Godaan Pas Puasa (PART II)

Aku sedang asyik memejamkan mataku saat…

“Waa.”

Teriakan ini sungguh mengagetkanku. Aku terbangun, kelas sudah mulai ramai. Temanku membangunkanku dengan cara yang amat aku tak suka. Kalau ada bom atau granat boleh deh ngagetin kayak gitu. Walaupun niatnya bercanda, tapi kesal juga kalau sedang tidur enak-enak tiba-tiba dikagetin. Aku langsung emosi.

“Apasih ? Kok nggagetin gitu ? @U#$*”

“Ih kok lo puasa marah-marah gitu sih.”

“Habis lo ngebanguninnya gitu sih  bikin jantungan aja.”

“iya sori-sori.”

Dosen masuk dan pelajaran dimulai. Emosi, kesal, BT, ni hari nggak lain dari sebuah disaster. Aku mencoba tidur, namun tidak bisa pulas. Hujan turun deras, membashai tanah yang sudah tak lama terkena hujan. Dan diakhir kelas sang dosen mengingatkan kalau besok ada tugas. Sebenarnya tugas ini sudah diberikan semenjak minggu lalu, namun belum aku sentuh sama sekali. Grrh, masa sih malam ini begadang lagi.

“Apa ?” Semprotku pada teman yang memanggilku.

“Ih kok lo ngomel-ngomel gitu sih. Gw Cuma mau bilang jangan lupa malam ini kita ngerjain tugas penelitian. Deadline bab 2 dari dosen pembimbing udah minggu depan. Habis tarawih gw ke kos lo.”

Aargh, nambah lagi deh kerjaan.

Kenapa sih kok hari ini semua pada senang ngebuatku tambah BT. Aku menggerutu dalam hati seakan mengutuk hari ini. Sial, aku tak bawa payung, memang aku tak pernah bawa payung. Aaaargh, pingin pulang dan langsung tidur mumpung masih ada waktu 3 jam. Hujan dadakan kayak begini sih roman-romannya nggak bakal lama.

Jam 13 siang, hujan tinggal rintik-rintik saja. 1 jam terbuang sia-sia hanya untuk menunggu hujan reda. Aku menerobos gerimis untuk segera pulang ke kos. Ah masa bodoh deh kalau harus cabut kuliah jam 15 karena ngantuk. Mata rasanya hanya tinggal 1 watt. Perutku keroncongan karena energi sudah terpakai habis. Mood sudah sangat jelek hari ini, andai tida puasa, aku sudah membeli jeko nih untuk memperbaiki mood. Jeko it’s my favourite.

Aku keluar gerbang kampus. Tiba-tiba…, byur. Sebuah mobil melaju kencang dan menyipratkan genangan air ke tubuhku. Celana dan bajuku menjadi setengah basah terkena cipratan air. Aduh…, apa-apaan sih itu mobil. Akhirnya dapat trigger untuk meledakkan emosi.

“WOI, &^*&^*( LO,” teriakku pada mobil itu.

Orang di sekeliling kaget melihatku berkata itu. Ah whatever deh. Kesal, BT, Geram, nampaknya tyak ada gunannya puasa namun mood marah-marah seperti ini. Oke lebih baik aku nanti cabut kuliah dan sekarang beli Jeko aja deh. Setelah makan puas aku tinggal tidur sampai malam. Oke that’s a perfect plan untuk memperbaiki hari ini. Aku langsung naik angkot yang menuju ke ciwalk alih-alih angkot ke kosan.

*

Sisi kiri : See, ingat niat awal. Lo datang karena emang mood lo lagi jelek, percuma puasa. Yuk beli Jekonya terus pulang dan tidur.

Aku           : Ok sisi kiri, i’m with you.

Akhirnya aku masuk ke toko itu. Hmmm aromanya nikmat. Beli setengah lusin sekalian deh biar puas. Makan disini saja deh, suasananya juga lebih enak. Aku membeli setengah lusin untuk aku makan sendiri. Said that i’m angry ? Yes maybe it’s true. Aku duduk di sebuah meja yang terpojok. Hmm, aromanya nikmat. Sebelum sempat aku makan, ponselku berdering. Dari mama.

