Kue Misterius (PART I)

Sering lihat acara masak-masak jadi pingin nulis yang ada masak-masaknya. Akhirnya dapat mood lagi buat nulis setelah beberapa BT karena sampai sekarang masih jadi pengangguran. Maaf kalau ceritanya rada galau dan gak jelas. Nulis emang butuh mood yang pas

“Mengapa cintaku begini. Selalu ku ditinggal pergi. Apa mungkin ini takdirku. Menjadi jomblo Sejati.”

Suara lagu Lulu dan Siti dari Tompi menjadi backsound perjalananku di dalam angkutan umum menuju tempat kerjaku. Aku menggerutu dalam hati.

“Sial. Mengapa ini abang angkot menyetel lagu ini sih. Biasanya kan selera mereka ke dangdut atau lagu campur sari.”

Jomblo sejati. Mungkin itu hal yang menjadi branding ku dalam mengarungi keseharianku. Umurku sekarang sudah 29 tahun dan aku sama sekali belum mengenal yang namanya cinta. Tak pernah ada kisah cinta dalam keseharianku. Jangankan mantan, pacar saja belum pernah punya. Murni jomblo sejati.

Sebentar lagi aku akan berkepala tiga, usia keramat untuk seorang wanita mulai memikirkan masa depannya. What, 30 tahun ? Sebentar lagi aku akan kadaluarsa, mana ada pria yang mau dengan wanita yang sudah kadaluarsa. Apakah aku akan selamanya sendiri ? Jodoh sudah ada yang mengatur, manusia hanya perlu berusaha. Aku yakin Tuhan belum mempertemukanku dengan jodohku saja.

Turun dari angkutan umum kemudian memasuki terminal. Saatnya berdesak-desakan bagaikan ikan sarden di dalam kaleng. Realita hidup di ibu kota memang keras, namun inilah kehidupan yang aku pilih. Busway berjalan kencang dijantung ibu kota, meninggalkan antrian mobil yang mengular di luar jalur. Aku berpegangan pada tali untuk menjaga keseimbanganku.

Melihat ke sekeliling, apakah ada pria yang akan menjadi jodohku di bus ini ? Emm, sepertinya aku mulai khawatir dengan kehidupan cintaku. Jangan dikira aku tak pernah jatuh cinta. Sama seperti wanita normal pada umumnya. Aku senang dengan pria tampan, tajir dan baik hati. Well, aku tidak memasang target yang tinggi-tinggi. Aku bukanlah wanita matre yang ingin harta pria tajir. Yang penting pria baik dan mau menerimaku apa adanya.

Segala pria yang menjadi target cintaku tak pernah kesampaian untuk menjadi pacarku. Ketika SMA aku pernah menyukai seorang pria. Aku melakukan PDKT dalam batas wajar. Sebagai wanita, seharusnya sudah kodrat kalau aku yang diburu bukan aku yang berburu. Tapi dasar nasib, aku keduluan wanita lain karena mempertahankan kodrat itu. Ini menjadi pelajaran cinta pertama untukku.

Ketika kuliah dulu aku pernah jatuh cinta dengan seorang pria. Well, aku melakukan hal yang sama untuk PDKT ke pria itu. Hampir saja aku berhasil mendapatkannya sampai kutahu fakta kalau ia hanya ingin menjadikanku teman semata. Satu lagi lembaran kisah tragis dalam kehidupan cintaku.

Setelah itu aku tak terlalu memedulikan kehidupan cinta. Biarlah hidup mengalir bagaikan air. Aku tak tahu kemana aliran ini membawaku, namun yang pasti aku akan sampai di laut nanti. Kehidupan cintaku akan menjadi misteri yang belum ada titik terangnya. But, i’m 29 years old. Ini sudah menjadi lampu kuning untukku.

Aku menyelinap diantar kerumuman orang, menuju ke pintu keluar busway. Tempatku bekerja sudah hampir sampai. Pintu terbuka, beberapa orang keluar, termasuk aku. Rasanya segar bisa menghirup udara halte yang tidak sesak. Sembari berjalan, aku merapikan bajuku yang sedikit kusut hasil berdesak-desakan.

