Ekstraterestrial (PART II)

playing with imagination

“DUAAR.”

Aku tak tahu sekarang jam berapa, dan siapa orang iseng yang membuat suara gaduh itu. Ketenangan malam terusik oleh suara ledakan di depan rumahku. Aku langsung beranjak dari kasur untuk mengecek halaman rumah. Seperti ada suara ledakan bom berdaya rendah. Masa sih ada teroris di desa kecil ini.

“Suara apa itu John ?”

“Entahlah yah. Aku baru mau mengecek.”

Bersama ibu dan ayah, aku menuju halaman rumah. Hawa sungguh dingin ketika angin menerpa kulitku. Sumber ledakan berada di halaman belakang rumah. Deg-degan, apapunini mungkin saja bisa mengancam nyawaku. Sebuah benda terbuat dari metal tergeletak di belakang rumahku. Benda itu seukuran mobil, namun bentuknya bulat pipih. Kobaran api kecil menyala di sekeliling benda itu. Biasanya aku melihat benda ini hanya di televisi. Itu…, UFO.

“Bu, cePat telepon polisi,” kataku.

Aku mengambil sepotong kayu dan mendekati benda itu. Jadi kita tidak sendiri di bumi ini. Jadi ada kehidupan lain di alam semesta. Jadi peluang kehidupan itu memang benar. Jadi semua film-film ekstraterestrial di televisi itu terinspirasi dari kenyataan. Aku menelan ludah sembari memantapkan langkahku.

“Apakah kita tidak lebih baik menunggu polisi saja John,” kata ayah.

Aku mengabaikan kata ayah. Sudah menjadi sifatku yang ingin selalu tahu. Aku mengetuk dinding UFO itu dengan kayu yang aku pegang. Tak ada reaksi apa-apa. Aku mengetuk kembali, namun kali ini lebih keras. Tiba-tiba sebuah pintu kemudian terbuka disertai asap tipis yang keluar dari dalam pintu itu. Aku tersentak mundur karena kaget.

Seseorang atau tepatnya sesuatu keluar dari dalam UFO itu. Makhluk itu sama dengan makhluk yang aku sering lihat di film ekstraterestrial. Berotak besar dengan mata hitam yang besar berada di balik helm yang ia kenakan. Kulitnya putih ditutupi oleh baju astronot. Tubuhnya kecil, bila dibandingkan dengan kepalanya. Ia berjalan sempoyongan keluar UFO.

Makhluk itu menatap aku dan ayah selama beberapa detik. Help me. Sebuah suara memasuki otakku, seperti sebuah telepati. Makhluk itu akhirnya terjatuh ke tanah. Aku berjalan menuju makhluk itu yang sudah tak sadarkan diri.

“Ayah merasakan apa yang aku rasakan ?”

“Ia, ayah merasa ia berkata untuk menolongnya.”

“Mari kita bawa makhluk ini ke dalam rumah.”

Aku masih bingung. Apakah ini mimpi atau kenyataan. Aku sama sekali tak pernah bermimpi untuk menemukan makhluk luar angkasa seperti ini apalagi sampai menggendongnya ke kamarku. Jadi benar, crop circle itu merupakan aktivitas alien dan bukan pekerjaan orang iseng.

“Ya ampun makhluk apa ini ?” ibu tersentak kaget.

“Ia yang berada dalam benda metal tadi bu.”

“Kenapa kalian membawanya ke dalam rumah ?”

“Ia meminta tolong kepada kami tadi.”

“Kalian bisa bicara dengannya ?”

“Ia seperti bertelepati kepada kami.”

Kami memandangi makhluk itu yang berbaring di kasur. Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya ? Merinding, mungkin hanya itu yang bisa kurasakan. Ini seperti menemukan hantu di dalam rumah.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?”

“Kita tunggu polisi saja. Mereka sebentar lagi datang.”

Suara derung mobil di halaman depan menandakan mereka sudah datang. Cepat sekali, hanya butuh 10 menit semenjak ditelepon. Ayah dan ibu pergi ke bawah untuk menyambut polisi yang datang sedangkan aku tetap berada di kamar bersama makhluk itu. Alien itu menggerakkan kepalanya, menandakan ia sudah sadar. Makin transparan, makhluk itu makin transparan, bahkan aku bisa melihat bed cover di balik tubuhnya. Makhluk itu makin transparan dan akhirnya tak terlihat. Bingun bercampur merinding, kenapa ia tiba-tiba bisa menghilang ?