“Halo.”

“Halo, kamu lagi ngapain ?”

“Lagi istirahat ma.”

“Kuliah lagi jam berapa ?”

“Jam 3 ma.”

“Gimana puasanya.”

“Lancar,” jawabku singkat.

“Yaudah, kamu jangan lupa…,”

“Aduh ma, batereku lowbatt, udah dulu ya,” kataku langsung mematikan panggilan dan mematikan ponsel. Kalau nunggu mama ceramah sih bisa sampe magrib.

Hmm, aku mengangkat satu donat tiramisu. 5,4,3,2,1…, puasaku batal deh. Aduh enaknya ini donat. Tanpa pikir panjang aku langsung habiskan semua donat yang telah aku beli. Gila enak banget deh ini untuk memperbaiki mood. Tak sampai 15 menit dan semua donat telah aku habiskan. Aku meneguk minuman dingin dan manisku sampai habis. Aah kenyang.

Saatnya pulang…, tapi ah masa Cuma Jeko doang, beli apa lagi ya buat balas dendam. Ok beli Roti Ngomong deh, kayaknya yang rasa pizza enak juga tuh. Aku membeli roti pizza, roti abon dan roti cokelat. Ketika pulang aku akan makan satu. Seseorang menepuk pundakku ketika aku sedang mengantri untuk membayar. Ternyata kedua temanku. Mereka juga sedang mengantri.

“Hei lagi beli buat buka nih ?”

“Iya,” kataku berbohong.

Setelah selesai dengan urusan di dalam mall, aku langsung keluar. Perut sudah kenyang sekarang tinggal tidur saja. Ah malas naik angkot. Sudah lama toh harus jalan juga pada akhirnya, secara kosanku tidak dilewati angkot. Naik ojek saja deh. Aku mendekati pangkalan ojek terdekat. Hanya ada satu ojek yang tersisa. Aku langsung menghampiri abang-abang ojek itu.

“Bang ke cisitu ya.”

Aku melihat ke samping kiri. Ternyata tak Cuma aku yang berkata demikian. Ada anak seumuranku yang juga mau naik ojek ini. Apa sih ni orang. Aku saling berpandangan dengan orang itu. Dia sedang BT juga, sama sepertiku. Aku bisa merasakan ke-BT-annya dari tampangnya.

“Apa sih, gw duluan kali,” katanya nyolot.

“Eh gw duluan yang ngetake. Nggak usah pake nyolot juga kali,” jawabku.

“Jelas-jelas gw yang nyampe duluan, jadi ni ojek gw duluan. Ya kan bang ?”

“Aduh saya nggak ikut-ikutan deh. Silakan berunding siapa yang mau naik duluan.”

“Gw duluan,” pintaku.

“Gw duluan kali. Gw lagi keburu-buru nih. Kok lo marah-marah gitu sih. Puasa nggak lo ?”

“Puasa dong. Kayak lo nggak marah-marah,” kataku.

“Seharusnya kalau lagi puasa bisa sabar dong.”

“Lo sendiri nggak puasa ?”

“Nggak. Lagi BT. Minggir lo.”

“Yaudah-yaudah sana duluan,” kataku kesal.

Huh ni orang bikin BT aja sih, merusak mood yang sudah mulai baik. Well sekarang obat untuk pemanis moodku hanya tidur. Akhirnya aku menunggu sampai ojek selanjutnya datang. Ni ojek kemana sih, pada males-males banget abang-abangnya. Aku menggerutu dalam hati. Tak sampai 3 menit, ojek selanjutnya datang. Walau 3 menit, kok rasanya lama sekali.

“Bang ke cisitu, nggak pake lama ya.”

