Graduation Surprise (PART I)

Hmm Sabtu ini akan diwisuda…, perjuangan dan ‘siksaan’ selama 4 tahun akhirnya harus berakhir juga. Disatu sisi senang karena lulus namun disatu sisi sedih karena harus berpisah dengan teman-teman. But i’m sure one day we will met again in a reunion. Well, it’s just a fiction story.

Apakah kamu sudah siapkan semuanya ?”

“Sudah tuan. Kita sudah siapkan rencana yang sempurna untuk ‘pesta’ kita Sabtu ini.”

“Bagus. Untuk menghancurkan suatu negara kita harus hancurkan generasi mudanya. Rencana ini adalah rencana yang sempurna untuk melenyapkan para sarjana dari perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Tak perlu waktu lama bagi rencana ini, hanya butuh beberapa menit dan mereka semua akan langsung kukirim ke neraka.”

“Benar sekali tuan.”

“Ya, hanya satu, dua, tiga lalu bum. Kebahagiaan mereka akan berubah menjadi puing-puing tak bersisa.”

“Tuan, bolehkan saya bertanya satu hal ?”

“Tentu.”

“Jika rencana ini berhasil, bagaimana kita akan menggunakan rencana ini untuk kedua kalinya di perguruan tinggi lain ?”

“Tentu jika rencana ini berhasil, kita tidak akan menggunakannya lagi dalam waktu dekat. Pastilah pengamanan akan diperketat dan sangat kecil peluang untuk bisa meletakkan bom peledak di dalam gedung wisuda.”

“Lalu ?”

“Kau tak perlu khawatir, aku sudah memikirkan cara lain. Kau hanya perlu fokus pada rencana besok terlebih dahulu. Sudah, kamu boleh pergi.”

“Baik tuan. Saya akan datang dengan berita baik.”

*

“Nit-nit-nit.”

Aku membuka mata saat jam weker mengusik tidurku. Pukul 4 pagi. Biasanya aku masih melanjutkan tidurku, namun hari ini aku tak bisa lagi tidur walau masih subuh. Aku menguap, melepas semua kantukku. Kamar kosku malam ini cukup berbeda dari biasanya. Ibu dan ayahku menginap di kamarku malam ini. Biasanya hanya ada aku, buku-buku, diktat, dan laptop, namun sekarang itu sudah menjadi masa lalu. Semua barang-barang itu sudah ada di kardus-kardus yang sudah diikat rapi.

Aku akan diwisuda hari ini. Tak terasa perjalanan hidup selama 4 tahun yang penuh dengan penderitaan berakhir juga. Siksaan panas bak api neraka sekarang sudah berakhir dan aku akan meraih gelar sebagai hasil kerja kerasku selama 4 tahun. Berkuliah di jurusan teknik di perguruan tinggi, yang katanya, terbaik ini memang sangat sulit. It’s time to graduation, horay.

 

“Kamu mau ke salon sekarang ?”

“Iya ma. Cici berangkat dulu ya. Salonnya deket kok. Jam 6 Cici udah balik kayaknya.”

“Yaudah mama nanti dulu siap-siapnya.”

“Oke ma. Cici berangkat.”

Aku melangkahkan kaki keluar kosku. Udara masih dingin, langit masihlah gelap. Di kondisi yang sangat PW untuk tidur ini, aku sudah harus pergi ke salon untuk menata rambut. Pasti semua wanita yang diwisuda pun melakukan hal yang sama. Cowok curang nih, nggak pakai acara ke salon segala. Mereka hanya tinggal mandi dan pakai jas. Pasti sekarang cowok-cowok masih pada terlelap.

Salon sudah buka, memang mereka sudan antisipasi untuk wisuda hari ini dengan buka subuh. Aku harus tampil cantik hari ini. Kalau di sinetron-sinetron, tampangku adalah tampang pemeran utama. Eits tunggu dulu, sinetron apa nih ? Ya sebut saja betty la fea atau bebek buruk rupa. Aku memang tidak suka dandan kalau keseharian. Mengenakan kawat gigi, rambut dikuncir dua, kacamata yang cukup besar, kemeja panjang dan rok panjang. Well, bayangkan saja sendiri aku secupu apa. Namun hari ini adalah hari spesial jadi aku akan dandan habis-habisan.

