Playboy Kadal (PART II)

Aku menghiraukan perkataan banyolan dari para Host dan fokus ke perbincangan Ciko dan Hesti. Terlihat mereka makin mesra saja. Eh apa itu…. Kok pakai acara pegang-pegangan tangan segala sih. Amarahku mulai naik.

“Adik atau adik nih ?” tanya Hesti dengan nada menggoda.

“Eh bener. Itu adik kandung aku.”

“Bukannya pacar ?”

“Hahaha, pacar apanya,” kata Ciko sambil tertawa kecil.

Aku langsung terbawa emosi. Hal yang pertama aku lakukan adalah menangis. Kesal, sedih, geram semua bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak ? Aku yang tunangannya sama sekali tidak diakui. Perempuan mana yang tidak emosi tingkat tinggi. Yunia menepuk pundakku, menunkjukkan empatinya.

“Lo masih mau lanjut ?”tanya Unya.

“Iya lanjut dulu aja. Gw mau tahu isi hati Ciko sebenernya gimana,” kataku.

Yunia kembali memberikan komando kepada Hesti melalui HT yang ia pehgang. Aku kembali fokus dengan layar pengintai.

“Masa sih cowok ganteng kayak kamu nggak punya pacar ?”

“Beneran. Aku masih jomblo. Sekarang lagi nyari sih.”

“Nah itu cincin apa ?” Hesti menunjuk ke jari manis Ciko. Itu cincin tunanganku.

“Oh ini…, ini cincin peninggalan kakek aku. Dikasihin ke cucu laki-lakinya. Nanti aku juga ngewarisin ke cucu laki-laki aku.”

Oh my god. Alasan sampah. Aku tahan diriku agar bisa mengetahui lebih banyak tentang isi hati Ciko yang sebenarnya. Simpan saja emosi kesalnya agar nanti bisa menggampar pipinya makin kencang.

 

“Oh begitu. Bagus ya cincinnya. Kayak cincin nikah aja. Bisa dikira cincin nikah loh sama cewek. Katanya lagi nyari, kalau pakai cincin itu dikira kamu udah ada hubungan.”

“Oke aku copot aja dulu deh cincinnya biar kamu lebih enak ngobrolnya.”

Ciko mencopot cincin tunangannya dan meletakkannya di saku celananya. What the hell. Dasar buaya darat. Semudah itu dia melepas tanda ikatan aku dengannya.

“Eh jangan-jangan kalau kita ngobrol bedua gini kamu ada yang marah nggak ?” tanya Ciko.

“Tenang aja Cik. Aku baru putus 3 bulan lalu sama mantan aku. Sekarang lagi jomblo kok.”

“Jadi kalau misalnya aku ngerangkul kamu, nggak apa-apakan ?” kata Ciko sambil merangkul Hesti.

Aaaaa. Apa-apaan tuh. Main rangkul-rangkulan gitu. Hei ditempat umum saja Ciko malu untuk bermesra-mesraan denganku. Kenapa kali ini dia luwes sekali. Kalau orang lihat, pastilah mereka menduga kalau Ciko dan Hesti adalah sepasang kekasih.

“Nggak apa-apa. Aku malah seneng kali dirangkul kayak begini.”

“Emang kenapa kamu putus waktu itu ?” tanya Ciko.

“Habis dia overprotective banget. Kemana-mana dicurigain. BT aku jadinya.”

“Sama dong. Mantan pacar aku juga gitu. Aku mutusin dia karena dia itu over protective banget. Dia itu selalu teleponin aku, nanyain aku dimana. Lama-lama aku risih juga.”

“Emang kapan lo putus ? Siapa nama mantan lo ?”

“Dua bulan lalu gw putus sama Ana, mantan gw. Dia emang cantik, baik dan keibuan. Tapi overprotectivenya itu loh. Yasudah dia udah jadi masa lalu kok.”

“Apa jangan-jangan karena itu Na dia ngejauhin lo ?” Yunia berkata kepadaku.

Well, sebagai wanita memang harus begitu bukan kepada tunangannya. Apalagi tunangannya itu orang yang high quality. Aku memang memberikan seluruh perhatianku pada Ciko. Namun apakah itu berlebihan ya ? Kalau misalnya iya ya tinggal bilang dong.

“Nggak juga kok. Gw wajar-wajar aja kasih perhatian ke dia,” kataku. Aku kembali melihat ke layar pengintai.

“Wah ternyata kita senasib ya. Sama-sama putus karena pacar yang overprotective,” kata Hesti.

“Mungkin kita jodoh kali ya.”

“Mungkin aja. Kalau diperhatiin lo ganteng juga. Lo dulu model ya ?”

