Kue Misterius (PART III)

Sebelum lanjut baca, wajib baca part I dan part IInya. I’m happy bisa share kegalauan dimasa pengangguran seperti ini. (Begini ni efek kebanyakan nonton FTV, jadi mellow-mellow nggak jelas). 

Seseorang yang asing masuk ke dapur. Pak Yusri menggiring orang itu ke depanku. Jadi dia yang membuat kue itu.Aku belum pernah melihatnya sebelum ini. Ia orang berkebangsaan jepang atau cina atau korea. Wajahnya tampan, kulitnya putih, rambut berdiri yang modis, umurnya juga tak jauh beda dariku, mirip bintang film korea kalau dilihat-lihat. . Namun siapa pria ini ? Mengapa dia memainkan sandiwara ini padaku.

Mr Lee, this is Wina. Wina, this is Mr Lee.”

Aku berjabat tangan dengan pria itu. Kamipun berkenalan. Bahasa inggris pria ini masih dibayang-bayangi aksen oriental yang sudah kental dilidahnya.

     “Jadi Mr Lee ini adalah seorang chef terkenal yang sudah mempunyai restoran terkenal di Jepang. Saya merekomendasikan kamu, Wina, pada Mr Lee yang kebetulan sedang mencari chef untuk direkrut di restorannya.”

     “Yes, I really amaze with your cooking skill. You have the real passion with your cooking style. You are a great chef. Why i can said that ? Because i had lost 2 times when i was battling you. Your cheese cake and your pastry are one of the best i’ve ever taste. It’s an honour for Queen bakery to have a chef like you. You smart, well skilled, and pretty.”

     “Thank you sir. I never expected that you are the man behind this mystery. I thought it was my friend’s plan to give me something surprise at the end of the plan. So, i considered it as a challange to get the ticket to open the last page of the plan.”

     “You’re not wrong at all. I would like to give you a surprise at all. I’m searching for great chef in Indonesia and then Mr Yusri recomend you to me. I come to Indonesia to see your skill and  you’re quallify enough for me. I know that you are a great chef but i think you still need an improvement to enrich your skill. I’d like to recruit you to my restaurant at Japan. I’ll also accompany you to have two years  scholarship in cooking major at Japan. Would you like to take this invitation ? It’s an honour for me if you like to accept this.”

     Perasaan ini seperti memenangkan undian rumah seharga 1 miliar. Mendapat beasiswa S2 di bidang memasak dan direkrut oleh chef internasional untuk bekerja di restorannya di Jepang. Mimpi saja tidak pernah tiba-tiba langsung dijejeli kenyataan. Ini kesempatan sekali seumur hidup.

     “Sir. It really nice. Thank you very much. But...,” aku melihat ke arah Pak Yusri. Bagaimanapun juga, sudah 8 tahun aku bekerja disini. Masa aku langsung pergi begitu saja.

     “Tak apa Wina. Saya yang merekomendasikan kamu kepadanya. Saya sudah menyadari risiko ini. Saya tidak akan menghalang-halangi kamu jika kamu memang ingin. Suatu kebanggaan jika salah stau chef dari Queen bakery bisa direkrut oleh chef internasional. Terima saja Win. Ini untuk masa depanmu yang lebih cerah.”

     Aku melihat ke arah Yoga. Kalau aku menerima ini berarti aku harus berpisah darinya dan jugateman-teman yang lainnya. Aku tak tahu berapa lama aku akan tinggal di Jepang. Mungkin selamanya aku akan bekerja di sana dan Indonesia hanya akan aku kunjungi di saat liburku saja.

     Perasaan apa ini ? Perasaan takut akan kehilangan. Mengapa aku meraskaan ini kepada Yoga. Toh aku belum pernah memilikinya. Mengapa sekarang aku merasakan ketakutan akan kehilangannya. Do i love him ? Cinta ingin selalu memiliki. Kenapa jadi terasa berat untuk menerima ajakan emas ini.

     “I know this isn’t an easy decision. I’ll give you a day to think about it. Tomorrow i’ll be back again to hear your answer of my invitation.

     “Sir, i have a question. If i accept this, when will i go to Japan to start this ?”

     “Immidiately, after you finish your adminsitration like passport etc. I hope you can start next month.”

     “Ok. Thank you sir. I will give you a decision tomorrow.”

*

     “Yuk aku anterin pulang,” kata Yoga.

     “Nggak apa-apa ? Bukannya arah rumah kita beda jauh ya ?”

     “Nyantai aja kali. Yuk naik.”

     Kami berdua menembus jalanan ibu kota yang macet. Jantunku berdebar, keringat mengalir di dahiku. Perasaan ini lagi, perasaan takut akan kehilangan.

     “Macet banget nih Yog. Motor aja sampe nggak bisa nyempil. Mending aku naik kendaraan umum aja dari sini nanti kamu kemaleman,” kataku di tengah kemacetan jam pulang kantor.

     “Nanggung Win. Sebentar lagi aku kan udah nggak bisa nganterin kamu.”

