Kue Misterius (PART II)

and the story goes…

Dan sebuah bungkusan tak berjudul ini sampai lagi. Satpam yang menerima bungkusan ini mengatakan kalau ia menerima ini dari tukang ojek. Sudah pasti ini sengaja di kirimkan melalui tukang ojek agar identitas aslinya tak bisa diketahui.

Aku langsung membuka bungkusan itu. Seperti yang sudah aku duga, isinya adalah banana cake yang aku buat. Ada kayu manis dan daun mint di luar banana cake itu.. Sial, ia berhasil menebak dua bumbu tambahan yang sengaja aku masukkan. Aku mencicipi kue itu…, enaak. Ini lebih enak dari buatanku kemarin. Aku jadi ragu kalau ini pekerjaan Yoga. Ia tak pernah membuat kue seenak ini

     “Cie, kiriman lagi ya.”

Teman-teman kerja mulai menggodaku. Well, aku menganggap kiriman kue ini sebagai surat tantangan. Aku menjadi berapi-api untuk membuat kue yang lebih enak dari biasanya. Namun bagaimanapun aku memodifikasi resep, ia bisa menebak bahan tambahan yang aku masukan dan tetap saja kue yang dikirim lebih enak dari buatanku. Sudah satu minggu aku kenyang dihadiahi kue yang lebih enak dari buatanku. Yoga, kalau misalnya ini kerjaanmu, kira-kira sampai kapan ?

Malam ini malam minggu. Tak biasanya Yoga mengajakku nonton berdua. Apakah malam ini adalah klimaks dari skenarionya ? Lebih baik aku tetap menjadi aktrisnya dan bukan ikut jadi sutradara. Sepulang dari toko aku langsung meluncur naik motor Yoga ke bioskop. Film komedi romantis, genre yang sangat cocok dengannya.

Sepanjang film aku terpingkal oleh laga sang aktor dan disepanjang film pula aku menunggu apakah Yoga akan menyiapkan sesuatu istimewa untukku.  Nampaknya aku terlalu GR, kami hanya nonton dan film saja. Yoga mengantarku pulang ketika kami sudah selesai dengan malam kami.

Malam begitu indah karena sang bulan sedang tersenyum di angkasa yang gelap. Dingin yang berhembus terhempas oleh perasaan aku ketika aku berada di belakang tubuhnya. Apakah ini ? Apakah ini cinta yang selama ini terpendam ? Apakah selama ini aku tak pernah menyadari perasaan ini sebelumnya ? Aku menyerahkan helmku pada Yoga setelah kami sampai di depan rumahku.

     “Makasih ya udah mau ngajak jalan. Nggak mau masuk dulu ?” tawarku pada Yoga.

     “Nggak deh. Udah malam. Aku mau langsung pulang aja.”

     “Aku…?” aku menyipitkan mata. Tak biasa ia menggunakan kata sapaan itu kepadaku. Biasanya ia selalu menggunakan lo gw untuk memanggilku.

     “Boleh kan pake aku kamu, biar lebih akrab.”

Aku mengangguk sembari tersenyum. Selama seminggu ini, bersamaan dengan datangnya paket kue misterius itu, sikap Yoga kepadaku juga berubah. Nampaknya tinggal tunggu waktu sampai masa jombloku berakhir. Skenario ini hanya butuh akhir yang sempurna.

*

 

Sebuah bungkusan berwarna merah muda ini lagi. Isinya sudah bisa ditebak. Sebuah cheese cake. Satu hal yang membuatku senang adalah rasa kue ini tak lebih enak dari kue buatanku. Apakah kali ini aku menang melawan orang misterius ini ? Sebuah kalimat tertulis rapi di potongan cokelat putih yang digunakan sebagai hiasan cheesecake.

     “Beat me one more time and i will show up.”

     “Eh cobain dong kuenya,” Yoga langsung menyomot tanpa menunggu persetujuanku.

     “Kayaknya enakkan kue buatan kamu Win. Eh ada tulisan apa nih ?”

     “Udah nggak usah pura-pura. Ini kerjaan kamu semua kan ? Aku akan ikuti deh skenario kamu. Ciptain ending yang bagus ya.”

     Yoga menatapku bingung.