“Iya. Dulu aku pernah jadi cover model gitu. Kok tahu ?”

“Nebak aja. Soalnya potongan lo potongan model.”

“Kamu juga cantik. Kamu dulu model juga ?”

“Nggak kok.”

“Oh aku tahu kamu itu artis ya.

“Artis siapa ?”

“Kalau dilihat-lihat kamu itu mirip banget Katy Perry deh. Kamu itu Katy Perry ya ?”

“Beberapa ada yang bilang mirip sih. Kok kamu gampang banget nebaknya ?”

“Iya soalnya kamu udah mem-fireworks-kan hatiku.”

“Ih kamu gombal deh.”

Ih, apa-apaan sih. Gombal banget si Ciko. Argh, Kalau tadi ngerangkul sekarang ngomong sambil pegang-pegangan tangan segala.  BT, kesal, emosi. Rasanya tangan ini pingin bejek orang. Mungkin inilah akhir dari masa indahku bersamanya. Tak ada gunanya mempertahankan mahligai tunangan ini kalau tahu isi hati Ciko yang seperti itu.

“Mantan kamu sama aku cantikkan mana ?” tanya Hesti sambil membalas genggaman tangan Ciko.

“Mantan aku itu cantik banget…, tapi banyakkan kamu kok. Kalau dibandingkan kamu, mantan aku itu ya…, level tiarapnya lah.”

“Terus kenapa kamu mau jadian sama dia dulu ?”

“Habis aku suka sifat penyayang dan keibuannya. Maklum dia itu guru. Udah ah ga penting ngomongin mantan aku. Dia itu bukan apa-apa lagi buat aku. Eh aku boleh tanya nggak ?”

“Nanya apa ?”

“Tipe cowok kamu itu kayak apa ?”

“Yang ganteng, baik, mapan.”

“Aku termasuk ke tipe cowok kamu nggak ?”

“Masuk dong. Kalau tipe cewek kamu itu yang kayak apa ?”

“Mau tahu ?”

“Iya,” kata Hesti mengangguk.

“Ngaca aja.”

“Gimana Na, masih mau lanjut ? Ada yang mau lo tanyain nggak ke cowok lo ?” Yunia berkata kepadaku

“Lanjut aja,” aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, tertutup emosi dan tangisan.

“Lo juga jangan asal lihat. Lo harus introspeksi diri juga. Siapa tahu perkataan Ciko ada benernya yang tadi dia bilang soal overprotective.”

Melihat mereka berdua bermesra-mesraan seperti itu adalah hal yang paling menyakitkan. Kemana cinta yang dia gaung-gaungkan selama ini. Dasar kadal….

“Eh boleh liat tangan lo nggak ?” kata Ciko

“Mau ngapain ?”

“Liat dulu aja.”

Hesti menyodorkan tangan kanannya pada Ciko. Aku tak mengerti apa yang akan mereka lakukan.  Pandanganku sedikit kabur oleh air mata di kornea mataku. Masa bodoh deh menangis di depan televisi nasional. Habis sudah tak kuat lagi.

“Kayaknya ukuran cincin kamu itu sama kayak mantan aku deh.”

“Eh, kok udah main cincin aja sih ?” tanya Hesti sambil menarik tangannya.

“Ya boleh dong tahu. Buat siap-siap,” kata Ciko sambil mencubit pipi Hesti.

“Ih kamu cubit-cubit deh,” kata Hesti mencubit perut Ciko.

“Eh ayo mau pesen apa lagi. Aku traktir semua.”

“Ini aja belum dimakan. Kamu nggak diminum jus jeruknya itu ?” Hesti menunjuk jus jeruk yang dipesan Ciko.

“Habis jus jeruknya kemanisan. Maklum minumnya sambil ngelihatin kamu sih.”

“Ah bisa aja.”

“Eh kamu deketan lagi dong ke aku duduknya, jangan di situ terus ?”

“Oke, emang kenapa sofa sebelah situ ?” kata Hesti makin mendekatkan posisi duduknya ke Ciko.

“Takutnya tempat itu disemutin, soalnya kamu manis sih.”

“Sumpah ya. Kamu itu lucu banget sih. Bodoh banget kalau ada cewek yang nyia-nyiain kamu.”

“Hehe. Ciko gitu loh. Habis ini kamu kemana ?”

“Habis ini…, aku kosong. Kenapa ?”

“Mau lihat tokonya habis ini aja ?”

“Boleh.”

“Habis itu kita makan malam berdua ya.”

“Dimana ?”

“Di rumah aku aja,” kata Ciko dengan kedipan mata yang menandakan kalau kalimat itu adalah sebuah metafora.

