Playboy Kadal (PART I)

Kamera menyorot dimana-mana. Lighting menyala menyinari meja ini. Seorang pria memegang sebuah tongkat panjang. Diujung tongkat itu ada mic untuk menangkap semua suara yang kami ucapkan. Semua terlihat sibuk dengan jobdescnya masing-masing. Suara teriakan komando terkadang terlontar untuk mempercepat persiapan. Pendingin ruangan disetel cukup dingin dalam ruangan ini. Jadi seperti ini ya suasana shooting, aku baru tahu.

Aku duduk disebuah kursi. Meja kotak dengan lima buah gelas terlah terisi dengan air berbagai warna. Ada empat orang yang duduk disamping kiri dan kananku. Empat orang host ini seperti mewakili berbagai karakter. Ada seorang pria muda tampan korban mode zaman sekarang. Ada juga seorang pria yang agak tua dengan tubuh agak gemuk, dandanan juga korban mode. Ada seorang wanita cantik yang menjadi pelengkap gender dan nantinya akan banyak menjadi dalang dalam permainan ini. Dan yang terakhir ada pria, eh wanita, eh mungkin pria yang berjiwa wanita (red: lebay, lelaki melambai). Pria lebay itu adalah unsur humor yang membuat suasana lebih luwes. Terkadang aku suka kasian karena dia yang sering menjadi objek lelucon yang sebenarnya mencemooh dirinya.

Shooting sudah hampir dimulai. Kamera, mic, properti, semua sudah siap. Aku menjadi deg-degan. Ini pertama kali aku masuk ke televisi nasional. Apakah sebentar lagi aku akan kebanjiran tawaran ? Hey, tujuan aku ikut reality show ini bukan untuk itu. Aku meneguk air jeruk yang aku pesan. Sebentar lagi adalah salah satu waktu yang penting dalam hidupku. Ya ini untuk menjawab salah satu tanya terbesar dalam dua bulan belakangan ini. Yulia, Sang host wanita, bertanya kepadaku.

“Kamu yakin kan akan melaksakan ini ?” tanya Yunia pelan.

“Aku yakin.”

“Baik. Banyak yang kamu pertaruhkan loh.”

“Ini memang sudah menjadi risikonya ?”

Sebagai sesama wanita ia pasti mengerti apa yang kupertaruhkan sekarang. Namun pertaruhan ini adalah risikonya. Lebih baik tersakiti sekarang daripada tersakiti di masa mendatang ketika nasi sudah menjadi bubur. Acungan jempol dari sang sutradara menandakan shooting siap dimulai.

“5,4,3,2,1, camera on, action.”

 

Suara itu menjadi intro dari shooting ini. Unya, host pria yang lebih tua, membuka acara. Dengan gaya santai namun asyik ia menyapa pemirsa ke arah kamera.

“Yak, selamat jumpa kembali dengan host-host yang super kece ini di acara…,”

“Playboy kadal, kadal kena batunya…, Lu,” kata semua Host berbarengan menyebutkan acara dan slogan acara.

“Jadi di acara ini kita akan melakukan penjebakan kepada seseorang dimana pasangan orang tersebut akan mendengar semua isi hati pacarnya. Siapa yang ketahuan belangnya, bakalan langsung kena batunya.”

“Jadi hari ini, kita sudah punya klien kita. Seorang wanita cantik. Heran, masa sih ada cowok yang mau ngeduain cewek cantik kayak begini. Kalau gw sih udah anteng dirumah kalau punya cewek kayak begini,” kata Ju, panggilan untuk host pria yang muda.

“Aduh bo. Inget deh sama anak isteri dirumah,” kata host lebay.

Well, sebelum maju ke babak penjebakan. Aku akan cerita sedikit mengenai kehidupanku dan mengapa aku sampai ikut reality show playboy kadal ini, yang notabennya ditujukan untuk pasangan yang sedang tidak harmonis. Ya iyalah, ikut acara ini berarti hubungan seserius apapun bisa berakhir. Namun aku butuh pembuktian, makanya aku berani ambil risiko ini. Toh kalau memamg sudah jodoh ya tidak akan kemana.