     “Sudah aku bilang kalau ini bukan kiriman dari aku. Mana mungkin aku bisa membuat kue-kue seenak yang kemarin. Skill masakku kan belum sejago itu.”

     “Oke-oke aku percaya deh.”

     “Biar nggak penasaran. Lo buktiin lagi aja kalau masakan lo itu lebih enak sekali lagi. Dia kan janji tuh mau show up.”

     “Eh mau dong coba kuenya. Biasanya ini enak banget kuenya.”

 Kalau suasana pagi sudah seperti berebut nasi berkat. Teman-teman kantor langsung menyerbu kue yang dikirim kepadaku. Mereka semua menyindirku dengan kata penggemar rahasia, pengagum tersembunyi dan semacamnya.

Beberapa hari belakangan ini yang aku lakukan adalah berusaha keras menciptakan kue yang dapat mengalahkan sang pengirim misterius ini. Walaupun Yoga berusaha menutupi,  aku masih yakin kalau dia dalang semua ini. Ia juga semakin berusaha mendekat kepadaku. Satu-satunya cara mengakhiri skenarionya adalah dengan mengalahkannya.

     “Serius amat buat kuenya ?”

     “Eh Yoga. Habis penasaran gimana cara dia atau kamu show up.”

     “Dibilangin bukan aku kok yang ngirim.”

     “Iya-iya. Aku tak mau merusak sisi kejutannya nanti.”

*

Aku menghela nafas saat kue yang aku buat matang dan siap untuk disajikan. Aroma kayu manis bercampur butter yang lezat selalu menemani dapur ini. Senangnya bisa menciptakan aroma seindah ini. Suasana dapur damai seperti biasa. Dan keseharianku sama seperti biasa kecuali kiriman kue yang setiap pagi selalu ada. Kue itu membakar semangatku untuk bisa berkarya lebih bagus.

Denting jam menunjukkan pukul 11 siang.  Aku melepas topi kokiku dan beristirahat sejenak. Para turis asing berkeliaran bebas di hotel, membuyarkan garis negara dan ras. Mereka berjalan sambil berbicara seribu kata yang tak kumengerti. Tiba-tiba sebuah tangan menutup mataku.

     “Yoga. Apaan sih ?”

     “Habis kamu ngelamun aja. Mikirin apa sih ?”

     “Nggak ada. Lagi istirahat aja.”

     “Kok kamu kayaknya seminggu belakangan ini semangat banget kerjanya ?”

     “Habis aku merasa tertantang sama kue yang super enak yang selalu dikirim pagi-pagi. Itu adalah surat tantangan.”

     “Masih berpikir kalau itu kerjaan aku ?”

     “Iya,” kataku singkat.

     “Sekarang kamu pikir deh. Kamu pikir aku bisa buat kue seenak itu ?”

     “Ya nggak sih. Tapi bisa aja kamu beli.”

     “Beli dimana ? Buat apa beli ? Apa esensinya kalau beli ? Ngasih tahu kalau ada bakery lain yang lebih enak dari bakery kita ?”

     “Iya juga sih. Kalau bukan kamu…., lalu kenapa kamu seminggu belakangan ini…,” aku bingung bagaimana untuk menanyakannya.

     “Karena aku suka sama kamu,” kata Yoga singkat disertai senyuman kemudian pergi dari hadapanku.

 Apa maksud ia berkata seperti itu ? Apakah ia serius atau hanya bercanda ? Raut wajahnya tadi agak kemerahan, membuatku yakin kalau ia tak sedang bercanda. Jantungku berdebar-debar. Perasaan ini muncul kembali, memainkan emosi jiwa, membuatnya bergejolak tak beraturan. Apakah ini cinta yang sebenarnya ? Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya.

Satu pertanyaan yang goyah dari pendirianku adalah tentang identitas orang misterius yang mengirimu kue itu. Kalau bukan Yoga siapa lagi ? Namun memang benar. Kemampuan Yoga belum mampu membuat kue sesempurna itu. Aku sama sekali tak mengerti dengan misteri yang satu ini.

