Side Job (PART I)

by widikrisna

Terinspirasi dari pekerjaan sampinganku. Hahaha.

Berjalan di lorong mall layaknya model usia 20 tahun yang sedang melenggang di runway. Menebar pesona dengan segala outfit yang membuat diriku semakin percaya diri. Semerbak aroma lavender yang manis menempel di tubuh, mengikat para wanita untuk melihat kearahku. Senyum menggoda di dalam wajah oriental membuat mereka salah tingkah. Kulit putih mulus tanpa goresan atau jerawat, terpampang tanpa make up yang berlebihan. Rambut pendek yang tertata ke atas, terlihat bak penyanyi yang sedang ingin  tampil. Tubuh ideal tanpa gumpalan lemak yang menutup otot pemberian Yang Maha Kuasa. Siapakah aku ?

Jika mereka melihatku yang berjalan dengan pose dan senyum seperti ini, pasti mereka semua bertanya. What do you do ? Apakah aku alai yang over PD ? Eits sorry ya, masa alai mainnya ke pacific place. Mungkin ada yang menebak kalau profesiku adalah seorang model. Well, postur dan wajahku memang sangat mendukung. Atau mungkin kalian akan menebak kalau aku adalah salah satu personel K-Pop yang sedang hangout. Yah banyak yang bilang aku mirip personel K-Pop yang kemarin baru konser itu. So, Who am I ? You’ll know.

Mall Pacific Place memang sangat high class. Mereka yang datang kesini semua orang berduit. Para pria yang datang kebanyakan memakai jas dan menenteng gadget high end di tangan mereka. Kental sekali terlihat karena sekarang adalah jam kerja kantor. Berbicara dengan bahasa asing di telepon mereka, membicarakan sesuatu yang menjalankan roda perekonomian. Ada pula para bule berjas yang sedang berjalan menuju tempat rapat mereka disini.

Para wanita yang datang kesini kubagi menjadi tiga jenis. Jenis pertama adalah Wanita yang terjun ke dunia pria. Wanita berbaju formal dengan usia yang berkepala 3. Mereka pintar dan berintelektual. Perkataan mereka bisa menghasilkan pundi-pundi uang untuk keluarga mereka. Wanita ini tinggal di rumah atau apartemen mewah. They are both mother dan businness maker.

Jenis kedua adalah wanita muda berbaju long dress atau berbaju kaus plus celana hotpants. Wanita ini adalah anak dari pria pebisnis yang tadi aku sebutkan. Mereka berdandan layaknya paris hilton, merasa seorang jenset yang sedang menghabiskan sepeser uang. Mereka sedang take a relax setelah diantara jadwal kuliah mereka. Tapi mereka bukanlah apa-apa tanpa orang tua mereka.

Jenis ketiga…, nanti deh, sebentar lagi aku juga bertemu dengan wanita jenis ketiga ini. Aku berhenti di depan sogo. Menatap sekitar dengan pandangan menggoda. Aku merogoh iphoneku dari saku. Satu pesan diterima. Ah dari wanita jenis ketiga.

“Aku sudah hampir sampai.”

Ok. Lebih baik aku menunggu disini. “Put your hands up. Put your hands up.” Ni backsound nyinggung aku ya yang kayak personel K-Pop. Ah tak apalah biar makin terasa atmosfirnya. Aku duduk di sebuah kursi, menunggu dia yang akan datang sebentar lagi sembari menikmati pemandangan mall yang selalu begini-begini aja.

Seorang wanita lewat di depanku. Wanita jenis kedua. Ia berjalan dengan anggun, matanya tak lepas dari tubuhku. Aku balas senyum manisnya. Ia langsung melepas pandangannya dariku, tertawa kecil dengan temannya disebelahnya. Ah tak tertarik dengan wanita jenis seperti itu. Memang daya tarikku sebagai pria pasti memikat wanita manapun yang melihatku.

“Kamu Simon ya ?”

Nah ini dia, wanita jenis ketiga. Wanita berusia kurang lebih 30-40 tahunan, biasanya 40 tahun. Make upnya cukup tebal, yang pasti harus menutupi segala keriput atau uban yang mulai  muncul di raganya. Rambutnya cukup tinggi karena tatanan sasak yang sudah dipersiapkan. Baju dan celananya terkadang tak cocok dengan tahun lahirnya. Alis matanya cukup lentik, membuat kedipan terasa seperti colekan kegenitan. Aroma tubuhnya harum, bahkan kelewat harum.