Fajar telah terbit, penampilanku telah dipermak. Kalau aku melihat wajahku sendiri, aku jadi bingung. Ini aku ? Aku terlihat sangat cantik #narsis. Penampilanku sungguh berbeda, tak ada kuncir dua atau kacamata teropong. Rambut panjangku telah disanggul, kebaya mahal sudah menghiasi tubuh molekku, riasan wajah yang pas aka tidak menor, hmm really different 180 dejarat. Mungkin penampilan ini hanya sekali seumur hidup.

Aku berjalan menuju gedung tempat wisuda bersama kedua orang tuaku. Hmm, besok pasti aku akan merindukan jalan ini. Besok ? Ya malam ini aku akan transmigrasi ke kampungku. Semua barang-barangku sudah di pak dan siap untuk dibawa mobil pick up. Kedua orang tuaku sudah memaksaku untuk pulang ke kampung sebelum aku kerja. Aku sudah diterima di salah satu perusahaan oil and gas dan harus bekerja bulan depan. Yah 15 hari di kampung kemudian menatap hari baru sebagai karyawan.

“Mana gedungnya Ci ?”

“Itu ma.”

Mamaku mengenakan jilbab, jadi tak perlu repot-repot kesalon sepertiku. Papaku sama saja dengan cowok yang lain, mandi dan pakai jas lalu selesai. Adik atau kakak, aku tak punya. Aku memang anak tunggal. Aku melihat ke sekeliling, semua sama, datang dengan keluarga. Para orang tua datang untuk menyaksikan anaknya di wisuda.

Kami sudah sampai di gedung tempat wisuda. 4 tahun lalu aku disidang untuk bisa masuk ke perguruan tinggi ini. Ketika itu kami semua berdoa agar 4 tahun kedepan bisa disidang kembali untuk diwisuda and itu terkabul. Well aku lulus tepat waktu dan yang terpenting aku lulus tepat pada waktunya.  Sudah cukup terlambat untuk datang pagi, kebanyakan sudah masuk ke dalam. Aargh, kebaya ini membuat langkahku lebih lambat dari biasanya.

“Udah jangan cepat-cepat nanti jatuh,”kata Mama.

“Akhirnya papa bisa melihat anak papa di wisuda. Papa bangga sama kamu Ci.”

Itu topik yang tak henti-hentinya diucapkan papa dari kemarin. Di dalam gedung kami berpisah. Aku menempati tempat untuk wisudawan sedangkan kedua orangtua menempati tempat undangan. Gedung cukup dingin, kursi yang empuk, wah bisa ketiduran nih. Ah kalau kuliah ketiduran sih nggak apa-apa, tapi jangan pas wisuda deh. Kursi-kursi sudah hampir terisi penuh.

Waw, teman-temanku terlihat cantik dan tampan. Mereka telah beranjak dewasa semenjak aku pertama bertemu mereka di tahun pertama kuliah. Pasti besok aku akan merindukan mereka. Teman-temanku bagaikan semangat yang memawa diriku untuk melewati cobaan kuliah ini. Sukda duka dilalui bersama. Mereka adalah keluargaku selama aku merantai di kota ini.

“Cici ? Ini elo ? Sumpah beda banget. Lo cantik banget”

“Ah biasa aja. Emang kemarin-kemarin nggak cantik ?”

“Ya bisa dibilang gitu sih.”

“Heh enak aja.”

Semua teman-teman nampak kaget dengan dandananku yang berbeda dari biasanya. Banyak yang memuji penampilanku yang terlihat lebih girly. Lumayan deh biar bisa tebar pesona. Maklum masih jomblo, siapa tahu ada yang nyantol. Hehe. Masalah cintaku seperti apa ? Well, nanti aku ceritakan.

