Side Job (PART II)

maaf tak bisa membuat ending yang bagus. Belakangan ini pikiran sedang terpecah oleh skripsi penelitian, tugas akhir, dan ujian komprehensif. i must do that in order to finish my study. Tentunnya hal itu membuat mood menulis menjadi rusak seketika. Aku mau luluuus

Aku membuka mataku secara perlahan. Hal terakhir yang aku ingat adalah berada di sebuah ruang mewah di dalam apartemen tante Laura. Aku mengumpulkan kesadaranku. Apa yang sedang terjadi padaku ? Aku tak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakiku. Sebuah tali mengikat pergelanaan tangan dan kakiku, membuatku terpaku di posisiku. Mulutku terbekap, tak bisa membuat teriakan menggema disini.

Aku memandang ke sekeliling. Ini di bagian belakang mobil. Tante Laura sedang menyetir di bangku depan. Aku menggeliat, namun ikatan ini terlalu kuat. Akan dibawa kemana aku ? Apakah tante Laura polisi yang sedangbertugas menangkap pria sepertiku ? Kurasa polisi tak perlu basa basi seperti ini.

“Mmmmhhhh,” aku mengerang dibalik dekapan lakban ini.

Tante Laura mengabaikan aku yang mencoba bertanya. Aku melihat ke jendela luar, tak terlihat jelas, aku tak ada banyangan sama sekali akan dibawa kemana. Melawan ikatanpun tak ada gunanya, sangat kuat. Aku hanya bisa terdiam sembari berdoa. Baru kali ini aku mengingat Tuhan seingat ini. Mungkin karena nyawaku berada dalam bahaya dan tak ada yang bisa menolongku selain Tuhan.

Satu jam dan akhirnya mobil berhenti. Tante Laura keluar dari mobil. Dimana aku ? Aku akan diapakan ? Seribu tanya menjadi pelengkap setiap sel saraf di otakku. Pintu mobil terbuka. Seorang pria membuka ikatan di kakiku dan menarikku keluar. Aku tak bisa melawan karena tubuhnya jauh lebih besar dariku.

Dunia luar, sebuah senja yang sedang terbenam di ufuk barat. Matahari menjingga di belakang panorama. Senja begitu indah…, apakah ini kesempatan terakhirku melihat senja ? Tuhan kumohon jangan. Aku ingin lari dari situasi ini, namun aku tak berani karena ada pria lain yang menodongkan pistol ke arahku. Sebenarnya siapa mereka ?

Tante Laura berdiri menghadap seroang pria. Aku berlutut di samping mereka berdua. Ada lima orang pria berbaju hitam disini.  Aku tak bisa berkutat karena pistol itu tepat mengarah ke kepalaku. Aku tak mau bermain-main dengan nyawaku yang Cuma ada satu. Aku mendengarkan percakapan tante Laura dengan pria didepannya.

“Hebat kau. Setelah lama tak bermain, tiba-tiba mendapat mangsa yang sangat berkualitas,” kata sang pria.

“Aku tak punya waktu lama. Mana uangku ?”

Salah seorang pria yang berada di belakang menyerahkan amplop berwarna cokelat ke tante Laura. Tante Laura membuka amplop itu dan tersenyum kecil. Oh jadi aku dijual ? Ini sindikat penjualan manusia. Wait, untuk apa aku dijual ? Bukankah biasanya wanita atau anak-anak yang dijual ? Pria itu menatapku dengan tatapan tajam.

“Aku yakin wajah tampannya akan laku di sana. Tak akan ada yang tak menolaknya.”

Apa ? Apa yang akan mereka perbuat padaku jika aku dijual nanti ? Apakah aku akan dijadikan budak s*ks karena ketampananku ? Aku pernah mendengar berita seperti ini sebelumnya.

“Jangan coba melawan atau nyawamu akan langsung hilang. Kau akan menjadi raja di sana.  Kau harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugerahimu wajah tampan itu. Say goodbye to your future. I will give you a new destiny.”

“Aku pergi dulu,” tante Laura berkata pada kami berdua.

Aku  menatap wajah tante Laura. Tak kusangka tante berwajah polos seperti itu adalah kaki tangan sindikat kelas kakap seperti ini. Transaksi telah berakhir. Aku digiring masuk ke dalam rumah ini. Tangan dan mulutku masih tak berguna karena tali dan lakban. Rumah yang cukup besar, sepertinya rumah ini adalah markas sindikat ini.