Mereka adalah isteri dari para pria berjas itu. Ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah dan anak-anak. Namun anak mereka kebanyak sedang kuliah di luar negeri dan sudah ada selusin pembantu yang akan membereskan rumah atau apartemen mewah tempat tinggal mereka. So tugas mereka adalah menikmati harta yang tak kan ada habisnya.

“Eh tante Laura ya ?.”

“Iya. Udah lama kamu nunggunya ? Maafin tante telat soalnya jalanan macet banget.”

“Tenang aja tante.”

“Kamu udah makan siang belum ?”

“Belum tante.”

“Yuk temenin tante makan. Tante tahu kafe yang enak disini.”

“Ok deh tante.”

Berjalan berdua, terlihat lebih seperti ibu dan anak kalau dari usia. Berpegangan tangan, belaian tangan di kepala dan kata-kata penggoda yang bertebaran makin memperjelas tabir yang mengatakan kalau aku dengannya bukanlah ibu dan anak. Terkadang ia merangkulku, tak peduli dengan keadaan sekitar yang memperhatikan.

Got idea about who i am ? Ya itulah aku. Sang pria macho penjaja kesenangan. Penggerogot emas di tengah kota metropolitan. Para wanita kaya dengan segala berlian dan intannya adalah targetku. Wanita setengah baya yang  terbang di antara dollar yang menggembung di dompetnya. Menemani mereka, mengikuti kemanapun mereka membawaku, melayani hasrat mereka adalah kewajiban yang harus aku lakukan untuk mendapatkan sebagian kecil dollar mereka.

Tak ada yang bisa menolak pesonaku. Mereka semua terjerat oleh ketampananku. Para tante genit dengan nafsu segudang, menginginkan yang muda untuk tempat mereka bersandar. Apakah mereka tidak malu dengan suami mereka ? Ah jika mereka mal, berarti aku yang akan hidup dalam susah. Apa gunanya punya fisik sempurna jika tidak diinvestasikan seperti ini.

Kami memasuki sebuah kafe. Lampu jingga menerawang diantara kayu-kayu jati yang menyusun elemen furnitur di kafe ini. Aroma harum, campuran kayu manis dengan cokelat, sungguh menggugah selera. Pelayan mengantarkan aku dengan Tante Laura ke sebuah meja yang cukup berada di sentral. Mungkin ia ingin pamer bisa jalan denganku.

“Emang bener ya kata Jeung Melinda,” Tante Laura tersenyum padaku. Tangannya mulai menggerayangi tanganku yang berada diatas meja.

“Emang apa kata tante Melinda ?”

“Kamu mirip artis Korea.”

“Ah banyak yang bilang begitu tante.”

“Tante Melinda juga bilang kalau kamu itu…, hebat loh,” sebuah senyum genit melengkung di bibirnya.

“Tante jangan percaya sebelum membuktikannya,” kataku dengan nada rendah.

“Eh mau pesan apa. Ayo nggak usah malu-malu.”

Aku langsung memesan makanan yang cukup mahal, kapan lagi nih. Biasanya tante yang membawaku hanya membawa ke mall sekelas PIM dan GI, tak sampai ke pacific place. Sepertinya tante Laura adalah orang yang sangat berkecukupan. Lihat saja gelang, cincin, anting dan kalungnya, sudah seperti toko emas berjalan.

“Kenapa kok ngelihatin tante begitu amat ?”

“Kalau dilihat kayaknya enakkan dipanggil kakak deh daripada tante.”

“Ah tante udah 40 tahun loh, masa dipanggilnya kakak sama anak muda.”

“Hah 40 tahun ?”

“Ah emangnya tante terlihat semuda itu ya ?” Tante Laura mulai merasa lebih percaya diri.

Yes this is my job, to make this woman happy and then more money will come wo my wallet. Risih ? Tentu saja. Mana mungkin aku suka dengan tante-tante, seleraku ya wanita muda yang cantik tidak wanita yang sudah hampir kadaluarsa. Namun ini adalah pekerjaan bukanlah cinta yang sebenarnya. Hanya kesemuan yang menjadi dasar apa yang aku lakukan.

