Graduation Surprise (PART II)

aaa, postingan terakhir sebagai mahasiswa. Yes, today is my graduation. Aku belum pernah merasakan perpaduan sensasi sedih, takut dan senang seperti ini. Senang karena aku telah sukses menyelesaikan studi selama 4 tahun. Takut  karena takut tidak bisa mengemban titel S.T. dengan baik. Sedih karena harus berpisah raga dengan teman-teman semua. Well, jika hidup bagaikan mendaki pegunungan, kelulusan hanyalah satu puncak bukit. Ketika aku sampai dipuncak, aku belumlah berada di puncak yang sebenarnya. Didepan masihlah ada gunung-gunung lain yang menunggu untuk aku daki agar aku bisa mencapai puncak yang sebenarnya dan melihat pemandangan indah dari sana.

“Dimohon kepada semua hadirin untuk keluar dengan tertib dari ruangan ini secepatnya,” salah satu dari mereka berkata.

Hello. Ini mau wisuda, kenapa malah kami disuruh keluar. Kok tidak masuk akan sekali. Pastilah ini sesuatu yang sangat penting kalau sampai wisudawan dan undangan disuruh keluar.  Aku hanya bisa terdiam ditempatku berdiri. Tak seorangpun mengikuti instruksi pria-pria itu. Salah seorang wisudawan yang duduk di depan berdiri dan berkata dengan lantang.

“Untuk apa kami harus keluar pak ? Kami akan wisuda sebentar lagi. Kami tak akan keluar sebelum kami mengetahui alasannya.”

“Baiklah. Kami mendapat informasi bahwa ada bom yang akan segera meledak di ruangan ini. Oleh karena itu semua harap segera meninggalkan ruangan ini melalui jalur evakuasi.”

Semua terlihat kaget dan menunjukkan wajah panik. Ada bom di ruangan ini ? Untuk apa ada bom disini ? Apakah ada orang yang sengaja ingin membunuh ratusan sarjana muda harapan bangsa ini ? Betapa keji rencana itu. Suatu bangsa pasti akan hancur jika generasi mudanya hancur. Jantungku langsung berdebar kencang. Never mind about the letter, i must get out of here.

Tanpa aba-aba semua langsung bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar. Aku melihat ke deretan kursi kedua orang tuaku. Tidak terlihat, pasti kedua orang tuaku sudah bergabung bersama kerumuman orang yang panik. Suasana seperti banjir manusia, semua berpikiran untuk keluar ruangan. Aku terbawa arus dan keluar ruangan sembari mengangkat sedikit kebaya yang aku pakai, ribet soalnya.

Di luar ruangan langkahku terhenti. Gerombolan manusia bak arus tersebut berhenti tak menginjakkan selangkah kakipun. Apa yang terjadi ? Pintu keluar seharusnya berada di ujung lorong ini. Aku bertanya-tanya dalam hati. Gemuruh kecil suara membisikkanku suatu hal ketelingaku.

“Pintu gerbangnya baru saja dikunci. Kita terjebak disini.”

Hah pintu gerbang sengaja dikunci. Teroris itu sengaja menutup pintu keluar agar semua meledak sini. Kenapa kejam sekali sih ? Oh my god berarti nyawa kami semua benar-benar dalam bahaya. Wait, kalau hanya terkunci, pastilah tidak akan menahan kami terlalu lama. Pasti pintu akan segera di dobrak bagaimanapun caranya. Suasana semakin panas dalam gedung ini. Ahh, seharusnya ini menjadi momen yang tidak terlupakan bagi kami semua karena ini adalah wisuda, once ia a lifetime moment.

Suara teriakan dari belakang menarik perhatianku. Semua langsung menengok ke sumber teriakan itu yang tak jauh dari tempatku berdiri, hanya dua baris dari tempatku sekarang. Gerombolan orang langsung menyingkir, membentuk suatu lingkaran. Bukannya mundur, aku malah maju karena penasaran.

“Bomnya sudah ditemukan.”