Rumah ini memiliki ruang bawah tanah. Isinya ruangan-ruangan untuk menyekap mangsa sepertiku. Akhirnya tali dan lakban ini di buka, namun acungan pistol tak behenti, membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Aku dilempar ke dalam sebuah ruangan. Pintu ruangan dikunci dan aku berada dalam ketidakpastian sekarang. Namun satu hal yang pasti adalah ini bukanlah suatu hal yang baik.

Aku menggedor ruangan pintu itu. Ruangan itu tertutup, hanya sebuah jendela yang terletak cukup tinggi yang menjadi pemandangan pemecah kemonotan. Tak ada jawaban atas teriakanku. Oh Tuhan jika Engkau masih mau mendengarkanku, aku ingin bisa keluar dari sini dan menikmati kebebasanku kembali.

“Mereka tak akan mendengarmu ?”

Aku berbalik dan melihat seorang pria di belakangku. Aku tak menyadari aku tak sendiri di ruangan ini. Pria itu seumuran denganku. Wajahnya juga tidak terlalu jelek atau alai, yang jelas dari segi fisik ia mempunyai kelas.  Siapakah dia ? Jelas ia juga korban sepertiku.

“Sebenarnya dimana kita ? Apa yang akan terjadi dengan kita ?”

“Kita akan menjadi bagian dari human traficking.”

“Lalu ?”

“Kita akan dijual.”

“Kemana ?”

“Ke korea sepertinya.”

“Lalu kita akan dijadikan apa disana ?”

“Kita akan dijadikan budak disana. Sepertinya kita akan dijadikan gigolo atau pria penghibur di bar-bar disana,” ia berkata dengan tenang.

“Kenapa kamu kelihatannya menerima semua ini ?”

“Memang aku mau.”

“Apa ? Kamu mau menjadi seperti itu disana ?”

“Jujur, kehidupanku disini tak lebih baik. Disini aku hanyalah tukang bersih WC. Aku buta huruf. Untunglah aku masih dikaruniai fisik yang lumayan.”

Aku menatap ruangan ini. Memang untuk ruang sekapan, tak terlalu buruk. Ada kasur tak berdipan disini. Ada toilet di ujung ruangan. Lantai ruangan ini dari keramik. Hanya saja ruangan ini tak ada jendela yang bisa terbuka. Hanya ada exhaust fan untuk menukar udara. Ini sepertinya bukan sindikat human traficking kacangan. Namun aku masih mau bebas dan merangkai masa depanku disini.

Aku duduk di samping pria itu dan berkenalan dengannya. Dia bernama Reza. Usianya sama denganku. Ia yatim piatu. Hidupnya lebih keras dariku. Ia hanyalah seorang yang pekerjaannya serabutan. Ia tak mengenal sekolah, membaca dan menulispun ia tak bisa apalagi berhitung. Aku mengerti mengapa ia daritadi tenang-tenang saja.

“Kalau kamu, apa yang kamu lakukan untuk menyambung hidup ?”

“Aku adalah…,”

Aku menceritakan kepadanya bagaimana keseharianku, bagaimana aku menggunakan kesempurnaan fisikku untuk menghasilkan uang.  Aku beberkan semua cara agar wanita hidung belang mau mengucurkan uangnya kepadaku. Aku dan Reza memang memiliki nasib yang sama, yatim piatu, sebatang kara dan tak punya pendidikan yang jelas, namun akumasih bisa baca tulis.

“Betapa rendah pekerjaanmu,” kata Reza.

“Memang aku tak mau pusing untuk memenuhi isi dompetku. Aku salut denganmu yang masih mau mencari rezeki dengan halal. Lalu kenapa sekarang kamu berubah pikiran ?”

“Alasannya simpel. Karena aku lelah hidup tak jelas seperti ini.”

“Sangat disayangkan sekali kamu menyerah.”

“Hei aku tak sepertimu yang menyerah di awal.”

“Baiklah aku akui itu. Yang jelas aku sekarang tak mau menyerah. Aku ingin keluar dari sini.”

“Untuk apa ? Apa hanya untuk melanjutkan profesimu yang laknat itu ?”

Aku seperti ditinju oleh perkataan Reza. Benar juga. Untuk apa aku keluar dari sini jika aku tetap menjadi pribadi yang sama.

“Untuk apa kamu menghirup udara bebas jika kamu tetap menyesatkan wanita-wanita itu dengan ketampananmu. Lebih baik kamu disini, ikut bersamaku. Toh disana jauh lebih glamor daripada disini.”

“Kamu memang benar, tapi…,”

“Lalu untuk apa kamu ingin keluar ? Toh tak ada bedanya kamu ikut atau tidak. Kamu akan tetap menjadi pria penghibur. Mana mau Tuhan akan mengeluarkanmu jika kamu tetap menjadi orang yang sama. Sudah ikut saja disini. Uang yang akan kamu dapatkan disana jauh lebih banyak.”