“Boleh aja. Malam ini aku free 100 % kok,” jawab Hesti.

“Tapi sebelum itu kita ke dokter dulu ya.”

“Hah siapa yang sakit ?”

“Kayaknya aku kena serangan jantung nih.”

“Ah yang bener ?” kata Hesti kaget.

“Soalnya dari tadi jantung aku berdegub kenceng pas deket sama kamu.”

“Ah bisa aja deh,” Hesti tersipu malu.

“Tapi kamu nggak bakal capek kan kalau nanti malam ke rumah aku ?”

“Nggak kok. Cuma ke mangga dua terus ke rumah, kenapa mesti capek.”

“Soalnya kamu udah lari-lari dipikiran aku,” kata Ciko mencolek dagu Hesti.

“Haha. Kamu humoris. Aku suka banget cowok humoris.”

“Ntar malam kamu bakal tahu apa saja kejebatanku ini Hes.”

“Wah aku sudah tidak sabar nih.”

“Kalau begitu mau sekarang aja ke tokonya ?”

Sementara itu di ruang pengintaian. Aku dan semua kru sudah bersiap-siap untuk turun. Kalau kalian lihat wajahku, maka kalian akan menemukan setan murka yang sedang ingin makan orang. Air mata sudah mengering di balik pelupuk mataku. Aku tak peduli lagi dengan pertunangan. Buat apa mempertahankan pria yang ternyata berengs*k seperti itu. Walaupun sakit hati ini, aku harus putuskan dia.

Grrrrh. Aku sudah sangat kesal dan emosi. Rasanya hati ini panas. Muntahan kata dan tamparan serta perlakuan kejam sudah terpikirkan diotakku, siap untuk dilancarkan. Buaya daraaaat. Aku akan permalukan dia didepan televisi nasional. Aku harus buat dia menyesal telah dilahirkan. Lihat saja Ciko…, you’re my enemy right now.

Kami berjalan menuruni tangga restoran. Aduh lama banget sih jalannya, rebek sama kamera dan mic sih. Yunia terus mencoba menenangkanku yang terlihat sudah sangat emosi. Ia memegang bahuku sambil membisikkan kata sabar. Aku memang sudah tidak sabar lagi untuk mengakhiri hubungan ini.

“Ana, kamu yang sabar. Jangan terbawa emosi dulu. Hadapi masalah ini dengan kepala dingin,” kata Yunia.

Kami sampai di lantai satu. Aku langsung menuju ke meja Ciko dan Hesti.  Ciko terlihat sangat kaget melihat aku datang berbondong-bondong dengan kru playboy kadal. Hesti langsung menjauh dari Ciko ketika melihat wajahku yang sudah seperti mau makan orang. Ciko terlihat panik karena mengetahui dirinya telah diintai daritadi.

Hal pertama yang aku lakukan adalah melemparkan jus jeruk Ciko ke wajahnya. Jus itu membasahi bajunya. Ciko berdiri dari duduknya. PLAK. Tamparan superkeras aku berikan ke pipinya. Ciko sedikit terhuyung. Aku langsung memuntahkan emosiku melalui kata-kata dan air mata.

“JADI INI KETEMU KLIEN ? TADI KAMU BILANG KEMANA HA ? KAMU MALAH MESRA-MESRAAN KAYAK BEGINI, BUAYA”

“Apa-apaan sih ini ?”

“KAMU YANG APA-APAAN. AKU INI TUNANGAN KAMU. KITA UDAH MAU MENIKAH. KAMU BERANI MELAKUKAN ITU SAMA AKU. KAMU ITU BERENGS*K CIKO.”

Plak, Plak. Dua buah tamparan mendarat di pipi Ciko. Ciko sepertinya pasrah menerima tamparan dariku. Aku memukul dada Ciko dengan kepalan tanganku. Ia menerima pukulan itu. Aku menangis dibalik perkataan yang aku lontarkan. Perih rasanya hati ini diperlakukan seperti ini.

“KAMU PUAS NYAKITIN AKU. KAMU JAHAT TAHU NGGAK,”

Aku menangis di depan Ciko. Ciko memegang tanganku. Ih aku tak mau lagi dipegang olehnya. Aku melepaskan pegangan tangannya, mengambil gelas jus di meja dan kembali menyiramnya. Ciko mundur dua langkah.

“JADI KAMU MAUNYA APA SEKARANG ?” Ciko akhirnya teriak.

“Aku mau kita putus. Kamu itu jahat banget sih,” Kataku sambil melepas cincin tunanganku dan melempanya ke arah Ciko lalu PLAK, PLAK. Dua buah tamoaran lagi-lagi mendarat dipipi Ciko.