Ini dia tempat kerjaku. Sebuah gedung tinggi dengan halaman superluas yang mengelilinginya. Udara pagi masih rindang, menunggu untuk diusir oleh panasnya asap kendaraan yang mengepul dari knalpot. Superior Silver Hotel, semua mengenal tempat ini dengan sebutan itu. Aku bukanlah resepsionis atau office girl atau manager atau pengunjung.

Aku menuju ke sebuah ruangan besar yang berada di depan hotel. Queen Bakery. Plang nama itu tertera jelas di depan ruangan ini. Aku adalah seorang juru masak roti di toko yang berada di dalam hotel ini. Ini adalah toko roti yang paling terkenal di Indonesia, hanya ada tiga toko bernama ini di Indonesia. Toko roti ini punya kelas seniri dan bukanlah toko roti kacangan. Letaknya saja di dalam hotel internasional bintang lima yang berarti makanan disini punya standar yang tinggi. Yang datang kesini mulai dari pengujung hotel mancanegara sampai orang kantoran yang sengaja mampir untuk membeli roti.

Aku sudah 8 tahun bekerja disini. Semenjak kecil aku memang senang memasak. Kedua orang tuaku dan adikku kagum dengan kemampuan memasakku. Inilah passionku. Aku berkuliah di bidang boga untuk menjawab panggilan hati ini. Untunglah keluarga tak ada yang melarang aku mengambil jalur karir ini. Dan sekarang, aku sangat menikmati pekerjaanku.

Queen bakery tak akan sesukses sekarang jika tak ada juru masak handal di belakangnya. Aku mempunyai andil besar dalam mempertahankan kesuksesan toko ini. Segala kue, cake, roti dan pastry tidak akan tercipta kalau tidak ada juru masaknya. Aku dan para juru masak lainnya adalah pahlawan yang berada di belakang panggung toko. Cheesecake sampai tiramisu standar internasional dengan rasa superenak adalah masterpiece dari para juru masak, which is me.

 Ada  10 orang juru masak dan 3 orang pramusaji yang bekerja disini. Tak sembarang koki bisa bekerja disini. Aku termasuk yang beruntung karena diusia yang masih muda bisa mengalahkan calon juru masak yang lain. Kisah cintaku dengan salah seorang dari mereka ? Nampaknya tak ada yang berakhir dengan bahagia. Seorang juru masak yang kusukai beberapa tahun lalu dipindah tugaskan sebulan setelah aku melakukan pendekatan dengannya. Ada pula sang manager yang cukup mempunyai spesifikasi tinggi. Well, dia bertunangan sebelum aku sempat PDKT. Nampaknya kisah cinta bukanlah sesuatu yang bisa aku banggakan. Apakah ini kutukan ?

Pria itu adalah Yoga. Ia adalah salah satu juru masak di toko ini.

“Nih ada lagi kiriman yang kayak kemarin,” kata Yoga.

“Katakan ini sebenarnya pekerjaan lo kan Yog ?”

“Sumpah ini bukan pekerjaan gw. Cie yang punya penggemar rahasia,” Yoga menggodaku.

Aku memang dibuat bingung tiga hari belakangan ini. Dibuat bingung oleh apa ? Oleh sebuah bingkisan tanpa nama pengirim yang ditujukan kepadaku. Sebuah kotak dengan bungkus merah muda, sama seperti kemarin. “Wina.” Hanya ada tulisan namaku di secarik kertas yang diselipkan di pita pembungkus.

Apakah aku memiliki penggemar rahasia yang menyukaiku ? Berarti aku tidak sejelek-jelek itu kan ? Memang kalau dari segi fisik aku termasuk wanita yang rata-rata, cantik tidak terlalu, jelek pun tidak. Toh teman-teman juga selalu mengumbar status jombloku, yang berarti undangan bagi siapapun yang mau berhubungan serius denganku. Mungkin sebentar lagi masa jomblo akan segera berakhir.

Namun sebelum semua angan-angan yang mulai beterbangan, sebuah tanya tersirat. Siapa yang memberikan bungkusan ini ? Dari semua pria yang bekerja di Queen Bakery, hanya ada 3 orang yang masih jomblo. Dan yang paling berpotensi berada dibalik semua ini adalah Yoga. Ia memang pria yang paling dekat denganku. Kedua pria jomblo lainnya…, mereka tak lebih dari sekedar teman dan rekan kerja saja.

