mega.”

“Sip.”

“Udah nemu bukti kalau gw kembar belum ?”

“Belum kembarannya Widi. Tapi lo bener kok, kalau gw itu kembar. Hahaha,” Widi tertawa licik

*

Aku berjalan menuju ke kosan Widi. Aku hendak memberikan tiga chapter terbaru avatar yang baru aku download. Aktivitas hari ini sama dengan hari kemarin, menjalani kegiatan sebagai panitia penerimaan anggota baru jurusanku. Cukup melelahkan juga, namun tetap asyik karena bertemu wajah-wajah baru yang akan menjadi adik angkatanku. Lagipula sebagai kakak angkatan aku harus menunjukkan wibawaku dan menurunkan berbagai nilai pada mereka.

Aku sampai di depan kos Widi. Tepat sebelum aku menelpon untuk memberitahu Widi kalau aku sudah sampai seseorang keluar dari pintu. Itu penjaga kos Widi. Ia menawariku untuk masuk. Aku masuk dan langsung menuju kamar Widi. Pintu terbuka, terlihat Widi yang sedang bermain di depan laptop.

“Wid.”

“Eh lo dah sampai.”

“Iya.”

Aku langsung masuk ke kamarnya. Aku melihat ke gelas yang berada di samping Widi. Gelas berisi air yang berwarna cokelat muda. Terlalu bening untuk teh namun terlalu keruh untuk air putih. Air apa itu ? Widi terlihat agak gugup ketika aku menerka isi gelas itu. Ia langsung meneguk habis seluruh air itu tanpa tersisa.

“Itu air apaan ?” tanyaku.

“Ada deh.”

“Apa sih gw penasaran ?”

“Salah satu ramuan diet.”

“Katanya lo nggak pake zat-zat kimia dalam diet lo.”

“Emang ini bukan zat kimia. Ini.., teh kok.”

“Udah nggak usah bohong sama gw. Itu air apa ? GW enggak percaya kalau itu teh.”

“Ok. Gw Cuma memberitahu ini larutan apa sama orang yang gw nilai cukup berkualifikasi untuk gw beritahu.”

“Dan kualifikasinya adalah ?”

“Emang udah berniat kuat untuk diet. Lo nggak ada niatan.”

“Apa sih itu ? Kasih tahu dong.”

“Ini larutan X. Ini hanya berguna bagi orang yang emang mau dan berniat diet. Gw kasih tahu ke lo pun kayaknya nggak akan guna.”

“Apa sih itu ? Kasih tahu gw dong.”

“No way.”

“Kalau gitu avatarnya nggak gw kasih ni.”

“No problem. Paling bentar lagi ada DVD bajakannya.”

“Ah apa sih larutan itu ? Manjur nggak ?”

“Manjur banget.”

Aku sempat membayangkan sebuah larutan yang ketika diminum akan langsung membakar semua lemak dalam tubuh, mengubah 90 kg menjadi 65 kg. Memangnya ada ya larutan seperti itu ? Ah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Buktinya Widi bisa meraih penurunan seperti itu. Wait aku jadi bingung. Ada dua konspirasi disini : Saudara kembar dan larutan X ? Apa sebenarnya misteri yang berada di balik dirinya ?

*

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s