Ojek itu langsung melaju kencang menuju ke cisitu. Wuih sebentar lagi tinggal tidur panjang sampai malam. Nanti setelah lebaran, aku akan mengganti puasa ini dengan puasa yang lebih khusuk. Ojek melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Aku memang mengkomando sang supir ojek untuk lebih cepat. Bawaan sudah ingin meluk guling di kasur.

 Aku sudah hampir sampai saat melihat ada keramaian di pinggir jalan. Ada apa ini ? Ojekku melambat dan melewati kerumumann itu. Ada kecelakaan lalu lintas. Terlihat ada bercak darah di jalanan. Ada pula orang yang terduduk di pinggir jalan. Ia korban kecelakaan. Supir ojek itu melambat dan akhirnya berhenti di pinggir jalan.

“Mas, sampai sini saja ya. Itu teman saya yang kecelakaan.”

Aku turun dari ojek dan melihat ke kerumunan itu. Sekitar 7 orang mengelilingi sang korban. Ada satu orang yang sedang mengurut kakinya. Aku tahu korban itu. Dia supir ojek yang pertama tadi ingin aku naiki. Ia tak terlihat terluka parah, hanya kakinya saja yang terkilir. Tukang ojek yang tadi membawaku langsung menghampiri temannya. Aku mendengar percakapan itu.

“Lo nggak apa-apa kan bro ?”

“Nggak apa-apa. Tapi penumpang gw luka parah. Gw Cuma ketiban motor tapi dia kelempar ke batu. Kepalanya pecah tadi,” katanya sambil menahan sakit.

“Kejadiannya gimana ?”

“Tadi motor gw oleng soalnya penumpang gw minta cepet-cepet, pas belokan tadi gw nggak seimbang.”

“Terus penumpang lo sekarang dimana ?”

“Sekarang lagi di rumah sakit nggak tahu deh masih hidup atau nggak.”

Jreng…, Aku menelam ludah dan suddenly merasakan merinding pada kulitku. Andai aku naik ojek ini, mungkin sekarang posisiku yang sedang di rumah sakit. Andai tadi aku ngotot untuk naik, aku tak tahu apakah aku masih hidup atau tidak. Mungkin saja aku sudah bertemu dengan malaikat maut sekarang.

Jika ternyata aku mati apakah aku siap ? Aku bahkan mati dalam keadaan tidak puasa, berbohong, kesal, geram. Aku akan mati dalam kondisi yang sangat buruk. Apa yang aku lakukan…, aku bagaikan dikuasai oleh setan hari ini. Marah-marah sendiri, ngomel-ngomel sendiri, bohong sama orang tua, oh my god, ya Allah tolong ampuni diriku. Tadi memang aku berniat mengganti puasa sehabis lebaran, namun aku bahkan tak menyadari apakah usiaku akan sampai ke lebaran.

Well hari ini aku mendapat pelajaran penting hari ini which is puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Semakin dewasa seseorang, maka godaan yang akan dialamipun akan semakin berat. Emosi, amarah, dan nafsu adalah setan-setan yang sekarang sudah menjadi tingkatanku. Dan aku merasa telah kalah dari setan itu hari ini.

Sesampainya di kosan aku langsung Solat untuk memohon ampun kepada Allah. Well, aku yakin Allah Maha Pengampun asalakan umat-Nya mau benar-benar bertobat. Aku merasa seperti mendapat kesempatan kedua untuk merenungi kesalahanku. Aku benar-benar menyesal. Setelah itu yang aku lakukan adalah menelpon kedua orang tuaku dan memohon maaf karena berbohong. Hmm setelah itu aku berangkat kuliah alih-alih cabut.

Hmm tak terbayang kalau tadi aku naik motor itu dan mengalami kecelakaan, aku merasa masih punya banyak kesalahan kepada orang-orang disekelilingku. Well, umur manusia memang tak ada yang bisa menebak dan mumpungmasih diberi kesemparan dan sebentar lagi lebaran, saya mengucapkan minal aidin walfaidin ya, mohon maaf lahir dan batin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s