     “Siapa bilang aku menerima ajakan itu ?”

     “Jadi kamu nolak ?” kata Yoga, suaranya sedikit samar di balik helm yang ia kenakan.

     “Aku belum kasih keputusan nolak atau terima.”

     “Kenapa ? Terima aja kali Win. Kalau aku jadi kamu sih aku nggak akan nolak. Kapan lagi dapat kesempatan emas kayak begini. Direkrut sama chef internasional, di biayai S2, dapet kerja di resto di Jepang pula.”

     “Soalnya aku takut.”

     “Takut kenapa ? Takut nggak bisa bahasa Jepang ? Kan bisa dipelajarin.”

     “Aku takut pisah sama kamu…., dan yang lain” kataku singkat.

     Yoga langsung berhenti berbicara. Ia langsung berkonsentrasi dengan jalanan tanpa berkata sepatah katapun. Apakah aku salah bicara ? Namun harus aku akui, aku takut kehilangannya. Apa yang terjadi padaku ? Is this love ? Maybe yes. Aku sampai di depan rumahku. Hari sudah senja, biru langit sudah menghitam oleh sang dewi malam. Aku turun dari motor. Air mataku sudah kering, tak meninggalkan bekas yang membuatnya bisa tahu kalau aku baru saja menangis. Aku menatap Yoga.

     “Kenapa ?”

     “Kenapa kamu mendekatiku seminggu belakangan ini ? Apa akhir dari rencanamu ?”

     “Rencana…, Rencana apa ?”

     “Kita tak perlu saling menyembunyikan perasaan kita lagi Yog. Aku cinta kamu. Kamu juga begitu kan ? Jujur padaku,” akhirnya aku memberanikan diri berkata seperti itu.

     “Ih GR banget deh. Udah ya gw mau pulang dulu. Bye-bye Wina. Maafin ya kalau gw ada salah selama ini.”

     Yoga langsung pergi. Ia mengganti kembali kata sapaannya kepadaku. Aku hanya bisa memandangnya menghilang dari pandanganku. Apa maksudnya bersikap seperti itu ? Mungkin ia hanya ingin memudahkanku untuk menerima kesempatan itu.

*

     Semalaman aku tidak bisa tidur. Hanya satu hal yang membuatku tak bisa mengatakan Ya untuk ajakan ini, yaitu Yoga. Aku menyukainya dan sekarang sebelum aku bisa memilikinya aku sudah harus kehilanganya. Apakah ini hanya akan menjadi kisah cinta tragis lain yang ada dalam lembaran hidupku.

     Aku memasuki pintu restoran dengan perasaan gundah. Aku belum bisa mengambil keputusan apa-apa. Kalau dari orang tua menyerahkan sepenuhnya keputusan ini padaku. Apapun yang aku ambil mereka pasti mendukung. Perpisahan…, apakah itu kalimat terakhir hubungan ini.

     “Bagaimana Wina. Apakah kamu sudah memutuskan ?” Pak Yusri muncul di belakangku.

     “Masih bingung pak.”

     “Loh kenapa ? Saya pikir kamu akan langsung nerima.”

     “Ya harus ninggalin Indonesia sih pak. Saya khawatir sama keluarga saya.”

     “Itu memang risikonya Win. Tapi jangan biarkan hal itu mengekang kamu selamanya. Saya sengaja rekomendasikan kamu karena saya tahu potensi kamu itu masih banyak yang belum tereksplor. Saya yakin kamu akan jadi chef hebat nanti dan ini adalah salah satu jalan yang membawa kamu kesana. Bukannya itu mimpi kamu ?”

     “Memang pak.”

     “Yasudah, kalau begitu sudah jelas bukan apa pilihan kamu. Wah kalau begitu saya harus mencari dua chef pengganti nih ?”

     “Dua ?”

     “Iya Yoga mengundurkan diri kemarin.”

     “Kenapa dia mengundurkan diri ?” aku kaget.

     “Dia bilang sudah diterima sebagai chef di sebuah hotel. “

     “Mulai kapan ia berhenti ?”

     “Hari ini. Ia bahkan tidak mau menerima pesangonnya asalkan bisa diperbolehkan berhenti bekerja mulai hari ini. Sebenarnya kalian berdua ada hubungan apa? Kalian pacaran ?” kata Pak Yusri menaikan sebelah alisnya.

     “Tidak, kami hanya…, teman.”

     Pantas saja kemarin ia berkata seperti itu. Mengapa ia pergi ? Jawabannya mudah, agar aku bisa plong meninggalkan Indonesia dan menerima ajakan Mr Lee. Aku memang ingin menerima ajakan itu dan pengganjal terbesar adalah dia. Nampaknya ia bisa mengerti itu dan melakukan sesuatu untuk menghilangkan pengganjal itu, dengan pergi dariku.

     “Yakin Cuma teman ? Kalau begitu apa maksud dia menitipkan ini buat kamu ?”

