Anak Iseng (PART I)

Kerjaan dirumah terus, lama nggak ke dunia nyata (sekolah, kampus dan macam-macam), membuat gw kangen melakukan hal-hal iseng. So jadi cuma di wujudkan dengan cerpen aja deh

“Udah siap Ki ?”

“Siap. Lo yakin nggak keterlaluan nih ?”

“Nggak. Nyantai aja kali.”

Aku menunggu anak itu yang sedang berjalan di lorong sekolah. Anak itu berpenampilan seperti biasa, NERD. Dia adalah anak yang baru masuk ke sekolahku semester ini. Dari dandanannya saja sudah membuatku BT. Dia pendek, agak gemuk, rambut rapi dengan belah tengah yang benar-benar belah tengah, celana dan baju yang agak kegedean, kacamata super besar seperti teropong, benar-benar gaya yang disaster. Itu baru dari penampilan, namun sifatnya juga tak jauh nerd dari penampilannya. Hobinya belajar dan baca buku diperpustakaan, temannya hanyalah rumus dan hafalan, gaya bicaranya juga setengah gagap, dia sangat introvert dan sulit bergaul, pokoknya kuper abis. Dan kita semua memanggil anak itu dengan sebutan nedry.

 Fajar masih bermalas-malasan di langit. Bulan masih singgah di angkasa, menunggu untuk dihempas oleh cahaya surya yang masih tertidur di ufuk timur. Baru lima menit menuju jam 6. Ini masih sangat pagi untuk seorang siswa datang ke sekolah, namun sudah terlalu siang bagi si anak nerd. Belum ada yang datang ke Dia memang sangat nerd. Bahkan dia selalu terobsesi untuk datang paling pagi padahal sekolah baru masuk jam 7. Ya ya ya, dia memang rajin dan pintar. Benar-benar paket anak kutu buku yang Nerd.

Nerdy berjalan menuju ke ruang kelas dengan wajah penuh semangat. Sebentar lagi semangat itu akan berubah menjadi wajah sedih. Aku tertawa kecil membayangkan hal buruk yang akan segera terjadi pada Nerdy. Aku dan temanku bersembunyi di balik tembok untuk menyaksikan pertunjukkan ini. Tak lupa handycam yang siap mereka another keisenganku ini.

 Nerdy sampai di depan kelas, membuka pintu dan… byur. Sebuah carian kuning pucat membasahi tubuhnya. Itu adalah campuran telur yang hampir busuk plis air rebusan petai. Gila baunya nggak nahan deh. Terlihat jebakanku berhasil. Sebuah ember sudah aku letakkan di atas pintu sebelumnya. Siapapun yang membuka pintu akan membalikkan ember dan membuat cairan dalam ember tumpah ke bawah.

 Cairan bau dan lengket itu sekarang sudah berpindah ke tubuh si Nerdy. Terlihat wajahnya yang sangat kesal, bahkan ia sampai menangis. Pasti dia akan menjadi pusat bau busuk sekolah hari ini. Mana mungkin dia pulang lagi untuk ganti baju, secara rumahnya jauh. Dia pasti tak mau sedetikpun ketinggalan pelajaran. Haha keisenganku kali ini sukses besar, sekarang tinggal berakting seakan tak terjadi apa-apa agar tidak dicurigai. Aku dan temanku tepok tangan atas kesuksesan kali ini.

*

“Ih lo nyium bau busuk nggak ?”

Kalimat itu daritadi menggaung di kelas 12 IPA 1. Aku hanya bisa tersenyum licik saat semua siswa mulai mengendus-ngendus untuk menemukan sumber baunya. Lantai tadi memang sudah dipel oleh si Nerdy namun baunya tidak akan bisa hilang dengan mudah. Walaupun dia sudah mengganti seragam baru dengan meminjam ke kantor BK. Salah sendiri jadi orang nerd dan kutu buku banget, sangat mudah untuk di isengin.

“Kayaknya asal baunya dari si Nerd deh,” kataku.

“Iya. Lo kentut ya ? Bau telur busuk plus petai nih,” kata temanku yang lain.

“Aku nggak kentut kok,” bela si Nerd

“Terus kenapa lo bisa bau busuk kayak begini ?”