“Itu dia aliennya pak,” kata Bapak sambil menunjuk ke kasur yang sudah kosong.

“Mana makhluk yang bapak maksudkan ?” kata agen FDI yang datang bersama bapak.

“John, dimana makhluk itu ?”

“Dia menghilang yah. Tiba-tiba ia menghilang. Sumpah, aku tak melakukan apa-apa. Tiba-tiba ia hilang.”

Kedua agen FDI melihatku dengan tatapan tajam. Kalau begini kelihatannya aku menyembunyikan dia. Namun aku berani bersumpah kalau aku tidak berbuat apa-apa.

“Baiklah. Izinkan kami untuk menggeledah rumah anda. Silakan anda tunggu diluar,” kata salah satu agen.

Kami lebih banyak menurut pada mereka. Aku menjelaskan pada agen FDI tentang deskripsi makhluk yang aku lihat dan bagaimana dia menghilang. Mereka semua terlihat tenang, tanpa ada ekspresi kaget atau semacamnya. Apakah mereka sudah tahu kalau ada makhluk ekstraterestrial seperti itu ? Well, mungkin ini top secret negara.

Sudah pukul 3 pagi saat mereka semua selesai menggeledah rumah. Semua jejak jatuhnya piring terbang sudah menghilang. Semua terlihat seakan-akan tidak terjadi sesuatu malam ini. Satu hal yang aku benci adalah janji yang mengharuskanku untuk tutup mulut atas kejadian ini. Well, sebagai werga negara yang baik, aku ikuti saja apa mau mereka. Sejumlah besar uang yang tertulis dalam cek mereka berikan untuk menutup mulut kami.

“Sebenarnya ini mimpi atau kenyataan bu ?” tanyaku pada ibu.

“Ini kenyataan yang sengaja ditutup-tutupi John. Sudah lebih baik kita lanjutkan tidur dan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa.”

Aku beranjak kembali ke kasurku. Oke, aku akan menganggap malam ini hanyalah mimpi semata dan besok akan terbangun seakan tidak terjadi apa-apa. Toh semua jejak sudah dihapus dan makin akan mempermudah asumsiku kalau malam ini hanyalah mimpi. Aku membuka pintu kamarku dan terkejut ketika mendapati alien itu dikasurku.

Aku tersentak mundur. Aku mencoba berteriak namun aku terlalu shock sehingga suaraku tak bisa keluar. Nafasku sedikit tak karuan disertai keringat yang mengalir. Alien itu menatapku dengan mata bulat hitamnya. Sebuah telepati masuk ke otakku.

Tenanglah, aku tak akan melukaimu.”

“Apa tujuan kamu kemari ?” tanyaku.

Air.., aku butuh air.”

“Aku tak akan memberimu apa-apa sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Apa tujuan kamu datang ke desaku ?”

Aku datang untuk sebuah misi penting. Planetku berada dalam kerusakan akibat radiasi gelombang elektromagnetik bintang kami. Aku mencari plutonium dan uranium di bumi ini demi planetku. Aku butuh air.”

Aku menatap makhluk itu. Apakah alien bisa dipercaya atau tidak ? Jangan-jangan setelah ini ia bisa membunuhku kalau aku memberinya air. Ia sekarang tidak berdaya, ah sesama manusia saja jangan langsung percaya apalagi dengan makhluk asing seperti ini.

“Dari mana aku bisa tahu kamu tidak berniat jahat kepadaku ?”

Aku tak punya niat apa-apa kepada spesies kalian. Aku hanya mencari uranium dan plutonium di planet ini.”

Akhirnya aku mengambilkan alien itu segelas air.  Aku masih tak percaya kalau ini sebuah kenyataan. Seorang penduduk biasa bertemu alien. Kalau aku cerita ke teman-temanku sepertinya mereka juga tak percaya. Aku mendekati makhluk itu sembari meneteng segelas air.

Masukkan selang ditanganku ke air yang kamu bawa.”

Aku melihat sebuah selang putih yang keluar dari baju astronot alien ini. Selang itu transparan namun tak terbuat dari karet atau plastik. Aku tak tahu material apa itu, rasanya agak lengket. Aku memasukkan selang itu kedalam gelas air yang aku bawa. Air itu diserap habis ke dalam tubuh alien itu. Aku tetap waspada, takut-takut ia melakukan serangan tiba-tiba kepadaku.