     Pak Yusri mengeluarkan kotak berwarna merah jambu padaku. Kotak yang sama dengan kotak yang sebelum ini di berikan Mr Lee setiap pagi padaku. Aku mengambil kotak itu dan menatap Pak Yusri dengan sebuah pertanyaan.

     “Kemarin ketika ia mengajukan permohonan pengunduran diri. Ia menitipkan ini pada saya. Saya pikir itu berisi kue, soalnya Yoga meminta bapak menyimpan ini di kulkas. Dia bilang ini akhir dari rencananya. Bapak nggak ngeri maksudnya apa.”

     Aku langsung membuka bungkusan itu. Kemarin aku membuat…, benar, isinya adalah Strawberry shortcake. Aku menyuap sesendok kecil kue itu. Ini sudah pasti buatan Yoga. Kue ini dibuat dengan sepenuh hati dengan penuh cinta. Walaupun tidak seenak buatan Mr Lee, namun kue ini mampu membuatku menitikkan setetes air mata. Aku mengerti…, kue ini menjelaskan segala perasaanya padaku.

     “Kamu kenapa menangis ?”

     “Pak, bolehkah saya meminta alamat tinggal Yoga ? Saya ingin bertemu dengannya.”

     “Tidak perlu Win. Dia akan datang sore ini. Aku memintanya untuk datang menemuimu sore ini. Itu syarat yang aku ajukan padanya agar aku menerima surat pengunduran dirinya.”

*

     Hujan deras mengguyur Ibu kota. Menciptakan hawa dingin bagaikan embun pegunungan yang sedang turun ke dasar bukit.  Aku menggesekkan kedua tanganku, menciptakan panas untuk menghangatkan tubuhku. Menunggu kedatangan Yoga, aku harus berbicara dulu dengannya sebelum Mr Lee datang.

     Sudah jam 4 sore namun batang hidung Yoga tak telihat. Suara langkah kaki yang asing langsung menyita perhatianku. Itu Mr Lee, ia sudah datang. Kemana Yoga…, apakah ia tidak akan datang sore ini ? Aku sudah menelpon Yoga, namun ponselnya tidak aktif.

     “So, Have you decided yet ?”

     “Yes. I’ve already made a decision sir. It’s an honour to accept your invitation…, a thousand thanks for me, but i’m so sorry. I won’t take this invitation.”

     Terlihat semua kaget dengan apa yang aku ucapkan. Menolak kesempatan sekali seumur hidup. Ini adalah mimpiku yang menjadi kenyataan dan aku menolaknya. Pasti semua berpikir demikian.

     “Why ?”

     “Iya, kenapa Wina ?” Pak Yusri juga kaget

     “I know it’s once in a life time chance but it’s hard to leave this country. I don’t know how long i will stay in Japan, maybe for 10 or 20 years and i cannot leave him.”

     “Him ?” tanya Mr Lee.

     “He is the one i cannot meet in another country. He is the man that i love very much. Maybe i will be a great chef if i take your invitation but my success won’t complete if i cannot reach it wih him. I’m so sorry Mr Lee.”

     “Are you sure Wina ?” tanya Mr Lee.

     “Yes, my decision is final.”

     “Very well. It’s your choice and i appreciate it.”

*

     Bagiku apalah arti karir dan mimpi jika aku tak bisa lalui bersama orang yang aku sayangi. Uang bisa dicari namun jodoh Cuma ada satu. Selama ini cerita cinta tragis yang menimpa diriku adalah pilihan yang aku ambil dan sekarang aku tak mau memilih itu. Ya hidup adalah pilihan dan disetiap pilihan pasti ada hal yang harus dikorbankan untuk mendapatkan hikmah dari pilihan itu.

     Hujan masih mengguyur, aku menunggu kedatangan Yoga sore ini namun nihil. Ia tak kunjung datang sampai toko mau tutup. Dimana dia ? Ada satu kalimat yang ingin aku ucapkan kepadanya. Kalimat yang mampu membuatku menolak permintaan Mr Lee.

     “Wina, ada kiriman kue nih.”

     Kiriman kue ? Ardhi menyerahkan bungkusan kepadaku. Bungkusan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini tak dibungkus dengan warna merah muda melainkan warna cokelat, warna favoritku. Siapa ini yang mengirim ? Mr Lee lagi ? Kurasa tidak. Aku langsung membuka bungkusan itu. Satu slice kue tiramisu, kue favoritku.

     “Ini dari siapa ?” tanyaku pada Ardhi.

     “Dari abang-abang gitu. Nggak tahu siapa.”

    Hmm, lumayan enak juga kuenya.  Klak. Aku merasakan sesuatu yang keras masuk ke mulutku. Aku melepeh benda keras yang tak bisa kukunyah itu. It’s a ring, apa maksudnya ini ? Aku melihat ke alas kue itu, ada sebuah tulisan yang dicetak dengan cokelat. Untuk dapat melihatnya aku harus menghabiskan tiramisu ini. Oke, aku langsung melahap habis kue ini dan membaca tulisannya. Oh my God. I think i will say ‘i do’

*

Advertisements

2 comments on “Kue Misterius (PART III)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s