Belum sempat dia menjawab, guru masuk ke kelas. Dia membawa dua buah buku. Pelajaranpun dimulai. Kelas 12 IPA 1 itu kelasku, merupakan kelas dengan anak-anak yang berprestasi. Well aku termasuk di dalamnya, walaupun aku dikenal badung dan iseng namun aku pintar. Memang sebadung apa sih aku ? Amat sangat badung sekali. Hobiku adalah iseng. Hampir semua murid sudah aku isengin, bahkan guru tak luput dari keisenganku. Menaruh lem di bangku, menyebar tikus di kamar mandi wanita, mengempesin ban mobil guru, dan lain-lain adalah modus-modus yang aku gunakan. Namun karena aku runner up nilai tertinggi di sekolahku, aku tak dikeluarkan. Well i’m smart.

Dalam menajalankan keisenganku di sekolah aku ditemani seorang temanku. Dia bernama Riki. Hmm tingkat keisengannya masih dibawahku. Dia lebih sebagai asisten sedangkan aku sang mastermind. Tak ada yang berani kepada kami, karena jika ada yang berani melapor atau membalas maka kami akan memberikan keisengan dengan dosis yang lebih tinggi. Haha memang susah menghilangkan kebiasaan burukku yang satu ini

 Setelah bedoa kami semua memulai pelajaran Terlihat ekspresi tak enak dari bu guru. Dia menyipitkan matanya dan bekata.

“Kok kelas ini bau banget.”

“Si Nerd kentut bu ?” celetuk Riki.

“Nggak bu. Saya nggak buang angin.”

Bu guru berdiri dan berjalan menuju ke arah si Nerd. Bagaimanapun sumber bau berasal dari dia namun sumber keisengan berasal dariku. Yang bisa dicium adalah sumber bau dan bukan sumber keisengan.

“Kamu habis mandi dimana ? Air yang kamu gunakan tercemar ?”

“Tidak bu. Tadi pagi saya disiram air yang berisi telur busuk bu,” kata si Nerd dengan nada menahan nangis.

Dia memang merasa tertindas dengan tuduhan teman-teman atas sumber bau kepadanya. Sudah disiram, di tuduh-tuduh pula, gimana nggak gondok. Sekelas kaget dengan perkataan si Nerd. Ooo, jadi disiram air telur busuk. Terjawab sudah apa penyebab bau tak sedap di kelas pagi ini. Beberapa mulai curiga kalau aku sedang mengisengin si Nerd. Anak baru merupakan target nomor satu dilistku yang harus diisengin.

“Siapa yang menyiram ?”

“Saya tidak tahu bu. Embernya ada diatas pintu. Pas saya buka pintu kelas, ember itu menumpahi saya.”

“Siapa yang datang kedua setelahmu ?”

“Tadi yang datang setelah saya itu…. Si Doni sama Riki.”

Akhirnya namaku dan nama Riki disebut juga. Sudah menjadi rahasia umum aku ini anak iseng. Ibu guru berjalan mendekatiku yang duduk di barisan ketiga. Haha. Selama tak ada bukti, aku tak bisa disalahkan. Just play it cool.

“Doni, Riki, temui ibu di kantor pada jam istirahat.”

*

“Kamu sih isengnya keterlaluan, kita jadi dipanggil deh.”

“Kamu tenang aja Rik. Selama nggak ada bukti kita nggak akan kenapa-kenapa. Serahkan saja sama gw.”

Kami memasuki pintu ruang guru. Jam istirahat yang seharusnya di isi dengan main-main malah diisi dengan bersilaturahmi ke ruang guru. Ibu guru menyuruhku dan Riki duduk. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan ibu guru. Well, sudah aku katakan, aku ini smart, jadi aku sudah bisa memikirkan pembelaan dari tuduhan ibu guru.

“Kamu kan yang tadi pagi ngisengin dia ?”

“Isengin apa bu ? Saya nggak ngerti,” kataku.

“Udah nggak usah ngelak. Semua juga udah tahu kamu itu anak iseng. Lebih baik kamu mengaku biar hukuman yang akan ibu berikan lebih ringan.

