Pasal 34 Ayat 1

Nampaknya  seminggu kedepan postingan akan mendek. Mau ujian kelulusan kuliah. aaargh, tak ada jam tanpa belajar.

Aku berjalan menuju kampus disertai senyum matahari di langit biru yang cerah. Angin sepoi yang sejuk berhembus pelan membelai dedaunan yang menggantung diatas ranting yang tipis. Aku memegang tali tasku untuk meringankan beban pundak. Pagi yang cerah, aku mulai berpikir tentang keberhasilan yang harus aku raih hari ini. Itulah ritual pagi yang wajib aku lakukan di perjalanan.

Lalu lalang mahasiswa yang mengejar waktu masuk kuliah menjadi pemandangan biasa. Matahari tiba-tiba bersembunyi dibalik awan besar, mencoba meredam asumsi kalau pagi sudah terlalu bergulir. Aku menarik nafas panjang, Embun tipis keluar dari hidungku. Hawa dingin masih bersemayam, membuat pori-pori kulitku merapat. Suasana pagi yang indah seperti biasa.

Langkahku sedikit memelan saat aku melihat salah satu elemen yang hilang dari jalan ini. Gerbang pintu depan yang menyambutku seakan membisu melihat kebingunganku. Aku kembali menengok kebelakang namun ia tak ada. Biasanya elemen itu selalu ada di sudut itu. Elemen yang mungkin bagi sebagian orang orang adalah sampah masyarakat yang memang sebaiknya lenyap sekarang benar-benar hilang. Bagiku ia bukanlah sampah masyarakat namun ia adalah orang yang kurang beruntung.

Aku kembali bertanya dalam hati. Kemana pengemis itu ? Sudah satu minggu ia absen dari tempat biasanya mangkal. Pengemis laki-laki tua dengan rambut beruban, kulit keriput, baju usang dan topi jerami. Setiap pagi ia selalu menengadahkan mangkuk kepada semua mahasiswa yang lewat, berharap sepeser kebaikan pada mereka.

Selama 3 tahun aku kuliah disini ini dia selalu ada ditempat itu setiap pagi. Aku sudah menjadi pelanggan setianya yang selalu memberikan uang receh pada pengemis itu. Pria setua dia sudah tidak mungkin mencari kerja. Asumsiku ia menjadi pengemis karena masih harus menghidupi anak cucunya. Aku sama sekali tidak pernah mengobrol dengan pengemis itu.

Apakah ia sudah meninggal ? Apakah ia sakit ? Berbagai asumsi mulai muncul dibenakku, namun aku langsung hilangkan asumsi negati yang muncul. Apakah ia sudah makmur ? Semoga saja begitu. Rasanya tidak mungkin juga tiba-tiba langsung makmur. Walau ia bukan siapa-siapaku, rasanya pagi ada yang kurang jika aku tidak memberikan sepeser uangku pada pengemis itu.

Aku masuk ke dalam gedung kuliahku.  Mendaki tangga ke lantai 4 membuat pergelangan kaki cukup pegal, lumayan olahraga pagi-pagi. Masih jam 6.55, PR sudah dikerjakan, tidak ada kuis dan sduah mengulang pelajaran di kos, yasudah ngobrol saja sembari menunggu dosen. Aku melihat temanku yang duduk di sebelahku. Ia sedang membaca sebuah selebaran.

      “Selebaran apa tuh ?”

      “Oh Diki. Ini buletin kampus. Mau baca ?” katanya menyodorkan lembaran itu padaku.

Aku membaca selebaran itu. Mataku tertuju pada sebuah artikel yang sepertinya menjawab tanyaku selama seminggu belakangan.

 

Penertiban Gepeng di Dareah Depan

 

      Minggu 20 Agustus 2011. Mungkin bagi mahasiswa yang tidak datang ke dareah depan minggu lalu, tidak akan menyadari adanya sebuah perubahan yang terjadi pada wajah kampus. Semoga kalian adalah mahasiswa yang aware sehingga tahu apa yang saya maksudkan. Jika kalian perhatikan daerah depan, coba jawab apakah minggu ini ada gepeng aka gelandang dan pengemis yang berkeliaran ? Tidak bukan. Jelas saja karena hari Minggu kemarin terjadi penertiban gepeng dalam rangka menjelang ramadhan.

