Harri Poter dan Nonton Bareng Bertuah (PART II)

Maaf di split jadi 3 part, belum bisa nulis panjang2 mau sidang Tugas Akhir. Lagi #Gugup Mode On. Judulnya ganti dikit ya

Hari yang cukup melelahkan. Semua karena kuis yang tiba-tiba diadakan diakhir pelajaran. Kuis di pelajaran mantera diadakan karena profesor Flitchwik BT karena banyak murid yang tidur. Harri langsung tumbang di atas kasurnya yang empuk. Keempat teman sekamarnya juga langsung pada tumbang sama seperti Harri.

Harri mengambil setumpuk surat yang tertindih tubuhnya diatas kasur. Ini adalah surat cinta yang diarahkan kepadanya. Ia melihat sebuah surat yang mengundang perhatiannya. Diatas surat tersebut tertulis nama yang sangat ingin dilihatnya. Cocang. Seketika kantuk langsung hilang. Harri langsung bangkit dari kasurnya dan membuka surat itu.

“Kenapa lo ?” tanya Ruon.

“Surat cinta dari Cocang.”

“Yang bener ?”

“Iya. Dari surat ini Cocang mengajak gw untuk nonton film sabtu besok bersama. Ia sudah membelikan tiketnya untuk gw. Wah gw udah nggak sabar nih.”

“Katanya malas ngelihat layar tancep kayak gitu ?”

“Siapa bilang gw mau lihat layar tancepnya ? Gw mau nontonini cocangnya aja deh. Wah nggak nyangka dia yang bakal ngajakin duluan.”

“Ya iyalah lo kan the choosen one.”

*

Suasana makan malam yang tenang. Semua murid terlihat menikmati makanan yang dimasak peri Hokwarts. Semua dalam ketenangan, padahal diluar sana Voldemot sedang mengacau dunia dan mengumpulkan lebih banyak tentara. Well, mumpung masih dalam masa damai jadi nikmati dulu saja saat-saat ini.

“Gila lo laper apa kesurupan ?” tanya Hermayoni sambil melihat ke arah Harri yang mengambil makaroni panggang untuk ketiga kalinya.

“Ada yang lagi kena sengatan cinta nih, jadinya semangat,” goda Ruon.

“Jadi Harri udah menemukan pacar baru ?” tanya Hermayoni.

“Belum. Tapi surat cinta dari Cocang nampaknya menjadi lampu kuning. Udah nanti tembak aja pas nonton.”

“Oh jadi Cocang ngajak Harri nonton ?” Hermayoni excited

“Iya begitu.lah Aduh…,”

“Kenapa Ruon ?” tanya Hermayoni.

“Perut gw mules. Ni spageti kelewat pedes, cabenya berapa sih ni. Gw ke WC dulu deh. By-bye semuanya.”

 Ruon pergi sambil memegangi perutnya. Harri tetap fokus pada makanannya. Langit-langit Hokwarts begitu indah malam ini, seindah hatinya yang sedang berbunga-bunga.

“Harri, apa benar Cocang mengajakmu nonton malam minggu depan ?”

“Iya.”

“Hei Harri.”

Harri menengok kebelakang, melihat siapa yang memanggilnya. Itu Cocang. Hati Harri makin berdebar-debar. Cocang terlihat sangat cantik dengan rambut panjang dan wajah orientalnya. Jinny sih level dada tiarap dibandingkan Cocang. Cocang tersenyum pada Harri yang sedang terpesona.

“Ya Co ?”

 “Lo bisa kan nonton sama gw sabtu ini ?”

“Oh bisa-bisa. Pakai baju apa nih ?”

“Pakai ungu aja yuk,” kata Cho

“Oke.”

“Bye Harri,” kata Cocang sambil menyubit pipi Harri.

Para gadis lain yang mengidolakan Harri sinis melihat pemandangan itu. Wah bahaya juga bagi Cocang jika harus melakukan hal-hal menjurus seperti itu. Bisa-bisa ia diguna-guna oleh fansnya Harri. Ah Cocang kan pinter, nggak mungkin ia dengan mudah di guna-guna.

