Ekstraterestrial (PART I)

Bikin cerpen science fiction lagi. Kalau aneh komen aja ya. Krisan sangat diharapkan. inspirasi –> #np Katy Perry – E.T.

Aku meregangkan tubuhku, menikmati sinar matahari yang menembus masuk melalui jendela kamar. Embun-embun tipis menempel di dinding kamar, menandakan dinginnya udara pagi ini. Hawa segar dari tanaman hijau menyerbak masuk ke tempat tidurku, membuatku ingin kembali membungkus diri di bawah selimut dan kembali bergumul dengan bunga tidurku.

Sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini. Pedesaan yang tentram tanpa polusi dan bising kendaraan. Aku bangun dari kasur, melawan naluriku yang menyuruhku untuk tidur. Aku membuka jendela kamarku, menikmati pemandangan yang jarang aku temui. Tak ada gedung ataupun jalan raya, yang ada hanyalah ladang gandum yang terbentang luas. Bulir-bulir gandum yang kecoklatan, menunduk di hamparan tanah yang subur. Jalan-jalan setapakmenyelip diantara deretan gandum bagaikan urat-urat yang membentuk pola di ladang.

Rasanya seperti kembali ke masa kecil lagi, tidur di kamar ini lagi, bangun tanpa beban pekerjaan yang menumpuk untuk kemudian menikmati sarapan lezat yang dibuat oleh ibu. Kamar masa kecil ini sudah menjadi saksi bisu perjalanan hidupku. Ibu masih menjaga keaslian dan dekorasi kamarku ini, membuatku selalu merindukan kamar ini ketika aku sedang bekerja di kota.

Desa kecil di negara barat ini merupakan tempat kelahiranku 25 tahun lalu. Selama 17 tahun aku tinggal di desa ini sampai aku hijrah ke Washington untuk melanjutkan studiku. 17 tahun aku disini dan aku sudah hafal semua seluk beluk desa ini, semua jalan-jalan kecilnya, dan semua tempat-tempat indah disini. Ketika kecil aku senang sekali bermain di danau yang terletak 1 kilometer dari rumahku. Ayunan kecil dari ban yang terletak dibawah pohon dibuat ayah untukku bermain. Berat rasanya ketika harus pergi meninggalkan desa ini dan segala kedamaiannya.

Namun itu sekarang hanyalah masa lalu yang akan mengisi memoriku. Aku sudah dewasa sekarang. Kota metropolitan merupakan keseharianku. Bekerja sebagai karyawan swasta dengan jam kerja 9 to 5 pm, pastinya membuatku tak dapat sering-sering pulang ke desa kelahiranku. Cuti seminggu yang aku ambil sangatlah tepat untuk membuang segala penat atas lembar-lembar kertas dan deretan angka di layar komputer yang biasanya aku hadapi.

Koperku masih belum dibuka, baru kemarin sore aku sampai. Baru saja aku ingin membereskan koperku namun aroma sosis dan omelete yang enak menghancurkan niatku. Nampaknya ibu sedang membuat sarapan pagi. Ah nanti saja deh beres-beresnya. Aku langsung menuju ruang keluarga di lantai satu. Ruang keluarga tetap seperti ini, sofa cokelat yang empuk, meja kayu yang menopang semua dokumentasi keluarga,  vas bunga yang berisi lavender ungu di sudut ruangan, ah jadi rindu masa kecil.

Ayah sedang duduk di sofa, menyaksikan berita di televisi. Aku menuju dapur, sumber aroma lezat yang menggugah selera makanku. Ibu sedang berdiri di belakang kompor. Suara desis antara minyak dengan daging sosis, tiga buah piring kosong yang tertata di meja makan dan sudah pasti roti gandum khas desa ini, aku sudah tak sabar untuk makan.

“John, kamu sudah bangun ?”

“Iya bu. Masak apa untuk sarapan ?”

“Seperti biasa, sosis, omelete, pasta dan roti gandum. Tak apa kan ?”

“Tak apa bu. Saya sudah kangen dengan makanan ini, apalagi kalau ibu yang memasak.”

“Sana panggil ayahmu. Kita makan bersama.”