 Dengan Yoga aku memiliki hubungan yang lebih dekat dari sekedar teman. Yoga adalah tipe pria yang humoris dan penghibur, aku senang bercanda dengannya. Ia selalu bisa membuat topik di sekitarnya yang mengundang gelak tawa. Kalau dari fisik, Yoga termasuk pria yang standar, cakep tidak terlalu jelek juga tidak. Hal itu berarti ia setaraf denganku.

“Apa itu isinya ?” yoga bertanya.

Aku membuka isi paket itu. Kalau dugaanku benar berarti isinya adalah…, satu slice blackforest. Dugaanku benar. Ini sudah ketiga kali aku menerima paket seperti ini. Paket pertama berisi chocolate sponge cake dan hari kedua berisi chiken pastry. Semua kue itu adalah kue yang aku masak pada hari tersebut.

“Wah blackforest. Mau dong coba, kata Yoga.”

“Kok yang ngirim bisa tahu ya tiap hari aku kebagian buat kue apa.”

“Dia memata-matai lo berarti.”

“Yang bisa tahu siapa kebagian apa kan Cuma antar chef, si bos, dan pokoknya karyawan sini. Ini bukan kerjaan lo kan Yog ?” aku masih saja mencurigai Yoga.

“Bukan gw, suer. Lo yakin itu bukan kue bikinan lo yang dikirim lagi ke lo untuk suatu tujuan ?”

“Nggak Yog. Gw yakin kue ini dan dua kue kemarin itu bukan bikinan gw. Rasanya berbeda sama yang gw buat. Siapapun yang membuat ini pasti bisa memasak. Dia tahu betul apa bahan yang gw pakai untuk membuat kue ini dan meng-copynya. Yang gw benci adalah copy yang ia buat memiliki hasil yang lebih baik dari yang gw buat.”

Aku memandang blackforest itu dan mencicipinya. Enak, persis dengan apa yang aku buat kemarin, namun ia menambahkan beberapa bahan yang membuat kue ini terasa lebih enak. Teknik memasaknya juga sempurna, menciptakan tekstur kue yang begitu lembut namun tidak lembek. Aku mengambil sesendok lagi. Positiv, ini bukan kue karyaku, hanya mirip dan lebih baik. Bagaimana ia bisa tahu resep Queen bakery dan memodifikasinya kalau bukan karyawan queen bakery sendiri ?

“Coba dong kuenya,” kata Yoga.

“Yaudah nih buat lo aja.”

Sebagai seorang chef tentu saja hal ini membuatku tertantang. Kue ini sama saja dengan surat tantangan. Ia membuktikan kalau kuenya lebih enak daripada buatanku.

“Gila ini enak banget. Kalah buatan lo,” kata Yoga.

“Emang gw akui kue buatan dia lebih enak. Kira-kira siapa dan apa motivasinya ?”

“Dibilang, it’s your secret admiror,” kata Yoga sembari menyanyikan lagu secret admirer-nya mocca.

Aku menghiraukan untuk sementara misteri ini. Kembali ke rutinitas, membuat kue untuk memuaskan hati pelanggan. Tujuanku memasak adalah agar bisa membuat orang lain senang. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika orang memakan masakanku dan tersenyum puas karenanya.

“Heh ngelamun aja. Ngelamunin gw kan ?” Yoga menyenggolku yang sedang melamun sembari menunggu mikser mengocok adonan.

“Ih GR banget.”

“Eh Wina, aku denger kamu dapet kiriman paket misterius ya ?” kata Dodi.

Dodi adalah salah satu perjaka disini. Apakah Dodi yang mengirim ? Kurasa bukan. Usianya saja lebih muda 2 tahun dariku. Kurasa ia bukan tipe yang suka wanita yang lebih tua.

“Iya. Aku denger isinya kue yang kamu buat namun dengan better taste ya ?” kata Ardhi.