Acara makan yang menyenangkan. Makanannya yang menyenangkan lah, sangat enak, sepadan dengan harganya. Kalau tante Laura pasti senang karena rayuan dan wajahku yang sedap dipandang. Kena…, ia sudah masuk ke dalam jaringku setelah ini aku akan dengan mudah mengorek segala sisik emasnya.

“Habis ini kita kemana tante ?”

“Mmmm, kamu ngerti nggak tentang gadget masa kini ?”

“Ngerti dong tante. Emang tante mau beli apa ?”

“Tante mau ganti HP nih. BB tante udah jelek. BB yang paling bagus apa sih ?”

“Oh yang Dakocan aja tante. Itu BB yang paling mahal.”

“Oh oke habis ini ke toko HP dulu ya. Kamu mau dibeliin apa ?”

“Ah nggak usah tante, aku jadi guidenya aja.”

*

Aku memasuki mobil merci supermewah kepemilikan tante Laura. Aku menenteng sebuah bungkusan yang baru aku dapat. Sebuah tablet (baca : IPet) masih terbungkus rapi diberikan Cuma-Cuma oleh tante Laura kepadaku. Pembawaanku memang easy going dan luwes ditambah Tante Laura sudah terjaring olehku, pastinya dengan mudah aku bisa mendapat segala harta duniawi walaupun aku tidak memintanya.

Mobil berjalan pelan menembus kota jakarta yang sedang diguyur hujan. Mobil yang empuk, ini mobil yang paling mewah yang pernah aku naiki. Seorang supir duduk di kursi depan. Supir itu tampan, mungkin ia salah satu pria seperti aku dulu, namun ia sudah naik pangkat.

“Kita mau kemana tante ?”

“Ke rumah tante aja yuk, ntar malem baru kita jalan lagi. Sekarang kita istirahat dulu.”

“Wah boleh tuh tante. Malem tante mau kemana ?”

“Yah kita jalan-jalan aja ngabisin waktu berdua. Kata Tante Melinda kamu orangnya asyik. Pasti nanti malam juga menyenangkan.”

“Ok deh tante. Malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan buat tante.”

Mobil membawaku ke sebuah rumah dikawasan elite. Apartemen mewah yang terletak di jantung ibu kota. Kawasan supermewah dengan fasilitas yang mirip fasilitas internasional.  Aku tak henti-hentinya menatap pemandangan luar, seperti mimpi bisa memiliki rumah seperti ini.

Segala uang yang aku peroleh hanya bisa membuatku tinggal di kosan kecil. Hei, aku tak akan muda selamanya, aku harus menabung untuk masa depanku. Harta yang aku peroleh lebih banyak aku tabung di bank. Toh baju-baju dan semua gadjet ini juga pemberian, jadi biarlah uang itu menumpuk di bank untuk hari tuaku nanti.

Turun dari mobil, menikmati suasana apartemen super mewah ini. Taman yang hijau, menyebar oksigen yang menyejukkan. Bayangan dari gedung apartemen yang tinggi menjadi tameng sengatnya sinar matahari. Para jetset berjalan melenggang dengan berbagagi surga duniawi di tangan mereka. Pemandangan begitu indah, namun kenyataan kalau aku hanyalah sampah yang sedang berjalan disini harus bisa aku terima.

Aku berjalan mengiktui tante Laura di belakangnya. Sebentar lagi sebuah dendang kebisuan akan segera kumainkan. Menyerahkan harga diriku pada orang yang tak kukenal. Berpura-pura kalau aku menyukai apa yang aku lakukan kepadanya. Aku akan mengeluarkan bisa beracun dari mulutku untuk membuatnya merasa muda kembali, namun akan terasa pahit ketika bisa itu meluncur di lidahku. Inilah hidupku.

Waw…, apartemen yang mewah. Perabot kelas satu berjejer di ruangan ini. Takjub, hanya itu yang bisa aku lakukan. TV, Sofa, karpet, hiasan, semua bagaikan pemanis yang begitu mengkilap. Lampu kristal makin memantulkan kemerlap rumah ini.  Enak jika bisa tinggal di rumah ini. Memangnya apa sih pekerjaan suami tanteLaura sampai hartanya sebanyak ini ?

“Kamu suka apartemen tante ?”