Suasana makan yang tenang, hanya ada aku, ibu dan ayah, aku memang anak tunggal. Ayahku seorang petani gandum. Semenjak kecil aku sering membantu ayah untuk bertani gandum. Namun ayah tak mau aku menjadi sepertinya. Ia ingin aku meraih sesuatu yang lebih besar darinya, padahal aku sudah mau kalau misalnya masa depanku aku habiskan di ladang gandum ini. Well, ayahku sudah mempunyai 8 orang petani yang bekerja kepadanya. Merekalah yang akan menggantikan ayah jika ia pensiun nanti.

“Ayo makan yang banyak John, kamu terlihat kurus begitu,” kata ayah.

“Iya.  Udah lama kan nggak makan pasta buatan ibu.”

“Iya bu. Tidak terasa udah 8 tahun John meninggalkan desa. Terakhir John kesini itu kira-kita satu tahun lalu,” kataku sambil mengambil sesendok pasta ke dalam piringku.

“Satu tahun lima bulan dan enambelas hari, “ ucap ibu.

“Ibumu ini loh nak, tiap hari kerjaannya nanyain kamu terus sampai-sampai dihitungin hari kamu absen dari rumah,” kata ayah.

“Ibu terlalu khawatir. Aku baik-baik aja kok di kota.”

“Habis ibu khawatir. Kamu kan belum ada yang ngurus di sana.”

Mulai memasuki pembicaraan yang menjurus. Aku sudah 25 tahun, sudah memasuki masa-masa mencari jodoh. Namun sampai saat ini memang aku masih menjadikan karir sebagai prioritas utama. Ibuku memang memiliki sifat khawatir yang berlebihan. Mungkin karena aku yang anak tunggal, ia menginginkan yang terbaik untukku.

“Nantilah bu. Aku masih belum siap untuk itu.”

“Iya, Ibu tidak akan memaksa John. Ayo diambil itu rotinya. Itukan kesukaan kamu waktu kecil.

Aku mengawali dengan sepotong roti gandum khas desa ini. Desa ini menghasilkan gandum sebagai komoditi utama. Hampir semua penduduk di desa ini memiliki ladang gandum atau bekerja di ladang gandum. Selain itu ada juga yang beberapa rumah yang mengolah gandum menjadi roti. Roti ini sangat khas, memiliki aroma yang wangi dan kelembutan yang rata-rata. Aku suka sekali roti ini.

“Hari ini kamu mau kemana ?”

“Aku mau ke danau bersama Diana dan Mike. Aku sudah menghubungi mereka berdua kalau aku akan datang. Mereka senang sekali bisa kedanau bersamaku lagi.”

Semasa kecil aku mempunyai teman sepermainan, mereka adalah Diana dan Mike. Kami semua sumuran dan satu sekolah dulu. Tidak sepertiku yang hijrah ke kota, mereka tetap tinggal di desa ini sampai dewasa. Mike adalah petani gandum, melanjutkan ayahnya. Diana adalah anak pemilik salah satu pabrik pembuatan roti gandum, dan sudah pasti ia yang akan melanjutkan usaha keluarga itu.

“Oh ya John. Bagaimana dengan pekerjaanmu di kota sana ?”

“Doakan saja bu. Semoga karir John lancar dan John bisa cepat di promosikan.”

Tak ada hal yang paling menyenangkan selain berkumpul bersama keluarga ditemani makanan enak yang sudah lama kurindukan. Obrolan santai memang obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan kerinduan akan masa kecil. Aku mengelus perutku karena sudah kepenuhan. Makanan yang dibuat ibu memang enak. Aku membersihkan diri sebagai intro untuk memulai hari ini.

Keluar rumah dan langsung menuju ke rumah Diana yang tak terlalu jauh dari rumahku. Udara sedang tidak panas, awan putih besar menghalangi matahari untuk menyengat kulitku. Rumahku memang yang paling dekat dengan ladang gandum sedangkan rumah penduduk desa yang lain harus sedikit lebih masuk. Kalau mau masuk ke desa, pastilah melewati rumahku. Tidak terlihat aktifivtas yang signifikan di ladang gandum. Kebanyakan hanya tinggal menunggu masa panen.

“Hei John, long time no see,” Diana menyambutku di depan pintu rumahnya.

Untuk ukuran wanita, ia adalah wanita yang cukup tomboy. Rambut sebahu dengan kaus dan celana jeans, ia tidak berubah semenjak terakhir aku bertemu dengannya.  Ketika kecil dulu, ia yang paling jago memanjat pohon dan berenang. Aku yang laki-laki saja kalah dengan ketangguhannya.