      Penertiban gepeng ini terjadi di sekitar pukul 9 pagi. Saat itu aktivitas sedang berjalan biasa saat mobil satpol PP datang dan langsung menciduk semua gepeng yang mangkal di depan. Gepeng yang sedang mengemis pada pengunjung pasar minggu yang umumnya diadakan di daerah kampus langsung kalang kabut. Pemandangan yang cukup miris jika kalian melihat langsung apa yang terjadi. Banyak anak jalanan yang menangis tak ingin dibawa oleh satpol. Para pengemis tua renta pun menolak untuk diciduk. Namun apa daya mereka. Mereka hanyalah rakyat kecil yang tak punya kuasa atas perintah negara.

      Sebenarnya apakah tujuan dari penertiban gepeng tersebut ? Apakah pemerintah hanya ingin mencoba menyembunyikan sebuah realita bangsa yang tidak diinginkan ? Ataukah pemerintah hanya ingin mengamalkan UUD pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”. Jika opsi kedua yang menjadi alasan pemerintah, tentunya penertiban itu merupakan suatu hal yang mulia. Mungkin saja mereka diciduk untuk ditempatkan di panti lalu diberikan kehidupan yang lebih layak.

      Oke daripada menduga-duga, pihak buletin News Campus telah menelusuri lebih lanjut ‘insiden’ hari minggu kemarin. Setelah ditelisik ternyata pengemis tersebut ditampung di sebuah panti sosial dan diberi pembinaan lebih lanjut. Tak ada rumah tetap atau pekerjaan tetap yang diberikan hanya sebuah perkataan yang diharapkan bisa menjadi bekal bagi para pengemis. Andai bekal tersebut bisa dimakan.

      Kami hanya ingin menyoroti sebuah produk gagal dari sistem perekonomian negara. Tak perlu ada penertiban jika tidak ada gepeng. Dan tidak perlu ada gepeng jika kehidupan mereka bisa ditanggung pemerintah. Sebenarnya semua ini saling terkait, hanya kesadaran akan keterkaitan ini yang masih kurang. Jadi menurut kamu apakah penertiban gepeng itu sebenarnya perbuatan mulia ataukah hanya ingin menyembuyikan borok negara ?

 

      “Udah dateng dosennya Dik,”

      Aku menyudahi membaca buletin kampus. Saatnya melihat ke papan tulis yang mulai dipenuhi angka-angka Yunani yang memiliki seribu makna. Aku sama sekali tidak fokus pada pelajaran hari ini.

*

      Minggu depan sudah memasuki bulan Ramadhan. Aku bersyukur pada Allah aku bisa menemui bulan Ramadhan lagi. Sabtu pagi yang cerah, melangkahkan kaki ke kampus dengan seribu impian yang ingin dicapai. Hari ini ada rapat acara yang harus aku hadiri. Berhubung sebentar lagi Ramadhan, unitku mengadakan acara malam keakraban. Hitung-hitung halal bihalal ajang maaf memaakan sebelum puasa.

      Jalanan ke kampus cukup sepi, maklum sabtu pagi, masih banyak yang terpaku di kasur. Seorang pria tua yang tak asing menarik perhatianku. Pria itu sedang menengadahkan mangkuk plastik hitam yang biasa ia gunakan. Itu pengemis yang biasanya mangkal di depan kampus.

      Sudah seminggu ini ia absen. Apakah ia tidak takut kena ciduk petugas lagi ? Aku melirik arlojiku. Rapat dimulai 10 menit lagi, namun hatiku tergerak untuk bertanya pada pengemis itu. Bisa saja ia tak ada ditempat itu besok. Aku menghentikan langkahku dan mengesampingkan rapat acara di kampusku.

      “Pak…,” aku menyapa pengemis itu dengan berjongkok di sebelahnya.

      “Adik yang setiap pagi memberikan uang sedekah kepada saya bukan ?”

      Aku bingung bagaimana menanyakan agar rasa penasaran hatiku terpuaskan. Aku takut menyinggung perasaan bapak ini.

      “Ya. Bapak kemana aja selama satu minggu kemarin ?” kataku sambil meletakkan selembar lima ribu ke mangkuk uang pengemis itu.

      “Bapak kena penertiban dik.”

      “Lalu apa yang bapak lakukan selama satu minggu kemarin ? Apa bapak tidak takut terkena razia lagi jika kembali ?”

      “Bapak dibawa ke panti sosial dan diberi pembinaan. Sebenarnya mereka melarang bapak untuk mengemis lagi. Namun bapak hanya orang kecil, bapak juga sudah tua, apa yang bisa bapak lakukan selain berharap belas kasihan orang lain,” kata bapak itu dengan suara sedikit serak.