Seorang pria telah berdiri disamping sebuah kotak hitam. Dan…, kotak itu berasal dari tempat sampah tempat aku membuang surat cintaku. Tempat sampah itu terlihat terbuka menga-nga di dekat tembok. Hah…, jadi di dalam tempat sampah itu tadi ada bomnya. Terlihat orang-orang yang lain malah menyaksikan dan bukannya segera menjauh.

Para prajurit penjinak bom langsung membentuk barikade agar tak ada yang mendekati. Mereka mengingatkan kami untuk segera keluar, namun bagaimana bisa. Pintu masih belum didobrak dan kami masih terjebak. Biasanya aku hanya melihat ini di televisi, namun kali ini kenyataan. Jantungku berdebar takut, kalau misalnya bom itu meledak, pasti semua orang disini akan mati.

Seorang prajutir penjinak bom dengan hati-hati mengutak-atik bom itu. Aku berada di barisan yang cukup depan untuk bisa menyaksikan apa yang ia lakukan. 5 menit kami berada dalam ketegangan. Seperti berada antara hidup dan mati. Bom itu bisa saja meledak detik ini. Make-upku sudah setengah luntur, tebasahi keringat yang mengalir. Berapa waktu yang kita punya ?

“Bom sudah berhasil dijinakkan.”

Suara dari prajurit itu seakan angin surga yang menghapus suasana ketegangan. Kami semua menghirup nafas lega. Leganya…., senyum lega menghiasi wajah kami semua. Gemuruh kecil yang mengatakan syukur terdengar. Kalau begitu euforia wisuda sudah bisa kami rasakan kembali kan ? Pastilah berita ini akan menjadi headline news besok.

Seorang prajurit mendekati tempat sampah di tembok dan mengeluarkan isi di dalamnya. Semua mata masih melihat ke arah prajurit itu. Siapa tahu masih ada bom lain di tempat sampah itu. Hanya ada sedikit sampah tisu dan…, surat cinta milikku. Surat beramplop putih polos, masih terbungkus rapi, tanpa tulisan apa-apa.

Pria itu mengambil surat cintaku…., gawat. Sepertinya ia curgia dengan isi surat itu. Plis jangan dibuka dong, nggak mungkinkan dalam surat itu ada bomnya. Krek, pria itu membuka lipatan amplop dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya. Ia menilik isi surat itu dan membacakan isinya. Aduh, mati deh aku. Kok iseng banget sih ngebacain surat kayak begitu di depan ratusan orang.

“Untuk Riko, From Cici….”

*

“Cici Paramita, Lulus dengan predikat cumlaude.”

Aku maju kedepan untuk menerima prosesi wisuda dari rektor perguruan tinggiku. Aku hanya bisa menunduk sembari menyembunyikan malu. Hmm, rasanya pingin ditelan bumi saja deh. Aku tahu mereka semua sekarang sedang menertawaiku karena surat cinta yang diumumkan tadi. Terdengar gemuruh cekikikan kecil dibangku penonton. Aku sama sekali tak berani menatap kedua orang tuaku.

Prosesi selesai dan aku menuruni tangga. Aku hanya berfokus pada langkahku agar tidak terjatuh. Bisa mati malu aku kalau sampai terjatuh. Malu…, mukaku berubah merah. Belum pernah aku merasakan hangatnya pandangan dari oranglain. Aduh gimana reaksi Riko ya, aku sama sekali tak berani menatap matanya.

Sisa acara di gedung aku habiskan dengan menunduk karena malu. Well, memang wisuda merupakan momen yang tak terlupakan. Apalagi dengan adanya insiden ini. Semoga surat cinta ini tak ikut dijadikan headline dalam teror bom wisuda ini. Rasanya ingin segera cepat-cepat keluar dari kota ini dan memulai hidup baru.

Setelah digedung acara selanjutnya adalah arak-arakan. Semua wisudawan akan diarak keliling kampus sambil meneriakkan yel-yel.  Tadinya aku semangat ikut arak-arakan, namun karena ada insiden ini aku sama sekali tidak mood lagi. Secepat kilat aku langsung menghilang dari rombongan dan pulang ke kos. Ciaaat, berhasil, aku sudah naik angkutan umum menuju ke kos.