Namaku Ana, usiaku 25 tahun. Kalau kata Ju tadi, aku cantik. Bukannya mau narsis, tapi aku memang cantik. Orang-orang bilang wajahku mirik sekali dengan Sandra Dewi. Hmm, tidak apa-apa deh dibilang begitu, hitung-hitung menaikan pasaran. Aku sekarang bekerja sebagai seorang guru di sekolah internasional. Sudah menjadi passionku untuk pekerjaan ini.

Dijari manisku sudah melingkar sebuah cincin. Ini adalah cincin pertunanganku. Diusiaku yang sudah hampir 26 tahun ini, sudah sewajarnya aku memikirkan masa depan yang sebenarnya, menikah dengan seorang pria, membangun rumah tangga, membesarkan anak dan seterusnya. Dan pria yang melingkarkan cincin ini bernama Ciko.

Ciko adalah seorang bussinessman. Ia memiliki tiga toko ponsel yang cukup sukses, yang bisa menafkahiku nanti. Dulunya Ciko adalah mantan cover model, jadi parasanya tidak perlu ditanyakan lagi. Itu terkadang membuatku sedikit protektif kepadanya. Ia punya banyak teman wanita yang kebanyakan model dan cantik-cantik. Terkadang aku cemburu kalau ada wanita cantik yang genit kepadanya. Well, ia selalu bilang hanya sayang kepadaku jadi aku bisa merasa lega.

Kami pertama kali bertemu 4 tahun lalu, ketika aku maumembeli ponsel. Walaupun orang tuanya pemilik toko ponsel itu dan Ciko adalah pewarisnya, Ciko senang menjadi pelayan yang melayani customer sampai sekarang. Berawal dari beli ponsel dan beakhir dengan tukar-tukaran nomor telepon dan akhirnya berakhir dengan tunangan. Masa pacaran kami 3,5 tahun dan sekarang sudah 6 bulan aku menjadi tunangannya.

Dalam kesehariannya, Ciko memang sangat perhatian denganku. He gave me everything that i want. Aku bagaikan ratu dibuatnya. Yah cinta seperti itulah yang membuatku luluh dibuatnya. Kedua orang tua kami sudah mengenal kami satu sama lain dan mereka memberikan sinyal hijau pada kami. Aku perempuan dan dia lelaki, kami seiman dan kami saling mencintai, tak ada alasan bagikedua orang tua untuk melarang.

Namun itu dulu, sebelum dua bulan aneh ini melanda. Aku merasakan perubahan dalam diri Ciko. Perhatian yang ia berikan tak seperti yang dulu. Ucapan sayang dan SMS yang ia berikan kepadaku tak sesering dan seromantis dulu. Intensitas kami jalan berdua juga berkurang. Sikapnya cenderung lebih dingin dari sebelumnya. Dia seperti menjadi Ciko yang berbeda.

Ada yang bilang ia sedang dekat dengan wanita lain. What ??? Kami sudah bertunangan. Aku tak langsung percaya dengan gosip-gosip miring seputar dia. Aku pernah bertanya langsung kepadanya mengenai hal ini. Ia hanya menjawab kalau ia sedang sibuk karena akan buka cabang toko lagi. Namun nada bicaranya seperti menyembunyikan suatu hal. Berbagai cara sudah aku lakukan untuk mengetahui apa hal yang ia sembunyika, namun ia selalu berkata sama yaitu sedang sibuk mempersiapkan toko.

Satu bulan lalu, aku pernah membuntutinya suatu hari. Ia bilang kepadaku akan pergi ke mall untuk berbicara dengan klien. Masa sih mau buka toko saja ribet banget. Aku curiga dan kuikuti dia. Benar saja, ia bertemu dengan seorang wanita di sebuah mall dan dari gesturenya…, mereka sangatlah akrab, bahkan sampai cipika cipiki. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu Ciko ? Oleh karena itu aku ikut acara playboy kadal ini.

“Ya jadi Ana…, lo udah berapa lama nih jadian sama pacar lo ? Ni pacar apa tunangan ?” Yunia menanyaiku.

“Ini tunangan. Gw udah 3 tahun pacaran dan  6 bulan terakhir ini gw udah tunangan sama dia.”

“Wah udah tunangan. Lo yakin nih ? Nanti kalau misalnya ternyata tunangan lo selingkuh, bisa rusak hubungan lo ?” tanya Yunia.

“Tunggu-tunggu. Alasan lo ikut playboy kadal apa ?”