      “Memangnya bapak tidak memiliki anak yang mampu menampung bapak ?”

      Tak kusangka pengemis itu mengeluarkan air mata. Nampaknya pertanyaanku menyinggung perasaannya, membuatku menjadi tidak enak kepadanya.

      “Maaf bapak jika pertanyaan saya menyinggung perasaan bapak.”

      “Tak apa dik. Bapak mempunyai dua orang anak. Namun fisik mereka tidak memungkinkan untuk bisa mengurus diri mereka sendiri.”

      “Mmmm, kalau boleh apakah saya bisa menjenguk anak bapak ?” Entah dapat angin darimana sampai aku bisa mengatakan itu.

      Apa yang sedang kau pikirkan Diki ? Apa kamu mau menjadi pahlawan bagi pengemis ini ? Sadar, kamu hanyalah mahasiswa yang sedang menimba ilmu, kamu bisa apa ? Setelah nanti datang ke rumah pengemis ini, kamu mau berbuat apa memang ?

      “Adik yakin ? Rumah saya kumuh jauh dari rumah adik yang gedongan.”

      “Saya yakin pak,” walaupun sebenarnya aku tidak yakin.

*

      Hanya hati kecil yang menggerakkan kemauanku untuk datang ke tempat kumuh ini. Aku berjalan melalui gang-gang kecil, becek dan bau. Pengemis itu menuntun jalanku di depan. Aku tak tahu berada di daerah mana. Yang jelas ini jauh dari kos-kosanku. Orang-orang yang tinggal disini semua melihatku karena baju dan sepatuku lebih bagus dari milik mereka.

      Aku memasuki gang yang semakin kecil, semakin tidak layak dihuni manusia. Aku tak percaya pengemis ini tinggal bertiga dengan kedua anaknya di lingkungan seperti ini. Miris sekali. Pandanganku tentang realita bangsa mulai terbuka.

      Aku sampai di sebuah gubuk kecil, 5 kali 6 meter. Gubuk yang terbuat dari seng dan triplek seadanya, jauh dari kata layak huni. Aku seperti ditampar oleh kondisi. Selama ini aku jarang bersyukur atas semua nikmat yang aku peroleh. Banyak orang yang tidak seberuntung diriku.

       Pengemis itu membukakan pintu dan mempersilakanku masuk. Aku membuka sepatu dan masuk ke gubuk itu. Tak kusangka aku seorang anak orang kaya bisa tercebur di tempat seperti ini. Mungkin kalau bukan karena hati kecil yang menggerakkan, tak mungkin aku mau kesini.

      Aku melihat seorang laki-laki yang terbaring di tikar yang melapisi gubuk. Ia lebih tua dariku, mungkin seumuran dengan bapakku. Laki-laki itu sangat kurus, ia terlihat seperti tulang yang dilapisi kulit. Tubuh laki-laki itu hanya ditutupi sarung dan selimut. Laki-laki itu hanya memandangku dan pengemis itu tanpa bisa berkata apa-apa. Kulitku merinding melihat pemandangan miris ini.

      “Bapak pulang,” kata pengemis itu pada anaknya.

      “Anak bapak kenapa ?” aku bertanya

      Pengemis itu hanya memandang sedih anaknya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya yang sudah berkeriput. Kerutan di wajahnya makin terlihat saat ekspresi kesedihan itu melanda hatinya. Suaranya serak, menceritakan semua keluh di hatinya.

      “Sudah hampir 20 tahun anak bapak seperti ini. Anak bapak terkena lumpuh layuh semenjak remaja. Bapak sudah lakukan semua untuk mengobati anak bapak. Namun bapak tidak mempunyai dana untuk pengobatan lebih lanjut. Bapak sudah kesana kemari mencari donatur yang bisa mengasihani bapak. Semua hasil jerih payah bapak semasa dulu sudah habis untuk pengobatan anak bapak. Bapak tidak peduli. Bagi bapak apapun akan bapak lakukan untuk menyembuhkan anak bapak.”

      “Isteri bapak kemana ? Tadi bapak bilang anak bapak ada dua ?”

      “Mereka berdua sudah dipanggil terlebih dahulu oleh Allah. Isteri bapak terkena malaria, sedangakan puteri bapak juga terkena lumpuh layu. Namun puteri bapak tidak bisa bertahan seperti abangnya. Bapak masih belum bisa melepas kepergian putri bapak. Sampai sekarang bapak masih ingin menganggap anak putri bapak masih ada” kata pengemis itu. Ia tetap tegar walau air mata mengalir dari wajahnya.