Aku duduk di samping sahabatku, Cika. Ia adalah soulmateku. Kalau aku Harry Potter maka dia adalah Hermione atau Ronnnya. Jika aku Batman, maka dia adalah Robinnya. Cika sudah meng-take tempat disebelahnya untukku duduk. Dari raut wajahnya aku sudah bisa menebak apa yang akan dia tanyakan kepadaku hari ini.

“Gila Cici, lo cantik banget. Beda banget sama biasanya.”

“Aduh udah 10 kali gw denger itu.”

“Jadi nanti jadi ?”

“Sssh, pelan-pelan Cik. Gw nggak mau satu jurusan tahu apa yang mau gw lakukan.”

“Iya-iya. Jadi nanti jadi lo bilang ke si Riko.”

“Iya Cik. Sebenarnya gw bakal ngasih surat ke dia. Paling enggak sebelum gw cao dari kota ini, gw pingin dia tahu kalau gw…, suka sama dia.”

Hmmm, berbicara tentang abg labil, pasti tak jauh dari masalah cinta. Cinta yang membuat hati galau dan kalut, namun kalau sudah kesampaian galau itu akan berubah menjadi rindy dan bahagia. Lalu kalau aku betty la fea maka siapakah Armando Mendosa nya ? Dia adalah Riko. Mahasiswa jurusan Teknik jauh, angkatan sama denganku. Aku malas kalau harus naksir cowok dari jurusan yang sama. Bisa-bisa aku cepat bosan nanti. Yah ini masalah selera saja.

Riko adalah bintang kampus. He’s perfect man, idolized by every woman ini my college. Memang ini bagai pungguk merindukan bulan. Aku dan Riko sudah saling berteman. Kami adalah anggota unit Marching Band. Hmm pas pertama ketemu aku langsung jatuh hati sama dia, begitu pula wanita-wanita lain bahkan dari lintas angkatan. Tak mungkin aku menang melawan wanita kece macam bidadari, yasudah aku pendam saja perasaan ini.

Aku dan Riko cukup kenal dekat. Kami mengambil alat musik yang sama d unit Marching Band. Kalau mau ada pentas, kami jadi sering bertemu karena latihan bersama. Namun ia tak menganggapku lebih dari seorang teman. Hah, memang aku terlalu berharap. Selama satu tahun belakangan ini Riko menjomblo. Hmm tak peduli tampang, yang penting kan kosong jadi boleh dong aku usaha. Namun ini adalah usaha pertama dan terakhirku. Setidaknya sebelum aku pergi dari kota ini aku ingin menyatakan cintaku padanya.

“Surat cintanya udah siap Ci ?”

“Udah dong.”

“Lo mau kasih kapan ? Emangnya lo ngarepin dia nggak sih ? Kok lo Cuma kasih surat doang ?”

“Cewek mana yang ga mau jadi pacarnya dia. But gw ini Betty La Fea, mana mau dia ama gw. Paling nggak gw pingin bikin hati gw lega dengan bilang ke dia. Dan gw nggak butuh jawaban kok. Gw Cuma mau ngeplongin hati.”

“Oh i see. Lo terlalu mengunderestmate diri sendiri Ci.

“Gw Cuma mencoba realistis.”

“Siapa tahu aja tampang bukan kriteria utama dia. Lo kan punya banyak kelebihan contohnya IQ dan IP lo tuh. IPK lo kan straight 4, lulusan terbaik jurusan kita, masa sih dia nggak ngelihat.”

“Cowok pasti lihat tampang juga lah pada akhirnya. “

“Terserah deh Ci. Lo mau kasih kapan ?”

“Anytime gw bisa berpapasan sama dia. Kalau nggak berpapasan gw bakal kasih ke dia di gedung jurusannya. Eh ini masih lama nggak sih Cik ?”

“Kayaknya masih setengah jam lagi sebelum mulai. Kenapa Ci?”

“Mau pipis gw.”

“Ih rebek lo pake kain gitu bukanya.”

“Ah bodo deh, dari pada ngompol. Toh masih ada setengah jam lagi. Gw mau pipis dulu deh.”