“Suka banget tante.”

“Duduk dulu lah. Setel TV dulu.”

Aku duduk di sofa cream yang empuk. Remote TV langsung menjadi mainanku. Aku sembari melirik ke foto-foto yang ada di apartemen ini. Mataku tertuju pada foto yang cukup besar. Ada tante Laura dan dua pria di foto itu. Tante Laura terlihat lebih muda 10 tahun. Satu pria seumuran dengan tante Laura dan itu pasti suaminya. Lalu satu lagi pria pasti anaknya karena mukanya yang mirip sekali dengan tante Laura. Dan…, muka anak itu mirip  denganku ketika seumuran dengannya. Hmm yak aku pernanh mendengar kalau di dunia ini kalau tiap orang pasti memiliki 40 orang yang memilki wajah yang mirip.

Biar kutebak, ia pasti sama seperti tante-tante lain. Suami sibuk dengan pekerjaan, sering keluar negeri dan pulang hanya untuk tidur. Lalu anaknya pasti sedang kuliah di luar negeri. Situasi itu membuatnya selalu berada dalam kesendirian dan haus akan kasih sayang. Nah tante seperti inilah yang wajib aku beri kasih sayang agar mudah untuk peloroti.

“Itu anak dan suami tante,” tante Laura langsung duduk di sampingku sambil membawakan minum.

“Suami tante sekarang lagi dimana ?”

“Tante udah cerai sama suami tante,” nada bicara tante Laura berubah

“Oh maafin aku tante.”

“Nggak apa-apa kok.’

“Itu anak laki-laki tante ?”

“Iya.”

“Anak laki-laki tante ikut ke siapa ?”

“Pengadilan memutuskan anak laki-laki tante ikut ke tante.”

“Wah berarti sekarang tante hanya tinggal berdua dengan anak tante ?”

“Anak tante udah meninggal satu tahun lalu. Makanya tante kesepian sekali.”

Jreng. Kok dari tadi perasaan aku salah nanya terus ya. Jadi tak enak nih. Satu bulan ? Pasti kesedihan masih melanda tante Laura. Aku meneguk air yang disuguhkan tante Laura. Enak sekali, apapun ini pasti  minuman mahal yang bisa dinikmati oleh orang kaya. Oke saatnya melancarkan jurus pertama.

“Aduh, maafin tante. Aku mengerti bagaimana perasaan tante. Aku juga kehilangan kedua orang tuaku ketika aku masih kecil ?”

“Benarkah itu ?” Aku mengangguk. Kalau yang satu ini memang kenyataan dan bukan untuk merayu.

“Aku sudah menjadi yatim piatu semenjak aku masih berusia 6 tahun. Kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Itu bukanlah peristiwa yang menyenangkan.”

“Ada apa ? Kamu bisa bercerita kepada tante.”

“Yah itu masa lalu kelam aku. Kedua orang tuaku sedang bertengkar malam itu. Semua karena bisnis papa yang sedang lesu, membuat keluarga terjerat dalam hutang yang besar. Mama tidak bisa menerima kenyataan kalau papa bangkrut dan kami sekeluarga harus kehilangan semua harta benda. Mereka bertengkar hebat di dalam mobil. Lalu kecelakaan itu terjadi. Untunglah aku masih bisa diselamatkan.”

Ya itu memang masa lalu pahit yang harus aku terima. Oleh karena itu aku berusaha mati-matian mengumpulkan uang sekarang untuk masa depan yang lebih menjamin. Mumpung fisikku masih memiliki daya tarik yang luar biasa.

“Oh tante ikut bersedih.”

“Aku hanya mengangguk kecil.”

Hmm, kok rasanya kepalaku sedikit pusingnya. Seperti ada tinju yang menerjang sarafku, membuat kesadaran terada berat . Berbayang, kenapa tante laura terlihat banyak sekali ? Ah kenapa ini ? Aku merasa sangat ngantuk, tak kuat untuk membuka kelopak mata. Nampaknya minuman itu dibubuhi obat tidur atau semacamnya dan aku sudah terkena pengaruhnya. Ini bukan pertanda bagus.

bersambung :

(nb : silakan berimajinasi akan kelanjutan ceritanya. I Bet the ending is not like what you think)

Advertisements

6 comments on “Side Job (PART I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s