      “Bapak akan terus berjuang. Bapak tidak ingin kehilangan harta bapak yang terakhir.”

      Aku menitikkan air mata. Tak kusangka di tempat yang tak layak huni ini, tinggal manusia yang begitu bersemangat, memiliki visi hidup dan kasih sayang yang besar. Seorang bapak yang ingin menghidupi anaknya, tak pernah lelah untuk berjuang demi orang yang disayanginya.

      Lagi-lagi aku seperti ditampar. Selama ini aku selalu menyia-nyiakan uang dari kedua orang tuaku, menggunakannya untuk hura-hura. Aku juga terkadang malas kuliah, tak bersyukur karena aku masih bisa berkuliah. Selama ini aku kurang bersyukur, tak sadar masih banyak orang lain diluar sana yang merengek untuk berada diposisiku.

      Aku menghapus air mataku. Aku memang hanyalah seorang mahasiswa, namun aku adalah agen perubahan. Optimis, pasti ada yang bisa aku lakukan untuk membantu pengemis ini. Aku harus bagi keberuntunganku padanya.

*

      Aku mengangkat tangan yang berarti ada pendapa yang ingin aku sampaikan. Aku sedang berada dalam rapat acara unit yang aku geluti di kampus. Aku sudah memikirkan detail yang akan aku ungkapkan.

      “Teman-teman aku punya konsep baru yang mau aku ajukan. Mungkin ini benar-benar berbeda dengan konsep acara malam keakraban kita. Aku ingin kita mengadakan malam amal untuk acara keakraban  dan bukan jalan-jalan ke vila seperti default awalnya.”

      Aku menarik nafas sembari melihat ekspresi teman-temanku.

      “Begini teman-teman. Selama ini kita selalu makan enak, tidur nyenyak, punya barang mewah, teman-teman senang bukan ? Apakah teman-teman pernah berpikir banyak orang lain diluar sana yang tidak seberuntung kita. Kemarin baru saja ada penertiban gepeng di dareah depan. Teman-teman tahu, para gepeng hanya diberi pembinaan lalu dilarang untuk mengemis lagi. Kalau tidak mengemis mereka mau makan apa. Disini saya bukan mau menyetujui kalau mengemis adalah suatu profesi yang benar, namun disini saya hanya ingin mencoba berpikir dari sudut pandang mereka. Mungkin bagi kita bantuan yang akan kita berikan ke mereka tidak seberapa, namun bagi mereka itu adalah suatu nominal yang tidak ternilai. Dana yang sudah kita kumpulkan untuk malam keakraban akan lebih bernilai jika kita alokasikan untuk suatu hal yang berguna bagi orang lain. Berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan insyaallah akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan kita pergi ke puncak untuk bersenang-senang. Apalagi ini mau bulan puasa. Jadi teman-teman saya mohon untuk mempertimbangkan pendapat saya.”

      Aku melihat ke arah teman-teman yang heran akan pendapatku. Aku jarang berpendapat di forum, jadi aku tak tahu apakah aku bisa mempengaruhi mereka. Gemuruh kecil menggema ketika mereka mengomentari apa yang aku katakan.

      “Tenang teman-teman,” kata moderator rapat.

      Seseorang mengangkat tangan

      “Saya setuju sama Diki. Dari awal saya emang nggak setuju konsep yang ini. Saya pikir berbagi dengan yang membutuhkan akan jauh lebih membawa berkah daripada menghabiskan uang kita untuk suatu hal yang hura-hura.”

      “Aku juga setuju dengan usul Diki. Lebih baik buat acara yang berguna bukan sekedar ada gunanya. Kita mahasiswa dan seharusnya mempunyai tanggung jawab lebih sebagai agent of change,” kata salah satu temanku.

      Aku senang, akhirnya aku bisa membuat teman-temanku mau membantuku mengadakan acara malam amal. Semua setuju dengan pendapatku. Aku senang karena setidaknya aku bisa berbuat sesuatu kepada mereka. Aku senang bisa membuat orang lain tersenyum.

      Kami mengadakan malam amal di dareah tempat pengemis itu berada seminggu kemudian. Kami berinteraksi langsung dengan mereka ketika malam amal. Semua terlihat kaget dan prihatin dengan lingkungan kumuh yang dihuni para ‘sampah masyarakat’ ini. Bagiku mereka bukan sampah, mereka hanyalah orang yang kurang beruntung.