Pasti mama akan membully-bully aku nih di kosan. Pasti ia akan menanyakan macam-macam nih. Aduh malas deh. Aku sampai di depan kos. Kedua orangtuaku sudah sampai duluan. Mereka aku beri kunci serep agar bisa masuk. Mama kaget melihatku yang sudah di pulang.

“Loh katanya kamu arak-arakan dulu ?” Mama menanyaiku.

“Nggak usah deh ma, yuk segera pulang kampung.”

“Ya mobil pickupnya baru datang sore. Kamu bilang mau arak-arakkan dulu.”

“Nggak jadi. Udah ditelepon aja pickupnya biar datang sekarang.”

“Untung bomnya nggak jadi meledak ya. Mama udah takut dan khawatir. Mama tahu kenapa kamu ngebet pingin pulang.”

“Udah deh ma. Cepetan telepon, kalau nggak aku yang teleponin sini.”

“Kamu malu ya sama surat cinta tadi ?”

“IYA. Mama puas kan ? Udah cepet teleponin. Ayah mana ?”

“Lagi keluar cari makan siang. Iya ini mama teleponin.”

Kami harus menunggu satu jam sampai mobil pick up itu sampai. Aduh malu nih, bawaannya pingin cepat-cepat pergi dari sini. Semoga ketka reuni nanti semua lupa dengan insiden ini. Sembari menunggu aku membereskan make up dan kostumku. What ??? Teman-teman kosku tahu insiden bom dan surat cinta itu. Sebegitu cepatkah hal itu menyebar ? Oh gog habis aku di cie-ciein mereka.

“Riko itu orangnya seperti apa ?” Mama bertanya padaku.

“Orangnya ganteng, tajir, pinter. Udah ah ma Cici males ngomongin hal itu. Mama tolong jangan tanya apa-apa.”

“Yaudah. Pokoknya kamu jangan sampe nyesel aja. Setelah ini kamu kan udah pulang kampung dan nggak tahu lagi kapan kekota ini lagi dan bertemu dia. Siapa tahu dia juga pingin mengutarakan hal yang sama.”

“Iya deh ma terserah. Tuh pick upnya datang.”

Yes, ternyata tak sampai satu jam. Ayah baru pulang makan di warteg dekat kos. Ia juga menanyakan hal yang sama disertai tertawaan yang terbahak-bahak atas insiden tadi. Well, menurutku lebih mengerikan insiden surat cinta daripada insiden bom. Dalam waktu kurang dari satu jam, semua kardus-kardus sudah berpindah ke mobil pick up.

Well, it’s time to say goodbye to this city. Aku berdiri menatap langit kota ini. Semua kenangan yang tergores di kota ini akan selalu aku ingat. Perjuangan dalam suka dan duka selama 4 tahun akan menjadi memori yang tak akan pernah lepas dari ingatanku. Aku berpamitan dengan ibu kos dan teman-teman kosku.

“Kamu yakin mau pergi sekarang ?”

“Iya ma. Yuk ah.”

Dan mobil pick up ini melesat menuju ke kampungku. Oke bye-bye. Di kampung tak mungkin ada bully-bully akan surat cinta itu.

*

Hari sudah menjelang malam, masih sekitar 5 jam lagi sampai kami tiba di kampung halaman. Kami sedang beristirahat makan malam di sebuah restoran masakan padang. Well benar saja, semua media online memberitakan insiden teror bom di acara wisuda itu. Semua mengutuk pihak yang berada di balik ini. Penyelidikan masih terus dilakukan untuk menemukan pelaku.

Dan…, insiden surat cintakupun disindir di beberapa media online. Mereka mengatakan ada pembacaan surat cinta seorang wisudawati kepada wisudawan. Untunglah namaku tak disebut-sebut. Awas saja kalau berani sebut, aku tuntut media itu. Banyak yang menelpon dan meng-SMSku, menanyakan kedua insiden itu. Kalau yang bom aku balas, kalau yang surat cinta, no comment.

Ponselku yang berada diatas meja makan berbunyi. Panggilan masuk…, dari Riko. Hah kenapa dia telepon ? Aduh mati aku. Angkat tidak ya ? Malu banget aku. Dengan cekatan mama yang duduk disebelahku mengambil ponselku yang berbunyi.