Segelas air itu habis dalam sekejab. Seketika cahaya merah keluar dari mata alien tersebut. Aku mundur beberapa langkah, kaget dengan reaksi sang alien. Dalam waktu kurang dari dua detik alien itu lenyap dari kasurku. Hanya sebuah kotak berukuran 20 centimeterkubik yang tertinggal di kasurku. Aku masih beriri terpaku selama satu menit, masih bingung apakah ini mimpi ataukah kenyataan. Tidak terjadi atau muncul apa-apa, oke memang benar apa kata agen FDI itu, anggap semua kejadian ini hanya mimpi.

*

“Aku seharusnya tidak menceritakan hal ini. Ini dilarang oleh FDI.”

“Jadi kamu tidak percaya dengan sahabat-sahabatmu ?”

Air di danau tenang, bagaikan simfoni kedamaian yang mengalun di taman surga. Gelombang kecil merambat di atas air ketika daun yang berguguran menyentuh permukaan. Suara burung dan jangkrik adalah backsound yang dibuat alam untuk menemani danau ini. Aku bersama kedua sahabatku sedang menikmati suasana danau di kala pagi.

“Entahlah, aku bahkan bingung apakah semalam aku hanya bermimpi ataukah kenyataan.”

“Anggap saja kamu sedang menceritakan sebuah mimpi kepada kita.”

“Baiklah jika kalian memaksa, namun jangan ceritakan hal ini pada siapapu. Janji ya ?”

Aku menceritakan pengalamanku semalam kepada kedua sahabatku. Sebenarnya aku tidak boleh melakukan ini, namun aku percaya dengan kedua sahabatku. Selama ini memang kami tak pernah menyembunyikan rahasia, kalau ada sesuatu pasti selalu kami bagi. Well, kali ini pun demikian. Roti yang dibawa Diana sudah hampir habis saat aku selesai menceritakan kronologi tadi malam, tentang bagaimana UFO itu jatuh dan tentang alien yang aku beri minum.

“Kamu tidak gila kan John ?”

“Tuh kan sudah aku bilang kalian pasti tidak akan percaya.”

“Siapa bilang kami tidak percaya. Asalkan kau yang bicara aku pasti percaya,” jawab Diana.

“Kalau begitu, UFO dan alien itu yang menjadi jawaban atas crop circle yang muncul di ladang gandum kita ?” tanya Mike.

“Sepertinya begitu. Ia mencari Uranium di bumi ini untuk menyelamatkan planetnya.”

“Kira-kira kemana alien itu pergi ?”

“Entahlah. Aku sendiri juga bingung Mike, apakah semalam aku mimpi ataukah kenyataan. Namun itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Dan lagi kotak ini tak mungkin muncul dengan sendirinya bukan ?”

Aku menunjukkan kotak yang ditinggalkan makhluk itu di kasurku. Sebuah kotak berwarna hitam terbuat dari material metal yang sangat kuat. Aku tak tahu apa isi dari kotak ini. Mike mengambil kotak itu dan menggoyang-goyangkannya. Tidak terjadi reaksi apa-apa. Diana juga melakukan hal yang sama, namun tidak ada reaksi apa-apa. Dicelupkan ke dalam airpun tidak bereaksi apa-apa. Semua masih menjadi misteri tentang apa yang ada didalam kotak itu.

“Well, aku sama sekali tak menyangka kita bisa terlibat di permasalahan seperti ini. Kurasa ceritamu akan menjadi top secret di files mereka,” kata Diana.

“Iya, kalian tahu kan tentang kejadian Roswell. Semua pihak seakan dibuat harus tutup mulut tentang kejadian itu. FDIpun memintak kamu melakukan hal yang sama bukan John.”

“He-eh,” kataku mengangguk.

“Menurutku kamu jaga benar kotak itu. Pasti makhluk itu mempunyai alasan untuk meninggalkan itu di kasurmu,” kata Mike menyerahkan kotak itu padaku.

 “Yuk kita kembali ke desa, sudah hampir siang. Aku harus kembali ke pabrik untuk mengurus beberapa pesanan roti,” kata Diana.