      Mungkin pemberian sembako dan hiburan tak seberapa membantu, namun yang aku inginkan hanyalah berbagi keberuntunganku pada mereka. Tak peduli tentang nominal, sebuah senyum yang terhias di wajah mereka adalah nominal yang tak ternilai harganya. Saat membagi dunia yang indah dengan mereka adalah waktu yang tak ternilai harganya.

      Ini hanyalah awal, masih banyak hal lain yang dapat aku lakukan untuk mereka. Aku memang hanya mahasiswa yang sedang menimba ilmu. Suatu saat aku akan menggunakan ilmuku untuk berbagi dengan mereka. Ini adalah pelajaran berharga untukku karena saat ini aku sedang belajar untuk menghargai apa yang telah aku dapatkan dan memberi apa yang aku punya pada orang yang membutuhkan

*

      Aku melihat buletin kampus yang baru terbit. Langsung kubuka lembaran itu dan mencari ke sebuah kolom. Namaku tertera di kolom itu sebagai kontributor. Sempat malu juga, aku tidak pandai menulis dan sekarang tulisanku dimuat di buletin yang di baca seluruh massa kampus. Aku membaca artikel yang aku buat itu.

Pasal 34 Ayat 1 (?)

     

      “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Begitulah pasal 34 Ayat 1 UUD 1945. Aku kagum sekaligus bingung dengan kalimat ini. Disatu sisi, saya salut dengan negara yang mempunyai niat yang sungguh mulia, mau menjamin kesejahteraan 200 juta penduduk Indonesia yang terdiri dari berratus suku dan golongan dengan persebaran penduduk yang luas. Hal itu juga yang sekaligus membuat saya bingung. Mmengapa sekarang masih banyak fakir miskin dan anak terlantar yang berkeliaran di jalan ? Katanya fakir miskin dan anak terlantar diperlihara oleh negara. Disini saya melihat sebuah kontradiksi yang menjadi goresan permanen di wajah bangsa ini.

      Masih ingat ‘insiden’ penertiban gepeng di daerah depan ? Saya yakin semua masih ingat karena kalian adalah mahasiswa, agen perubahan yang berada di lini depan, yang harus kritis terhadap realita bangsa. Kemarin sebuah LSM mengadakan demo menetang penertiban gepeng. Spanduk dan orasi mereka utarakan untuk membela hak para gepeng. Apakah demo itu mengubah segalanya ? Apakah dengan demo itu fakir miskin dan anak terlantar langsung menghilang dari jalan ? Saya rasa jawabannya tidak.

      Sebenarnya apakah penertiban gepeng salah ? Sebenarnya tidak salah jika implementasi pasal 34 tersebut sudah menjadi hal yang nyata dan sebenarnya salah jika negara tidak bisa menjamin makan mereka. Jika kita mencari siapa kambing hitamnya disini, maka artikel ini tidak akan ada habisnya. Disini tidak akan dicari siapa yang salah dan siapa yang benar, yang dicari adalah solusi dan tindakan yang bisa dilakukan.

      Sebelumnya mari kita lihat kembali lihat 34, khususnya 3 kata terakhir “… dipelihara oleh negara.” Sebenarnya apa definisi negara ? Definisi negara adalah (1) organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat (2) kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya (KBBI).       

      Ada tiga unsur negara yaitu wilayah, rakyat, pemerintahan. Lihat kembali pasal 34 “… dipelihara oleh negara.” Dengan kata lain dipelihara oleh wilayah, rakyat dan pemerintah. Kita sebagai rakyat juga memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pemerintah dalam memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Tak perlu berdemo menuntut pemerintah mengentaskan kemiskinan jika kita sendiri belum melakukan usaha nyata untuk memberantas kemiskinan. Ingat kita semua bersaudara, bernaung dibawah bendera merah putih negara ini. Sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu sesama saudara.

       Tak perlu hal besar untuk melakukan perubahan, cukup mulai dengan hal-hal kecil yang bisa membawa perbaikan walaupun hanya setitik. Jangan pesimis karena kalian hanya bisa memberi sepeser uang untuk mereka. Bhinneka Tunggal Ika, Walaupun berbeda suku, agama, ras, status sosial kita semua adalah warga nergara Indonesia, satu keluarga besar. Sudah sepantasnya jika kita melihat keluarga yang susah seperti fakir miskin dan anak terlantar, maka kita harus bersatu untuk membantunya. Menurut pribadi saya itulah makna dari pasal 34 ayat 1.

     

Diki

Advertisements

2 comments on “Pasal 34 Ayat 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s