“Kami nggak mau ngaku perbuatan yang nggak kami lakukan bu.”

“Baik jika kamu nggak mau ngaku berarti hukuman kamu lebih berat.”

“Saya nggak mau ngelakuin apapun hukuman itu soalnya saya nggak melakukan itu.”

“Baiklah. Hukuman kamu harus membersihkan semua kamar mandi siang ini dari lantai satu sampai lantai tiga. Selain itu, ibu mau kamu orang tua kalian datang menemui ibu besok.”

“Sepertinya ibu mau memperpanjang masalah ini ya. Baiklah, saya akan masukkan ini ke surat pembaca baik tertulis maupun online. Tante saya kerja di komp*s loh bu.”

“Tempo lalu kamu bilang yang kerja di situ bude kamu, sekarang tante kamu, besok siapa yang kamu bilang bakal kerja disitu ?”

“Bude saya ? Ibu lupa kali, saya nggak pernah bilang yang kerja disitu bude saya,” kataku sambil melihat ke sekeliling ruangan.

“Lihat apa kamu ?”

“Ruangan ibu kotor ya. Kalau media meliput ibu bisa malu loh.”

“Sudah jangan bicara yang macam-macam. Jalani saja hukuman kamu. Memangnya siapa yang mau meliput ?”

“Ya komp*s lah bu. Yuk Ki kita keluar. Permisi bu,” kataku dengan senyum licik.

Baru tiga langkah aku dan Riki keluar, ibu guru sudah memanggilku.

“Tunggu. Mmm, benar bukan kalian yang melakukan itu ?”

“Melakukan apa sih bu ? Saya benar-benar tak mengerti daritadi ibu bilang apa.”

“Baiklah. Kalian tak perlu melakukan hukuman apa-apa.”

Aku dan Riki keluar dari ruang guru. Aku dan Riki tepuk tangan. Haha, sukses mengelabuhi guru itu. Kali ini berhasi lagi lolos dari hukuman. Well, seribu keisengan sudah tertata rapi bagaikan katalog, tinggai dpilih untuk mengerjai si Nerd lagi. Dia sudah berani bilang namaku di depan guru.

“Gila ya lo.”

“Gw gitu loh. Yuk siang ini kita iseng lagi ke si Nerd.”

“Udah ah Don. Takut gw kalau ketahuan.”

“Sejak kapan sih lo takut. Ayo gw punya rencana yang super jail nih.”

*

“Eh kalian kan yang tadi pagi ngisengin aku,” si Nerd tiba-tiba datang menghampiriku dan Riki yang sedang makan siang.

“Enak aja lo. Dasar tukang tuduh. Kayak nggak ada kerjaan aja sih. Si Ibu guru aja percaya kalau bukan gw yang ngelakuin. Emang lo kali yang makan petai sama belum mandi, jadi bau busuk kayak begitu.”

“Enggak lah. Kalau bukan kalian terus siapa ?”

“Ya mana gw tahu.”

“Kalian jahat tahu nggak. Kalian jahat. Kalian sukanay menindas orang lain. Tunggu pembalasan gw.”

“Emang lo mau ngapain Nerd ? Memvodoo kita berdua ?” kata Riki.

Dia hanya membalas dengan tatapan mata penuh dengki kepadaku dan Riki. Baru kali ini aku melihatnya mengekspresikan diri. Sorot matanya berbeda dari yang biasanya. Haha, makin aneh saja dia dengan mimik seperti itu.

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa bersiap-siap untuk pulang. Saatnya melancarkan serangan kedua hari ini. Aku sudah membuntuti Nerd kemarin. Kebiasaan dia sepulang sekolaha adalah ke perpus dulu selama dua jam. Nerd banget sih, tapi untung deh, aku jadi punya waktu siap-siap untuk iseng. Dia kalau pulang sekolah pasti lewat jalanan perumahan untuk tembus ke jalan besar tempat dimana angkutan umumnya lewat. Jalanan itu cukup sepi karena kebanyakan penghuni sedang bekerja. Si Nerd sedang berjalan ke luar sekolah. Aku sudah menunggu di seberang jalan dari tadi.