Aku hanya bisa diam, tak bisa membalas perkataan Reza. Tuhan apakah ini memang jalan yang Engkau tunjukkan ataukah aku ini adalah cobaan yang harus aku hindari ? Membanyangkan masa depan jika aku tetap disini. Toh sama saja…, aku tetap menjadi pria yang berlumur dosa hanya saja berbeda tempat.  Mungkin uang di luar negeri sana lebih banyak.

Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku. Ibu…, bapak…, seketika aku teringat mereka berdua.  Jika mereka berdua ada disini, kira-kira apa yang akan mereka katakan. Apapun yang mereka ucapkan, pastilah mereka menyuruhku untuk menjadi pria yang ‘benar’, tak peduli dimanapun aku tinggal. Seketika air mataku keluar.

“Kenapa kamu nangis ?”

“Aku ingin keluar dari sini, namun aku tak mau lagi menjadi pria seperti ini. Menjadi pria sepertimupun aku tak masalah asalkan aku berada di jalan yang benar.”

“Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran ?”

“Kurasa ini hukuman yang Tuhan berikan karena aku mencari uang dengan cara haram seperti ini. Aku tak tahu kenapa namun hatiku mengatakan aku harus keluar dari sini. Aku tak tahu dunia seperi apa yang akan aku hadapi jika aku tidak melawan dan tinggal disini. Kupikir membuat perjanjian dengan Tuhan adalah satu-satunya cara.”

“Perjanjian apa ?”

“Jikalau aku keluar aku tidak akan menjadi pria penghibur seperti ini lagi. Cukup.”

“Kau yakin. Lalu kamu akan kerja apa ?”

“Entahlah. Masih banyak pekerjaan halal lainnya. Kamu yakin kita akan dijual dengan tujuan seperti yang kamu kira ? Bagaimana kalau itu berbeda dari yang kamu pikirkan ?”

“Aku tak akan tahu sebelum aku mencobanya,” Reza berkata pelan.

“Ayolah kita keluar darisini. Kira-kira kita kapan akan diterbangkan ke tempat tujuan ?”

“Kurasa besok. Aku sudah 3 hari disini. Mereka bilang kepadaku tadi kalau besok mereka akan membawaku. Terserah jika kamu mau pergi. Yang jelas aku tetap disini. Lagipula bagaimana caramu melarikan diri ? Kamu malah akan mati jika macam-macam.”

“Aku tak peduli jika harus mati. Yang jelas aku harus keluar darisini. Hatiku mengatakan aku harus pergi darisini.”

“Yasudah pikirkan saja sendiri.”

*

Malam sudah terbit. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kalau biasanya, aku sedang menjajakan tubuhku pada tante-tante jablai. Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbanku ? Entahlah. Aku tak mau mengingatnya, itu makin membuatku makin berdosa. Tuhan aku berjanji jika aku keluar dari sini, aku akan meninggalkan pekerjaanku seperti ini.

 Memikirkan sebuah rencana untuk kabur ? Tentu saja. Aku masih ingin dinegara ini. Kalau aku mati bagaimana ? Aku akan hati-hati dan semoga aku akan baik-baik saja. Reza menolak untuk bergabung dengan rencanaku yang cukup berbahaya. Baiklah aku hany punya kesempatan malam ini untuk melarikan diri. Sekarang atau tidak sama sekali.

 “Tidak akan berhasil. Rencana bodoh seperti itu hanya akan membuat mereka tertawa,” kata Reza.

“Aku tak akan tahu sebelum mencoba. Entahkenapa hatiku mengatakan untuk segera keluar dari sini.”

 Pintu sel terbuka, seorang penjaga masuk membawakan dua buah mangkuk. Tepat seperti apa yang dikatakn Reza. Penjaga itu meletakkan nampan itu di lantai dekat dengan pintu. Pastilah mereka tak ingin korbannya kelaparan. Kalau sampai sakit atau kelaparan bisa tak laku jika dijual nanti.

 Aku berjalan menuju penjaga itu hendak mengambil mangkuk yang ia letakkan. Penjaga itu berbalik untuk keluar pintu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan pecahan keramik lantai dari yang aku sembunyikan di belakng tubuhku. Aku lempar pecahan itu tepat ke kepala penjaga yang belum sempat keluar.

 Penjaga itu langsung terjatuh karena benturan tepat mengenai otak belakangnya. Aku merogoh kantung celana penjag itu, mencari kunci ruang bawah tanah ini. Ketemu. Aku langsung berlari keluar ruangan, meninggalkan Reza yang terdiam di atas ranjang. Aku berlari sekencang mungkin.