“Bagaimana kabarmu ? Kau terlihat lebih kurus dari terakhir kita bertemu John.”

“Ya baik-baik saja. Memangnya begitu ya ? Aku merasa tubuhku sama-sama saja.”

“Hei John.” Suara pria di kejauhan menyambut kami berdua.

Itu adalah Mike. Rumah Diana dan Mike memang bersebelahan. Berkumpul bertiga lagi, dulu kami menganggap diri kami the three musketer, dan selalu berpetualang bersama. Namun itu sekarang hanya menjadi kenangan masa kecil yang siap untuk di dongengkan ke anak-anak kami nanti. Mengobrol santai di pekarangan rumah Diana, dibawah rindangnya pohon besar. Memang ya, persahabatan tidak akan dikekang oleh waktu, ia adalah sesuatu yang abadi.

“Hei, mari kita lanjutkan ngobrolnya di danau. Kamu pasti sudah kangen kan dengan danau ?”

“Iya yuk.”

“Tunggu. Aku mau ambil cemilan dulu untuk kita nikmati di pinggir danau,” kata Diana langsung masuk ke dalam rumah.

“Mike, ada kejadian apa semenjak aku terakhir meninggalkan desa satu setengah tahun lalu ?”

“Tidak ada kejadian apa-apa, hanya saja…,”

“Hanya saja ?”

“Belakangan ini warga sering melihat sesuatu dilangit ketika malam hari ?”

“Sesuatu apa ?”

“Seperti cahaya bola cahaya. Ia menyala, berputar di langit kemudian menghilang.”

“Yuk kita ke danau,” Diana sudah datang dengan bungkusan cokelat di tangannya.

Kami langsung beranjak menuju danau. Danau itu terletak sekitar 2 kilometer dari rumah Diana. Untuk ke danau, kami harus menembus ladang gandum agar tidak terlalu jauh. Danau merupakan objek wiasata bagi kami bertiga. Dulu kami sering sekali lomba lari dan menjadikan danau sebagai garis finishnya.

“Tadi kamu bilang bola cahaya ?”

“Iya loh John. Udah tiga orang warga yang melihat ada bola cahaya,” sambung Diana.

“Bola cahaya apa sih ?”

“Nggak tahu. Aku juga belum pernah lihat. Tapi ya bola cahaya gitu. Warnanya putih. Munculnya di atas ladang gandum.”

“Mungkin kunang-kunang yang berkumpul kali ya,” kataku.

“Entahlah. Oh ya bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu ?” Tanya Mike padaku.

“Kekasih ? Akubelum punya pacar.”

“Tuh Diana, kamu berarti masih punya peluang.”

“Apa sih kamu Mike. Kok ngomongnya ngelantur begitu. Kamu tuh cepet-cepet cari gandengan. Masa anti nikahnya sama orang-orangan sawah ?”

“Eits enak aja. Tinggal tunggu undangan aja ya kalian berdua.”

“Undangan apa nih ? Undangan nikah sama orang-orangan sawah ?”

Kamu bertiga melepas canda di sepanjang perjalanan menuju danau. Di kanan dan kiri kami hanya ada tanaman gandum. Semilir angin membelai tubuh kami, memandikan kami dengan hangatnya udara persawahan. Baru setengah jalan menuju danau saat kami menyadari ada sesuatu yang aneh. Langkah kami terhenti saat melihat fenomena aneh terjadi pada tanaman gandum.

“Kamu lihat itu ?” Mike menunjuk ke sederet tanaman gandum yang merunduk.

“Ih itu kenapa ?”

Kami bertiga berjalan memasuki ladang gandum. Aneh. Deretan tanaman gandum ini merunduk. Batangnya berbelok namun tidak patah, menyebabkan ia lebih pendek dari tanaman yang tidak berbelok. Kami menyusuri deretan tanaman gandum yang aneh ini. Deretan tanaman yang berprilaku aneh ini bercabang-cabang, seperti membentuk sebuah pola.

“Lihat, disana juga ada,” tunjuk Diana.

“Ini sebenernya kenapa sih ?”

“Iya kayaknya kemaren nggak kenapa-kenapa.”

“Apa ada orang iseng yang memangkas tanaman gandum ini ?” tanyaku.