Apakah Ardhi yang mengirim ? Ia juga salah satu dari tiga pria yang aku curigai. Ardhi berusia tiga tahun lebih tua dariku. Ia sedang dalam masa pencarian jodoh mengingat usianya yang sudah berkepala tiga. Mungkin saja ia menyukaiku dan merencanakan sebuah skenario untuk membuatku terkesan, sebuah skenario yang belum aku ketahui endingnya. Kalau diurutkan dari kemungkinan terbesar adalah Yoga lalu Ardhi lalu Dodi.

“Iya. Siapa ya kira-kira. Lo ya Dhi ?” kataku pada Ardhi.

“Ih apaan sih. Jangan dikira karena gw masih jomblo terus gw ngasih lo kue-kue. Kayaknya si Dodi deh yang diem-diem naksir lo Win.”

“Ih apa sih. Wanita yang lebih tua itu bukan tipe gw,” kata Dodi singkat.

Perasaanku mengatakan Yoga lah yang berada di balik semua ini. Feeling ini begitu kuat. Ya sudah aku ikuti dulu saja skenario yang ingin disutradarainya. Toh aku penasaran bagaimana akhir dari apa yang direncanakannya.

 Aku kembali fokus ke apa yang aku kerjakan. Hari ini aku akan sedikit melakukan modifikasi resep. Aku merasa tertantang untuk membuat sesuatu yang baru di kueku hari ini. Aku menambahkan dua bumbu baru ke dalam kueku hari ini. Lihat saja, ia pasti tak akan bisa menebak apalagi mengcopy apa yang aku buat hari ini.

*

     “Malam ini ada kerjaan Win,” kata Yoga.

     Dapur sudah hampir kosong. Saatnya toko tutup dan kami semua sedang beres-beres. Dapur yang berkelas haruslah bersih setiap saat.

     “Nggak. Kenapa mau ngajakin jalan ?”

     “Kalau lo nggak ada kerjaan.”

     “Mmmm, boleh. Mau ngajakin jalan kemana ?”

     “Makan aja yuk di blok S.”

     “Wah boleh. Yuk berangkat.”

     Ajakannya malam ini makin membuatku yakin kalau Yoga adalah sang mastermind. Oke, jangan mencoba untuk menebak atau mendesaknya mengaku. Lebih baik aku ikuti dulu kemana alur ini membawa.

     Malam ini aku makan malam dengan Yoga di bilangan blok S. Ia memang tak mengajakku makan di restoran mewah atau semacamnya. Yah aku tetap senang, aku memang lebih suka makan di tempat sederhana. Sudah harga kaki lima, namun rasa bintang lima.

     “Eh gw punya tebak-tebakan deh,” kata Yoga.

     “Apa ?”

     “Hewan apa yg bersaudara ?”

     “Apa ya…. Anak kucing sama adik dan kakaknya ?”

     “Bukanlah. Aduh kok jawabannya serius amat. Nyerah ? Jawabannya Katak beradik.”

     “Ih garing ah.”

     Aku melepas tawa dengan Yoga disela-sela makan. Ia memang paling bisa membuat suasana menjadi cair dan rileks.

     “Ada angin apa nih tiba-tiba lo ngajak gw makan malem bareng ?”

     “Pingin aja. Lo seneng kan ?”

     “Ya senang lah. Lo itu orangnya lucu. Gw suka deh cowok humoris.”

     “Eh nggak kerasa ya kita udah bertahun-tahun temenan. Gw udah nganggep lo lebih dari teman.”

     “Maksud lo ?”

     Yoga tersenyum padaku. Ia menatapku dengan tajam. Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar-debar? Baru kali ini selama aku berteman dengannya aku merasakan hal seperti ini. Apa ini cinta ? Getaran yang begitu kuat merambat dihati, membuat ia terlihat begitu sempurna dimataku.

     “Kok lo jadi gugup gitu. Kenapa sih ? Yuk pulang. Kasihan tuh orang-orang pada ngantri,” kata Yoga

*

bersambung

Advertisements

2 comments on “Kue Misterius (PART I)

  1. kritik nih masalah kata:
    admiror harusnya admirer, terus ada yang salah..
    hi·rau, meng·hi·rau·kan -> memedulikan; mengacuhkan; mengindahkan; memperhatikan (dari KBBI)
    ama di line terakhir kasih harusnya kasihan, hehehe…
    lu lagi demen nonton FTV wid? =p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s