“Kalau kamu nggak mau ngangkat, biar mama aja yang ngangkat. Halo.”

“Ih mama apaan sih,” aku langsung mengambil ponselku dari tangan mama. Sudah diangkat. Aku mendengarkan suara dibalik speaker ponselku.

“Halo Ci ?

“Iya Rik.”

“Lo kemana tadi Ci ? Nggak ikut arak-arakan ? Gw cari di jurusan lo tadi nggak ada ?”

“Iya. Gw tiba-tiba harus segera pulang ke kampung,” aku mengarang alasan.

“Ci, lo nanti kerja di PT XXX (sensor deh) kan ? Ngekosnya di daerah mana ?”

Hah ngapain si Riko nanya-nanya ? Emang dia mau ngedatengin ? Aduh makin malu aku deh.

“Kenapa lo nanya-nanya ?”

“Soalnya gw juga keterima di situ. Sebenernya pengumumannya kemarin sih.”

“Wah selamat ya. Ya ntar gw SMSin alamat kosnya. Buruan cari-cari kos nanti kehabisan loh”

“Oke. Gw pingin cari deket kos lo juga siapa tahu gw bisa memfollow up.”

“Follow up ? Apa yang difollow up ?”

“Yang tadi lo bilang di surat itu. See you bulan depan ya.”

*

“Maaf rencana kita gagal tuan.”

“Bukan masalah. Asalkan keberadaan kita tak diketahui, kita masih bisa merencanakan penghancuran lain. Namun yang berikutnya nyawamu yang akan dipertaruhkan. Aku tak mau mendengar kata kegagalan lagi.”

“Maafkan saya Tuan.”

“Sekarang kita tetap fokus pada rencana kita saja yaitu menghancurkan generasi muda dari moralnya. Mungkin ledakan atau konfrontasi langsung tak akan berhasil menghancurkan generasi muda, namun budaya barat, narkoba, minuman keras, dan lain-lain sudah terbukti berhasil meracuni generasi muda bangsa ini.”

“Baik tuan. Saya akan gencarkan lagi rencana itu.”

“Sudah kerjakan sana. Kita harus hancurkan generasi muda ini agar negara ini hancur. Masa depan bangsa ini berada di tangan generasi muda. Jika generasi muda hancur maka hancurlah negara ini.”

Advertisements

5 comments on “Graduation Surprise (PART II)

  1. Somehow gw ngebaca ini kayak lagi baca komik Detektif Conan. Sebenernya harapan gw sih bomnya ga langsung ketemu dan berhasil dijinakin saat itu juga. Biar lebih tegang gitu Wid, hehe…

    Moral, ok. Gw jadi inget deh strateginya Azula untuk menguasai Earth Kingdom: If we can’t attack it from the outside, we will attack it from the inside”. Justru memang cara seperti itulah yang lebih perlu diwaspadai. Manipulasi, penipuan, dsb… Mudah-mudahan generasi muda Indonesia bisa menang terhadap berbagai rintangan, apapun itu bentuknya

    Ayo, semangat yang udah S.T.! 😀

    • Haha, tadinya mau kayak gitu (bomnya ga ketemu dulu) tapi gw bingung nulisnya gimana. hehe. Thanks for komen Ri.
      “If we can’t attack it from the outside, we will attack it from the inside” –> Inget book 2 chapter 13 ? Judulnya the Drill. Ceritanya ada bor besar untuk menembus tembok Ba Sing Sae. Cara yang paling ampuh untuk melumpuhkan bor itu cuma dari dalam dan ga konfrontasi di luar. Well, sebenarnya itu salah satu pesan moral yang pingin gw sampaiin. hehe. Beware serangan tak terlihat dari dalam yang jauh lebih mematikan.

  2. Hahaha, bener juga, “The Drill”! Diserangnya dari dalam juga. meskipun ga sampai dihancurin seluruhnya, tapi dengan melumpuhkan titik-titik pentingnya aja udah bikin dia ga bisa maju. Nice moral!

  3. Bikin cerita semacam “The Boiling Rock” dong kapan2, hehe (gw doain lu tetep punya banyak waktu buat nge-blog meskipun udah kerja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s