*

Aku berada di sebuah lorong yang begitu terang. Tak ada jendela yang menampilkan pemandangan ruang, bahkan tak ada jendela satupun, yang ada hanya pintu-pintu yang menyembunyikan ruangan lain yang penuh misteri. Aku bahkan tak tahu apakah ini pagi, siang atau malam. Berbagai mata lensa mengamatiku di langit-langit. Aku berjalan maju, menuju sebuah pintu yang terbuat dari logam mengkilap. Butuh sidik jari tangan untuk bisa membuka kunci pintu, namun aku bisa menembus pintu itu. Aku seperti hantu yang tak terlihat, bisa menembus benda padat juga.

Di dalam ruangan ini berkumpul sekitar 8 orang yang mengelilingi sebuah meja. Ruangan ini sangat modern. Ada tiga layar besar yang tak berframe yang menampilkan wajah orang. Mereka juga persera rapat yang sepertinya top secret ini. Panel putih seperti kaca menyembunyikan tombol-tombol penuh fungsi. Aku mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan orang-orang ini.

“Jadi bagaimana hasil investigasi kalian ?” kata pria di dalam layar

“Makhluk itu mencari uranium dan plutonium di bumi. Kita bisa mendeteksi senyawa radioaktif itu. Sehebat apapun mereka menggunakan tempat untuk menyiman, mereka tak bisa menyembunyikan radiasinya. Dilihat dari intensitasnya mereka telah mengumpulkan dalam jumlah yang sangat banyak.”

“Jadi dari jejak radiasi itu kalian mengarahkan rudal dan tepat mengenai UFO itu dan ia pun terjatuh ke rumah petani gandum itu ?”

“Ya. Mereka sepertinya tak berpikir kita akan tetap bisa mendeteksi senyawa radioaktif yang mereka bawa dalam tempat khusus dari planet mereka. Kami tak akan membiarkan senyawa radioaktif langka itu dibawa oleh makhluk nonmanusia jadi kami memutuskan melumpuhkan UFO itu.”

“Lalu kalian sudah mengamankan senyawa radioaktifnya ?”

“Ya, namun uranium dan plutonium yang berada di dalam UFO hanyalah sebagian dari yang telah mereka kumpulkan. Kami tak tahu bagaimana cara membuka alat yang mereka gunakan untuk menyimpan radioaktif ini.”

Salah seorang pria mengeluarkan kotak metal berwarna hitam dan meletakkannya dimeja. Kotak itu menjadi pusat perhatian mereka. Itu kotak yang sama dengan yang ditinggalkan alien itu dikasurku.

 “Apa kalian sudah benar-benar memeriksa piring terbang serta makhluk yang berada di dalamnya ? Apa tidak ada petunjuk cara membuka kotak itu ?” Salah satu pria yang berada di layar bertanya.

“Tentu. Kami sudah menggeledah semua isi piring terbang serta satu makhluk yang berada di dalamnya. Ia sudah mati ketika kami menemukannya. Sekarang ia sedang di bedah untuk keperluan penelitian. Sayang sekali UFOnya tidak bisa kami teliti. Kami sama sekali tidak bisa memasuki sistemnya. Makhluk itu telah mengunci sistemnya. UFO itu tak akan bisa di operasikan sebelum mereka membuka sistemnya.”

“Kalau ia sudah mati ketika kalian menemukannya, bagaimana ia bisa mengunci sistemnya,” kata pria dibalik layar.

“Makhluk itu pastilah tak sendiri di dalam UFO itu. Temannyalah yang mengunci sistem UFOnya. Dan sebagian radioaktif yang mereka kumpulkan berada padanya.”

 “Bukankah kalian sudah menggeledah rumah petani gandum itu dan tidak menemukan apa-apa ?”

“Komandan, sepertinya makhluk ini adalah makhluk yang paling pintar yang pernah kami temui. Dilihat dari struktur teknologi yang mereka gunakan, mereka adalah makhluk terestrial yang terpintar yang berada di database kami. Mereka berhasil mengelabuhi kami dengan meninggalkan sebagian radioaktif yang ia kumpulkan di UFO dan membawa sebagian bersama mereka. Kami pikir kami sudah membawa semua radioaktif ketika pergi dari rumah petani gandum itu namun ternyata kami salah. Ia pastilah keluar UFO sebelum kita sampai.”

“Kalau begitu kalian bisa mendeteksi bukan dimana sisa radioaktifnya ?”

“Tentu. Radioaktif itu masih berada di rumah petani gandum itu. Mereka tak akan bisa menyembunyikan radiasinya.”