*

 Hari hendak beranjak sore. Aku sedang melamun di meja chef. Hari ini tidak terlalu sibuk dari hari lainnya. Mungkin karena ini hari biasa dan sedang jam kerja. Beberapa chef dan karyawan juga sedang duduk menikmati waktu senggang. Entah kenapa jika berpapasan dengan Yoga, aku merasakan hal yang berbeda dari yang sebelumnya. Tak kusangka sebuah kalimat yang ia luncurkan tadi siang, bisa mengubah perasaan hati seperti ini. #galaumodeon

     “Wina.”

     “Oh Pak Yusri,” aku menunjukkan hormatku pada manager Queen bakery yang berdiri di belakangku.

Untuk ukuran manager, ia terlalu muda, namun begitulah faktanya. Ia hanya berbeda 5 tahun dariku. Terkadang aku canggung juga harus memanggilnya bapak.

     “Tak apa kamu boleh duduk. Yang lain juga tidak usah terlalu ribet kalau saya datang. Toh toko sedang tidak ramai. Mari kita bersantai dulu saja,” kata Pak Yusri mencairkan suasana.

     “Wina, Saya dengar kamu selama seminggu belakangan ini sering mendapat paket misterius ya ?

     “Iya pak.”

     “Kamu mau bertemu dengan orangnya ?”

     “HAH ?” kataku kaget.

Chef lain tampaknya tertarik dengan pembicaraan ini. Yoga langsung memasang kuping tajam-tajam. Nampaknya misteri pengirim paket misterius itu mulai terbongkar. Jantungku berdebar kencang. Siapakah orang misterius itu ?

     “Bapak tahu siapa yang mengirim paket itu ?” lanjutku.

     “Iya. Bapak yang memberitahu padanya apa kue yang kamu buat pada hari kamu kerja.”

     “Memangnya dia siapa pak ? Apa tujuannya mengirim kue itu pada saya.”

“Dia sedang mencari juru masak handal sepertimu. Saya mengenalkan profil kamu kepadanya. Oleh karena itu dia sengaja memainkan sandiwara itu padamu untuk melihat kemampuanmu yang sebenarnya. Dan saya rasa dia jatuh hati padamu Win. Aku katakan pada orang ini kamu memang sedang mencari jodoh. Kalau dari usia pria ini terpaut 2 tahun darimu. Kalau dari kemapanan sudah tidak usah diragukan lagi. Kalau dari fisik, aku yakin kamu pasti suka.”

     “Memangnya siapa pak ?” Aku sembari melihat ke arah Yoga yang penasaran setengah mati.

     Jadi ternyata benar, ini bukan Yoga. Aku salah mengira dong ? Wah siapa kalau begitu yang mengirim. Apakah Dodi atau Ardhi ? Kalau dari usia mereka tak cocok dengan paut usia yang disebutkan Pak Yursi.

     “Apa kamu bisa menebak ?”

     “Apakah karyawan Queen bakery ?”

     “Bukan. Coba kamu pikir lagi.”

     Aku berpikir sejenak. Bukan karyawan Queen bakery. Orang ini pastilah jago masak, yang berarti dia seorang chef juga. Namun siapa ? Aku tak punya ide tentang siapa pria ini.

     “Menyerah ?”

     “Iya pak saya menyerah.”

     “Baiklah saya akan panggil orangnya sekarang. Dia sudah memutuskan kalau kamu memang berkualitas dari segi skill memasak. Oleh karena itu ia ingin bertemu denganmu sekarang. Yang lain tolong rapikan dapur, kita akan kedatangan tamu istimewa.”

     Para karyawan langsung merapikan dan membersihkan dapur dengan cekatan. Siapa memangnya ? Pak Yusri keluar dapur untuk memanggil orang misterius itu. Aku menatap mata Yoga. Kenapa dengannya ? Seperti ada kesedihan di raut matanya. Ia tersenyum kecil padaku ketika menangkapku memandangnya.

     “Tuh kan bukan aku yang ngirim,” kata Yoga.

     “Siapa sih kira-kira ?”

     “Aku juga nggak tahu.”

     Seseorang masuk ke dapur. Aku mencoba mengenali sosok yang berjalan di belakang Pak Yusri. Pak Yusri menggiring orang itu ke depanku. Jadi dia yang membuat kue itu.

continue to part 3

Advertisements

4 comments on “Kue Misterius (PART II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s