“Buat apa ? Lagipula sekarang belum masa panen. Dan kalau mau panen kan dicabut semua bukan dibengkokkan seperti ini,” Mike memotong satu batang gandum yang berbelok.

“Apakah ini…, Crop circle ?” Diana memandang aku dan Mike dengan kebingungan.

“Kita tak tahu kalau tidak melihatnya dari atas. Mari memanjat pohon itu untuk memastikan.”

Kami berjalan menuju ke sebuah pohon besar. Sebuah tanda Tanya melintas di otakku. Bola Cahaya ? Crop Circle ? Apakah ada aktivitas makhluk ekstraterestrial di desa kecil ini. Ah aneh-aneh saja kalau misalnya ini crop circle. Diana masihlah tangguh, ia memanjat pohon besar itu dengan cekatan. Aku mengikuti langkah Diana dan Mike. Pohon cukup tinggi untuk bisa melihat apa sebenarnya yang terjadi di ladang itu.

“Oh Tuhan. Ternyata itu benar Crop Cirle,” kata Diana yang berada di ranting yang lebih tinggi.

“Iya. Betapa bagus dan misterius,” kata Mike.

“Kita harus segera memberitahu ini kepada penduduk desa.”

Deret-deret dari gandum yang berbelok membentuk sebuah bentuk rumit dengan akurasi yang besar. Lingkaran-lingkaran yang berjejer membentuk sebuah pola indah berdasarkan trigonometri ruang. Bentuk yang indah, tanpa goresan yang salah dan cacat, bagaikan lukisan yang dibuat oleh Tuhan dengan ladang gandum sebagai kanvasnya. Baru kali ini aku melihat crop circle secara langsung.

Kami bertiga turun dari pohon dan bergegas menuju ke pemukiman penduduk. Nampaknya perjalanan ke danau ditunda untuk sementara.  Tak ada yang menyadari ini karena gandum hanya tinggal panen sehingga petani tidak ke sawah selama beberapa hari.

“Apakah ini hanya perbuatan orang iseng saja ?”

“Namun untuk tujuan apa ?”

“Entah lah. Mungkin hanya untuk menakut-nakuti penduduk desa semata.”

“Memangnya tidak ada pekerjaan lain selain menakut-nakuti penduduk desa.”

“Jadi ini perbuatan alien ?”

“Entahlah. Nobody’s know.”

*

“John, ada yang ingin bertemu denganmu,” ayah memanggilku yang sedang beres-beres di kamar.

“Siapa yah ? Aku malas bertemu dengan wartawan yang ingin menanyakan crop circle.”

“Bukan. Mereka badan inteligen negara. Lebih baik kamu jangan mempunyai masalah dengan mereka.”

Aku turun ke lantai satu untuk menemui mereka. Badan inteligen negara ? Atau lebih common disebut FDI (plesetin dikit ya biar nggak ada kesamaan tokoh). Walaupun aku tak melakukan kesalahan apa-apa, tetap saja jantungku  berdebar. Dua orang rapi dengan kemeja hitam duduk di ruang keluarga di lantai satu. Tatapan mereka tajam, seakan bisa melihat isi kepalaku.

“Selamat siang John Perry, kami dari badan inteligen negara,” mereka memperkenalkan diri dan menunjukkan kartu identitas mereka.

“Kalau tidak keberatan, kami ingin menjadi pembicaraan 6 mata,” mereka menatap ibu dan ayahku yang duduk di sampingku.

Ibu dan ayahku langsung cabut dari ruangan. Mengapa suasana jadi mencekam begini. Oke, take a breath and be relax John.

“Jadi anda dan dua teman anda yang menyadari adanya fenomena crop circle ini benar ?”

“Iya pak.”

“Apakah anda tahu kalau ini merupakan perbuatan iseng seseorang ataukah tidak ?”

“Saya tidak tahu pak. Saya baru kemarin sampai di desa kelahiran saya ini. Saya sedang mengambil cuti selama seminggu.”

“Apakah anda mengerti makna crop circle yang muncul di ladang gandum itu ?”

“Mana saya tahu pak. Saya tidak ahli dalam trigonometri.”

“Apakah Anda sering membantu ayah Anda ketika ia bertani dulu ?”

“Ya, hampir setiap hari saya membantu ayah saya.”