“Ya gw ngerasa Ciko dua bulan ini ada perubahan…,”

Aku menceritakan secara singkat perubahan pada diri Ciko. Berada di depan kamera membuatku terlihat gugup, alhasil ada beberapa patah kata yang terselip di lidah. Hmmm, aku tak ada bakat menjadi artis nampaknya.

“Jadi lo berpikir kalau si Ciko ini punya wanita lain ?”

“Ya,” aku berkata pelan sembari mengangguk pada kamera.

“Lo yakin karena itu, bukan karena Ciko emang bener-bener sibuk ?”

“Iya. Sesibuk-sibuknya Ciko, dia nggak akan sampe sebegini nyuekin gw,” kataku.

“Tapi ini udah tahap tunangan loh. Pastinya tungangan lo udah punya keseriusan membina hubungan dengan lo ?”

“Sebelum 2 bulan terakhir emang seperti itu, namun 2 bulan terakhir ini nggak lagi kayak begitu.”

“Atau jangan-jangan lo-nya aja kali Na yang berpikir kayak begitu ?”

“Nggak kok. Aku yakin banget ada sesuatu yang Ciko sembunyiin ?”

“Lo udah coba ngomong baik-baik ?”

“Udah. Dia selalu bilang lagi sibuk. Udah itu doang.”

“Oke-oke. Nanti kita korek apa sebenarnya isi hati Ciko.”

Di acara playboy kadal ini selalu dihadirkan sang penggoda. Jika target pria, maka penggodanya adalah wanita yang hot. Wanita penggoda ini yang nantinya akan menggoda target dan menjadi umpan untuk mengorek isi hati si target. Di kuping wanita penggoda dipasangi headset untuk menerima komando dari host. Komando bisa berupa pertanyaan, gerak dan lain-lain.

Dan seperti episode-episode lainnya, penggoda yang didatangkan cantik bak model. Tubuhnya semok dan ramping. Kulitnya putih mulus tanpa goresan. Rambutnya panjang terurai dengan indah. Bajunya yang agak ketat menimbulkan siluet yang sungguh menggoda. Harus aku akui, ia lebih cantik dariku dan tak mungkin pria tak tertarik dengan wanita seperti ini. Bentukan-bentukkannya, wanita ini mirip dengan penyanyi Katy Perry. Penggoda itu sekarang duduk di sampingku.

“Yak jadi ini penggoda kita, namanya Hesti. Gimana Hes ? Respon si Ciko ketika lo hubungi ?” Tanya Unya ke Hesti.

“Ya dia antusias gitu. Nggak susah-susah banget buat ngajak dia ketemuan sih.”

“Lo waktu itu ngakunya mau ngapain ?”

“Gw bilang aja tertarik buat buka toko HP. Gw pingin jadi investornya dia gitu buat buka cabang,” kat Hesti dengan suara imutnya.

“Terus dia ada gerak-gerik curiga gitu nggak ?”

“Nggak ada. Dia excited banget buat ketemuan hari ini.”

“Lo ngerasa kalau di Ciko itu berusaha ngedektin lo atau gimana ?”

“Ya…, liat nanti aja sih,” kata Hesti.

*

Sebuah meja dekat tembok di dalam restroan ini terlihat seperti meja yang lain, namun ada yang berbeda di meja ini. Meja itu terdiri dari dua meja kecil yang dihubungkan, dua kursi dan satu sofa yang terhubung. Sebuah kamera pengintai di pasang dari dua sisi untuk menangkap setiap gerik orang yang duduk di kursi ini. Mic rahasia dipasang untuk menangkap perbincangan di meja ini. Sebuah tempat sempurna untuk penjebakan.

Hesti sudah duduk di kursi sofa yang empuk itu sembari menunggu kedatangan Ciko. Aku mengamati keadaan dari televisi yang dipasang di depanku. Sebuah pesan terdengar dari ponselku. Pasti pesan dari Ciko. Tadi Yunia menyuruhku meng-SMS Ciko, menanyakan posisinya. Kita ingin mengecek apakah Ciko akan jujur atau tidak.

“Coba apa isinya ?”