 Ada 10 pintu di lorong ini. Apakah semua berisi orang juga ? Apakah mereka juga ingin kabur sepertiku atau ingin stay seperti Reza. Aku harus keluar darisini dan memberitahu polisi sebelum esok pagi. Aku sampai di ujung lorong dan mengeluarkan kunci itu. Tiga pistol sudah mengacung ke mukaku ketika aku membuka pintu.

 “Kamu pikir bisa keluar dari tempat ini dengan mudah ?”

 Suara ledakan besar menandakan kalau peluru meluncur dari selongsong pistol, peluru itu tepat mengarah ke mukaku. Tuhan, jika kamu menyelamatkanku aku berjanji akan keluar dari pekerjaan kotor ini. Aku berjanji tidak akan memanfaatkan kesempurnaan fisik yang engkau anugerahkan dengan cara seperti ini. Aku tahu janji seperti itu tak akan menghentikan laju peluru yang tepat mengarah ke dahku. Dan….

*

Aku membuka mata, apakah aku sudah mati ? Berarti ini neraka ? Neraka ? ya iyalah mana mungkin pria sepertiku bisa masuk surga dengan mudah. Namun mengapa neraka begitu dingin ? Aku mengumpulkan kesadaran di balik putaran yang melanda kepalaku. Ini di apartemen tante Laura.

 “Sepertinya minuman alkohol ini tak cocok denganmu ?”

 Sial, hanya mimpi semata, namun mengapa terlihat seperti kenyataan. Aku langsung terduduk di kursi. Kepalaku masih sedikit pusing. Aku meneguk air putih yang disajikan tante Laura. Apa sih minuman merah itu ? Mengapa efek alkoholnya kuat sekali.

 “Kamu tidak apa-apa kan ?”

“Iya.”

“Kalau begitu kamu siapkan ?”

“Kurasa aku tidak siap. Aku ingin pulang saja tante,” aku mengingat kembali mimpi yang baru melandaku.

“Loh kenapa ?”

“Aku tidak bisa melakukan hal ini lagi.”

 Aku mengingat satu bagian dari mimpiku yang berjanji pada Tuhan kalau tidak akan melakukan pekerjaan ini jikalau aku bisa melarikan diri. Apakah ini cara yang dilakukan Tuhan untuk mengeluarkanku dari peristiwa tadi, dengan membuatnya seakan menjadi  mimpi ? Jiwaku masih terguncang oleh kematian yang terasa sangat jelas di mimpiku tadi.

 Aku bangun dari kursi dan hendak keluar dari apartemen ini. Tante Laura berusaha mencegahku. Kentara sekali ia terobsesi denganku, ingin merasakan tubuh dan rasaku. Namun aku sudah tak mempunyai hasrat untuk melakukan ini lagi. Kurasa ini cara Tuhan untuk menyadarkanku. Aku berjalan menuju pintu keluar apartementante Laura.

“Kamu pikir bisa keluar dari tempat ini dengan mudah ?”

Tante Laura berkata di belakangku. Nada bicara itu…, persis dengan yang ada dimimpi sesaat sebelum peluru menghujamku. Deg-degan, kali ini sebuah kenyataan. Apakah jika aku berbalik, tante Laura sudah mengacungkan pistol ke arahku. Perlahan aku membalikkan badan. Ah tidak ada apa-apa, hanya tante Laura yang memandangku dengan penuh hasrat. Well, goodbye dirty job

Pesan : Terkadang Badai Tugas Akhir bisa terbawa mimpi dan berakhir dengan mimpi buruk, seperti pada cerpen ini. Semoga mimpi buruk tersebut tidak akan menjadi kenyataan.  Aaaargh, badai cepatlah berlalu

Advertisements

2 comments on “Side Job (PART II)

  1. Wah, udah lama ga baca blog lu, hahaha. Sesuai janji, gw akhirnya membaca lagi post-post lu

    Wiiid….. ceritanya bagus sih, gw suka. Tapi pesan terakhirnya itu lhoooo, hahaha (meskipun gw jadi ngerti sih maksud dari ‘kerjaan sampingan’ yang lu jadiin inspirasi). Emang lu mimpi apaan? Ditodong pistol ama si “papah”? :p

  2. Wah thanks, ari has return.
    Kerja sampingan gw kan sama kayak si ‘aku’ Ri, haha, just kidding.
    Mimpinya waktu itu skripsi/penelitian gw kagak kelar… Well, itu cuma mimpi buruk yang ga jadi kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s