“Udah selesai kan ? Puas kamu malu-maluin aku di depan umum.”

“Kenapa sih Ciko. Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku ?”

“Mau tahu kenapa ? Kamu itu overprotective. Kamu itu nggak bisa percaya sama aku.”

“Emang kenyataannya sekarang kamy nggak bisa dipercayain kan.”

“Kamu selalu curiga sama semua teman aku. Padahal semua itu hanya TEMAN, HANYA TEMAN. Teman wanita yang kamu curigai itu semua TEMAN BISNIS. Aku sama mereka nggak ada hubungan apa-apa.”

“Kalau begitu kenapa sama Hesti kamu gampang banget tergoda. Kamu itu cowok BERENGS*K.”

“Biar kamu nyopot cincin tunangan kamu.”

“KENAPA HARUS BEGITU ?”

“Biar aku bisa ngasih cincin yang baru.”

Ciko mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Seperti kotak cincin. Hah, apa-apaan sih Ciko. Aku melihat ke sekeliling. Loh kenapa ada teman-temanku. Mereka semua tersenyum kepadaku. Para hostpun juga tersenyum padaku. Salah seorang teman membawa kue yang cukup besar.

“Ciko, apa-apaan sih ini ?”

“YEEEEE, Jadi sebenarnya….,” Yunia langsung mengambil alih acara.

“Jadi sebenarnya Ciko ini udah tahu kalau kamu mau ikutan playboy kadal. Nah dia sengaja mau ngerjain kamu dengan tergoda dengan Hesti. Jadi selama ini yang kamu lihat Cuma sandiwara Na. Dia sengaja ngebuat kamu kesel terlebih dahulu dan marah-marah sama kamu. Semua ini dilakukan buat ngerjain kamu yang berujung pada sebuah pelamaran.”

Aku yang masih shock hanya bisa terdiam sambil mengusap air mataku. Jadi aku yang dikerjai nih saat ini ? BERENGS*K. Jadi semua ini hanya sandiwara. Salah seorang temanku maju mendekatiku. Ia membawa sebuah kue Tiramisu, my favourite. Di atas kue itu ada tulisan…, oh my god. Dia mau melamarku sekarang ? Di depan televisi nasional ? Dilihat seluruh rakyat Indonesia ?

“Cik, apa maksudnya sih ?”

“Aku hanya ingin melamar kamu dengan cara yang tidak semestinya.”

“Tapi kenapa harus kayak begini ? Kenapa kamu mauaja aku tampar berkali-kali kayak begitu ?”

“Soalnya memang aku pantas mendapatkannya Na. Dua bulan ini aku seperti mengacuhkan kamu, bersikap tidak seperti biasanya. Tapi sungguh, alasan sebenarnya karena aku sibuk ngurus toko baru aku. Aku emang salah jadi kamu boleh tampar aku semau yang kamu mau sampai kamu puas. Tapi demi Tuhan Na, aku nggak ada affair apa-apa sama wanita lain. Semua wanita itu adalah teman bisnis aku. Aku minta maaf Na selama 2 bulan ini udah ngebuat gap sama kamu, tapi aku bener-bener sayang sama kamu.”

Aaah, aku jadi merasa malu sendiri tadi sudah seperti monster yang menyerang gedung pencakar langit, senggol sana tampar sini. Ciko menatapku dengan senyum. Ciko mengambil kue yang dibawa temanku. Ia menyodorkan kue berukuran sedang itu kepadaku. Dari tulisan diatas kue itu, aku sudah bisa tahu apa maksud Ciko.

“Na, ini kue favorit kamu. Jadi….?”

Aku masih terdiam di tempatku. TERIMA-TERIMA. Sorak sorai teman-teman serta host dibelakang menjadi backsound.

“Ciko, thanks atas semua ini, tapi gw ini terlalu overprotective sama lo. But i promise bakal ngurangin itu, jadi….”

Aku tersenyum sambil mengangguk padanya. Teriakan tepuk tangan teman-teman menjadi pelengkap acara ini. Terlihat tamu restoran yang lain menikmati pertunjukkan ini. Sial…, aku tak tahu kalau playboy kadal bisa jadi acara lamaran juga. Ini merupakan pengalaman pertama dan terakhr yang tidak terlupakan.

Ah iseng ah. Aku masih sedikit emosi nih sama kelakuan tadi. Kok kayaknya Ciko menikmati sekali sandiwara yang ia susun. Aku memegang kue yang dipegang Ciko dengan kedua tanganku. PLAK. Kue itu menempel di wajah Ciko sekarang. Hah, semua emosiku terbalas.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s