Sial, padahal sudah irit minum tetap saja kebelet pipis. Wah bakal rebek nih buka kainnya segala. Kalau cowok pasti tidak akan mengalami masalah kayak gini nih. Aku bergegas menuju ke WC yang berada di ujung lorong.

“Hei Ci sumpah lo beda banget hari ini.”

“Iya gw tahu. Kenapa sih daritadi….”

Kalimatku terhenti ketika aku menoleh ke belakang. Oh my God Riko ganteng banget…. Dia terlihat dewasa dalam balutan jas yang ngepas di badannya. Jantungku berdebar dan keringat sedikit mengalir. Riko melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia terpana dengan penampilanku yang jauh berbeda. Ih makin membuatku gugup saja kalau dilihatin seperti ini.

“Eh Riko. lo gagah banget.”

“Sumpah, nggak nyangka gw kalau ini Cici. You look…, different.”

“Bagaimana menurut lo penampilan gw ?”

“You look very beautiful.”

“Makasih.”

“Sumpah Ci…,” Riko tak bisa berkata-kata sembari tersenyum kepadaku.

Ini kesempatan emas. Berikan surat itu sekarang. Setelah ini aku akan diwisuda dan setelah itu pulang ke kos dan malam ini juga aku sudah kembali ke kampung halaman. Tak akan ada kesempatan sebaik kesempatan ini. Berikan suratnya sekarang Cici. Namun sebelum aku bisa menyerahkan suratku seorang wanita datang.

“Rikoyang, ayo masuk biar bisa dapat tempat duduk yang pas buat kita berdua.”

Seorang wanita datang dan membuatku kembali terjatuh ke dunia dimana tak hanya ada aku dan Riko yang tinggal disini. Wanita itu menatap sinis diriku dan merangkul Riko. Wanita itu cantik, putih, berambut panjang namun disanggul rapi, pokoknya tipe anak gaul Jakarta. Aku sih level cetek nih dibandingkan dia. Grrrr, hati jadi panas nih ngelihat pemandangan ini. Mereka berdua terlihat sangat mesra dan panggilan apa itu Rikoyang. Maksudnya Riko Yayang begitu ? Dasar nih cewek centil.

“Eh apaan nih ngerangkul-rangkul,” Riko langsung melepas rangkulan wanita itu.

“Ayo masuk ke dalam,” pinta wanita itu manja.

“Iya bentar lagi. Ci…,”

“Udah deh Rik. Gw mau ke toilet dulu. Lo masuk sana, nanti ga dapat tempat yang asyik lo.”

“Yaudah deh. Da Cici.”

Sial. Tak mungkin aku menyerahkan surat cinta itu saat ada wanita merangkul Riko. Namun aku tak tahu apakah aku akan mendapat momen sepas tadi setelah ini. Hmmm, sebenarnya siapa wanita itu ? Apakah dia pacarnya Riko ? Yang aku tahu Riko masih menjomblo saat ini. Kalau itu benar pacar barunya, apakah lebih baik aku pendam saja perasaan ini selamanya ?

Hampir 20 menit aku di toilet, untunglah prosesi belum dimulai. ini Aku bergegas menuju ke pintu masuk. Aku memegang surat beramplop putih di dadaku. Mungkin lebih baik perasaan ini tetaplah menjadi rahasia di dalam hatiku saja. Ah bodoh sekali kamu Cici, menyerahkan surat yang berisi curahan hatimu kepada seorang pria. Mana harga dirimu sebagai wanita ? Aku meletakkan amplop putih itu ke dalam tempat sampah yang berada di luar ruangan sebelum pintu masuk ruangan. Aku langsung menuju tempatku duduk.

“Udah pipisnya ?”

“Udah dong. Nggak lama kan ?”

“Iya-iya.”

“Tadi gw ketemu Riko.”

“Terus ? Udah lo kasih suratnya ?” Cika langsung antusias

“Belum.”

“Kenapa belum ?”

“Pas gw pikir-pikir lagi aneh ah. Kayak gw nggak punya harga diri aja sih ngasih surat cinta ke cowok.”