“Nah ini dia gw tungguin. Hei, masih berpikir kalau gw penyebab bau busuk lo pagi ini ?”

“Iya.”

“Udah dibilangin itu bukan gw bro.”

“Gw…, gw nggak percaya.”

“Gini bro…,” kataku sambil merangkul si Nerd.

“Emang gw ini terkenal iseng, bahkan lo yang anak baru pun udah tahu. Tapi nggak berarti semua keisengan ini ulah gw kan ? Banyak anak iseng lain di sekolah ini. Iya nggak ?”

“….,” dia tak membalas.

“Masih belum percaya ?”

“….,” dia tetap tak membalas. Aduh nerd banget sih.

“Oke bro. Diam itu berarti iya. Lo jangan suudzon dulu ya. Mulai sekarang kita frend.”

“Heh, jangan pikir kalau gw ini bego ya. Gw tahu semua itu kerjaan lo. Gw akan balas lo.”

“Pembalasan lo bakal salah arah.”

Dia hanya memandangku dengan kesal kemudian pergi. Haha sukses. Aku berhasil memasukkan sesuatu ke dalam tas ranselnya. Sebuah makanan anjing berkualitas tinggi berbentuk sosis. Waduh harus modal nih kali ini isengnya. Tak ada penciuman seekor anjingpun yang tak luput dari aroma enak makanan itu. Si Nerd berjalan ke jalanan perumahan.

Aku menuju ke tempat janjian dengan Riki dengan motorku. Aku mengambil jalan memutar yang berbeda dengan jalan yang ditempuh si Nerd. Riki sudah bersiap di sebuah perempatan dengan seekor anjing. Anjing yang cukup besar dan kelaparan. Penciuman anjing ini cukup kuat untuk mencium makanan di ranselnya itu. Haha pasti akan ada adegan kejar-kejaran yang seru nih.

“Anjingnya siapa nih ?” tanyaku.

“Anjing tetangga gw yang biasa dilepas di sekitar komplek gw. Ya gw comot aja mumpung ga dijaga. Dia udah jinak kok. Lo yakin nggak apa-apa nih Don ?”

“Tenang. Anjingnya Cuma bakal ngincer ransel si Nerd doang.

Aku menyodorkan sepotong kecil makanan anjing supermewah itu ke si anjing. Dia mengendus makanan itu dan memakannya. Pastilah potongan kecil itu tak akan membuatnya kenyang.

“Tuh dia datang,” kata Riki.

Kami bersembunyi di balik sebuah rumah. Si anjing terlihat antusias ketika melihat si Nerd. Dia pasti bisa mengendus makanan itu. Aku menunggu saat yang tepat untuk melepas pegangan taliku pada anjing itu. Anjing itu berlari menuju si Nerd. Si Nerd langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari anjing itu.

“Waaa, mama…,” ia berteriak sambil berlari kencang.

“Hahaha,” aku dan Riki ketawa melihat aksi itu.

Aku mengikuti arah lari si Nerd. Ia menangis sambil berlari menghindari anjing yang menggonggong ke arahnya. Ia berbelok ke sebuah jalan. Aku sampai di ujung belokan itu. Si nerd berada jauh di ujung jalan itu. Dia sedang diterkam oleh sang anjing. Hah diterkam ? Si nerd terjatuh dan tubuhnya ditindih oleh anjing besar itu. Ia berteriak minta tolong namun tak ada yang datang. Bercak merah berceceran di bajunya.

Hah…, gawat. Aku mendekati dia yang berada sekitar 200 meter di depanku. Si Nerd berhasil lepas dan berdiri untuk menghindari terkaman anjing yang lebih membabi buta. Ia berlari ke arah perempatan yang berlawanan denganku. Gila cepat juga larinya. Namun anjing itu lebih cepat. Ia berhasil menindih si Nerd lagi dan menerkamnya. Ada mobil yang tiba lewat perempatan. Anjing itu kabur ketika mobil mengklakson. Langkahku dan Riki terhenti. Pengemudi mobil itu keluar dari mobil dan membopong Nerdy ke mobilnya. Darah bercecerah ketika Nerd diangkat. Aku hanya bisa saling melepas pandang dengan Riki di kejauhan.

(to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s