Harri melanjutkan makannya sembari mengobrol dengan teman-teman yang lain. Besok ada PR pelajaran ramuan yang harus dirampungkan. Ah, nampaknya malam ini akan banyak tenaga yang mengisi tubuh Harri. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu Sabtu.

“Hei dimana Ruon ?” Lapender tiba-tiba datang ke Harri dan Hermayoni.

“Ngapain lo nyari-nyari dia ?” Hermayoni sinis.

“Suka-suka gw dong. Kok lo nyolot gitu sih ?” balas Lapender.

“Habis lo nggak santainya nanyanya. Dia nggak ada, udah pergi sana.”

“Nggak gw mau nunggu sampe Ruon dateng disini. Kenapa nggak boleh ?” Lapender langsung duduk di samping Harri, berhadap-hadapan dengan Hermayoni.

“Lo nantangin ? Dibilangin Ruon nggak ada, dia tadi sakit perut. Perlu pake tongkat untuk ngasih tahu lo.”

“Udah napa. Kalian kok berantem aja kerjaannya,” Harri melerai

“Habis ada yang budeg dan nggak bisa dibilangin pakai mulut kalau Ruon nggak ada,” kata Hermayoni dengan nada menyindir.

“Itu benar Lapender. Ruon udah ke kamar. Dia sakit perut tadi. Lo mau ada pesan apa, bisa nitip ke gw kok,” kata Harri.

“Nggak usah deh,” Lapender bangkit dan pergi dari kami berdua.

*

Harri menuju ke ruang rekreasi Grifindor bersama Hermayoni. Di koridor ia berpapasan dengan salah satu orang yang ia benci. Dia adalah Malpoy. Makin tinggi tingkat sekolahnya, dia semakin menyebalkan. Ia berdiri menghadang Harri dan Hermayoni dibantu oleh para anak buahnya yang setia yang semakin banyak. Koridor sedang sepi, tak ada yang melihat kejadian ini.

“Harri. Kudengar kau akan pergi bersama Cocang Sabtu ini ?” Malpoy berkata dengan nada sombong.

“Kenapa ? Kau iri ?”

“Buat apa iri. Sudah menjadi tugasku untuk selalu mengganggu ketenanganmu. Lihat saja aku akan membuat Cocang malu pergi denganmu,” Malpoy berkata pelan.

“Coba saja kalau lo berani rambut ubanan. Gw tahu lo nggak laku kan jadi cuma bisa ngerjain gw.”

“Ancaman hanyalah bentuk dari ketidak mampuan untuk berbuat yang lebih baik,” kata Hermayoni.

Malpoy langsung melepas pandangan dari Harri dan memandang Hermayoni. Ia memandang Hermayoni dengan jijik. Sebuah senyum licik ia pasang di mukanya.

“Hei Slurry blood. Gw berani taruhan tak ada yang mengajakmu pergi nonton sabtu malam ini.”

“Kau salah. Gw akan pergi dengan seseorang,” Hermayoni tersenyum kecil mengolok perkataan Malpoy.

“Dan pasti itu karena ia tak bisa menemukan wanita lain. Mana ada cowok yang mau jalan sama cewek kutu buku kayak lo,” Malpoy menambahkan dengan cepat.

“Heh diem deh. Gw tabok juga deh lo,” Hermayoni mulai kesal.

“Sudah lebih baik kita pergi saja dari sini.”

Harri langsung menggandeng Hermayoni dan melewati Malpoy dan semua anak buahnya. Harri tak ambil pusing dengan ancaman Malpoy, namun ia tetap harus siaga ketika acara nonton nanti. Ia tak mau first datenya dengan Cocang berantakan karena ulah Malpoy.

*

Acara nonton bareng sudah tinggal esok hari. Semua tiket yang dijual sudah habis. Ini memang merupakan yang jarang dimana film muggle yang sedang laris disiarkan di Hokwarts, walaupun hanya menggunakan layar yang dipasang di taman. Walaupun tak ada yang tahu apa itu film the Avengers, yang pasti filmitu bagus karena sampai diputar di Hokwarts.

Galau dan bimbang, seakang semua perasaan tidak menentu melanda hati. Bawaan menjadi mellow dan ingin menangis atau setidaknya mendengarkan lagu yang sendu. Protego .Seketika bayangan akan kegalauan dan kebimbangan yang merasuki tubuh lenyap. Harri akan sempoyongan dan berlutut di tempatnya berdiri. Senep langsung menghentikan acungan tongkatnya ke Harri.