“Hei, sekarang jamannya emansipasi Ci.”

“Ah aneh deh kalau dipikir-pikir. Lagipula tadi ada ceweknya dia.”

“Riko dah punya cewek ?”

“Pokoknya tadi pas mau ngasih suratnya ada cewek yang mesra banget sama dia. Makanya gw enggan ngasih. Eh terus kalau dipikir-pikir jadi aneh kalau gw kasih surat cinta ke dia.”

“Cemburu nih ye. Ceweknya kayak apa ?”

“Tipe AGJ gitu. Gw kalah jauh Cik.”

“Gw berani taruhan kalau cewek itu Cuma cewek centil yang kePD-an. Percaya sama gw ci. Terus tuh surat mana ?”

“Udah gw buang tuh ke tempat sampah yang diluar.”

“Yah jadi lo nyerah nih. Dan membiarkan perasaan lo nggak plong.”

“Well, gw berharap bisa menyatakan perasaan gw dengan cara lain di momen yang tepat.”

“Yah semoga harapan lo bisa terkabul deh sebelum lo pulang ke kampung nanti malam.”

Namanay anak muda yang selalu galau, tadi kepikiran begini eh sekarang udah berpikir yang sebaliknya. Kenapa ya aku mulai berpikir kembali kalau surat cinta adalah opsi yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Kalau tidak dengan itu memang dengan apalagi ? Mau pakai jejaring sosial ? Hah memangnya aku mau orang lain tahu, sepertinya tidak. Memendam perasaan ini saja ? Ih kalau nanti jadi nyesel karena nggak bilang gimana ?

Aku memunculkan opsi untuk mengambil kembali surat di tempat sampah diluar itu. Masa sih aku mengambil kembali surat itu. Apa kata orang kalau melihatku ngubek-ngubek tempat sampah, bisa dikira pemulung. Mau membuat surat seperti itu lagi ? Ah tidak akan sempat, aku tak akan mendapat waktu sendiri yang cukup lama setelah ini. Ah paling di luar sedang sepi, tak akan ada yang  melihat.

“Lo mau kemana Ci ?”

“Ke… toilet lagi Cik.”

“Eh bentar lagi mulai loh.”

“Iya paling bentar aja.”

“Yaudah.”

Aku berjalan dengan tidak yakin menuju ke luar ruangan. Uuuh kenapa tadi harus aku buang segala sih suratnya. Aku terlalu terpancing emosi melihat kemesraan Riko dengan wanita tadi, padahalkan wanita itu belum tentu pacarnya. Well, jadi aku cemburu nih ? Wait, emang aku siapa harus cemburu segala.

Belum sampai di pintu keluar ruangan, segerombolan orang yang masuk ke dalam ruangan sidang cukup membuatku dan semua hadirin kaget. Para pria dengan baju hitam masuk. Mereka mengenakan helm dan rompi, seperti densus 88 saja. Semua mata tertuju pada mereka. Ada apa sih ini ? Suara gemuruh kecil membisikkan tanya akan maksud kedatangan pria-pria ini.

“Dimohon kepada semua hadirin untuk keluar dengan tertib dari ruangan ini secepatnya,” salah satu dari mereka berkata.

Hello. Ini mau wisuda, kenapa malah kami disuruh keluar. Kok tidak masuk akan sekali. Pastilah ini sesuatu yang sangat penting kalau sampai wisudawan dan undangan disuruh keluar.  Aku hanya bisa terdiam ditempatku berdiri. Tak seorangpun mengikuti instruksi pria-pria itu. Salah seorang wisudawan yang duduk di depan berdiri dan berkata dengan lantang.

“Untuk apa kami harus keluar pak ? Kami akan wisuda sebentar lagi. Kami tak akan keluar sebelum kami mengetahui alasannya.”

“Baiklah. Kami mendapat informasi bahwa ada bom yang akan segera meledak di ruangan ini. Oleh karena itu semua harap segera meninggalkan ruangan ini melalui jalur evakuasi.”

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s