“Jadi Anda mengerti bagaimana cara bertanam gandum dan semua tentang pertanian ?”

“Ya, saya mengerti. Namun sudah lama sekali saya tidak kesawah lagi. Anda mencurigai kalau saya yang membuat crop circle itu ?” kataku.

“Tentu tidak. Track record Anda tidak menunjukkan kalau Anda berkualifikasi untuk membuat hal seperti crop circle. Satu lagi pertanyaan kami. Apakah Anda menemukan sesuatu atau mengambil sesuatu di daerah crop circle itu ?”

“Tidak pak. Sesuatu apa yang bapak maksud ?”

“Baiklah. Sudah cukup pertanyaan kami. Terima kasih banyak John.”

Kunjungan mendadak yang tak menyenangkan dari kedua FDI itu. Sepertinya kunjungan mereka menjadi kunjungan pembuka bagi pada awak media yang datang. Desaku langsung berubah menjadi ramai dalam waktu 2 jam. Wartawan dari berbagai media datang untuk mengabarkan kemunculan crop circle di desaku. Militer dan badan intelegen pun datang memeriksa. Ketentraman desa terusik oleh datangnya mobil-mobil dan orang-orang asing tak dikenal. Berhubung kami bertiga orang yang pertama kali menyadari hadirnya crop circle ini, maka kami menjadi sasaran empuk pencari berita.

“Jadi anda yang menyadari hadirnya crop circle ini. Apakah sebelumnya pernah ada gejala-gejala atau fenomena aneh ?”

“Ya, beberapa waktu belakangan ini pernah muncul bola-bola cahaya di langit. Kami tak tahu apakah itu ada hubungannya dengan peristiwa ini atau tidak,” ujar Mike kepada wartawan.

Aku memilih untuk tidak terlalu banyak bicara. Aduh BT deh, niatnya mau melepas penat malah masuk televisi karena menjadi saksi mata. Pasti nanti teman-teman kantor banyak yang bertanya mengenai ini. Harus siap-siap untuk wawancara sesi 2 di kantor secara wajahku muncul beberapa kali di televisi nasional.

*

Malam sudah terbit. Bulan purnama sedang tersenyum manis di langit yang gelap. Tak ada lagi wartawan atau FBI, hanya ada aku, ibu dan ayah di meja makan ini. Besok aku, Diana, dan Mike akan melanjutkan rencana untuk pergi ke danau. Tak afdol kalau pulang ke desa ini namun tidak ke danau. Aku membalikkan garpuku, menandakan aku sudah usai makan.

“Emangnya kemarin-kemarin pernah ada bola cahaya yah ?” tanyaku pada ayah.

“Katanya sih begitu. Ayah juga belum pernah lihat. Udah paling crop circle ini pekerjaan anak yang usil.”

“Ya semoga begitu.”

Setelah makan, aku langsung berbaring di kasur. Baru jam 8 malam, namun perasaan sudah sangat mengantuk. Kalau di kota jam segini aku mungkin baru pulang kantor. Ah saatnya menikmati cuti dengan pergi tidur cepat. Dulu kalau kecil, ibu biasanya selalu membawakan susu hangat sebelum aku tidur. Hah, masa sih masih mau bermanja-manja seperti anak kecil di usiaku yang sudah 25 tahun ini. Sudah ah, lebih baik aku tidur sekarang.

“DUAAR.”

Aku tak tahu sekarang jam berapa, dan siapa orang iseng yang membuat suara gaduh itu. Ketenangan malam terusik oleh suara ledakan di depan rumahku. Aku langsung beranjak dari kasur untuk mengecek halaman rumah. Seperti ada suara ledakan bom berdaya rendah. Masa sih ada teroris di desa kecil ini.

“Suara apa itu John ?”

“Entahlah yah. Aku baru mau mengecek.”

Bersama ibu dan ayah, aku menuju halaman rumah. Hawa sungguh dingin ketika angin menerpa kulitku. Sumber ledakan berada di halaman belakang rumah. Deg-degan, apapunini mungkin saja bisa mengancam nyawaku. Sebuah benda terbuat dari metal tergeletak di belakang rumahku. Benda itu seukuran mobil, namun bentuknya bulat pipih. Kobaran api kecil menyala di sekeliling benda itu. Biasanya aku melihat benda ini hanya di televisi. Itu…, UFO.

BERSAMBUNG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s