“Kau telah berhasil menghindari mantera Galauto dengan lumayan baik. Namun sudah seharusnya the choosen one tak perlu sampai berlutuut untuk menunjukkan kelemahannya. 10 poin dipotong dari gripindor. Kau boleh kembali ke tempatmu.”

Harri kembali ke tempat duduknya. Kepalanya masih pusing karena efek mantera galauto aneh tadi. Sudah menjadi kelinci percobaan, dipotong pula skornya. Harri duduk di kursinyda dan mencoba fokus kembali.

“Kau tak apa-apa Harri ?” bisik Ruon.

“Manteranya ajib banget. Langsung galau. Efeknya galaunya masih kerasa nih. Pelahap maut dengan bisa mudah menggunakan mantera ini untuk melumpuhkan para remaja yang lagi labil.”

“So, apa rencana besok nanti Ri ?”

“Apa maksud lo dengan rencana Ruon ?”

“Pas nonton. Lo mau ngapain aja dengan Cocang ?”

“Ya nonton aja berdua. Emang mau ngapain lagi ? Ini baru first date sama dia, masa gw udah nyosor macem-macem.”

“Mending kasih sinyal yang lebih dari itu. Berikan dia follow up yang jelas paling nggak.”

 “Heh itu yang lagi ngobrol ayo sini maju,” Senap sudah menunjuk Ruon dengan telunjuknya. Wah Ruon akan dijadikan kelinci percobaan untuk menghindar mantera itu.

“Hati-hati Ruon. Manteranya ajib banget loh,” bisik Harri.

*

Suasana makan malam yang tenang. Semua berkata TGIF, namun sepertinya semua ingin segera hari Sabtu malam. Nonton bareng ini memang magnet yang kuat untuk melepas penat. Ruon sedang melamun di atas mejanya tanpa menyentuh daging bakar yang sudah ia ambil. Pandangannya kosong melongo kedepan.

“Dia kenapa sih ?” tanya Hermayoni.

“Ni efek mantera galauto di kelas pertahanan terhadap ilmu hitam tadi. Lo kenapa tadi nggak masuk ? Cabut ya ? Tumben banget.”

“Gw tadi nyari baju ke Hogsmet. Biasa buat besok nonton. Oke saatnya menyadarkan Ruon.”

Hermayoni mengacungkan tongkatnya kepada Ruon. TAR. Suara yang cukup mengagetkan keluar dari ujung tongkat Hermayoni. Suara itu mengagetkan beberapa orang di sekeliling kami. Ruon langsung tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Suara apa itu tadi ?”

“Cuma suara petasan yang diperkecil buat menyadarkan lo dari efek mantera galauto.”

“Gila manteranya ajib banget.”

“Haha gw bilang juga apa.”

Harri meneguk jus labunya. Seketika ia merasa pusing. Sarafnya seperti diserang oleh sebuah pemikiran yang mengendalikan segala ucapan dan tindakannya. Hanya satu nama dan wajah yang sekarang berada di benaknya. Sepertinya ia terkena love potion yang cukup kuat.

“Oh Lapender,” kata Harri.

“Apa ?”

“Lapender. Aku ingin pergi bersamanya besok. Cocang itu nggak ada apa-apanya dibandingin Lapender.”

Ruon dan Hermayoni saling melepas pandang. Revelasio. Hermayoni mengacungkan tongkatnya ke gelas Harri. Asap merah jambu. Positiv love potion. Namun kenapa Lapender ? Sepertinya love potion ini salah sasaran.

“Kenapa Lapender memberikan love potion ini kepada Harri ?” tanya Ruon.

“Kurasa ini seharusnya ditujukan buat lo, Ruon. Salah sasaran nih. Mari kita bawa ke rumah sakit,” Hermayoni bangkit dari kursinya dan langsung menggandeng Harri

“Aduh gawat nih kalau besok efeknyamasih ada. Bisa-bisa di gampar Cocang kalau dia ngigonya Lapender.”

*

Continued to part III

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s