“Dia bilang mau ketemu investor di daerah kemang. Tenang investornya cowok kok”

Well, ini bukan daerah kemang. Jadi dia bohong. Yang kedua jelas-jelas investornya bernama Hesti yang pasti seorang wanita. Bohong untuk kedua kalinya. Hatiku mulai geram. Apakah mahligai tunangan ini akan runtuh ? Oh kuharap Ciko masih mencintaiku karena aku masih mencintainya dan menginginkannya menjadi suamiku.

“Wah dia bohong dong bo.”

“Yoi. Yaudah kita lihat nanti aja.”

Tak lama kemudian Ciko datang ke restoran itu. Celingak-celinguk sebentar dan dia langsung menuju ke meja tempat Hesti duduk.

“Udah lama nunggu ?” kata Ciko.

“Baru 10 menit kok.”

Tanpa komando, Ciko langsung mencipikacipiki Hesti. What ? Kenapa dia jadi centil seperti itu. Ciko duduk di sofa sebelah Hesti. Pertanda buruk untukku. Aku mendengarkan percakapan mereka. Sesekali Yunia memberikan komando untuk pertanyaan yang harus diajukan Hesti.

“Udah pesen makan ? Pesen dulu yuk. Aku yang traktir deh.” Ajak Ciko

“Oke.”

Hesti dan Ciko membolak balik buku menu. Tak lama kemudian mereka memesan makanan yang merupakan makanan spesial di restoran ini. Memang Ciko adalah orang yang cukup loyal. Semenjak dulu pacaran dia memang senang memberika hadiah dan semacamnya.

“Jadi pertama saya mau tanya. Itu tokonya di mangga dua ya nantinya ?”

“Iya Hes. Kalau kamu mau lihat, tinggal kontak aja. Kapanpun kamu siap, nanti aku antar. Tempatnya strategis kok. Aku yakin pasti laku kalau jualan HP disitu.”

“Oh, terus berapa emang biaya sewa toko disitu ?”

“Nah itu Hes yang pingin aku konsultasiin juga sama kamu….,”

Aku mendengar perbincangan bisnis mereka yang terlihat cukup serius. Yunia terlatih sekali menjawab pertanyaan Ciko yang bersifat teknis seperti itu. Makin lama posisi duduk Ciko makin dekat dengan Hesti. Aduh sudah gatal pingin mengetahui isi hati Ciko. Sampai kapan nih perbincangan berputar di dunia bisnis.

“Coba kamu telepon si Ciko deh Na. Tanyain lagi dimana ?” Ju menyuruhku.

Aku langsung mengambil ponselku dan menelpon Ciko sembari menyaksikannya dilayar pengintai. Ciko merogoh sakunya dan mengangkat telepon dariku.

“Halo Ciko.”

“Iya Na.”

“Kamu lagi dimana Cik ?”

“Lagi ketemu klien ini.”

“Oh sampe jam berapa ? Ntar malem aku ke rumah kamu ya.”

“Oke. Sip.”

Panggllanku langsung dimatikan Ciko tanpa sempat berkata goodbye atau semacamnya. Ih kenapa dia jadi cuek seperti itu sih. Apa dia takut kalau memakain nada bermesraan didepan Hesti ? Aku sudah mulai geram.

“Siapa tuh ?” tanya Hesti.

“Adik aku.”

Hah adik ? Hello aku ini tunangan kamu. Sudah hampir empat tahun kita berhubungan dan semudah ini kamu bilang kalau aku ini adik kamu, Ciko. Aku meletakkan ponselku di atas meja dengan sedikit bantingan. Kesal. Bodo deh dilihatin televisi nasional. MC yang lain langsung menggodaku.

“Wei, santi Na. Jangan mentang-mentang tunangannya punya toko HP jadi ponsel main asal banting.”

“Gapapa kali bo, nanti beli yang lebih bagus lagi.”

“Eh boleh dong gw dapat diskon pas beli HP di toko si Ciko.”

Aku menghiraukan perkataan banyolan dari para Host dan fokus ke perbincangan Ciko dan Hesti. Terlihat mereka makin mesra saja. Eh apa itu…. Kok pakai acara pegang-pegangan tangan segala sih. Amarahku mulai naik.

“Adik atau adik nih ?” tanya Hesti dengan nada menggoda.

“Eh bener. Itu adik kandung aku.”

“Bukannya pacar ?”

“Hahaha, pacar apanya,” kata Ciko sambil tertawa kecil.

Bersambung

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s