“Kira-kira untuk apa mereka mengumpulkan radioaktif itu ? Apakah lebih baik kita relakan saja demi menjaga hubungan bumi dengan luar angkasa ? Bagaimana jika ia memanggil teman-temannya sehingga terjadi konflik fisik antara kita dengan mereka ?”

“TIDAK. Unsur radioaktif langka itu sangatlah mahal. Kita bisa gunakan itu untuk menerangi seluruh bumi selama beberapa generasi. Jangan biarkan mereka mendapatkannya,” kata salah seorang pria di layar.

“Aku setuju. Untuk tujuan apapun, jangan biarkan mereka mengambil apa yang menjadi milik kita. Tenanglah, mereka tidak akan bisa macam-macam. Menurut analisaku, pastilah planet mereka sedang berada krisis sehinggal membutuhkan energi yang begitu besar dari radioaktif. Kurasa mereka tak punya bahan bakar banyak untuk mengerahkan pasukan ke bumi.”

“Lalu bagaiamana rencana kita setelah ini ?”

“Kita harus bisa mengambil sisa radioaktif yang berada di makhluk itu dan mengusirnya dari bumi.”

“Bagaimana jika makhluk itu kabur dengan sisa radioaktif yang ia punya.”

“Tak mungkin. UFONya masih tersimpan di markas ini. Ia tak akan bisa pergi dari bumi tanpa piring terbangnya.”

“Apakah petani gandum itu terlibat ?”

“Entahlah. Yang jelas radioaktif itu positif berada di rumah petani gandum itu. Kita harus segera mengambilnya. Aku tak tahu darimana mereka bisa mendapat uranium dan plutonium sebanyak itu di bumi. Teknik metalurgi mereka pastilah sangat maju.”

“Sekarang bukan saatnya memuji. Kita sudah memukan rencana untuk hal ini.”

“Ceritakan pada kami bagaimana rencana kalian ?” tanya salah seorang pria di balik layar.

“Kami tak tahu apakah petani gandum itu terlibat atau tahu menahu tentang masalah ini, jadi kita akan mengambil cara yang tersembunyi. Besok malam kita akan datang ke rumah petani itu dan mengambilnya. Kita akan alirkan gelombang betha agar mereka mengantuk dan tertidur dengan cepat.”

“Jadi kalian akan masuk seperti pencuri ?”

“Ini dilakukan supaya petani gandum itu tak menyadari kedatangan kami. Tenang saja, situasi malam di desa itu sangatlah sepi.”

“Bagaimana jika makhluk itu mengadakan perlawanan ?”

“Tenanglah. Kami memiliki cetak biru hasil otopsi terhadap alien itu. Kami juga sudah meneliti pakaian alien itu. Kami tahu benar senjata alien itu dan bagaimana untuk melumpuhkannya.”

“Baiklah kami serahkan kepada kalian. Pastikan radioaktif itu berada di tangan kalian besok.”

Aku berjalan keluar dari ruangan itu, kembali ke lorong putih dan menyusurinya. Aku berjalan ke cabang-cabang yang mengular di lorong ini bagaikan berada di dalam sebuah labirin. Aku menembus sebuah pintu metal dan melihat UFO yang kemarin jatuh ke halaman rumahku. Ada beberapa orang yang mengelilingi UFO itu, mencoba mengutak atik, namun tak menemukan lubang yang menuju ke mesinnya.

Aku mulai menyadari mengapa aku bisa berada di ruangan tak dikenal ini. Mungkin ini markas dari FDI yang kemarin mendatangi rumahku. Kenapa aku bisa disini ? Aku melihat diriku. Aku bukanlah John, aku alien itu. Tubuhku bukan tubuh manusia melainkan tubuh alien yang kecil itu. Aku mengenakan pakaian astronot bukanlah kaus rumahanku

Aku langsung tersadar dari tidurku. Keringat mengalir deras dari dahiku. Oh Cuma mimpi, namun mengapa terlihat sangat nyata. Nafasku terengah-engah, mengikuti irama adrenalin yang diproduksi berlebihan. Hari sudah subuh, terlihat dari rona biru di luar jendelaku. Disebelah jendela ada makhluk yang tadi menjadi diriku ketika dimimpi. Alien itu menatapku dan aku mengerti apa maksud tatapan mata besarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s